Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2026

AI dan Etika dalam Islam: Bolehkah Teknologi Menjawab Pertanyaan Agama?

 


Di era digital hari ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar teknologi masa depan. AI sudah hadir di ponsel kita, di mesin pencari, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Banyak umat Muslim kini menggunakan AI untuk bertanya seputar kehidupan, termasuk persoalan agama: mulai dari hukum muamalah, fiqh ibadah, hingga tafsir ayat Al-Qur’an.

Namun, muncul pertanyaan penting yang semakin ramai diperbincangkan di media sosial dan forum keislaman: bolehkah teknologi seperti AI menjawab pertanyaan agama dalam perspektif Islam?


AI dalam Kehidupan Muslim Modern

AI bekerja dengan cara mempelajari data dalam jumlah sangat besar. Ia menganalisis teks, pola bahasa, dan referensi untuk menghasilkan jawaban yang terlihat logis dan sistematis. Dalam konteks keislaman, AI sering dimanfaatkan untuk:

  • mencari dalil ayat atau hadis,

  • merangkum kajian,

  • membantu penulisan dakwah,

  • menjawab pertanyaan umum seputar ibadah.

Menurut laporan global, penggunaan AI dalam pencarian informasi meningkat lebih dari 30% per tahun, dan topik agama termasuk salah satu kategori pencarian yang ikut terdorong naik. Hal ini menunjukkan bahwa umat Muslim pun tidak terpisah dari arus teknologi ini.


Islam dan Teknologi: Bukan Hal yang Asing

Dalam sejarah Islam, teknologi bukanlah sesuatu yang ditolak. Pada masa kejayaan peradaban Islam, umat Muslim justru menjadi pelopor dalam ilmu pengetahuan, astronomi, matematika, dan kedokteran. Prinsip Islam terhadap teknologi pada dasarnya adalah:

Teknologi bersifat netral; yang menentukan nilai adalah bagaimana manusia menggunakannya.

Al-Qur’an sendiri berulang kali mendorong umat manusia untuk berpikir, belajar, dan menggunakan akal (afala ta‘qilun). Maka, penggunaan AI sebagai alat bantu sejatinya tidak bertentangan dengan Islam, selama tidak melanggar prinsip dasar akidah dan syariat.


Bolehkah AI Menjawab Pertanyaan Agama?

Di sinilah letak batas yang perlu dipahami dengan jernih.

Dalam Islam, sumber hukum utama adalah:

  1. Al-Qur’an

  2. As-Sunnah

  3. Ijma’ ulama

  4. Qiyas dan ijtihad para ahli

AI tidak memiliki iman, niat, maupun tanggung jawab moral. Ia tidak berijtihad, tidak memahami maqashid syariah, dan tidak bisa membedakan konteks sosial, budaya, serta kondisi individu secara utuh.

Karena itu, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti ulama atau mufti. Jawaban AI bersifat:

  • informatif,

  • ringkasan pengetahuan,

  • referensi awal,

bukan fatwa final.

Dalam banyak diskusi ulama kontemporer, AI dipandang boleh digunakan sebagai alat bantu, tetapi keputusan agama tetap harus dikembalikan kepada manusia berilmu.


Risiko Mengandalkan AI Secara Penuh

Ada beberapa risiko serius jika umat Muslim terlalu bergantung pada AI untuk urusan agama:

  1. Kesalahan Konteks
    AI bisa mengutip ayat atau hadis tanpa memahami sebab turunnya (asbabun nuzul) atau konteks hukum.

  2. Bias Data
    AI belajar dari data yang tersedia di internet, termasuk sumber yang lemah atau tidak sahih.

  3. Ilusi Otoritas
    Jawaban AI sering terdengar meyakinkan, padahal belum tentu benar secara fiqh.

  4. Hilangnya Tradisi Keilmuan
    Islam memiliki sanad keilmuan yang panjang. Menggantinya dengan mesin berisiko memutus mata rantai keilmuan tersebut.


Etika Digital bagi Muslim di Era AI

Agar tetap berada di jalur yang benar, ada beberapa prinsip etika digital yang bisa dipegang umat Islam:

  • Jadikan AI sebagai alat bantu belajar, bukan rujukan hukum final.

  • Selalu verifikasi jawaban AI dengan sumber tepercaya atau ulama, mana yang paling sesuai dengan sumber Al Quran dan As Sunnah dan pemahaman para sahabat nabi dan ijma' ulama terdahulu.

  • Gunakan AI untuk memperluas wawasan, bukan menggantikan proses tafakkur dan tadabbur.

  • Ingat bahwa ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi, tetapi juga hikmah dan adab.


Penutup: Teknologi di Tangan Manusia Beriman

AI adalah produk kecerdasan manusia, sementara Islam menempatkan akal sebagai anugerah Allah yang harus digunakan dengan tanggung jawab. Maka, pertanyaan utamanya bukan sekadar boleh atau tidak, melainkan:

Apakah teknologi itu mendekatkan kita kepada kebenaran dan ketakwaan, atau justru menjauhkan?

Jika AI digunakan dengan adab, niat yang lurus, dan disertai bimbingan ilmu, ia bisa menjadi alat yang bermanfaat. Namun, jika dijadikan pengganti otoritas agama, maka risiko penyimpangan akan semakin besar.

Di era AI, iman, ilmu, dan kebijaksanaan manusia tetap tidak tergantikan.

Rabu, 14 Januari 2026

AI, Robot, dan Otomatisasi: Benarkah Rezeki Manusia Terancam di Era Teknologi?

 


Perkembangan Artificial Intelligence (AI), robotika, dan otomatisasi semakin cepat dan masif. Banyak pekerjaan manusia mulai digantikan oleh mesin: dari kasir, operator pabrik, hingga analis data. Tidak sedikit yang khawatir, “Apakah manusia akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan di masa depan?”

Pertanyaan ini wajar. Namun, dalam perspektif Islam, ada fondasi keyakinan yang sangat kuat: rezeki setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak berkurang dan tidak berlebihan, sesuai dengan keadilan-Nya.

Lalu, bagaimana seharusnya manusia menyikapi era AI dan otomatisasi ini?


Rezeki dalam Islam: Bukan Sekadar Pekerjaan

Dalam Islam, rezeki tidak identik dengan satu jenis pekerjaan. Rezeki adalah segala bentuk kebaikan yang Allah berikan—penghasilan, kesehatan, ilmu, kesempatan, bahkan ide dan kreativitas.

Teknologi boleh berubah, pekerjaan boleh hilang atau berganti, tetapi sumber rezeki tidak pernah berpindah dari Allah kepada mesin. AI dan robot hanyalah alat, bukan penentu hidup manusia.

Ketakutan muncul bukan karena AI terlalu kuat, melainkan karena manusia menyempitkan makna rezeki hanya pada pekerjaan lama yang ia kenal.


AI dan Otomatisasi: Ancaman atau Ujian Zaman?

Dalam sejarah, setiap revolusi teknologi selalu “menghilangkan” pekerjaan lama:

  • Mesin uap menggantikan tenaga otot

  • Komputer menggantikan pekerjaan manual

  • Internet mengubah cara bisnis dan komunikasi

Namun faktanya, pekerjaan baru selalu muncul—sering kali lebih kompleks, kreatif, dan bernilai tinggi.

