Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2026

Memanasnya Geopolitik Global dan Dampaknya pada Harga Energi Dunia


Di awal 2026, dinamika geopolitik global kembali menjadi sorotan utama pasar energi. Dari ketegangan atas Greenland, ancaman konflik di Timur Tengah, hingga respon pasar terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, faktor-faktor ini tidak hanya mengguncang politik internasional — tetapi juga harga minyak, gas, dan pasar energi secara global.


📍 Geopolitik Greenland: Ambisi, Ketegangan, dan Pasar Energi

Isu Greenland kembali memanas ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan minat kuatnya untuk mendapatkan kendali atas wilayah tersebut — sebuah langkah yang memicu penolakan tajam dari Denmark dan Uni Eropa serta kekhawatiran soal masa depan NATO.

Greenland memang bukan negara dengan produksi minyak besar saat ini, tetapi wilayah tersebut sangat strategis karena:

  • letaknya di Arktik, menjadi pusat persaingan akses sumber daya

  • mengandung cadangan rare earth minerals yang vital untuk teknologi energi masa depan

  • menjadi wilayah lintasan dan pangkalan strategis untuk operasi militer global

Reaksi pasar terhadap ketegangan geopolitik ini terlihat lewat kenaikan volatilitas aset, penurunan indeks saham global, dan perubahan harga komoditas termasuk energi. Investor umumnya menghindari risiko geopolitik, yang dalam jangka pendek bisa membawa ketidakpastian harga energi global.

Namun ketika ketegangan mereda — misalnya ketika terbatasnya retorika agresif atau diplomasi positif — harga minyak sering kali menurun karena “risk premium” turun dan pasar melihat tekanan geopolitik sebagai sementara.


📍 Ketegangan AS–Iran dan Peran Selat Hormuz

Ancaman konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga merupakan faktor penting. Meski serangan berskala penuh antara kedua negara belum terjadi, retorika keras dan ancaman konflik telah memicu kekhawatiran pasar energi internasional.

Hal yang paling sensitif bagi pasar energi adalah Selat Hormuz — jalur laut yang sangat penting untuk pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia. Menurut data terbaru, sekitar 20 juta barel per hari atau hampir 20% dari total perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit ini.

Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran atau gangguan di wilayah tersebut akan langsung mengurangi pasokan global, sehingga:

  • harga minyak bisa melonjak tajam (di masa lalu analis memperkirakan harga bisa naik 7–14% atau bahkan lebih jika gangguan berlangsung lama)

  • pasar energi global menjadi sangat sensitif terhadap setiap berita geopolitik dari Timur Tengah

Ketidakpastian seperti ini sering disebut sebagai “risk premium” — tambahan dalam harga komoditas karena kekhawatiran pasar atas pasokan. Bahkan rumor ancaman militer atau gangguan rute utama energi bisa cukup untuk mendorong harga minyak naik beberapa persen dalam satu hari perdagangan.


📈 Harga Energi: Sensitif terhadap Geopolitik

Secara historis, harga energi dunia sangat responsif terhadap risiko geopolitik. Contoh klasik adalah krisis minyak 1973–1974, ketika embargo minyak menyebabkan harga minyak melonjak hampir empat kali lipat dalam hitungan bulan, serta memicu inflasi dan resesi di banyak ekonomi maju.

Walau pola hari ini berbeda karena pasar energi lebih terdiversifikasi dan ada produksi non-OPEC, prinsip dasarnya tetap sama: kerentanan pasar terhadap gangguan pasokan masih tinggi. Ketika konflik atau ketegangan global meningkat, spekulasi pasar sering mendorong harga energi naik bahkan sebelum dampak pasokan riil terjadi.

Contoh di periode awal 2026:

  • ketika ancaman terhadap Iran memanas dan kapal perang besar dipersepsikan menuju kawasan tersebut, harga minyak rebound meskipun tekanan geopolitik masih belum meningkat menjadi konflik langsung.

  • sebaliknya, ketika ketegangan mereda (misalnya langkah diplomatik atau retorika yang lebih dingin), harga minyak turun atau stabil karena “uncertainty premium” menurun.


