Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Januari 2026

Teori Perulangan Sejarah Setiap 100 Tahun: Antara Pola, Siklus, dan Takdir Peradaban


Sejak ribuan tahun lalu, manusia selalu berusaha membaca pola dalam perjalanan sejarah. Kita mencoba memahami mengapa peradaban bangkit, mengapa kerajaan runtuh, mengapa perang besar terjadi, mengapa wabah datang, dan mengapa generasi manusia sering mengulangi kesalahan yang mirip dengan generasi sebelumnya.

Salah satu gagasan yang menarik untuk direnungkan adalah teori perulangan sejarah dalam siklus tertentu, termasuk gagasan bahwa peristiwa besar seolah-olah muncul dalam rentang sekitar 100 tahun. Dalam sejarah global, kita memang dapat menemukan kemiripan pola: perang besar, wabah, krisis ekonomi, bencana alam, perubahan teknologi, runtuhnya kekuasaan lama, wafatnya tokoh besar, lalu muncul generasi baru yang mengubah arah zaman.

Namun, apakah sejarah benar-benar berulang setiap 100 tahun? Ataukah manusia hanya cenderung melihat pola dari peristiwa-peristiwa besar yang sebenarnya lebih kompleks?

Jawabannya perlu dilihat secara hati-hati. Angka 100 tahun tidak dapat dianggap sebagai rumus pasti. Akan tetapi, siklus satu abad dapat menjadi cara menarik untuk memahami pergantian generasi, hilangnya memori kolektif, dan berulangnya pola perilaku manusia dalam sejarah.

Mengapa Angka 100 Tahun Menarik?

Secara sosiologis, 100 tahun adalah rentang waktu yang panjang bagi kehidupan manusia. Dalam satu abad, biasanya terjadi pergantian sekitar tiga sampai empat generasi. Generasi yang mengalami langsung sebuah perang, wabah, atau krisis besar perlahan menghilang. Setelah itu, generasi baru hanya mengenal peristiwa tersebut sebagai cerita sejarah, bukan pengalaman emosional.

Di sinilah masalah sering muncul. Ketika memori penderitaan mulai memudar, manusia dapat kembali mengulangi kesalahan lama. Perang yang dahulu dianggap mengerikan mulai dilupakan. Wabah yang dahulu membuat dunia berhenti mulai dianggap sekadar catatan masa lalu. Krisis ekonomi yang dahulu menghancurkan banyak keluarga mulai tergantikan oleh optimisme baru yang kadang terlalu berlebihan.

Dengan kata lain, sejarah mungkin tidak berulang secara matematis. Namun, manusia sering mengulangi pola yang sama karena lupa pada pelajaran yang pernah dibayar mahal oleh generasi sebelumnya.

Pola Perang Besar dalam Sejarah

Dalam sejarah dunia, perang besar sering muncul sebagai akibat dari perebutan kekuasaan, sumber daya, wilayah, ideologi, dan dominasi politik. Bentuk perang berubah dari masa ke masa, tetapi akar konflik sering kali tidak jauh berbeda.

Pada abad pertengahan, dunia menyaksikan Perang Salib yang berlangsung dalam rentang panjang antara abad ke-11 hingga abad ke-13. Setelah itu, ekspansi Mongol pada abad ke-13 hingga ke-14 mengguncang Asia, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Pada masa berikutnya, konflik antara Kesultanan Utsmaniyah dan kekuatan Eropa berlangsung dalam rentang panjang yang membentuk peta politik dunia lama.

Memasuki akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, Perang Napoleon mengubah wajah Eropa. Perang tersebut bukan hanya konflik militer, tetapi juga membawa dampak ideologis berupa menyebarnya nasionalisme, perubahan sistem hukum, dan berakhirnya sebagian tatanan feodal lama.

Pada abad ke-20, dunia menghadapi Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Dua perang besar ini mengubah peta politik global, menghancurkan banyak negara, melahirkan lembaga internasional baru, dan membentuk tatanan geopolitik modern.

Kini, pada abad ke-21, bentuk konflik kembali berubah. Dunia menghadapi ketegangan geopolitik, perang regional, perang siber, perlombaan teknologi militer, persaingan energi, dan konflik informasi. Bentuknya berbeda, tetapi akar masalahnya masih dapat dikenali: perebutan pengaruh, sumber daya, keamanan, dan dominasi.

Sejarah seakan memberi peringatan bahwa ketika manusia lupa harga perdamaian, perang dapat kembali menemukan jalannya.