Dalam kacamata Islam, AI dan otomatisasi dapat dipahami sebagai:

  • Ujian adaptasi bagi manusia

  • Sarana efisiensi, bukan penghapus peran manusia

  • Pemicu hijrah profesi, bukan akhir penghidupan


Solusi Islam di Era AI dan Robotika

1. Menguatkan Tauhid dan Tawakal

Keyakinan bahwa Allah Maha Adil harus diiringi dengan ikhtiar. Tawakal bukan berarti pasif, tetapi aktif mencari jalan baru dengan hati yang tenang. 

Dalam Islam, konsep tawakkal sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal Rasulullah ﷺ memberi contoh yang sangat jelas melalui perumpamaan seekor burung.

Burung tidak berdiam diri di sarangnya menunggu rezeki jatuh dari langit. Setiap pagi ia keluar, terbang, mencari, berjuang, dan mengambil risiko. Ia tidak tahu di mana makanan berada, tetapi ia yakin bahwa Allah telah menyiapkannya. Ia berangkat dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.

Inilah tawakkal sejati:
usaha maksimal, hati tetap tenang, dan keyakinan penuh kepada Allah.

2. Upgrade Ilmu dan Keterampilan

Islam sangat menekankan pentingnya ilmu. Di era AI:

  • Manusia perlu belajar hal yang tidak bisa digantikan mesin

  • Seperti etika, empati, kepemimpinan, kreativitas, dan kebijaksanaan

AI bisa menghitung, tetapi tidak bisa menilai dengan hati dan akhlak.

3. Menggeser Peran: dari Operator ke Pengendali

Jika mesin mengerjakan tugas teknis, manusia naik kelas:

  • Menjadi pengambil keputusan

  • Pengawas nilai dan dampak

  • Pengarah tujuan teknologi

Ini sejalan dengan konsep manusia sebagai khalifah di bumi, bukan sekadar pekerja mekanis.

4. Memperkuat Ekonomi Berbasis Nilai

Islam mendorong:

  • Keadilan sosial

  • Tolong-menolong

  • Distribusi yang seimbang

Di era AI, konsep seperti zakat, infak, sedekah, dan ekonomi berbasis kebermanfaatan menjadi semakin relevan, bukan usang.


Apa yang Harus Dilakukan Manusia Hari Ini?

  1. Berhenti panik, mulai berpikir jernih

  2. Belajar dan beradaptasi, tanpa meninggalkan nilai

  3. Menggunakan AI sebagai alat, bukan sebagai “tuhan baru”

  4. Menjaga akhlak dan integritas, di tengah dunia serba otomatis

  5. Percaya bahwa rezeki tidak pernah salah alamat


Penutup

AI, robot, dan otomatisasi bukanlah musuh manusia. Mereka adalah bagian dari sunnatullah dalam perkembangan peradaban. Yang berbahaya bukanlah teknologinya, melainkan hilangnya keyakinan manusia terhadap keadilan dan ketetapan Allah.

Selama manusia menjaga iman, ilmu, dan akhlak, tidak ada teknologi apa pun yang mampu mencabut rezeki yang telah Allah tetapkan.

Teknologi boleh menggantikan pekerjaan, tetapi tidak pernah menggantikan peran manusia sebagai hamba dan khalifah.

Jumat, 09 Januari 2026

Di Tengah Dunia yang Guncang, Mengapa Manusia Kembali Mencari Agama?


Dunia hari ini terasa semakin bising, cepat, dan rapuh.

Perang tak kunjung reda, bencana alam datang silih berganti, ekonomi global bergejolak, dan teknologi berkembang jauh lebih cepat dibanding kedewasaan manusia menggunakannya.

Di tengah semua itu, muncul satu fenomena yang menarik:
manusia kembali berbicara tentang agama.

Bukan sebagai simbol budaya, bukan sebagai identitas politik, tetapi sebagai kebutuhan eksistensial—kebutuhan untuk menemukan makna, arah, dan pegangan hidup.


Krisis Global dan Kegelisahan Manusia Modern

Berita-berita viral hari ini—tentang konflik, ketidakadilan, bencana, dan ketidakpastian masa depan—memunculkan kegelisahan kolektif. Banyak orang mulai menyadari bahwa:

  • Kemajuan teknologi tidak otomatis membawa ketenangan batin

  • Kekayaan dan kekuasaan tidak menjamin rasa aman

  • Sains menjelaskan bagaimana, tetapi sering gagal menjawab untuk apa

Di titik inilah manusia mulai kembali bertanya pada pertanyaan paling mendasar:

Siapa saya? Dari mana saya berasal? Ke mana saya akan kembali?

Dan sejarah menunjukkan, pertanyaan-pertanyaan ini selalu berujung pada agama.


Agama sebagai Fitrah, Bukan Sekadar Tradisi

Dalam Islam, keyakinan terhadap Tuhan dan kebenaran agama bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari luar, melainkan tertanam dalam fitrah manusia.

Setiap manusia, sejak lahir, membawa potensi untuk mengenal dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Ketika hidup berjalan normal, fitrah ini sering tertutupi oleh kesibukan dunia. Namun saat krisis datang, lapisan-lapisan itu runtuh, dan fitrah kembali berbicara.

Inilah sebabnya mengapa:

  • Di masa perang, manusia berdoa

  • Di masa bencana, manusia bersujud

  • Di masa kehilangan, manusia mencari Tuhan

Agama bukan pelarian, tetapi panggilan terdalam manusia.


Islam: Agama Para Nabi Sejak Awal Manusia

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Islam hanya agama Nabi Muhammad ﷺ.
Padahal, dalam perspektif Islam sendiri, Islam adalah agama seluruh nabi dan rasul.

Sejak:

  • Nabi Adam عليه السلام

  • Nabi Nuh عليه السلام

  • Nabi Ibrahim عليه السلام

  • Nabi Musa عليه السلام

  • Nabi Isa عليه السلام
    hingga Nabi Muhammad ﷺ

Semuanya membawa ajaran tauhid yang sama:
menyembah Allah Yang Maha Esa dan tunduk kepada-Nya.

Perbedaan yang terjadi sepanjang sejarah bukan pada inti ajaran, melainkan pada:

  • Syariat yang disesuaikan dengan zaman

  • Umat yang sering menyimpang dari ajaran asli

Islam hadir sebagai penyempurna dan pemurni, bukan agama baru.


Mengapa Islam Disebut Agama yang Diridhai Allah?

Islam tidak hanya menawarkan konsep ketuhanan, tetapi sistem hidup yang menyeluruh:

  • Mengatur hubungan manusia dengan Tuhan

  • Mengatur hubungan manusia dengan sesama

  • Mengatur hubungan manusia dengan alam

Dalam dunia yang hari ini krisis moral, krisis lingkungan, dan krisis keadilan, Islam menawarkan keseimbangan:

  • Antara akal dan wahyu

  • Antara dunia dan akhirat

  • Antara kebebasan dan tanggung jawab

Bukan kebetulan jika di saat dunia semakin kompleks, banyak orang justru tertarik kembali mempelajari Islam secara rasional dan mendalam.


Kebangkitan Kesadaran Beragama di Era Modern

Fenomena hijrah, meningkatnya kajian keislaman, dan pencarian makna hidup bukan tren sesaat. Ia adalah respon alami terhadap kegagalan ideologi-ideologi modern menjawab kegelisahan manusia.

Manusia modern mulai menyadari:

  • Kebebasan tanpa nilai melahirkan kehampaan

  • Kemajuan tanpa arah melahirkan kehancuran

  • Kekuasaan tanpa moral melahirkan kezaliman

Dan di tengah semua itu, Islam hadir bukan sebagai nostalgia masa lalu, tetapi sebagai solusi peradaban.