🧠 Mengapa Geopolitik Penting bagi Energi?

Beberapa alasan fundamental menjelaskan hubungan kuat antara geopolitik dan energi:

🔹 1. Konsentrasi Produksi Energi

Mesin produksi minyak dan gas dunia masih terpusat di wilayah yang sering bergejolak secara politik (Timur Tengah, Afrika Utara, Rusia/CIS, dll). Ketika geopolitik berubah drastis, pasokan fisik energi bisa langsung terganggu.

🔹 2. Rute Perdagangan Energi yang Terbatas

Rute seperti Selat Hormuz atau Terusan Suez menghubungkan produsen minyak utama dengan konsumen besar dunia. Ancaman terhadap jalur tersebut berdampak luas karena tidak mudah untuk langsung menggantinya dalam jangka pendek.

🔹 3. Pasar Minyak Global yang Spekulatif

Harga minyak tidak hanya ditentukan oleh pasokan dan permintaan riil, tetapi juga oleh ekspektasi pasar. Ketika investor percaya bahwa konflik akan menurunkan pasokan di masa depan, harga cenderung naik bahkan sebelum pasokan nyata terputus.


📉 Efek Jangka Panjang vs. Jangka Pendek

  • Jangka pendek: Risiko geopolitik menyebabkan volatilitas harga yang tinggi, karena pasar bereaksi cepat terhadap berita.

  • Jangka menengah: Jika konflik nyata terjadi, harga bisa stabil lebih tinggi karena tekanan pasokan berkurang.

  • Jangka panjang: Dampaknya dapat meluas ke investasi energi bersih, karena negara mungkin mempercepat diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak geopolitik sensitif.


📌 Penutup

Geopolitik bukan sekadar headline berita — ia adalah penentu nyata dinamika harga energi global. Ketika isu seperti kerjasama atau konflik militer, ancaman terhadap jalur perdagangan utama, atau perebutan wilayah muncul, pasar energi merespons dengan cepat. Karena energi masih menjadi bahan bakar utama perekonomian global, fluktuasi geopolitik langsung berdampak pada harga minyak, gas, dan bahkan energi terbarukan melalui investasi dan sentimen pasar.

Memahami geopolitik berarti memahami fundamentalisasi energi dunia — tidak hanya hari ini, tetapi juga masa depan yang semakin tidak stabil.

Senin, 12 Januari 2026

Universal Basic Income (UBI): Solusi di Era AI dan Robot, atau Ilusi Kebijakan?

 


Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan robotika berjalan jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan banyak orang. Mesin kini bukan hanya menggantikan tenaga fisik, tetapi juga pekerjaan intelektual: analis data, akuntan junior, customer service, bahkan penulis dan programmer tingkat awal. Di tengah perubahan ini, satu gagasan lama kembali mengemuka dengan kuat: Universal Basic Income (UBI).

UBI dipromosikan sebagai jaring pengaman sosial di era ketika pekerjaan manusia semakin tergantikan oleh teknologi. Namun, seperti halnya teknologi itu sendiri, UBI juga memunculkan perdebatan tajam.

Apa itu Universal Basic Income (UBI)?

Secara sederhana, UBI adalah pendapatan dasar yang diberikan negara kepada setiap warga negara secara rutin, tanpa syarat—terlepas dari status pekerjaan, tingkat pendapatan, atau latar belakang sosial.

Konsep utamanya:

  • Semua orang menerima jumlah yang sama

  • Tidak bergantung pada apakah seseorang bekerja atau tidak

  • Dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup

UBI bukan bantuan sosial konvensional. Ia dirancang sebagai fondasi ekonomi minimal dalam masyarakat modern.

Mengapa UBI kembali dibicarakan di era AI?

Alasan utamanya sederhana: pekerjaan manusia berkurang lebih cepat daripada penciptaan pekerjaan baru.

Beberapa fakta penting:

  • Otomatisasi dan AI diperkirakan dapat menggantikan puluhan persen pekerjaan global dalam beberapa dekade ke depan.

  • Sektor paling rentan adalah pekerjaan berulang, administratif, dan operasional.

  • Pertumbuhan produktivitas tidak lagi selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan lapangan kerja.

