Tampilkan postingan dengan label SCIENCE AND TECHNOLOGY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCIENCE AND TECHNOLOGY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

Mobil Listrik vs BBM: Solusi Hijau atau Sekadar Pindah Polusi?

 


Belakangan ini, perdebatan soal apakah kendaraan listrik (EV) benar-benar "hijau" semakin panas. Banyak yang berargumen bahwa proses pembuatan baterai justru merusak bumi lebih parah daripada asap knalpot mobil konvensional (BBM). Sebagai pengguna internet yang kritis, kita perlu melihat data dari sudut pandang siklus hidup kendaraan secara utuh (Life Cycle Assessment).

Mari kita bedah kontroversi ini berdasarkan data terbaru tahun 2026.

1. "Utang Karbon" di Awal Produksi

Memang benar bahwa memproduksi mobil listrik menghasilkan emisi 30–40% lebih tinggi dibandingkan mobil bensin di tahap awal. Hal ini disebabkan oleh proses ekstraksi bahan baku baterai seperti litium, kobalt, dan nikel yang sangat intensif energi.

Namun, "utang karbon" ini biasanya lunas setelah mobil digunakan selama sekitar 2 tahun atau menempuh jarak kurang lebih 24.000 km. Setelah melewati titik ini, EV jauh lebih bersih karena efisiensi mesin listrik mencapai 85%, jauh melampaui mesin BBM yang hanya efisien sekitar 15% (sisanya terbuang jadi panas).

2. Sisi Gelap Penambangan: Isu di Halaman Kita

Indonesia memegang peran kunci karena memiliki cadangan nikel terbesar di dunia (sekitar 42% global). Namun, kebanggaan ini membawa tantangan lingkungan yang nyata:

  • Kerusakan Ekosistem: Penambangan nikel di wilayah seperti Sulawesi dan Maluku Utara sering dikaitkan dengan deforestasi masif dan polusi air yang mengancam mata pencaharian warga lokal.

  • Emisi Smelter: Banyak fasilitas pengolahan (smelter) di Indonesia masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara (PLTU), yang ironisnya menambah jejak karbon dalam rantai pasok "energi bersih".

3. Masalah Daur Ulang: Bom Waktu atau Peluang?

Isu daur ulang baterai adalah tantangan besar di tahun 2026. Baterai EV yang tidak terkelola masuk kategori Limbah B3 karena mengandung logam berat toksik yang bisa mencemari tanah dan air bawah tanah.

  • Kabar Baiknya: Teknologi daur ulang terus berkembang. Saat ini, para pemain industri mulai mampu memulihkan material berharga seperti nikel dan kobalt untuk digunakan kembali, yang bisa menekan kebutuhan tambang baru di masa depan.

  • Tantangan: Indonesia masih membutuhkan regulasi dan infrastruktur daur ulang yang lebih kuat agar tidak terjebak dalam polusi logam berat di masa depan.

Kesimpulan: Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Data menunjukkan bahwa secara total masa pakai, kendaraan listrik tetap lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil BBM, dengan emisi seumur hidup hingga 54% lebih rendah. Namun, EV bukanlah "obat ajaib" yang tanpa cela. Manfaat lingkungannya sangat bergantung pada dua hal:

  1. Seberapa hijau sumber listrik yang digunakan untuk mengisi daya (transisi ke energi terbarukan).

  2. Penerapan standar lingkungan dan sosial (ESG) yang ketat di lokasi pertambangan nikel kita.


Daftar Referensi & Sumber Data
  • International Energy Agency (IEA) (2025), Global EV Outlook 2025: Transport and Energy Transitions. Laporan ini memberikan data komprehensif mengenai efisiensi mesin listrik yang mencapai 85% dibandingkan mesin internal combustion (BBM).

  • Transport & Environment (T&E) (2024), How Clean Are Electric Cars? A Life Cycle Assessment (LCA) Update. Studi ini menjelaskan "utang karbon" produksi baterai dan bagaimana emisi EV seumur hidup bisa 54% lebih rendah dibandingkan bensin.

  • International Council on Clean Transportation (ICCT) (2024), Curbing the Carbon: Battery Manufacturing and the EV Payback Period. Menjelaskan bahwa titik impas karbon (break-even point) EV rata-rata tercapai setelah penggunaan sekitar 24.000 km.

  • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI (2025), Laporan Kinerja Pertambangan Minerba: Fokus Nikel dan ESG. Sumber data mengenai cadangan nikel Indonesia dan tantangan smelter berbasis batubara.

  • Journal of Cleaner Production (2025), Sustainable Recycling of Lithium-Ion Batteries: Challenges in Emerging Economies. Membahas risiko limbah B3 dari baterai yang tidak terkelola dan potensi pemulihan logam berat melalui teknologi daur ulang.

  • Trend Asia & WALHI (2024), Laporan Dampak Lingkungan Penambangan Nikel di Koridor Sulawesi. Memberikan data lapangan mengenai deforestasi dan polusi air di area tambang nikel Indonesia.

Rabu, 11 Maret 2026

AI dan Krisis Energi Baru Dunia: Ketika Teknologi Masa Depan Membutuhkan Listrik Raksasa

 


Artificial Intelligence (AI) sering dipandang sebagai simbol kemajuan teknologi manusia. Ia membantu menulis artikel, menganalisis data, mengendalikan mobil otonom, hingga mempercepat penelitian obat. Namun di balik revolusi digital ini, muncul sebuah pertanyaan yang mulai sering dibahas para analis energi:

Apakah AI sedang memicu krisis energi baru di dunia?

Pertanyaan ini muncul karena teknologi AI membutuhkan infrastruktur fisik yang sangat besar: data center. Dan data center membutuhkan sesuatu yang sangat mahal dalam dunia energi modern: listrik dalam jumlah raksasa.


Revolusi AI yang Haus Energi

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan AI sangat eksplosif. Model AI seperti ChatGPT, Gemini, atau berbagai sistem generative AI membutuhkan jutaan chip komputasi untuk dilatih dan dijalankan.

Semua proses ini dilakukan di data center.

Menurut laporan International Energy Agency (IEA), konsumsi listrik data center global pada tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar 415 terawatt-hour (TWh), atau sekitar 1,5% dari seluruh konsumsi listrik dunia.

Sebagai perbandingan, angka ini hampir setara dengan total konsumsi listrik sebuah negara besar seperti Prancis.