Wabah dan Penyakit sebagai Siklus Ketakutan Kolektif

Selain perang, wabah besar juga menjadi bagian penting dari sejarah manusia. Wabah tidak hanya menyerang kesehatan, tetapi juga mengguncang ekonomi, politik, agama, dan struktur sosial.

Pada abad ke-14, Black Death menghancurkan sebagian besar populasi Eropa dan meninggalkan dampak sosial yang sangat dalam. Pada abad ke-16, wabah cacar dan penyakit lain yang dibawa dari Eropa berdampak besar terhadap penduduk asli Amerika. Peradaban besar seperti Aztec dan Inca melemah bukan hanya karena penaklukan militer, tetapi juga karena penyakit yang menyebar cepat.

Pada abad ke-19, pandemi kolera mengguncang banyak wilayah dunia dan mendorong perubahan besar dalam sistem sanitasi kota. Pada awal abad ke-20, Flu Spanyol menewaskan jutaan orang dan menjadi salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah modern. Pada awal abad ke-21, dunia kembali mengalami pandemi global yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, bepergian, dan berinteraksi.

Wabah selalu mengajarkan bahwa manusia tidak sekuat yang dibayangkan. Teknologi, ekonomi, dan kekuasaan dapat terguncang oleh sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Wabah juga membuka tabir ketimpangan sosial, kelemahan sistem kesehatan, dan rapuhnya solidaritas manusia.

Setiap wabah besar biasanya meninggalkan perubahan. Ada perubahan dalam kebijakan kesehatan, tata kota, pola kerja, ilmu pengetahuan, dan cara manusia memandang kehidupan.

Bencana Alam dan Guncangan Peradaban

Bencana alam juga sering menjadi faktor penting dalam perubahan sejarah. Letusan gunung api, perubahan iklim, banjir besar, gagal panen, dan cuaca ekstrem dapat mengguncang masyarakat bahkan kerajaan.

Letusan Gunung Samalas di Lombok pada tahun 1257 disebut sebagai salah satu letusan gunung api besar dalam sejarah. Dampaknya diduga memengaruhi iklim global dan berkontribusi pada krisis pangan di berbagai wilayah. Pada abad ke-14, Eropa mengalami Great Famine akibat cuaca ekstrem, hujan berkepanjangan, dan gagal panen. Kelaparan besar ini melemahkan masyarakat sebelum datangnya wabah besar.

Pada tahun 1600, letusan Gunung Huaynaputina di Peru berdampak pada iklim global dan disebut berhubungan dengan gagal panen serta kelaparan besar di Rusia pada awal abad ke-17. Pada abad ke-17 pula, periode Little Ice Age membawa musim dingin ekstrem, gagal panen, dan tekanan sosial di berbagai wilayah.

Pada tahun 1815, letusan Gunung Tambora di Nusantara menyebabkan dampak iklim global yang dikenal sebagai “Year Without a Summer” pada 1816. Banyak wilayah mengalami gagal panen, kelaparan, migrasi, dan gangguan ekonomi. Pada tahun 1883, letusan Gunung Krakatau juga menimbulkan tsunami besar dan dampak atmosfer yang dirasakan hingga berbagai belahan dunia.

Bencana alam mengingatkan manusia bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh raja, perang, dan ideologi. Alam juga memiliki peran besar dalam mengubah arah peradaban. Ketika manusia lupa menjaga keseimbangan lingkungan, risiko bencana dan krisis dapat semakin besar.

Wafatnya Tokoh Besar dan Pergantian Arah Zaman

Dalam sejarah, wafatnya tokoh besar sering menjadi penanda perubahan. Seorang pemimpin, ulama, ilmuwan, atau pemikir dapat menjadi pusat stabilitas bagi suatu masyarakat. Ketika tokoh seperti itu wafat, sering muncul masa transisi, kebingungan arah, atau perebutan pengaruh.

Dalam tradisi Islam, terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah akan mengutus kepada umat ini pada setiap awal seratus tahun seseorang yang memperbarui urusan agamanya. Hadis ini sering dikaitkan dengan konsep mujaddid, yaitu pembaru yang menghidupkan kembali pemahaman agama yang benar di tengah umat.

Perlu dipahami bahwa konteks “seratus tahun” dalam hadis tersebut menggunakan kalender Hijriah, bukan kalender Masehi. Selain itu, pembaruan yang dimaksud bukan berarti membawa agama baru, melainkan menghidupkan kembali pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam, membersihkan penyimpangan, dan menguatkan umat di masa yang penuh tantangan.

