Jumat, 21 Agustus 2026

Benarkah Energi Terbarukan Bisa Menggantikan Batubara 100%?


 

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim dan polusi udara, energi terbarukan sering disebut sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga batu bara.

Berbagai negara mempercepat pembangunan:

  • Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS.
  • Pembangkit Listrik Tenaga Bayu atau PLTB.
  • Pembangkit Listrik Tenaga Air atau PLTA.
  • Pembangkit listrik panas bumi.
  • Sistem penyimpanan energi.

Namun muncul pertanyaan yang terus menjadi perdebatan:

Apakah energi terbarukan benar-benar dapat menggantikan batubara 100 persen?

Jawaban paling seimbang adalah:

Secara teknis, sistem listrik tanpa batubara dapat dibangun. Namun energi terbarukan tidak dapat menggantikan PLTU hanya dengan menukar kapasitas pembangkit secara satu banding satu.

Batubara tidak hanya menghasilkan energi dalam satu tahun. PLTU juga menyediakan daya pada malam hari, saat cuaca buruk, ketika permintaan melonjak, dan ketika pembangkit lain mengalami gangguan.

Karena itu, mengganti batubara membutuhkan pembangunan satu sistem baru yang mencakup:

  • Pembangkit energi terbarukan.
  • Jaringan transmisi.
  • Penyimpanan energi.
  • Pembangkit yang dapat diatur.
  • Respons permintaan.
  • Cadangan operasi.
  • Sistem pengendalian digital.
  • Perlindungan terhadap gangguan.

Bagi Indonesia, penggantian batubara secara penuh merupakan kemungkinan jangka panjang, bukan sesuatu yang dapat dilakukan secara mendadak dengan kondisi sistem saat ini.

Apa Arti “Menggantikan Batubara 100 Persen”?

Istilah tersebut dapat mempunyai beberapa arti berbeda.

PengertianPenjelasan
Mengganti energi tahunanTotal listrik terbarukan dalam setahun sama dengan produksi listrik batubara
Mengganti setiap jamEnergi terbarukan mampu memenuhi kebutuhan pada setiap jam sepanjang tahun
Menutup seluruh PLTU jaringanTidak ada lagi PLTU yang memasok jaringan PLN
Menghapus seluruh penggunaan batubaraTermasuk PLTU captive dan penggunaan batubara dalam industri
Sistem listrik rendah karbonBatubara berkurang, tetapi masih terdapat gas, nuklir, atau pembangkit dengan penangkapan karbon

Mengganti produksi listrik batubara secara tahunan lebih mudah daripada memastikan pasokan terbarukan tersedia pada setiap jam.

Sebagai contoh, suatu perusahaan dapat membeli listrik terbarukan yang jumlah tahunannya setara dengan konsumsinya. Namun pada malam hari, perusahaan tersebut mungkin masih menggunakan listrik jaringan yang berasal dari pembangkit fosil.

Karena itu, klaim “100 persen energi terbarukan” perlu menjelaskan apakah yang dimaksud adalah pencocokan tahunan atau penggunaan energi bersih setiap jam.

Kondisi Kelistrikan Indonesia Saat Ini

Sistem listrik Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit berbahan bakar fosil.

Publikasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan menyebut pembangkit batu bara masih mendominasi bauran kelistrikan Indonesia. Sementara itu, bauran energi baru dan terbarukan dalam sektor ketenagalistrikan baru mencapai sekitar 16,3 persen pada 2025.

Pada akhir 2025, kapasitas pembangkit EBT tercatat sekitar 15,63 GW. Komposisinya didominasi tenaga air, bioenergi, dan panas bumi, sedangkan kapasitas tenaga surya serta angin masih relatif kecil.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada tahap awal transisi.

Jika pembangkit batu bara dihentikan terlalu cepat sebelum pembangkit, jaringan, dan penyimpanan penggantinya tersedia, konsekuensinya dapat berupa:

  • Defisit listrik.
  • Penurunan cadangan operasi.
  • Peningkatan risiko pemadaman.
  • Kenaikan biaya pembangkitan.
  • Gangguan pada industri.
  • Meningkatnya penggunaan diesel atau gas dalam keadaan darurat.

Karena itu, pengurangan batubara harus mengikuti pembangunan kapasitas pengganti yang benar-benar dapat diandalkan.

Mengapa Batubara Masih Digunakan?

Batubara masih menjadi bagian penting sistem listrik Indonesia karena beberapa alasan.

Pasokan domestik tersedia

Indonesia merupakan produsen batubara besar sehingga pembangkit tidak sepenuhnya bergantung pada impor bahan bakar.

PLTU telah terbangun

Banyak PLTU telah beroperasi atau terikat kontrak jangka panjang. Menghentikan pembangkit sebelum akhir masa kontrak dapat menimbulkan biaya kompensasi, aset terbengkalai, dan persoalan pembiayaan.

Produksi dapat dijadwalkan

PLTU dapat menghasilkan listrik siang dan malam selama bahan bakar serta peralatannya tersedia.

Sistem telah dirancang mengandalkannya

Jaringan, kontrak pasokan, pelabuhan, tambang, dan pola operasi PLN telah berkembang selama puluhan tahun di sekitar pembangkit batu bara.

Namun PLTU juga mempunyai keterbatasan.

Sebagian unit tidak dirancang untuk menaikkan dan menurunkan produksi dengan sangat cepat. Semakin besar pembangkit surya masuk pada siang hari, semakin sering pembangkit konvensional perlu menyesuaikan produksinya.

Batubara juga menghasilkan emisi karbon dan polutan udara sehingga pemanfaatannya semakin menghadapi tekanan lingkungan, pembiayaan, dan kebijakan iklim.

Kapasitas PLTS Tidak Dapat Dibandingkan Langsung dengan PLTU

Satu gigawatt PLTU tidak dapat diganti hanya dengan satu gigawatt PLTS.

Gunakan ilustrasi sederhana berikut.

Sebuah PLTU berkapasitas 1 GW dengan faktor kapasitas 80 persen dapat menghasilkan sekitar:

1 GW × 8.760 jam × 80% = sekitar 7 TWh per tahun.

Apabila PLTS mempunyai faktor kapasitas rata-rata 18 persen, kapasitas 1 GW hanya menghasilkan sekitar:

1 GW × 8.760 jam × 18% = sekitar 1,6 TWh per tahun.

Untuk menyamai produksi tahunan PLTU tersebut, dibutuhkan sekitar 4,4 GW PLTS.

Itu pun belum menyelesaikan persoalan malam hari.

Sebagian listrik PLTS harus digunakan langsung, sebagian disimpan, dan sebagian mungkin tidak dapat diserap ketika produksi melebihi kebutuhan.

Contoh ini tidak berarti PLTS tidak efisien. PLTS tidak membutuhkan bahan bakar dan dapat dibangun secara modular.

Namun kapasitas terpasang, produksi tahunan, dan kemampuan memenuhi beban puncak merupakan tiga hal yang berbeda.

Energi Terbarukan Bukan Hanya Surya dan Angin

Istilah energi terbarukan mencakup berbagai teknologi dengan karakteristik berbeda.

Kesalahan umum dalam perdebatan energi adalah menganggap seluruh energi terbarukan bersifat tidak stabil.

Surya dan angin memang berubah mengikuti cuaca. Namun tenaga air dengan reservoir, panas bumi, serta bioenergi tertentu dapat menghasilkan listrik yang lebih mudah dijadwalkan.

1. Tenaga surya

Indonesia mempunyai sinar matahari sepanjang tahun sehingga PLTS dapat dikembangkan di banyak wilayah.

PLTS dapat dipasang pada:

  • Atap bangunan.
  • Kawasan industri.
  • Waduk.
  • Lahan yang tidak produktif.
  • Pulau kecil.
  • Sistem kelistrikan terpencil.

Keunggulannya antara lain:

  • Waktu konstruksi relatif singkat.
  • Dapat dibangun dalam berbagai skala.
  • Tidak membutuhkan bahan bakar.
  • Biaya operasi relatif rendah.
  • Cocok mengikuti peningkatan beban pendingin pada siang hari.

Tantangannya adalah produksi menurun ketika mendung dan berhenti pada malam hari.

Karena itu, PLTS perlu dipadukan dengan jaringan, penyimpanan, serta sumber listrik lain.

2. Tenaga angin

Angin dapat melengkapi tenaga surya apabila pola produksinya terjadi pada waktu berbeda.

Wilayah tertentu di Indonesia memiliki potensi angin yang menarik, terutama di:

  • Sulawesi Selatan.
  • Nusa Tenggara.
  • Sebagian wilayah pesisir.
  • Pegunungan tertentu.

Namun potensi angin tidak merata di seluruh Indonesia. Pengembang perlu melakukan pengukuran jangka panjang sebelum membangun proyek.

Pembangunan PLTB juga membutuhkan jalan untuk mengangkut komponen besar, jaringan transmisi, pelabuhan, serta pengelolaan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan.

3. Tenaga air

PLTA dapat memberikan listrik dalam jumlah besar dan mempunyai umur operasional panjang.

PLTA yang memiliki reservoir dapat mengatur waktu produksi dengan menyimpan air, sehingga membantu menyeimbangkan listrik surya dan angin.