Yang lebih mengejutkan adalah kecepatan pertumbuhannya. Konsumsi listrik data center global telah meningkat sekitar 12% per tahun dalam lima tahun terakhir.


Lonjakan Energi AI Hingga 2030

IEA memperkirakan bahwa kebutuhan listrik untuk data center akan meningkat drastis dalam dekade ini.

Pada tahun 2030, konsumsi listrik data center diperkirakan bisa mencapai sekitar 945 TWh, lebih dari dua kali lipat dari konsumsi saat ini.

Untuk memberi gambaran:

945 TWh kira-kira setara dengan seluruh konsumsi listrik Jepang dalam satu tahun.

Beberapa analis bahkan memperkirakan bahwa pusat data AI dapat menyerap hingga 4–5% listrik global pada akhir dekade ini jika pertumbuhan AI terus meningkat.


Amerika dan China: Pusat Konsumsi Energi AI Dunia

Dua negara saat ini mendominasi konsumsi energi data center global:

  • Amerika Serikat

  • China

Menurut analisis energi global, sekitar 69% konsumsi listrik data center dunia berasal dari dua negara tersebut.

Di Amerika Serikat saja, data center sudah menggunakan sekitar 4% dari total listrik nasional.

Dan angka ini diproyeksikan bisa meningkat hingga 9% pada 2030.

Artinya, AI tidak lagi hanya menjadi isu teknologi—tetapi juga isu energi nasional dan geopolitik global.


AI Tidak Hanya Mengonsumsi Listrik, Tetapi Juga Air

Selain listrik, data center juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan server.

Beberapa studi memperkirakan bahwa konsumsi air global untuk pendinginan data center dapat mencapai 6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027.

Sebagai perbandingan, jumlah ini hampir setara dengan dua pertiga konsumsi air tahunan Inggris.

Ini membuat AI bukan hanya isu energi, tetapi juga isu lingkungan dan keberlanjutan.


Apakah AI Akan Meningkatkan Emisi Karbon?

Ledakan data center juga memiliki implikasi terhadap emisi karbon.

Banyak data center masih menggunakan listrik yang berasal dari:

  • batu bara

  • gas alam

  • pembangkit listrik fosil lainnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sektor data center di Amerika Serikat telah menghasilkan lebih dari 100 juta ton emisi CO₂ per tahun.

Namun paradoksnya, AI juga berpotensi membantu mengurangi emisi melalui:

  • optimasi jaringan listrik

  • efisiensi industri

  • sistem manajemen energi pintar

  • peningkatan efisiensi transportasi.

Dengan kata lain, AI bisa menjadi penyebab sekaligus solusi bagi krisis energi dan iklim.


Apakah Dunia Menuju Krisis Energi Digital?

Beberapa analis mulai menyebut fenomena ini sebagai:

“Digital Energy Shock.”

Sebuah situasi di mana pertumbuhan teknologi digital—AI, cloud computing, dan big data—meningkatkan permintaan energi lebih cepat daripada kemampuan dunia membangun pembangkit listrik baru.

Di beberapa wilayah dunia, proyek data center bahkan sudah mulai menimbulkan tekanan pada jaringan listrik lokal.

Contohnya:

  • beberapa kota di Amerika Serikat menunda pembangunan data center karena keterbatasan kapasitas listrik

  • di Eropa, pembangunan pusat data mulai diatur lebih ketat karena dampak energi dan lingkungan.


Bagaimana Dunia Mengatasi Tantangan Energi AI?

Ada beberapa strategi yang mulai dikembangkan.

1. Data center berbasis energi terbarukan

Banyak perusahaan teknologi mulai membangun pusat data yang ditenagai oleh:

  • tenaga surya

  • tenaga angin

  • energi nuklir generasi baru.

2. Chip AI yang lebih hemat energi

Produsen chip seperti NVIDIA, AMD, dan Intel terus mengembangkan GPU yang lebih efisien.

3. Pendinginan server yang lebih efisien

Teknologi pendinginan cair (liquid cooling) dapat mengurangi konsumsi energi pendinginan hingga 50% dibanding sistem lama.

4. Penempatan data center di lokasi dingin

Beberapa perusahaan membangun data center di wilayah yang lebih dingin seperti:

  • Nordik

  • Kanada

  • Islandia

untuk mengurangi kebutuhan pendinginan.


Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Bagi Indonesia, perkembangan AI juga membawa dua implikasi besar.

Peluang

Indonesia dapat menjadi lokasi data center regional karena:

  • pasar digital besar

  • pertumbuhan ekonomi digital

  • posisi geografis strategis di Asia.

Tantangan

Namun data center juga membutuhkan:

  • listrik stabil

  • kapasitas pembangkit besar

  • infrastruktur jaringan yang kuat.

Jika tidak dikelola dengan baik, pertumbuhan data center bisa meningkatkan tekanan pada sistem energi nasional.


Kesimpulan: AI dan Energi Akan Menjadi Isu Besar Abad Ini

Revolusi AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mengubah cara dunia mengonsumsi energi.

Data center yang menjadi tulang punggung AI kini telah berkembang menjadi salah satu konsumen listrik terbesar di dunia.

Dalam satu dekade ke depan, hubungan antara AI, energi, dan lingkungan kemungkinan akan menjadi salah satu isu paling penting dalam geopolitik global.

Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan berkembang.

Tetapi:

Apakah sistem energi dunia mampu mengikuti kecepatan revolusi AI?

Senin, 02 Maret 2026

Bagaimana Islam Memandang AI dan Otomatisasi Pekerjaan? Antara Disrupsi Ekonomi dan Tanggung Jawab Moral

 


Artificial Intelligence (AI) bukan lagi wacana futuristik. Ia sudah hadir di meja kerja, ruang rapat, hingga sistem pertahanan negara. Dari algoritma media sosial, sistem risk management perbankan, chatbot layanan pelanggan, hingga robot industri—AI sedang mengubah wajah ekonomi global.

Namun perubahan ini juga memunculkan pertanyaan serius:

  • Apakah AI akan menggantikan manusia?

  • Apakah otomatisasi bertentangan dengan nilai kerja dalam Islam?

  • Bagaimana Islam memandang perubahan besar ini?

Untuk menjawabnya, kita perlu membaca fenomena ini dengan dua lensa: data empiris global dan fondasi etika Islam.