Dalam sejarah Islam, kita memang melihat munculnya ulama dan tokoh besar pada berbagai zaman. Mereka menulis kitab, meluruskan pemahaman, membela sunnah, menguatkan ilmu, dan memberi arah ketika umat mengalami kebingungan.

Regenerasi seperti ini bukan hanya pergantian biologis, tetapi juga pergantian ide, moral, keberanian, dan tanggung jawab intelektual.

Siklus Sejarah atau Ilusi Pola?

Tidak semua sejarawan setuju bahwa sejarah berulang dalam siklus yang pasti. Ada yang melihat sejarah secara siklik, yaitu bergerak dalam pola naik-turun seperti kelahiran, kejayaan, kemunduran, dan kehancuran. Namun, ada juga yang menilai sejarah lebih banyak dibentuk oleh kebetulan, pilihan manusia, kondisi sosial, teknologi, ekonomi, dan faktor alam yang tidak selalu dapat diprediksi.

Dalam pandangan yang lebih seimbang, sejarah mungkin tidak berulang secara persis, tetapi manusia sering mengulangi pola yang sama. Keserakahan, ambisi kekuasaan, kelalaian moral, ketimpangan sosial, dan keangkuhan terhadap alam dapat melahirkan krisis yang bentuknya berbeda, tetapi akarnya mirip.

Karena itu, yang terpenting bukan memastikan apakah sejarah benar-benar berulang setiap 100 tahun. Yang lebih penting adalah memahami mengapa manusia terus mengulangi kesalahan yang sama.

Kita Ada di Fase Apa Sekarang?

Jika kita melihat kondisi dunia saat ini, ada beberapa tanda yang mirip dengan masa-masa transisi besar dalam sejarah. Dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, krisis lingkungan, perubahan iklim, pandemi yang baru saja dilalui, ketimpangan ekonomi, polarisasi sosial, krisis kepercayaan terhadap institusi, serta perkembangan teknologi yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan etika manusia mengaturnya.

Kecerdasan buatan, bioteknologi, perang siber, energi baru, dan perubahan sistem kerja sedang membentuk ulang dunia. Di sisi lain, manusia juga menghadapi krisis makna, kesepian sosial, hilangnya kepercayaan, dan kebingungan moral.

Dalam situasi seperti ini, pertanyaannya bukan hanya apakah sejarah akan berulang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah manusia mau belajar lebih cepat sebelum harga yang harus dibayar menjadi terlalu mahal.

Sejarah sebagai Cermin dan Peringatan

Sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan nama tokoh. Sejarah adalah cermin. Dari sejarah, manusia dapat melihat akibat dari keserakahan, kezaliman, perang, kelalaian, dan kesombongan. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa manusia dapat bangkit melalui ilmu, iman, kerja sama, kepemimpinan yang baik, dan keberanian memperbaiki diri.

Jika sejarah dibaca hanya sebagai cerita masa lalu, maka manfaatnya kecil. Namun, jika sejarah dibaca sebagai peringatan, maka ia dapat membantu manusia mengambil keputusan yang lebih bijak.

Dalam perspektif Islam, perjalanan sejarah juga dapat dilihat sebagai bagian dari sunnatullah, yaitu hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan manusia dan peradaban. Umat yang berlaku zalim, melampaui batas, dan mengabaikan kebenaran akan menghadapi akibatnya. Sebaliknya, masyarakat yang menjaga keadilan, ilmu, amanah, dan moral memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Penutup

Teori perulangan sejarah setiap 100 tahun tidak perlu dipahami sebagai rumus pasti. Sejarah tidak selalu berjalan seperti jam yang berputar dengan angka yang sama. Namun, gagasan ini tetap menarik karena membantu kita melihat pola besar dalam pergantian generasi, hilangnya memori kolektif, dan berulangnya kesalahan manusia.

Perang, wabah, bencana, runtuhnya kekuasaan, dan munculnya tokoh pembaru bukan hanya peristiwa terpisah. Semuanya dapat menjadi tanda bahwa peradaban manusia selalu diuji.

Mungkin sejarah tidak dikunci oleh angka 100 tahun. Namun, pola-pola besar dalam sejarah memang sering kembali muncul dalam bentuk yang berbeda. Penyebabnya bisa berasal dari sifat manusia, perubahan sosial, kondisi alam, atau dalam pandangan iman, bagian dari sunnatullah dan takdir Allah.

Sejarah bukan hanya catatan masa lalu. Ia adalah peringatan bagi masa kini dan bekal untuk masa depan. Namun, peringatan hanya berguna bagi mereka yang mau mendengarkan, merenungkan, dan mengambil pelajaran.

