Jumat, 26 Desember 2014

DIMANAKAH DZAT ALLAH?


Seringkali kita mendengar pertanyaan yang menggelitik akal dan rasio.

"Dimanakah Allah?"
"Apakah Allah ada di Ka'bah di Mekkah?"
"Masjid adalah rumah Allah, apakah Allah ada di setiap Mesjid?"

Ada juga yang bertanya:
"Kalau Arasy diciptakan Allah, dimanakah Allah tinggal sebelum Arasy ada?"

Mengenai pertanyaan-pertanyaan ini, Allah telah menjelaskan secukupnya melalui Al Quran dan Al Hadis sebatas apa yang kita perlukan, yang kemudian para ulama terdahulu telah memfinalkan pemahaman diantara mereka mengenai hal ini.

Allah telah mengabarkan mengenai persemayaman-NYA kepada kita di beberapa ayat Al Quran:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A'raf [7]:54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. (QS. Yunus [10]:3)

Mengenai seperti apa visualisasi mengenai Arasy Allah, Allah bersabda:

"Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (QS. At-Taubah: 119)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Maksudnya (QS. At-Taubah: 119) adalah bahwa Dia adalah pemilik segala sesuatu yang Penciptanya. Karena Dia pemilik Arasy yang agung yang menaungi seluruh makhluk. Seluruh makhluk di langit dan di bumi serta apa yang terdapat di dalamnya dan di antara keduanya berada di bawah Arasy dan berada di bawah kekuasaan Allah Ta'ala. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya terlaksana terhadap segala sesuatu, Dia adalah pelindung atas segala sesuatu." (Tafsir Ibnu Katsir, 2/405)

Arasy dipikul oleh Malaikat-Malaikat dan Arasy juga dikelilingi Malaikat-Malaikat lainnya. Malaikat-Malaikat pemikul Arasy dan Malaikat-Malaikat di sekelilingnya senantiasa bertasbih kepada Allah.

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".(QS. Az Zumar[39]:75)

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,(QS. Al Mu'min [40]:7)

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (QS. Al Haqqoh [69]:17)

"Aku telah diizinkan untuk menyampaikan tentang para malaikat Allah pembawa Arasy. Sesungguhnya antara daun telinga dan lehernya berjarak tujuh ratus tahun." (HR. Abu Daud, no. 4727)

Mengenai seperti apakah gambaran Arasy secara lebih detail tidaklah pantas bagi kita untuk mempertanyakannya. Hal ini berkenaan dengan kondisi akal dan nalar kita yang sangatlah terbatas dalam mempelajari yang ghaib. Termasuk bagaimana keadaan Allah beristiwa’ di atas Arasy-NYA, apakah duduk, berdiri, mengambang, atau menempel, semua ini bukanlah sesuatu yang esensial untuk didiskusikan. Yang perlu kita lakukan adalah mengimani bahwa Allah bersemayam di atas Arasy-NYA yang sungguh sangat besar dan jauhnya tak terkira. Kemudian perlu kita renungkan betapa kecilnya kita yang tinggal di bumi ini. Sehingga tidaklah pantas kita menyombongkan diri sedikitpun dihadapan Allah.

Selanjutnya mengenai pertanyaan mengenai "Dimanakah Allah sebelum Arasy diciptakan?" adalah juga termasuk hal-hal sangat ghaib yang tidak diceritakan dalam Kitab-Nya. Kalaupun dipikirkan apa perlunya? Singkat kata, dimana kedudukan Allah sebelum menciptakan langit dan Arasy, semua itu adalah keghaiban belaka. Sama ghaibnya dengan bagaimana keadaan Allah beristiwa’ di atas Arasy. Kita tidak dibebani kewajiban untuk menelusuri masalah-masalah seperti itu. Akal kita tak akan sampai pada kebenaran hakiki dalam hal seperti ini, kecuali kelak kita bisa tanyakan semua itu kepada Allah Ta’ala di Akhirat nanti. Tentunya dengan syarat, kita harus masuk syurga dulu.

Selain permasalahan di atas sesuatu yang wajib juga kita imani adalah aktivitas Allah yang senantiasa turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah:

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”. HR. Bukhari: 1145 dan Muslim: 758.

Mengenai pertanyaan di bagian bumi manakah Allah turun pada malam hari berhubung adanya perbedaan waktu, hal ini juga adalah sesuatu yang Ghaib yang upaya mengetahuinya bukan sesuatu yang esensial dalam kegiatan ibadah kita. Yang penting kita mengetahui dan meyakini Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan kemudian memperbanyak ibadah pada waktu-waktu mustajab ini.