Dalam konteks ini, UBI dianggap sebagai cara untuk:

  • menjaga daya beli masyarakat,

  • mencegah kemiskinan struktural,

  • memberi waktu adaptasi bagi manusia menghadapi perubahan teknologi.

Argumen pendukung UBI

Pendukung UBI melihat kebijakan ini sebagai respons rasional terhadap perubahan struktural ekonomi.

1. Jaring pengaman di era disrupsi

Ketika pekerjaan hilang bukan karena malas atau kurang kompeten, melainkan karena algoritma lebih efisien, maka sistem kesejahteraan lama menjadi tidak relevan. UBI memberi stabilitas minimum saat pasar tenaga kerja tidak lagi stabil.

2. Mendorong kreativitas dan kewirausahaan

Dengan kebutuhan dasar yang relatif aman, individu lebih berani:

  • belajar ulang (reskilling),

  • memulai usaha kecil,

  • mengambil risiko kreatif.

UBI dipandang sebagai bantalan risiko, bukan pengganti kerja.

3. Menyederhanakan birokrasi sosial

Sistem bantuan sosial sering rumit, mahal, dan rawan salah sasaran. UBI, karena universal, dianggap:

  • lebih transparan,

  • lebih sederhana,

  • lebih sulit dimanipulasi.

Argumen penentang UBI

Di sisi lain, kritik terhadap UBI juga sangat kuat dan tidak bisa diabaikan.

1. Masalah biaya yang sangat besar

UBI membutuhkan anggaran negara yang luar biasa besar. Untuk negara berkembang, ini memunculkan pertanyaan serius:

  • dari mana sumber dananya?

  • pajak siapa yang akan dinaikkan?

  • sektor apa yang akan dikorbankan?

Tanpa reformasi fiskal besar, UBI bisa menjadi beban anggaran jangka panjang.

2. Risiko melemahkan etos kerja

Kritik klasik terhadap UBI adalah kekhawatiran bahwa pendapatan tanpa syarat dapat:

  • menurunkan motivasi bekerja,

  • menciptakan ketergantungan pada negara.

Walau tidak selalu terbukti secara empiris, kekhawatiran ini tetap relevan secara sosial dan budaya, terutama di negara dengan nilai kerja yang kuat.

3. Tidak menyentuh akar masalah

Sebagian ekonom berpendapat bahwa UBI hanya menangani gejala, bukan penyebab:

  • ketimpangan kepemilikan teknologi,

  • monopoli data dan AI,

  • konsentrasi kekayaan pada segelintir korporasi teknologi.

Tanpa regulasi AI, pajak teknologi, dan kebijakan pendidikan yang serius, UBI bisa menjadi plester pada luka struktural.

UBI: solusi, pelengkap, atau jalan buntu?

UBI bukan kebijakan yang berdiri sendiri. Ia hanya masuk akal jika ditempatkan dalam ekosistem kebijakan yang lebih luas:

  • reformasi pendidikan dan pelatihan ulang,

  • regulasi penggunaan AI dan robot,

  • kebijakan pajak yang adil terhadap ekonomi digital,

  • perlindungan martabat kerja manusia.

Dalam konteks ini, UBI bisa menjadi pelengkap transisi, bukan solusi tunggal.

Penutup: pilihan etis di era mesin

Era AI memaksa manusia mengajukan pertanyaan lama dengan cara baru: apa arti bekerja, bernilai, dan hidup layak? UBI adalah salah satu jawaban yang ditawarkan—bukan tanpa risiko, bukan tanpa kritik.

Mungkin pertanyaan terpenting bukan apakah UBI sempurna, melainkan:

apakah sistem ekonomi kita siap menghadapi dunia di mana produktivitas tidak lagi bergantung pada kerja manusia?

UBI bukan akhir dari perdebatan, melainkan awal dari diskusi besar tentang keadilan sosial di era mesin.