Sabtu, 13 Mei 2023

TITIK TEMU AGAMA DAN FILSAFAT



Apa yang saya pahami dari selama ini mempelajari agama Islam dan filsafat, sepertinya dapat diketahui bahwa diskusi antara para ahli filsafat murni dengan keilmuwan Islam tidaklah akan pernah dapat dipertemukan dengan mudah. Hal ini diakibatkan ada perbedaan konsep dan referensi antara keduanya. Memang terdapat irisan-irisan antara Filsafat dan Agama yang dapat bersepakat tapi ada juga irisan yang tidak akan pernah dapat dipertemukan. 

Bagi filsafat, cara berpikir bebas yang menyandarkan sepenuhnya kepada kemampuan akal dan pikiran manusia, nalar logis, dan sistematis adalah suatu metode berpikir filsafat yang baku. Referensi mereka adalah pendapat tokoh-tokoh filsafat sebelumnya yang akan terus dikaji, didukung atau dipertentangkan secara terus menerus. 

Bagi keilmuwan Islam cara berpikir filsafat seperti ini tidaklah dikehendaki. Para pemikir Islam percaya bahwa akal dan rasio manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Akal dan pikiran manusia adalah ciptaan Tuhan. Sehingga sehebat apapun pikiran manusia, tidak akan pernah melampui yang menciptakannya. 

Oleh karena itu manusia membutuhkan sumber keilmuwan bersifat dogmatis dari wahyu ilahi yang disampaikan melalui para Nabi dan rasul. Hal ini dalam rangka memandu manusia agar menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) kehidupan di bumi secara bijak. Juga untuk menyelamatkan jiwa dan pikiran manusia dari cara berpikir yang merusak (bisikan setan) atau minimal mencegah manusia dari pemikiran yang menimbulkan kesia-siaan. 

Bagi keilmuwan Islam rujukan utamanya adalah Al Quran dan Al Hadis. Metode berpikirnya adalah  berupaya mengamalkan Al Quran dan al Hadis secara benar sesuai dengan pemahaman dan praktek Nabi Muhammad, Khulafaur Rasydin dan Para Sahabat. 

Hal yang terutama diatur secara dogmatis tentu saja adalah dalam ritual tata cara Ibadah. Seperti apa syarat dan rukum ibadah. Dalam Islam juga diajarkan konsep-konsep mendasar tentang cara memahami kehidupan ini. Mulai dari bagaimana kehidupan berawal, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana berakhirnya. 

Dalam tataran kehidupan sehari-hari diatur juga beberapa praktek halal dan haram. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dalam keilmuwan science, kita juga diberi gambaran bagaimana fenomena-fenomena alam terjadi, bahkan sebelum tersedia teknologi untuk menelitinya. 

Kesemua hal tersebut, merupakan hal-hal yang haruslah diterima secara gamblang sebagai bentuk keimanan. Inilah perbedaan pengetahuan berbasis keimanan dengan pengetahuan berbasis akal dan rasio semata. Seyogyanya akal dan rasio haruslah tunduk pada keimanan.

Akan tetapi masih terdapat ranah yang dapat disepakati bersama, antara Filsafat dan Agama Islam. Terutama dalam tataran keilmuwan sains dan teknologi. 

Bagi filsafat, keilmuwan yang sifatnya sains dan teknologi merupakan produk dari filsafat itu sendiri. Ada juga yang berpendapat, sains tumbuh bersama Filsafat. Sebelumnya, diantara keduanya tidak terdapat sekat dan tidak terpisahkan. 

Namun karena sains telah menjadi kebenaran yang bersifat eksak dan cenderung memiliki lingkup terbatas & spesifik, terspesialisasi, sementara filsafat harus terus berputar dan bergerak karena bersifat universal (menyeluruh), maka sains harus dipisahkan dari filasafat. 

Sains adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dari suatu pengalaman empiris. Berbentuk penelitian yang objektif atau dari pengujian menggunakan metode ilmiah. Bersifat sistematis dan logis. Usaha sistematis dengan metode ilmiah terus dilakukan untuk pengembangan dan penataan pengetahuan. Sains harus dapat dibuktikan dengan penjelasan dan prediksi yang teruji. Semua upaya sains diarahkan untuk meningkatkan pemahaman manusia tentang alam semesta dan dunianya sehingga dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti yang dapat digunakan oleh manusia untuk pengembangan kehidupan sehari-hari. 

