Antrean panjang kendaraan diesel di sejumlah SPBU sering dianggap semata-mata sebagai tanda bahwa pasokan Solar subsidi kurang.
Anggapan itu belum tentu sepenuhnya benar.
Antrean dapat muncul karena berbagai faktor, seperti keterlambatan pasokan, pembatasan kuota, peningkatan kebutuhan angkutan, pola distribusi yang tidak seimbang, hingga pembelian berulang oleh kendaraan tertentu.
Di balik persoalan tersebut, terdapat masalah yang lebih mendasar: selisih harga yang besar antara Solar subsidi dan bahan bakar diesel nonsubsidi atau Solar industri.
Semakin besar disparitas harga, semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh seseorang dengan cara mengalihkan Solar subsidi kepada konsumen yang seharusnya membeli bahan bakar dengan harga komersial.
Akibatnya, subsidi yang semula bertujuan membantu masyarakat justru menciptakan komoditas yang sangat menarik untuk diselewengkan.
Fraud dapat terjadi pada berbagai titik, mulai dari konsumen, operator SPBU, awak mobil tangki, pengelola armada, pengepul, hingga pengguna industri yang dengan sengaja membeli BBM dari jalur subsidi.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya bagaimana menangkap pelaku, tetapi:
Apakah desain subsidi Solar saat ini memang menciptakan insentif ekonomi yang terlalu besar untuk melakukan fraud?
Solar subsidi dan Solar industri pada dasarnya melayani pasar yang berbeda
Solar subsidi termasuk Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu atau JBT yang penyediaan, pendistribusian, konsumen pengguna, serta harga jualnya diatur pemerintah.
Dasar utamanya antara lain Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 yang telah beberapa kali diubah, terakhir melalui Peraturan Presiden Nomor 117 Tahun 2021. Regulasi tersebut mengatur penyediaan, pendistribusian, dan harga jual eceran BBM, termasuk penetapan kelompok konsumen yang diperbolehkan menggunakan JBT Minyak Solar.
Solar subsidi pada prinsipnya diperuntukkan bagi kelompok tertentu, seperti sebagian kendaraan angkutan orang dan barang, usaha mikro, usaha pertanian, usaha perikanan, serta pelayanan umum sesuai persyaratan yang berlaku.
Sementara itu, sektor industri, pertambangan, perkebunan skala besar, konstruksi, dan kegiatan komersial tertentu semestinya menggunakan bahan bakar diesel nonsubsidi atau BBM industri dengan harga yang mengikuti struktur biaya dan kondisi pasar.
Masalah muncul ketika kedua jenis konsumen tersebut berada dalam satu wilayah ekonomi yang sama, tetapi menghadapi harga bahan bakar yang berbeda jauh.
Disparitas harga menciptakan peluang arbitrase ilegal
Dalam kegiatan ekonomi normal, arbitrase berarti membeli barang di pasar yang lebih murah lalu menjualnya di pasar yang lebih mahal.
Pada BBM subsidi, tindakan tersebut menjadi ilegal karena harga murah diberikan dengan syarat produk hanya digunakan oleh konsumen yang telah ditetapkan.
Namun secara ekonomi, mekanismenya tetap sama.
Misalnya, seseorang membeli Solar subsidi melalui SPBU, kemudian:
memindahkannya ke jeriken atau tangki modifikasi;
mengumpulkannya dari beberapa kendaraan;
menjualnya kepada pengepul;
atau mengirimkannya kepada industri yang seharusnya membeli Solar komersial.
Selama selisih harga cukup besar untuk menutup biaya transportasi, penyimpanan, pembayaran kepada pihak yang membantu, dan risiko tertangkap, penyalahgunaan akan tetap menarik bagi pelaku.
Inilah sebabnya pengawasan yang semakin ketat tidak selalu mampu menghilangkan fraud. Pelaku akan terus mencari celah baru karena nilai ekonomi yang diperebutkan masih sangat besar.
IMF mencatat bahwa subsidi energi dapat menciptakan insentif penyelundupan dan mengurangi ruang fiskal yang seharusnya dapat digunakan untuk belanja publik yang lebih produktif.
