Minggu, 04 Januari 2015

Maulid Nabi Muhammad dan Implementasi Sunnah di Tengah Masyarakat


Maulid Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu tema yang sering dibahas di tengah masyarakat muslim. Sebagian umat Islam memperingatinya sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Di sisi lain, sebagian umat Islam lainnya tidak merayakannya karena menilai bahwa peringatan maulid tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ, para sahabat, maupun generasi awal Islam.

Perbedaan pandangan ini sudah lama terjadi di tengah umat Islam. Karena itu, pembahasan tentang maulid sebaiknya dilakukan dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati. Yang lebih penting lagi, setiap muslim perlu menjadikan pembahasan ini sebagai sarana introspeksi: sudah sejauh mana kita mencintai Rasulullah ﷺ dengan mengikuti sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari?

Perbedaan Pendapat tentang Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Dalam literatur Islam, terdapat beberapa pendapat mengenai tanggal dan bulan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa beliau lahir pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal, sebagaimana pendapat Ibnu Hazm. Ada pula pendapat yang menyebutkan tanggal 10 Rabi’ul Awwal.

Pendapat yang paling masyhur di tengah masyarakat adalah bahwa Nabi Muhammad ﷺ lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Selain itu, ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan, dan ada pula yang menyebutkan bulan Shafar.

Sebagian ahli hisab dan falak meneliti bahwa hari Senin, yang merupakan hari kelahiran Nabi ﷺ, bertepatan dengan tanggal 9 Rabi’ul Awwal.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa penetapan tanggal kelahiran Nabi ﷺ memang memiliki ruang pembahasan di kalangan ulama. Karena itu, umat Islam sebaiknya berhati-hati dalam menjadikan tanggal tertentu sebagai satu-satunya pendapat yang pasti tanpa melihat adanya perbedaan dalam literatur sejarah.

Sejarah Perayaan Maulid Nabi

Mengenai perayaan maulid Nabi ﷺ, sebagian ulama menyebutkan bahwa praktik tersebut tidak ditemukan pada masa Nabi Muhammad ﷺ masih hidup, tidak pula pada masa para sahabat, generasi tabi’in, maupun tabi’ut tabi’in.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa pihak yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja dari Kerajaan Fathimiyyah atau Al-‘Ubaidiyyah yang berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Mereka dinasabkan kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al-Qaddah. Keterangan ini disebutkan dalam Al-Bidayah wan Nihayah.

Al-Miqrizi juga menyebutkan hal serupa dalam kitab Al-Mawa’izh wal I’tibar. Sementara itu, Asy-Syaikh Ali Mahfuzh menjelaskan bahwa sebagian pakar sejarah menilai para penguasa Fathimiyyah di Kairo pada abad ke-4 H sebagai pihak yang pertama kali mengadakan beberapa perayaan maulid, seperti maulid Nabi ﷺ, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fathimah Az-Zahra, maulid Al-Hasan dan Al-Husain, serta maulid penguasa yang sedang berkuasa.

Perayaan-perayaan tersebut sempat berlangsung dalam berbagai bentuk, kemudian pernah dilarang pada masa Al-Afdhal bin Amirul Juyusy, lalu dihidupkan kembali pada masa Al-Hakim bin Amrillah pada tahun 524 H.

Perbedaan Pandangan tentang Maulid

Dari sisi sejarah, dapat dicermati bahwa perayaan maulid bukanlah amalan yang secara langsung diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Perayaan ini juga tidak dipraktikkan oleh para sahabat, generasi tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Karena itu, sebagian kaum muslimin memilih untuk tidak merayakan maulid. Mereka berpendapat bahwa bentuk terbaik mencintai Nabi ﷺ adalah dengan mengikuti sunnah beliau sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh generasi awal Islam.

Di sisi lain, sebagian kaum muslimin yang mendukung perayaan maulid memandangnya sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, selama diisi dengan hal-hal baik seperti membaca sirah Nabi, memperbanyak shalawat, mengingat akhlak beliau, dan mengajak umat Islam untuk lebih mencintai sunnah.

Dalam konteks ini, penting untuk menjaga adab dalam berbeda pendapat. Tidak bijak apabila pihak yang tidak merayakan maulid langsung dianggap tidak mencintai Nabi ﷺ. Sebab, jika ukuran cinta kepada Nabi ﷺ hanya dilihat dari perayaan maulid, maka muncul pertanyaan: bagaimana dengan para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in yang tidak merayakannya?

Sebaliknya, pihak yang tidak merayakan maulid juga sebaiknya menyampaikan nasihat dengan cara yang baik. Jangan sampai perbedaan pandangan ini menjadi sebab munculnya sikap kasar, saling merendahkan, atau memutus ukhuwah sesama muslim.

