Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence berkembang sangat cepat.
Berbagai layanan AI kini digunakan untuk membuat artikel, menganalisis data, menerjemahkan dokumen, menghasilkan gambar, membantu pemrograman, hingga mendukung penelitian ilmiah.
Namun seluruh layanan tersebut tidak berjalan di ruang virtual yang bebas sumber daya.
Di balik aplikasi AI terdapat pusat data yang berisi:
- Server komputasi.
- GPU dan akselerator AI.
- Perangkat penyimpanan data.
- Sistem jaringan.
- Pendingin.
- Catu daya cadangan.
- Sistem keamanan dan pemantauan.
Peralatan tersebut membutuhkan listrik selama 24 jam. Semakin besar model dan jumlah pengguna, semakin besar pula kebutuhan komputasinya.
Lalu muncul pertanyaan penting:
Bagaimana jika seluruh pusat data AI di dunia menggunakan energi terbarukan?
Secara teori, hal itu mungkin dilakukan. Namun terdapat perbedaan besar antara membeli energi terbarukan dalam jumlah yang setara dengan konsumsi tahunan dan mengoperasikan pusat data menggunakan listrik terbarukan setiap jam sepanjang tahun.
Pilihan kedua jauh lebih sulit karena data center membutuhkan listrik stabil, sedangkan produksi tenaga surya dan angin berubah mengikuti waktu serta cuaca.
Data Center AI Menjadi Sumber Permintaan Listrik Baru
Data center bukan konsumen listrik terbesar dunia. Industri, bangunan, pendingin udara, dan transportasi masih menggunakan energi jauh lebih besar secara keseluruhan.
Namun konsumsi listrik data center tumbuh cepat dan terkonsentrasi di lokasi tertentu.
International Energy Agency memperkirakan konsumsi listrik pusat data global dapat meningkat menjadi sekitar 945 terawatt-hour pada 2030, hampir dua kali lipat dibandingkan 2024. Pertumbuhannya diperkirakan sekitar 15 persen per tahun dan akan mewakili sedikit di bawah 3 persen konsumsi listrik dunia pada 2030.
Angka tersebut mencakup seluruh pusat data, bukan hanya fasilitas yang khusus digunakan untuk AI.
Pemisahan yang tepat antara konsumsi AI, cloud biasa, penyimpanan data, video, dan layanan digital lain memang sulit dilakukan. Banyak pusat data menjalankan berbagai jenis beban komputasi secara bersamaan.
Namun IEA memperkirakan konsumsi listrik server terakselerasi, yang pertumbuhannya terutama didorong oleh penggunaan AI, meningkat sekitar 30 persen per tahun hingga 2030. Kelompok server tersebut diperkirakan menyumbang hampir setengah dari tambahan konsumsi listrik pusat data global.
Mengapa AI Mengonsumsi Banyak Listrik?
Penggunaan energi AI dapat dibagi menjadi dua kegiatan utama.
Pelatihan model
Pelatihan atau training dilakukan untuk membangun kemampuan model.
Prosesnya dapat melibatkan banyak GPU atau akselerator komputasi yang bekerja secara paralel dalam waktu panjang. Energi digunakan untuk:
- Memproses data.
- Melakukan perhitungan matematis.
- Memindahkan data antarserver.
- Menyimpan hasil pelatihan.
- Mendinginkan peralatan.
Tidak semua pelatihan model selalu membutuhkan fasilitas raksasa. Besarnya energi sangat bergantung pada ukuran model, jumlah data, jenis chip, efisiensi perangkat lunak, dan durasi pelatihan.
Inferensi
Inferensi adalah proses ketika model yang telah dilatih melayani permintaan pengguna.
Contohnya ketika pengguna meminta AI untuk:
- Menjawab pertanyaan.
- Meringkas dokumen.
- Membuat gambar.
- Menghasilkan video.
- Menganalisis data.
- Menulis kode.
Satu permintaan mungkin menggunakan energi relatif kecil. Namun ketika jumlah pengguna mencapai jutaan atau miliaran permintaan, konsumsi inferensi secara keseluruhan dapat menjadi sangat besar.
Listrik Tidak Hanya Digunakan oleh Chip AI
Chip komputasi bukan satu-satunya pengguna listrik di dalam pusat data.
Energi juga digunakan untuk:
- Pendinginan server.
- Pompa dan kipas.
- Transformator.
- Uninterruptible Power Supply atau UPS.
- Penyimpanan data.
- Peralatan jaringan.
- Penerangan dan keamanan.
- Kehilangan energi dalam konversi listrik.
Efisiensi fasilitas umumnya diukur menggunakan Power Usage Effectiveness atau PUE.