Pumped-storage hydropower bahkan bekerja seperti baterai raksasa. Air dipompa menuju reservoir atas ketika listrik berlebih, kemudian dialirkan kembali melalui turbin saat listrik dibutuhkan. IEA menilai kemampuan fleksibilitas dan penyimpanan PLTA reservoir serta pumped storage sulit ditandingi oleh teknologi lain.

Namun PLTA juga mempunyai tantangan:

  • Kebutuhan lahan.
  • Pemindahan masyarakat dalam proyek tertentu.
  • Perubahan ekosistem sungai.
  • Sedimentasi.
  • Risiko kekeringan.
  • Konflik penggunaan air.
  • Waktu pembangunan panjang.

Karena itu, proyek harus dinilai berdasarkan kondisi setiap lokasi.

4. Panas bumi

Panas bumi merupakan salah satu sumber energi terbarukan paling penting bagi Indonesia karena dapat beroperasi siang dan malam.

Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,7 GW, sedangkan kapasitas terpasangnya pada 2025 sekitar 2,7 GW.

Karakter panas bumi yang relatif stabil membuatnya dapat membantu menggantikan sebagian fungsi PLTU.

Namun pengembangannya menghadapi tantangan:

  • Risiko eksplorasi.
  • Biaya pengeboran.
  • Lokasi di kawasan hutan atau pegunungan.
  • Perizinan.
  • Infrastruktur jalan dan transmisi.
  • Penerimaan masyarakat.

Panas bumi sangat penting, tetapi kapasitasnya tidak cukup untuk menggantikan seluruh batubara sendirian.

5. Bioenergi

Bioenergi dapat berasal dari limbah pertanian, residu perkebunan, biogas, atau bahan organik lainnya.

Keunggulannya adalah bahan bakar dapat disimpan sehingga produksi listrik lebih mudah diatur.

Namun status keberlanjutannya bergantung pada sumber bahan baku.

Bioenergi dapat menimbulkan masalah apabila:

  • Mendorong pembukaan hutan.
  • Bersaing dengan produksi pangan.
  • Membutuhkan transportasi jarak jauh.
  • Menghasilkan emisi rantai pasok tinggi.
  • Mengandalkan bahan baku yang tidak terbarukan secara nyata.

Bioenergi lebih tepat digunakan secara selektif dari limbah dan residu yang dapat diverifikasi keberlanjutannya.

Intermitensi Bukan Berarti Energi Terbarukan Tidak Andal

Intermitensi atau variabilitas berarti produksi berubah mengikuti kondisi alam.

Hal tersebut bukan berarti sistem dengan banyak surya dan angin pasti mengalami pemadaman.

Operator listrik sejak dahulu sudah menghadapi perubahan:

  • Permintaan masyarakat.
  • Gangguan pembangkit.
  • Kerusakan jaringan.
  • Perubahan debit air.
  • Perawatan fasilitas.

Perbedaan utama adalah semakin tinggi porsi surya dan angin, semakin besar kebutuhan fleksibilitas sistem.

IEA menyatakan integrasi surya dan angin membutuhkan kombinasi pembangkit yang dapat diatur, penguatan jaringan, penyimpanan, serta respons permintaan.

Jadi, persoalan utamanya bukan apakah matahari selalu bersinar atau angin selalu bertiup.

Persoalannya adalah apakah sistem listrik mempunyai cukup pilihan untuk menjaga keseimbangan ketika produksi berubah.

Penyimpanan Energi Menjadi Bagian Penting

Penyimpanan energi tidak menghasilkan energi baru. Penyimpanan memindahkan energi dari waktu ketika pasokan berlebih menuju waktu ketika pasokan dibutuhkan.

Teknologinya mencakup:

  • Baterai litium.
  • Baterai alir.
  • Pumped-storage hydropower.
  • Penyimpanan termal.
  • Udara bertekanan.
  • Hidrogen.
  • Sistem gravitasi.

Baterai untuk kebutuhan beberapa jam

Baterai sangat berguna untuk:

  • Memindahkan listrik surya dari siang ke malam.
  • Menjaga frekuensi jaringan.
  • Menahan lonjakan beban.
  • Menyediakan cadangan cepat.
  • Mengurangi kebutuhan pembangkit puncak.

IEA menilai baterai sangat sesuai memberikan fleksibilitas jangka pendek selama sekitar satu hingga delapan jam.

Kebutuhan tersebut cocok dengan pola “menyimpan listrik siang untuk digunakan malam”.

Namun baterai yang dirancang untuk empat jam tidak dapat secara otomatis mengatasi cuaca buruk selama beberapa hari.

Penyimpanan jangka panjang

Ketika porsi surya dan angin sangat tinggi, sistem dapat membutuhkan penyimpanan selama lebih dari sepuluh jam, beberapa hari, atau bahkan lebih lama.

Departemen Energi Amerika Serikat menggunakan istilah long-duration energy storage untuk sistem yang mampu memasok listrik selama setidaknya sepuluh jam.

Teknologi jangka panjang dapat mencakup:

  • Pumped storage.
  • Baterai alir.
  • Penyimpanan panas.
  • Udara terkompresi.
  • Hidrogen hijau.
  • Bahan bakar sintetis.

Sebagian teknologi tersebut masih menghadapi tantangan biaya, efisiensi, skala, dan kesiapan komersial.

Karena itu, mengandalkan baterai litium saja belum tentu menjadi strategi paling ekonomis untuk sistem listrik nasional.

Indonesia Memerlukan Portofolio Penyimpanan

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sistem kelistrikan yang tidak seluruhnya terhubung.

Kebutuhan Pulau Jawa berbeda dari pulau kecil.

Sistem Jawa–Bali dapat menggunakan kombinasi:

  • Baterai skala besar.
  • Pumped storage.
  • PLTA reservoir.
  • Panas bumi.
  • Pengelolaan beban industri.
  • Interkoneksi antardaerah.

Sementara sistem di pulau kecil dapat menggunakan:

  • PLTS.
  • Baterai.
  • Bioenergi lokal.
  • Pembangkit diesel sebagai cadangan sementara.
  • Mikrohidro.
  • Sistem hibrida.

Tidak ada satu desain yang dapat diterapkan secara identik pada seluruh Indonesia.

Jaringan Transmisi Sama Pentingnya dengan Pembangkit

Lokasi sumber energi terbarukan sering jauh dari pusat konsumsi.

Potensi tenaga air dapat berada di Kalimantan atau Papua. Panas bumi berada di kawasan vulkanik. Angin terbaik mungkin berada di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Sementara pusat beban terbesar berada di Jawa dan kawasan industri.

Tanpa jaringan transmisi, listrik murah di satu wilayah tidak dapat menggantikan PLTU di wilayah lain.

RUPTL PLN 2025–2034 menargetkan penambahan pembangkit sekitar 69,5 GW. Sekitar 76 persen direncanakan berasal dari EBT dan sistem penyimpanan. Rencana tersebut mencakup 17,1 GW surya, 7,2 GW angin, 11,7 GW hidro, 5,2 GW panas bumi, serta pembangunan hampir 48.000 kilometer sirkuit jaringan transmisi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya program membangun pembangkit.

Indonesia perlu membangun jalur untuk memindahkan listrik dari lokasi sumber menuju pusat beban.

Interkoneksi Dapat Mengurangi Variabilitas

Cuaca tidak selalu sama di seluruh Indonesia.

Ketika satu wilayah mendung, wilayah lain mungkin menerima sinar matahari. Ketika angin melemah di satu daerah, pembangkit hidro di daerah lain dapat meningkatkan produksi.

Jaringan yang luas memungkinkan berbagai wilayah saling membantu.

Interkoneksi memberikan manfaat berupa:

  • Berbagi cadangan.
  • Mengurangi kebutuhan baterai di setiap lokasi.
  • Mengoptimalkan pembangkit berbiaya rendah.
  • Meningkatkan ketahanan terhadap gangguan.
  • Mengurangi energi terbarukan yang terbuang.

Namun interkoneksi antarpulau membutuhkan investasi besar, kabel bawah laut, perizinan, serta koordinasi sistem yang kompleks.

Curtailment: Ketika Energi Terbarukan Terpaksa Dibuang

Pada siang hari yang cerah, produksi PLTS dapat melebihi kebutuhan.

Jika tidak tersedia jaringan, penyimpanan, atau pengguna tambahan, operator harus mengurangi produksi PLTS. Kondisi ini disebut curtailment.

IEA mencatat curtailment meningkat di sejumlah negara seiring pertumbuhan cepat surya dan angin. Penyebabnya antara lain keterbatasan transmisi, kurangnya fleksibilitas, dan ketidakseimbangan pasokan dengan permintaan.

Curtailment dalam jumlah kecil tidak selalu buruk. Kadang-kadang membangun PLTS lebih banyak dan menerima sebagian energi terbuang dapat lebih murah daripada membangun penyimpanan untuk menangkap setiap kWh.

Namun curtailment yang terus meningkat menunjukkan perlunya:

  • Jaringan baru.
  • Baterai.
  • Tarif listrik dinamis.
  • Beban industri fleksibel.
  • Pengisian kendaraan listrik pada siang hari.
  • Produksi hidrogen.
  • Koordinasi pembangunan pembangkit.

Konsumen Juga Dapat Membantu Menyeimbangkan Sistem

Sistem tradisional menyesuaikan pembangkit mengikuti konsumsi.

Pada sistem masa depan, sebagian konsumsi juga dapat mengikuti ketersediaan energi.

