Saling Berbagi Pengetahuan, Pemikiran dan Cerita Terkait Agama, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kesehatan, Lingkungan, Energi, Bisnis, Manajemen, Sosial, Budaya, Sejarah, Dll
Senin, 22 Oktober 2012
FASOBRUN JAMIL (BERSABAR ITU INDAH)
Dalam kondisi seperti itu tiada upaya yang bisa dilakukan kecuali hanya bisa bersabar dan berpikir positif terhadap cobaan yang menimpa kita. Bersabar merupakan usaha terakhir yang harus dilakukan sebagai hamba Allah yang beriman ketika menemui ketetapan Allah tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, sambil lalu kita harus tetap berikhtiar, mencari-cari celah penyelesaian dari konflik yang seolah tak berujung.
Fasobrun Jamil, artinya sabar itu indah. Sabar merupakan bunga-bunga keimanan. Semakin bersabar semakin indah.
Untuk bisa bersabar dengan benar perlu pemahaman yang benar mengenai cobaan dan musibah. Kita dapat mempelajarinya dari Al Quran dan Al Hadis.
Pemahaman yang benar mengenai musibah, adalah dengan meyakini bahwa segala sesuatunya terjadi atas Izin Allah.
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus:107)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:155)
Allah tidak pernah menzalimi hambaNYA, tetapi hambaNYA itulah yang seringkali menzalimi dirinya sendiri.
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya". Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): "Rasakanlah olehmu azab yang membakar.(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imron: 181 - 182)
Sesungguhnya Allah tidaklah berbuat zalim walau seberat semut yang kecil.” (An-Nisa: 40)
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku…” (HR. Muslim)
Setiap orang yang beriman akan diberi cobaan untuk menguji kadar keimanannya. Selayaknya emas yang perlu disepuh agar semakin tinggi kadar kemurniannya.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah:214)
Semakin besar cobaan yang menimpa kita, terdapat potensi pahala yang besar pula apabila kita bersabar dalam menghadapinya dan tetap tegar untuk bisa memperjuangkan kebaikan. Cobaan yang diberikan Allah adalah bentuk cinta Allah kepada kita agar kita bisa meningkatkan derajat diri kita di sisi-Nya. Seperti halnya ujian naik kelas. Apabila kita lulus, maka kita akan naik kelasnya.
“Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).
Kesabaran akan semakin membuat kita sebagai orang atau kaum yang kuat dan tangguh. Sebagai gambaran, dalam periode dakwah Nabi Muhammad yang selama 23 tahun, kita tahu bahwa awalnya Beliau berdakwah di Mekkah (periode Mekah)selama 13 tahun. Selama 13 tahun ini beliau dan para sahabat mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi hingga kemudian secara terang-terangan. Selama berdakwah di Mekkah ini beliau dan para sahabat mendapat penolakan dan bahkan penganiayaan serta siksaan.
Baru kemudian ketika hijrah ke Madinah, kamu muslimin mendapat kekuatan sedikit demi sedikit. Lalu akhirnya kekuatan pun dimiliki dan mampu membela diri walaupun dengan angkatan perang dan persenjataan yang terbatas. Pada akhirnya Mekkah berhasil ditaklukkan. Kekuasaan Islam pun semakin meluas dan menjadi pelita bagi peradaban manusia yang sebelumnya berada dalam periode jahiliyah atau dark age. Begitulah keindahan bersabar dalam memperjuangkan kebaikan.
Disebutkan bahwa kekuatan seorang yang sabar adalah setara dengan 100 orang musuh.
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Anfaal:65)
Allah telah menjanjikan bahwa orang yang sabar pada akhirnya akan menang. Jadi, kita tidak boleh berputus harapan.
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. Ar Ra’du:22)
Orang-orang yang sabar akan memiliki sifat-sifat kebaikan. Mereka yang sabar akan memiliki keberuntungan yang besar di dunia dan akhirat.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. Fushilat:35)
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu. Semua urusannya baik baginya. Hal itu hanya dimiliki orang yang beriman. Jika dia memperoleh nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan, dia bersabar dan itu baik baginya.”(HR. Muslim)
Setiap kesulitan hidup yang kita alami merupakan penghapus dosa bagi mereka yang bersabar. Selain itu ada hikmah yang bisa dipetik.
"Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, kesabaran merupakan suatu bentuk komponen keimanan kita kepada Allah. Setiap orang yang beriman haruslah menerima ketentuan Allah mengenai adanya cobaan dan musibah yang akan menimpa setiap manusia.
Allah berfirman dalam hadits Qudsi : ”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir melalui jalur Abu Hind al-Dari)
Jumat, 19 Oktober 2012
Kapal Kehidupan: Belajar Menavigasi Dunia dengan Al-Qur’an dan Sunnah
Mengarungi kehidupan dapat diibaratkan seperti berlayar di tengah lautan yang luas. Setiap manusia memiliki kapal masing-masing. Kapal itu adalah dirinya sendiri: hati, akal, tubuh, waktu, rezeki, pilihan, dan amal perbuatannya.
Lautan yang dilalui adalah dunia dengan segala keindahan, ujian, godaan, peluang, dan bahayanya. Ada ombak yang tenang, ada badai yang menakutkan. Ada ikan yang dapat menjadi rezeki, ada pula hiu yang dapat menjadi ancaman. Ada mutiara yang bernilai, tetapi ada juga arus kuat yang dapat menyeret kapal menjauh dari tujuan.
Pulau tujuan yang ingin dicapai adalah keselamatan akhirat dan surga yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.
Dalam perjalanan panjang ini, manusia tidak cukup hanya memiliki kapal. Ia juga membutuhkan arah, kompas, peta, dan ilmu navigasi. Tanpa itu semua, kapal bisa tersesat, berputar-putar tanpa tujuan, menabrak karang, atau karam di tengah perjalanan.
Bagi seorang Muslim, panduan navigasi kehidupan adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Dunia sebagai Lautan
Dunia sering terlihat indah. Di dalamnya ada harta, keluarga, pekerjaan, kedudukan, ilmu, hiburan, persahabatan, dan berbagai kesempatan. Semua itu dapat menjadi bekal perjalanan jika digunakan dengan benar.
Namun, dunia juga dapat menipu. Keindahannya kadang membuat manusia lupa bahwa ia sedang berlayar menuju tujuan akhir. Banyak orang terlalu sibuk mengumpulkan isi lautan, sampai lupa menjaga kapalnya. Ada yang sibuk mengejar mutiara dunia, tetapi tidak menyadari kapalnya bocor. Ada pula yang terlalu menikmati pemandangan, sampai kehilangan arah.
Dunia bukan tujuan akhir. Dunia adalah tempat perjalanan, tempat ujian, dan tempat mengumpulkan bekal.
Karena itu, seorang Muslim perlu memandang dunia dengan seimbang. Dunia tidak harus dibenci, tetapi tidak boleh dijadikan tujuan utama. Dunia perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk meraih keridaan Allah.
Kapal adalah Diri Kita
Setiap manusia membawa kapalnya sendiri. Kapal itu bisa kuat atau rapuh, tergantung bagaimana ia merawat dirinya.
Hati adalah ruang kendali kapal. Jika hati baik, arah kapal lebih mudah dijaga. Jika hati rusak, kapal mudah diarahkan oleh hawa nafsu, amarah, iri, kesombongan, dan kelalaian.
Akal adalah alat membaca keadaan. Dengan akal, manusia dapat membedakan bahaya dan peluang, memilih jalur yang aman, dan mengambil keputusan.
Tubuh adalah bagian kapal yang harus dirawat. Jika tubuh diabaikan, perjalanan menjadi berat. Karena itu, kesehatan, kebersihan, makan yang baik, istirahat, dan aktivitas yang cukup juga menjadi bagian dari amanah.