Minggu, 15 Desember 2019

BUKU MEMBANGUN ENERGY SECURITY INDONESIA

Boleh kakak, diborong bukunya. Judulnya "Membangun Energy Security Indonesia" karya saya sendiri. ☺️☺️.  Last stock. Tersedia sekitar 120 eks. Murah, 80 ribu aja, 500-an halaman. Selain buat dibaca untuk menambah pengetahuan tentang pentingnya energi, bukunya bisa juga buat ganjal pintu/lemari/meja. Bisa dibuat bantal. Bisa juga buat nimpukin mas/mbak jahat pemberi harapan palsu. Xixixi. 😅🙈🙏🙏

Yang berminat bisa langsung japri atau bisa kunjungi lapak saya :
 https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/kedokteran/2ap7434-jual-membangun-energy-security-indonesia?utm_source=apps

Judul : Membangun Energy Security Indonesia
Penulis : Alek Kurniawan Apriyanto
Penerbit : Pustaka Muda, Jakarta, 2015
ISBN 978-602-6850-02-7
Jumlah Halaman : 500

Testimoni : Satya Widya Yudha, Novian Moezahar Thaib, S. Herry Putranto, Muhammad Sarmuji, Achsanul Qosasi, Dr. Agung Purniawan, Dr. Abu Bakar Eby Hara, Dr. Ir. Mawardi, ME

Daftar Isi :
1. Pendahuluan
2. Sejarah Energy Security Dunia
3. Definisi Energy Security
4. Hubungan Energy Security Dengan Bidang Lain
5. Cara Mengukur Energy Security
6. Karakteristik Setiap Sumber Energi
7. Overview Kondisi Energi Dunia
8. Proyeksi Energi Dunia
9. Kondisi Pengelolaan Energi Dunia
10. Proyeksi Energi Dunia
11. Penilaian Lembaga-Lembaga Internasional Terhadap Pengelolaan Energi Indonesia
12. Catatan Sejarah Pengelolaan Energi di Indonesia
13. Kebijakan-Kebijakan Terkait Energi
14. Tantangan Kemanan Energi Nasional
15. Energi Alternatif Untuk BBM
16. Memacu Infrastruktur Gas
17. Memaksimalkan Pemanfaatan Batubara
18. Inisiasi PLTN
19. Menyambut Energi Terbarukan
20. Cadangan Penyangga Energi Nasional
21. Belajar Dari China
22. Parameter Kuantitatif Dalam Kebijakan Energi Indonesia
23. Penutup

Sabtu, 07 Desember 2019

PERBEDAAN CARA SUKSES DUNIA ORANG BERIMAN DAN ORANG DI LUAR ISLAM

Cara kaum muslimin mencapai kesuksesan dunia berbeda dengan cara orang-orang di luar Islam. 

Kalau orang di luar Islam, mereka akan memaksimalkan upaya-upaya dunia mereka, melalui kerja keras banting tulang. Kerja, kerja, kerja, kerja tanpa henti. Selain itu juga melalui jalur pendidikan dunia yang setinggi-tingginya. Mendayagunakan secara maksimal akal dan rasio, melakukan riset-riset dan berinovasi tiada henti. Menggalakkan entrepreneurship, memaksimalkan potensi diri tanpa batas. Hingga waktu tidurnya sedikit. 

Berbeda dengan kaum muslimin yang beriman yang seolah kesehariannya sudah terbebani banyak kewajiban dan sunnah syariat. Ada syariat sholat 5 waktu, sholat-sholat sunnah, bayar zakat, infaq, sedekah, puasa ramadhan dan puasa-puasa sunnah, naik haji, dan kewajiban serta sunnah lainnya. Seolah waktu tersisa untuk mencari dunia bagi kaum muslimin beriman hanya sedikit saja.

Bahkan waktu tidur orang beriman juga banyak berkurang. Bukan karena bekerja tapi karena ibadah. Justru kalau kaidah dalan syariat Islam, tidurlah di awal waktu (setelah Isya), bangun di 1/3 malam terakhir untuk melaksanakan sholat tahajjud, di pagi hari bertebaranlah di muka bumi mencari rejeki yang halal barokah sekedarnya dengan iman dan takwa dan banyak berdzikir. Dari kaidah ini bisa diketahui bahwa sedikitnya waktu tidur kaum muslimin beriman bukan karena bekerja banting tulang tetapi karena melaksanakan sholat malam. 