Cinta kepada Nabi ﷺ Harus Dibuktikan dengan Mengikuti Sunnah

Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak cukup hanya dinyatakan dengan lisan. Cinta kepada beliau perlu dibuktikan dengan mengikuti petunjuk, akhlak, ibadah, dan sunnah beliau.

Allah berfirman:

Katakanlah, “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali Imran [3]: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus diwujudkan dengan ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ. Karena itu, setiap muslim perlu menjadikan sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan.

Sunnah bukan hanya sebatas tampilan luar, tetapi juga mencakup akidah, ibadah, akhlak, muamalah, cara berdakwah, cara bersikap kepada keluarga, cara bermasyarakat, dan cara menyikapi perbedaan.

Meneladani Nabi dalam Berpenampilan

Salah satu bentuk mengikuti sunnah adalah memperhatikan adab berpenampilan sesuai tuntunan Islam. Bagi laki-laki, beberapa sunnah yang sering disebutkan antara lain memelihara jenggot, menipiskan kumis, memakai minyak wangi, berpakaian tidak isbal atau tidak melebihi mata kaki menurut pendapat sebagian ulama, serta menjaga kebersihan diri seperti bersiwak.

Bagi kaum wanita, Islam mengajarkan pentingnya menjaga aurat dan kehormatan melalui pakaian yang sesuai tuntunan syariat. Perintah berjilbab disebutkan dalam Al-Qur’an, dan penjelasan mengenai adab berpakaian muslimah juga dibahas dalam banyak keterangan para ulama berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.

Namun, dalam menyampaikan nasihat tentang penampilan, seorang muslim tetap perlu mengedepankan ilmu, hikmah, dan kelembutan. Jangan sampai ajakan kepada sunnah justru disampaikan dengan cara yang membuat orang menjauh dari kebaikan.

Meneladani Akhlak Nabi ﷺ

Mengikuti sunnah Nabi ﷺ juga berarti meneladani akhlak beliau. Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia terbaik dalam akhlak. Beliau dikenal sebagai sosok yang lembut, jujur, amanah, sabar, penyayang, tegas dalam kebenaran, dan adil kepada siapa pun.

Seorang muslim yang mencintai Nabi ﷺ hendaknya berusaha berbuat baik kepada orang tua, pasangan, anak-anak, saudara, tetangga, sahabat, dan masyarakat. Islam juga mengajarkan adab baik kepada non-muslim yang tidak memerangi kaum muslimin, serta sikap adil kepada siapa pun.

Selain itu, mencintai Nabi ﷺ juga berarti mencintai para sahabat beliau. Para sahabat adalah generasi terbaik yang langsung belajar dari Rasulullah ﷺ. Karena itu, seorang muslim hendaknya menghormati para sahabat, meneladani kebaikan mereka, dan tidak mencela seorang pun dari mereka.

Demikian pula, seorang muslim perlu menghormati para ulama yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, terutama ulama dari generasi salaf yang menjadi rujukan penting dalam memahami agama.

Menghidupkan Ibadah Sunnah

Cinta kepada Rasulullah ﷺ juga dapat diwujudkan dengan mengamalkan ibadah-ibadah sunnah yang beliau ajarkan. Di antaranya adalah memperbanyak shalat sunnah, shalat malam, shalat dhuha, puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak zikir, dan memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ.

Bagi laki-laki, shalat berjamaah di masjid juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan dan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim.

Amalan-amalan ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Jangan sampai seorang muslim hanya bersemangat dalam momen tertentu, tetapi lalai dari mengamalkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan Mencemooh Orang yang Mengamalkan Sunnah

Salah satu hal yang perlu direnungkan adalah masih adanya sebagian orang yang mencemooh saudara sesama muslim karena berusaha mengamalkan sunnah. Ada yang diejek karena berjenggot, bercelana di atas mata kaki, rajin ke masjid, memakai jilbab syar’i, atau menjaga diri dari hal-hal yang syubhat.

Sikap seperti ini tentu tidak baik. Jika seseorang sedang berusaha mengamalkan sunnah, seharusnya ia didukung dan didoakan, bukan dicemooh.

Memang benar, ada kelompok ekstrem yang menyalahgunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan kekerasan atau pemahaman yang menyimpang. Namun, hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menyamaratakan semua muslim yang berusaha mengamalkan sunnah sebagai kelompok ekstrem.