Contohnya:

  • Kendaraan listrik mengisi daya ketika produksi PLTS tinggi.
  • Sistem pendingin gedung mendinginkan ruangan lebih awal.
  • Pompa air beroperasi ketika listrik berlebih.
  • Industri menjadwalkan proses tertentu pada jam listrik murah.
  • Baterai rumah mengisi pada siang hari.
  • Produksi hidrogen dijalankan ketika tersedia surplus energi.

Pendekatan ini disebut demand response atau fleksibilitas permintaan.

IEA menilai fleksibilitas permintaan menjadi semakin penting ketika energi terbarukan variabel dan elektrifikasi terus meningkat.

Mengatur sebagian beban sering lebih murah daripada membangun pembangkit yang hanya digunakan beberapa jam dalam setahun.

Apakah Gas Alam Diperlukan?

Gas alam sering disebut sebagai bahan bakar transisi karena pembangkit gas dapat menaikkan atau menurunkan produksi lebih cepat daripada banyak PLTU.

Gas dapat membantu ketika:

  • Produksi surya turun pada sore hari.
  • Angin melemah.
  • Permintaan melonjak.
  • Pembangkit lain mengalami gangguan.

Namun gas bukan energi terbarukan dan tetap menghasilkan emisi karbon. Kebocoran metana dalam rantai pasok juga perlu diperhitungkan.

Pembangunan gas yang terlalu besar dapat menciptakan ketergantungan baru terhadap bahan bakar fosil dan kontrak jangka panjang.

Karena itu, perannya sebaiknya dibedakan:

  • Sebagai pembangkit utama yang beroperasi terus-menerus.
  • Sebagai pembangkit fleksibel yang jarang digunakan.
  • Sebagai cadangan selama masa transisi.
  • Sebagai pembangkit yang kelak menggunakan hidrogen atau dilengkapi penangkapan karbon.

Gas dapat membantu pengurangan batubara dalam jangka menengah, tetapi tidak menghasilkan sistem 100 persen energi terbarukan.

Bagaimana dengan Energi Nuklir?

Nuklir menghasilkan listrik rendah karbon dan dapat beroperasi dalam waktu panjang tanpa bergantung pada cuaca.

Namun nuklir bukan energi terbarukan karena menggunakan bahan bakar seperti uranium.

Jika Indonesia menggunakan kombinasi surya, angin, hidro, panas bumi, dan nuklir, hasilnya dapat menjadi sistem rendah karbon, tetapi bukan sistem 100 persen terbarukan.

RUPTL PLN 2025–2034 telah memasukkan rencana dua unit reaktor berkapasitas masing-masing 250 MW di Sumatra dan Kalimantan. Realisasinya masih bergantung pada studi lokasi, teknologi, perizinan, pembiayaan, dan kesiapan kelembagaan.

Nuklir dapat menjadi salah satu opsi sumber listrik andal. Namun penggunaannya harus dibandingkan secara transparan dengan:

  • Panas bumi.
  • PLTA.
  • Penyimpanan jangka panjang.
  • Interkoneksi.
  • Pengelolaan permintaan.
  • Pembangkit fleksibel lainnya.

Rencana Resmi Indonesia Tidak Mengandalkan Energi Terbarukan Saja

Peta Jalan Transisi Energi Sektor Ketenagalistrikan yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2025 memproyeksikan kapasitas listrik nasional mencapai sekitar 443 GW pada 2060.

Komposisinya tidak hanya terdiri atas surya dan angin.

Peta jalan tersebut memproyeksikan sekitar 41,5 persen kapasitas berupa energi terbarukan variabel yang didukung penyimpanan sekitar 34 GW. Sisanya berasal dari sumber yang dapat diatur, termasuk hidro, panas bumi, bioenergi, nuklir, gas atau hidrogen, serta beberapa pembangkit fosil yang direncanakan menggunakan teknologi penangkapan karbon atau bahan bakar campuran.

Artinya, jalur resmi Indonesia saat ini lebih mengarah pada sistem rendah karbon yang terdiversifikasi, bukan sistem yang sepenuhnya hanya menggunakan energi terbarukan.

Pilihan tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan biaya, teknologi, kebijakan, dan kebutuhan listrik.

Apakah Energi Terbarukan Saja Secara Teknis Cukup?

Sistem listrik 100 persen terbarukan secara teknis dapat dirancang dengan kombinasi:

  • Surya dalam kapasitas besar.
  • Angin dari berbagai wilayah.
  • Panas bumi.
  • Hidro reservoir.
  • Bioenergi berkelanjutan.
  • Baterai.
  • Pumped storage.
  • Penyimpanan jangka panjang.
  • Interkoneksi.
  • Respons permintaan.
  • Kelebihan kapasitas pembangkit.

Namun pertanyaan teknis bukan satu-satunya pertimbangan.

Indonesia juga perlu menjawab:

  • Berapa biaya keseluruhan sistem?
  • Berapa luas lahan yang dibutuhkan?
  • Apakah jaringan dapat dibangun tepat waktu?
  • Bagaimana menghadapi musim kering?
  • Bagaimana jika cuaca buruk berlangsung beberapa hari?
  • Apakah bahan baku baterai tersedia?
  • Bagaimana dampaknya terhadap masyarakat?
  • Berapa besar pembangkit yang harus dibangun melebihi kebutuhan normal?
  • Bagaimana sistem pulih setelah pemadaman total?

Dengan demikian, sistem 100 persen terbarukan mungkin dapat dirancang, tetapi belum tentu menjadi pilihan termurah atau paling cepat bagi seluruh wilayah Indonesia.

Masalah Musiman Lebih Sulit daripada Masalah Siang dan Malam

Baterai empat jam dapat membantu memindahkan produksi PLTS menuju malam hari.

Namun tantangan yang lebih sulit adalah perubahan selama:

  • Beberapa hari mendung.
  • Musim kering panjang.
  • Tahun dengan curah hujan rendah.
  • Perubahan kecepatan angin.
  • Gangguan beberapa pembangkit sekaligus.

PLTA dapat menghasilkan lebih sedikit listrik ketika debit air turun. Bioenergi dapat menghadapi kekurangan bahan baku. Panas bumi dapat mengalami gangguan unit.

Karena itu, sistem harus dirancang untuk kondisi buruk, bukan hanya kondisi cuaca rata-rata.

Semakin tinggi target energi terbarukan, semakin penting simulasi sistem menggunakan data cuaca dan beban dalam periode panjang.

Penghapusan Batubara untuk Industri Lebih Sulit

Batubara tidak hanya digunakan pada pembangkit jaringan PLN.

Sebagian industri menggunakan PLTU captive untuk memasok listrik dan panas, misalnya pada:

  • Pengolahan mineral.
  • Kawasan industri.
  • Smelter.
  • Pabrik semen.
  • Proses manufaktur tertentu.

Menggantikan PLTU jaringan belum otomatis menghapus seluruh penggunaan batubara nasional.

Industri membutuhkan listrik dan panas dengan keandalan tinggi. Alternatifnya dapat berupa:

  • Listrik jaringan rendah karbon.
  • Panas listrik.
  • Hidrogen.
  • Biomassa berkelanjutan.
  • Efisiensi energi.
  • Penyimpanan panas.
  • Penangkapan karbon untuk proses tertentu.

Karena itu, penghapusan seluruh penggunaan batubara lebih kompleks daripada sekadar menutup PLTU milik PLN.

Biaya Energi Terbarukan Tidak Hanya Harga Panel

Harga listrik dari proyek PLTS atau PLTB sering dibandingkan dengan biaya pembangkit batu bara.

Perbandingan tersebut perlu memasukkan seluruh biaya sistem.

Biaya energi terbarukan

  • Pembangkit.
  • Lahan.
  • Transmisi.
  • Penyimpanan.
  • Penguatan jaringan.
  • Cadangan.
  • Pengelolaan curtailment.
  • Daur ulang perangkat.

Biaya batubara

  • Pembangkit.
  • Bahan bakar.
  • Transportasi.
  • Pelabuhan.
  • Limbah abu.
  • Pengendalian polusi.
  • Emisi karbon.
  • Dampak kesehatan dan lingkungan.
  • Pembongkaran fasilitas.

Energi terbarukan dapat mempunyai biaya produksi listrik yang rendah, tetapi pengintegrasian dalam jumlah sangat besar membutuhkan investasi jaringan dan fleksibilitas.

Sebaliknya, PLTU lama dapat terlihat murah karena modalnya telah dikeluarkan, tetapi masih mempunyai biaya bahan bakar, pemeliharaan, polusi, dan risiko aset kehilangan nilai.

Perbandingan yang adil harus menggunakan biaya keseluruhan sistem dan dampaknya dalam jangka panjang.

Penghentian PLTU Juga Menyangkut Kontrak dan Tenaga Kerja

Banyak pembangkit dibangun dengan pembiayaan jangka panjang dan perjanjian jual beli listrik.

Penutupan lebih awal dapat memerlukan:

  • Negosiasi kontrak.
  • Refinancing.
  • Kompensasi.
  • Pengalihan aset.
  • Penggantian kapasitas.
  • Penyelesaian kewajiban utang.

Transisi juga memengaruhi:

  • Pekerja tambang.
  • Pekerja PLTU.
  • Perusahaan angkutan.
  • Pelabuhan.
  • Pemerintah daerah.
  • UMKM di sekitar industri batubara.

