Ketika membicarakan ancaman terhadap sektor energi, sebagian besar orang mungkin membayangkan perang, sabotase fisik, kegagalan peralatan, atau bencana alam.
Namun digitalisasi menghadirkan ancaman lain yang tidak kalah serius, yaitu serangan siber.
Pelaku tidak harus memasuki kilang, terminal BBM, pembangkit listrik, atau stasiun pengendali pipa secara fisik. Dalam kondisi tertentu, mereka dapat mencoba masuk melalui jaringan komputer, akses jarak jauh, perangkat pemasok, akun pekerja, atau sistem digital yang tidak dikonfigurasi dengan aman.
Dampaknya juga tidak selalu berhenti pada hilangnya data.
Serangan terhadap sektor energi dapat menyebabkan:
- Sistem administrasi dan komunikasi lumpuh.
- Operator kehilangan informasi kondisi fasilitas.
- Distribusi energi tertunda.
- Pembangkit atau unit proses dihentikan sebagai tindakan pencegahan.
- Peralatan tidak dapat dikendalikan sebagaimana mestinya.
- Risiko keselamatan pekerja dan masyarakat meningkat.
- Pasokan listrik, BBM, atau gas terganggu.
Seberapa besar ancamannya?
Jawabannya adalah sangat besar, terutama ketika teknologi informasi telah terhubung dengan teknologi yang mengendalikan proses fisik.
Namun bukan berarti setiap peretas dapat dengan mudah memadamkan jaringan listrik atau meledakkan kilang. Infrastruktur energi biasanya mempunyai lapisan proteksi, sistem keselamatan, prosedur operasi, serta pengamanan fisik dan digital.
Besarnya risiko ditentukan oleh kombinasi antara kemampuan pelaku, kerentanan sistem, luas akses yang diperoleh, kualitas pengamanan, dan kesiapan organisasi memulihkan operasinya.
Mengapa Infrastruktur Energi Menjadi Target Penting?
Energi menopang hampir seluruh kegiatan masyarakat modern.
Tanpa listrik, BBM, dan gas, berbagai aktivitas dapat terganggu:
- Rumah sakit.
- Transportasi.
- Telekomunikasi.
- Pusat data.
- Perbankan.
- Industri.
- Pemerintahan.
- Distribusi pangan.
- Penyediaan air bersih.
- Pertahanan dan keamanan.
Hal tersebut menjadikan sektor energi menarik bagi berbagai jenis pelaku.
Pelaku kriminal
Kelompok kriminal biasanya mengejar keuntungan finansial melalui ransomware, pencurian data, pemerasan, atau penipuan.
Mereka memahami bahwa perusahaan energi menghadapi tekanan besar untuk segera memulihkan layanan, sehingga korban dapat terdorong mempertimbangkan pembayaran tebusan.
Kelompok yang didukung negara
Pelaku yang berafiliasi dengan negara dapat mencoba memperoleh akses jangka panjang untuk:
- Mengumpulkan informasi.
- Melakukan spionase.
- Mempersiapkan kemampuan sabotase.
- Menekan negara lain ketika terjadi konflik.
- Mengganggu layanan penting.
Aktivis digital
Kelompok tertentu dapat menyerang situs, membocorkan informasi, atau mengganggu layanan untuk menyampaikan pesan politik dan sosial.
Orang dalam
Ancaman juga dapat berasal dari pegawai, kontraktor, vendor, atau mantan pekerja yang mempunyai akses sah.
Orang dalam dapat bertindak dengan sengaja atau secara tidak sengaja karena lalai, salah konfigurasi, menggunakan perangkat terinfeksi, atau memberikan kredensial kepada pihak lain.
Infrastruktur Energi Semakin Digital
Fasilitas energi modern menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi, keandalan, dan keselamatan.
Beberapa contoh penggunaannya meliputi:
- Pemantauan persediaan tangki secara waktu nyata.
- Pengoperasian pompa dan katup.
- Pengaturan temperatur dan tekanan proses.
- Pengendalian pembangkit listrik.
- Pemantauan jaringan transmisi.
- Penjadwalan distribusi BBM.
- Pengaturan loading arm.
- Sistem tiket dan pengiriman.
- Pemantauan kondisi mesin.
- Pemeliharaan prediktif.
- Pengendalian akses dan CCTV.
Teknologi tersebut memungkinkan keputusan yang lebih cepat dan penggunaan sumber daya yang lebih efisien.
Namun setiap perangkat, koneksi, aplikasi, atau akun baru juga dapat menambah permukaan serangan.
NIST mendefinisikan Operational Technology atau OT sebagai sistem dan perangkat yang berinteraksi dengan lingkungan fisik, termasuk sistem yang memantau atau menyebabkan perubahan langsung terhadap perangkat, proses, dan kejadian. Keamanannya harus mempertimbangkan persyaratan khusus mengenai keselamatan, keandalan, kinerja, serta ketersediaan operasi.
Perbedaan IT dan OT dalam Infrastruktur Energi
Salah satu kesalahan dalam mengelola keamanan fasilitas industri adalah memperlakukan jaringan OT sama seperti jaringan komputer perkantoran.
Information Technology
IT umumnya digunakan untuk mengelola:
- Email.
- Keuangan.
- Sumber daya manusia.
- Dokumen.
- Aplikasi bisnis.