Secara sederhana:
PUE = total energi fasilitas dibagi energi yang digunakan peralatan teknologi informasi.
Nilai PUE yang semakin mendekati 1 menunjukkan bahwa semakin sedikit energi tambahan yang digunakan untuk pendinginan dan fasilitas pendukung.
Membangun pembangkit baru bukan satu-satunya cara memenuhi pertumbuhan AI. Mengurangi energi per komputasi melalui chip, model, perangkat lunak, pendinginan, dan desain fasilitas yang lebih efisien dapat menekan kebutuhan pembangkit serta jaringan baru.
Dari Mana Listrik Data Center Berasal Saat Ini?
Secara fisik, sebagian besar pusat data masih mengambil listrik dari jaringan setempat.
Bauran energinya mengikuti pembangkit yang beroperasi pada jaringan tersebut.
IEA memperkirakan bahwa pada 2024 sekitar:
- 30 persen listrik data center global berasal dari batu bara.
- 27 persen berasal dari energi terbarukan.
- 26 persen berasal dari gas alam.
- 15 persen berasal dari nuklir.
Angka tersebut menggambarkan listrik yang secara fisik memasok jaringan tempat data center beroperasi, bukan komposisi kontrak energi yang diumumkan perusahaan.
Sampai 2030, energi terbarukan diperkirakan memenuhi hampir setengah dari tambahan kebutuhan listrik pusat data. Namun gas dan batu bara secara bersama-sama masih berpotensi memasok lebih dari 40 persen pertumbuhan kebutuhan tersebut dalam jangka pendek.
Artinya, pertumbuhan AI tidak otomatis identik dengan pertumbuhan energi bersih.
Hasil akhirnya akan ditentukan oleh seberapa cepat pembangkit, jaringan, penyimpanan, dan mekanisme pengadaan listrik rendah karbon dapat dikembangkan.
Apa Arti “100 Persen Energi Terbarukan”?
Istilah 100 persen energi terbarukan dapat memiliki beberapa pengertian.
1. Energi terbarukan di lokasi
Data center menggunakan pembangkit yang dibangun di dalam atau dekat kompleks, seperti:
- Panel surya atap.
- PLTS lahan.
- Turbin angin.
- Biogas.
- Panas bumi lokal.
Model ini memberikan hubungan fisik yang lebih jelas.
Namun pembangkit di lokasi biasanya tidak cukup melayani seluruh kebutuhan pusat data, terutama pada fasilitas berskala ratusan megawatt.
2. Kontrak pembelian energi
Operator dapat membuat Power Purchase Agreement atau PPA dengan pengembang energi terbarukan.
Pengembang membangun pembangkit surya, angin, air, atau panas bumi. Listriknya masuk ke jaringan, sementara data center membeli energi atau atribut lingkungannya berdasarkan kontrak.
PPA dapat membantu memberikan kepastian pendapatan bagi proyek pembangkit baru.
3. Sertifikat energi terbarukan
Perusahaan dapat membeli sertifikat yang mewakili produksi listrik terbarukan dalam jumlah tertentu.
Namun sertifikat tidak selalu berarti pusat data menerima elektron dari pembangkit tersebut secara langsung.
4. Pencocokan tahunan
Perusahaan membeli energi terbarukan dalam jumlah yang setara dengan seluruh konsumsi listrik tahunannya.
Misalnya, pusat data mengonsumsi 1 terawatt-hour selama setahun dan perusahaan membeli produksi energi terbarukan sebesar 1 terawatt-hour.
Secara akuntansi, jumlah tahunan seimbang.
Masalahnya, tenaga surya mungkin diproduksi pada siang hari di satu wilayah, sedangkan data center tetap menggunakan listrik jaringan berbasis fosil pada malam hari atau di lokasi lain.
5. Energi bersih 24/7
Pendekatan paling ketat adalah mencocokkan konsumsi listrik dengan produksi rendah karbon:
- Pada lokasi atau jaringan yang relevan.
- Dalam setiap jam.
- Sepanjang tahun.
Google pernah menjelaskan bahwa pencocokan energi terbarukan tahunan tidak berarti pusat datanya menggunakan energi terbarukan setiap saat. Ketika produksi surya dan angin tidak tersedia, fasilitas masih dapat mengambil listrik dari pembangkit lain pada jaringan. Karena itu, perusahaan menargetkan penggunaan energi bebas karbon setiap jam atau 24/7 carbon-free energy.
Microsoft pada Februari 2026 mengumumkan telah mencapai pencocokan 100 persen konsumsi listrik tahunan globalnya dengan energi terbarukan. Pencapaian tersebut penting, tetapi konsepnya tetap berbeda dari pembuktian bahwa setiap fasilitas secara fisik menggunakan energi terbarukan setiap jam.