Karena itu, transisi yang adil perlu menyediakan:

  • Pelatihan ulang.
  • Pekerjaan alternatif.
  • Diversifikasi ekonomi daerah.
  • Perlindungan sosial.
  • Reklamasi kawasan.
  • Dialog dengan masyarakat.

Menghentikan PLTU tanpa menyiapkan pengganti ekonomi dapat menciptakan masalah sosial meskipun tujuan lingkungannya baik.

Tiga Jalur Masa Depan Kelistrikan Indonesia

Jalur pertama: energi terbarukan 100 persen

Sistem mengandalkan surya, angin, hidro, panas bumi, bioenergi, penyimpanan, jaringan luas, dan fleksibilitas permintaan.

Keunggulannya:

  • Tidak menggunakan bahan bakar fosil.
  • Emisi operasional sangat rendah.
  • Mengurangi risiko harga bahan bakar.

Tantangannya:

  • Membutuhkan kapasitas pembangkit dan penyimpanan sangat besar.
  • Memerlukan transmisi luas.
  • Penyimpanan jangka panjang belum murah.
  • Kondisi setiap pulau berbeda.

Jalur kedua: energi terbarukan dominan dan sumber rendah karbon lain

Energi terbarukan menjadi sumber utama, sedangkan nuklir, gas rendah karbon, hidrogen, atau pembangkit dengan penangkapan karbon menyediakan sebagian daya andal.

Keunggulannya:

  • Kebutuhan penyimpanan dapat lebih rendah.
  • Pilihan sumber energi lebih beragam.
  • Sistem lebih mudah menjaga kecukupan daya.

Tantangannya:

  • Tidak sepenuhnya terbarukan.
  • Nuklir dan CCS mempunyai biaya serta risiko tersendiri.
  • Gas masih menghasilkan emisi jika tidak dikendalikan.

Jalur ketiga: pengurangan batubara secara perlahan

Indonesia terus membangun energi terbarukan, tetapi PLTU dipertahankan hingga akhir umur teknisnya.

Keunggulannya:

  • Mengurangi risiko biaya penghentian dini.
  • Transisi tenaga kerja berlangsung lebih panjang.
  • Perubahan sistem lebih bertahap.

Tantangannya:

  • Penurunan emisi berjalan lambat.
  • Polusi dan konsumsi batubara berlanjut.
  • Risiko aset kehilangan daya saing meningkat.
  • Pembiayaan proyek fosil semakin sulit.

Indonesia kemungkinan menggunakan kombinasi berbagai pendekatan sesuai wilayah dan waktu.

Strategi Realistis Mengurangi Batubara

1. Menghentikan penambahan PLTU yang tidak diperlukan

Prioritas pertama adalah mencegah terbentuknya ketergantungan baru selama puluhan tahun.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2025 membatasi pengembangan PLTU baru, meskipun masih memberikan pengecualian bagi proyek yang sebelumnya telah direncanakan serta proyek industri dengan persyaratan tertentu.

2. Memaksimalkan energi terbarukan yang dapat diatur

Indonesia perlu mempercepat:

  • Panas bumi.
  • PLTA reservoir.
  • Pumped storage.
  • Bioenergi berbasis limbah.
  • Mikrohidro.

Sumber tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit fosil pada malam hari.

3. Mempercepat PLTS dan PLTB

PLTS dan PLTB dapat dibangun dalam skala besar maupun terdistribusi.

Namun pengembangannya harus diselaraskan dengan:

  • Kesiapan jaringan.
  • Lokasi beban.
  • Penyimpanan.
  • Perizinan.
  • Kemampuan sistem menyerap produksi.

4. Membangun jaringan lebih awal

Jaringan seharusnya tidak menunggu pembangkit selesai.

Koridor transmisi perlu disiapkan berdasarkan peta potensi energi dan pertumbuhan permintaan.

5. Mengembangkan berbagai jenis penyimpanan

Indonesia tidak sebaiknya bergantung hanya pada satu jenis baterai.

Portofolionya dapat mencakup:

  • Baterai dua hingga delapan jam.
  • Pumped storage.
  • Penyimpanan termal.
  • Baterai alir.
  • Hidrogen untuk kebutuhan tertentu.
  • Baterai kendaraan listrik.

6. Menerapkan tarif berdasarkan waktu

Tarif listrik dapat mendorong konsumen menggunakan listrik ketika pasokan terbarukan tinggi.

Contohnya, pengisian kendaraan listrik dan kegiatan industri tertentu dapat dipindahkan menuju siang hari.

7. Mengurangi konsumsi yang tidak efisien

Listrik yang tidak perlu dibangkitkan merupakan bentuk penghematan termurah.

Efisiensi dapat diterapkan pada:

  • Pendingin udara.
  • Motor industri.
  • Gedung.
  • Pompa.
  • Penerangan.
  • Peralatan rumah tangga.
  • Jaringan distribusi.

8. Menyiapkan penghentian PLTU berdasarkan prioritas

PLTU tidak harus ditutup hanya berdasarkan usia.

Penilaiannya perlu mencakup:

  • Emisi.
  • Efisiensi.
  • Biaya operasi.
  • Lokasi.
  • Peran terhadap sistem.
  • Kondisi kontrak.
  • Ketersediaan pembangkit pengganti.
  • Dampak terhadap pekerja.

Unit yang tua, mahal, dan beremisi tinggi dapat menjadi prioritas awal.

9. Mengurangi PLTU captive

Kebijakan transisi perlu mencakup pembangkit di kawasan industri, bukan hanya jaringan PLN.

Pembangunan jaringan bersih menuju kawasan industri dapat mengurangi kebutuhan pembangkit captive.

10. Menguji keandalan sebelum penutupan

Setiap rencana penghentian PLTU perlu didukung studi sistem yang menjawab:

  • Apakah daya pengganti telah tersedia?
  • Apakah jaringan mampu menyalurkannya?
  • Apakah cadangan operasi mencukupi?
  • Bagaimana kondisi ketika energi terbarukan rendah?
  • Apakah sistem dapat pulih setelah gangguan?

Target kapasitas terbarukan tidak cukup. Keandalan harus dibuktikan melalui pengujian dan simulasi.

Mitos tentang Energi Terbarukan dan Batubara

“Energi terbarukan tidak mungkin menyediakan listrik 24 jam”

Kurang tepat.

Kombinasi surya, angin, hidro, panas bumi, penyimpanan, interkoneksi, dan respons permintaan dapat menyediakan listrik sepanjang waktu.

Tantangannya terletak pada biaya serta desain sistem.

“Satu gigawatt PLTS sama dengan satu gigawatt PLTU”

Tidak.

Produksi tahunan dan kemampuan memasok saat beban puncak berbeda.

“Baterai empat jam dapat menyelesaikan seluruh intermitensi”

Tidak.

Baterai tersebut berguna untuk kebutuhan harian, tetapi tidak cukup menghadapi kekurangan energi selama beberapa hari atau musim.

“Gas alam merupakan energi terbarukan”

Tidak.

Gas merupakan bahan bakar fosil meskipun emisinya saat pembakaran umumnya lebih rendah daripada batubara.

“Nuklir termasuk energi terbarukan”

Tidak.

Nuklir merupakan energi rendah karbon, tetapi umumnya tidak dikategorikan sebagai energi terbarukan.

“Jika PLTU ditutup, seluruh pekerja langsung kehilangan masa depan”

Tidak harus demikian.

Transisi yang direncanakan dapat membuka pekerjaan baru pada energi terbarukan, jaringan, konstruksi, penyimpanan, reklamasi, dan industri lain. Namun pelatihan serta perlindungan pekerja harus dimulai sebelum penutupan.

“Energi terbarukan selalu bebas dampak lingkungan”

Tidak.

PLTS membutuhkan lahan serta material. PLTA memengaruhi sungai. PLTB dapat memengaruhi lanskap dan satwa. Panas bumi mempunyai risiko pengeboran.

Dampaknya perlu dikelola, meskipun umumnya berbeda dari dampak pembakaran bahan bakar fosil.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah energi terbarukan dapat menggantikan batubara 100 persen?

Secara teknis dapat dirancang dalam jangka panjang, terutama jika tersedia kombinasi sumber terbarukan, penyimpanan, jaringan, dan fleksibilitas permintaan.

Namun penerapannya belum mudah dan belum tentu menjadi jalur termurah bagi seluruh wilayah Indonesia.

Apakah Indonesia dapat menutup seluruh PLTU sekarang?

Belum.

Energi, jaringan, penyimpanan, serta daya penggantinya belum mencukupi untuk mempertahankan layanan normal jika seluruh PLTU dihentikan sekaligus.

Energi apa yang paling cocok menggantikan batubara?

Tidak ada satu teknologi tunggal.

Indonesia membutuhkan kombinasi surya, angin, hidro, panas bumi, bioenergi berkelanjutan, penyimpanan, serta jaringan yang lebih kuat.

Apakah PLTS dapat menjadi sumber listrik utama?

Bisa menjadi salah satu sumber utama karena potensinya besar dan dapat dibangun cepat.

Namun PLTS harus didampingi sumber lain untuk memenuhi kebutuhan malam hari dan cuaca buruk.

Apakah panas bumi dapat menggantikan seluruh PLTU?

Tidak sendirian.

Potensi panas bumi Indonesia besar, tetapi tetap lebih kecil daripada seluruh kebutuhan listrik masa depan dan pengembangannya membutuhkan waktu.