Namun demikian, walau waktu tersisa bagi kaum muslimim untuk mencari dunia seolah singkat, jika Allah berkehendak, maka dunia dan segala isinya akan diberikan kepada kaum muslimin sesuai dengan yang dikehendaki Allah. 

Alhasil kaidah dan keistiqomahan kaum muslimin beriman ini telah terbukti pernah melahirkan pengusaha-pengusaha hebat nan dermawan seperti Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dll. Dan bahkan di era para Sahabat Nabi itu pun dua negeri adidaya saat itu, Romawi dan Persia, berhasil ditaklukkan. 

Jadi bagi kaum muslimin silahkan memilih cara menggapai kesuksesan dunianya. Apakah akan meniru cara-caranya orang di luar Islam atau akan kembali istiqomah melalui cara-cara Islam seperti pernah dicontohkan generasi salafus shaleh. 
🙏👍

Kamis, 14 Juni 2018

THANOS DAN ROBERT MALTHUS


Film Avengers : Infinity War telah didaulat sebagai salah satu film Box Office terlaris dan telah maraup sukses besar semenjak ditayangakan perdana pada 25 April 2018 lalu. Pendapatan 250 juta dolar USD atau setara dengan 3,46 triliun rupiah yang dicatatkan oleh Film yang diangkat dari komik Marvel ini pada penayangan pekan pertamanya di Amerika Utara mampu mengalahkan rekor Star Wars : The Force Awakens yang mencapai pendapatan 248 juta dolar USD.

Film ini disutradarai Russo bersaudara dan menghabiskan dana sebesar 300 juta dolar US atau sekitar Rp 4,16 triliun. Marvel Studios bertindak sebagai produser, sementara Walt Disney berperan sebagai distributor. Belum cukup di situ, film ini akan segera dilanjutkan dengan bagian kedua, Avengers 4 (judul resmi belum diketahui), yang kemungkinan akan tayang pada 2019.

Salah satu yang berkesan dalam film ini adalah sosok villain (antagonis) yang bernama Thanos. Karakter ini memang sangat ditunggu kehadirannya dalam rangkaian film superhero Marvel. Diperankan oleh Josh Brolin dan dipadukan dengan teknologi CGI (computer-generated imagery) membuat karakter Thanos ini sangat hidup dan cukup mampu memenuhi harapan para penggemar komik Marvel.

Dikisahkan Thanos bermaksud untuk mengumpulkan 6 buah infinity stones (yang seperti batu akik) untuk meningkatkan kekuatannya sehingga mampu mensukseskan misinya memusnahkan separuh pupulasi alam semesta. Hal ini didasarkan dari penemuan dan pemikiran Thanos bahwa sumber daya alam (SDA) di alam semesta sangat terbatas, sedangkan populasi mahluk hidup pengguna SDA tersebut sangat banyak dan rakus. Ketidakseimbangan ini dinilai akan membawa kehancuran alam semesta secara cepat.

Maka dari itu Thanos beserta pasukan dan sekutunya merasa perlu menghabisi sebagian populasi mahluk hidup demi keberlangsungan sistem kehidupan yang berkelanjutan dan demi menyeimbangkan kondisi antara jumlah SDA dan sumber daya manusia (SDM). Thanos menganggap misi ini sebagai misi suci untuk menyelamatkan alam semesta dari kehancuran permanen. Karenanya ia sangat berambisi mengumpulkan 6 buah infinity stones yang dengan kesaktian ke-6 batu tersebut ia bisa secara praktis memusnahkan separuh populasi alam semesta hanya dengan menjentikkan jarinya.

Pemikiran Thanos ini mengingatkan pada pemikiran Robert Malthus mengenai teori kependudukan dan sumber daya bahan makanan. Dalam An Essay on the Principle of Population (Sebuah Esai tentang Prinsip mengenai Kependudukan), yang pertama kali diterbitkan pada 1798, Robert Malthus membuat ramalan yang cukup terkenal. Dia berpendapat bahwa jumlah populasi akan mengalahkan pasokan makanan. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya jumlah makanan per orang. Robert Malthus bahkan meramalkan secara spesifik bahwa hal ini pasti akan terjadi pada pertengahan abad ke-19.