Mengapa Pencocokan 24 Jam Jauh Lebih Sulit?
Kebutuhan pusat data relatif stabil, sedangkan sebagian energi terbarukan bersifat berubah-ubah.
Tenaga surya
Produksi tertinggi terjadi pada siang hari dan turun hingga nol pada malam hari.
Awan, hujan, debu, bayangan, dan musim juga memengaruhi produksinya.
Tenaga angin
Angin dapat menghasilkan listrik pada siang atau malam hari, tetapi kecepatannya berubah.
Dalam periode tertentu, beberapa wilayah dapat mengalami produksi rendah selama beberapa hari.
Tenaga air
PLTA dapat menghasilkan energi yang stabil atau fleksibel, tetapi dipengaruhi curah hujan, kapasitas waduk, kebutuhan air, serta kondisi sungai.
Panas bumi
Panas bumi dapat beroperasi hampir sepanjang waktu dan tidak bergantung pada cuaca harian.
Namun pengembangannya membutuhkan lokasi dengan sumber panas bumi, pengeboran, perizinan, eksplorasi, serta waktu pembangunan yang relatif panjang.
Bioenergi
Bioenergi dapat dikendalikan sesuai kebutuhan, tetapi memerlukan pasokan bahan baku berkelanjutan dan pengendalian emisi yang baik.
Karena karakteristiknya berbeda, pusat data yang ingin menggunakan energi terbarukan 24 jam membutuhkan portofolio, bukan satu teknologi saja.
Apakah Panel Surya Saja Sudah Cukup?
Untuk sebagian kebutuhan siang hari, panel surya sangat menarik karena dapat dibangun relatif cepat dan modular.
Namun PLTS saja tidak dapat menjamin listrik 24 jam.
Pusat data masih membutuhkan kombinasi:
- Baterai.
- Jaringan listrik.
- Pembangkit terbarukan lain.
- Pengelolaan permintaan.
- Cadangan darurat.
- Kontrak pasokan dari beberapa lokasi.
Membangun PLTS berkapasitas sama dengan beban data center juga belum tentu cukup.
Sebagai ilustrasi, fasilitas dengan beban konstan 100 MW membutuhkan energi sekitar:
100 MW × 24 jam = 2.400 MWh per hari.
PLTS 100 MW tidak menghasilkan 100 MW selama 24 jam. Produksinya hanya terjadi ketika radiasi matahari tersedia.
Karena itu, kapasitas PLTS perlu dibangun lebih besar daripada beban rata-rata, disertai penyimpanan atau sumber listrik lain.
Bisakah Baterai Menyelesaikan Masalah?
Baterai merupakan bagian penting dari solusi, tetapi bukan satu-satunya jawaban.
Baterai dapat digunakan untuk:
- Menjaga kualitas daya.
- Menjembatani gangguan singkat.
- Memindahkan energi surya dari siang ke malam.
- Mengurangi beban puncak.
- Mendukung layanan jaringan.
- Membantu operasi darurat.
Namun kebutuhan penyimpanan akan menjadi sangat besar apabila baterai harus menopang seluruh data center selama beberapa malam atau saat produksi energi terbarukan rendah selama berhari-hari.
Biayanya dipengaruhi oleh:
- Daya dalam megawatt.
- Kapasitas energi dalam megawatt-hour.
- Lama penyimpanan.
- Jumlah siklus.
- Degradasi.
- Sistem pendinginan.
- Penggantian baterai.
- Keselamatan dan perlindungan kebakaran.
Baterai lithium-ion saat ini banyak digunakan untuk penyimpanan beberapa jam. Untuk menghadapi kekurangan energi selama berhari-hari atau perbedaan musim, sistem dapat membutuhkan teknologi penyimpanan berdurasi panjang, PLTA pompa, hidrogen, panas, atau dukungan jaringan antardaerah.
Apakah Dunia Memiliki Cukup Mineral untuk Baterai?
Pertumbuhan baterai meningkatkan kebutuhan terhadap:
- Litium.
- Nikel.
- Grafit.
- Tembaga.
- Aluminium.
- Fosfat.
- Mineral lain sesuai jenis kimia baterai.
Namun tidak semua baterai menggunakan nikel dan kobalt.
Baterai lithium iron phosphate atau LFP, misalnya, tidak menggunakan nikel dan kobalt pada material katodanya. Untuk penyimpanan stasioner, terdapat pula alternatif seperti baterai aliran, sodium-ion, penyimpanan termal, dan sistem mekanis.
Karena itu, pertumbuhan penyimpanan energi tidak selalu berarti seluruh fasilitas harus menggunakan baterai berbasis nikel.