Apakah baterai masih terlalu mahal?

Biaya baterai terus berubah dan penggunaannya semakin luas untuk penyimpanan beberapa jam.

Namun penyimpanan multi-hari dan musiman masih memerlukan kombinasi teknologi lain.

Apakah PLTA selalu menghasilkan listrik stabil?

Tidak selalu.

PLTA reservoir dapat diatur, tetapi produksinya tetap dipengaruhi debit air, sedimentasi, kebutuhan irigasi, dan kekeringan.

Apakah penggantian batubara akan membuat listrik lebih mahal?

Dampaknya bergantung pada desain transisi.

Biaya dapat meningkat jika pembangkit ditutup sebelum pengganti dan jaringan siap. Sebaliknya, energi terbarukan dapat mengurangi biaya bahan bakar serta risiko fluktuasi harga dalam jangka panjang.

Kesimpulan

Energi terbarukan pada prinsipnya dapat menggantikan listrik yang saat ini dihasilkan dari batubara.

Namun penggantian tersebut tidak cukup dilakukan dengan membangun PLTS atau PLTB dalam jumlah yang sama dengan kapasitas PLTU.

Indonesia harus mengganti seluruh fungsi yang selama ini diberikan batubara, meliputi:

  • Produksi energi.
  • Daya pada malam hari.
  • Cadangan operasi.
  • Stabilitas jaringan.
  • Kemampuan menghadapi gangguan.
  • Pasokan untuk industri.
  • Fleksibilitas saat permintaan berubah.

Solusinya membutuhkan kombinasi:

  • Tenaga surya.
  • Tenaga angin.
  • Tenaga air.
  • Panas bumi.
  • Bioenergi berkelanjutan.
  • Baterai.
  • Penyimpanan jangka panjang.
  • Transmisi.
  • Smart grid.
  • Respons permintaan.
  • Efisiensi energi.

Gas dan nuklir dapat membantu membangun sistem rendah karbon, tetapi keduanya tidak menjadikan sistem tersebut 100 persen terbarukan.

Bagi Indonesia, strategi paling realistis bukan mempertahankan batubara tanpa batas dan bukan pula menutup seluruh PLTU secara mendadak.

Strategi yang lebih aman adalah:

Menghentikan ketergantungan baru, mempercepat energi terbarukan dan jaringan, membangun penyimpanan, lalu mengurangi PLTU secara bertahap ketika penggantinya benar-benar siap.

Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat menurunkan emisi tanpa mengorbankan keandalan listrik, keterjangkauan energi, dan keberlangsungan industri.

Pertanyaan yang paling relevan bukan hanya:

Apakah energi terbarukan dapat menggantikan batubara 100 persen?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Seberapa cepat Indonesia mampu membangun seluruh sistem pendukung yang membuat listrik terbarukan tetap tersedia, andal, dan terjangkau setiap jam sepanjang tahun?

Masa depan tanpa batubara mungkin dapat dicapai.

Namun keberhasilannya tidak ditentukan hanya oleh jumlah panel surya dan turbin angin, melainkan oleh kualitas perencanaan seluruh sistem kelistrikan.

Rabu, 19 Agustus 2026

AI Akan Menggantikan Banyak Pekerjaan, Tapi Siapa yang Akan Membayar Pajak?

 


Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence telah mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaannya.

AI sekarang dapat membantu:

  • Menyiapkan laporan.
  • Menganalisis data.
  • Menjawab pertanyaan pelanggan.
  • Menulis dan memeriksa kode program.
  • Menghasilkan teks, gambar, suara, dan video.
  • Mengelompokkan dokumen.
  • Membantu pengambilan keputusan.
  • Mengotomatisasi proses administrasi.

Bagi perusahaan, teknologi tersebut menawarkan peluang untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat pelayanan, dan mengurangi pekerjaan berulang.

Namun di balik manfaat tersebut muncul pertanyaan fiskal yang semakin relevan:

Jika semakin banyak pekerjaan manusia diotomatisasi, siapa yang akan membayar pajak untuk membiayai negara?

Pertanyaan ini sebenarnya mengandung asumsi yang perlu diperbaiki.

AI dan robot tidak membayar pajak seperti manusia. Dalam sistem perpajakan saat ini, kewajiban pajak tetap berada pada orang pribadi atau badan usaha yang memperoleh penghasilan, keuntungan, atau melakukan transaksi.

Karena itu, masalah utamanya bukan bahwa seluruh pembayar pajak akan menghilang.

Masalah yang lebih mungkin terjadi adalah:

Basis pajak dapat berpindah dari penghasilan tenaga kerja menuju laba perusahaan, pendapatan modal, kepemilikan teknologi, dan konsumsi.

Jika sistem pajak gagal mengikuti perubahan tersebut, produktivitas dapat meningkat sementara penerimaan negara dan daya beli masyarakat justru melemah.

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat perpajakan untuk transaksi atau perusahaan tertentu.

Apakah AI Benar-Benar Akan Menggantikan Jutaan Pekerjaan?

Belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa AI pasti akan menghapus sebagian besar pekerjaan manusia.

International Labour Organization memperkirakan sekitar satu dari empat pekerjaan di dunia memiliki tingkat keterpaparan tertentu terhadap AI generatif. Namun hasil yang dinilai lebih mungkin adalah perubahan tugas, bukan penghapusan seluruh profesi. Pekerjaan administrasi mempunyai keterpaparan tertinggi, disusul sejumlah pekerjaan profesional dan teknis yang sangat terdigitalisasi.

Keterpaparan tidak sama dengan kehilangan pekerjaan.

Suatu profesi biasanya terdiri atas banyak tugas. Sebagiannya dapat diotomatisasi, sementara tugas lain masih membutuhkan:

  • Penilaian manusia.
  • Interaksi sosial.
  • Pemahaman konteks.
  • Tanggung jawab hukum.
  • Negosiasi.
  • Kepemimpinan.
  • Pekerjaan fisik di lingkungan tidak terstruktur.

Sebagai contoh, AI dapat membantu seorang akuntan memeriksa transaksi. Namun manusia masih diperlukan untuk memahami konteks bisnis, berkomunikasi dengan manajemen, menilai kepatuhan, dan bertanggung jawab atas keputusan profesional.

Karena itu, dampak AI lebih tepat dianalisis pada tingkat tugas, bukan hanya nama pekerjaan.

Bagaimana Kondisinya di Indonesia?

Kajian ILO mengenai pasar kerja ASEAN pada 2026 memperkirakan sekitar 21,7 persen pekerjaan di Indonesia mempunyai lebih dari tingkat keterpaparan minimal terhadap AI generatif.

Pada tingkat ASEAN, sekitar 22,9 persen pekerjaan memiliki keterpaparan tersebut, tetapi hanya 3,3 persen tenaga kerja yang berada dalam kategori keterpaparan tertinggi. ILO juga menyatakan belum terlihat bukti kehilangan pekerjaan berskala luas akibat AI di kawasan tersebut.

Artinya, Indonesia memang perlu mempersiapkan perubahan pasar kerja, tetapi belum tepat menganggap pengangguran massal akibat AI telah menjadi kenyataan.

Hasil akhirnya akan sangat dipengaruhi oleh:

  • Kecepatan adopsi AI.
  • Biaya teknologi.
  • Kualitas infrastruktur digital.
  • Keterampilan tenaga kerja.
  • Pertumbuhan usaha baru.
  • Kebijakan pemerintah.
  • Kemampuan UMKM mengakses AI.
  • Pembagian manfaat produktivitas.

AI dapat mengurangi jumlah pekerja untuk tugas tertentu. Namun AI juga dapat membuat perusahaan berkembang lebih cepat, meningkatkan permintaan, dan menciptakan pekerjaan lain.

Mesin Tidak Membayar Pajak, tetapi Pemilik dan Penggunanya Bisa Dipajaki

Dalam sistem perpajakan Indonesia, Pajak Penghasilan dikenakan kepada orang pribadi atau badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh.

Sementara itu, Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas konsumsi barang dan jasa kena pajak di dalam wilayah Indonesia. PPh Pasal 21 secara khusus berkaitan dengan penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi.

Dengan demikian, ketika seorang pekerja digantikan perangkat lunak AI, beberapa perubahan dapat terjadi:

KomponenDampak yang mungkin terjadi
PPh Pasal 21 pekerjaMenurun jika pekerja kehilangan penghasilan
PPh badanDapat meningkat jika laba perusahaan naik
PPNBergantung pada perubahan konsumsi masyarakat
Pajak atas dividen atau keuntungan modalDapat meningkat jika manfaat diterima pemilik modal
Belanja perlindungan sosialDapat meningkat jika pengangguran bertambah
Investasi pendidikanPerlu meningkat untuk reskilling

Kata pentingnya adalah dapat.

PPh badan tidak otomatis meningkat hanya karena jumlah pekerja menurun. Perusahaan mungkin mempunyai biaya investasi, penyusutan, kerugian usaha, fasilitas pajak, atau pengaturan lintas negara yang memengaruhi laba kena pajak.

Demikian juga PPN tidak otomatis turun.

Jika AI menurunkan harga barang, meningkatkan pendapatan riil, dan menciptakan kegiatan ekonomi baru, konsumsi dapat bertambah. Namun apabila banyak pekerja kehilangan pendapatan, konsumsi rumah tangga dapat melemah.

Karena itu, dampak akhirnya bergantung pada bagaimana keuntungan produktivitas dibagikan.

