Sebagian orang menganggap manajemen risiko terlalu mengandalkan perhitungan manusia. Risiko dipetakan, kemungkinan kejadian diperhitungkan, dampak diperkirakan, lalu langkah mitigasi disusun.
Di sisi lain, seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah. Segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, sedangkan manusia tidak pernah mengetahui masa depan dengan pasti.
Lantas, apakah memperhitungkan risiko berarti kurang percaya kepada Allah? Apakah seorang Muslim cukup berdoa dan bertawakal tanpa perlu membuat rencana cadangan?
Jawabannya, tawakal tidak bertentangan dengan manajemen risiko.
Manajemen risiko merupakan bagian dari ikhtiar manusia, sedangkan tawakal adalah sikap hati setelah ikhtiar dilakukan. Keduanya menempati wilayah yang berbeda, tetapi dapat berjalan secara bersamaan.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menyerah sebelum berusaha. Islam justru mengajarkan perencanaan, kehati-hatian, musyawarah, pengendalian bahaya, dan kesiapan menghadapi keadaan yang tidak diinginkan.
Apa Itu Tawakal?
Tawakal berasal dari kata Arab tawakkul, yang secara umum berarti menyerahkan, mempercayakan, atau menggantungkan suatu urusan kepada Allah.
Namun, tawakal bukan berarti meninggalkan usaha.
Tawakal adalah keyakinan bahwa manusia wajib berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Seorang Muslim bekerja, belajar, berobat, menjaga kesehatan, menyimpan persediaan, membuat perencanaan, dan mengantisipasi bahaya. Setelah semua ikhtiar yang wajar dilakukan, ia tidak menggantungkan hatinya kepada usaha tersebut.
Ia menyadari bahwa:
rencana dapat berhasil atau gagal;
perhitungan manusia memiliki keterbatasan;
kejadian di luar perkiraan tetap dapat terjadi;
dan hasil akhir merupakan ketetapan Allah.
Tawakal dengan demikian bukan sikap pasif. Tawakal merupakan keseimbangan antara usaha anggota badan dan penyerahan hati kepada Allah.
Apa Itu Manajemen Risiko?
Menurut ISO 31000, manajemen risiko merupakan pendekatan untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, menangani, memantau, dan mengomunikasikan risiko yang dapat memengaruhi tercapainya tujuan. Standar tersebut membantu organisasi memperbaiki perencanaan, pengambilan keputusan, dan perlindungan terhadap aset.
Risiko sendiri tidak selalu berarti bencana yang pasti terjadi. Risiko berkaitan dengan ketidakpastian yang dapat memengaruhi tujuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, contoh manajemen risiko sebenarnya sangat dekat dengan manusia:
menggunakan helm ketika mengendarai sepeda motor;
mengunci pintu rumah;
menyimpan data cadangan;
mengikuti pemeriksaan kesehatan;
menyiapkan dana darurat;
membeli asuransi yang sesuai prinsip syariah;
memeriksa kondisi kendaraan sebelum perjalanan;
dan menyiapkan jalur evakuasi.
Tindakan tersebut bukan berarti manusia memastikan bahwa kecelakaan, pencurian, penyakit, atau kebakaran akan terjadi.
Manusia hanya mengakui bahwa kejadian buruk mungkin terjadi, kemudian mengambil langkah yang wajar untuk mengurangi kemungkinan atau dampaknya.
Tawakal Dilakukan Setelah Mengambil Keputusan
Salah satu ayat yang memperlihatkan hubungan antara perencanaan dan tawakal terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 159.
Ayat tersebut memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bermusyawarah dalam suatu urusan. Setelah keputusan ditetapkan, barulah beliau diperintahkan bertawakal kepada Allah.
Urutannya penting:
mempertimbangkan suatu persoalan;
bermusyawarah;
mengambil keputusan;
kemudian bertawakal.
Ayat tersebut tidak memerintahkan manusia meninggalkan analisis dan langsung menunggu hasil dari Allah.
Musyawarah sendiri merupakan salah satu bentuk pengelolaan risiko. Melalui musyawarah, manusia dapat:
memperoleh informasi yang lebih lengkap;
melihat persoalan dari sudut pandang lain;
menghindari keputusan tergesa-gesa;
mengenali bahaya yang sebelumnya tidak terlihat;
dan memilih tindakan yang lebih tepat.