Waktu adalah bahan bakar perjalanan. Setiap hari yang berlalu tidak akan kembali. Jika waktu digunakan untuk kebaikan, kapal bergerak mendekati tujuan. Jika waktu habis dalam kelalaian, kapal hanya terapung tanpa arah.
Amal adalah muatan kapal. Amal saleh menjadi bekal keselamatan. Dosa, kesombongan, dan kezaliman menjadi beban yang dapat memberatkan kapal.
Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Kompas
Dalam pelayaran, kompas membantu menentukan arah. Tanpa kompas, pelaut mudah tersesat, terutama ketika langit gelap dan badai datang.
Dalam kehidupan, Al-Qur’an dan Sunnah adalah kompas yang menunjukkan jalan. Keduanya mengajarkan mana yang benar dan salah, halal dan haram, baik dan buruk, serta mana jalan yang membawa keselamatan dan mana yang membawa kerugian.
Al-Qur’an memberi petunjuk tentang tujuan hidup, tauhid, ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, keadilan, kesabaran, dan akhirat. Sunnah Rasulullah ﷺ memberi contoh bagaimana petunjuk itu diterapkan dalam kehidupan nyata.
Tanpa Al-Qur’an dan Sunnah, manusia dapat mengira dirinya berjalan menuju kemajuan, padahal sedang menjauh dari keselamatan. Ia bisa merasa sedang bebas, padahal terombang-ambing oleh arus dunia.
Pentingnya Ilmu Navigasi Kehidupan
Seorang pelaut tidak cukup hanya memiliki peta. Ia juga harus belajar membaca peta. Ia perlu memahami arah angin, kedalaman laut, posisi bintang, arus, cuaca, dan tanda-tanda bahaya.
Demikian pula seorang Muslim. Tidak cukup hanya memiliki mushaf Al-Qur’an di rumah. Ia perlu membacanya, memahami maknanya, mempelajari tafsirnya sesuai kemampuan, dan mengamalkannya. Tidak cukup hanya mengaku mencintai Rasulullah ﷺ. Ia perlu mempelajari sunnah beliau dan meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu adalah bagian penting dari navigasi kehidupan. Dengan ilmu, seseorang dapat menghindari kesalahan yang berulang. Dengan ilmu, ia dapat membedakan nasihat yang benar dan ajakan yang menyesatkan. Dengan ilmu, ia dapat memahami bahwa tidak semua jalan yang ramai dilalui manusia adalah jalan yang benar.
Ombak dan Badai Kehidupan
Tidak ada pelayaran yang selalu tenang. Setiap manusia akan menghadapi ombak dan badai. Ada badai berupa kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan, kegagalan, konflik keluarga, fitnah, tekanan pekerjaan, atau rasa takut terhadap masa depan.
Badai tidak selalu berarti Allah membenci hamba-Nya. Bisa jadi badai adalah ujian untuk menguatkan iman, membersihkan dosa, atau mengarahkan manusia kembali kepada Allah.
Kapal yang baik bukan kapal yang tidak pernah diterpa ombak. Kapal yang baik adalah kapal yang tetap bertahan, memperbaiki kerusakan, dan kembali ke arah yang benar setelah diguncang badai.
Begitu pula orang beriman. Ia tidak bebas dari masalah, tetapi ia memiliki pegangan. Ketika diuji, ia bersabar. Ketika diberi nikmat, ia bersyukur. Ketika salah arah, ia bertaubat. Ketika bingung, ia kembali kepada petunjuk Allah.
Muatan Kapal: Jangan Berlebihan Mencintai Dunia
Salah satu bahaya dalam pelayaran adalah kapal yang kelebihan muatan. Semakin banyak beban, semakin berat kapal bergerak. Jika muatan tidak terkendali, kapal bisa tenggelam.
Dalam kehidupan, muatan itu bisa berupa ambisi, cinta dunia, keserakahan, gengsi, iri hati, dendam, dan keinginan yang tidak pernah selesai.
Harta, pekerjaan, keluarga, dan cita-cita pada dasarnya bukan hal buruk. Semua bisa menjadi kebaikan jika ditempatkan dengan benar. Namun, jika semuanya membuat manusia lupa kepada Allah, maka itu berubah menjadi beban.