Penutup

Di saat dunia terus berubah, satu hal tetap sama:
manusia selalu membutuhkan Tuhan.

Dan Islam, sebagai agama tauhid yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul, hadir bukan hanya untuk satu kaum atau satu zaman, tetapi untuk seluruh manusia—sepanjang mereka mau mendengar panggilan fitrahnya.

Jumat, 02 Januari 2026

Teori Perulangan Sejarah Setiap 100 Tahun: Antara Pola, Siklus, dan Takdir Peradaban


Sejak ribuan tahun lalu, manusia selalu mencoba membaca pola dalam perjalanan waktu. Salah satu gagasan yang terus muncul—baik dalam kajian sejarah, filsafat, hingga pemikiran keagamaan—adalah teori perulangan peristiwa sejarah dalam siklus tertentu, salah satunya setiap 100 tahun.

Menariknya, dalam banyak catatan sejarah global, kita memang menemukan kemiripan pola:
perang besar, wabah mematikan, bencana alam besar, runtuhnya rezim lama, wafatnya tokoh-tokoh besar, lalu muncul generasi baru yang mengubah arah zaman.

Apakah ini kebetulan? Atau memang ada hukum tak kasat mata yang mengatur ritme peradaban?


1. Akar Pemikiran: Mengapa 100 Tahun?

Secara sosiologis dan biologis, 100 tahun sering dianggap sebagai:

  • Rentang 3–4 generasi manusia

  • Masa di mana memori kolektif langsung mulai hilang

  • Titik pergantian nilai, trauma, dan cara pandang terhadap dunia

Generasi yang mengalami perang atau wabah besar biasanya masih berhati-hati. Namun ketika mereka wafat, generasi berikutnya sering hanya mengenal tragedi itu sebagai cerita sejarah, bukan pengalaman emosional.

Di sinilah siklus sejarah sering dimulai kembali.


2. Pola Perang Besar: Dari Konflik ke Konflik

Jika kita melihat secara makro:

  • Perang Salib (abad ke-11–13)

  • Penaklukan Mongol & Pasca-Mongol (abad 13–14, efek panjang)
  • Perang Ottoman–Eropa (abad 15–18)

  • Perang Napoleon (awal abad ke-19)
    • Perang Napoleon (±1799–1815) mengubah wajah Eropa secara radikal
    • Mengakhiri banyak monarki feodal
    • Menyebarkan nasionalisme modern
    • Mengubah peta politik hampir seluruh Eropa
    • Ini bukan sekadar perang militer, tetapi perang ide yang membentuk dunia modern.
  • Awal abad ke-20 ditandai oleh Perang Dunia I (1914–1918)

  • Disusul Perang Dunia II (1939–1945) yang menjadi eskalasi lanjutan

  • Memasuki abad ke-21, dunia kembali berada pada fase ketegangan global, konflik regional besar, dan perlombaan teknologi militer.

Meski bentuknya berubah, akar konflik tetap sama:
perebutan sumber daya, ideologi, kekuasaan, dan rasa takut kehilangan dominasi.

Sejarah seakan berbisik:
ketika manusia lupa harga sebuah perdamaian, perang kembali menemukan jalannya.


3. Wabah dan Penyakit: Siklus Ketakutan Kolektif

Wabah besar juga sering muncul dalam interval panjang:

  • Abad ke-14: Black Death

  • Abad ke-16 (1500–1599): Wabah Cacar di Amerika

    Setelah kontak dengan Eropa:

    • Hingga 90% populasi asli Amerika musnah

    • Runtuhnya peradaban besar (Aztec, Inca)

    Salah satu kehancuran peradaban tercepat dalam sejarah.

  • Abad ke-19: Kolera global

  • Awal abad ke-20: Flu Spanyol

  • Awal abad ke-21: Pandemi global modern (Korona)

Menariknya, wabah tidak hanya soal penyakit, tetapi:

  • Menguji sistem kesehatan

  • Mengguncang ekonomi

  • Membuka tabir ketimpangan sosial

  • Mengubah cara manusia memandang kehidupan dan kematian

Setiap wabah besar selalu diikuti oleh perubahan tatanan dunia.


4. Bencana alam besar

  • Letusan Gunung Samalas – 1257 (Lombok). Salah satu letusan gunung api terbesar dalam 7.000 tahun terakhir
Dampak global: Pendinginan iklim dunia (global volcanic winter), Gagal panen di Eropa, Timur Tengah, dan Asia, Kelaparan massal, Ketidakstabilan kerajaan di berbagai wilayah.
Banyak sejarawan iklim menyebutnya pemicu awal rangkaian krisis abad 14
  • Banjir Besar & Cuaca Ekstrem Eropa (1315–1317). Dikenal sebagai Great FaminePenyebab utama:

    • Hujan ekstrem bertahun-tahun

    • Musim dingin panjang

    • Gagal panen beruntun

    Dampak:

    • Jutaan korban kelaparan

    • Populasi melemah drastis

    • Ketahanan sosial runtuh

  • Letusan Gunung Huaynaputina – 1600 (Peru)

    Meski terjadi di akhir abad 16 / awal 17, dampaknya global.

    Dampak:

    • Pendinginan iklim dunia

    • Gagal panen di Eropa & Rusia

    • Kelaparan besar Rusia (1601–1603)

    Bencana di Amerika Selatan berdampak langsung ke Eurasia.

  • Little Ice Age (puncak abad 17)

    Pendinginan global berkepanjangan.

    Dampak:

    • Musim dingin ekstrem

    • Panen gagal bertahun-tahun

    • Banjir & pembekuan sungai

    • Kerusuhan pangan di Eropa & Asia

    ➡️ Alam menjadi faktor utama instabilitas global.

  • “Year Without a Summer” (1816) Dipicu oleh letusan besar gunung Tambora (1815), dunia mengalami: Musim panas yang gagal, Kelaparan massal di Eropa dan Amerika Utara, Migrasi besar-besaran,Kerusuhan sosial akibat krisis pangan.

  • Letusan Gunung Krakatau (1883). Dampaknya: Tsunami besar di Nusantara, Abu vulkanik menyelimuti atmosfer global, Gagal panen di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, Perubahan iklim sementara yang memengaruhi ekonomi global.


5. Wafatnya Tokoh Besar dan Munculnya Pengganti

Dalam banyak peradaban—termasuk Islam—terdapat keyakinan bahwa terdapat siklus sejarah yang berulang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini, pada setiap awal seratus tahun, seseorang yang memperbarui agamanya.”
(HR. Abu Dawud)

Sesuai konteks hadis, 100 tahun dimaksud adalah dalam kalender tahun Hijriyah. 

Secara historis, kita sering melihat:

  • Wafatnya ulama besar, pemimpin karismatik, atau tokoh intelektual yang menjaga nilai-nilai dan ajaran Islam yang murni, dan meninggalkan banyak kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam beragama.

  • Terjadi masa kekosongan pemikiran atau kebingungan arah. Umat Islam terjebak dalam berbagai nilai-nilai dan praktek-praktek agama yang kian menyimpang dari ajaran Islam yang murni.

  • Lalu muncul kembali ulama besar yang baru yang berupaya memperkenalkan kembali nilai-nilai Islam dan ajaran Islam yang murni dan akan banyak menghadapi berbagai kontroversi dan konfrontasi di tengah Umat Islam sendiri. 

  • Ini bukan sekadar regenerasi biologis, tetapi regenerasi ide dan keberanian moral.


6. Perspektif Filsafat: Siklus atau Ilusi Pola?

Tidak semua sejarawan sepakat bahwa sejarah benar-benar berulang secara matematis.