Jadi tidaklah benar jika ada orang yang mengatakan Allah ada dimana-mana. Sebagai orang yang beriman kita wajib mengimani bahwa Allah bersemayam di Arasy dan kemudian mengatur segala urusan-urusan mahluk-mahluk-Nya dan dibantu Malaikat-MalaikatNya yang senantiasa patuh kepada Allah. Allah juga turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir untuk menunjukkan betapa mustajabnya waktu-waktu ini bagi manusia beriman yang sedang beribadah. Selebihnya adalah hak prerogatif Allah untuk melakukan apa yang dikehendaki-NYA, karena bagi Allah segala sesuatunya sangatlah mudah dilakukan melalui kehendak-NYA, "Kun fayakun" (jadilah maka jadilah).

Suatu yang patut kita renungkan bersama mengenai masalah ini, mengapa tidak kita gunakan saja daya pikir kita tersebut untuk mempelajari Al Quran dan As Sunnah serta mengamalkannya. Bukankah masih banyak kitab tafsir, kitab fiqih, kitab hadis, kitab sejarah Para Nabi dan Rasul, kitab sejarah Para Sahabat dimana semuanya perlu kita pelajari. Kita bisa gunakan juga daya pikir kita untuk menghafalkan Al Quran dan Al Hadis atau setidaknya kita habiskan tenaga dan waktu kita untuk sekedar membaca Al Quran. Pada kesempatan lain kita bisa juga memberdayakan akal dan pikiran kita untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka membuka jalan-jalan hikmah sehingga kemudian dapat memperkuat keimanan kita. Dan masih banyak lagi bentuk amalan-amalan lain yang telah jelas dan nyata tuntunannya dari Nabi Muhammad.

Di antara perkara ghaib itu ada yang Allah ajarkan, dan ada pula yang tidak Dia ajarkan. Janganlah kita membuat syarat-syarat dalam keimanan kita. Misalnya, kalau masuk akal diimani, kalau tak masuk akal ditolak. Janganlah demikian, sebab hal itu dapat merusak keimanan kita. Dampak paling fatal kita akan terjebak dalam pemikiran liberal yang mengandalkan rasio semata. Agama Islam ini adalah agama wahyu, bukanlah agama yang diciptakan oleh akal dan pemikiran manusia.

Rasullulah berpesan:
Wahai kaum muslim. cukupkanlah diri kalian dengan apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kalian mendapat binasa karena mereka banyak bertanya dan suka menyalahi para Nabi mereka. Karena itu, bila aku perintahkan kalian mengerjakan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian. Dan apabila aku larang kalian mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah. (HR. Muslim)

3 komentar:

  1. Alloh swt tidak butuh tempat, buktinya ketika ruang/tempat belum ada Dia sudah ada….tapi ketika tercipta ruang/tempat (dengan terciptanya Arsy) maka dengan sendirinya Dia swt memiliki posisi berkaitan ruang/tempat itu, yaitu Dia swt diluar ruang/tempat itu…dan posisi itu di atas Arsy….sebab dengan Dia swt berada di luar ruang maka dengan sendirinya Dia swt tidak menempati ruang/tempat, jadi tetap masih bisa dikatakan Dia swt tidak butuh ruang/tempat…..nah kalau sekarang ada pertanyaan “dimana Alloh swt ketika Arsy (ruang/tempat) belum ada?”….ada jawabannya di dalam al-hadits yakni ” fi amaa’, laisa fauqohu hawaa’ wa laisa tahtahu hawaa’ ” artinya ” di amaa’, tidak ada ruang di atas-Nya maupun di bawah-Nya “…..jadi amaa’ adalah kondisi tidak ada ruang…..


    BalasHapus
  2. Alloh swt tidak butuh tempat, buktinya ketika ruang/tempat belum ada Dia sudah ada….tapi ketika tercipta ruang/tempat (dengan terciptanya Arsy) maka dengan sendirinya Dia swt memiliki posisi berkaitan ruang/tempat itu, yaitu Dia swt diluar ruang/tempat itu…dan posisi itu di atas Arsy….sebab dengan Dia swt berada di luar ruang maka dengan sendirinya Dia swt tidak menempati ruang/tempat, jadi tetap masih bisa dikatakan Dia swt tidak butuh ruang/tempat…..nah kalau sekarang ada pertanyaan “dimana Alloh swt ketika Arsy (ruang/tempat) belum ada?”….ada jawabannya di dalam al-hadits yakni ” fi amaa’, laisa fauqohu hawaa’ wa laisa tahtahu hawaa’ ” artinya ” di amaa’, tidak ada ruang di atas-Nya maupun di bawah-Nya “…..jadi amaa’ adalah kondisi tidak ada ruang…..

    BalasHapus
  3. Monggo aja bos dilakukan studi banding antara Pemahaman Dzat Allah menurut versi 4 imam Mahzab (Imam Syafi'i, Imam Hambali, Imam Malik, Imam Abu Hanifa) VS Abu hasan Al Asyari

    BalasHapus

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini. Jangan malu - malu!