Seorang Muslim perlu belajar memilah muatan kapalnya. Mana yang perlu dibawa sebagai bekal, mana yang harus dikurangi, dan mana yang harus dibuang.
Bekal yang perlu dibawa adalah iman, ilmu, amal saleh, akhlak baik, doa, kesabaran, syukur, dan keikhlasan.
Beban yang perlu dibuang adalah dosa, kezaliman, kesombongan, riya, ujub, dendam, dan kelalaian.
Jangan Memasukkan Air Laut ke dalam Kapal
Laut berada di luar kapal. Selama laut tetap di luar, kapal dapat berlayar. Namun, jika air laut masuk ke dalam kapal, kapal terancam tenggelam.
Dunia juga demikian. Selama dunia berada di tangan, ia dapat dimanfaatkan. Namun, jika dunia masuk terlalu dalam ke hati, ia dapat menenggelamkan manusia.
Harta di tangan dapat menjadi sedekah. Jabatan di tangan dapat menjadi amanah. Ilmu di tangan dapat menjadi manfaat. Namun, jika harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan dunia menguasai hati, manusia dapat lupa tujuan akhir.
Karena itu, seorang Muslim perlu terus membersihkan hati. Dunia boleh dicari, tetapi jangan sampai menguasai hati. Rezeki boleh diusahakan, tetapi jangan sampai mengorbankan iman. Kesuksesan boleh diraih, tetapi jangan sampai membuat sombong.
Karang dan Hiu: Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Dalam lautan, ada bahaya yang tampak dan ada yang tersembunyi. Karang bisa merusak kapal. Hiu bisa mengancam keselamatan. Arus bawah laut bisa menyeret kapal tanpa terasa.
Dalam kehidupan, bahaya juga bermacam-macam.
Ada bahaya yang tampak jelas, seperti maksiat, kezaliman, penipuan, riba, zina, khamr, dan perbuatan haram lainnya.
Ada pula bahaya yang halus, seperti riya, ujub, iri, prasangka buruk, cinta pujian, malas beribadah, dan merasa diri sudah cukup baik.
Bahaya yang tampak mudah dikenali, tetapi bahaya yang halus sering lebih sulit disadari. Karena itu, seorang Muslim perlu terus bermuhasabah.
Pelabuhan Sementara
Dalam perjalanan laut, kapal kadang singgah di pelabuhan. Pelabuhan berguna untuk mengisi bekal, memperbaiki kapal, dan beristirahat. Namun, pelabuhan bukan tujuan akhir.
Dalam kehidupan, pelabuhan sementara dapat berupa pendidikan, pekerjaan, rumah, keluarga, komunitas, dan pencapaian dunia. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan terakhir.
Jangan sampai manusia terlalu nyaman di pelabuhan sementara hingga lupa bahwa perjalanan masih berlanjut.
Setiap pencapaian dunia seharusnya menjadi sarana untuk memperbaiki bekal akhirat. Pekerjaan menjadi jalan mencari rezeki halal. Keluarga menjadi ladang kasih sayang dan tanggung jawab. Ilmu menjadi alat memberi manfaat. Harta menjadi sarana sedekah. Waktu luang menjadi kesempatan beribadah.
Teman Seperjalanan
Dalam pelayaran, teman seperjalanan sangat berpengaruh. Teman yang baik membantu menjaga arah, memperbaiki kapal, dan mengingatkan ketika ada bahaya. Teman yang buruk dapat mengajak menyimpang, merusak kapal, atau membuat perjalanan menjadi berbahaya.
Begitu pula dalam kehidupan. Lingkungan sangat memengaruhi hati dan kebiasaan seseorang.
Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, mendukung kebaikan, menasihati dengan adab, dan tidak mendorong kepada maksiat. Jika memiliki teman yang sedang lemah, bantulah ia dengan cara yang baik. Jika kita sendiri lemah, dekatilah orang-orang yang dapat menguatkan iman.