Ruang lingkup sains meliputi segala sesuatu yang bisa diterima oleh indra manusia sehingga sains memang merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki cakupan yang begitu luas. Sains bersifat universal yang artinya bisa dilakukan dimana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja sehingga bersifat dapat direplikasi. Sains / Ilmu pengetahuan termasuk ke dalam ilmu pengetahuan yang dinamis sehingga dapat berubah seiring dengan berkembangnya zaman.

Bagi Islam juga ditekankan pentingnya sains dan teknologi, terutama yang dapat memudahkan umat Islam mempermudah ibadah, tapi tidak mengubah syarat & rukun ibadah. Misalkan, teknologi pesawat, dapat mempermudah dan mempercepat jamaah haji sampai di kota suci Mekkah dan Madinah. Speaker masjid membantu memperluas jangkauan suara Adzan. Dalam kehidupan sehari-hari, Islam juga mendukung pengembangan sains dan teknologi, selama hal tersebut tidak bersifat mengganggu ibadah dan keimanan.

Keilmuwan Islam juga menyampaikan sains yang bersumber dari wahyu Ilahi (Al Quran) misalkan: 
  • Peristiwa mumi Firaun yang jasadnya dijaga lestari berdasarkan Firman Allah dalam Al Quran, dan pada akhirnya jasad mumi Firaun tersebut baru ditemukan di abad 20
  • Mekanisme pembuahan sel telur oleh sel sperma dan perkembangan janin di dalam kandungan dijelaskan dalam Al Quran padahal di era turunnya Al Quran belum ada teknologi untuk mengamati hal tersebut.
  • Fenomena bertemunya air laut dan air tawar dan tidak mengalami pencampuran dijelaskan dalam Al Quran padahal di era turunnya Al Quran belum ada teknologi penyelaman ke dalam laut untuk mengamati hal tersebut.
  • Teori bumi bulat dan peristiwa terjadinya siang dan malam.
  • Teori penciptaan alam semesta.   
  • dll 

Jadi, antara Filsafat dan keilmuwan Islam dapat bertemu di area Sains/Ilmu Pengetahuan. Filsafat, melalui akal dan rasio dan metode berpikir nalar, logis sistematis, terus mendorong pengembangan sains. Teori gravitasi Newton berkembang menjadi teori relativitas gravitasi Einstein. Teori atom berkembang menjadi teori medan kuantum. Sains kemudian berkembang membentuk spesialisasi cabang-cabang. Ada fisika, kimia, biologi, ilmu sosial, politik, dan lain sebagainya. Filsafat juga terus berkembang membentuk berbagai aliran, cabang, dan metode. 

Agama mendorong pengembangan sains yang dapat membantu kehidupan sehari-hari umat manusia. Termasuk dalam mempermudah kegiatan beribadah umat Islam. Namun tetap menjaga agar pengembangan sains terkontrol dan tidak menggangu syarat dan rukun ibadah, tidak menggangu pemahaman agama Islam yang benar dan juga tidak mengganggu keyakinan dan keimanan. Pada dasarnya, Sains jika dikembangkan secara benar, maka akan semakin membuktikan kebenaran Wahyu Ilahi dan meningkatkan keimanan.

Namun demikian Filasafat sendiri, tidaklah bisa dibiarkan sendiri tanpa pengawasan. Seperti dijelaskan di depan, akal dan rasio adalah cipataan Tuhan. Akal dan Rasio, yang merupakan andalan Filsafat, memiliki kekurangan-kekurangan dan rawan mendapat pengaruh bisikan setan. Sehingga, akal dan rasio haruslah tetap dijaga bersih dan murni dengan cara selalu dikontrol oleh pengetahuan dan pemahaman agama Islam yang benar.   

BENARKAH ASAL MUASAL FILSAFAT DARI BANGSA YUNANI KUNO

Bagi pemahaman cendikiawan barat, filsafat dan ilmu pengetahuan dilahirkan di Yunani. Tokoh filsafat pertama adalah Thales. Dia mengemukakan pendapat bahwa segala sesuatu berasal dari air. Ia dikenal karena berhasil meramalkan terjadinya gerhana matahari, yakni pada tahun 585 SM. 

Tidak dipungkuri, peradaban-peradaban yang lebih kuno dari Yunani seperti peradaban Mesir dan Bailonia telah mengenal tulis-menulis serta ilmu teknik pengelolaan bangunan, astronomi, pertanian, material, logam dan sebagainya. Peninggalan-peninggalan mereka secara nyata dan secara arkeologis masih bisa dilihat dan ditemukan hingga sekarang. 