- Basis data pelanggan.
- Sistem pengadaan.
- Perencanaan distribusi.
Prioritas utamanya mencakup kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi.
Operational Technology
OT digunakan untuk memantau dan mengendalikan proses fisik.
Contohnya:
- Supervisory Control and Data Acquisition atau SCADA.
- Distributed Control System atau DCS.
- Programmable Logic Controller atau PLC.
- Remote Terminal Unit atau RTU.
- Safety Instrumented System atau SIS.
- Human Machine Interface atau HMI.
- Sistem otomasi terminal.
- Sistem pengendalian pompa dan katup.
Pada OT, gangguan dapat menyebabkan perubahan kondisi fisik.
Karena itu prioritasnya tidak hanya melindungi data, tetapi juga:
- Keselamatan manusia.
- Keandalan proses.
- Ketersediaan fasilitas.
- Integritas perintah kendali.
- Perlindungan lingkungan.
- Kualitas produk.
Perangkat OT juga sering mempunyai umur operasi jauh lebih panjang daripada komputer perkantoran. Sebagian masih menggunakan sistem lama yang sulit diperbarui karena harus beroperasi terus-menerus atau membutuhkan pengujian khusus sebelum perubahan dilakukan.
Konvergensi IT dan OT Meningkatkan Risiko
Dahulu, jaringan operasional sering dibuat relatif terpisah dari jaringan perkantoran.
Kini perusahaan membutuhkan integrasi untuk:
- Menampilkan data produksi kepada manajemen.
- Mengakses sistem dari lokasi lain.
- Menggunakan analitik dan cloud.
- Memungkinkan vendor melakukan pemeliharaan jarak jauh.
- Menghubungkan perencanaan bisnis dengan operasi.
- Mengoptimalkan rantai pasok.
Integrasi memberikan manfaat besar, tetapi dapat membuka jalur dari jaringan IT menuju lingkungan OT apabila arsitekturnya tidak dilindungi dengan baik.
Sebagai contoh, penyerang mungkin tidak langsung menyerang PLC. Mereka dapat lebih dahulu memperoleh akses melalui:
- Akun email pekerja.
- Komputer perkantoran.
- Sistem akses jarak jauh.
- Server yang terhubung ke dua jaringan.
- Akun administrator.
- Perangkat milik vendor.
- Jaringan OT.
Karena itu, serangan yang pada awalnya hanya mengenai IT dapat menyebabkan fasilitas menghentikan operasi sebagai tindakan pencegahan, meskipun belum terbukti bahwa sistem kendalinya telah dimanipulasi.
Jenis Ancaman Siber terhadap Sektor Energi
1. Ransomware
Ransomware adalah perangkat lunak berbahaya yang dapat mengenkripsi data, mengunci sistem, atau mencuri informasi sebelum pelaku meminta tebusan.
Pada perusahaan energi, ransomware dapat memengaruhi:
- Sistem pengiriman.
- Sistem penjadwalan.
- Basis data stok.
- Dokumen operasi.
- Komunikasi internal.
- Aplikasi keuangan.
- Sistem identitas.
- Server pusat.
Walaupun perangkat pengendali proses tidak terkena langsung, perusahaan dapat memilih menghentikan operasi karena tidak dapat memastikan integritas data, penagihan, penjadwalan, atau koordinasi distribusinya.
Pembayaran tebusan juga tidak menjamin seluruh data dapat dikembalikan atau pelaku tidak lagi mempunyai akses.
2. Pencurian kredensial
Nama pengguna dan kata sandi dapat diperoleh melalui:
- Phishing.
- Penggunaan ulang kata sandi.
- Kebocoran data pihak lain.
- Malware pencuri informasi.
- Rekayasa sosial.
- Perangkat yang tidak aman.
Akun yang mempunyai akses jarak jauh menuju fasilitas menjadi sangat berisiko jika tidak dilindungi autentikasi multifaktor dan pembatasan hak akses.
3. Eksploitasi perangkat yang terhubung ke internet
Perangkat seperti VPN, firewall, router, dan server akses jarak jauh dapat mempunyai kerentanan.
Jika perangkat tidak diperbarui atau dikonfigurasi dengan benar, penyerang dapat menggunakannya sebagai pintu masuk.
Perangkat OT sebaiknya tidak dapat diakses langsung dari internet tanpa lapisan pengamanan, otorisasi, pemantauan, dan kebutuhan operasional yang jelas.
4. Serangan rantai pasok
Perusahaan energi bergantung pada banyak pihak, antara lain:
- Pengembang perangkat lunak.
- Produsen peralatan.
- Integrator sistem.
- Vendor pemeliharaan.
- Kontraktor.
- Penyedia cloud.
- Perusahaan telekomunikasi.
Penyerang dapat mencoba menyusup melalui produk, pembaruan perangkat lunak, akun vendor, atau perangkat pemeliharaan.
Organisasi dapat memiliki pengamanan internal yang baik, tetapi tetap terdampak karena pemasoknya mempunyai keamanan yang lemah.
5. Manipulasi sistem kendali
Serangan yang mencapai OT dapat mencoba:
- Mengubah perintah.
- Mengirim data palsu kepada operator.
- Mengubah konfigurasi.
- Menghentikan pompa.
- Membuka atau menutup katup.
- Mengubah setelan proses.