Ilustrasi Perubahan Basis Pajak

Bayangkan sebuah perusahaan mempunyai 100 pekerja administrasi.

Setelah menerapkan AI, perusahaan tidak langsung memberhentikan 80 orang. Beberapa kemungkinan dapat terjadi.

Skenario pertama: AI membantu seluruh pekerja

Jumlah pekerja tetap 100 orang, tetapi produktivitas meningkat.

Perusahaan dapat:

  • Melayani lebih banyak pelanggan.
  • Menaikkan produksi.
  • Meningkatkan upah.
  • Mengembangkan layanan baru.

Dalam kondisi ini, PPh tenaga kerja, PPh badan, dan PPN dapat sama-sama meningkat.

Skenario kedua: pekerjaan yang sama dilakukan oleh lebih sedikit orang

Perusahaan mempertahankan 40 pekerja dan mengurangi posisi lainnya.

Akibatnya:

  • PPh Pasal 21 dapat menurun.
  • Keuntungan perusahaan mungkin meningkat.
  • Sebagian mantan pekerja kehilangan daya beli.
  • Pemerintah mungkin perlu meningkatkan bantuan dan pelatihan.

Skenario ketiga: perusahaan berkembang setelah otomatisasi

Jumlah pekerja administrasi turun, tetapi perusahaan membuka pekerjaan baru di bidang:

  • Penjualan.
  • Pengembangan produk.
  • Keamanan data.
  • Pengawasan AI.
  • Pelayanan yang lebih kompleks.
  • Operasi lapangan.

Jumlah pekerjaan total dapat kembali meningkat, meskipun jenis pekerjaannya berubah.

Contoh ini menunjukkan bahwa hubungan antara otomatisasi dan pajak tidak berjalan secara lurus.

Pengurangan satu jenis pekerjaan belum tentu mengurangi seluruh penerimaan pajak. Namun transisinya dapat menimbulkan kerugian besar bagi kelompok pekerja tertentu.

Paradoks Pajak pada Era AI

AI dapat menciptakan situasi yang terlihat bertentangan.

Di satu sisi:

  • Produksi meningkat.
  • Biaya menurun.
  • Laba perusahaan naik.
  • Nilai perusahaan teknologi meningkat.

Di sisi lain:

  • Bagian pendapatan yang diterima pekerja dapat menurun.
  • Kekayaan terkonsentrasi pada pemilik modal.
  • PPh tenaga kerja melemah.
  • Kebutuhan perlindungan sosial meningkat.

Jika manfaat produktivitas hanya terkonsentrasi pada pemilik teknologi, negara dapat menghadapi dua masalah sekaligus:

  1. Basis pajak tenaga kerja menyusut.
  2. Pendapatan baru dari modal sulit dipajaki secara efektif.

Masalah kedua dapat terjadi karena laba, aset tidak berwujud, perangkat lunak, dan layanan digital lebih mudah dipindahkan antarnegara dibandingkan pabrik atau pekerja.

IMF menilai tekanan terhadap basis pajak tenaga kerja dapat menjadi lebih berat bagi negara yang lebih banyak menjadi konsumen layanan AI daripada produsen serta pemilik teknologinya.

Hal ini penting bagi Indonesia.

Jika teknologi AI sebagian besar dimiliki perusahaan di luar negeri, keuntungan produktivitas dapat dinikmati pengguna Indonesia, tetapi sebagian besar laba ekonominya dicatat di negara lain.

Apa Itu Robot Tax?

Robot tax adalah istilah umum untuk kebijakan yang berusaha mengenakan beban pajak tambahan terhadap penggunaan otomatisasi yang menggantikan tenaga kerja.

Robot tax tidak harus berarti sebuah robot menerima nomor pajak dan membayar pajak sendiri.

Bentuk kebijakannya dapat berupa:

  • Pajak tambahan bagi perusahaan yang mengurangi banyak pekerja akibat otomatisasi.
  • Iuran setara kontribusi tenaga kerja yang hilang.
  • Pembatasan insentif pajak untuk investasi yang menggantikan pekerja.
  • Pajak atas keuntungan luar biasa dari otomatisasi.
  • Pajak lebih tinggi atas pendapatan modal.
  • Dana transisi tenaga kerja yang dibiayai perusahaan pengguna AI.

Tujuannya adalah memastikan sebagian keuntungan produktivitas digunakan untuk:

  • Pelatihan ulang.
  • Perlindungan sosial.
  • Pendidikan.
  • Pelayanan publik.
  • Penciptaan pekerjaan baru.

Gagasan tersebut terdengar sederhana, tetapi penerapannya sangat rumit.

Mengapa Robot Tax Sulit Diterapkan?

1. Sulit mendefinisikan robot

Apakah robot hanya mesin fisik di pabrik?

Bagaimana dengan:

  • Chatbot.
  • Perangkat lunak akuntansi.
  • Mesin kasir mandiri.
  • AI pembuat kode.
  • Spreadsheet otomatis.
  • Mesin pertanian.
  • Sistem rekomendasi?

Hampir seluruh teknologi modern mengurangi kebutuhan manusia pada tingkat tertentu.

2. Sulit menghitung pekerjaan yang digantikan

Sebuah perusahaan mungkin mengurangi 20 pekerja setelah membeli AI.

Namun pengurangan tersebut dapat juga disebabkan oleh:

  • Penurunan permintaan.
  • Restrukturisasi.
  • Merger.
  • Efisiensi proses.
  • Perubahan strategi.
  • Kondisi ekonomi.

Menentukan berapa pekerjaan yang secara khusus hilang akibat AI dapat menimbulkan sengketa.

3. Dapat menghambat inovasi

Pajak yang dikenakan terlalu dini dapat membuat perusahaan menunda teknologi yang sebenarnya:

  • Meningkatkan keselamatan.
  • Mengurangi kesalahan.
  • Menurunkan harga.
  • Membantu pekerja.
  • Membuat perusahaan lebih kompetitif.

IMF menilai pajak khusus terhadap AI bukan pilihan yang ideal karena sulit diterapkan dan dapat menekan investasi serta produktivitas. IMF lebih menyarankan peninjauan terhadap aturan pajak yang secara tidak efisien mendorong penggantian pekerja, serta penguatan pajak atas pendapatan modal dan laba ekonomi.

4. Dapat merugikan perusahaan lokal

Jika satu negara mengenakan robot tax tinggi sementara negara lain tidak, perusahaan dapat:

  • Memindahkan investasi.
  • Membeli layanan AI dari luar negeri.
  • Menempatkan kekayaan intelektual di negara lain.
  • Kehilangan daya saing ekspor.

Perusahaan besar mungkin mampu melakukan restrukturisasi lintas negara, sedangkan UMKM justru menanggung beban lebih besar.

5. Otomatisasi tidak selalu mengurangi pekerjaan

Sebuah mesin dapat mengurangi pekerjaan pada satu bagian, tetapi memperluas kegiatan perusahaan secara keseluruhan.

Pajak yang hanya menghitung jumlah mesin dapat menghukum investasi yang sebenarnya menciptakan pekerjaan baru.

Alternatif yang Lebih Realistis daripada Pajak Robot

Alih-alih mengenakan pajak pada setiap perangkat AI, pemerintah dapat memperbarui sistem pajak agar lebih sesuai dengan perubahan pembagian pendapatan.

1. Menjaga netralitas antara tenaga kerja dan modal

Kebijakan pajak tidak seharusnya secara berlebihan mendorong perusahaan menggantikan pekerja hanya karena investasi mesin memperoleh fasilitas yang jauh lebih besar daripada biaya mempertahankan tenaga kerja.

Namun kebijakan juga tidak boleh menghukum seluruh investasi teknologi.

Tujuannya adalah menjaga pilihan perusahaan berdasarkan manfaat ekonomi sebenarnya, bukan hanya perbedaan perlakuan pajak.

2. Memperkuat pajak atas laba perusahaan

Jika AI meningkatkan keuntungan perusahaan, sebagian manfaatnya dapat masuk ke penerimaan negara melalui PPh badan.

Namun sistemnya harus mampu menangani:

  • Perusahaan multinasional.
  • Kekayaan intelektual.
  • Pembayaran royalti.
  • Transaksi afiliasi.
  • Pemindahan laba.
  • Ekonomi lintas batas.

Penguatan pajak perusahaan harus dilakukan tanpa membuat investasi produktif menjadi tidak menarik.

3. Memajaki rente ekonomi

Rente ekonomi adalah keuntungan yang sangat besar karena posisi pasar, kepemilikan data, jaringan pengguna, atau teknologi yang sulit ditandingi.

Pajak atas keuntungan berlebih dapat lebih tepat daripada menghitung jumlah robot, terutama ketika pasar AI dikuasai segelintir perusahaan.

IMF menyebut penguatan pajak pendapatan modal, pajak keuntungan modal, penegakan kepatuhan, dan kemungkinan pajak tambahan atas keuntungan berlebih sebagai beberapa pilihan untuk membagi manfaat AI secara lebih luas.

4. Memperbaiki pajak atas pendapatan modal

Ketika pendapatan ekonomi bergeser dari gaji menuju:

  • Dividen.
  • Keuntungan saham.
  • Royalti.
  • Kepemilikan perangkat lunak.
  • Pendapatan investasi,

sistem pajak perlu mampu menangkap perubahan tersebut secara adil.