1️⃣ Seberapa Besar Dampak AI terhadap Pekerjaan?

Menurut laporan World Economic Forum (Future of Jobs Report 2023):

  • Sekitar 23% pekerjaan global akan berubah dalam lima tahun ke depan akibat otomatisasi dan AI.

  • Diperkirakan 83 juta pekerjaan akan hilang, tetapi 69 juta pekerjaan baru akan tercipta.

  • Artinya, terjadi pergeseran struktur pekerjaan, bukan sekadar kehancuran total pasar tenaga kerja.

Sementara itu, laporan Goldman Sachs (2023) memperkirakan:

  • AI berpotensi memengaruhi hingga 300 juta pekerjaan secara global, terutama pekerjaan administratif dan berbasis teks.

  • Namun pada saat yang sama, AI juga diprediksi bisa meningkatkan produktivitas global hingga 7% dalam jangka panjang.

Artinya, AI bukan sekadar ancaman—ia juga mesin pertumbuhan baru.


2️⃣ Dalam Islam, Kerja Bukan Sekadar Upah

Islam memandang kerja sebagai:

  • Ibadah

  • Amanah

  • Kontribusi sosial

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)

Namun hadis ini tidak melarang teknologi. Yang ditekankan adalah:

Nilai usaha dan tanggung jawab.

Jika teknologi membantu manusia bekerja lebih efisien, maka itu bukan pelanggaran syariat. Bahkan bisa menjadi bentuk optimalisasi potensi yang Allah berikan melalui akal.


3️⃣ AI sebagai Alat, Bukan Subjek Moral

Dalam teologi Islam:

  • Manusia adalah mukallaf (pemikul tanggung jawab moral).

  • Mesin tidak memiliki niat (niyyah).

  • Mesin tidak memiliki pahala atau dosa.

AI adalah alat.

Ia tidak bisa:

  • Berniat

  • Berdosa

  • Bertakwa

Karena itu, tanggung jawab etis tetap berada pada manusia yang:

  • Mendesain

  • Mengoperasikan

  • Mengontrol

  • Mengambil keputusan akhir


4️⃣ Risiko Ketimpangan Ekonomi: Tantangan Nyata

Menurut laporan IMF (2024):

  • AI dapat memengaruhi sekitar 40% pekerjaan global.

  • Di negara maju, angka ini bisa mencapai 60% pekerjaan.

  • Risiko terbesar adalah meningkatnya ketimpangan pendapatan jika manfaat AI hanya dinikmati segelintir elite teknologi.

Di sinilah Islam memiliki posisi moral yang kuat.

Dalam maqāṣid al-syarīʿah, perlindungan terhadap:

  • Harta (ḥifẓ al-māl)

  • Jiwa

  • Akal

  • Stabilitas sosial

adalah prioritas.

Jika otomatisasi menciptakan jurang ekonomi ekstrem, maka:

Negara dan masyarakat wajib memastikan distribusi manfaat yang adil.


5️⃣ Apakah AI Mengancam Peran Manusia Secara Spiritual?

AI bisa:

  • Menjawab pertanyaan agama

  • Mencari dalil

  • Menghasilkan teks tafsir

Namun AI tidak bisa:

  • Beriman

  • Mengalami ujian hidup

  • Merasakan tawakal

  • Mengalami taubat

Hubungan manusia dengan Allah tidak bisa digantikan algoritma.

Teknologi bisa membantu akses ilmu,
tetapi tidak bisa menggantikan kesadaran spiritual.


6️⃣ Perspektif Islam terhadap Disrupsi

Islam bukan agama yang anti-perubahan.

Dalam sejarah peradaban Islam:

  • Teknologi irigasi berkembang pesat di Andalusia

  • Ilmu kedokteran dan astronomi maju

  • Sistem administrasi negara sangat modern di masanya

Perubahan adalah sunnatullah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

AI adalah bagian dari perubahan zaman.

Yang dituntut dari umat bukan penolakan,
melainkan kesiapan.

Setiap Muslim harus meyakini bahwa rezeki sudah dijamin Allah, tugas kita adalah berusaha dan berdoa.

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…”
(QS. Hud: 6)

Ayat ini sangat tegas: Semua makhluk hidup sudah dijamin rezekinya oleh Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: 

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) meniupkan ke dalam hatiku bahwa tidaklah satu jiwa akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari (rezeki). Jangan sampai lambatnya rezeki mendorong kalian mencarinya dengan maksiat, karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” Diriwayatkan oleh: Ibnu Majah (no. 2144), Al-Hakim, Al-Baihaqi,Dinilai hasan sahih oleh sejumlah ulama, dan dishahihkan oleh Al-Albani.

Hadis menunjukkan adanya jaminan dan Ke-Maha Adilan Allah dalam pengaturan rezeki semua orang, sedangkan setiap manusia memiliki pilihan-pilihan bebas dalam upayanya mencari rezeki. 



7️⃣ Strategi Islam Menghadapi Era AI

Jika dirumuskan secara praktis, pendekatan Islam terhadap AI bisa dirangkum menjadi:

✔ Penguatan Pendidikan dan Keterampilan

Reskilling adalah bentuk ikhtiar.

✔ Regulasi Berbasis Etika

Transparansi algoritma, keadilan akses, perlindungan data.

✔ Distribusi Manfaat Teknologi

Zakat, sistem sosial, dan kebijakan fiskal bisa menjadi instrumen pemerataan.

✔ Menjaga Dimensi Spiritual

Teknologi tidak boleh menggantikan kesadaran akan tujuan hidup.



Kesimpulan: AI adalah Ujian Peradaban, Bukan Akhir Peradaban

AI dan otomatisasi memang mengubah pasar kerja.

Namun sejarah menunjukkan:
Setiap revolusi industri selalu menciptakan kecemasan.

Yang membedakan adalah bagaimana manusia mengelolanya.

Dalam perspektif Islam:

  • AI bukan ancaman akidah.

  • AI bukan pengganti manusia.

  • AI adalah alat yang harus diarahkan oleh nilai.

Pertanyaan sebenarnya bukan:
“Apakah AI akan menggantikan manusia?”

Tetapi:

“Apakah manusia mampu mengendalikan AI dengan nilai yang benar?”

Sabtu, 07 Februari 2026

Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen Risiko: Dari Asuransi Laut, Keuangan Modern, Hingga HSSE

 

Manajemen risiko terdengar seperti istilah “korporat modern”. Padahal, akarnya tua—lahir dari kebutuhan paling manusiawi: bertahan hidup dan menghindari kerugian. Dari kapal dagang yang dihantam badai, pedagang yang khawatir kargo lenyap di lautan, hingga pabrik modern yang harus mencegah kecelakaan fatal dan bencana proses—semuanya punya satu benang merah: ketidakpastian.

Yang menarik: seiring dunia makin kompleks, ilmu manajemen risiko ikut berevolusi. Ia tidak hanya menjadi “alat pengaman”, tapi juga berubah menjadi “alat strategi”—bahkan bercabang menjadi disiplin yang sangat kuat di keuangan dan HSSE (Health, Safety, Security, Environment).

Artikel ini merangkum perjalanan panjang itu, dalam alur yang mudah dipahami.


1) Cikal-bakal: Risiko sebagai urusan “hidup-mati” (era maritim & asuransi)

Pada masa perdagangan global awal (khususnya perdagangan laut), risiko terbesar sangat nyata: badai, perompak, karam, atau salah navigasi. Di sinilah konsep transfer risiko lahir: membagi potensi kerugian agar tidak ditanggung sendirian.

Salah satu simbol pentingnya adalah pasar asuransi maritim yang tumbuh dari komunitas pelayaran dan penjaminan—yang kemudian dikenal luas sebagai Lloyd’s (berawal dari kultur pertemuan dan transaksi di sekitar aktivitas pelayaran).

Inti fase ini:

  • Risiko dipahami sebagai kerugian fisik/ekonomi yang dapat terjadi.

  • Solusi utamanya: asuransi (risk transfer) + kontrak + dokumentasi.


2) Risiko mulai “dihitung”: kelahiran probabilitas dan statistik (fondasi ilmiah)

Setelah praktik “berbagi rugi” berjalan, dunia mulai bertanya: bisakah risiko diprediksi? Dari sinilah matematika, probabilitas, dan statistik menjadi tulang punggung pengambilan keputusan modern.

Di fase ini, risiko tidak lagi dipandang sekadar nasib buruk, melainkan:

  • kejadian yang memiliki peluang (probability),

  • dan dampak (impact).

Inilah akar dari matriks risiko (probabilitas × dampak) yang masih dipakai sampai sekarang—dari proyek konstruksi, distribusi energi, hingga HSSE.


3) Ledakan pasca-Perang Dunia: risiko masuk ke perusahaan modern (1950–1970-an)

Memasuki era korporasi modern, perusahaan menghadapi risiko yang semakin beragam:

  • gangguan rantai pasok,

  • tuntutan hukum,

  • kecelakaan kerja,

  • volatilitas harga,

  • kegagalan teknologi.

Di titik ini, lahir profesi dan fungsi risk manager yang tidak hanya mengurus asuransi, tetapi mulai mengoordinasikan risiko lintas fungsi: operasional, hukum, keamanan, reputasi, dan lain-lain.


4) Cabang besar #1: Ilmu manajemen risiko keuangan (Financial Risk Management)

Ketika pasar keuangan semakin kompleks, risiko keuangan berkembang menjadi disiplin tersendiri—dengan alat kuantitatif yang kuat.

a) Portofolio dan diversifikasi (1950-an)

Salah satu tonggak penting adalah gagasan bahwa risiko investasi dapat dikendalikan melalui diversifikasi portofolio—yang kemudian menjadi dasar teori portofolio modern.

b) Derivatif dan pengukuran risiko modern (1970-an)

Perkembangan berikutnya adalah model harga opsi dan derivatif yang mengubah cara dunia menghitung risiko pasar dan lindung nilai (hedging). Salah satu karya paling berpengaruh adalah paper tentang penetapan harga opsi dan liabilitas korporasi.

Ciri khas cabang keuangan:

  • sangat kuat di matematika/statistik,

  • fokus pada market risk, credit risk, liquidity risk,

  • melahirkan praktik seperti VaR (Value at Risk), stress testing, hedging, dll.

c) Regulasi perbankan: Basel dan disiplin risiko (2000-an)

Krisis dan instabilitas finansial mendorong standar global tentang permodalan dan manajemen risiko bank. Basel II, misalnya, menekankan peningkatan manajemen risiko dan stabilitas sistem perbankan.


5) Cabang besar #2: Manajemen risiko HSSE/HSE (keselamatan, kesehatan, keamanan, lingkungan)

Berbeda dengan keuangan yang banyak “mengukur angka”, cabang HSSE lahir dari kenyataan bahwa risiko juga berarti:

  • cedera, kematian, kerusakan lingkungan, dan bencana industri.

a) Era regulasi dan sistem keselamatan kerja

Pembentukan kerangka keselamatan kerja modern didorong oleh kebijakan dan regulasi negara. Di AS, misalnya, lahirnya Occupational Safety and Health Act dan pembentukan OSHA menjadi salah satu tonggak penting untuk pendekatan keselamatan kerja yang lebih sistematis.

b) Dari “unsafe act” ke “system thinking”

HSSE modern bergerak dari menyalahkan individu semata menjadi melihat sistem: desain, prosedur, supervisi, budaya, dan barrier.

Model Swiss Cheese yang populer di literatur keselamatan menunjukkan bagaimana kecelakaan besar sering terjadi ketika banyak lapisan pengaman “bolong” pada waktu yang sama—ini memperkuat pendekatan barrier management dan system safety.

c) Standarisasi sistem manajemen: ISO dan pendekatan proses

Di HSSE, standar sistem manajemen berkembang untuk memastikan pendekatan yang konsisten. ISO 45001 (K3) menjadi salah satu rujukan besar untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.


6) Era “Enterprise Risk Management (ERM)”: menyatukan risiko jadi strategi (1990-an–sekarang)

Saat risiko makin lintas sektor (cyber, geopolitik, reputasi, iklim, kepatuhan), organisasi mulai sadar: risiko tidak boleh “berjalan sendiri” di masing-masing departemen.

Muncullah Enterprise Risk Management (ERM): pendekatan yang menyatukan risiko untuk mendukung strategi, pengambilan keputusan, dan kinerja.

Salah satu rujukan paling terkenal adalah COSO ERM, yang menekankan hubungan ERM dengan strategi dan performa organisasi.

Di tingkat standar internasional yang lebih umum lintas industri, ISO 31000 menjadi rujukan besar untuk prinsip dan pedoman manajemen risiko (termasuk pembaruan edisi 2018).

Inti era ERM:

  • risiko bukan hanya “ancaman”, tapi juga terkait “peluang”,

  • risiko harus selaras dengan tujuan organisasi,

  • budaya risiko (risk culture) dan tata kelola (governance) jadi kunci.


7) Kenapa akhirnya “terpecah” jadi keuangan dan HSSE?

Bukan benar-benar “pecah”—lebih tepatnya spesialisasi karena kebutuhan dan alatnya berbeda.

  • Keuangan: dominan angka, model, data pasar, probabilitas statistik, korelasi, sensitivitas.

  • HSSE: dominan sistem pengamanan, perilaku organisasi, engineering controls, budaya keselamatan, kepatuhan, mitigasi berlapis.

Tetapi keduanya bertemu kembali di ERM:

  • perusahaan energi misalnya harus mengelola volatilitas harga (keuangan) dan risiko kecelakaan/bencana lingkungan (HSSE) dalam satu “peta keputusan”.


8) Pelajaran praktis untuk organisasi hari ini

Kalau kita tarik benang merah sejarahnya, ada beberapa “hukum” yang hampir selalu benar:

  1. Risiko selalu mengikuti kompleksitas. Makin kompleks sistem (teknologi, supply chain, regulasi), makin perlu sistem manajemen risiko yang matang.

  2. Mitigasi terbaik jarang single-solution. Risiko besar biasanya butuh kombinasi: engineering + prosedur + kompetensi + monitoring + budaya.

  3. Standar membantu, tapi tidak menggantikan kepemimpinan. ISO/COSO memberi kerangka, namun keberhasilan ditentukan oleh komitmen pimpinan dan disiplin eksekusi.

  4. Risk management yang dewasa itu proaktif. Bukan sibuk setelah kejadian, tapi kuat pada deteksi dini, indikator, dan skenario.


Referensi autentik (buku, jurnal, standar, lembaga)

Berikut daftar rujukan yang bisa Anda cantumkan di akhir artikel (sebagian berupa standar/lembaga, sebagian buku/jurnal klasik):

Standar & kerangka (paling “otoritatif” untuk praktik)

  1. ISO 31000:2018 – Risk management — Guidelines (International Organization for Standardization).

  2. COSO ERM – Enterprise Risk Management: Integrating with Strategy and Performance (2017).

  3. Basel Committee on Banking Supervision – Basel II implementation guidance (BIS).

  4. OSHA / OSH Act – tonggak regulasi keselamatan kerja modern.

  5. ISO 45001:2018 – Occupational health and safety management systems (rujukan K3 berbasis sistem manajemen).

Jurnal/paper akademik (tonggak kuantitatif & teori)

  1. Markowitz, H. (1952). Portfolio Selection (dasar teori portofolio modern).

  2. Black, F., & Scholes, M. (1973). The Pricing of Options and Corporate Liabilities.

  3. Perneger, T. V. (2005). The Swiss cheese model of safety incidents (membahas konsep Swiss Cheese yang berasal dari pemikiran James Reason).

Referensi sejarah institusional (akar asuransi/transfer risiko)

  1. Sejarah pasar asuransi maritim dan kultur penjaminan risiko: Lloyd’s.

Buku klasik yang sangat sering dijadikan rujukan (layak dicantumkan)

  1. Bernstein, P. L. Against the Gods: The Remarkable Story of Risk (sejarah konsep risiko & probabilitas).

  2. Reason, J. Human Error (fondasi pemikiran system safety dan kecelakaan sebagai kegagalan sistem).

  3. Vaughan, E. J., & Vaughan, T. Fundamentals of Risk and Insurance (akar risk management dari dunia asuransi).

  4. Harrington, S. E., & Niehaus, G. Risk Management and Insurance (jembatan praktik asuransi ke risk management modern).

Jumat, 23 Januari 2026

AI dan Etika dalam Islam: Bolehkah Teknologi Menjawab Pertanyaan Agama?

 


Di era digital hari ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar teknologi masa depan. AI sudah hadir di ponsel kita, di mesin pencari, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Banyak umat Muslim kini menggunakan AI untuk bertanya seputar kehidupan, termasuk persoalan agama: mulai dari hukum muamalah, fiqh ibadah, hingga tafsir ayat Al-Qur’an.

Namun, muncul pertanyaan penting yang semakin ramai diperbincangkan di media sosial dan forum keislaman: bolehkah teknologi seperti AI menjawab pertanyaan agama dalam perspektif Islam?


AI dalam Kehidupan Muslim Modern

AI bekerja dengan cara mempelajari data dalam jumlah sangat besar. Ia menganalisis teks, pola bahasa, dan referensi untuk menghasilkan jawaban yang terlihat logis dan sistematis. Dalam konteks keislaman, AI sering dimanfaatkan untuk:

  • mencari dalil ayat atau hadis,

  • merangkum kajian,

  • membantu penulisan dakwah,

  • menjawab pertanyaan umum seputar ibadah.

Menurut laporan global, penggunaan AI dalam pencarian informasi meningkat lebih dari 30% per tahun, dan topik agama termasuk salah satu kategori pencarian yang ikut terdorong naik. Hal ini menunjukkan bahwa umat Muslim pun tidak terpisah dari arus teknologi ini.


Islam dan Teknologi: Bukan Hal yang Asing

Dalam sejarah Islam, teknologi bukanlah sesuatu yang ditolak. Pada masa kejayaan peradaban Islam, umat Muslim justru menjadi pelopor dalam ilmu pengetahuan, astronomi, matematika, dan kedokteran. Prinsip Islam terhadap teknologi pada dasarnya adalah:

Teknologi bersifat netral; yang menentukan nilai adalah bagaimana manusia menggunakannya.

Al-Qur’an sendiri berulang kali mendorong umat manusia untuk berpikir, belajar, dan menggunakan akal (afala ta‘qilun). Maka, penggunaan AI sebagai alat bantu sejatinya tidak bertentangan dengan Islam, selama tidak melanggar prinsip dasar akidah dan syariat.


Bolehkah AI Menjawab Pertanyaan Agama?

Di sinilah letak batas yang perlu dipahami dengan jernih.

Dalam Islam, sumber hukum utama adalah:

  1. Al-Qur’an

  2. As-Sunnah

  3. Ijma’ ulama

  4. Qiyas dan ijtihad para ahli

AI tidak memiliki iman, niat, maupun tanggung jawab moral. Ia tidak berijtihad, tidak memahami maqashid syariah, dan tidak bisa membedakan konteks sosial, budaya, serta kondisi individu secara utuh.

Karena itu, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti ulama atau mufti. Jawaban AI bersifat:

  • informatif,

  • ringkasan pengetahuan,

  • referensi awal,

bukan fatwa final.

Dalam banyak diskusi ulama kontemporer, AI dipandang boleh digunakan sebagai alat bantu, tetapi keputusan agama tetap harus dikembalikan kepada manusia berilmu.


Risiko Mengandalkan AI Secara Penuh

Ada beberapa risiko serius jika umat Muslim terlalu bergantung pada AI untuk urusan agama:

  1. Kesalahan Konteks
    AI bisa mengutip ayat atau hadis tanpa memahami sebab turunnya (asbabun nuzul) atau konteks hukum.

  2. Bias Data
    AI belajar dari data yang tersedia di internet, termasuk sumber yang lemah atau tidak sahih.

  3. Ilusi Otoritas
    Jawaban AI sering terdengar meyakinkan, padahal belum tentu benar secara fiqh.

  4. Hilangnya Tradisi Keilmuan
    Islam memiliki sanad keilmuan yang panjang. Menggantinya dengan mesin berisiko memutus mata rantai keilmuan tersebut.


Etika Digital bagi Muslim di Era AI

Agar tetap berada di jalur yang benar, ada beberapa prinsip etika digital yang bisa dipegang umat Islam:

  • Jadikan AI sebagai alat bantu belajar, bukan rujukan hukum final.

  • Selalu verifikasi jawaban AI dengan sumber tepercaya atau ulama, mana yang paling sesuai dengan sumber Al Quran dan As Sunnah dan pemahaman para sahabat nabi dan ijma' ulama terdahulu.

  • Gunakan AI untuk memperluas wawasan, bukan menggantikan proses tafakkur dan tadabbur.

  • Ingat bahwa ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi, tetapi juga hikmah dan adab.


Penutup: Teknologi di Tangan Manusia Beriman

AI adalah produk kecerdasan manusia, sementara Islam menempatkan akal sebagai anugerah Allah yang harus digunakan dengan tanggung jawab. Maka, pertanyaan utamanya bukan sekadar boleh atau tidak, melainkan:

Apakah teknologi itu mendekatkan kita kepada kebenaran dan ketakwaan, atau justru menjauhkan?

Jika AI digunakan dengan adab, niat yang lurus, dan disertai bimbingan ilmu, ia bisa menjadi alat yang bermanfaat. Namun, jika dijadikan pengganti otoritas agama, maka risiko penyimpangan akan semakin besar.

Di era AI, iman, ilmu, dan kebijaksanaan manusia tetap tidak tergantikan.

Rabu, 14 Januari 2026

AI, Robot, dan Otomatisasi: Benarkah Rezeki Manusia Terancam di Era Teknologi?

 


Perkembangan Artificial Intelligence (AI), robotika, dan otomatisasi semakin cepat dan masif. Banyak pekerjaan manusia mulai digantikan oleh mesin: dari kasir, operator pabrik, hingga analis data. Tidak sedikit yang khawatir, “Apakah manusia akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan di masa depan?”

Pertanyaan ini wajar. Namun, dalam perspektif Islam, ada fondasi keyakinan yang sangat kuat: rezeki setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak berkurang dan tidak berlebihan, sesuai dengan keadilan-Nya.

Lalu, bagaimana seharusnya manusia menyikapi era AI dan otomatisasi ini?


Rezeki dalam Islam: Bukan Sekadar Pekerjaan

Dalam Islam, rezeki tidak identik dengan satu jenis pekerjaan. Rezeki adalah segala bentuk kebaikan yang Allah berikan—penghasilan, kesehatan, ilmu, kesempatan, bahkan ide dan kreativitas.

Teknologi boleh berubah, pekerjaan boleh hilang atau berganti, tetapi sumber rezeki tidak pernah berpindah dari Allah kepada mesin. AI dan robot hanyalah alat, bukan penentu hidup manusia.

Ketakutan muncul bukan karena AI terlalu kuat, melainkan karena manusia menyempitkan makna rezeki hanya pada pekerjaan lama yang ia kenal.


AI dan Otomatisasi: Ancaman atau Ujian Zaman?

Dalam sejarah, setiap revolusi teknologi selalu “menghilangkan” pekerjaan lama:

  • Mesin uap menggantikan tenaga otot

  • Komputer menggantikan pekerjaan manual

  • Internet mengubah cara bisnis dan komunikasi

Namun faktanya, pekerjaan baru selalu muncul—sering kali lebih kompleks, kreatif, dan bernilai tinggi.

Dalam kacamata Islam, AI dan otomatisasi dapat dipahami sebagai:

  • Ujian adaptasi bagi manusia

  • Sarana efisiensi, bukan penghapus peran manusia

  • Pemicu hijrah profesi, bukan akhir penghidupan


Solusi Islam di Era AI dan Robotika

1. Menguatkan Tauhid dan Tawakal

Keyakinan bahwa Allah Maha Adil harus diiringi dengan ikhtiar. Tawakal bukan berarti pasif, tetapi aktif mencari jalan baru dengan hati yang tenang. 

Dalam Islam, konsep tawakkal sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal Rasulullah ﷺ memberi contoh yang sangat jelas melalui perumpamaan seekor burung.

Burung tidak berdiam diri di sarangnya menunggu rezeki jatuh dari langit. Setiap pagi ia keluar, terbang, mencari, berjuang, dan mengambil risiko. Ia tidak tahu di mana makanan berada, tetapi ia yakin bahwa Allah telah menyiapkannya. Ia berangkat dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.

Inilah tawakkal sejati:
usaha maksimal, hati tetap tenang, dan keyakinan penuh kepada Allah.

2. Upgrade Ilmu dan Keterampilan

Islam sangat menekankan pentingnya ilmu. Di era AI:

  • Manusia perlu belajar hal yang tidak bisa digantikan mesin

  • Seperti etika, empati, kepemimpinan, kreativitas, dan kebijaksanaan

AI bisa menghitung, tetapi tidak bisa menilai dengan hati dan akhlak.

3. Menggeser Peran: dari Operator ke Pengendali

Jika mesin mengerjakan tugas teknis, manusia naik kelas:

  • Menjadi pengambil keputusan

  • Pengawas nilai dan dampak

  • Pengarah tujuan teknologi

Ini sejalan dengan konsep manusia sebagai khalifah di bumi, bukan sekadar pekerja mekanis.

4. Memperkuat Ekonomi Berbasis Nilai

Islam mendorong:

  • Keadilan sosial

  • Tolong-menolong

  • Distribusi yang seimbang

Di era AI, konsep seperti zakat, infak, sedekah, dan ekonomi berbasis kebermanfaatan menjadi semakin relevan, bukan usang.


Apa yang Harus Dilakukan Manusia Hari Ini?

  1. Berhenti panik, mulai berpikir jernih

  2. Belajar dan beradaptasi, tanpa meninggalkan nilai

  3. Menggunakan AI sebagai alat, bukan sebagai “tuhan baru”

  4. Menjaga akhlak dan integritas, di tengah dunia serba otomatis

  5. Percaya bahwa rezeki tidak pernah salah alamat


Penutup

AI, robot, dan otomatisasi bukanlah musuh manusia. Mereka adalah bagian dari sunnatullah dalam perkembangan peradaban. Yang berbahaya bukanlah teknologinya, melainkan hilangnya keyakinan manusia terhadap keadilan dan ketetapan Allah.

Selama manusia menjaga iman, ilmu, dan akhlak, tidak ada teknologi apa pun yang mampu mencabut rezeki yang telah Allah tetapkan.

Teknologi boleh menggantikan pekerjaan, tetapi tidak pernah menggantikan peran manusia sebagai hamba dan khalifah.

Minggu, 15 Desember 2019

BUKU MEMBANGUN ENERGY SECURITY INDONESIA

Boleh kakak, diborong bukunya. Judulnya "Membangun Energy Security Indonesia" karya saya sendiri. ☺️☺️.  Last stock. Tersedia sekitar 120 eks. Murah, 80 ribu aja, 500-an halaman. Selain buat dibaca untuk menambah pengetahuan tentang pentingnya energi, bukunya bisa juga buat ganjal pintu/lemari/meja. Bisa dibuat bantal. Bisa juga buat nimpukin mas/mbak jahat pemberi harapan palsu. Xixixi. 😅🙈🙏🙏

Yang berminat bisa langsung japri atau bisa kunjungi lapak saya :
 https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/kedokteran/2ap7434-jual-membangun-energy-security-indonesia?utm_source=apps

Judul : Membangun Energy Security Indonesia
Penulis : Alek Kurniawan Apriyanto
Penerbit : Pustaka Muda, Jakarta, 2015
ISBN 978-602-6850-02-7
Jumlah Halaman : 500

Testimoni : Satya Widya Yudha, Novian Moezahar Thaib, S. Herry Putranto, Muhammad Sarmuji, Achsanul Qosasi, Dr. Agung Purniawan, Dr. Abu Bakar Eby Hara, Dr. Ir. Mawardi, ME

Daftar Isi :
1. Pendahuluan
2. Sejarah Energy Security Dunia
3. Definisi Energy Security
4. Hubungan Energy Security Dengan Bidang Lain
5. Cara Mengukur Energy Security
6. Karakteristik Setiap Sumber Energi
7. Overview Kondisi Energi Dunia
8. Proyeksi Energi Dunia
9. Kondisi Pengelolaan Energi Dunia
10. Proyeksi Energi Dunia
11. Penilaian Lembaga-Lembaga Internasional Terhadap Pengelolaan Energi Indonesia
12. Catatan Sejarah Pengelolaan Energi di Indonesia
13. Kebijakan-Kebijakan Terkait Energi
14. Tantangan Kemanan Energi Nasional
15. Energi Alternatif Untuk BBM
16. Memacu Infrastruktur Gas
17. Memaksimalkan Pemanfaatan Batubara
18. Inisiasi PLTN
19. Menyambut Energi Terbarukan
20. Cadangan Penyangga Energi Nasional
21. Belajar Dari China
22. Parameter Kuantitatif Dalam Kebijakan Energi Indonesia
23. Penutup

Senin, 28 Januari 2019

MENGUPLOAD PENGETAHUAN KE OTAK


Jika anda pernah menonton film The Matrix, anda mungkin masih ingat adegan ketika Neo (Keanu Reeves) diberikan pengetahuan dan keterampilan beladiri secara instan melalui teknologi transfer data langsung ke otak. Dalam sekejap Neo langsung bisa mahir karate dan bermacam-macam ilmu beladiri lainnya di dunia matrix. INi di dunia fiksi ilmiah.

Di dunia nyata, peneliti-peneliti di HRL Laboratories yang berbasis di California, Amerika Serikat mengklaim telah berhasil mengembangkan sistem yakni simulator yang dapat memasukkan informasi secara langsung ke otak manusia.

Simulator ini dapat secara instan mengajarkan manusia keterampilan-keterampilan baru dalam waktu singkat.

Diketahui bahwa keterampilan manusia yang berasal dari kemampuan otak manusia seperti memori dan kemampuan berbicara, masing-masing diatur oleh daerah khusus yang spesifik di otak. Sistem yang sedang dikembangkan Dr Matthew Phillips dan tim HRL Laboratories; ini dapat langsung menarget bagian spesifik pada otak, melakukan perubahan-perubahan, sehingga manusia dapat secara instan memiliki pengetahuan dan keterampilan baru.

Sistem ini dapat membantu manusia mempercepat proses belajar dan memiliki keterampilan baru dalam waktu singkat. Misalnya belajar mengendarai kendaraan, persiapan ujian, dan mungkin belajar bahasa baru.

Dimasa depan, aktivitas belajar nampaknya akan semakin mudah layaknya mendownload apps-apps baru di ponsel pintar yang kita miliki.

Sabtu, 03 Februari 2018

BIG DATA MANAGEMENT


Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, data-data digital semakin menggantikan data-data konvensional. Lebih jauh lagi, perkembangan peragkat-perangkat elektronik, aplikasi-aplikasi dan internet juga semakin menambah kecepatan terciptanya data-data digital. Dipadukan dengan teknologi storage data yang juga berkembang pesat. Belum lagi hadirnya aplikasi-aplikasi media sosial dan search engine yang juga meng-generate data-data digital dalam jumlah besar setiap menitnya. Hal ini semua menjadi sebuah fenomena baru di bidang teknologi yang sekaligus juga menjadi salah satu pertanda umat manusia telah memasuki era revolusi industri ke-4.

Data-data digital tercipta sangat cepat dan disimpan secara masif. Dalam data-data digital ini tersimpan informasi yang sebenarnya mungkin sangat bermanfaat dan dibutuhkan bagi manusia, organisasi, atau bagi negara. Namun karena begitu masifnya dan cepatnya data-data yang masuk dan kita tidak memiliki kemampuan me-manage data-data tersebut dengan baik, maka bisa saja kita akhirnya tak mendapatkan manfaat apapun.

Data-data bisa saja tersimpan dalam suatu sumber tapi bisa juga tersimpan dalam banyak sumber data. Data-data ada yang sifatnya telah terstruktur dengan baik, ada juga yang semi-structured dan unstructured. Data-data ada yang telah tervalidasi ada juga yang belum tervalidasi. Kualitas data dan juga formatnya beragam. Dan bahkan mungkin ada juga data-data yang masih berupa data konvensional berbasis kertas atau sample/spesimen. Beberapa pakar menggambarkan karakteristik data sebagai 5V yakni Volume (kuantitas data yang digenerate dan disimpan), Variety (tipe dan sifat data), Velocity (kecepatan data digenerated dan diproses), Variability (seberapa konsisten data), Veracity (kualitas data).

Oleh karena itu bermunculanlah berbagai teknologi dengan istilah dan konsep beragam yang bertujuan mengolah data-data dalam jumlah besar dan cepat tersebut. Ada yang disebut sebagai datawarehousing, big data, relational database management system (RDBMS), data mining, machine learning, dan sebagainya. Banyak provider teknologi digital menawarkan jasa teknologi untuk mengolah data-data. Tahapannya meliputi capturing data (pemrolehan data), data storage (penyimpanan data), data analysis (analisis), search (pencarian), sharing, transfer, visualization, querying, updating and information privacy.

Mungkin dalam beberapa saat lagi kita bisa melihat kemampuan me-manage data-data digital akan dijadikan suatu indikator dalam mengukur keunggulan suatu organisasi, perusahaan atau suatu negara. Bahkan seseorang mungkin akan juga akan dinilai dari seberapa banyak data yang masuk padanya dan di-generate-nya setiap hari. Beberapa contoh parameter pengukuran misalkan berapa zettabyte yang di-generated setiap hari oleh suatu organisasi, perusahaan atau suatu negara. Seberapa akurat hasil pengolahan datanya dalam membantu penyusunan strategi dan pengambilan keputusan.

Kamis, 18 Januari 2018

HUBUNGAN ENERGY SECURITY DENGAN PENGUASAAN IPTEK DAN KUALITAS SDM


Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) merupakan salah satu modal utama dalam membangun sistem perekonomian yang kuat yang menjamin kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan. Di sisi lain, penguasaan IPTEK tidak lepas dari tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas yang dimiliki suatu negara. Karenanya, upaya menumbuh-kembangkan kedua hal tersebut dalam suatu negara merupakan suatu hal yang sangat penting untuk membangun pondasi yang kokoh yang menjamin kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan.

Agus Nurrohim (2012) menyebutkan bahwa telah terjadi proses transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan (Knowledge Based Economy). Pada era Knowledge Based Economy, kekuatan bangsa diukur dari kemampuan penguasaan IPTEK sebagai faktor primer penguasaan ekonomi. Termasuk juga di dalam penguasaan IPTEK ini tentunya keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan handal.
Peranan penguasaan IPTEK dan keberadaan SDM yang handal menggantikan peranan modal, lahan dan energi sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing suatu bangsa. Melalui penguasaan IPTEK dan SDM yang unggul, suatu negara akan mampu meningkatkan produktivitas perekonomian dan daya saingnya di kancah dunia.

Salah satu indikator kemampuan penguasaan IPTEK suatu negara dapat dilihat dari seberapa besar perbandingan angka ekspor dan impor sektor industri. Untuk Indonesia, nilai ekspor antara tahun 1996 sampai 2009 didominasi oleh produk-produk yang kandungan teknologinya rendah. Sementara impor Indonesia didominasi oleh produk industri, tambang, dan produk industri makanan dengan kandungan teknologi yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum dapat memperoleh manfaat dan nilai tambah yang maksimal melalui pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sumber daya alam yang dimilikinya.

Investasi industri untuk penelitian dan pengembangan teknologi masih sangat terbatas, sehingga kemampuan industri dalam menghasilkan teknologi masih rendah. Di samping itu, beberapa industri besar dan industri yang merupakan Penanaman Modal Asing (PMA) mempunyai ketergantungan yang besar pada teknologi yang berasal dari industri induknya atau dari negara asing. Akibatnya ketergantungan semakin besar pada negara asing penghasil teknologi dan kurangnya pemanfaatan teknologi hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri. Ketergantungan industri pada teknologi impor antara lain disebabkan oleh lemahnya lembaga penelitian dan pengembangan nasional dalam menyediakan teknologi yang siap pakai. Hal ini disebabkan oleh rendahnya produktivitas penelitian dan pengembangan yang disebabkan oleh belum efektifnya kelembagaan, sumber daya, dan jaringan IPTEK.

Termasuk di sektor energi, ketahanan IPTEK bidang energi Indonesia masih rendah. Penguasaan teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas saat ini masih belum memadai dimana masih banyak tergantung pada teknologi impor dan juga sumber daya asing. Akibatnya, Indonesia belum dapat dipandang sebagai negara yang memiliki ketahanan energi tinggi dan berdaulat energi, walaupun sumber daya energi yang dimiliki sangat melimpah. Bahkan mungkin sebenarnya SDM Indonesia di bidang energi sudah sangat kompeten. Namun karena kurangnya insentif dalam negeri banyak tenaga-tenaga profesional Indonesia yang lebih memilih bekerja di luar negeri.
Fakta yang ada hampir semua kontraktor-kontraktor migas menggunakan teknologi asing. Perusahaan-perusahaan migas bahkan masih banyak yang menggunakan tenaga ahli asing dan konsultan asing. Kandungan lokal (local content) industri migas dalam negeri juga masih rendah, baik untuk barang dan jasa. (Agus Nurrohim, 2012).