- Menonaktifkan alarm.
- Mengganggu sistem keselamatan.
Skenario tersebut membutuhkan kemampuan, pengetahuan proses, dan akses yang lebih besar daripada ransomware biasa.
Namun dampaknya juga dapat lebih serius karena berhubungan langsung dengan kondisi fisik.
6. Denial of Service
Serangan dapat membanjiri sistem atau jaringan sehingga tidak mampu melayani komunikasi yang sah.
Dampaknya dapat berupa:
- Portal pelanggan tidak dapat digunakan.
- Komunikasi antarlokasi melambat.
- Sistem pemantauan tidak menerima data.
- Operator kehilangan akses terhadap aplikasi tertentu.
7. Ancaman orang dalam
Orang dalam mungkin mempunyai pengetahuan mengenai:
- Lokasi perangkat kritis.
- Arsitektur jaringan.
- Jadwal operasi.
- Prosedur akses.
- Kelemahan organisasi.
- Kredensial dan hak pengguna.
Risikonya perlu dikelola melalui pemeriksaan akses, pemisahan tugas, pemantauan aktivitas, pencabutan akun, serta budaya organisasi yang sehat.
8. Kesalahan manusia dan konfigurasi
Tidak seluruh insiden berasal dari pelaku yang sangat canggih.
Gangguan dapat dipicu oleh:
- Salah mengubah konfigurasi.
- Menghubungkan perangkat tidak dikenal.
- Membuka lampiran berbahaya.
- Memberikan akses terlalu luas.
- Membiarkan akun lama tetap aktif.
- Salah menerapkan pembaruan.
- Menggunakan kata sandi bawaan.
Karena itu, keamanan siber bukan hanya persoalan membeli perangkat lunak. Kompetensi manusia dan disiplin proses sama pentingnya.
Dampak Serangan terhadap Jaringan Listrik
Sistem tenaga listrik harus menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi setiap saat.
Serangan siber dapat menargetkan:
- Pusat kendali.
- Gardu induk.
- Sistem komunikasi.
- Sistem manajemen energi.
- Sistem proteksi.
- Pembangkit.
- Jaringan distribusi.
- Meter dan perangkat lapangan.
Potensi dampaknya meliputi:
- Hilangnya visibilitas kondisi jaringan.
- Kesalahan data beban.
- Gangguan komunikasi.
- Pemadaman lokal atau regional.
- Kesulitan memulihkan sistem.
- Kerusakan peralatan dalam skenario tertentu.
Pada Desember 2015, perusahaan listrik di Ukraina mengalami pemadaman tidak terjadwal setelah jaringan mereka disusupi. CISA mencatat bahwa serangan tersebut menggunakan kredensial yang dicuri dan malware perusak untuk mengganggu sistem perusahaan listrik.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa serangan siber dapat menghasilkan dampak fisik terhadap layanan listrik, bukan hanya kehilangan data.
Dampak terhadap Kilang Minyak
Kilang menggunakan sistem otomatis untuk mengendalikan proses yang melibatkan temperatur, tekanan, aliran, serta bahan yang mudah terbakar.
Gangguan digital dapat menyebabkan:
- Unit dihentikan secara darurat.
- Produksi menurun.
- Produk tidak memenuhi spesifikasi.
- Operator kehilangan informasi proses.
- Peralatan mengalami tekanan operasional.
- Jadwal pengiriman terganggu.
Kilang juga mempunyai lapisan keselamatan yang dirancang untuk menghentikan proses sebelum kondisi menjadi berbahaya.
Namun sistem keselamatan itu sendiri dapat menjadi sasaran.
Pada 2017, malware yang dikenal sebagai TRITON atau TRISIS digunakan untuk menargetkan sistem keselamatan sebuah kilang di luar Amerika Serikat. Sistem tersebut dirancang untuk membawa proses menuju kondisi aman apabila terjadi keadaan berbahaya. Serangan itu menyebabkan dua penghentian darurat, sedangkan tujuan malware dinilai dapat memungkinkan kondisi berbahaya berlangsung tanpa perlindungan sistem keselamatan.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan siber harus terintegrasi dengan keselamatan proses.
Dampak terhadap Terminal BBM dan LPG
Terminal energi modern bergantung pada sistem digital untuk:
- Mengukur stok.
- Mengatur penerimaan produk.
- Mengoperasikan pompa.
- Mengelola pengisian mobil tangki.
- Mengatur jadwal pengiriman.
- Membuat dokumen transaksi.
- Mengendalikan akses.
- Memantau fasilitas.
Skenario serangan yang hanya melumpuhkan sistem bisnis dapat menyebabkan stok fisik tersedia tetapi sulit didistribusikan.
Contohnya:
- Data pelanggan tidak dapat diakses.
- Surat jalan tidak dapat diterbitkan.
- Jadwal mobil tangki hilang.
- Sistem otomatisasi pengisian tidak tersedia.
- Data stok tidak dapat dipercaya.
- Pembayaran dan administrasi terhenti.
Apabila sistem OT juga terdampak, risikonya dapat berkembang menjadi gangguan pompa, katup, alarm, atau sistem keselamatan.
Karena itu, terminal memerlukan prosedur operasi minimum yang dapat dijalankan ketika aplikasi utama tidak tersedia.