Namun kenyataannya ramalan ini dapat dikatakan gagal dan terbukti tidak terealisasi. Salah satu yang menyebabkan melesetnya prediksi Malthus adalah kurang mempertimbangkan aspek perkembangan teknologi yang akan semakin maju dan mampu membantu melipatgandakan produk pertanian dan peternakan sehingga stok makanan akan selalu tersedia untuk generasi-generasi mendatang walau lonjakan populasi terus terjadi.

Untung saja Thanos hanyalah karakter fiksi. Teori gilanya untuk melenyapkan separuh populasi alam semesta justru menjadi sebuah latar belakang aksi bersatunya para Avengers, para super hero, dan Guardian of Galaxy. Film Avengers : Infinity War ini akhirnya sukses menjadi film aksi fiksi ilmiah yang menarik dan terbukti telah mampu meraup keuntungan yang fantastis, terutama bagi produser, distributor, aktor, dan pemilik bioskop (termasuk Josh Brolin si pemeran Thanos).

Dalam kehidupan nyata, teori Thanos ini akan sangat mudah dipatahkan seperti halnya teori yang sejenis dari Robet Malthus. Dengan demikian di film Avengers selanjutnya diharapkan om Thanos bisa segera bertobat. Om Thanos sebaiknya lebih memilih menggunakan kekuatan 6 infinity stones untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu melipatgandakan efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan mampu membantu eksplorasi sumber daya alam-sumber daya alam baru di alam semesta yang luasnya tak berujung. Cara ini tentunya sangat jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan memusnahkan separuh populasi alam semesta.

:):):)

Jumat, 19 Januari 2018

HUBUNGAN ENERGY SECURITY DENGAN EKONOMI


Xavier Labandeira dan Baltasar Manzano (2012) menyebutkan bahwa energy security merupakan isu yang sukar dipahami berhubung belum terdapatnya definisi energy security yang tepat, terutama ketika dihubungkan dengan perspektif ekonomi. Telah terdapat kesadaran global bahwa energi akan selalu menjadi permasalahan yang krusial bagi perkembangan ekonomi dari masyarakat. Pentingnya peranan energi ini dipandang mulai semakin meluas secara signifikan setelah era revolusi industri. Penggunaan bahan bakar fosil secara intensif di era tersebut merupakan pijakan dasar mulai tergantungnya masyarakat modern terhadap sumber energi.

Di dalam hukum termodinamik telah dinyatakan bahwa energi itu merupakan elemen penting bagi kegiatan manusia sehari-hari. Pada kuantitas yang minimum saja, energi sangat diperlukan dalam kegiatan transformasi material atau bahan baku menjadi produk yang berdaya guna dimana berhubungan dengan kebanyakan proses-proses produktif. Bahan-bahan energi itu sendiri juga memiliki peranan yang sangat penting, baik sebagai input untuk produksi dan transportasi maupun sebagai produk final yang seringkali penting bagi kesejahteraan dasar manusia seperti misalnya listrik.

Dengan demikian, isu-isu terkait energi memiliki relevansi yang tinggi terhadap sistem ekonomi. Isu investasi dan permodalan merupakan salah satu contoh dimana setiap keputusan kegiatan perekonomian akan selalu mempertimbangkan jenis dan level konsumsi energi. Jadi, fakta utama yang mendasar adalah : pasokan energi pada level yang minimum sangat penting untuk membuat sistem ekonomi berfungsi.

Dari perspektif ekonomi, Bohi dan Toman (1996) dalam Xavier Labandeira dan Baltasar Manzano (2012), mendefinisikan ketidakamanan energi sebagai hilangnya kesejahteraan yang disebabkan oleh suatu perubahan dalam harga atau ketersediaan fisik energi. Dalam pemikiran ini, Bohi dan Toman (1993) dalam Xavier Labandeira dan Baltasar Manzano (2012), mendiskusikan biaya-biaya energy security, dengan mempertimbangkan dua potensi eksternal yakni hal-hal eksternal yang berhubungan dengan perubahan-perubahan dalam volume impor minyak, dan hal-hal eksternal yang berkenaan dengan harga yang tak terprediksi.