Dengan demikian, tawakal bukan pengganti proses pengambilan keputusan. Tawakal menyempurnakan proses tersebut.
Ikatlah Unta, Kemudian Bertawakallah
Terdapat sebuah hadis populer mengenai seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW apakah ia perlu mengikat untanya atau membiarkannya sambil bertawakal.
Rasulullah SAW memerintahkannya mengikat unta tersebut, kemudian bertawakal. Riwayat ini terdapat dalam Jami’ At-Tirmidzi nomor 2517.
Pesan hadis tersebut sangat relevan dengan manajemen risiko.
Mengikat unta merupakan tindakan pengendalian risiko. Tujuannya mengurangi kemungkinan unta pergi, hilang, atau dicuri.
Namun, setelah diikat pun unta tetap dapat mengalami kejadian lain. Talinya mungkin putus, seseorang dapat melepaskannya, atau peristiwa lain terjadi di luar kemampuan pemiliknya.
Karena itu, manusia diperintahkan melakukan pengendalian yang dapat dilakukannya, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Dalam kehidupan modern, “mengikat unta” dapat berupa:
memakai sabuk pengaman;
membuat kontrak yang jelas;
memasang alat pemadam kebakaran;
mencadangkan data komputer;
memeriksa kualitas suatu pekerjaan;
menyimpan dana darurat;
dan membuat rencana kelangsungan bisnis.
Mengabaikan langkah-langkah tersebut kemudian menyebutnya tawakal merupakan pemahaman yang kurang tepat.
Tawakal Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha
Ada perbedaan antara tawakal dan tawaakul.
Tawakal berarti melakukan usaha yang dibenarkan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Sementara itu, istilah tawaakul sering digunakan untuk menggambarkan sikap malas, pasrah, atau meninggalkan sebab-sebab usaha dengan dalih berserah diri.
Contohnya:
tidak belajar, tetapi berharap lulus ujian;
tidak bekerja, tetapi berharap memperoleh rezeki;
tidak berobat, padahal pengobatan tersedia;
tidak menjaga keselamatan kerja, tetapi berharap tidak terjadi kecelakaan;
atau tidak menyiapkan cadangan pasokan, tetapi berharap operasi selalu berjalan lancar.
Sikap semacam itu bukanlah tawakal yang sempurna. Manusia justru mengabaikan kemampuan dan sarana yang telah Allah berikan kepadanya.
Allah menyatakan bahwa keadaan suatu kaum tidak berubah sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. Ayat ini menunjukkan pentingnya usaha dan perubahan dari manusia sendiri.
Manajemen Risiko Tidak Mampu Menghapus Takdir
Manajemen risiko bukan alat untuk melawan atau membatalkan takdir Allah.
Manajemen risiko juga tidak menjanjikan bahwa seluruh kejadian buruk dapat dicegah.
Tujuannya adalah:
memahami ketidakpastian;
mengurangi kemungkinan kejadian yang merugikan;
mengurangi dampaknya;
meningkatkan kesiapan;
dan membantu manusia mencapai tujuan dengan cara yang lebih bijaksana.
Sebuah rumah dapat tetap terbakar meskipun memiliki alat pemadam. Orang yang menjaga kesehatan tetap dapat sakit. Perusahaan yang memiliki sistem pengendalian tetap dapat mengalami kerugian.
Akan tetapi, kemungkinan kegagalan tersebut tidak membuat tindakan pencegahan menjadi sia-sia.
Seorang petani tetap menanam meskipun tidak mampu mengendalikan hujan. Seorang nelayan tetap memeriksa cuaca meskipun tidak mampu mengendalikan angin. Seorang dokter memberikan pengobatan meskipun kesembuhan berasal dari Allah.
Usaha manusia merupakan bagian dari sebab, sedangkan Allah adalah penentu hasil akhirnya.
Perencanaan Nabi Yusuf sebagai Contoh Pengelolaan Risiko
Salah satu contoh paling jelas mengenai antisipasi risiko dalam Al-Qur’an terdapat dalam kisah Nabi Yusuf AS.
Nabi Yusuf menafsirkan mimpi raja tentang datangnya tujuh tahun masa subur yang akan diikuti tujuh tahun masa sulit.