Indonesia tetap memiliki posisi penting dalam industri mineral dan baterai. Namun nilai tambah tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah mineral yang ditambang.
Indikator lain yang perlu diperhatikan adalah:
- Energi yang digunakan smelter.
- Emisi produksi.
- Pengelolaan limbah.
- Reklamasi tambang.
- Kualitas air.
- Tingkat daur ulang.
- Nilai tambah teknologi di dalam negeri.
Dapatkah Beban AI Mengikuti Ketersediaan Energi?
Sebagian pekerjaan komputasi AI dapat dibuat lebih fleksibel.
Pelatihan model tertentu, pengolahan data nonmendesak, dan pekerjaan komputasi batch dapat dijadwalkan ketika:
- Energi surya sedang tinggi.
- Angin sedang kuat.
- Harga listrik rendah.
- Emisi jaringan sedang rendah.
- Kapasitas jaringan sedang longgar.
Pekerjaan juga dapat dipindahkan ke pusat data lain apabila konektivitas dan aturan penyimpanan data memungkinkan.
Google, misalnya, telah mengembangkan pendekatan untuk menggeser pekerjaan komputasi yang fleksibel menuju waktu ketika listrik jaringan lebih bersih.
Namun tidak semua beban dapat ditunda.
Layanan inferensi yang harus menjawab pengguna secara langsung mempunyai batas latensi. Sistem perbankan, kesehatan, komunikasi, keamanan, dan layanan penting lainnya juga harus tersedia saat dibutuhkan.
Model yang realistis adalah:
- Beban fleksibel mengikuti energi.
- Beban waktu nyata tetap memperoleh pasokan andal.
- Seluruh fasilitas meningkatkan efisiensi.
Jika Semua Data Center AI Beralih ke Energi Terbarukan, Apa Dampaknya?
1. Emisi operasional dapat turun signifikan
Penggunaan energi terbarukan akan mengurangi emisi dari listrik yang selama ini berasal dari batu bara dan gas.
Namun hasilnya bergantung pada kualitas pengadaannya.
Membeli sertifikat dari pembangkit lama tidak memberikan dampak yang sama dengan mendanai pembangkit baru yang benar-benar menambah pasokan bersih.
2. Investasi energi terbarukan meningkat
Perusahaan teknologi memiliki kebutuhan listrik besar dan kemampuan membuat kontrak jangka panjang.
PPA data center dapat membantu pembangkit baru memperoleh pembiayaan.
Permintaan tersebut dapat mempercepat pembangunan:
- PLTS.
- PLTB.
- PLTA.
- Panas bumi.
- Bioenergi.
- Baterai.
- Jaringan transmisi.
3. Kapasitas pembangkit harus dibangun lebih besar
Karena surya dan angin tidak selalu tersedia, sistem mungkin membutuhkan kapasitas terpasang yang jauh lebih besar daripada beban rata-rata pusat data.
Sebagian produksi akan digunakan langsung, sebagian disimpan, dan sebagian dikirim kepada konsumen lain.
4. Jaringan menjadi semakin penting
Energi terbarukan terbaik mungkin berada jauh dari pusat konsumsi.
Data center biasanya memilih lokasi berdasarkan:
- Konektivitas serat optik.
- Latensi.
- Keamanan.
- Ketersediaan lahan.
- Risiko bencana.
- Iklim.
- Pajak dan regulasi.
- Kedekatan dengan pengguna.
Lokasi tersebut belum tentu berdekatan dengan pembangkit surya, air, angin, atau panas bumi.
Karena itu, transmisi dan interkoneksi diperlukan untuk menghubungkan sumber listrik dengan pusat data.
5. Harga listrik lokal dapat terpengaruh
Data center dapat membantu membiayai pembangkit dan jaringan baru.
Namun beban besar yang masuk lebih cepat daripada pembangunan pasokan juga dapat:
- Memperketat kapasitas jaringan.
- Meningkatkan kebutuhan pembangkit fosil.
- Menunda sambungan konsumen lain.
- Menimbulkan biaya penguatan jaringan.
- Meningkatkan tekanan terhadap tarif.
Kebijakan harus memastikan biaya tambahan tidak seluruhnya dibebankan kepada rumah tangga dan industri yang sudah ada.
6. Persaingan mendapatkan energi bersih dapat meningkat
Pusat data bukan satu-satunya sektor yang membutuhkan listrik bersih.
Industri baja, semen, pupuk, kendaraan listrik, rumah tangga, transportasi, dan manufaktur juga akan mengalami elektrifikasi.
Jika perusahaan teknologi menguasai sebagian besar kontrak energi bersih, sektor lain dapat kesulitan memperoleh pasokan rendah karbon.
Solusinya bukan membatasi data center, melainkan mempercepat penambahan pembangkit serta jaringan untuk seluruh sistem.
