Setiap kali kemarau datang, Indonesia menghadapi pertanyaan yang berulang: apakah hutan terbakar karena cuaca terlalu panas, atau karena ada yang membakarnya? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan arah kebijakan. Jika penyebabnya dipahami keliru, anggaran bisa habis untuk memadamkan api sementara sumber masalahnya tetap dibiarkan.
Solusi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla perlu bekerja sejak sebelum muncul asap. Indonesia membutuhkan pengendalian sumber api, pengelolaan lahan yang menjaga kelembapan, serta kemampuan menemukan dan menangani kebakaran ketika ukurannya masih kecil.
Aktivitas manusia merupakan sumber penyalaan yang dominan, terutama pada lanskap gambut Indonesia. Sementara itu, kemarau, kondisi vegetasi, dan pengeringan lahan memengaruhi kemungkinan api berkembang menjadi kebakaran besar. Kajian PeatFire menegaskan dominasi penyalaan akibat manusia pada gambut tropis Indonesia, dengan peran petir yang kecil. Temuan ini tidak berarti setiap kejadian memiliki pelaku atau motif yang sama. Kajian PeatFire.
Faktor alam atau manusia: mana yang lebih dominan?
Untuk menjawabnya, kita perlu membedakan sumber penyalaan, faktor yang memperbesar kebakaran, dan kelemahan pengendalian.
Faktor | Peran dalam kebakaran | Implikasi penanganan |
Pembakaran untuk membersihkan atau membuka lahan | Menyediakan sumber api; api dapat keluar dari lokasi awal | Sediakan alternatif tanpa bakar dan awasi kegiatan berisiko |
Kelalaian penggunaan api | Api dari aktivitas sehari-hari dapat menyulut vegetasi kering | Edukasi, pembatasan aktivitas saat risiko tinggi, dan patroli |
Kemarau, El Niño, dan kondisi cuaca kering | Mengurangi kelembapan serta meningkatkan peluang penyebaran | Aktifkan kesiapsiagaan berdasarkan prakiraan dan kondisi lapangan |
Drainase gambut dan kerusakan tutupan vegetasi | Meningkatkan kerentanan lanskap terhadap api | Pulihkan tata air dan kelola lahan secara berkelanjutan |
Penyalaan alami, misalnya petir | Dapat terjadi, tetapi bukan penjelasan dominan untuk gambut Indonesia | Investigasi setiap kejadian tanpa langsung menyimpulkan penyebab |
Respons terlambat dan pasokan air tidak siap | Membiarkan api kecil berkembang | Tempatkan personel, air, dan peralatan lebih dekat ke lokasi rawan |
Tabel tersebut merupakan sintesis analitis, bukan pembagian persentase penyebab nasional. Peran faktor yang sama dapat berbeda menurut ekosistem dan lokasi.
BNPB pernah menyampaikan pada 2019 bahwa 99 persen penyebab karhutla adalah ulah manusia. Angka ini perlu dibaca sebagai pernyataan institusional pada saat itu, bukan hasil investigasi seluruh kejadian setiap tahun atau persentase yang otomatis berlaku untuk setiap provinsi. Publikasi BNPB tentang penyebab karhutla.
Lebih jauh, “akibat manusia” tidak sama dengan “semuanya sengaja dibakar untuk menimbulkan kebakaran besar”. Ada penyalaan sengaja untuk kegiatan pembukaan lahan yang kemudian tidak terkendali, kelalaian, dan kemungkinan pembakaran dengan motif lain. Untuk menetapkan pelaku dan kesengajaan pada kasus tertentu, tetap dibutuhkan pemeriksaan asal api, saksi, kondisi cuaca, aktivitas lahan, dan bukti lain.
Demikian pula, kebakaran di dalam suatu konsesi tidak dengan sendirinya membuktikan siapa yang menyalakan api. Investigasi sumber api dan evaluasi kewajiban pengelola untuk mencegah serta menangani kebakaran merupakan dua pemeriksaan yang perlu dilakukan secara jelas.
Kemarau memperbesar bahaya, tetapi tidak menjelaskan seluruh asal api
El Niño dan Indian Ocean Dipole positif dapat mendukung kondisi kering di Indonesia. BMKG menjelaskan bahwa kombinasi keduanya dapat mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. Dampaknya perlu dinilai menurut wilayah dan waktu, bukan dianggap seragam di seluruh kepulauan. Penjelasan BMKG tentang El Niño dan kondisi kering.
Artinya, pernyataan “karena kemarau” belum menjawab dari mana api pertama berasal. Penjelasan yang lebih lengkap adalah interaksi antara sumber api, bahan yang mudah terbakar, kondisi cuaca, dan kemampuan pengendalian.
Mengapa kebakaran gambut lebih sulit dipadamkan?
Pada lahan mineral, bahan yang terbakar umumnya berupa vegetasi dan serasah. Pada gambut yang kering, lapisan tanah organiknya juga dapat membara. Karena itu, permukaan yang tampak tenang belum tentu menandakan seluruh kebakaran telah padam.
Eksperimen GAMBUT di Sumatra menunjukkan api gambut dapat bertahan melewati beberapa kejadian hujan. Setelah pemadaman, pemeriksaan masih menemukan titik panas yang tertutup lapisan abu dan arang basah. Temuan ini menjelaskan mengapa penyiraman permukaan perlu diikuti pemeriksaan dan pemadaman sisa bara. Santoso dan rekan, eksperimen GAMBUT, 2022.
Implikasi kebijakannya jelas: keberhasilan harus diukur dari api yang benar-benar terkendali dan tidak menyala kembali. Berkurangnya asap sesaat atau banyaknya air yang dijatuhkan belum cukup menjadi ukuran keberhasilan.
Pencegahan: mengurangi kebutuhan membakar dan menjaga lahan tetap aman
Membuat pengolahan lahan tanpa bakar terjangkau
Larangan membakar akan lebih efektif jika masyarakat memiliki pilihan yang dapat dijalankan. Rekomendasinya adalah menyediakan layanan alat bersama untuk pencacahan vegetasi, pendampingan pengelolaan sisa tanaman, serta bantuan pengolahan lahan yang sesuai kondisi setempat.
Program tersebut perlu menghitung biaya nyata bagi petani: ongkos tenaga kerja, transportasi alat, waktu tunggu, dan pasar hasil usahanya. Subsidi alat yang tidak bisa digunakan di medan setempat hanya memindahkan masalah ke gudang penyimpanan.
Pendekatan berbasis masyarakat dan restorasi gambut telah menjadi objek penelitian partisipatif di Indonesia. Pelajaran yang relevan adalah menghubungkan pencegahan kebakaran dengan kepentingan ekonomi dan keterlibatan warga, bukan berhenti pada sosialisasi. Purnomo dan rekan, penelitian pencegahan berbasis masyarakat, 2024.
Memulihkan tata air gambut secara menyeluruh
Pembasahan kembali, revegetasi, dan pemulihan penghidupan masyarakat merupakan komponen restorasi gambut. Pendekatan ini juga dibahas dalam kajian BPK mengenai pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah. Kajian BPK tentang restorasi gambut.
Dalam penerapannya, saya mengusulkan agar pengelolaan air mengikuti kesatuan hidrologi gambut, termasuk hubungan kanal dan aliran air lintas batas pengelolaan. Sekat kanal harus dirancang berdasarkan kondisi hidrologi, kebutuhan masyarakat, dan dampaknya terhadap wilayah sekitar.
Jangan membangun saluran baru untuk akses pemadaman tanpa menilai apakah saluran itu justru mengeringkan gambut. Demikian pula, sumur bor bukan jaminan pasokan: debit, keberlanjutan sumber air, dan dampak pengambilannya perlu diuji sebelum musim rawan.
Menjadikan peringatan dini sebagai pemicu tindakan
SiPongi menyediakan informasi hotspot, sedangkan BMKG menyediakan informasi peringatan karhutla. Keduanya dapat membantu penentuan prioritas pengawasan. SiPongi Kementerian Kehutanan, peringatan karhutla BMKG.
Rekomendasi operasionalnya adalah menyatukan informasi tersebut dengan laporan warga, kondisi air, riwayat kebakaran, akses, dan posisi regu. Setiap kenaikan risiko harus memiliki tindakan yang sudah ditentukan: menambah patroli, mengisi penampungan air, menyiagakan pompa, atau memindahkan personel.
Hotspot adalah indikasi anomali panas, bukan selalu kebakaran vegetasi. Tidak adanya hotspot juga tidak menjamin tidak ada api: awan, asap tebal, kanopi, dan keterbatasan pengamatan dapat menghambat deteksi. NASA juga memperingatkan agar jumlah hotspot tidak langsung digunakan sebagai ukuran luas terbakar. Penjelasan teknis NASA FIRMS.
Bagaimana memadamkan api dengan cepat agar tidak meluas?
Kecepatan harus dihitung sejak kebakaran terdeteksi sampai tindakan efektif dimulai. Membeli alat berkapasitas besar tidak banyak membantu jika verifikasi laporan lambat, kendaraan sulit masuk, atau air belum tersedia.
Rangkaian berikut merupakan rekomendasi pengelolaan respons, bukan petunjuk bagi warga untuk memasuki kebakaran aktif.
- Verifikasi lokasi dan ancaman. Tentukan posisi api, jenis lahan, arah perkembangan, keberadaan penduduk, serta akses masuk dan keluar yang aman.
- Kirim regu terdekat dan aktifkan bantuan. Kebakaran terkonfirmasi harus segera ditangani sesuai kewenangan; eskalasi dilakukan ketika kemampuan awal diperkirakan tidak cukup.
- Amankan pasokan air. Pastikan sumber, debit, pompa, bahan bakar, sambungan selang, dan personel pengoperasiannya tersedia sebagai satu sistem.
- Kendalikan penyebaran berdasarkan penilaian komandan lapangan. Pilihan pemadaman darat, batas pengendalian, dan dukungan udara harus mengikuti perilaku api serta keselamatan petugas.
- Periksa sisa panas dan lakukan pemantauan ulang. Khusus gambut, status padam perlu didukung pemeriksaan lapangan, bukan hanya pengamatan asap.
Keselamatan perlu melekat pada operasi: petugas harus memiliki komunikasi, pengamatan perubahan cuaca, jalur keluar, dan zona aman. Warga yang menemukan kebakaran sebaiknya melaporkan lokasi dari tempat aman kepada BPBD, pemadam, atau posko setempat. Pemadaman gambut dan tindakan pembakaran balik memerlukan personel terlatih serta komando berwenang.
Teknologi yang paling cocok untuk medan Indonesia
Indonesia memerlukan kombinasi teknologi sesuai medan. Tabel berikut adalah rekomendasi pemilihan, bukan peringkat hasil uji nasional atau klaim satu alat selalu paling cepat.
Kondisi medan | Paket yang diprioritaskan | Batasan utama |
Gambut dengan akses darat atau sungai | Regu darat, pompa portabel, jaringan selang, pasokan air, pemeriksaan panas | Air harus mencapai bagian yang masih membara; daya dukung tanah perlu dinilai |
Semak atau kebun di tanah mineral dekat jalan | Unit bergerak, pompa, alat pemadam vegetasi, pengendalian bahan bakar | Kecepatan angin dan penyebaran dapat melampaui kemampuan regu awal |
Lereng dan hutan pegunungan | Regu terlatih, peralatan ringan, pemantauan udara, dukungan udara bila layak | Akses, perubahan perilaku api, dan keselamatan membatasi serangan langsung |
Lokasi terpencil dengan ancaman meluas | Dukungan helikopter dan pengiriman logistik yang terkoordinasi | Bergantung pada cuaca, sumber air, jarak operasi, dan kemampuan tindak lanjut |
Gambut rawan sebelum kebakaran | Pemantauan air, pengelolaan kanal, pembasahan, patroli | Memerlukan pemeliharaan dan koordinasi lintas wilayah |
Pompa dan selang: nilai utamanya ada pada air yang benar-benar sampai
Untuk banyak lokasi yang dapat dijangkau, prioritas belanja yang masuk akal adalah pompa yang mudah dibawa, selang dengan sambungan kompatibel, suku cadang, bahan bakar, dan operator terlatih. Penempatan pompa tambahan atau penampungan antara perlu dihitung berdasarkan jarak, elevasi, dan kehilangan tekanan.
Sebelum pengadaan, lakukan uji dari sumber air sampai titik terjauh yang harus dilayani. Ukuran keberhasilannya bukan debit pada brosur, melainkan kemampuan sistem mengalirkan air secara berkelanjutan dalam kondisi lapangan.
Injeksi air ke gambut: untuk sasaran tertentu
Lance injection mengarahkan air ke bagian dalam gambut. Namun, eksperimen GAMBUT menemukan keterbatasan efisiensinya akibat air yang mengalir keluar. Peneliti menilai metode ini dapat lebih sesuai untuk menangani sisa titik panas yang terlokalisasi di kedalaman setelah pemadaman luas. Jadi, injeksi tidak boleh dipromosikan sebagai cara yang selalu lebih cepat atau lebih hemat air. Hasil dan pembahasan eksperimen GAMBUT.
Drone termal: membantu mencari sasaran
Drone berkamera visual atau termal layak dipertimbangkan untuk pemetaan dan penentuan prioritas pemeriksaan. Panas permukaan dapat memberikan petunjuk, tetapi kamera termal tidak melihat seluruh bara secara langsung menembus tanah. Pemeriksaan regu tetap diperlukan.
Sebagai prioritas investasi, fungsi pengamatan lebih masuk akal untuk dievaluasi dahulu daripada menganggap drone pembawa air sebagai pengganti sistem pemadaman besar. Kapasitas muatan, waktu terbang, angin, baterai, dan dukungan teknis harus dibuktikan melalui uji lapangan. Seluruh penerbangan drone di area operasi harus dikoordinasikan agar tidak mengganggu pesawat atau helikopter pemadam.
Water bombing: dukungan penting dengan keterbatasan
Water bombing berguna untuk mendukung penanganan titik yang sulit dijangkau. Namun, Kementerian Kehutanan pada 4 September 2026 menegaskan bahwa operasi darat tetap menjadi tumpuan penanganan gambut di Kalimantan Barat karena penyiraman udara tidak selalu efektif. Keterangan Kementerian Kehutanan.
Evaluasi pengadaan helikopter atau pesawat pemadam sebaiknya mempertimbangkan air efektif yang mencapai sasaran per jam, waktu pengisian ulang, jarak sumber air, ketersediaan awak, dan biaya perawatan. Kapasitas tangki saja tidak menentukan hasil. Pembelian, sewa musiman, dan penempatan regional perlu dibandingkan menurut kebutuhan nyata.
Modifikasi cuaca: dimanfaatkan ketika syarat atmosfer tersedia
Operasi Modifikasi Cuaca membutuhkan awan yang sesuai untuk disemai. BMKG menegaskan bahwa ketika awan potensial tidak terbentuk, penyemaian tidak dapat dilakukan. Karena itu, OMC perlu direncanakan berdasarkan peluang atmosfer dan kebutuhan pembasahan, sambil mempertahankan patroli dan kesiapan darat. Penjelasan BMKG mengenai batasan OMC.
Bahan pembasah dan busa: menjanjikan, perlu validasi
Penelitian laboratorium menunjukkan bahan pembasah tertentu dapat mempercepat pemadaman gambut pada kondisi pengujian. Hasil laboratorium tidak otomatis sama dengan hasil di lapangan. Sebelum diterapkan luas, perlu uji efektivitas, biaya, kebutuhan air, kompatibilitas alat, serta dampak terhadap ekosistem dan sumber air. Produk bebas fluor pun tidak otomatis bebas seluruh risiko lingkungan. Santoso dan rekan, studi bahan pembasah, 2021.