Namun  demikian, peninggalan peradaban Yunani lah yang dianggap merupakan cikal bakal kebangkitan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan serta budaya intelektualitas. Para tokoh-tokoh filsafat Yunanilah yang dianggap memberikan sumbangsih pertama bagi ilmu pengetahuan modern, baik yang sifatnya teoritis maupun yang praktis, dengan segala kekurangannya. 

Para pemikir Yunani Kuno dianggap telah berhasil mengembangkan pola pikir yang mengedepankan cara berpikir bebas, kritis, dan logis dan mengejarkannya secara terbuka kepada masyarakat. Mereka melakukan spekulasi bebas tentang asal muasal kehidupan, hakikat dunia dan tujuan hidup. Cara berpikir yang mereka perkenalkan dianggap menjadi awal kebangkitan pola pikir yang melepaskan diri dari belenggu pemikiran skeptis dan pasif yang menguasai masyarakat di era itu dan di era sebelumnya. Inilah yang dianggap membedakan peradaban Yunani dengan peradaban manusia di era-era sebelumnya yang cenderung dipengaruhi pola pikir mistis yang dogmatis dan turun-temurun. 

Hasil utama dari produk pemikiran para cendikiawan Yunani kuno yang patut diakui adalah merekalah yang menemukan matematika, ilmu pengetahuan, filsafat dan menuliskan sejarah. 

Menurut pandangan saya, memang sepertinya ada kecenderungan untuk menganggap bahwa bangsa Yunanilah yang berupaya dipatenkan sebagai sumber utama kebangkitan filsafat dan ilmu pengetahuan serta intelektualitas. Hal ini karena dari semua peninggalan peradaban kuno yang dapat ditemukan, barangkali hanya peninggalan dari bangsa Yunani Kunolah yang dinilai cukup lengkap & representatif sehinga paling memungkinkan untuk ditarik kesimpulan seperti itu.

Peninggalan mereka, terutama dalam bentuk tulisan-tulisan dan catatan-catatan, cukup lestari dan meninggalkan petunjuk-petunjuk yang cukup lengkap serta masih dapat dipahami secara mudah dan dikaji secara komprehensif hingga era sekarang. 

Barangkali hal demikian dapat terjadi karena sedikit banyaknya terdapat kontribusi dari peradaban muslim yang mana di era Abbasiyah dan Andalusia, para cendikiawan muslim banyak menerjemahkan karya tulis yunani kuno, sehingga karya tersebut terus lestari. Sementara di era itu, Yunani dan Eropa masih tenggelam dalam era dark age. Sekiranya para cendikiawan muslim tidak melakukannya, mungkin karya-karya tokoh Yunani Kuno juga akan lenyap dan tenggelam di era dark age bangsa Eropa. Pada era selanjutnya, ketika peradaban eropa mulai bangkit, merekalah yang kemudian menggandrungi karya-karya tulis Yunani Kuno. 

Melalui kondisi yang demikian, maka tidak heran jika kemudian kesimpulan yang paling dapat disepakati bersama oleh para pemikir adalah bahwa bangsa Yunani kunolah yang mengawali filsafat dan ilmu pengetahuan. 

Akan tetapi saya tidak bisa serta merta mengiyakan hal ini. Berhubung saya masih mengganggap bahwa kesimpulan yang demikian, "bahwa bangsa Yunani yang mengawali filsafat dan ilmu pengetahuan", akan cenderung mengabaikan sumbangsih tokoh-tokoh pada peradaban-peradaban di era sebelumnya. 

Masih sangat memungkinkan jika di era sebelum Yunani Kuno banyak tokoh-tokoh yang jauh lebih hebat dari para filsuf Yunani kuno. Hanya saja, sayangnya, belum ditemukan peninggalan-peninggalan tertulis dan arkeologi yang lengkap & representatif,  untuk mengemukakan teori tersebut secara nyata dan dapat diterima semua pihak. 

Sebagai seorang yang beriman, tidaklah salah jika kita mempercayai suatu sumber kebenaran yang secara dogmatis memang harus selalu kita yakini kebenarannya yang mutlak.  Orang beriman percaya terhadap sumber pengetahuan yang berbasis wahyu ilahi yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul. 

Dalam pemahaman Islam dipercaya terdapat para Nabi dan Rasul semenjak era manusia pertama, yakni Nabi Adam alaihi salam, yang entah Beliau hidup di tahun berapa ribu atau juta sebelum masehi, hingga di era nabi & rasul terakhir & penutup, yakni Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam pada tahun 570-632 M. Kaum muslimin diinfokan bahwa total ada 124 ribu orang Nabi & Rasul, tetapi yang wajib diimani cukup 25 orang Nabi & Rasul. 