Energi Terbarukan Belum Menyelesaikan Seluruh Dampak Data Center
Menggunakan listrik terbarukan tidak otomatis membuat pusat data bebas dampak lingkungan.
Masih terdapat emisi dan penggunaan sumber daya dari:
- Produksi chip.
- Pembangunan gedung.
- Baja dan beton.
- Baterai.
- Generator cadangan.
- Refrigeran.
- Peralatan jaringan.
- Penggantian server.
- Limbah elektronik.
- Transportasi.
- Penggunaan air.
Data center juga membutuhkan pendinginan.
Sebagian fasilitas menggunakan pendinginan udara. Sebagian lainnya menggunakan air atau sistem cairan tertutup. Kebutuhan aktualnya sangat dipengaruhi desain, iklim, jenis chip, teknologi pendinginan, serta sumber listrik.
Karena itu, pusat data hijau harus mengukur lebih dari sekadar energi terbarukan.
Indikatornya perlu mencakup:
- PUE untuk efisiensi energi.
- WUE untuk penggunaan air.
- Emisi operasional.
- Emisi pembangunan dan perangkat.
- Persentase listrik bersih per jam.
- Limbah elektronik.
- Pemanfaatan kembali panas.
- Umur peralatan.
Apakah Panas Bumi Cocok untuk Data Center?
Panas bumi memiliki karakteristik yang menarik bagi pusat data karena:
- Dapat beroperasi siang dan malam.
- Tidak terlalu bergantung pada cuaca.
- Memiliki emisi operasional relatif rendah.
- Dapat menyediakan pasokan stabil.
Departemen Energi Amerika Serikat juga menilai panas bumi berpotensi membantu memenuhi kebutuhan pusat data yang membutuhkan pasokan andal dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, panas bumi merupakan salah satu keunggulan strategis.
Pada akhir 2025, kapasitas panas bumi Indonesia mencapai sekitar 2.744 MW. Namun angka tersebut masih jauh lebih kecil daripada keseluruhan potensi dan kebutuhan listrik nasional.
Panas bumi juga tidak dapat dibangun dalam waktu sangat singkat. Tahap eksplorasi memiliki risiko, sedangkan lokasi sumbernya belum tentu dekat dengan pusat konektivitas digital.
Pilihan yang lebih realistis adalah menyalurkan listrik panas bumi melalui jaringan dan kontrak pengadaan, bukan selalu membangun data center tepat di samping sumur panas bumi.
Bagaimana dengan PLTA?
Tenaga air dapat menyediakan listrik rendah karbon yang stabil dan fleksibel.
PLTA dengan waduk dapat membantu mengimbangi perubahan produksi surya dan angin. PLTA pompa bahkan dapat berfungsi sebagai sistem penyimpanan energi.
Namun setiap proyek harus memperhatikan:
- Ekosistem sungai.
- Masyarakat sekitar.
- Sedimentasi.
- Ketersediaan air.
- Perubahan curah hujan.
- Risiko bendungan.
- Emisi waduk tertentu.
Bagi data center, PLTA menarik karena dapat menyediakan energi besar. Namun ketergantungan hanya pada tenaga air juga berisiko ketika terjadi kekeringan berkepanjangan.
Apakah Nuklir Termasuk Energi Terbarukan?
Nuklir bukan energi terbarukan dalam definisi umum karena menggunakan bahan bakar mineral yang terbatas.
Namun nuklir merupakan sumber listrik rendah karbon dan dapat beroperasi sepanjang hari.
Karena itu, perlu dibedakan antara dua target:
Target 100 persen energi terbarukan
Sumbernya dapat berupa:
- Surya.
- Angin.
- Air.
- Panas bumi.
- Bioenergi berkelanjutan.
Nuklir tidak dimasukkan.
Target 100 persen listrik bebas karbon
Selain energi terbarukan, portofolionya dapat memasukkan:
- Nuklir.
- Penyimpanan.
- Sumber fosil dengan penangkapan karbon yang terbukti efektif.
Perusahaan teknologi mulai melirik nuklir karena kebutuhan listrik AI yang besar dan stabil.
Google menandatangani kesepakatan untuk membeli hingga 500 MW listrik dari beberapa reaktor modular yang direncanakan Kairos Power, dengan unit pertama ditargetkan beroperasi pada awal dekade 2030-an.
Microsoft juga membuat perjanjian jangka panjang yang mendukung rencana pengoperasian kembali Unit 1 Three Mile Island—yang kemudian dinamai Crane Clean Energy Center—untuk memasok listrik bebas karbon ke jaringan regional.
Namun SMR belum menjadi solusi komersial yang tersedia luas saat ini. Proyek masih menghadapi perizinan, biaya, konstruksi, penerimaan masyarakat, rantai pasok, dan pengelolaan limbah radioaktif.
Apakah 100 Persen Energi Terbarukan Secara Teknis Mungkin?
Pada basis tahunan, banyak perusahaan sudah dapat membeli produksi energi terbarukan dalam jumlah yang setara dengan konsumsinya.
Pada basis fisik setiap jam, jawabannya lebih kompleks.
Data center dapat mendekati 100 persen energi terbarukan 24/7 jika didukung oleh kombinasi:
- Surya.
- Angin.
- Tenaga air.
- Panas bumi.
- Bioenergi yang berkelanjutan.
- Baterai.
- Penyimpanan jangka panjang.
- Jaringan antardaerah.
- Pengelolaan beban.
- Kapasitas berlebih.
- Pasokan cadangan.
Namun kombinasi tersebut belum tersedia pada harga, skala, dan lokasi yang sama di seluruh dunia.
IEA memperkirakan energi terbarukan akan menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi pasokan listrik data center. Meski demikian, pembangkit fosil masih berperan besar setidaknya hingga 2030 karena pertumbuhan data center berlangsung lebih cepat daripada pembangunan sebagian infrastruktur energi.
Jadi, skenario global 100 persen terbarukan mungkin secara teknis, tetapi memerlukan perubahan sistem listrik yang jauh lebih besar daripada sekadar memasang panel surya di atap pusat data.
Efisiensi Harus Mendahului Penambahan Pembangkit
Kebutuhan listrik AI tidak ditentukan hanya oleh jumlah pengguna.
Efisiensi dapat meningkat melalui:
- Chip yang lebih hemat energi.
- Model yang lebih kecil untuk tugas tertentu.
- Kuantisasi dan kompresi.
- Penggunaan kembali model.
- Pengelolaan beban.
- Pendinginan cair.
- Temperatur operasi yang dioptimalkan.
- Penggunaan server yang lebih tinggi.
- Penghapusan data yang tidak diperlukan.
- Pemanfaatan panas buang.
Google melaporkan bahwa meskipun permintaan listrik pusat datanya meningkat 27 persen pada 2024, perusahaan juga meningkatkan efisiensi chip, model, dan infrastruktur serta menambah kontrak energi bersih baru.
Data tersebut berasal dari laporan perusahaan dan perlu dibaca sebagai pelaporan operasionalnya sendiri. Namun prinsip umumnya tetap relevan: pertumbuhan AI perlu disertai target penurunan energi per unit komputasi.
Peluang Indonesia Menjadi Hub Data Center Hijau
Indonesia memiliki beberapa modal penting:
- Pasar digital besar.
- Lokasi strategis di Asia Tenggara.
- Jaringan kabel laut internasional.
- Potensi energi surya.
- Panas bumi.
- Tenaga air.
- Bioenergi.
- Industri mineral dan baterai.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan kapasitas pusat data per kapita dari baseline 0,74 watt per kapita pada 2024 menjadi 6,87 watt per kapita pada 2029. Target tersebut tercantum dalam rencana strategis Kementerian Komunikasi dan Digital 2025–2029.
Komdigi dan PLN pada November 2025 juga menjalin kerja sama pengembangan infrastruktur energi untuk pusat data dan infrastruktur digital. Kerja sama tersebut diarahkan pada pasokan yang andal serta peningkatan penggunaan energi terbarukan.
Namun untuk menjadi hub data center hijau, Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa bauran energi terbarukan nasional pada 2025 baru sekitar 15,75 persen. Kapasitas EBT tercatat sekitar 15.630 MW, terdiri terutama atas tenaga air, bioenergi, panas bumi, dan tenaga surya.
Artinya, label data center hijau tidak cukup hanya didasarkan pada lokasi di Indonesia.
Operator perlu membuktikan dari mana listriknya berasal dan apakah pembelian energi tersebut benar-benar menambah pembangkit rendah karbon.
Lokasi Data Center Tidak Boleh Hanya Mengikuti Lahan Murah
Pemilihan lokasi sebaiknya mempertimbangkan:
- Ketersediaan listrik.
- Koneksi serat optik.
- Latensi ke pengguna.
- Risiko banjir dan gempa.
- Ketersediaan air.
- Suhu dan kelembapan.
- Kapasitas jaringan.
- Potensi energi terbarukan.
- Ketersediaan tenaga kerja.
- Keamanan dan regulasi.
Indonesia tidak harus memusatkan semua pusat data di kawasan yang sama.
Diversifikasi lokasi dapat mengurangi tekanan pada satu sistem listrik dan membuka peluang memanfaatkan energi rendah karbon di berbagai wilayah.