Perjalanan menuju Allah lebih mudah jika ditemani orang-orang yang juga ingin selamat.
Memperbaiki Kapal Sebelum Terlambat
Setiap kapal bisa mengalami kerusakan. Ada layar yang sobek, papan yang retak, kemudi yang goyah, atau lubang kecil yang membuat air masuk perlahan.
Dalam diri manusia, kerusakan itu bisa berupa dosa, kebiasaan buruk, lalai salat, malas membaca Al-Qur’an, hubungan keluarga yang renggang, rezeki yang tidak bersih, atau hati yang mulai keras.
Jika kerusakan kecil dibiarkan, lama-lama dapat menjadi besar. Karena itu, perbaiki kapal sejak dini.
Taubat adalah cara memperbaiki arah. Istighfar adalah cara membersihkan hati. Ilmu adalah cara memperbaiki navigasi. Amal saleh adalah cara menambah bekal. Doa adalah cara memohon pertolongan kepada Pemilik lautan.
Selama masih hidup, kesempatan memperbaiki kapal masih ada.
Tujuan Akhir: Keselamatan di Sisi Allah
Setiap pelayaran memiliki tujuan. Jika tujuan tidak jelas, kapal bisa berputar-putar tanpa arah.
Tujuan hidup seorang Muslim adalah beribadah kepada Allah dan meraih keselamatan akhirat. Surga adalah tujuan akhir yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.
Namun, untuk sampai ke sana, seseorang perlu menjaga arah. Tidak cukup hanya berharap sampai. Ia harus berlayar dengan petunjuk yang benar, menghindari bahaya, memperbaiki kapal, dan memohon pertolongan Allah.
Tidak ada manusia yang selamat hanya karena kekuatannya sendiri. Keselamatan adalah rahmat Allah. Namun, rahmat itu harus dicari dengan iman, amal, taubat, dan kesungguhan.
Cara Menavigasi Kapal Kehidupan
Ada beberapa langkah yang dapat membantu kita menavigasi kehidupan.
1. Tetapkan tujuan
Ingat bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia. Tujuan akhir adalah kembali kepada Allah dengan membawa iman dan amal saleh.
2. Pelajari petunjuk
Bacalah Al-Qur’an, pelajari sunnah, dan carilah ilmu dari sumber yang benar.
3. Jaga hati
Hati adalah ruang kendali kapal. Bersihkan dari iri, sombong, riya, ujub, dan prasangka buruk.
4. Pilih teman yang baik
Teman seperjalanan dapat membantu atau menyesatkan. Pilih lingkungan yang mendekatkan kepada kebaikan.
5. Jangan berlebihan mencintai dunia
Gunakan dunia sebagai bekal, bukan sebagai tujuan utama.
6. Perbanyak taubat
Jika kapal mulai menyimpang, segera kembali ke jalur yang benar.
7. Berdoa kepada Allah
Manusia hanya berusaha. Allah-lah yang mengatur lautan, angin, dan keselamatan perjalanan.
Penutup
Kehidupan adalah pelayaran panjang. Kapal kita adalah diri kita sendiri. Lautan adalah dunia dengan segala ujian, peluang, dan godaannya. Pulau tujuan adalah keselamatan akhirat dan surga yang Allah janjikan.
Agar tidak tersesat, manusia membutuhkan navigasi. Bagi seorang Muslim, Al-Qur’an dan Sunnah adalah kompas utama dalam perjalanan hidup.
Dunia boleh dimanfaatkan, tetapi jangan sampai masuk terlalu dalam ke hati. Muatan kapal perlu dijaga agar tidak berlebihan. Kerusakan kapal perlu diperbaiki dengan taubat. Teman seperjalanan perlu dipilih dengan bijak. Dan dalam setiap perjalanan, pertolongan Allah harus selalu dimohonkan.
Semoga Allah menjaga kapal kehidupan kita, menuntun arah perjalanan kita, menyelamatkan kita dari badai dunia, dan mengantarkan kita menuju akhir yang baik.
Wallahu a‘lam.