Dampak terhadap Pipa Minyak dan Gas
Pipa jarak jauh menggunakan sensor, komunikasi, dan pusat kendali untuk memantau:
- Tekanan.
- Aliran.
- Kondisi pompa atau kompresor.
- Posisi katup.
- Kebocoran.
- Persediaan.
- Penjadwalan pengiriman.
Gangguan pada sistem tersebut dapat menyebabkan operator kehilangan kemampuan memantau kondisi atau mengendalikan aliran secara normal.
Dampaknya juga dapat meluas karena pipa sering menjadi jalur utama yang sulit digantikan dengan truk, kapal, atau moda lain dalam waktu singkat.
Pelajaran dari Colonial Pipeline
Pada Mei 2021, jaringan IT Colonial Pipeline terkena serangan ransomware DarkSide.
Serangan itu tidak dibuktikan secara langsung memanipulasi sistem OT pipa. Namun perusahaan secara proaktif menghentikan operasi untuk memastikan sistem operasionalnya tidak terdampak dan karena terdapat ketergantungan antara proses bisnis dengan operasi pipa. Penghentian berlangsung sekitar lima hari dan memicu gangguan pasokan serta pembelian panik di sebagian wilayah Pantai Timur Amerika Serikat.
Perusahaan juga melaporkan pembayaran tebusan sekitar 75 bitcoin. Pemerintah Amerika Serikat kemudian menyita kembali sebagian dana tersebut.
Pelajaran penting dari kasus ini adalah:
Serangan tidak harus menguasai PLC atau merusak pipa untuk menghentikan distribusi energi.
Jika sistem IT, penjadwalan, komunikasi, transaksi, dan kepercayaan terhadap data lumpuh, perusahaan dapat kehilangan kemampuan menjalankan operasi secara aman.
Bagaimana Insiden Siber Berubah Menjadi Krisis Energi?
Serangan biasanya tidak langsung menghasilkan kelangkaan nasional.
Dampaknya berkembang melalui rangkaian kejadian.
- Sistem digital terganggu.
- Organisasi menghentikan sebagian operasi.
- Produksi atau distribusi menurun.
- Stok pada titik konsumsi mulai berkurang.
- Masyarakat atau pelanggan melakukan pembelian berlebihan.
- Jalur alternatif tidak mampu menampung seluruh kebutuhan.
- Keterlambatan meluas ke sektor lain.
- Harga dan tekanan publik meningkat.
Efek akhirnya bergantung pada:
- Lama penghentian.
- Besar fasilitas.
- Ketersediaan stok.
- Alternatif suplai.
- Kapasitas jalur distribusi lain.
- Kecepatan komunikasi publik.
- Kemampuan mengoperasikan fasilitas secara manual.
- Kecepatan pemulihan sistem.
Karena itu, ketahanan siber sektor energi juga membutuhkan ketahanan stok, logistik, dan pasokan alternatif.
Apakah Serangan Siber Bisa Menyebabkan Ledakan?
Secara teori, serangan terhadap sistem kendali dapat berkontribusi terhadap kondisi fisik berbahaya jika pelaku berhasil mengubah proses dan berbagai lapisan proteksi gagal.
Namun skenario tersebut tidak mudah dilakukan.
Pelaku perlu memahami:
- Arsitektur fasilitas.
- Teknologi kendali.
- Proses produksi.
- Perangkat keselamatan.
- Konfigurasi jaringan.
- Kondisi operasi.
Fasilitas berisiko tinggi juga memiliki lapisan perlindungan seperti:
- Alarm.
- Interlock.
- Sistem penghentian darurat.
- Relief system.
- Prosedur operator.
- Proteksi mekanis.
- Sistem keselamatan independen.
Risikonya tetap perlu dianggap serius karena kasus TRITON membuktikan bahwa sistem keselamatan industri pernah menjadi sasaran nyata. Namun artikel keamanan yang bertanggung jawab juga tidak seharusnya memberikan kesan bahwa setiap peretas dapat dengan mudah menyebabkan ledakan hanya dengan menggunakan laptop.
Apa Itu Cyber Resilience?
Tidak ada sistem yang dapat dijamin sepenuhnya bebas dari serangan.
Karena itu, organisasi tidak cukup hanya berfokus pada pencegahan.
Cyber resilience adalah kemampuan untuk:
- Mengantisipasi ancaman.
- Mencegah atau membatasi serangan.
- Mendeteksi kejadian.
- Merespons secara terkoordinasi.
- Menjaga layanan kritis.
- Memulihkan sistem.
- Belajar dari insiden.
Sistem yang tangguh tidak harus berhasil memblokir seluruh serangan.
Namun ketika serangan berhasil masuk, dampaknya harus tetap terbatas dan tidak berkembang menjadi krisis besar.
Kerangka NIST Cybersecurity Framework 2.0
NIST Cybersecurity Framework 2.0 mengelompokkan pengelolaan risiko siber ke dalam enam fungsi utama:
| Fungsi | Tujuan |
|---|---|
| Govern | Menetapkan strategi, kebijakan, tanggung jawab, dan pengawasan |
| Identify | Memahami aset, ketergantungan, ancaman, kerentanan, dan risiko |
| Protect | Menerapkan pengamanan untuk mengurangi kemungkinan dan dampak serangan |
| Detect | Menemukan serta menganalisis kejadian mencurigakan |
| Respond | Mengendalikan dan menangani insiden |
| Recover | Memulihkan sistem serta layanan |
Kerangka ini menempatkan keamanan siber sebagai bagian dari manajemen risiko organisasi, bukan hanya tanggung jawab unit teknologi informasi.