Ada dua kubu besar:

  1. Deterministik – percaya sejarah mengikuti pola siklik

  2. Kontingensi – percaya sejarah dibentuk oleh kebetulan dan pilihan manusia

Namun di antara keduanya, ada satu titik temu:

Manusia cenderung mengulangi kesalahan yang sama ketika lupa alasan mengapa kesalahan itu dulu terjadi.


7. Lalu, Kita Ada di Fase Apa Sekarang?

Jika benar kita sedang berada di ujung atau awal satu siklus baru, maka ciri-cirinya biasanya:

  • Ketidakpastian global

  • Krisis kepercayaan pada institusi

  • Polarisasi sosial

  • Ledakan teknologi yang melampaui etika

  • Kerinduan pada figur pemimpin atau pemikir yang memberi arah

Pertanyaannya bukan lagi apakah sejarah akan berulang,
melainkan:

Apakah kita belajar cukup cepat sebelum harga yang harus dibayar terlalu mahal?


8. Penutup: Antara Takdir dan Kesadaran

Mungkin sejarah tidak dikunci oleh angka 100 tahun secara mutlak.
Namun pola-pola besar itu nyata—dan berulang, baik karena sifat manusia itu sendiri dan/atau tentunya juga karena Sunnatullah/Takdir Allah.

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu.
Ia adalah cermin, dan kadang peringatan.

Dan seperti semua peringatan:
ia hanya berguna jika kita mau mendengarkan.

Rabu, 31 Desember 2025

Islam dan Lingkungan: Amanah Khalifah di Bumi yang Sering Dilupakan


Ketika isu krisis iklim, polusi, kerusakan lingkungan, bencana meteorologi & ekologi, semakin sering dibicarakan, agama kerap dianggap “tidak relevan” dengan persoalan ekologis modern. Padahal, dalam Islam, hubungan manusia dengan alam adalah bagian dari iman dan amanah spiritual, bukan sekadar urusan teknis atau kebijakan publik.

Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang bagaimana manusia hidup di bumi tanpa merusaknya.

Manusia sebagai khalifah, bukan pemilik bumi

Dalam Al-Qur’an, manusia disebut sebagai khalifah di bumi—bukan pemilik mutlak. Konsep ini menempatkan manusia sebagai pengelola (steward) yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan Allah.

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)

Makna khalifah di sini bukan kekuasaan tanpa batas, melainkan tanggung jawab moral: menggunakan sumber daya secukupnya, mencegah kerusakan, dan memastikan keberlanjutan bagi generasi berikutnya.

Larangan merusak lingkungan dalam Al-Qur’an

Islam secara tegas mengecam perusakan lingkungan (fasād):

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini sering dibaca dalam konteks moral dan sosial, tetapi relevansinya sangat kuat dengan isu lingkungan: deforestasi berlebihan, pencemaran air, eksploitasi alam tanpa kendali—semuanya termasuk bentuk fasād modern.

Nabi Muhammad ﷺ dan etika lingkungan

Dalam sirah Nabi Muhammad ﷺ, kita menemukan banyak contoh konkret kepedulian terhadap alam:

  • Nabi melarang penebangan pohon secara sembarangan, bahkan saat perang.

  • Beliau menganjurkan penanaman pohon sebagai amal jariyah:

“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.”
(HR. Sahih Bukhari & Sahih Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa konservasi lingkungan bernilai ibadah, bahkan ketika manfaatnya tidak langsung dirasakan oleh penanamnya.

Konsep hima dan haram: kebijakan lingkungan dalam Islam klasik

Jauh sebelum istilah conservation area dikenal, Islam telah memiliki konsep hima dan haram:

  • Hima: kawasan lindung yang tidak boleh dieksploitasi bebas (biasanya padang rumput dan sumber air).

  • Haram: wilayah yang dilindungi secara ketat, seperti sekitar Makkah dan Madinah.

Pada masa para sahabat dan khalifah, konsep ini digunakan untuk:

  • Melindungi sumber air,

  • Mencegah overgrazing,

  • Menjaga keseimbangan ekosistem lokal.

Khalifah Umar bin Khattab bahkan dikenal tegas dalam mengatur penggunaan lahan dan air agar tidak dimonopoli segelintir orang. Termasuk juga kisah populer Sahabat Usman Bin Affan yang membeli sumur milik seorang Yahudi untuk kemudian diwakafkan untuk seluruh penduduk. Sumur tersebut dikenal dengan nama sumur Raumah. Sampai hari ini, sumur wakaf Utsman ra. itu masih mengalir. Kini, sumur Raumah dimanfaatkan Kementerian Arab Saudi untuk mengairi perkebunan dan ladang kurma yang ada di sekitarnya.

Ulama klasik dan prinsip keberlanjutan

Para ulama terdahulu juga menegaskan prinsip maslahah (kemaslahatan umum) dan larangan israf (pemborosan). Dalam konteks modern, israf tidak hanya berarti boros makanan, tetapi juga:

  • Boros energi,

  • Boros air,

  • Eksploitasi sumber daya melebihi daya dukung alam.

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini relevan langsung dengan pola konsumsi modern yang tidak berkelanjutan.

Lingkungan, iman, dan tanggung jawab generasi

Krisis lingkungan hari ini bukan hanya krisis teknologi, tetapi krisis etika dan spiritual. Islam memandang kerusakan alam sebagai cerminan rusaknya hubungan manusia dengan amanah yang diberikan Allah.

Melestarikan lingkungan dalam Islam bukan tren, bukan agenda politik, dan bukan isu Barat. Ia adalah:

  • Bagian dari tauhid (kesadaran ciptaan Allah),

  • Wujud tanggung jawab khalifah,

  • dan investasi pahala lintas generasi, sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir (tidak putus-putus) selama dimanfaatkan, bahkan setelah yang bersangkutan meninggal dunia.

Penutup

Jika seorang Muslim memahami ajaran agamanya secara utuh, maka menjaga lingkungan bukan pilihan tambahan, melainkan konsekuensi iman. Menanam pohon, menjaga air, mengurangi kerusakan, dan hidup selaras dengan alam—semuanya adalah bagian dari ibadah yang sering luput kita sadari.

Islam telah berbicara tentang lingkungan jauh sebelum krisis iklim menjadi isu global. Tantangannya hari ini bukan kurangnya dalil, tetapi kurangnya kesadaran dan konsistensi dalam mengamalkannya.

Minggu, 04 Februari 2024

Penulisan Al Quran & Tanda Baca Dalam Tulisan Al Quran Apakah Bid'ah



Sebagaimana dicatat dalam sejarah, pembukuaan Al Quran baru dilaksanakan di era Khalifah Abu Bakar As Siddiq setelah wafatnya Nabi Muhammad. Hal ini dilakukan atas saran Umar Bin Khatab setelah melihat makin banyaknya para sahabat nabi penghafal Al Quran yang wafat. Perlu diketahui bahwa para sahabat Nabi di era itu merupakan penghafal Al Quran baik secara pelafadzan maupun secara tulisan.  Khalifah Abu Bakar kemudian menunjuk Zaid bin Tsabit untuk menuliskan kembali dan mengumpulkan naskah-naskah catatan Al Quran kedalam 1 buku/musaf. 