Tujuannya bukan menghukum investor, tetapi mencegah situasi ketika pekerja menanggung beban pajak relatif lebih besar daripada pemilik teknologi.

5. Memperkuat kerja sama pajak internasional

Layanan AI dapat dikembangkan di satu negara, dijual dari negara kedua, dan digunakan oleh konsumen di negara ketiga.

Tanpa kerja sama internasional, negara tempat pengguna berada mungkin sulit memperoleh bagian penerimaan yang sebanding dengan aktivitas ekonominya.

6. Memperluas basis pajak secara sehat

Indonesia masih mempunyai ruang untuk memperkuat:

  • Formalisasi usaha.
  • Kepatuhan.
  • Integrasi data.
  • Pengawasan transaksi digital.
  • Pelayanan wajib pajak.
  • Penyederhanaan administrasi.

Memperluas kepatuhan sering lebih sehat daripada menciptakan pajak baru yang definisinya belum jelas.

AI Juga Dapat Membantu Pemerintah Memungut Pajak

AI tidak hanya menjadi tantangan bagi sistem perpajakan.

Teknologi yang sama dapat digunakan untuk:

  • Mendeteksi ketidaksesuaian laporan.
  • Mengidentifikasi transaksi tidak wajar.
  • Membantu pelayanan wajib pajak.
  • Memeriksa data dalam jumlah besar.
  • Memprioritaskan pengawasan berdasarkan risiko.
  • Menerjemahkan informasi pajak.
  • Mengurangi kesalahan administrasi.

IMF mencatat bahwa otoritas pajak mulai menggunakan AI untuk pelayanan, analisis kepatuhan, dan peningkatan efisiensi administrasi.

Indonesia sendiri sedang memperkuat administrasi perpajakan melalui Coretax, yang mengintegrasikan pendaftaran, pelaporan, pembayaran, pengawasan, dan data dari berbagai sumber.

Kementerian Keuangan melaporkan bahwa hingga April 2026 lebih dari 13 juta SPT Tahunan telah diproses melalui Coretax. Sistem tersebut juga menggunakan integrasi data pihak ketiga dan fitur data yang telah terisi untuk meningkatkan akurasi pelaporan.

Teknologi tersebut tetap membutuhkan:

  • Perlindungan data.
  • Keamanan siber.
  • Transparansi.
  • Hak wajib pajak untuk mengoreksi kesalahan.
  • Pengawasan manusia.
  • Mekanisme keberatan.

AI tidak boleh membuat keputusan pajak yang berdampak besar tanpa akuntabilitas yang jelas.

Apakah Universal Basic Income Menjadi Jawaban?

Universal Basic Income atau UBI adalah pembayaran tunai yang diberikan secara rutin, tanpa syarat, dan secara universal kepada setiap warga yang memenuhi definisi kepesertaan.

UBI sering dibahas sebagai respons terhadap otomatisasi karena dapat menjaga pendapatan dan daya beli ketika pekerjaan menjadi lebih tidak pasti.

World Bank menjelaskan bahwa UBI memiliki tiga unsur utama:

  • Dibayar dalam bentuk uang.
  • Tidak mensyaratkan pekerjaan atau perilaku tertentu.
  • Diberikan secara universal, bukan hanya kepada kelompok miskin.

Potensi manfaatnya antara lain:

  • Mengurangi risiko masyarakat kehilangan seluruh pendapatan.
  • Menyederhanakan akses bantuan.
  • Mengurangi kesalahan pengecualian penerima.
  • Memberikan daya tawar lebih baik kepada pekerja.
  • Menjaga konsumsi saat terjadi transisi teknologi.

Namun UBI juga mempunyai tantangan besar.

Biayanya sangat tinggi

Pembayaran yang cukup berarti kepada seluruh penduduk membutuhkan anggaran sangat besar.

Jika anggarannya tetap, pemberian kepada semua orang dapat menyebabkan bantuan yang diterima kelompok paling rentan justru menjadi lebih kecil.

World Bank menyebut persoalan biaya, ketepatan tujuan, hubungan dengan program sosial lain, dan keberlanjutan fiskal sebagai pertimbangan utama UBI.

Orang kaya ikut menerima

Sifat universal membuat seluruh warga menerima pembayaran, termasuk orang yang sebenarnya tidak membutuhkan bantuan.

Pemerintah dapat menarik kembali manfaat tersebut melalui pajak progresif, tetapi mekanismenya harus dirancang dengan baik.

Tidak menyelesaikan kebutuhan nonfinansial

Pekerja yang kehilangan pekerjaan tidak hanya kehilangan gaji.

Mereka juga dapat kehilangan:

  • Identitas profesional.
  • Keterampilan yang terus digunakan.
  • Hubungan sosial.
  • Perlindungan kerja.
  • Kesempatan berkembang.

Karena itu, pembayaran tunai tidak dapat menggantikan kebijakan pendidikan, penciptaan pekerjaan, dan perlindungan pekerja.

Alternatif terhadap UBI

Indonesia tidak harus langsung memilih antara robot tax dan UBI penuh.

Terdapat beberapa pilihan yang lebih bertahap.

Bantuan sosial terarah

Bantuan diberikan kepada masyarakat yang benar-benar kehilangan pendapatan atau berada dalam kondisi rentan.

Asuransi pengangguran

Pekerja memperoleh penggantian sebagian pendapatan selama mencari pekerjaan baru.

Wage insurance

Pekerja yang menerima pekerjaan baru dengan upah lebih rendah memperoleh bantuan sementara untuk menutup sebagian selisih pendapatan.

Rekening pelatihan individu

Pekerja memperoleh dana atau hak pelatihan yang dapat dibawa ketika berpindah perusahaan.

Negative income tax

Masyarakat dengan pendapatan di bawah batas tertentu menerima tambahan dari pemerintah melalui sistem pajak.

Social dividend

Sebagian keuntungan dari aset publik, sumber daya alam, atau dana investasi negara dibagikan kepada masyarakat.

IMF merekomendasikan penguatan perlindungan pengangguran, bantuan sosial, pelatihan sektoral, magang, reskilling, dan kemungkinan wage insurance untuk menghadapi gangguan pasar kerja akibat AI.

Tiga Skenario Ekonomi dan Pajak pada Era AI

Skenario 1: AI Lebih Banyak Membantu Pekerja

Dalam skenario ini, AI meningkatkan produktivitas tanpa mengurangi pekerjaan secara besar-besaran.

Dampaknya:

  • Upah dapat meningkat.
  • Produksi bertambah.
  • Harga sebagian layanan menurun.
  • Perusahaan memperoleh laba lebih besar.
  • Penerimaan PPh, PPN, dan PPh badan dapat meningkat.

Kebijakan utamanya adalah pendidikan, kompetisi sehat, serta akses AI bagi UMKM dan pekerja.

Skenario 2: Terjadi Perubahan Pekerjaan secara Bertahap

Sebagian pekerjaan administrasi dan digital berkurang, sementara pekerjaan baru tumbuh.

Dampaknya:

  • PPh Pasal 21 melemah pada sektor tertentu.
  • Pekerja membutuhkan pelatihan.
  • Terdapat ketidaksesuaian antara keterampilan lama dan pekerjaan baru.
  • Penerimaan badan dapat meningkat, tetapi tidak selalu menutup kehilangan pajak tenaga kerja.

Kebijakan utamanya adalah bantuan transisi, reskilling, dan reformasi pajak atas pendapatan modal.

Skenario 3: Otomatisasi Sangat Cepat dan Kepemilikan Terkonsentrasi

Sebagian besar produktivitas dikuasai sejumlah kecil perusahaan dan pemilik modal.

Dampaknya:

  • Bagian pendapatan tenaga kerja menurun.
  • Ketimpangan meningkat.
  • Konsumsi rumah tangga melemah.
  • Pajak penghasilan pekerja turun.
  • Negara membutuhkan belanja sosial lebih besar.
  • Laba digital lebih sulit dipajaki jika tercatat di luar negeri.

Dalam kondisi tersebut, sistem pajak perlu lebih kuat menangkap laba, rente ekonomi, dan pendapatan modal.

Apa yang Perlu Dilakukan Indonesia?

1. Tidak terburu-buru menerapkan robot tax

Indonesia sebaiknya tidak langsung mengenakan pajak berdasarkan jumlah robot, server, perangkat lunak, atau akun AI.

Kajian perlu menjawab:

  • Apakah teknologi benar-benar menggantikan pekerja?
  • Apakah teknologi membantu usaha berkembang?
  • Siapa yang menerima keuntungan?
  • Apakah laba tersebut sudah dipajaki?
  • Apa dampaknya terhadap UMKM?
  • Apakah kebijakan dapat dihindari melalui layanan AI dari luar negeri?

2. Memantau perubahan basis pajak berdasarkan sektor

Pemerintah perlu mengamati hubungan antara adopsi AI dengan:

  • Jumlah pekerja.
  • Tingkat upah.
  • Produktivitas.
  • Laba perusahaan.
  • Dividen.
  • Konsumsi.
  • PPh Pasal 21.
  • PPh badan.
  • PPN.

Data tersebut akan menunjukkan apakah basis pajak benar-benar menyusut atau hanya berpindah.

3. Menjaga perlakuan pajak yang netral

Insentif teknologi perlu diberikan untuk inovasi yang memberikan manfaat nyata.

Namun pemerintah juga perlu menghindari sistem yang membuat pemecatan pekerja lebih menarik secara pajak daripada pelatihan dan peningkatan kompetensi.

Insentif dapat dikaitkan dengan:

  • Pelatihan pekerja.
  • Penciptaan pekerjaan.
  • Investasi riset.
  • Peningkatan produktivitas UMKM.
  • Transfer pengetahuan.
  • Keamanan dan tanggung jawab AI.

4. Memperkuat pajak atas laba dan pendapatan modal

Jika proporsi pendapatan bergeser dari tenaga kerja ke modal, sistem perpajakan juga perlu mengikuti perubahan tersebut.

Penguatannya perlu disertai kepastian hukum agar tidak menghambat investasi produktif.

5. Mendukung kepemilikan teknologi yang lebih luas

Ketimpangan dapat berkurang jika manfaat AI tidak hanya diterima segelintir perusahaan.

Pemerintah dapat mendorong:

  • Kepemilikan saham pekerja.
  • Koperasi digital.
  • Riset publik.
  • Startup lokal.
  • Infrastruktur komputasi bersama.
  • Akses AI bagi UMKM.
  • Dana investasi nasional pada teknologi strategis.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mempunyai bagian kepemilikan atas pertumbuhan ekonomi digital.

6. Membangun perlindungan sosial yang portabel

Perlindungan sebaiknya tetap mengikuti pekerja ketika ia:

  • Berpindah perusahaan.
  • Bekerja sebagai pekerja lepas.
  • Menjadi pengemudi platform.
  • Menjalankan usaha sendiri.
  • Mengikuti pelatihan.
  • Mengalami masa tanpa pekerjaan.

Sistem yang hanya melindungi pegawai tetap akan semakin sulit diterapkan ketika pola kerja menjadi lebih fleksibel.

7. Memprioritaskan reskilling yang terhubung dengan pekerjaan

Pelatihan tidak boleh berhenti pada pembagian sertifikat.

Program perlu disusun berdasarkan:

  • Permintaan industri.
  • Kebutuhan wilayah.
  • Kompetensi awal pekerja.
  • Peluang penempatan.
  • Kemampuan UMKM.
  • Evaluasi peningkatan pendapatan.

8. Menggunakan AI untuk memperkuat administrasi pajak

AI dapat membantu mengurangi penghindaran pajak dan memperluas kepatuhan.

Namun penggunaannya harus memperhatikan keamanan, privasi, kualitas data, dan hak wajib pajak.

9. Menyiapkan beberapa skenario fiskal

Pemerintah perlu melakukan simulasi:

  • Bagaimana jika PPh Pasal 21 turun 10 persen?
  • Bagaimana jika laba perusahaan AI meningkat tajam?
  • Bagaimana jika konsumsi rumah tangga melemah?
  • Bagaimana jika pekerjaan baru tumbuh di sektor informal?
  • Bagaimana jika sebagian besar pembayaran AI mengalir ke luar negeri?

Perencanaan skenario lebih aman daripada menunggu kehilangan penerimaan benar-benar terjadi.

Apakah Pajak Pekerja Akan Hilang?

Kemungkinan besar tidak.

Pekerjaan manusia akan tetap ada, meskipun bentuknya berubah.

Bahkan dalam ekonomi yang sangat otomatis, manusia masih akan memperoleh pendapatan dari:

  • Pekerjaan.
  • Usaha.
  • Investasi.
  • Royalti.
  • Kepemilikan saham.
  • Penyewaan aset.
  • Kegiatan kreatif.
  • Pelayanan sosial.

Namun komposisinya dapat berubah.

Jika pendapatan dari gaji menjadi lebih kecil dan pendapatan modal semakin besar, negara tidak dapat terus terlalu bergantung pada pemajakan tenaga kerja.

Mitos tentang AI dan Pajak

“Jika AI menggantikan pekerja, negara tidak memperoleh pajak sama sekali”

Tidak.

Negara masih dapat memperoleh PPh badan, PPN, pajak atas pendapatan modal, dan penerimaan lain. Masalahnya adalah apakah pajak tersebut dapat dipungut secara efektif dan adil.

“Robot harus membayar pajak seperti manusia”

Robot bukan subjek ekonomi independen.

Pajak dikenakan kepada orang atau badan yang memiliki, mengoperasikan, atau memperoleh keuntungan dari teknologi.

“Robot tax pasti menyelesaikan ketimpangan”

Belum tentu.

Pajak yang salah desain dapat menghambat inovasi, membebani UMKM, dan mudah dihindari.

“PPh badan pasti naik ketika pekerja dikurangi”

Tidak otomatis.

Kenaikannya bergantung pada laba kena pajak, biaya investasi, fasilitas pajak, kerugian, dan struktur perusahaan.

“UBI membuat semua orang tidak mau bekerja”

Belum ada dasar untuk membuat kesimpulan universal tersebut.

Dampaknya bergantung pada besarnya pembayaran, sumber pembiayaan, pasar kerja, dan hubungan UBI dengan program lain.

“Semua pekerjaan digital akan hilang”

Tidak.

Sebagian tugas digital memang mempunyai keterpaparan tinggi, tetapi banyak pekerjaan akan berubah, bukan dihapus seluruhnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah AI akan mengurangi penerimaan pajak?

Bisa pada jenis pajak tertentu, terutama PPh tenaga kerja, jika otomatisasi menyebabkan pengangguran atau penurunan upah.

Namun penerimaan dari laba perusahaan, modal, dan konsumsi dapat meningkat jika produktivitas dibagikan secara luas.

Siapa yang membayar pajak ketika pekerjaan dilakukan AI?

Pemilik, operator, perusahaan pengguna, investor, dan konsumen tetap menjadi bagian dari sistem perpajakan sesuai penghasilan serta transaksinya.

Apa itu robot tax?

Robot tax adalah istilah untuk kebijakan yang membebankan pajak tambahan pada otomatisasi atau keuntungan yang timbul karena penggantian pekerja.

Apakah Indonesia sudah memiliki pajak AI?

Indonesia tidak mempunyai satu pajak khusus yang secara umum disebut robot tax. Penghasilan dan transaksi perusahaan pengguna AI tetap tunduk pada aturan pajak yang berlaku.

Apakah pajak AI perlu diterapkan sekarang?

Belum tentu.

Prioritas awal lebih baik diarahkan pada pemetaan dampak, penguatan administrasi, pajak laba dan modal yang efektif, serta perlindungan pekerja.

Apakah UBI cocok diterapkan di Indonesia?

UBI dapat dikaji, tetapi biaya dan ketepatan sasarannya harus dibandingkan dengan bantuan sosial terarah, asuransi pengangguran, subsidi pelatihan, dan program perlindungan lain.

Apakah AI juga dapat meningkatkan penerimaan pajak?

Bisa.

AI dapat meningkatkan produktivitas ekonomi serta membantu pemerintah memperbaiki pelayanan, integrasi data, pengawasan, dan kepatuhan.

Kesimpulan

Pertanyaan “siapa yang akan membayar pajak ketika AI menggantikan pekerja?” tidak mempunyai satu jawaban sederhana.

AI kemungkinan tidak menghapus seluruh pekerjaan. Dampak yang lebih mungkin adalah perubahan tugas, perpindahan profesi, serta pergeseran pembagian pendapatan antara tenaga kerja dan pemilik modal.

Jika pekerjaan manusia berkurang, penerimaan dari PPh Pasal 21 dapat melemah.

Namun pada saat yang sama:

  • Laba perusahaan dapat meningkat.
  • Pendapatan modal bertambah.
  • Nilai perusahaan teknologi naik.
  • Produk dan layanan baru muncul.
  • Konsumsi dapat berubah.
  • Administrasi pajak menjadi lebih efisien.

Tantangan sebenarnya bukan membuat robot membayar pajak.

Tantangannya adalah memastikan bahwa pihak yang memperoleh manfaat ekonomi terbesar dari otomatisasi memberikan kontribusi yang adil kepada masyarakat.

Indonesia tidak perlu langsung menerapkan robot tax atau UBI penuh.

Langkah yang lebih realistis adalah:

  • Memantau perubahan pekerjaan dan basis pajak.
  • Menjaga keseimbangan pemajakan tenaga kerja dan modal.
  • Memperkuat pajak laba serta pendapatan modal.
  • Mencegah pengalihan laba lintas negara.
  • Menggunakan AI untuk meningkatkan kepatuhan.
  • Membangun perlindungan sosial yang adaptif.
  • Membantu pekerja memperoleh keterampilan baru.
  • Memperluas kepemilikan manfaat teknologi.

Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan hanya:

Siapa yang membayar pajak ketika AI melakukan lebih banyak pekerjaan?

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Siapa yang memiliki AI, siapa yang menerima keuntungan produktivitasnya, dan bagaimana manfaat tersebut dibagikan kepada masyarakat?

Jika keuntungan AI tersebar melalui upah, usaha baru, harga yang lebih murah, kepemilikan saham, pajak, dan pelayanan publik, teknologi dapat memperkuat kesejahteraan.

Namun jika manfaatnya hanya terkonsentrasi pada sedikit pemilik teknologi, produktivitas yang lebih tinggi justru dapat berjalan bersamaan dengan ketimpangan, pengangguran, dan melemahnya penerimaan negara.

Masa depan pajak pada era AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi.

Masa depan tersebut akan ditentukan oleh pilihan kebijakan manusia.