Beliau kemudian mengusulkan agar masyarakat:
bercocok tanam secara sungguh-sungguh selama masa subur;
menyimpan sebagian besar hasil panen;
mempertahankan hasil panen dalam bulirnya;
dan menggunakan simpanan tersebut pada masa paceklik.
Kisah ini terdapat dalam Surah Yusuf ayat 43–49.
Langkah Nabi Yusuf dapat dipahami sebagai proses manajemen risiko yang lengkap.
1. Mengidentifikasi risiko
Risiko yang dihadapi adalah kemungkinan terjadinya masa paceklik berkepanjangan.
2. Menganalisis dampak
Apabila tidak diantisipasi, kekeringan dan gagal panen dapat menyebabkan kelaparan, kerusuhan, kematian, dan kehancuran ekonomi.
3. Menentukan strategi
Strateginya adalah meningkatkan produksi selama masa subur dan membatasi konsumsi agar tersedia cadangan.
4. Menyiapkan penyimpanan
Hasil panen disimpan dengan metode yang dapat mempertahankan kualitasnya selama bertahun-tahun.
5. Menggunakan cadangan secara terkendali
Persediaan tidak langsung dihabiskan, tetapi digunakan secara terukur selama masa sulit.
Nabi Yusuf tidak berkata bahwa masyarakat cukup bertawakal tanpa menyimpan hasil panen.
Beliau menggunakan pengetahuan, perencanaan, pengendalian persediaan, dan disiplin konsumsi. Pada saat yang sama, beliau tetap seorang nabi yang sepenuhnya beriman kepada Allah.
Kisah ini menunjukkan bahwa perencanaan jangka panjang tidak bertentangan dengan tawakal.
Nabi Yaqub Menggunakan Jalur Masuk yang Berbeda
Dalam kisah lain, Nabi Yaqub AS memerintahkan anak-anaknya agar tidak memasuki kota melalui satu pintu, tetapi melalui beberapa pintu yang berbeda.
Namun, beliau juga menegaskan bahwa langkah tersebut tidak dapat mencegah ketetapan Allah. Beliau tetap bertawakal kepada-Nya.
Tindakan memasuki kota melalui pintu berbeda dapat dipahami sebagai upaya mengurangi konsentrasi risiko.
Dalam manajemen risiko modern, prinsip serupa terlihat dalam:
diversifikasi investasi;
penggunaan lebih dari satu pemasok;
penyediaan jalur distribusi alternatif;
pemisahan lokasi penyimpanan data;
dan penggunaan beberapa moda transportasi.
Apabila seluruh sumber daya ditempatkan pada satu titik, satu gangguan dapat menghentikan semuanya.
Namun, Nabi Yaqub tetap menyadari bahwa diversifikasi hanyalah ikhtiar. Tindakan tersebut tidak memiliki kekuatan mutlak untuk melawan kehendak Allah.
Strategi Hijrah Nabi Muhammad SAW
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah juga memperlihatkan perencanaan yang matang.
Perjalanan tersebut tidak dilakukan secara spontan tanpa persiapan. Dalam sirah Nabi, terdapat berbagai tindakan yang menunjukkan kehati-hatian, antara lain:
memilih waktu keberangkatan;
menggunakan jalur yang tidak biasa;
bersembunyi sementara di Gua Tsur;
menggunakan jasa penunjuk jalan;
menyiapkan kendaraan;
mengatur penyampaian informasi;
dan menghindari pengejaran kaum Quraisy.
Semua langkah tersebut merupakan bentuk ikhtiar untuk mengelola ancaman.
Padahal, Rasulullah SAW adalah manusia yang paling kuat tawakalnya kepada Allah.
Apabila tawakal berarti meninggalkan strategi, beliau tentu tidak perlu melakukan seluruh persiapan tersebut. Namun, beliau justru mengajarkan bahwa keyakinan kepada pertolongan Allah berjalan bersama usaha yang cermat.
Persiapan Menghadapi Perang
Rasulullah SAW dan para sahabat juga melakukan persiapan sebelum menghadapi peperangan.
Mereka:
mengumpulkan informasi;
memilih posisi;
mengatur pasukan;
menyiapkan persenjataan;
menjaga jalur logistik;
dan bermusyawarah mengenai strategi.