Di era Amirul Mukminin, Ustman bin Affan, ketika wilayah kaum muslimin semakin luas, semakin banyak kaum non arab yang memeluk Islam dan belajar Al Quran, pembukuaan Al Quran dilakukan kembali. Pada era tersebut ditemukan mulai banyak beredar perbedaan pembacaan/pelafadzan Al Quran dan cara penulisannya. Sehingga perlu dilakukan standarisasi. Amirul Mukminin kemudian membentuk tim untuk membukukan Al Quran. Tim terdiri dari yang beranggotakan Zaid bin Tsabit, Said bin Al-As, dan Abdurrahman bin Al-Harits.

Setelah selesai dan direview oleh para Sahabat Nabi kemudian kitab mushaf Al Quran, yang disebut mushaf Ustmani, diperbanyak dan disebarkan. Sementara kitab Al Quran lain dimusnahkan. Hal ini dalam rangka menyeragamkan bacaan dan tulisan Al Quran kaum muslimin di seluruh wilayah agar tidak terjadi perbedaan pelafadzan, makna dan tafsir. 

Hal-hal yang berkenaan dengan aktivitas para sahabat Nabi dalam membukukan Al Quran setelah Nabi wafat tentu tidak bisa dikategorikan sebagai bid'ah. Aktivitas ini tidak merubah/mengurangi/menambah apa yang diajarkan Nabi Muhammad mengenai Al Quran, baik dari sisi pelafadzan/tilawah, tulisan, apalagi arti dan makna. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga Al Quran itu sendiri sehingga lestari/terjaga dan juga seragam dari sisi tulisan dan pelafadzan/tilawah. 

Justru aktivitas tersebut kemudian mempermudah kaum muslimin yang tidak termasuk sahabat Nabi, non arab, baik di era itu maupun di era kemudian, serta kaum muslimin secara umum dalam mempelajari Al Quran dan meyakinkan diri bahwa bacaan Al Quran mereka seragam dengan yang dilakukan para Sahabat Nabi. Sehingga tidak menimbulkan bias makna dan arti.

Sama halnya dengan kebijakan penambahan tanda baca (titik dan harakat) dalam tulisan Al Quran. Kebijakan ini dilakukan di generasi Tabi'in yakni di era khalifah Abdul Malik bin Marwan. Di era itu, mulai ditemukan banyaknya kaum muslimin dari luar Arab melakukan kesalahan dalam membaca Al Quran. Berhubung Mushaf Ustmani di era itu belum memiliki tanda-tanda baca sehingga bagi kaum muslimin non arab yang baru belajar bahasa arab menjadi sulit dalam membaca Al Quran. 

Maka Abdul Malik bin Marwan memerintahkan untuk memberi titik pada Al-Qur’an dan mengharakatinya. Hal ini dilakukan demi menjaga dan membentengi Al-Qur’an dari kecenderungan terjadinya perubahan, agar seragam, dan agar mudah dibaca, dipelajari, dan diajarkan. 

Jadi penambahan tanda baca dan harakat juga tidak bisa dikategorikan sebagai bid'ah karena hal tersebut tidak merubah/mengurangi/menambah Al Quran. Justru memudahkan kaum muslimin mempelajarinya dan membacanya serta meyakinkan keseragaman dalam tilawah Al Quran, baik di era tersebut hingga era kemudian. 

Minggu, 28 Januari 2024

Penerapan Teknologi Dan Bid'ah Dalam Agama


Masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan bid'ah dalam pengertian bahasa dengan bid'ah dalam agama. Secara pengertian bahasa (secara umum), bid'ah berarti segala sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya. Ini berarti juga mencakup misalkan inovasi-inovasi teknologi. 

Sementara bid'ah dalam agama berarti cara baru dalam perkara agama (pemikiran dan tata cara ibadah) yang diserupakan syariat yang dikerjakan masyarakat dengan maksud mengharap pahala tanpa adanya dalil dalam syariat atau contoh dari Rasulullah. 

Namun sayangnya banyak orang yang memutar balikkan pengertian tersebut. Hal ini menimbulkan kesan bahwa mereka yang selalu menyerukan/mendakwahkan agar kaum muslimin menjauhi bid'ah kemudian dicap anti kemajuan, tidak konsisten dan lain sebagainya. 

Misalkan mereka menyatakan bahwa orang-orang yang suka menyerukan bid'ah, kalau mau konsisten agar tidak pakai speaker mesjid saat adzan. Pergi haji ke Mekkah & Madinah naik onta, jangan naik pesawat, dan lain sebagainya yang sejenis itu. Ini menunjukkan bahwa mereka belum bisa membedakan bid'ah menurut pengertian bahasa dengan bid'ah dalam agama menurut pengertian syariat.   

Penggunaan speaker Masjid tidak merubah pelafalan bacaan adzan atau tata cara ibadah pelaksanaan adzan. Justru membantu memperluas jangkauan suara adzan. Sehingga tidak bisa dikatakan penggunaan speaker masjid adalah bid'ah dalam agama. 

Akan berbeda kasusnya jika misal ada suatu masjid menyatakan bahwa masjid tersebut sudah menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligence) yang terkoneksi dengan speaker masjid sehinggga tidak butuh lagi muadzin saat mengkumandangkan adzan. Bahkan misal mesjid tersebut juga sudah menggunakan robot humanoid untuk menjadi imam shalat, sehingga tidak butuh lagi imam manusia. Ini baru bisa menjadi bahasan lebih lanjut. 

Dalam syarat & rukun ibadah haji juga tidak ada ketentuan bahwa semua jamaah haji harus datang ke Mekkah dan Madinah naik onta. Jadi, jamaah haji, ya mau naik kapal laut, kendaraan darat, pesawat, bahkan mau pakai teknologi teleportasi untuk sampai di Mekkah dan Madinah, tentu tidak masalah, karena hal-hal tersebut tidak mengubah syarat dan rukun ibadah haji. 

Lain ceritanya jika kemudian ada seseorang sedang berhaji lalu saat masanya/waktunya wukuf di arafah, dia justru ada di kota lain/area lain. Dia tidak hadir secara fisik saat wukuf di arafah, karena dia meyakini bahwa hadir di Arafah dapat digantikan dengan implementasi teknologi Virtual Reality yang terkoneksi dengan drone berkamera yang terbang di wilayah padang arafah. Ini baru beda ini. Hehe..hehe.

Minggu, 21 Januari 2024

Sejarah Agama Berdasarkan Kajian Para Sejarawan Dan Arkeolog


Seringkali kita dengar dan baca dalam pelajaran sejarah, dan berdasarkan penemuan-penemuan para arkeolog, telah terdapat agama-agama tertua di dunia yang dianut peradaban manusia kuno pada masa lampau. Misalkan pada peradaban Mesir kuno. Disebutkan mereka menganut politesime atau menyembah banyak dewa. Mereka menyembah dewa bulan (Amun) dan dewa matahari (Ra) serta dewa-dewa lainnya. Sama halnya dengan peradaban mesopotamia yang menurut pada sejarawan dan arkeolog juga menganut politeisme, menyembah banyak dewa. 

Teori ini didasarkan pada hasil penemuan para sejarawan dan arkeolog, melalui penggalian situs-situs kuno, bangunan kuno, prasasti-prasasti, artefak-artefak dan lain sebagainya. Mereka kemudian mencoba mengintepretasikan tulisan-tulisan kuno tersebut sehingga muncullah kesimpulan demikian. Hal tersebut kemudian dituliskan dalam buku-buku sejarah dan diajarkan kepada para siswa.

Namun demikian, implikasi dari hal ini adalah munculnya kesan bahwa agama samawi (termasuk Islam) baru muncul kemudian setelah peradaban-peradaban kuno menganut agama-agama tertua tersebut yang barangkali sekarang sudah tidak ada penganutnya lagi. Muncul kesan seolah agama itu adalah produk dari perjalanan peradaban manusia. Seolah agama itu berevolusi mengikuti perkembangan peradaban manusia.

Padahal kita sebagai umat Islam, harus meyakini dan mengimani bahwa di masa lampau telah diutus para Nabi dan Rasul untuk mengajarkan agama Islam. Yakni agama yang mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak disembah, dan para Nabi dan Rasul tersebut adalah utusan Allah. Termasuk, yang kita yakini, manusia pertama yakni Nabi Adam tentunya menganut agama Islam. Begitu pula halnya para Nabi dan Rasul setelahnya hingga sampai pada era Nabi dan sekaligus Rasul terakhir yakni Nabi Muhammad. 

Berdasarkan info dari Nabi Muhammad bahwa sebelum Beliau, telah diutus banyak Nabi dan Rasul. 

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar : “Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi? Rasulullah menjawab: Nabi ada 120.000 orang. Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Rasul? Rasulullah menjawab: Rasul ada 313 orang, mereka sangat banyak” (HR. Ibnu Hibban no.361, didhaifkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Tahqiq Shahih Ibnu Hibban [2/79])

Adapun lahirnya agama-agama baru di masa lampau, harus diyakini dan diimani oleh kaumm muslimin bahwa hal tersebut adalah bentuk penyimpangan dari ajaran para Nabi dan Rasul. Penyimpangan terjadi karena mulai munculnya pemikiran atau aktivitas baru dalam agama setelah para Nabi dan Rasul atau ahli-ahli ilmu agama meninggal. Lambat laun hal-hal baru tersebut dimasukkan dalam syariat, menjadi suatu ketetapan, dan kebiasaan di tengah masyarakat, secara turun-temurun dan terus bertambah hal-hal baru. Sehingga setelah berlalu beberapa generasi, hal-hal tersebut benar-benar mengubah ajaran Islam para Nabi dan Rasul yang murni dan menjadi suatu ajaran agama baru yang mungkin masih ada kemiripan dengan Islam atau benar-benar berbeda jauh dari ajaran Islam.  

Sebagai gambaran, contoh kasus yakni di era Nabi Muhammad, ketika Beliau mendakwahkan ajaran Islam yang murni di tengah kaum Quraish Mekkah. Sebenarnya kaum Quraish Mekkah telah mengimani bahwa nenek moyang mereka adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta Tuhan mereka adalah Allah. Mereka meyakini bahwa Ka'bah adalah bangunan peninggalan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang harus mereka jaga. Namun demikian, mereka juga menyembah berhala-berhala yang dijejer di sekitar Ka'bah bahkan ada yang ditempatkan di dalam Ka'bah. 

Ini berarti ajaran Islam asli dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, secara perlahan, mulai tergerus terus-menerus dari generasi ke generasi. Mulai dicampur adukkan dengan ketentuan-ketentuan baru, hingga pada akhirnya kaum Quraish Mekkah memiliki keyakinan bahwa mereka juga perlu menyembah berhala-berhala atau banyak dewa selain Allah. Mereka mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, yakni berhala-berhala. 

Alasan mereka melakukan hal ini karena mereka mengikuti nenek moyang mereka. Sehingga ketika Nabi Muhammad mendakwahkan ajaran Islam yang murni sesuai ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang notabene merupakan nenek moyang mereka, justru mereka menolak dengan tegas karena dianggap bertentangan dengan yang mereka lakukan selama ini secara turun temurun yang telah diyakini sebagai kebenaran.  

Hal ini menunjukkan bahwa di masa lampau pun telah terjadi penyimpangan terhadap ajaran Islam yang dibawa para Nabi dan Rasul sehingga muncullah agama-agama baru, yang bertentangan dengan ajaran Islam. 

Atau bisa saja, para arkeolog dan sejarawan lah yang melakukan kesalahan-kesalahan analisa dan evaluasi. Hal ini karena keterbatasan teknologi dan alat-alat modern, ketidak lengkapan fragmen-fragmen artefak yang ditemukan, inteprestasi yang salah terhadap tulisan-tulisan kuno, dan penarikan kesimpulan dan teori yang tidak tepat terhadap kemungkinan yang terjadi di masa lampau. Ini tentu bisa terjadi dalam ranah aktivitas ilmiah. Terkecuali memang telah ditemukan teknologi mesin waktu sehingga para sejarawan dan arkeolog tersebut benar-benar hadir di era itu, menyaksikan jalannya sejarah peradaban kuno, ini mungkin jadi lain ceritanya.   

Dengan demikian, seperti apapun penjelasan ilmiah para sejarawan dan arkeolog, perlu dibentengi dengan keimanan terhadap pemahaman dan keilmuan agama Islam yang benar. Hal ini agar kita sebagai umat Islam tidak mudah diombang-ambingkan, pemikiran kita, sehingga mengarah kepada keraguan-raguan atas agama Islam kita sendiri. 

Sabtu, 13 Januari 2024

Indonesia Seharusnya Lebih Ke-Arab-Araban Daripada Ke-Barat-Baratan & Ke-Jepang-Jepangan



Akhir-akhir ini banyak stigma negatif di tengah masyarakat, ketika melihat saudara/saudari menunjukkan atribut atau penampilan yang dinilai ke-Arab-Araban. Seperti misalnya jilbab lebar, cadar, jenggot, celana menggantung (cingkrang) dan lain sebagainya. 

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat justru begitu berbangga-bangga ketika bisa tampil ke-Barat-Baratan dan ke-Jepang-Jepangan. Hal ini dinilai keren. 

Padahal kalau ditinjau dari salah satu sisi, yakni secara historis, justru yang membantu pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Negara-Negara Arab. Sedangkan negara yang jelas-jelas terekam secara historis pernah menjajah Indonesia yakni negara-negara Barat (Portugis, Inggris, Belanda) dan Jepang. Namun mengapa yang populer justru budaya-budaya bangsa penjajah. Bukan budaya bangsa-bangsa yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia sehingga diakui sebagai Negara di kancah Internasional.

Adapun yang dilakukan sebagian saudara/saudari kita tersebut (contoh seperti disebutkan di atas) adalah mengamalkan ajaran Islam bukan budaya Arab. Memang benar ada sebagian budaya Arab yang masih bersesuaian dengan ajaran Islam, masih dilakukan oleh orang arab hingga sekarang. Namun ada juga yang tidak sesuai, baik sudah ditinggalkan atau masih dilakukan. 

Akan tetapi sebagian para budayawan nusantara tetap ngotot menilai hal tersebut sebagai budaya arab dan akan membanding-bandingkannya dengan budaya Indonesia asli yang kemudian terkesan dinilai lebih agung dan luhur. 

Sebenarnya yang paling penting, bagi umat Islam di Indonesia, adalah perlu dikaji apakah budaya asli Indonesia tersebut masih sesuai atau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kalau sesuai terus laksanakan, kalau tidak sesuai maka tinggalkan. 

Atau barangkali perlu dikaji apakah yang dilakukan oleh saudara/saudari kita tersebut adalah budaya arab atau ajaran Islam. Kalau ajaran Islam, ya tentunya haruslah saling toleransi agama dan kepercayaan masing-masing-masing. Saling menghormati pilihan keyakinan dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau misalkan budaya, ya juga haruslah saling menghormati karena mereka-mereka yang mempopulerkan budaya barat dan budaya jepang juga tidak dipermasalahkan.    

Sebenarnya Islam sendiri tidak mempermasalahkan budaya, selama hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Misalkan dalam hal berbusana, haruslah mengikuti ketentuan syariat untuk menutup aurat bagi muslim laki-laki dan perempuan. 

Masih menjadi pertanyaan, mengapa mereka yang ke-Arab-Araban mendapat stigma negatif sedangkan mereka yang ke-Barat-Baratan dan ke-Jepang-Jepangan mendapat stigma positif. Apakah bangsa ini masih belum lepas dari belenggu penjajahan (secara pemikiran)?

Sekali lagi, sebenarnya tidak masalah seorang muslim Indonesia suka budaya Barat atau Jepang selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tidak mengapa mempelajarinya, misal budayanya, cara berpakaiannya, bahasanya dan lain sebagianya dalam rangka menambah pengetahuan agar semakin bisa saling memahami ketika berinteraksi dengan mereka. Namun demikian, janganlah benci pada budaya Arab karena barangkali yang disangka budaya Arab sebenarnya itu adalah ajaran Islam yang kemungkinan belum diketahui/belum populer di tengah kaum muslimin Indonesia. 

Dan sekalipun misal itu budaya arab, perlu dingat kembali sejarah, bahwa yang membantu berdirinya negara Indonesia yakni negara-negara Arab. Sehingga selayaknya bangsa Indonesia lebih ke-Arab-Araban daripada ke-Barat-Baratan dan ke-Jepang-Jepangan. 

Atau sebenarnya terpikirkan juga, mungkinkah ada suatu gerakan/propaganda untuk menyerang pemikiran atau syariat Islam melalui budaya agar umat Islam menjauhi syariat agamanya sendiri. 

Selasa, 09 Januari 2024

Al Quran Mengkoreksi Kitab-Kitab Para Nabi Sebelumnya Yang Banyak Dipalsukan Oleh Ahli Kitab



Sebagai kaum muslimin, sudah sepatutnya mempercayai (mengimani) segala yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Baik dalam kitab suci Al Quran maupun Hadis-Hadis Nabi. Serta memahami kedua sumber ilmu tersebut haruslah sesuai dengan apa yang dipahami oleh para Sahabat Nabi dan generasi awal umat Islam. 

Kita harus meyakini bahwa Al Quran adalah mukjizat terbesar yang akan terus berlaku hingga akhir zaman (kiamat). Al Quran tidak mengenal expired. Termasuk juga terjemahannya dan penafsirannya yang sesuai dengan pemahaman para Sahabat Nabi serta ulama-ulama generasi awal (termasuk 4 imam mahdzab) dan telah final di era itu. Sehingga tidak terbuka lagi untuk revisi dan penafsiran baru.

Allah sendiri menyampaikan bahwa Al Quran akan terjaga kelestariannya/keotentikannya/keasliannya, sesuai yang disampaikan dalam Al Quran:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

''Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.'' (Surat Al Hijr (15) ayat 9).

Al Quran dibuat mudah untuk dihafal sehingga banyak penghafal Al Quran. Seandainya semua kitab Al Quran dimusnahkan, maka Insya Allah akan mudah ditulis kembali. Seandainya ada yang mencoba memalsukan Al Quran, Insya Allah akan mudah dideteksi dan harus direvisi.   

Ini juga berimplikasi kepada terjemahan dan tafsirnya. Sehingga jika ada ulama di era ini atau kemudian yang menyampaikan sebuah tafsir Al Quran maka haruslah dikomparasi kesesuaiannya dengan tafsir Al Quran ulama-ulama terdahulu.

Lalu, bagaimana kedudukan Al Quran terhadap kitab-kitab Para Nabi sebelumnya. 

Kita sebagai umat Islam harus mengimani bahwa terdapat para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad. Mereka semua mengajarkan Islam. Mereka mengajak dan mengajakan umatnya untuk beriman hanya kepada 1 Tuhan yaitu Allah dan mengimani bahwa para Nabi dan Rasul adalah utusan Allah. Dan diantara mereka ada yang diturunkan kitab-kitab suci kepada mereka untuk disampaikan kepada umatnya. 

Diantaranya, kitab-kitab yang wajib diimani adalah: Kitab Zabur (Nabi Daud), Kitab Taurat (Nabi Musa) dan Kitab Injil (Nabi Isa). 

Namun demikian, sebagaimana diinfokan dalam Al Quran, kitab-kitab tersebut banyak diselewengkan/dipalsukan/ditafsirkan secara salah oleh para ahli kitab, setelah para Nabi yang membawa kitab tersebut meninggal dunia.

وَاِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya (ketika membaca) Alkitab agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Alkitab. Padahal, itu bukan dari Alkitab. Mereka berkata, “Itu dari Allah.” Padahal, itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, sedangkan mereka mengetahui. (Surat Ali 'Imran Ayat 78).

Sebagian umat mengikuti para ahli kitab yang melakukan penyelewangan terhadap ajaran Nabi dan Rasul tersebut. Sehingga muncullah agama-agama baru yang keluar dari ajaran Islamnya Para Nabi dan Rasul. 

Namun demikian, diantara para ahli kitab ada juga yang tetap memegang teguh ajarannya yang asli, mengajarkannya kepada umatnya, sehingga ketika Nabi Muhammad diutus dan menyampaikan kitab Al Quran, merekapun berbondong-bondong memeluk Islam dan mengikuti ajaran Nabi Terakhir yakni Nabi Muhammad. 

وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya di antara Ahlul Kitab ada yang beriman kepada Allah dan pada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka berendah hati kepada Allah dan tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka itu memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Cepat perhitungan-Nya. (Surat Ali 'Imron Ayat 199).

Sehingga dapat dikatakan, Al Quran diturunkan kepada Nabi Terakhir, yakni Nabi Muhammad, yang terjaga keotentikannya, dalam rangka mengkoreksi kitab-kitab para Nabi sebelumnya yang banyak diselewengkan oleh para ahli kitab.  



Minggu, 04 Juni 2023

SEJARAH AGAMA-AGAMA

Dalam tinjauan sosial & budaya, pemahaman kita akan selalu digiring untuk meyakini bahwa agama-agama merupakan produk dari budaya secara lokal & historis. Sehingga, Agama Islam akan selalu dianggap sebagai agama yang secara relatif baru muncul belakangan, dari tanah Arab. Namun demikian, bagaimanakah Islam sendiri memandang sejarah dari agama-agama yang ada di dunia ini?

Dalam persepsi agama Islam, sejak awal penciptaan manusia, sebenarnya itulah titik awal manusia sudah beragama Islam. Dimulai dari manusia pertama dan sekaligus nabi pertama, yakni Nabi Adam 'alaihi sallam beserta istrinya, Siti Hawa. Mereka sudah beragama Islam sejak awal dan diajarkan semua pengetahuan dan kebijaksanaan serta tata cara beribadah ketika masih berada di surga. 

Nabi Adam menyembah hanya kepada Allah. Beliau mendapat misi untuk turun ke muka bumi sebagai khalifah atau pengelola bumi dan isinya. Bersama Siti Hawa, beliau memiliki anak dan cucu yang tentunya Beliau didik mereka untuk juga bertauhid atau menyembah hanya kepada Allah. 

Jadi sejak awal kemunculan dan penciptaan manusia, sebenarnya mereka beragama Islam, yang dipimpin langsung oleh Nabi sekaligus manusia pertama, Yakni Nabi Adam 'Alaihi Sallam.

Setelah Nabi Adam wafat, kemudian berlalu beberapa generasi, berlalu beberapa zaman, mulai ada penyimpangan-penyimpangan. Yang awalnya manusia menyembah hanya kepada Allah, mulailah mereka dipengaruhi setan-setan agar menyembah lainnya. Menyembah orang-orang soleh yang dikultuskan sebagai dewa-dewi. Menyembah alam dan benda-benda keramat. Lahirlah bentuk pemujaan-pemujaan kepada selain Allah. Muncul banyak berhala yang disembah.

Ada juga yang dipengaruhi oleh pemikiran atau pemahaman sesat, sehingga muncullah konsep-konsep agama baru yang melenceng dari jalan tauhid. Muncul konsep-konsep agama baru berbasis pemikiran akal manusia, yang dicampur-adukkan dengan ajaran tauhid, dan ujung-ujungnya akhirnya menyimpang dari ajaran Tauhid. 

Kemudian diutuslah kembali para Nabi dan Rasul untuk meluruskan mereka dan mengembalikan mereka ke jalan agama tauhid, yakni menyembah hanya kepada Allah. Ada yang ikut kepada seruan Nabi & Rasul tersebut, kembali pada ajaran tauhid, ajaran Islam. Tapi ada juga yang justru memusuhi Nabi dan Rasul. Bahkan ada diantara Nabi & Rasul yang diusir dan dibunuh. Lalu terus diutus kembali Nabi & Rasul. Dan begitulah seterusnya. 

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar : “Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi? Rasulullah menjawab: Nabi ada 120.000 orang. Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Rasul? Rasulullah menjawab: Rasul ada 313 orang, mereka sangat banyak” (HR. Ibnu Hibban no.361, didhaifkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Tahqiq Shahih Ibnu Hibban [2/79]).

Jadi total ada 120 ribu Nabi dan 313 Rasul yang diutus kepada umat manusia, sejak awal penciptaan manusia, Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Salam sebagai Nabi & sekaligus Rasul penutup. Semua Nabi & Rasul diutus dengan misi untuk mengembalikan manusia pada fitrah asalnya agar menyembah hanya kepada Allah, agar mereka mengikuti jalan Islam, jalan yang lurus, jalannya para Nabi & Rasul. Namun dalam Islam, yang wajib diimani dan diambil hikmah kisahnya hanyalah 25 Nabi & Rasul sebagaimana disebutkan kisah-kisah mereka dalam Al Quran. 

Jadi menurut pemahaman agama Islam, agama-agama selain Islam yang muncul, baik sebelum Nabi Muhammad maupun sesudahnya, adalah bentuk penyimpangan dari ajaran agama Islam, agama tauhid, yang dibawa oleh para Nabi & Rasul sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.  

Proses munculnya agama-agama selain agama Islam tersebut, salah satunya sebagaimana disebutkan dalam Hadis yang diriwatkan oleh Ibnu Abbas yang artinya, “Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya, berhala-berhala yang dahulu diagungkan oleh kaum Nabi Nuh, di kemudian hari tersebar di bangsa 'Arab. Wadd menjadi berhala untuk kamu Kalb di Daumatul Jandal. Suwa' untuk Bani Hudzail. Yaquts untuk Murad dan Bani Ghuthaif di Jauf tepatnya di Saba`. Adapun Ya'uq adalah untuk Bani Hamdan. Sedangkan Nashr untuk Himyar keluarga Dzul Kala'. Itulah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kaum itu untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama orang-orang saleh itu. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, sesudah itu, setelah ilmu tiada, maka berhala-berhala itu pun disembah," (Lihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Sahihul Bukhari, [Kairo, Dāru Thauqin Najah: 1422 H), juz XII, halaman 261).

Proses munculnya penyembahan berhala di Jazirah Arab sebelum Nabi Muhammad diutus juga berawal dari proses yang sama. Awalnya warga jazirah Arab mengikuti ajaran agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Mereka mendirikan ka'bah. Namun setelah berlalu beberapa generasi, mulai muncul bid'ah. 

Terdapat orang-orang dari keturunan Nabi Ismail yang ketika keluar dari Tanah Haram untuk bepergian, mereka membawa batu dari Tanah Haram. Ketika mereka singgah di sebuah tempat, mereka meletakkan batu itu, kemudian bertawaf (mengelilingi) batu tersebut sebagaimana mereka bertawaf di Baitullah Mekkah. Mereka juga berdoa kepada Allah. Saat melanjutkan perjalanan, batu itu terus dibawa serta.

Setelah berlalu beberapa generasi, serta sejalan dengan pergantian zaman, muncullah generasi jahil yang menganggap batu-batu itu adalah tuhan yang mampu mendekatkan mereka kepada Allah Ta’ala Rabb Baitullah Al-Haram. Inilah cikal-bakal penyembahan berhala oleh anak cucu Ismail dari keturunan Adnan.

Sampai pada akhirnya, pada generasi-generasi selanjutnya, ada seorang tokoh yang bernama Amr bin Luhay yang membawa berhala dari Syam ke Mekkah dan menempatkan berhala tersebut di area Ka'bah. 

Ibnu Hajar mengutip catatan dari ahli sejarah, Ibnu Ishaq, yang artinya, “Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa sebab penyembahan Amr bin Luhay atas berhala adalah ketika Amr bin Luhay pergi menuju Syam. Saat itu di sana ada Kaum Al-Amalik yang menyembah berhala. Amr bin Luhai pun meminta agar Kaum Amalik memberinya salah satu berhala yang mereka sembah dan membawa berhala tersebut masuk ke Kota Makkah. Amr kemudian mendirikan berhala itu di Ka’bah, berhala itu yang kelak dinamai Hubal,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Fatḥul Bārī Syarḥu Saḥīḥil Bukhari, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 547).

Dengan demikian, sebagai seorang muslim haruslah meyakini dengan iman yang kuat, bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Agama Islam, adalah agama tauhid, agama yang mengajarkan untuk menyembah hanya kepada Allah semata. Agama ini telah dibawa serta oleh manusia pertama sekaligus nabi pertama, yakni Nabi Adam 'alaihi sallam. Kemudian diserukan ulang oleh para Nabi dan Rasul kepada setiap umat pada setiap zaman, yang total ada 120-an ribu orang nabi & rasul, hingga akhirnya disempurnakan oleh Nabi & sekaligus Rasul penutup, yakni Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Salam. Itulah yang harus diyakini oleh kaum muslimin. 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”   (Al Quran Surat Ali Imron ayat 19).

Selebihnya, menyikapi agama-agama selain Islam tentunya kita diajarkan harus saling menghormati, saling toleransi, bersikap adil, dan menunjukkan ahlak yang baik, serta mendoakan mereka agar mendapatkan dan menerima hidayah Allah. 

Kita bisa menyampaikan satu ayat, dua ayat, satu hadis, dua hadis, semampu kita, sebagai upaya dakwah. Tidak ada paksaan dalam agama Islam. Selebihnya hidayah Allah adalah hak preogratif Allah dan pilihan masing-masing manusia. 

Jika Allah menghendaki, bisa saja semua umat manusia dikondisikan menerima semua ajaran Para Nabi & Rasul, sehingga hanya akan ada 1 umat, satu agama yang sama, yakni Islam. Namun demikian, berhubung dunia ini pada hakikatnya adalah ujian bagi manusia, dan manusia diberikan kehendak bebas memilih, maka akan menjadi suatu keniscayaam bagi umat manusia di dunia ini untuk membentuk masyarakat yang hanya memeluk 1 agama yang sama.

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, (Al Quran Surat Al Maidah ayat 48). 


Wallahu A'lam Bish Shawab.