Namun memindahkan data center jauh dari pengguna dapat meningkatkan latensi dan kebutuhan jaringan telekomunikasi. Karena itu, Indonesia memerlukan kombinasi:
- Pusat data besar untuk cloud dan AI.
- Pusat data regional.
- Edge data center untuk layanan berlatensi rendah.
- Sistem pemulihan bencana di wilayah berbeda.
Strategi Energi Data Center Indonesia
1. Membedakan listrik hijau tahunan dan 24/7
Regulator perlu membedakan klaim:
- Membeli sertifikat tahunan.
- Memiliki PPA energi terbarukan.
- Menggunakan energi bersih setiap jam.
- Menggunakan pembangkit yang benar-benar baru.
Perusahaan tidak boleh menggunakan istilah 100 persen hijau tanpa menjelaskan metodologinya.
2. Mendorong pembangkit baru
Pengadaan listrik data center sebaiknya memenuhi prinsip additionality.
Artinya, kontrak tersebut membantu membangun kapasitas energi terbarukan baru, bukan hanya mengambil sertifikat dari pembangkit yang telah beroperasi lama.
3. Membuat kontrak berbasis waktu dan lokasi
Dalam tahap awal, pencocokan dapat dilakukan secara tahunan.
Selanjutnya, sistem dapat bergerak menuju pencocokan bulanan dan per jam dengan memperhatikan lokasi jaringan.
4. Mengintegrasikan data center dengan RUPTL
Pertumbuhan pusat data harus masuk dalam perencanaan pembangkit, transmisi, gardu, dan penyimpanan.
RUPTL 2025–2034 mengarahkan 76 persen tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan berasal dari energi baru terbarukan serta storage. Data center dapat menjadi pembeli jangka panjang yang membantu merealisasikan proyek tersebut.
5. Melindungi pelanggan lain
Data center harus ikut menanggung biaya yang ditimbulkan oleh kebutuhan:
- Gardu baru.
- Transmisi.
- Kapasitas cadangan.
- Penyimpanan.
- Penguatan jaringan.
- Kualitas daya.
Ekspansi data center tidak boleh menyebabkan tarif rumah tangga dan industri lain meningkat tanpa pembagian biaya yang adil.
6. Memberikan insentif untuk fleksibilitas
Operator dapat memperoleh tarif atau insentif jika bersedia:
- Mengurangi beban saat sistem kritis.
- Memindahkan pelatihan AI ke jam surplus.
- Menggunakan baterai untuk membantu jaringan.
- Menempatkan beban fleksibel di wilayah kaya energi.
- Menjalankan generator darurat hanya ketika diperlukan.
7. Menetapkan standar pusat data hijau
Standar sekurang-kurangnya perlu mencakup:
- PUE.
- Water Usage Effectiveness.
- Emisi karbon.
- Persentase listrik rendah karbon.
- Pencocokan energi per jam.
- Pengelolaan limbah elektronik.
- Penggunaan refrigeran.
- Efisiensi server.
- Rencana pemulihan gangguan.
- Transparansi data.
8. Mengembangkan panas bumi dan hidro sebagai listrik stabil
Surya dapat menjadi sumber pertumbuhan cepat. Panas bumi dan tenaga air dapat membantu menyediakan listrik yang lebih stabil.
Ketiganya perlu didukung oleh baterai, interkoneksi, dan sistem kendali.
9. Mengembangkan keterampilan dan industri lokal
Investasi data center seharusnya menciptakan permintaan terhadap:
- Teknisi listrik.
- Operator pendingin.
- Ahli keamanan siber.
- Insinyur jaringan.
- Teknisi energi terbarukan.
- Sistem baterai.
- Konstruksi.
- Perawatan.
- Perangkat lunak efisiensi energi.
Manfaat ekonomi akan lebih besar jika peralatan, layanan, dan tenaga kerjanya semakin banyak berasal dari dalam negeri.
10. Mengukur manfaat ekonomi per megawatt
Pemerintah tidak cukup menghitung nilai investasi.
Data center perlu dinilai berdasarkan:
- Pekerjaan yang tercipta.
- Pajak.
- Transfer teknologi.
- Pemakaian listrik.
- Penggunaan air.
- Nilai tambah digital.
- Dukungan bagi perusahaan lokal.
- Biaya jaringan.
- Emisi.
- Ketahanan data nasional.
Fasilitas yang menggunakan listrik sangat besar tetapi memberikan sedikit manfaat lokal perlu mendapat evaluasi berbeda dari pusat data yang mendukung ekosistem digital nasional.
Model Ideal Data Center AI Rendah Karbon
Sistem ideal tidak bergantung pada satu pembangkit.
Contoh portofolionya adalah:
Pada siang hari
- PLTS memasok kebutuhan utama.
- Kelebihan energi mengisi baterai.
- Beban pelatihan AI ditingkatkan ketika listrik berlimpah.
Pada malam hari
- Panas bumi, PLTA, dan angin memasok beban dasar.
- Baterai membantu memenuhi periode puncak.
- Jaringan menyediakan keseimbangan.
Saat energi terbarukan rendah
- Pekerjaan fleksibel ditunda atau dipindahkan.
- Penyimpanan berdurasi panjang digunakan.
- Data center mengambil listrik dari jaringan yang lebih luas.
- Sistem cadangan hanya digunakan ketika diperlukan.
Model tersebut lebih realistis daripada meminta satu pembangkit surya melayani fasilitas selama 24 jam.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua data center AI dapat menggunakan energi terbarukan?
Secara tahunan, hal tersebut relatif lebih mudah dilakukan melalui PPA dan sertifikat.
Menggunakan energi terbarukan secara fisik setiap jam jauh lebih sulit karena membutuhkan kombinasi pembangkit, penyimpanan, jaringan, dan pengelolaan beban.
Apakah AI akan menghabiskan listrik dunia?
Tidak berdasarkan proyeksi dasar saat ini.
IEA memperkirakan data center menggunakan sedikit di bawah 3 persen listrik dunia pada 2030. Namun dampaknya dapat besar pada wilayah tertentu karena beban data center terkonsentrasi.
Apakah satu pertanyaan AI menggunakan listrik sangat besar?
Konsumsi per permintaan berbeda-beda menurut model, panjang jawaban, perangkat keras, tingkat penggunaan server, dan metode penghitungan.
Angka tunggal yang beredar di internet tidak dapat mewakili seluruh jenis layanan AI.
Apakah baterai dapat menyalakan data center sepanjang malam?
Bisa secara teknis jika kapasitasnya cukup.
Namun biaya dan jumlah baterainya meningkat sejalan dengan besar beban dan lama penyimpanan. Karena itu, baterai biasanya dipadukan dengan jaringan dan pembangkit lain.
Apakah nuklir termasuk solusi energi terbarukan?
Nuklir bukan energi terbarukan, tetapi termasuk sumber listrik rendah karbon.
Nuklir relevan jika targetnya adalah listrik bebas karbon 24/7, bukan 100 persen energi terbarukan.
Apakah panas bumi cocok untuk data center Indonesia?
Cocok sebagai bagian dari portofolio karena dapat beroperasi stabil.
Namun pengembangannya memerlukan waktu, investasi, eksplorasi, jaringan, dan kepastian harga.
Apakah energi terbarukan membuat data center sepenuhnya bersih?
Tidak.
Masih terdapat emisi dan dampak dari pembangunan gedung, produksi chip, baterai, penggunaan air, generator cadangan, serta limbah elektronik.
Kesimpulan
Seluruh data center AI secara teori dapat mencocokkan konsumsi listrik tahunannya dengan energi terbarukan.
Namun menyediakan listrik terbarukan secara fisik setiap jam sepanjang tahun merupakan tantangan yang jauh lebih besar.
Tenaga surya dan angin akan menjadi bagian penting karena dapat dibangun secara modular dan semakin kompetitif. Namun pusat data juga membutuhkan sumber yang stabil, seperti panas bumi dan tenaga air, disertai baterai, jaringan kuat, pengelolaan beban, serta penyimpanan berdurasi panjang.
Nuklir dapat menjadi bagian dari portofolio listrik rendah karbon, tetapi bukan energi terbarukan.
Masa depan AI yang berkelanjutan tidak cukup dibangun dengan membeli sertifikat hijau. Pusat data perlu:
- Menggunakan energi secara efisien.
- Membiayai pembangkit baru.
- Mencocokkan konsumsi dengan energi bersih berdasarkan waktu dan lokasi.
- Membantu memperkuat jaringan.
- Mengelola air dan limbah.
- Menanggung biaya infrastruktur yang ditimbulkannya.
- Memberikan manfaat nyata kepada masyarakat sekitar.
Bagi Indonesia, pertumbuhan pusat data merupakan peluang untuk menarik investasi, membangun industri digital, menciptakan pekerjaan, dan mempercepat pengembangan energi terbarukan.
Namun peluang itu hanya akan optimal jika ekspansi data center berjalan seiring dengan pembangunan pembangkit, transmisi, penyimpanan, serta standar lingkungan yang transparan.
Pada akhirnya, masa depan kecerdasan buatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih algoritmanya.
Masa depan AI juga ditentukan oleh kemampuan manusia menyediakan komputasi yang efisien, listrik yang andal, dan energi yang semakin rendah karbon.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.