Dalam Perang Khandaq, kaum Muslim menggali parit sebagai penghalang untuk mengurangi risiko serangan pasukan lawan.
Menggali parit bukanlah tanda ketakutan yang bertentangan dengan iman. Tindakan tersebut merupakan bentuk kecerdasan, persiapan, dan penggunaan sebab-sebab yang tersedia.
Tawakal tidak menghilangkan kebutuhan akan strategi pertahanan.
Manajemen Risiko Merupakan Bentuk Menjaga Amanah
Dalam Islam, manusia adalah pemegang amanah.
Seorang pemimpin memegang amanah atas rakyatnya. Orang tua memegang amanah atas keluarganya. Pengusaha memegang amanah terhadap pekerja, pelanggan, dan modal yang dikelolanya.
Mengelola risiko dapat menjadi bagian dari menjaga amanah tersebut.
Contohnya:
pemilik pabrik memastikan alat kerja aman;
pengelola gedung menyediakan jalur evakuasi;
pemerintah menyiapkan cadangan pangan;
rumah sakit menyediakan listrik darurat;
orang tua melindungi anak dari bahaya;
perusahaan menjaga data pelanggannya;
dan pengelola dana menghindari investasi yang ceroboh.
Apabila seseorang mengetahui adanya bahaya tetapi sengaja mengabaikannya, ia dapat dianggap lalai terhadap amanah.
Dengan demikian, manajemen risiko bukan hanya persoalan bisnis. Dalam situasi tertentu, ia dapat menjadi tanggung jawab moral.
Hubungan Tawakal dengan Tahapan Manajemen Risiko
Manajemen risiko umumnya meliputi identifikasi, analisis, evaluasi, penanganan, pemantauan, dan komunikasi risiko.
Setiap tahapan tersebut dapat dijalankan sesuai nilai Islam.
1. Menentukan tujuan
Risiko hanya dapat dinilai apabila tujuannya jelas.
Dalam Islam, tujuan juga harus halal dan bermanfaat. Manajemen risiko tidak boleh digunakan untuk mengamankan kegiatan yang haram atau merugikan masyarakat.
2. Mengidentifikasi risiko
Manusia berusaha mengenali kejadian yang dapat menghambat tujuan.
Pada tahap ini diperlukan pengetahuan, pengalaman, keterbukaan, dan kejujuran. Risiko tidak boleh disembunyikan hanya untuk menjaga citra organisasi.
3. Menganalisis risiko
Manusia menilai kemungkinan kejadian dan besarnya dampak.
Analisis tidak berarti meramal masa depan secara mutlak. Analisis hanyalah perkiraan berdasarkan data, pengalaman, dan asumsi yang tersedia.
4. Mengevaluasi risiko
Risiko dibandingkan dengan kemampuan dan batas toleransi organisasi.
Tidak semua risiko harus dihapus. Sebagian risiko dapat diterima, sebagian harus dikurangi, dan sebagian harus dihindari.
5. Menangani risiko
Beberapa pilihan penanganan antara lain:
menghindari kegiatan yang terlalu berbahaya;
mengurangi kemungkinan kejadian;
mengurangi dampak;
membagi risiko;
atau menerima risiko secara sadar.
6. Memantau dan memperbaiki
Kondisi dapat berubah sehingga risiko perlu dievaluasi kembali.
Islam juga mengajarkan muhasabah, yaitu menilai kembali tindakan dan memperbaiki kekurangan.
7. Bertawakal kepada Allah
Setelah tujuan ditetapkan, risiko dianalisis, keputusan dibuat, dan pengendalian dijalankan, manusia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Tawakal tidak hanya ditempatkan pada tahap akhir. Ia menyertai seluruh proses dengan cara menjaga hati agar tidak sombong terhadap kemampuan manusia.
Bahaya Mengandalkan Manajemen Risiko Secara Berlebihan
Meskipun manajemen risiko merupakan ikhtiar yang baik, manusia dapat keliru apabila menganggap sistem pengendalian mampu menjamin keselamatan secara mutlak.
Organisasi yang memiliki prosedur lengkap tetap dapat gagal apabila:
datanya salah;
asumsi tidak tepat;
pengendalian tidak dijalankan;
muncul risiko baru;
manusia melakukan kecurangan;
atau terjadi peristiwa yang belum pernah diperkirakan.