Regulasi: memperjelas tanggung jawab dan memperkuat pelaksanaan
Indonesia telah memiliki kerangka pengendalian, termasuk UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup beserta perubahannya, PP Nomor 71 Tahun 2014 yang diubah dengan PP Nomor 57 Tahun 2016 tentang gambut, dan Inpres Nomor 3 Tahun 2020 tentang penanggulangan karhutla. UU PPLH dan riwayat perubahannya, PP Nomor 57 Tahun 2016, Inpres Nomor 3 Tahun 2020.
Ketentuan kearifan lokal perlu dijelaskan secara utuh. Pasal 69 UU PPLH memuat larangan pembukaan lahan dengan membakar sekaligus ketentuan mengenai kearifan lokal. Penjelasannya menyebut batas maksimal dua hektare per kepala keluarga, tanaman varietas lokal, dan sekat bakar. Ini bukan izin umum bagi siapa saja untuk membakar dua hektare di lokasi apa pun; penerapannya harus memperhatikan aturan terkait dan kondisi wilayah. Naskah UU PPLH, Pasal 69 dan penjelasannya.
Perbaikan yang saya usulkan adalah audit kesiapan sebelum musim rawan, kejelasan pihak yang menangani setiap wilayah, anggaran siaga yang dapat digunakan sesuai mekanisme, serta bantuan antarpengelola yang sudah disepakati. Pemeriksaan harus menguji alat berfungsi, air tersedia, dan regu dapat bergerak.
Penegakan hukum perlu menelusuri pelaku dan pihak yang mengendalikan tindakan berdasarkan bukti. Pada saat yang sama, dukungan bagi petani kecil dan masyarakat adat harus memastikan mereka memiliki alternatif yang layak. Pendekatan yang adil memperkuat kemauan masyarakat melapor dan bekerja sama.
Peta jalan jangka pendek dan jangka panjang
Rentang waktu berikut merupakan usulan pelaksanaan, bukan tenggat resmi pemerintah.
Waktu | Prioritas | Penanggung jawab yang perlu dilibatkan |
Segera hingga 3 bulan | Uji pompa dan sumber air, petakan akses, siapkan regu, perjelas pelaporan dan eskalasi | Pemda, BPBD, Manggala Agni, pengelola lahan, kelompok masyarakat |
3–12 bulan | Perbaiki sarana air dan komunikasi, latih operasi bersama, bangun layanan pengolahan lahan tanpa bakar | Pemda, instansi teknis, pelaku usaha, pendamping masyarakat |
1–3 tahun | Pulihkan tata air prioritas, selesaikan persoalan pengelolaan lahan, evaluasi penempatan armada | Pemerintah pusat dan daerah, pengelola kawasan, masyarakat |
Lebih dari 3 tahun | Pertahankan restorasi, kembangkan ekonomi sesuai ekosistem, perkuat pengawasan dan evaluasi berulang | Seluruh pemangku kepentingan dengan pembagian tugas yang terukur |
Keberhasilan dapat dipantau melalui waktu verifikasi laporan, waktu sampai tindakan efektif dimulai, proporsi kebakaran yang terkendali pada respons awal, kejadian menyala kembali, kesiapan air, dan luas kebakaran berulang. Penurunan luas terbakar juga perlu dibaca bersama kondisi cuaca; tahun yang lebih basah tidak otomatis membuktikan seluruh program telah efektif.
Pengendalian karhutla yang kuat terlihat ketika sumber api berkurang, gambut terjaga, masyarakat memperoleh pilihan usaha yang layak, dan petugas dapat bertindak sebelum api membesar. Teknologi terbaik bagi Indonesia adalah teknologi yang benar-benar dapat dioperasikan di medan setempat, mendapat pasokan dan perawatan, serta menjadi bagian dari sistem pencegahan yang berjalan sepanjang tahun.