Antrean panjang tidak selalu berarti stok nasional habis
Antrean Biosolar di SPBU dapat terjadi walaupun secara nasional stok masih tersedia.
Ada perbedaan antara:
stok nasional;
stok di terminal;
alokasi kabupaten atau kota;
kuota SPBU;
dan jumlah yang dapat dibeli masing-masing kendaraan.
BPH Migas menetapkan dan mengawasi kuota JBT agar penyaluran dilakukan tepat sasaran dan tepat volume. Kuota tersebut didistribusikan berdasarkan wilayah, badan usaha, serta kelompok konsumen pengguna.
Pada 2025, BPH Migas dan DPR menyatakan kuota nasional secara umum tersedia, tetapi pengawasan tetap perlu diperkuat agar BBM subsidi sampai kepada pihak yang berhak.
Dengan demikian, antrean dapat terjadi karena:
kuota SPBU dibatasi agar cukup sampai akhir periode;
konsumsi lokal melebihi proyeksi;
kendaraan dari wilayah lain ikut mengisi;
terdapat pembelian berulang;
terjadi keterlambatan mobil tangki;
atau sebagian Solar dialihkan dari penggunaan yang semestinya.
BPH Migas juga mencatat konsumsi minyak Solar subsidi pada 2025 meningkat sekitar 4 persen dibandingkan 2024, sehingga pengawasan penyalurannya perlu diperketat.
Di mana fraud Solar subsidi dapat terjadi?
1. Fraud oleh konsumen
Modus yang paling mudah dilakukan adalah membeli Solar subsidi dalam jumlah berulang kemudian menjualnya kembali.
Caranya dapat meliputi:
menggunakan lebih dari satu kendaraan;
mengganti atau menggandakan pelat nomor;
menggunakan tangki kendaraan yang dimodifikasi;
berpindah-pindah SPBU;
menggunakan identitas pihak lain;
membeli menggunakan surat rekomendasi yang tidak sesuai;
atau mengisi kendaraan yang sebenarnya tidak beroperasi untuk kegiatan yang berhak disubsidi.
Dalam skema yang lebih terorganisasi, kendaraan hanya berfungsi sebagai alat pengambil BBM dari SPBU. Solar kemudian dipindahkan ke gudang atau kendaraan pengangkut lain sebelum dijual kepada pengguna industri.
2. Fraud operator atau pengelola SPBU
Operator SPBU dapat menjadi bagian dari penyimpangan apabila dengan sengaja:
melayani kendaraan yang sama secara berulang;
mengabaikan ketidaksesuaian nomor polisi;
mengisi jeriken tanpa dasar yang sah;
memanipulasi transaksi;
bekerja sama dengan pengepul;
atau membiarkan pengisian melebihi batas.
Dalam salah satu kasus yang dipublikasikan pada 2024, penyaluran Biosolar sebuah SPBU dihentikan sementara setelah muncul dugaan penggunaan dua kendaraan dengan pelat nomor sama. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa manipulasi identitas kendaraan dapat menjadi bagian dari penyalahgunaan kuota.
3. Fraud awak mobil tangki
Fraud juga dapat terjadi sebelum BBM sampai ke SPBU.
Risikonya antara lain:
pengurangan muatan;
penyimpangan rute;
penjualan sebagian muatan;
manipulasi segel;
kerja sama dengan penadah;
pemalsuan dokumen serah terima;
atau pengalihan produk ke lokasi yang tidak ditentukan.
Pengawasan armada dengan GPS saja belum cukup. Sistem juga harus menghubungkan posisi kendaraan, waktu tempuh, volume muatan, pembukaan segel, geofencing, hasil ukur terminal, dan penerimaan di SPBU.
4. Fraud pengguna industri
Pengguna industri juga dapat menjadi sumber permintaan terhadap Solar subsidi ilegal.
Selama industri bersedia membeli produk tanpa dokumen resmi karena harganya lebih murah, akan selalu ada pihak yang berusaha mengumpulkan Solar subsidi.
Karena itu, penegakan hukum seharusnya tidak hanya menyasar pengecer kecil atau pengemudi. Penelusuran harus diteruskan kepada:
penyandang dana;
pemilik gudang;
pengelola armada;
pembeli industri;
dan pihak yang menikmati keuntungan terbesar.
Mengapa sistem kuota sulit dikendalikan?
Kuota merupakan cara pemerintah membatasi jumlah subsidi. Namun, sistem kuota memiliki beberapa kelemahan mendasar.
Kuota dihitung berdasarkan estimasi
Kebutuhan suatu daerah dapat berubah karena:
musim panen;
musim melaut;
pembangunan proyek;
pertumbuhan angkutan;
pembukaan kawasan ekonomi;
bencana;
atau perubahan jalur logistik.
Jika proyeksi terlalu rendah, masyarakat yang berhak ikut kesulitan mendapatkan Solar. Jika terlalu tinggi, ruang penyalahgunaannya menjadi lebih besar.
Hak penerima berubah-ubah
Sebuah kendaraan dapat digunakan untuk kegiatan yang berhak mendapat subsidi pada satu waktu, tetapi digunakan untuk kegiatan komersial lain pada waktu berbeda.
Sistem akan kesulitan memastikan tujuan penggunaan BBM setelah kendaraan meninggalkan SPBU.
Data antarlembaga belum selalu terintegrasi
Pengendalian membutuhkan data dari:
kepolisian;
Samsat;
Kementerian Perhubungan;
pemerintah daerah;
dinas pertanian dan perikanan;
badan usaha penyalur;
serta data bantuan sosial dan kepemilikan usaha.
Tanpa data yang terhubung, satu identitas atau kendaraan dapat tetap mempunyai celah untuk memperoleh alokasi yang tidak sesuai.
Pengawasan berfokus pada transaksi, bukan penggunaan akhir
Sistem digital dapat memastikan bahwa suatu nomor polisi membeli jumlah tertentu.
Namun, sistem belum tentu dapat memastikan bahwa Solar tersebut benar-benar digunakan untuk mengangkut bahan pangan, kegiatan pertanian, perikanan, atau pelayanan publik.
Apakah digitalisasi dapat menyelesaikan masalah?
Digitalisasi tetap diperlukan.
Penerapan kode QR, pencatatan nomor polisi, pembatasan volume, CCTV, geofencing, serta analisis pola pembelian dapat memperkecil ruang fraud.
Surat rekomendasi pembelian JBT untuk kelompok seperti petani, nelayan, usaha mikro, dan pelayanan umum juga telah diarahkan menggunakan teknologi informasi agar proses penerbitan dan pengawasannya lebih baik.
Namun, digitalisasi bukan solusi tunggal.
Jika disparitas harga tetap sangat besar, pelaku dapat melakukan:
peminjaman identitas;
penggunaan kendaraan boneka;
pemalsuan dokumen;
pembelian terpecah;
kolusi dengan operator;
atau pemindahan BBM setelah keluar dari SPBU.
Teknologi dapat menaikkan biaya melakukan fraud, tetapi belum tentu menghapus keuntungan ekonominya.
Apakah disparitas harga perlu dikurangi?
Secara teori, memperkecil disparitas harga merupakan salah satu cara paling efektif mengurangi penyalahgunaan.
Ketika selisih harga antara Solar subsidi dan Solar komersial mengecil:
keuntungan menjual kembali ikut turun;
biaya logistik ilegal menjadi kurang menarik;
kemampuan membayar pihak yang berkolusi berkurang;
dan risiko pidana menjadi tidak sebanding dengan keuntungan.
Namun, memperkecil disparitas berarti harga Solar subsidi perlu dinaikkan atau subsidi terhadap produk dikurangi.
Kebijakan tersebut akan berdampak pada:
angkutan umum;
logistik pangan;
nelayan;
petani;
usaha mikro;
dan rumah tangga berpendapatan rendah secara tidak langsung.
Oleh karena itu, penyesuaian harga tidak boleh dilakukan tanpa mekanisme perlindungan pengganti.
Apakah subsidi Solar sebaiknya dihapus sepenuhnya?
Menghapus subsidi harga Solar dan menggantinya dengan bantuan langsung memiliki dasar ekonomi yang cukup kuat.
Dalam sistem subsidi barang, setiap liter yang dibeli memperoleh subsidi yang sama, terlepas dari kondisi ekonomi penggunanya.
Akibatnya, pihak yang mengonsumsi lebih banyak BBM memperoleh nilai subsidi lebih besar.
Sebaliknya, bantuan langsung dapat diarahkan berdasarkan:
tingkat pendapatan;
jenis pekerjaan;
wilayah;
kepemilikan kendaraan;
atau aktivitas ekonomi yang benar-benar perlu dilindungi.
Bank Dunia menyimpulkan bahwa transfer tunai dapat membantu melindungi rumah tangga rentan ketika subsidi energi direformasi. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa bantuan dapat dibedakan antara rumah tangga dan kelompok seperti operator transportasi.
IMF juga mencatat Indonesia pernah menggunakan bantuan langsung tunai untuk membantu mengurangi dampak reformasi subsidi BBM. Program tersebut dinilai membantu mengurangi penolakan sosial, meskipun memerlukan persiapan data, penyaluran, dan pengawasan yang baik.
Namun, penghapusan subsidi Solar secara mendadak juga memiliki risiko besar.
Harga angkutan dapat naik, biaya logistik meningkat, dan inflasi pangan dapat terdorong. Penerima yang belum terdaftar dalam basis data sosial juga dapat kehilangan perlindungan.
Karena itu, reformasi lebih aman dilakukan secara bertahap.
Bantuan tunai saja belum tentu cukup
Bantuan langsung tunai cocok untuk rumah tangga, tetapi kebutuhan Solar subsidi tidak hanya berasal dari rumah tangga.
Terdapat kelompok produktif seperti:
nelayan;
petani;
usaha mikro;
angkutan umum;
angkutan barang tertentu;
dan layanan publik.
Mereka membutuhkan bahan bakar sebagai input produksi, bukan sekadar bantuan konsumsi.
Karena itu, reformasi subsidi Solar sebaiknya menggunakan kombinasi beberapa instrumen.
Alternatif solusi yang lebih realistis
1. Kurangi subsidi pada produk, perbesar subsidi kepada penerima
Arah jangka panjang sebaiknya mengubah subsidi berbasis liter menjadi subsidi berbasis orang, kendaraan, atau kegiatan.
Harga Solar di SPBU dapat dinaikkan secara bertahap mendekati harga keekonomian. Selisihnya diberikan dalam bentuk:
transfer tunai;
saldo transportasi;
kredit bahan bakar;
voucher digital;
atau penggantian biaya berdasarkan aktivitas yang terverifikasi.
Dengan demikian, BBM tidak lagi menjadi barang murah yang bebas dipindahtangankan.
2. Terapkan harga berjenjang
Penerima yang memenuhi syarat dapat membeli sejumlah volume dasar dengan harga khusus.
Pembelian berikutnya dikenai harga lebih tinggi atau harga komersial.
Contohnya:
kuota dasar untuk angkutan umum;
tambahan kuota berdasarkan jarak tempuh;
harga komersial setelah batas terlampaui.
Sistem ini lebih fleksibel daripada larangan total, tetapi memerlukan data kendaraan yang akurat.
3. Berikan subsidi berdasarkan output kegiatan
Untuk sektor tertentu, bantuan dapat dikaitkan dengan hasil atau aktivitas.
Contohnya:
nelayan berdasarkan hari melaut dan ukuran kapal;
petani berdasarkan luas lahan dan musim tanam;
angkutan umum berdasarkan kilometer layanan;
angkutan pangan berdasarkan perjalanan yang terverifikasi.
Subsidi tidak lagi sekadar diberikan karena seseorang membawa surat rekomendasi.
4. Gunakan pembayaran nontunai dan akun khusus
Pembelian subsidi dapat dibatasi melalui akun yang terhubung dengan:
identitas penerima;
kendaraan;
jenis usaha;
lokasi operasi;
dan rekening pembayaran.
Namun, sistem tetap harus menyediakan mekanisme bagi masyarakat di wilayah dengan internet terbatas.
5. Bangun pusat analisis fraud nasional
Data transaksi BBM perlu dianalisis untuk mendeteksi pola seperti:
pembelian pada jam yang sama setiap hari;
pengisian di banyak SPBU;
volume tidak sesuai kapasitas tangki;
nomor polisi yang berpindah terlalu cepat;
kendaraan tidak aktif tetapi terus membeli;
pembelian jauh dari wilayah operasional;
atau hubungan antara beberapa kendaraan dan rekening pembayaran.
Pemeriksaan berbasis anomali lebih efisien daripada mengawasi seluruh kendaraan secara manual.
6. Awasi pembeli industri
Industri perlu diwajibkan membuktikan asal BBM melalui:
faktur;
kontrak pemasok;
dokumen pengangkutan;
volume pemakaian;
dan rekonsiliasi dengan kapasitas produksi.
Pembeli yang menerima BBM subsidi ilegal harus memperoleh sanksi setara atau lebih berat daripada pengangkut lapangan karena mereka menciptakan permintaannya.
7. Pisahkan secara jelas Solar angkutan dan industri
Pemerintah dapat memperketat kewajiban penggunaan bahan bakar komersial untuk:
tambang;
perkebunan besar;
proyek konstruksi;
alat berat;
dan angkutan yang terkait langsung dengan kegiatan industri.
Kendaraan yang melayani usaha besar tidak semestinya menerima subsidi hanya karena bentuk kendaraannya sama dengan angkutan umum.
8. Perkuat pengawasan SPBU dan mobil tangki
Pengawasan perlu menghubungkan data dari terminal sampai konsumen, meliputi:
volume keluar terminal;
muatan mobil tangki;
posisi kendaraan;
segel elektronik;
volume penerimaan SPBU;
stok tangki;
volume penjualan;
dan transaksi per kendaraan.
Selisih abnormal harus menghasilkan peringatan otomatis dan pemeriksaan.
9. Terapkan sanksi hingga penerima manfaat akhir
Sanksi administratif seperti penghentian pasokan SPBU penting, tetapi untuk jaringan terorganisasi proses harus berlanjut ke jalur pidana.
Penanganan juga harus membedakan:
kesalahan administrasi;
kelalaian;
pelanggaran berulang;
dan fraud terorganisasi.
Tujuannya bukan sekadar menghukum operator lapangan, tetapi membongkar rantai keuntungan.
Belajar dari negara lain
Tidak ada satu model yang sempurna bagi semua negara.
Republik Dominika
Republik Dominika mengembangkan program bantuan yang berbeda untuk rumah tangga dan operator transportasi ketika mereformasi subsidi energi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kompensasi tidak harus seragam bagi seluruh penerima.
Indonesia pada reformasi sebelumnya
Indonesia sendiri pernah menggunakan bantuan langsung tunai ketika menaikkan harga BBM.
Pembelajaran utamanya adalah bantuan harus tersedia mendekati waktu kenaikan harga, menggunakan data yang cukup baik, dan mudah dicairkan. Tanpa itu, reformasi dapat kehilangan kepercayaan publik.
Negara yang menggunakan harga otomatis
Sejumlah negara menggunakan mekanisme harga bahan bakar yang mengikuti biaya pasar dengan formula tertentu.
Kelebihannya adalah anggaran subsidi lebih terkendali dan keputusan harga lebih transparan. Kekurangannya, perubahan harga dapat terlalu cepat bagi masyarakat.
Untuk Indonesia, formula otomatis dapat dilengkapi batas kenaikan bulanan dan bantuan adaptif bagi kelompok rentan. Bank Dunia mencatat bahwa berbagai negara menggunakan kombinasi pengaturan harga, subsidi konsumen, dan instrumen perlindungan sosial sesuai kondisi masing-masing.
Model reformasi yang mungkin cocok untuk Indonesia
Indonesia sebaiknya tidak memilih antara dua pilihan ekstrem: mempertahankan subsidi produk selamanya atau menghapusnya sekaligus.
Model transisi dapat dilakukan dalam beberapa tahap.
Tahap pertama: bersihkan data dan transaksi
integrasikan data kendaraan dan penerima;
digitalisasi surat rekomendasi;
wajibkan pembayaran tercatat;
perkuat analisis anomali;
dan tindak pembeli industri ilegal.
Tahap kedua: tetapkan kuota dasar berbasis penerima
Setiap penerima memperoleh kuota berdasarkan kebutuhan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata rata-rata wilayah.
Tahap ketiga: kurangi disparitas harga secara bertahap
Harga Solar subsidi dinaikkan perlahan agar selisih dengan Solar komersial tidak terlalu besar.
Penghematan anggaran langsung dialihkan untuk:
bantuan tunai;
subsidi angkutan umum;
dukungan nelayan dan petani;
serta pengendalian inflasi pangan.
Tahap keempat: ubah menjadi subsidi tertutup
Pada akhirnya, harga di pompa dapat mendekati harga pasar, sementara penerima memperoleh potongan atau penggantian melalui akun khusus.
Dengan sistem tersebut, orang yang tidak berhak tidak dapat menikmati subsidi hanya karena berhasil membeli Solar dari SPBU.
Apakah antrean akan hilang?
Tidak otomatis.
Antrean juga dapat dipengaruhi kapasitas SPBU, jumlah nozzle, jadwal pengiriman, perilaku pengemudi, dan konsentrasi kendaraan berat.
Namun, ketika subsidi tidak lagi melekat penuh pada setiap liter BBM, insentif untuk:
mengantre berulang kali;
menggunakan kendaraan pelangsir;
memodifikasi tangki;
dan menjual kembali Solar
akan jauh berkurang.
Inilah perbedaan antara mengendalikan gejala dan memperbaiki desain kebijakan.
Apakah harga Solar harus langsung disamakan dengan harga industri?
Tidak perlu dilakukan sekaligus.
Penyamaan secara mendadak dapat menimbulkan guncangan biaya logistik dan inflasi.
Yang lebih realistis adalah:
memperkecil selisih harga secara bertahap;
menyiapkan bantuan sebelum kenaikan;
melindungi sektor angkutan publik dan pangan;
menguji sistem pada wilayah terbatas;
lalu memperluasnya setelah data dan mekanisme pengaduan siap.
Reformasi juga harus mempertimbangkan perbedaan kondisi wilayah. Angkutan di daerah terpencil tidak mempunyai pilihan moda yang sama dengan kota besar.
Kesimpulan
Fraud Solar subsidi bukan hanya masalah moral individu atau lemahnya penjagaan SPBU.
Fraud juga merupakan konsekuensi dari desain ekonomi yang memberikan selisih harga besar antara produk subsidi dan produk komersial.
Selama keuntungan dari menjual kembali Solar subsidi jauh lebih besar daripada biaya serta risiko pelanggaran, penyalahgunaan akan terus mencari bentuk baru.
Kuota, kode QR, CCTV, GPS, dan penindakan tetap diperlukan. Namun, seluruh instrumen tersebut lebih banyak mengendalikan jalur distribusi. Mereka belum menghilangkan insentif utama fraud, yaitu disparitas harga.
Karena itu, solusi jangka panjang yang lebih realistis adalah:
memperkecil disparitas harga secara bertahap;
mengalihkan subsidi dari produk kepada penerima;
menggunakan transfer tunai, voucher, atau saldo bahan bakar;
memberikan perlindungan khusus kepada angkutan umum, petani, nelayan, dan usaha mikro;
mengawasi pembeli industri;
serta membangun sistem data yang mampu melacak transaksi dari terminal sampai penggunaan akhir.
Penghapusan subsidi Solar secara mendadak bukan pilihan yang bijak. Namun, mempertahankan sistem subsidi terbuka dengan harga yang terlalu murah juga akan terus menciptakan antrean, kebocoran anggaran, dan fraud.
Subsidi yang baik bukanlah subsidi yang membuat harga semurah mungkin bagi semua orang.
Subsidi yang baik adalah subsidi yang benar-benar diterima oleh mereka yang membutuhkan, dalam jumlah yang wajar, tanpa menciptakan pasar gelap yang lebih menguntungkan daripada kegiatan ekonomi yang legal.