Keberhasilan pengendalian juga dapat menimbulkan rasa percaya diri berlebihan.
Manusia mungkin merasa:
teknologinya paling aman;
perusahaannya tidak mungkin bangkrut;
investasinya pasti untung;
atau rencananya pasti berhasil.
Tawakal melindungi manusia dari kesombongan semacam itu.
Seorang Muslim memahami bahwa ilmu, teknologi, kecerdasan, dan kemampuan manusia merupakan pemberian Allah. Semua itu memiliki batas.
Karena itu, manajemen risiko tanpa tawakal dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, tawakal tanpa usaha dapat berubah menjadi kelalaian.
Tawakal Membantu Menghadapi Risiko Residual
Setelah berbagai pengendalian diterapkan, biasanya masih terdapat risiko yang tersisa. Dalam manajemen risiko, hal ini disebut risiko residual.
Tidak ada sistem yang benar-benar bebas risiko.
Contohnya, seseorang telah:
menggunakan kendaraan yang layak;
memakai helm;
mematuhi batas kecepatan;
dan memilih rute yang aman.
Meskipun demikian, kecelakaan tetap mungkin terjadi karena tindakan pengendara lain, kondisi jalan, cuaca, atau kejadian tidak terduga.
Pada titik inilah tawakal memberikan ketenangan.
Manusia telah melakukan kewajibannya. Ia tidak perlu hidup dalam ketakutan berlebihan karena menyadari bahwa dirinya berada dalam penjagaan Allah.
Tawakal bukan menghilangkan risiko, tetapi mengendalikan kegelisahan terhadap risiko yang tidak dapat sepenuhnya dikuasai manusia.
Tawakal dan Kesehatan Mental
Manajemen risiko yang tidak diimbangi tawakal dapat membuat seseorang terus-menerus memikirkan kemungkinan buruk.
Ia mungkin merasa harus mengendalikan semua keadaan, padahal hal tersebut tidak mungkin dilakukan.
Akibatnya dapat muncul:
kecemasan berlebihan;
kesulitan mengambil keputusan;
rasa bersalah ketika hasil tidak sesuai rencana;
dan ketakutan menghadapi masa depan.
Tawakal membantu seorang Muslim menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya.
Ia tetap berusaha, tetapi tidak memaksakan diri menjadi penguasa atas seluruh hasil.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa mengingat Allah dapat menenteramkan hati.
Dengan demikian, tawakal memberikan keseimbangan psikologis:
Berusahalah terhadap hal-hal yang dapat dikendalikan dan serahkan hal-hal di luar kemampuan kepada Allah.
Tawakal Bukan Alasan Mengabaikan Keselamatan Kerja
Dalam lingkungan kerja, sebagian orang mungkin berkata:
“Tidak perlu terlalu khawatir. Kalau memang sudah takdir, kecelakaan tetap akan terjadi.”
Ucapan tersebut dapat menjadi berbahaya apabila digunakan untuk mengabaikan prosedur keselamatan.
Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk:
tidak memakai alat pelindung diri;
mengoperasikan alat yang rusak;
mengabaikan izin kerja;
meniadakan pemeriksaan;
atau memaksa pekerja bekerja dalam kondisi tidak aman.
Allah memberikan manusia akal untuk mengenali bahaya dan kemampuan untuk mengendalikannya.
Keselamatan kerja merupakan bentuk menjaga jiwa, sedangkan menjaga jiwa merupakan salah satu tujuan penting syariat.
Apabila sebuah bahaya telah diketahui dan dapat dikurangi, tetapi sengaja diabaikan, hal tersebut lebih dekat kepada kelalaian daripada tawakal.
Tawakal dalam Mengelola Keuangan
Tawakal juga tidak berarti menggunakan uang tanpa perencanaan.
Seorang Muslim dapat:
membuat anggaran;
menghindari utang konsumtif;
menyiapkan dana darurat;
menyimpan dana pendidikan;
melakukan diversifikasi investasi;
dan merencanakan kebutuhan hari tua.
Tindakan tersebut bukan berarti tidak yakin bahwa Allah menjamin rezeki.
Allah memang menjamin rezeki makhluk-Nya, tetapi manusia tetap diperintahkan bekerja dan mengelola hartanya secara bertanggung jawab.
Perencanaan keuangan membantu seseorang menghindari pemborosan, menjaga keluarga, dan mengurangi risiko menjadi beban orang lain.
Namun, manusia juga tidak boleh terlalu mencintai hartanya hingga merasa aman hanya karena memiliki tabungan.
Kekayaan merupakan sarana, bukan sumber keselamatan mutlak.
Tawakal ketika Menjalankan Bisnis
Setiap bisnis menghadapi ketidakpastian:
perubahan harga;
penurunan permintaan;
kegagalan pemasok;
perubahan peraturan;
gangguan teknologi;
bencana;
dan persaingan.
Pengusaha Muslim perlu mengelola risiko tersebut melalui:
riset pasar;
kontrak yang jelas;
pemilihan mitra;
pengendalian kualitas;
cadangan kas;
keamanan data;
dan rencana kelangsungan usaha.
Namun, ia tetap harus menjaga prinsip halal, kejujuran, dan keadilan.
Manajemen risiko tidak boleh menjadi alasan untuk:
menipu pelanggan;
mengalihkan seluruh risiko kepada pihak yang lemah;
menyembunyikan cacat produk;
atau menggunakan transaksi yang dilarang.
Dalam Islam, tujuan yang baik harus ditempuh melalui cara yang baik.
Tawakal ketika Menghadapi Penyakit
Ketika sakit, seorang Muslim dianjurkan mencari pengobatan.
Berobat bukan berarti tidak menerima takdir. Penyakit merupakan takdir Allah, tetapi obat, dokter, dan proses penyembuhan juga bagian dari takdir-Nya.
Manajemen risiko kesehatan dapat dilakukan dengan:
menjaga pola makan;
berolahraga;
melakukan vaksinasi atau pemeriksaan yang diperlukan;
mengikuti anjuran dokter;
dan menghindari kebiasaan berbahaya.
Setelah berusaha, pasien berdoa dan bertawakal kepada Allah.
Kesembuhan tidak selalu datang sesuai harapan. Namun, usaha pengobatan tetap bernilai sebagai ikhtiar.
Apakah Membeli Asuransi Bertentangan dengan Tawakal?
Asuransi pada dasarnya merupakan mekanisme pengalihan atau pembagian risiko.
Namun, dalam perspektif Islam, pembahasan asuransi tidak hanya menyangkut tawakal. Perlu diperhatikan pula struktur akad, unsur riba, ketidakjelasan, perjudian, dan pengelolaan dananya.
Karena itu, umat Islam biasanya membedakan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah atau takaful.
Takaful menggunakan prinsip tolong-menolong dan pengelolaan dana peserta sesuai akad syariah.
Menggunakan mekanisme perlindungan risiko yang halal tidak berarti seseorang kurang bertawakal. Hal tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk melindungi keluarga dan harta.
Namun, perlindungan tersebut tetap tidak boleh dianggap menjamin manusia dari semua kerugian.
Hubungan Doa dan Manajemen Risiko
Doa bukan pengganti usaha, tetapi usaha juga tidak membuat doa menjadi tidak diperlukan.
Seorang Muslim dapat berdoa:
sebelum membuat keputusan;
selama melaksanakan rencana;
dan setelah memperoleh hasil.
Doa memiliki beberapa fungsi penting.
Pertama, doa mengingatkan manusia bahwa pengetahuannya terbatas.
Kedua, doa menjaga niat agar tujuan yang dikejar tetap baik.
Ketiga, doa memberi ketenangan ketika menghadapi ketidakpastian.
Keempat, doa membantu manusia menerima hasil yang berbeda dari harapannya.
Dalam Islam dikenal pula salat istikharah ketika seseorang menghadapi pilihan. Istikharah bukan berarti manusia menunggu mimpi tanpa melakukan analisis.
Seseorang tetap mengumpulkan informasi, meminta saran, menilai manfaat dan risiko, kemudian memohon agar Allah memilihkan yang terbaik.
Sikap Seorang Muslim Setelah Risiko Menjadi Kenyataan
Manajemen risiko tidak selalu berhasil mencegah kejadian buruk.
Ketika musibah tetap terjadi, seorang Muslim perlu mengambil beberapa sikap.
Pertama, menyelamatkan jiwa dan mengurangi dampak
Lakukan respons darurat sesuai kemampuan.
Kedua, tidak saling menyalahkan secara tergesa-gesa
Fokus pertama seharusnya adalah keselamatan dan pemulihan.
Ketiga, melakukan evaluasi
Cari penyebab kejadian secara objektif agar kesalahan tidak terulang.
Keempat, menerima ketetapan Allah
Penerimaan bukan berarti menolak evaluasi. Manusia dapat menerima takdir sambil tetap mempelajari penyebab kegagalan.
Kelima, memperbaiki pengendalian
Pelajaran dari kejadian perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Di sinilah tawakal dan manajemen risiko kembali bertemu. Tawakal membantu manusia menerima kenyataan, sedangkan manajemen risiko membantu manusia belajar dari kenyataan.
Lima Kesalahpahaman tentang Tawakal dan Risiko
1. “Kalau sudah bertawakal, tidak perlu membuat rencana”
Keliru. Al-Qur’an dan perjalanan hidup para nabi menunjukkan adanya musyawarah, strategi, penyimpanan persediaan, dan persiapan.
2. “Membuat rencana cadangan berarti meragukan pertolongan Allah”
Keliru. Rencana cadangan merupakan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan keadaan dapat berubah.
3. “Semua risiko dapat dihilangkan dengan sistem yang baik”
Keliru. Sistem hanya mengurangi ketidakpastian, bukan menghapus takdir atau seluruh kemungkinan kegagalan.
4. “Musibah pasti terjadi karena manajemen risiko buruk”
Tidak selalu. Musibah dapat tetap terjadi meskipun pengendalian telah dijalankan. Yang perlu dinilai adalah apakah manusia telah berusaha secara wajar dan bertanggung jawab.
5. “Menerima takdir berarti tidak perlu mengevaluasi kegagalan”
Keliru. Evaluasi merupakan bagian dari pembelajaran dan ikhtiar agar kesalahan tidak berulang.
Rumus Sederhana Tawakal dan Manajemen Risiko
Hubungan keduanya dapat diringkas sebagai berikut:
Kenali risikonya, lakukan ikhtiar, ambil keputusan, berdoa, bertawakal, lalu evaluasi hasilnya.
Dalam bentuk langkah praktis:
Tetapkan tujuan yang baik.
Kumpulkan informasi.
Identifikasi kemungkinan hambatan.
Nilai kemungkinan dan dampaknya.
Lakukan pengendalian yang wajar.
Bermusyawarah apabila diperlukan.
Ambil keputusan.
Mohon pertolongan Allah.
Laksanakan dengan sungguh-sungguh.
Terima hasilnya dan lakukan perbaikan.
Urutan tersebut menggambarkan seorang Muslim yang aktif, rasional, tetapi tetap rendah hati di hadapan Allah.
Penutup
Tawakal tidak bertentangan dengan manajemen risiko.
Manajemen risiko merupakan bentuk ikhtiar untuk mengenali ketidakpastian, mengurangi bahaya, melindungi amanah, dan membantu manusia mengambil keputusan dengan lebih baik.
Tawakal adalah penyerahan hati kepada Allah setelah manusia menggunakan ilmu, kemampuan, dan sarana yang dimilikinya.
Kisah Nabi Yusuf menunjukkan pentingnya menyimpan cadangan untuk menghadapi masa sulit. Nabi Yaqub melakukan diversifikasi jalur sambil menyatakan bahwa dirinya tetap bertawakal. Rasulullah SAW melakukan persiapan hijrah, menyusun strategi, bermusyawarah, dan mengajarkan agar unta diikat sebelum seseorang bertawakal.
Semua itu menunjukkan bahwa iman tidak meniadakan perencanaan.
Justru, seorang Muslim seharusnya menjadi pribadi yang:
cermat dalam membuat rencana;
bertanggung jawab dalam menjaga amanah;
waspada terhadap bahaya;
tidak ceroboh;
tidak sombong terhadap perhitungan;
dan tetap tenang ketika hasil berada di luar kendalinya.
Manajemen risiko tanpa tawakal dapat membuat manusia merasa mampu mengendalikan segalanya.
Sebaliknya, tawakal tanpa usaha dapat berubah menjadi sikap pasif dan kelalaian.
Keduanya perlu ditempatkan secara seimbang:
Ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah.