Angka tersebut belum dihitung dengan pengikut/sahabat Nabi & Rasul yang setia ataupun para penentangnya, yang menjadi tokoh yang berkontribusi besar pada umat (kontribusi positif atau negatif) setelah masing-masing Nabi & Rasul mereka wafat.

Bagi pengikut setia Nabi & Rasul, tentunya mereka memberikan sumbangsih tenaga dan pemikiran demi menjaga syariat para Nabi & Rasul terus lestari hingga diutus Nabi & Rasul baru. Sedangkan bagi tokoh yang menentang ajaran Nabi & Rasul, akan memberikan sumbangsih pemikiran yang menjauhkan umat dari ajaran asli para Nabi & Rasul. 

Kaum muslimin haruslah mempercayai bahwa Nabi Adam telah dibekali pengetahuan yang lengkap terhadap segala sesuatu. Beliau dibekali semua ilmu pengetahuan dan ilmu kebijaksanaan oleh Allah ketika masih di surga. Hal ini karena Beliau hendak diutus ke muka bumi sebagai pengelola kehidupan di bumi. Bahkan para malaikat pun tidak bisa menyaingi keilmuwan yang dimiliki Nabi Adam. Hanya Iblislah yang tidak bisa menerima hal itu, sehingga ia enggan menerima Nabi Adam. Sehingga bisa diyakini bahwa induk semua ilmu pengetahuan adalah berasal dari manusia pertama, yakni Nabi Adam.

Pada era Nabi & Rasul selanjutnya, terdapat penambahan keilmuwan sesuai dengan situasi dan kondisi umat dimana Nabi & Rasul tersebut diutus. 

Misalkan pada Nabi Idris, Allah mengajarkan ilmu tulis menulis dengan pena, ilmu jahit-menjahit, matematika, ilmu astronomi, dan lain sebagainya. 

Nabi Nuh diajarkan membuat kapal besar yang mampu bertahan dari terjangan banjir, tsunami, badai.

Kepada Nabi Sulaiman, Allah memberi mukjizat yang membuat Beliau bisa memahami bahasa binatang dan menundukkan bangsa Jin sehingga mereka bekerja untuk Nabi Sulaiman. Bahkan kita harus mengimani bahwa kerajaan Nabi Sulaiman merupakan kerajaan dengan peradaban tertinggi yang pernah ada di dunia ini yang tidak akan pernah ada tandingannya, baik kerajaan sebelumnya maupun sesudahnya. 

Dan pada akhirnya, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi diturunkan kepada Nabi Muhammad, melalui mukjizat kitab Al Quran yang mukjizatnya akan tetap berlaku hingga akhir zaman. 

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa semua ilmu pengetahuan dan inspirasi berpikir bangsa Yunani kuno kemungkinan besar juga merupakan hasil dari pengamatan dan penyerapan mereka terhadap peradaban-peradaban sebelumnya, yang merupakan produk dari peninggalan peradaban yang dibangun para Nabi & Rasul serta para pengikutnya yang hidup di era sebelum bangsa Yunani kuno. 

Jadi, sekali lagi, hanya karena peninggalan bangsa Yunani kuno yang berupa karya-karya tulis yang cukup lengkap dan lestari, maka kemudian diarahkan bahwa bangsa Yunanilah yang paling hebat. Dalam tulisan-tulisan mereka, bisa diketahui cara berpikir mereka yang spekulatif berdasarkan nalar yang logis dan sistematis. Hal ini dianggap menjadi cikal bakal pemikiran intelektual yang mampu melepaskan diri dari cara berpikir dogmatis yang membentuk masyarakat di era itu dan era sebelumnya. 

Akan tetapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa para Nabi & Rasul adalah sorang ahli filsafat. Jika definisi filsafat adalah produk pemikiran dari akal dan pikiran secara murni, nalar spekulatif, logis dan sistematis, yang melepaskan diri dari segala pemikiran dogmatis turun-temurun, maka tidak demikianlah para Nabi & Rasul yang mendapat pengetahuan dan kebijaksanan melalui wahyu ilahi. 

Saya juga tidak bisa menyatakan bahwa sebelum Yunani Kuno tidak ada tokoh-tokoh (misalkan di Mesir & Babylonia) yang memiliki pemikiran seperti filsuf Yunani Kuno dan menyebarkan pemahamannnya. Kemungkinan besar ada. Namun bukti sejarah dan peninggalan pemikiran mereka barangkali belum ditemukan, belum lengkap, atau tidak akan pernah ditemukan sama sekali karena memang telah musnah tanpa jejak. 