Permasalahan ekstremisme harus dibedakan dari upaya menghidupkan sunnah. Mengamalkan sunnah Nabi ﷺ adalah kebaikan. Adapun pemahaman ekstrem yang melampaui batas tetap harus diluruskan dengan ilmu dan bimbingan ulama.

Maulid Jangan Berhenti pada Seremoni

Bagi kaum muslimin yang memperingati maulid Nabi ﷺ, momen tersebut seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Jika maulid dimaknai sebagai sarana mengingat Nabi ﷺ, maka seharusnya ia mengantarkan umat Islam kepada komitmen yang lebih kuat untuk mengikuti sunnah beliau.

Peringatan maulid seharusnya menjadi pengingat untuk memperbaiki shalat, memperbaiki akhlak, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah Nabi, meninggalkan maksiat, memperkuat ukhuwah, dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan nyata.

Jangan sampai seseorang sangat bersemangat merayakan maulid, tetapi malas menegakkan sunnah. Jangan pula seseorang mengaku cinta Nabi ﷺ, tetapi masih mudah mencela saudaranya yang berusaha mengikuti sunnah.

Sebaliknya, bagi kaum muslimin yang tidak merayakan maulid, hendaknya nasihat disampaikan dengan adab, ilmu, dan kelembutan. Jangan sampai niat mengingatkan justru berubah menjadi perdebatan keras yang merusak persaudaraan.

Menjaga Ukhuwah dalam Perbedaan

Perbedaan pandangan tentang maulid seharusnya tidak membuat umat Islam saling membenci. Perbedaan ini perlu dibahas dengan ilmu dan adab. Jika ingin berdiskusi, maka diskusikan dengan tujuan mencari kebenaran, bukan untuk mengalahkan saudara sendiri.

Allah berfirman:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.
(QS. Ali Imran [3]: 103)

Ayat ini mengingatkan umat Islam agar menjaga persatuan di atas agama Allah. Ukhuwah tidak berarti menghapus nasihat dan amar ma’ruf nahi munkar. Namun, amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara yang benar, beradab, dan sesuai tuntunan syariat.

Perdebatan yang kasar sering kali tidak menghasilkan hidayah. Sebaliknya, diskusi yang tenang, ilmiah, dan penuh adab lebih mudah membuka hati.

Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Dalam setiap perbedaan, umat Islam perlu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Rujukan ini perlu dipahami dengan bimbingan Rasulullah ﷺ, para sahabat, generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta para ulama yang mengikuti jalan mereka.

Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah bukan sekadar slogan. Hal ini membutuhkan kesungguhan belajar, adab terhadap ilmu, penghormatan kepada ulama, dan kesiapan untuk meninggalkan fanatisme kelompok apabila bertentangan dengan dalil yang benar.

Dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, umat Islam dapat memperkuat ukhuwah, memperbaiki ibadah, dan menegakkan agama dengan cara yang lebih lurus.

Waspada terhadap Provokasi dan Perpecahan

Umat Islam juga perlu waspada terhadap berbagai bentuk provokasi yang dapat memecah belah persaudaraan. Perpecahan bisa muncul melalui ucapan, tulisan, media sosial, atau tokoh-tokoh yang mendorong fanatisme berlebihan.

Karena itu, setiap muslim perlu memperkuat ilmu agama, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, dan tidak mudah terpancing oleh narasi yang menimbulkan kebencian antarsesama muslim.

Media sosial seharusnya digunakan untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat, nasihat yang baik, dan ajakan kepada kebaikan. Jangan sampai media sosial menjadi tempat saling menyerang dan memperkeruh perbedaan.

Kesimpulan

Maulid Nabi Muhammad ﷺ merupakan tema yang memiliki perbedaan pandangan di tengah umat Islam. Sebagian muslim memperingatinya sebagai ekspresi cinta kepada Rasulullah ﷺ, sementara sebagian lainnya tidak merayakannya karena tidak menemukan praktik tersebut pada masa Nabi ﷺ, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Perbedaan ini sebaiknya disikapi dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati. Jangan mudah menuduh saudara sesama muslim tidak cinta Nabi hanya karena tidak merayakan maulid. Sebaliknya, jangan pula menyampaikan nasihat tentang maulid dengan cara yang kasar dan merusak ukhuwah.

Yang lebih penting adalah bagaimana setiap muslim membuktikan cinta kepada Nabi ﷺ dengan mengikuti sunnah beliau. Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus tampak dalam akidah, ibadah, akhlak, penampilan, muamalah, dan cara berdakwah.

Jika maulid diperingati, hendaknya ia menjadi sarana untuk semakin mencintai dan mengamalkan sunnah. Jika tidak diperingati, hendaknya sikap itu tetap disertai adab dalam menasihati saudara seiman.