Standar Keamanan OT
Beberapa referensi yang dapat digunakan organisasi energi meliputi:
NIST SP 800-82 Revision 3
Dokumen ini memberikan panduan keamanan OT dengan mempertimbangkan karakteristik khusus sistem industri, termasuk keselamatan, keandalan, dan ketersediaan.
IEC 62443
Seri IEC 62443 dirancang untuk keamanan sistem otomasi dan kendali industri sepanjang siklus hidupnya.
Pendekatannya mencakup pengelolaan program keamanan pemilik aset, penilaian risiko, pembagian sistem menjadi zona dan jalur komunikasi, persyaratan teknis sistem, serta pengembangan produk yang aman.
ISO/IEC 27001
Standar ini dapat digunakan untuk membangun sistem manajemen keamanan informasi.
Namun penerapan ISO/IEC 27001 saja tidak otomatis menyelesaikan seluruh risiko OT. Pengendalian perlu disesuaikan dengan karakter proses industri dan standar teknis yang relevan.
ISO 22301
ISO 22301 menyediakan persyaratan untuk Business Continuity Management System atau BCMS agar organisasi mampu merencanakan, merespons, dan memulihkan diri dari insiden yang mengganggu.
Versi yang berlaku adalah ISO 22301:2019, dengan Amendment 1:2024 mengenai perubahan terkait aksi iklim.
Strategi Melindungi Infrastruktur Energi
1. Menempatkan keamanan siber sebagai risiko bisnis dan keselamatan
Pimpinan tidak boleh memperlakukan keamanan siber hanya sebagai masalah teknis milik departemen IT.
Serangan dapat berdampak pada:
- Keselamatan.
- Produksi.
- Distribusi.
- Pendapatan.
- Kepatuhan.
- Reputasi.
- Lingkungan.
- Ketahanan energi.
Karena itu, risiko siber harus masuk ke dalam enterprise risk management, operational risk, process safety, serta business continuity.
2. Membuat inventaris aset IT dan OT
Organisasi tidak dapat melindungi perangkat yang tidak diketahui keberadaannya.
Inventaris setidaknya mencakup:
- Jenis perangkat.
- Lokasi.
- Pemilik.
- Versi perangkat lunak.
- Fungsi proses.
- Tingkat kritikalitas.
- Koneksi jaringan.
- Vendor.
- Hak akses.
- Status dukungan.
- Cadangan konfigurasi.
Pemindaian aktif yang aman di jaringan IT belum tentu aman digunakan langsung pada OT. Metodenya harus disesuaikan agar tidak mengganggu peralatan proses.
3. Mengidentifikasi fungsi paling kritis
Tidak semua sistem memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Organisasi perlu menentukan sistem yang kegagalannya dapat menyebabkan:
- Ancaman keselamatan.
- Penghentian fasilitas.
- Kelangkaan produk.
- Kerugian besar.
- Pelanggaran hukum.
- Gangguan pelanggan kritis.
Pengamanan dan pemulihan diprioritaskan kepada fungsi tersebut.
4. Memisahkan jaringan IT dan OT
Segmentasi bertujuan membatasi pergerakan serangan.
Struktur dapat dibagi menjadi:
- Jaringan perkantoran.
- Zona perantara atau DMZ.
- Jaringan operasi.
- Zona keselamatan.
- Jaringan vendor.
- Jaringan perangkat nirkabel.
- Sistem yang sangat kritis.
Komunikasi antarzona hanya dibuka berdasarkan kebutuhan operasional.
IEC 62443 menggunakan konsep zones and conduits untuk mengelompokkan aset berdasarkan risiko dan mengendalikan komunikasi di antara zona.
Pemisahan tidak selalu harus berarti memutus seluruh koneksi, tetapi setiap koneksi harus diketahui, dibatasi, dan dipantau.
5. Mengamankan akses jarak jauh
Akses vendor dan pekerja harus melalui mekanisme terkontrol, seperti:
- Autentikasi multifaktor.
- Akun individual.
- Persetujuan sebelum akses.
- Batas waktu akses.
- Jump server.
- Pencatatan sesi.
- Pembatasan perangkat.
- Hak minimum.
- Pemutusan ketika pekerjaan selesai.
Akun bersama yang digunakan banyak orang membuat penelusuran aktivitas menjadi sulit.
6. Menerapkan prinsip least privilege
Setiap pengguna hanya diberikan akses sesuai kebutuhan pekerjaannya.
Administrator IT tidak otomatis harus mempunyai akses ke PLC, sedangkan vendor satu perangkat tidak harus dapat memasuki seluruh jaringan fasilitas.
Hak akses perlu diperiksa secara berkala dan segera dicabut ketika pekerja pindah tugas, kontrak selesai, atau hubungan kerja berakhir.
7. Mengelola patch berdasarkan risiko
Pembaruan keamanan penting, tetapi penerapannya pada OT tidak dapat selalu dilakukan seperti komputer kantor.
Patch perlu:
- Diuji.
- Dinilai kompatibilitasnya.
- Dijadwalkan dengan operasi.
- Disetujui pemilik proses.
- Disertai rencana pemulihan.
- Didokumentasikan.
Jika perangkat tidak dapat diperbarui, organisasi perlu menggunakan kontrol kompensasi seperti segmentasi, pembatasan akses, allowlisting, atau pemantauan lebih ketat.
8. Memantau jaringan secara berkelanjutan
Pusat operasi keamanan perlu mampu mendeteksi aktivitas di IT dan OT.
Pemantauan dapat mencakup:
- Login tidak normal.
- Perubahan konfigurasi.
- Komunikasi ke alamat tidak dikenal.
- Pemindaian jaringan.
- Perintah tidak biasa.
- Perangkat baru.
- Penggunaan akun vendor.
- Perubahan logic PLC.
- Penonaktifan alarm atau proteksi.
Alat keamanan OT harus dipilih dengan mempertimbangkan protokol industri dan risiko gangguan terhadap proses.
9. Menyiapkan backup yang benar-benar dapat dipulihkan
Backup perlu mencakup lebih dari dokumen kantor.
Organisasi juga dapat membutuhkan salinan:
- Konfigurasi firewall.
- Logic PLC.
- Konfigurasi HMI.
- Historian.
- Server aplikasi.
- Database stok.
- Master data pelanggan.
- Sistem tiket.
- Dokumen operasi.
- Golden image perangkat.
Sebagian backup perlu disimpan secara offline atau tidak dapat diubah langsung dari jaringan produksi.
Hal yang lebih penting adalah melakukan uji pemulihan.
Backup yang tersedia tetapi tidak dapat digunakan ketika insiden terjadi tidak memberikan ketahanan yang nyata.
10. Menyiapkan operasi manual atau minimum
Perusahaan perlu menentukan proses yang dapat dijalankan secara aman ketika sistem utama gagal.
Contohnya:
- Pencatatan stok manual.
- Surat jalan darurat.
- Komunikasi radio.
- Pengoperasian lokal.
- Persetujuan pengiriman berlapis.
- Pembatasan kapasitas operasi.
- Rekonsiliasi data setelah sistem pulih.
Operasi manual hanya boleh dijalankan apabila telah dianalisis risikonya dan pekerja telah dilatih.
Memaksakan operasi tanpa informasi serta proteksi memadai dapat menciptakan risiko yang lebih besar daripada menghentikan fasilitas.
11. Mengelola risiko vendor
Persyaratan kontrak perlu mengatur:
- Standar keamanan.
- Akses jarak jauh.
- Pelaporan insiden.
- Pengelolaan kerentanan.
- Penyimpanan data.
- Penghapusan akun.
- Dukungan produk.
- Pemulihan.
- Hak audit.
Vendor juga perlu dilibatkan dalam latihan insiden karena pemulihan sering membutuhkan akses, lisensi, perangkat, dan keahlian mereka.
12. Melindungi sistem keselamatan secara independen
Sistem keselamatan sebaiknya mempunyai tingkat independensi dan pengamanan yang memadai dari jaringan bisnis serta kendali proses umum.
Perubahan terhadap logic, konfigurasi, atau mode operasi harus:
- Memerlukan otorisasi.
- Dicatat.
- Diverifikasi.
- Dibatasi secara fisik atau teknis.
- Diuji.
Keamanan siber tidak boleh melemahkan fungsi keselamatan, sedangkan kebutuhan operasional tidak boleh digunakan untuk mengabaikan keamanan sistem keselamatan.
13. Melatih pekerja sesuai perannya
Pelatihan umum mengenai phishing tetap penting.
Namun pekerja OT juga perlu memahami:
- Risiko penggunaan USB.
- Akses vendor.
- Perubahan konfigurasi.
- Gejala perangkat yang tidak normal.
- Pelaporan kejadian.
- Prosedur isolasi.
- Cara bekerja ketika sistem digital gagal.
Operator lapangan, teknisi, IT, keamanan, HSSE, manajemen, komunikasi, dan business continuity membutuhkan materi yang berbeda sesuai tanggung jawabnya.
14. Menyelenggarakan simulasi krisis siber
Skenario latihan dapat berupa:
Sistem IT terminal BBM terkena ransomware. Sistem OT belum terbukti terinfeksi, tetapi data stok, penjadwalan, dan dokumen pengiriman tidak dapat digunakan selama 48 jam.
Latihan perlu menguji:
- Siapa yang memutuskan penghentian operasi?
- Bagaimana memastikan OT tetap bersih?
- Apakah distribusi manual dapat dilakukan?
- Bagaimana memverifikasi stok?
- Produk dan pelanggan mana yang diprioritaskan?
- Bagaimana menggunakan terminal alternatif?
- Kapan regulator dan aparat diberi tahu?
- Bagaimana berkomunikasi kepada masyarakat?
- Bagaimana rekonsiliasi transaksi dilakukan?
Simulasi yang hanya menguji tim IT belum cukup. Insiden energi melibatkan operasi, HSSE, legal, pengadaan, komunikasi, keuangan, keamanan, manajemen risiko, dan pimpinan.
Mengintegrasikan Keamanan Siber dengan BCMS
Keamanan siber berfokus pada perlindungan dan penanganan sistem.
BCMS berfokus pada keberlanjutan produk serta layanan kritis ketika gangguan terjadi.
Keduanya saling melengkapi.
Risk Assessment
Risk assessment mengidentifikasi:
- Ancaman.
- Kerentanan.
- Skenario insiden.
- Kemungkinan.
- Dampak.
- Kontrol yang tersedia.
- Risiko residual.
Business Impact Analysis
BIA menentukan:
- Proses paling kritis.
- Ketergantungan pada IT dan OT.
- Dampak gangguan berdasarkan waktu.
- Maximum Tolerable Period of Disruption.
- Recovery Time Objective.
- Recovery Point Objective.
- Sumber daya minimum.
Business Continuity Plan
BCP menjelaskan cara mempertahankan layanan melalui:
- Prosedur alternatif.
- Operasi manual.
- Pemindahan lokasi.
- Prioritas pelanggan.
- Jalur suplai alternatif.
- Stok penyangga.
- Komunikasi krisis.
Disaster Recovery Plan
DRP berfokus pada pemulihan sistem teknologi, termasuk:
- Server.
- Jaringan.
- Aplikasi.
- Data.
- Konfigurasi.
- Infrastruktur cloud.
Incident Response Plan
Rencana tanggap insiden menjelaskan:
- Deteksi.
- Eskalasi.
- Isolasi.
- Analisis.
- Penanggulangan.
- Pemulihan.
- Pelaporan.
- Pengumpulan bukti.
Keempat dokumen tersebut harus saling terhubung. Memulihkan server tidak selalu berarti layanan bisnis sudah kembali berjalan.
Kerangka Regulasi Indonesia
Indonesia telah menetapkan sektor energi dan sumber daya mineral sebagai salah satu sektor Infrastruktur Informasi Vital melalui Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2022.
Perpres tersebut mendefinisikan Infrastruktur Informasi Vital sebagai sistem elektronik berbasis teknologi informasi atau teknologi operasional yang menunjang sektor strategis dan dapat menimbulkan dampak serius terhadap kepentingan umum, pelayanan publik, pertahanan, keamanan, atau perekonomian apabila terganggu.
Namun hal tersebut tidak berarti seluruh komputer atau seluruh fasilitas energi otomatis berstatus IIV. Sistem elektronik perlu melalui proses identifikasi dan penetapan sesuai ketentuan yang berlaku.
Perpres 82/2022 antara lain mengatur:
- Identifikasi IIV secara berkala.
- Penerapan standar keamanan dan manajemen risiko siber.
- Pembentukan tim tanggap insiden.
- Pelaporan insiden.
- Rencana tanggap insiden.
- Rencana keberlangsungan kegiatan.
- Simulasi tanggap insiden dan keberlangsungan.
Untuk penyelenggara IIV, insiden wajib dilaporkan melalui mekanisme tim tanggap insiden paling lambat 1 × 24 jam setelah ditemukan sesuai ketentuan Perpres tersebut.
Kerangka pelindungan IIV kemudian diatur lebih lanjut melalui Peraturan BSSN Nomor 8 Tahun 2023. Indonesia juga memiliki Rencana Aksi Nasional Keamanan Siber 2024–2028 melalui Peraturan BSSN Nomor 5 Tahun 2024.
Perusahaan tetap perlu memeriksa aturan sektoral, persyaratan regulator, kontrak, dan ketentuan internal yang berlaku bagi organisasinya.
Indikator Ketahanan Siber yang Perlu Diukur
Kinerja keamanan tidak cukup diukur dari jumlah antivirus atau firewall.
Indikator yang lebih relevan antara lain:
- Persentase aset yang telah terinventarisasi.
- Jumlah koneksi IT–OT yang diketahui.
- Persentase akses jarak jauh dengan MFA.
- Waktu mendeteksi insiden.
- Waktu mengisolasi sistem.
- Waktu memulihkan proses kritis.
- Tingkat keberhasilan uji backup.
- Jumlah akun tidak aktif.
- Waktu penutupan kerentanan kritis.
- Jumlah perubahan PLC yang tidak sah.
- Hasil simulasi insiden.
- Persentase vendor kritis yang telah dinilai.
- Kemampuan mempertahankan operasi minimum.
- Kepatuhan terhadap RTO dan RPO.
Indikator perlu dihubungkan dengan risiko bisnis.
Sebagai contoh, “server pulih dalam enam jam” belum cukup jika distribusi BBM baru dapat berjalan kembali setelah dua hari.
Kesalahan Umum dalam Keamanan Siber Energi
Menganggap jaringan OT benar-benar terisolasi
Jaringan dapat terlihat terpisah, tetapi masih mempunyai koneksi melalui laptop teknisi, USB, vendor, modem, server perantara, atau proses pemindahan data.
Menggunakan satu akun untuk banyak pekerja
Akun bersama menyulitkan pembatasan dan penyelidikan aktivitas.
Menunda seluruh pembaruan tanpa kontrol pengganti
Kekhawatiran terhadap gangguan proses memang valid, tetapi kerentanan yang dibiarkan tanpa segmentasi atau pemantauan juga berbahaya.
Menganggap backup sama dengan pemulihan
Backup harus diuji dan didukung prosedur untuk membangun kembali sistem.
Menyerahkan keamanan OT sepenuhnya kepada IT
Tim IT memahami jaringan dan keamanan informasi, tetapi belum tentu memahami risiko proses serta keselamatan.
Sebaliknya, tim operasi mungkin memahami fasilitas tetapi belum memiliki keahlian keamanan siber.
Keduanya harus bekerja bersama.
Hanya melatih skenario pencurian data
Fasilitas energi juga harus menguji kehilangan kendali, data sensor palsu, penghentian operasi, gangguan distribusi, dan pemadaman listrik.
Berfokus pada alat, bukan tata kelola
Perangkat mahal tidak efektif apabila:
- Tanggung jawab tidak jelas.
- Inventaris tidak tersedia.
- Peringatan tidak diperiksa.
- Akses vendor tidak dikendalikan.
- Backup tidak diuji.
- Pimpinan tidak memahami risikonya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah serangan siber dapat memadamkan listrik?
Bisa dalam kondisi tertentu.
Serangan terhadap perusahaan listrik di Ukraina pada 2015 pernah menyebabkan pemadaman tidak terjadwal. Namun dampaknya bergantung pada arsitektur, akses pelaku, proteksi, serta kemampuan operator mengendalikan sistem.
Apakah ransomware harus mencapai SCADA untuk menghentikan fasilitas?
Tidak.
Ransomware yang hanya menyerang jaringan IT dapat membuat perusahaan menghentikan operasi karena kehilangan sistem bisnis, komunikasi, penjadwalan, atau keyakinan bahwa OT tetap aman. Colonial Pipeline merupakan contoh penting.
Apakah jaringan yang terpisah atau air-gapped pasti aman?
Tidak sepenuhnya.
Perangkat portabel, laptop teknisi, vendor, pemindahan data, dan kesalahan konfigurasi tetap dapat menjadi jalur masuk.
Apakah antivirus biasa cukup melindungi OT?
Tidak.
Antivirus hanya salah satu lapisan. OT juga membutuhkan segmentasi, kontrol akses, pemantauan protokol industri, hardening, backup konfigurasi, prosedur perubahan, dan kesiapan operasi.
Apakah cloud meningkatkan risiko?
Cloud dapat menyediakan kemampuan keamanan dan pemulihan yang baik, tetapi juga menciptakan ketergantungan baru.
Risikonya dipengaruhi oleh desain arsitektur, konfigurasi, identitas, lokasi data, konektivitas, dan kemampuan beroperasi ketika layanan cloud tidak tersedia.
Apakah MFA dapat mencegah seluruh serangan?
Tidak.
MFA mengurangi risiko pencurian akun, tetapi tidak menyelesaikan kerentanan perangkat, ancaman orang dalam, malware, salah konfigurasi, atau serangan rantai pasok.
Apakah membayar tebusan menjamin sistem pulih?
Tidak.
Pelaku mungkin tidak memberikan alat pemulihan yang bekerja, data dapat tetap bocor, dan akses tersembunyi mungkin masih tersedia. Penanganannya perlu melibatkan pimpinan, tim hukum, regulator, aparat, keamanan siber, dan pihak lain yang relevan.
Apa perbedaan cybersecurity dan cyber resilience?
Cybersecurity berfokus pada perlindungan sistem dan informasi.
Cyber resilience mencakup perlindungan sekaligus kemampuan mempertahankan serta memulihkan layanan ketika insiden tetap terjadi.
Apa hubungan BCMS dengan keamanan siber?
Keamanan siber membantu mencegah dan menangani serangan. BCMS memastikan proses bisnis kritis dapat tetap berjalan atau dipulihkan dalam batas waktu yang telah ditentukan.
Kesimpulan
Serangan siber merupakan ancaman nyata terhadap infrastruktur energi.
Dampaknya tidak terbatas pada kehilangan data. Serangan dapat menghentikan produksi, menunda distribusi, menghilangkan visibilitas proses, serta meningkatkan risiko keselamatan dan gangguan pasokan.
Kasus Colonial Pipeline menunjukkan bahwa serangan terhadap jaringan IT saja dapat menyebabkan penghentian operasi dan gangguan distribusi energi.
Kasus TRITON menunjukkan bahwa sistem keselamatan industri pun dapat menjadi target.
Namun risiko tersebut tidak berarti infrastruktur energi pasti mudah dilumpuhkan.
Fasilitas dapat memperkecil risiko melalui:
- Tata kelola yang kuat.
- Inventaris aset.
- Segmentasi IT dan OT.
- Akses jarak jauh yang aman.
- Hak akses minimum.
- Pemantauan berkelanjutan.
- Backup yang teruji.
- Pengamanan sistem keselamatan.
- Pengelolaan vendor.
- Tim tanggap insiden.
- Operasi minimum.
- Simulasi krisis.
- Integrasi keamanan siber dengan BCMS.
Ketahanan energi modern tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pembangkit, cadangan BBM, stok LPG, atau jumlah pipa.
Ketahanan juga ditentukan oleh kemampuan organisasi melindungi sistem digital, mendeteksi gangguan, mempertahankan layanan kritis, dan pulih sebelum insiden berubah menjadi krisis nasional.
Pada abad ke-21, ancaman terhadap energi memang dapat datang melalui perang, bencana, atau sabotase fisik.
Namun gangguan besar juga dapat bermula dari satu akun yang dicuri, satu perangkat yang tidak diperbarui, atau satu koneksi yang tidak seharusnya terbuka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.