Hal-hal eksternal yang terkait dengan impor minyak muncul dari kekuatan pasar dari eksportir karena organisasi-organisasi seperti OPEC mungkin dapat mempertahankan harga pasar minyak di atas level yang kompetitif. Jika negara-negara eksportir energi memiliki perilaku pasar yang tidak kompetitif, negara-negara importir akan terancam menghadapi sebuah kegagalan pasar yang mendorong mereka untuk memiliki alasan-alasan untuk memaksimalkan efisiensi penggunaan energi.

Kelompok faktor eksternal kedua yang berhubungan dengan energi selalu dihubungkan kepada dampak dari fluktuasi harga energi dalam ekonomi. Penyesuaian yang lambat terhadap faktor-faktor dan pasar-pasar produksi dapat menyebabkan biaya ekonomi yang lebih tinggi. Pada kasus pasar tenaga kerja, misalnya, kenaikan harga energi dapat meningkatkan angka pengangguran karena semakin tingginya beban biaya gaji karyawan bagi perusahaan. Selaras dengan hal ini, kenaikan harga energi dapat mempengaruhi pasar modal melalui semakin banyaknya kemacetan modal produktif, khususnya pada modal intensif sektor energi. (Markandya and Hunt, 2004; dalam Xavier Labandeira and Baltasar Manzano, 2012).

Sejumlah literatur yang ada, umumnya merespon perhatian-perhatian terhadap negara-negara yang sangat tergantung pada stok energi asing. Ini berarti sejumlah literatur lebih memfokuskan dirinya pada sisi pasokan dalam energy security. Namun demikian, ketidakamanan energi dapat juga disebabkan dari sisi permintaan. Misalnya ketika negara-negara importir mempromosikan pengurangan pada impor energi melalui subsidi untuk meningkatkan investasi sumber energi alternatif, efisiensi energi, dll., yang kemudian mempengaruhi produser-produser energi untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif guna mengamankan dominasi penjualan energinya dalam jangka panjang.

Dalam pengertian ini, OPEC secara resmi telah menekankan bahwa energy security harus dipertimbangkan dari perspektif global, sebagai sebuah konsep berulang di antara eksportir dan importir energi. Pada tahun 2008, Sekretaris Umum OPEC menyatakan bahwa isu energy security tidak hanya berhubungan dengan tingkat ketidakterjangkauan harga energi. Isu energy security juga berhubungan dengan ketidakpastian harga energi yang mempengaruhi keputusan-keputusan investasi. Hal ini terjadi tidak hanya pada perusahaan-perusahaan dan konsumen-konsumen di negara-negara importir, tetapi juga di negara-negara produsen energi. Permintaan energi menjadi lebih tidak dapat diprediksi sehingga meningkatkan ketidakpastian untuk investasi.

Sebenarnya, Van der Ploeg dan Poelhekke (2009) dalam Xavier Labandeira dan Baltasar Manzano (2012) memperkuat pandangan ini. Mereka menunjukkan adanya dampak-dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi yang ditimbulkan oleh hubungan positif yang terjadi secara umum antara tingkat ketergantungan sumber daya alam dan ketidakpastian makroekonomi.

Secara umum, ada kecenderungan negara-negara maju yang memiliki perekonomian yang kuat ternyata tidak memiliki sumber daya energi yang cukup untuk menjamin keberlangsungan kegiatan ekonominya, dimana semakin membutuhkan pasokan energi yang besar. Hal ini mendorong mereka untuk memaksimalkan investasi kepada negara-negara penghasil energi. Negara-negara maju akan menggunakan kekuatan ekonomi yang mereka miliki untuk mengamankan penyediaan energi. Sebaliknya, negara penghasil energi yang menjadi sasaran investasi negara maju seringkali mempunyai posisi yang lemah karena tersandera kepentingan ekonomi negara maju. Dari sini dapat dijelaskan bahwa kemampuan ekonomi suatu negara sangat menentukan ketahanan energi nasional. (Agus Nurrohim, 2012).