Pada akhirnya, umat Islam perlu terus berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, menjaga ukhuwah, menghindari perdebatan yang merusak, dan memperkuat semangat meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 26 Desember 2014

Di Manakah Dzat Allah? Memahami dengan Dalil dan Adab Keimanan


Dalam pembahasan akidah, terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik akal dan rasa ingin tahu manusia. Misalnya:

“Di manakah Allah?”
“Apakah Allah ada di Ka’bah di Mekkah?”
“Masjid disebut rumah Allah, apakah berarti Allah ada di setiap masjid?”
“Jika Arasy diciptakan Allah, di manakah Allah sebelum Arasy diciptakan?”

Pertanyaan seperti ini sering muncul karena manusia berusaha memahami perkara ghaib dengan logika yang terbatas. Padahal, dalam Islam, perkara ghaib hanya dapat diketahui sejauh yang Allah kabarkan melalui Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ melalui hadis yang sahih.

Karena itu, dalam membahas perkara seperti ini, seorang muslim perlu bersikap hati-hati. Kita wajib beriman kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, tanpa menolak dalil, dan tanpa membahas sesuatu yang tidak dijelaskan oleh wahyu secara berlebihan.

Allah Bersemayam di Atas Arasy

Allah telah mengabarkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an bahwa Dia bersemayam di atas Arasy. Di antaranya firman Allah:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-A’raf [7]: 54)

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan.”
(QS. Yunus [10]: 3)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengabarkan tentang istiwa’-Nya di atas Arasy. Kewajiban seorang muslim adalah mengimani kabar tersebut sebagaimana yang Allah sampaikan, dengan tetap meyakini bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya.

Arasy Allah adalah Makhluk yang Sangat Agung

Allah menyebutkan bahwa Dia adalah pemilik Arasy yang agung. Allah berfirman:

“Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.”
(QS. At-Taubah [9]: 129)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu dan Penciptanya. Dia adalah pemilik Arasy yang agung, yang menaungi seluruh makhluk. Seluruh makhluk di langit dan bumi, serta apa yang ada di antara keduanya, berada di bawah Arasy dan berada di bawah kekuasaan Allah. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, kekuasaan-Nya terlaksana atas segala sesuatu, dan Dia adalah pelindung atas segala sesuatu.

Penjelasan ini mengingatkan kita bahwa Arasy adalah makhluk Allah yang sangat agung. Namun, sebesar apa pun Arasy, ia tetap makhluk. Adapun Allah adalah Pencipta seluruh makhluk.

Malaikat Pemikul Arasy

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Arasy dipikul oleh malaikat-malaikat dan dikelilingi oleh malaikat lainnya yang senantiasa bertasbih memuji Allah.

Allah berfirman:

“Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Az-Zumar [39]: 75)

Allah juga berfirman:

“Malaikat-malaikat yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Ghafir/Al-Mu’min [40]: 7)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas mereka.”
(QS. Al-Haqqah [69]: 17)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Aku telah diizinkan untuk menyampaikan tentang para malaikat Allah pembawa Arasy. Sesungguhnya antara daun telinga dan lehernya berjarak tujuh ratus tahun.”
(HR. Abu Dawud no. 4727)

Dalil-dalil ini menunjukkan betapa agungnya Arasy dan betapa besarnya makhluk-makhluk Allah. Jika makhluk Allah saja demikian besar dan menakjubkan, maka semakin jelas bahwa akal manusia sangat terbatas dalam memahami perkara ghaib.

Tidak Perlu Membayangkan Bagaimana Istiwa’ Allah

Mengenai bagaimana hakikat Allah beristiwa’ di atas Arasy, hal itu tidak layak untuk diperdebatkan secara berlebihan. Apakah manusia mampu menggambarkan bagaimana keadaan Allah beristiwa’? Tentu tidak.

Dalam perkara seperti ini, sikap yang selamat adalah mengimani apa yang Allah kabarkan, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menolak makna yang telah Allah sampaikan. 

Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura [42]: 11)

Ayat ini menjadi kaidah penting. Kita mengimani sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi tidak menyerupakannya dengan sifat makhluk.

Di Manakah Allah Sebelum Arasy Diciptakan?

Pertanyaan seperti “Di manakah Allah sebelum Arasy diciptakan?” termasuk perkara ghaib yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an dan hadis yang sahih untuk menjadi bahan pembahasan panjang.

Seorang muslim tidak dibebani untuk mengetahui perkara yang tidak Allah jelaskan. Yang wajib adalah beriman kepada Allah sesuai dengan wahyu yang telah Dia turunkan.

Akal manusia memiliki batas. Dalam perkara ghaib, akal tidak dapat berjalan sendiri tanpa bimbingan wahyu. Jika manusia memaksakan diri menelusuri hal-hal yang tidak dijelaskan Allah, ia dapat terjebak dalam spekulasi yang tidak membawa manfaat bagi iman dan amal.

Lebih baik waktu dan tenaga digunakan untuk mempelajari perkara yang jelas tuntunannya, seperti memahami Al-Qur’an, mempelajari hadis, memperbaiki shalat, menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ibadah.

Allah Turun ke Langit Dunia pada Sepertiga Malam Terakhir

Selain mengimani bahwa Allah bersemayam di atas Arasy, seorang muslim juga mengimani hadis sahih tentang turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.”
(HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Hadis ini menunjukkan keutamaan sepertiga malam terakhir. Pada waktu tersebut, seorang muslim dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, shalat malam, dan munajat kepada Allah.

Adapun bagaimana hakikat turunnya Allah, maka hal itu termasuk perkara ghaib. Kita mengimani sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah ﷺ, tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk dan tanpa membahas bagaimana caranya.

Bagaimana dengan Perbedaan Waktu di Bumi?

Sebagian orang bertanya, “Jika sepertiga malam terakhir berbeda-beda di berbagai wilayah bumi, lalu bagaimana Allah turun ke langit dunia?”

Pertanyaan ini kembali kepada hakikat perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa yang sulit dibayangkan manusia sangat mudah bagi Allah. Kita terjebak dalam pertanyaan ini karena secara tidak sadar kita sedang menyerupakan Allah sebagaimana mahluk. Padahal kalau kita meyakini Allah adlaah Dzat yang Maha, maka semuanya dapat terjadi. 

Yang penting bagi seorang muslim adalah mengimani hadis tersebut dan memanfaatkan waktu sepertiga malam terakhir untuk beribadah. Jangan sampai pertanyaan yang terlalu jauh justru membuat seseorang lalai dari manfaat utama hadis tersebut, yaitu memperbanyak doa dan istighfar pada waktu yang mustajab.

Apakah Allah Ada di Mana-Mana?

Sebagian orang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana. Ungkapan ini perlu dijelaskan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Menurut pemahaman Ahlus Sunnah, Allah bersemayam di atas Arasy, sebagaimana yang Allah kabarkan dalam Al-Qur’an. Namun, ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat seluruh makhluk-Nya.

Jadi, Allah tidak dipahami menyatu dengan makhluk atau berada di setiap tempat secara dzat. Akan tetapi, ilmu, pengawasan, kekuasaan, dan pengaturan Allah meliputi seluruh alam semesta.

Dengan memahami hal ini, seorang muslim dapat mengimani dalil tentang Allah di atas Arasy sekaligus meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi di mana pun.

Ka’bah dan Masjid sebagai Tempat Ibadah

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah Allah berada di Ka’bah atau di masjid karena masjid disebut rumah Allah.

Ka’bah adalah kiblat umat Islam dan tempat yang sangat mulia. Masjid juga disebut rumah Allah dalam makna sebagai tempat yang dimuliakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun, hal itu tidak berarti bahwa Allah secara dzat bertempat di Ka’bah atau di setiap masjid.

Penyebutan “rumah Allah” menunjukkan kemuliaan dan kehormatan tempat tersebut. Karena itu, masjid harus dimuliakan, dijaga kebersihannya, dan digunakan untuk ibadah yang diridhai Allah.

Jangan Menjadikan Akal sebagai Hakim atas Wahyu

Dalam perkara ghaib, seorang muslim tidak boleh menjadikan akal sebagai hakim tertinggi atas wahyu. Akal adalah nikmat besar dari Allah, tetapi akal memiliki batas.

Islam bukan agama yang bertentangan dengan akal sehat. Namun, Islam adalah agama wahyu. Dalam hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal, seorang muslim harus tunduk kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya.

Jangan membuat syarat dalam keimanan, misalnya: “Jika masuk akal saya imani, jika tidak masuk akal saya tolak.” Sikap seperti ini dapat merusak keimanan, karena perkara ghaib memang tidak semuanya dapat dijangkau oleh logika manusia.

Tugas seorang muslim adalah menggabungkan penggunaan akal yang sehat dengan ketundukan kepada wahyu.

Gunakan Akal untuk Hal yang Lebih Bermanfaat

Daripada terlalu jauh memperdebatkan perkara ghaib yang tidak dijelaskan rinci oleh Allah, lebih baik akal dan waktu kita digunakan untuk mempelajari hal-hal yang jelas manfaatnya.