Jumat, 12 Mei 2023

PANDANGAN ARISTOTELES TERHADAP NEGARA YANG IDEAL

Kita mengenal Aristoteles sebagai salah seorang filsuf terkemuka di era Yunani Kuno. Ia dilahirkan tahun 384 SM. Pada masa mudanya ia menjadi murid Plato. Pada sekitar tahun 343 SM ia menjadi guru bagi Aleksander yang kelak menjadi raja Makedonia termasyhur, penakluk Eropa, Asia dan Afrika. 

Salah satu pemikiran Aristoles yang menarik adalah pandangannya tentang sistem Negara dan Masyarakat yang ideal. Di era itu, Yunani, tempat tinggal Aristoteles, menganut sistem Negara Kota. Bagi Aristoteles sistem negara ini adalah sistem yang ideal. Sebuah wilayah seluas wilayah perkotaan yang memiliki sistem pemerintahan dan mandiri. Walaupun, tak lama kemudian, sistem negara kota ini menjadi sistem yang kadaluwarsa setelah bangkitnya kekaisaran Makedonia di bawah Aleksander dan dilanjutkan kekaisaran Romawi.

Aristoteles merinci pandangannya mengenai negara kota yang ideal. Ia menyebutkan bahwa Negara amatlah penting dan dibutuhkan karena negara adalah jenis komunitas tertinggi yang bertujuan mencapai kebaikan tertinggi. Komunitas pembentuk negara dimulai dari keluarga. Keluarga dibangun dari relasi antara laki-laki dan perempuan, tuan dan budak, yang bersifat alamiah. 

Sejumlah keluarga bergabung membentuk sebuah desa. Beberapa desa membentuk negara. Walau negara muncul lebih belakangan daripada keluarga, namun hakikatnya, negara lebih utama daripada keluarga, dan lebih penting daripada individu. Keselurahan (negara) lebih utama daripada bagian-bagiannya. 

Seperti halnya sebuah organisme. Tangan merupakan bagian dari organisme. Tangan dapat melakukan fungsinya, misalkan memegang sesuatu, selama tubuh organisme itu masih hidup dan tidak hancur. Serupa dengan itu, individu tak akan dapat memenuhi tujuannya jika ia tidak menjadi bagian dari negara.

Bagi Aristoteles, ukuran wilayah suatu negara haruslah tidak terlampau besar, karena wilayah yang besar akan cenderung tidak terurus dengan baik. Ukuran wilayah negara yang ideal haruslah cukup kecil sehingga negara tersebut bisa berswasembada dan juga bisa melakukan aktivitas ekspor & impor untuk memenuhi kebutuhannya. 

Ukuran negara juga harus bisa memungkinkan seluruh wilayah negara dapat diawasi dari sebuah puncak bukit. Ukuran wilayah negara juga harus memungkinkan seluruh penduduk warganegara tersebut dapat saling mengenal perangai satu sama lain. 

Penduduk warga negara idealnya haruslah seorang yang memiliki waktu senggang yang banyak. Mereka juga sebaiknya tidak berprofesi sebagai tukang, pedagang, apalagi petani. Profesi demikian dianggap tidak terhormat. 

Aristoteles tidak menyukai profesi pedagang karena dianggapnya profesi tersebut tidak berkolerasi dengan kekayaan walau perdagangan bersangkut-paut dengan kepemilikan terhadap uang. Bagi Aristoteles kekayaan sejati adalah kepemilikan atas tanah dan rumah, bukan uang. Sementara perdagangan hanyalah kepemilikan terhadap uang. Apalagi proses menambah kepemilikan uang tersebut dilakukan melalui praktek riba. Ia sangat membenci hal ini.

Warga negara hendaknya adalah para pemilik harta benda atau aset. Sedangkan pengelola aset, misalkan petani, haruslah kaum budak. 

Bagi Aristoteles perbudakan adalah adil dan dibenarkan. Sejak lahir, sejumlah orang sudah ditentukan untuk takluk sedangkan yang lain ditentukan berkuasa. Para budak sebaiknya bukan dari bangsa Yunani, namun berasal dari ras yang lebih rendah dan semangatnya lebih lemah. 

Negara haruslah memiliki sistem pemerintahan yang bertujuan mencapai kebaikan bagi seluruh warga negaranya, bukan kebaikan untuk individu atau kelompok. Ada tiga sistem pemerintahan yang baik: monarki, aristrokasi, dan konstitusional (polity). Ada juga tiga sistem pemerintahan yang buruk: tirani, oligarki, dan demokrasi. