Pendahuluan
Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam. Di dalamnya terdapat petunjuk tentang iman, ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, keadilan, kehidupan sosial, dan tujuan hidup manusia. Seorang muslim tidak cukup hanya meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci, tetapi juga perlu membaca, memahami, mentadabburi, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam kehidupan modern, tidak sedikit umat Islam yang mulai jauh dari Al-Qur’an. Kesibukan dunia, pengaruh media, arus informasi, gaya hidup, dan lemahnya semangat menuntut ilmu dapat membuat Al-Qur’an hanya menjadi bacaan seremonial, hiasan rumah, atau sesuatu yang jarang disentuh kecuali pada momen tertentu.
Fenomena ini perlu menjadi bahan muhasabah bersama. Bukan untuk menyalahkan orang lain, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana Al-Qur’an menjadi pedoman hidup kita?
Makna Al-Qur’an Menjadi Mahjuran
Dalam QS. Al-Furqan ayat 30, Allah mengabadikan pengaduan Rasulullah ﷺ:
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا
Artinya:
“Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang diabaikan.’”
Ayat ini menjadi peringatan besar bagi umat Islam. Kata mahjuran dapat dipahami sebagai sesuatu yang ditinggalkan, diabaikan, dijauhi, atau tidak dipedulikan. Dalam sebagian penjelasan tafsir, makna tersebut juga berkaitan dengan sikap kaum yang menolak Al-Qur’an dan memberikan tuduhan buruk terhadap kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Bagi seorang muslim, ayat ini seharusnya menumbuhkan rasa takut dan kehati-hatian. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang mengaku mencintai Al-Qur’an, tetapi jarang membacanya, jarang memahaminya, dan jauh dari mengamalkan isinya.
Bentuk-Bentuk Meninggalkan Al-Qur’an
Meninggalkan Al-Qur’an tidak selalu berarti menolak Al-Qur’an secara terang-terangan. Ada banyak bentuk sikap menjauh dari Al-Qur’an yang perlu kita waspadai.
Pertama, jarang membaca Al-Qur’an. Kesibukan dunia sering membuat seseorang merasa tidak memiliki waktu untuk membaca Al-Qur’an, padahal ia bisa menghabiskan waktu lama untuk hal lain.
Kedua, membaca Al-Qur’an tetapi tidak berusaha memahami maknanya. Membaca Al-Qur’an tentu memiliki keutamaan besar, tetapi seorang muslim juga perlu berusaha memahami pesan dan petunjuk yang terkandung di dalamnya.
Ketiga, memahami Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dan dipelajari, tetapi juga untuk dijadikan pedoman dalam akhlak, ibadah, muamalah, dan cara hidup.
Keempat, menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai simbol, bukan sebagai panduan. Al-Qur’an mungkin ada di rumah, dibaca pada acara tertentu, atau dijadikan hiasan, tetapi nilai-nilainya tidak hadir dalam perilaku sehari-hari.
Kelima, merasa cukup dengan pendapat manusia, tradisi, atau tren zaman, tetapi kurang berusaha mengembalikan persoalan hidup kepada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.
Pentingnya Memahami Al-Qur’an dengan Bimbingan yang Benar
Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia. Namun, untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, umat Islam perlu merujuk kepada penjelasan Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta para ulama yang terpercaya.
Pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak boleh hanya berdasarkan perasaan, selera pribadi, potongan ayat tanpa konteks, atau penafsiran yang tidak memiliki dasar ilmu. Karena itu, belajar kepada guru dan ulama yang amanah menjadi sangat penting.
Mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an juga harus dilakukan dengan adab dan hikmah. Dakwah tidak cukup hanya benar secara isi, tetapi juga harus baik dalam cara penyampaian. Kebenaran yang disampaikan dengan kasar dapat membuat orang menjauh. Sebaliknya, nasihat yang disampaikan dengan ilmu, kelembutan, dan kesabaran lebih mudah diterima.
Jangan Menjadikan Al-Qur’an Sekadar Hiasan
Salah satu hal yang perlu kita renungkan adalah bagaimana posisi Al-Qur’an di rumah dan kehidupan kita. Apakah Al-Qur’an hanya tersimpan rapi di rak buku? Apakah ia hanya dibuka saat bulan Ramadan? Apakah ia hanya dibaca saat ada acara tertentu?
Al-Qur’an seharusnya menjadi bacaan harian, sumber ketenangan, pedoman akhlak, dan rujukan dalam mengambil keputusan hidup.
Seorang muslim perlu berusaha menjadikan Al-Qur’an dekat dengan dirinya dan keluarganya. Misalnya dengan membaca Al-Qur’an secara rutin, mengajarkan anak-anak mengenal Al-Qur’an sejak dini, mengikuti kajian tafsir, memperbaiki bacaan, serta berusaha mengamalkan ayat-ayat yang telah dipahami.
Mendekat kepada Al-Qur’an tidak harus langsung dimulai dengan target besar. Bisa dimulai dari langkah kecil, tetapi konsisten.
Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup
Jika manusia jauh dari Al-Qur’an, ia akan mudah kehilangan arah. Perumpamaannya seperti seorang nahkoda yang membawa kapal besar di tengah samudera, tetapi kehilangan alat navigasi. Kapal itu mungkin terlihat kuat dan canggih, tetapi tanpa arah yang benar, ia dapat tersesat.
Begitu pula manusia. Ia mungkin memiliki ilmu dunia, harta, jabatan, dan fasilitas hidup, tetapi jika jauh dari petunjuk Allah, hidupnya dapat kehilangan arah.
Al-Qur’an memberikan petunjuk tentang siapa manusia, untuk apa ia hidup, bagaimana ia harus beribadah, bagaimana ia memperlakukan sesama, bagaimana ia menjaga diri dari kezaliman, dan bagaimana ia mempersiapkan kehidupan akhirat.
Karena itu, kembali kepada Al-Qur’an bukan hanya kebutuhan spiritual, tetapi juga kebutuhan hidup yang mendasar.
Akibat Jauh dari Al-Qur’an
Para ulama menjelaskan bahwa menjauh dari Al-Qur’an dapat membawa banyak dampak buruk bagi hati dan kehidupan seseorang.
Pertama, hati menjadi sempit dan gelisah. Al-Qur’an adalah sumber ketenangan. Membaca dan mentadabburinya dapat melembutkan hati, mengingatkan manusia kepada Allah, dan membantu seseorang menghadapi ujian hidup dengan lebih kuat.
Kedua, seseorang dapat kehilangan petunjuk hidup. Tanpa Al-Qur’an, manusia mudah menjadikan hawa nafsu, tren, atau tekanan sosial sebagai ukuran benar dan salah.
Ketiga, muncul rasa malas dalam beribadah. Semakin lama seseorang jauh dari Al-Qur’an, semakin berat baginya untuk kembali membaca dan mempelajarinya.
Keempat, seseorang menjadi lebih mudah tergoda oleh keburukan. Ketika hati jauh dari dzikir dan Al-Qur’an, maka godaan untuk melakukan maksiat, lalai, dan mengikuti hawa nafsu dapat menjadi lebih kuat.
Kelima, hilangnya kenikmatan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Orang yang terbiasa membaca dan memahami Al-Qur’an akan merasakan kedekatan yang sulit digantikan oleh hiburan dunia. Namun, kenikmatan itu perlu dibangun dengan kebiasaan dan kesungguhan.
Menyeru kepada Al-Qur’an dengan Sabar dan Hikmah
Mengajak diri sendiri, keluarga, dan masyarakat untuk kembali kepada Al-Qur’an adalah tugas mulia. Namun, dakwah ini harus dilakukan dengan sabar, hikmah, dan akhlak yang baik.
Tidak semua orang langsung menerima nasihat. Ada yang belum paham, ada yang belum terbiasa, ada yang masih sibuk dengan urusan dunia, dan ada yang membutuhkan pendekatan yang lebih lembut.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh cepat putus asa dalam berdakwah. Tugas manusia adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik. Adapun hidayah adalah milik Allah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Furqan ayat 31:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
Artinya:
“Seperti itulah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.”
Ayat ini mengingatkan bahwa dakwah memang memiliki tantangan. Namun, seorang muslim harus tetap bersandar kepada Allah, menjaga adab, dan tidak membalas penolakan dengan keburukan.
Langkah Praktis agar Lebih Dekat dengan Al-Qur’an
Agar Al-Qur’an tidak menjadi sesuatu yang diabaikan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Pertama, sediakan waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an setiap hari, meskipun hanya beberapa ayat.
Kedua, pelajari terjemahan dan tafsir dari sumber yang terpercaya agar bacaan tidak hanya berhenti di lisan, tetapi juga masuk ke hati dan pikiran.
Ketiga, ikuti majelis ilmu yang membahas Al-Qur’an dan Sunnah dengan bimbingan guru yang berilmu dan berakhlak.
Keempat, ajarkan Al-Qur’an kepada keluarga, terutama anak-anak, dengan cara yang menyenangkan dan bertahap.
Kelima, amalkan ayat yang telah diketahui, mulai dari hal sederhana seperti menjaga lisan, jujur, sabar, menepati janji, berbakti kepada orang tua, dan menjauhi yang haram.
Keenam, jadikan Al-Qur’an sebagai rujukan ketika menghadapi masalah hidup, bukan hanya sebagai bacaan seremonial.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari Sunnah Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam mengamalkan Al-Qur’an. Karena itu, memahami Al-Qur’an perlu disertai dengan mempelajari hadis dan penjelasan para ulama.
Umat Islam juga perlu merujuk kepada pemahaman generasi terbaik, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan masa kenabian dan paling memahami bagaimana Al-Qur’an diamalkan dalam kehidupan.
Namun, dalam mengajak kepada pemahaman yang benar, umat Islam perlu menjaga ukhuwah. Jangan mudah mencela, jangan mudah menuduh, dan jangan menjadikan perbedaan pendapat dalam masalah cabang sebagai alasan permusuhan.
Kembali kepada Al-Qur’an seharusnya membuat akhlak semakin baik, hati semakin lembut, dan hubungan sesama muslim semakin kuat.
Penutup
Fenomena menjauhnya sebagian umat dari Al-Qur’an adalah bahan muhasabah bagi kita semua. Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi hiasan rumah, bacaan musiman, atau simbol keagamaan tanpa pengaruh nyata dalam kehidupan.
Al-Qur’an adalah petunjuk, cahaya, rahmat, dan sumber ketenangan. Seorang muslim perlu membaca, memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya secara bertahap dan konsisten.
Kita juga perlu saling menasihati agar kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan ilmu, adab, dan kasih sayang. Dakwah kepada Al-Qur’an harus dilakukan dengan hikmah, bukan dengan sikap kasar atau merasa paling benar sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an, mencintai Al-Qur’an, mengamalkan Al-Qur’an, dan mendapatkan keberkahan hidup di dunia serta keselamatan di akhirat.