Masih banyak ilmu yang perlu dipelajari, seperti tafsir Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, sirah Nabi, sejarah para sahabat, dan ilmu-ilmu yang membantu manusia menjalankan agama dengan benar.

Kita juga dapat menggunakan akal untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat. Ilmu dunia yang digunakan dengan niat yang benar dapat membuka jalan hikmah dan memperkuat keimanan kepada Allah.

Dengan demikian, akal tidak ditinggalkan, tetapi diarahkan kepada hal-hal yang bermanfaat dan sesuai dengan tuntunan wahyu.

Cukupkan Diri dengan Apa yang Diajarkan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam bertanya tentang hal-hal yang tidak membawa manfaat. Beliau bersabda:

“Wahai kaum muslimin, cukupkanlah diri kalian dengan apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka banyak bertanya dan suka menyelisihi para nabi mereka. Karena itu, bila aku perintahkan kalian mengerjakan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian. Dan apabila aku larang kalian mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah.”
(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan sikap pertengahan. Bertanya untuk belajar adalah kebaikan. Namun, bertanya dengan tujuan memperumit, memperdebatkan perkara ghaib, atau mencari-cari hal yang tidak dibebankan kepada kita dapat menjadi jalan yang tidak bermanfaat.

Kesimpulan

Pertanyaan “Di manakah Dzat Allah?” termasuk pembahasan akidah yang harus dijawab dengan dalil dan adab. Al-Qur’an mengabarkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy. Kita wajib mengimani kabar tersebut sebagaimana yang Allah sampaikan, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya.

Allah juga mengabarkan melalui Rasul-Nya bahwa Dia turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Kita mengimani hadis tersebut dan mengambil manfaatnya dengan memperbanyak doa, istighfar, dan ibadah pada waktu tersebut.

Adapun perkara-perkara yang tidak dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti bagaimana hakikat istiwa’ atau bagaimana keadaan sebelum Arasy diciptakan, maka tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Akal manusia terbatas, sedangkan perkara ghaib hanya dapat diketahui melalui wahyu.

Kita harus meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan MahlukNya. Selanjutnya, ketika kita dihadapkan pada ayat Al Quran dan Hadis Sahih yang menginformasikan tentang Dzat Allah, maka kita wajib beriman secara tekstual sesuai deskripsi dan narasi dari Ayat dan Hadis tersebut. Namun demikian tidak layak bagi kita mempertanyakan dan membayangkan mengenai hal tersebut. Kita harus mengembalikan lagi intepretasi ke keyakinan bahwa Allah tidak serupa dengan Mahluk. Segala daya dan upaya manusia membayangkan Dzat Allah hanya akan membuat akal terus terjebak dalam daya imajinasi sebagai mahluk.  

Seorang muslim hendaknya menggunakan akal dan waktunya untuk mempelajari Al-Qur’an, Sunnah, fikih, akhlak, ilmu bermanfaat, serta memperbaiki amal. Dengan begitu, keimanan tidak hanya menjadi bahan perdebatan, tetapi juga menjadi jalan untuk semakin tunduk, takut, cinta, dan taat kepada Allah.

Sejarah Agama-Agama dalam Perspektif Islam


Dalam perspektif Islam, agama yang Allah turunkan kepada umat manusia sejak awal adalah agama tauhid, yaitu ajaran untuk menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Ajaran tauhid ini telah dimulai sejak penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam. 

Allah mengajarkan kepada Nabi Adam berbagai ilmu pengetahuan. Nabi Adam kemudian mengajarkan kepada keturunannya tentang keimanan kepada Allah, tata cara beribadah, serta prinsip hidup yang sesuai dengan petunjuk Allah.

Seiring berjalannya waktu, manusia berkembang menjadi berbagai generasi dan bangsa. Dalam perjalanan sejarah tersebut, terjadi penyimpangan-penyimpangan dari ajaran tauhid. Karena itu, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk mengembalikan manusia kepada penyembahan yang benar kepada Allah.

Agama Manusia Bermula dari Tauhid

Islam mengajarkan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam adalah manusia pertama sekaligus nabi pertama. Setelah Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke dunia, keduanya memiliki keturunan. Nabi Adam mengajarkan kepada anak-cucunya agar menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Dapat dikatakan, semejak awal penciptaan manusia, Nabi Adam dan anak cucunya telah beragama Islam, agama tauhid, walau mungkin di era itu agama tauhid yang dimaksud tidak disebut sebagai "Islam". Penamaan "Islam" baru muncul atau dikenal di era wahyu kenabian Nabi Muhammad, yakni sebutan agama tauhid dalam bahasa arab. 

Kata "Islam" dalam bahasa Arab berasal dari akar kata س ل م (s-l-m) yang berkaitan dengan makna selamat, damai, tunduk, patuh, dan berserah diri.

Secara bahasa, Islam (الإسلام) berarti berserah diri, tunduk, dan patuh.

Dalam konteks agama, "Islam" berarti: berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengikuti ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul, yang disempurnakan melalui Nabi Muhammad ﷺ. 

Pada masa awal setelah Nabi Adam, manusia masih memegang ajaran tauhid tersebut. Mereka mengenal Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Namun, seiring bergantinya generasi, ilmu agama mulai melemah dan manusia mulai menyimpang dari ajaran yang benar.

Penyimpangan tersebut tidak terjadi sekaligus, tetapi berlangsung perlahan. Setan menggoda manusia melalui berbagai cara, termasuk dengan menumbuhkan sikap berlebihan dalam menghormati orang-orang saleh.

Awal Munculnya Penyimpangan Akidah

Sebelum diutusnya Nabi Nuh ‘alaihissalam, terdapat beberapa orang saleh yang dicintai oleh masyarakat. Nama-nama mereka disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Allah berfirman:

“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan terhadap tuhan-tuhan kamu, dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.’”
(QS. Nuh [71]: 23)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa nama-nama tersebut adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat berhala di tempat-tempat majelis mereka dan menamainya dengan nama orang-orang saleh tersebut.

Pada awalnya, patung-patung itu belum disembah. Namun, setelah generasi pembuat patung tersebut meninggal dan ilmu agama mulai hilang, generasi berikutnya mulai menyembah patung-patung tersebut. Riwayat ini disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Tafsir.

Dari sini dapat dipahami bahwa kesyirikan pada awalnya muncul melalui sikap berlebihan terhadap orang-orang saleh. Apa yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai bentuk mengenang, lama-kelamaan berubah menjadi bentuk pengagungan yang melampaui batas.

Diutusnya Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Ketika kemusyrikan mulai menyebar di tengah manusia, Allah mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau menyeru kaumnya agar kembali kepada tauhid, yaitu menyembah Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya.

Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dalam waktu yang sangat panjang. Namun, sebagian besar kaumnya menolak ajakan tersebut. Hanya sedikit yang beriman dan mengikuti beliau.

Kisah Nabi Nuh menunjukkan bahwa penyimpangan agama bukan hanya persoalan perilaku, tetapi terutama berkaitan dengan rusaknya akidah. Karena itu, misi utama para nabi dan rasul adalah mengajak manusia kembali kepada tauhid.

Para Nabi dan Rasul Diutus untuk Menegakkan Tauhid

Setelah Nabi Nuh, Allah terus mengutus nabi dan rasul kepada berbagai umat. Setiap kali ajaran tauhid mulai dilupakan, Allah mengutus rasul untuk memberi peringatan dan membawa kabar gembira.

Allah berfirman:

“Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat agar mereka menyerukan: Sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut.”
(QS. An-Nahl [16]: 36)

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

“Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”
(QS. Fathir [35]: 24)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa dakwah para nabi memiliki inti yang sama, yaitu mengajak manusia menyembah Allah semata dan menjauhi segala bentuk penyembahan kepada selain Allah.

Sejarah Berulang: Lurus, Menyimpang, lalu Diingatkan

Dalam perjalanan sejarah, pola yang sama sering terulang. Ketika seorang nabi atau rasul diutus, sebagian manusia menerima ajarannya dan kembali kepada tauhid. Namun, setelah nabi tersebut wafat dan berlalu beberapa generasi, sebagian manusia kembali menyimpang.

Penyimpangan dapat terjadi dalam bentuk perubahan ajaran, pengagungan berlebihan kepada tokoh tertentu, penambahan ritual yang tidak diajarkan, atau pengabaian terhadap wahyu.

Ketika penyimpangan semakin besar, Allah mengutus nabi atau rasul berikutnya untuk meluruskan kembali akidah dan ibadah manusia. Demikianlah sejarah pengutusan para nabi dan rasul berlangsung hingga akhirnya Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul terakhir.

Allah berfirman:

“Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 165)

Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul Penutup

Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai nabi dan rasul terakhir. Melalui beliau, Allah menyempurnakan ajaran Islam dan menjadikannya sebagai agama tauhid yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk seluruh manusia dari berbagai suku, bangsa, bahasa, dan wilayah.

Allah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam telah sempurna. Setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Karena itu, umat manusia diperintahkan untuk mengikuti ajaran yang beliau bawa.

Hubungan Islam dengan Ajaran Para Nabi Sebelumnya

Dalam perspektif Islam, ajaran para nabi sebelumnya pada dasarnya adalah ajaran tauhid. Para nabi menyeru umatnya untuk menyembah Allah, menjauhi syirik, dan hidup sesuai petunjuk wahyu.

Nabi Muhammad ﷺ datang bukan untuk memutus ajaran para nabi sebelumnya, tetapi untuk menyempurnakan dan membenarkan ajaran tauhid yang telah dibawa oleh mereka. Karena itu, seorang muslim wajib beriman kepada seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah.

Namun, Islam juga menjelaskan bahwa sebagian umat terdahulu melakukan perubahan, penyembunyian, atau penyimpangan terhadap ajaran yang dibawa nabi-nabi mereka.

Allah berfirman:

“Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 15)

Dalam membahas hal ini, seorang muslim tetap perlu menjaga adab. Kritik terhadap penyimpangan akidah dan kitab terdahulu sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang ilmiah, bukan dengan celaan atau penghinaan kepada pemeluk agama lain.

Tantangan Penyimpangan dalam Internal Umat Islam

Setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada lagi nabi dan rasul yang diutus. Namun, umat Islam tetap menghadapi ujian berupa penyimpangan pemikiran, penyimpangan ibadah, perselisihan, dan jauhnya sebagian umat dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Karena itu, umat Islam perlu terus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Rasulullah ﷺ, para sahabat, generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama yang mengikuti jalan mereka.

Penyimpangan dalam agama dapat muncul ketika manusia lebih mengedepankan hawa nafsu, fanatisme kelompok, tradisi yang tidak sesuai dalil, atau pemikiran yang jauh dari wahyu.

Namun, Allah telah menjanjikan penjagaan terhadap Al-Qur’an.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr [15]: 9)

Allah juga berfirman:

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am [6]: 115)

Janji Allah ini menjadi keyakinan bagi umat Islam bahwa Al-Qur’an tetap terjaga sebagai pedoman utama hingga akhir zaman.

Pentingnya Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Dalam menghadapi perbedaan, penyimpangan, dan tantangan zaman, umat Islam perlu selalu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya adalah sumber utama dalam memahami agama.

Namun, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah harus dilakukan dengan ilmu. Umat Islam perlu mempelajari tafsir, hadis, fikih, akidah, sirah, dan penjelasan para ulama agar tidak memahami dalil secara keliru.

Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah juga tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus terlihat dalam ibadah, akhlak, muamalah, cara berdakwah, cara menyikapi perbedaan, serta cara berinteraksi dengan sesama manusia.

Sikap Muslim terhadap Sejarah Agama-Agama

Mempelajari sejarah agama-agama dalam perspektif Islam seharusnya membuat seorang muslim semakin memahami pentingnya tauhid. Sejarah manusia menunjukkan bahwa penyimpangan sering bermula dari hal-hal yang tampak kecil, seperti pengagungan berlebihan kepada orang saleh atau penambahan praktik keagamaan tanpa ilmu.

Namun, pemahaman ini tidak boleh membuat seorang muslim bersikap kasar kepada pemeluk agama lain. Islam mengajarkan dakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.

Seorang muslim dapat meyakini kebenaran Islam dengan kuat, tetapi tetap menjaga akhlak dalam menyampaikan keyakinannya. Kebenaran tidak harus disampaikan dengan celaan. Justru, akhlak yang baik dapat menjadi jalan terbukanya hati manusia kepada hidayah.

Kesimpulan

Dalam perspektif Islam, agama umat manusia sejak awal adalah ajaran tauhid, yaitu menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Ajaran ini dimulai sejak Nabi Adam ‘alaihissalam dan terus disampaikan oleh para nabi dan rasul setelahnya.

Seiring berjalannya waktu, manusia mengalami penyimpangan dari ajaran tauhid. Karena itu, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk mengembalikan manusia kepada jalan yang benar. Nabi Nuh ‘alaihissalam diutus ketika kemusyrikan mulai menyebar, dan para nabi setelahnya juga membawa misi yang sama, yaitu menegakkan tauhid.

Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul terakhir. Melalui beliau, Allah menyempurnakan Islam sebagai agama yang diridhai-Nya. Setelah beliau, tidak ada lagi nabi dan rasul, tetapi Allah menjaga Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Mempelajari sejarah agama-agama seharusnya membuat umat Islam semakin mencintai tauhid, menjaga kemurnian ibadah, mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah, serta berdakwah dengan ilmu dan akhlak yang baik.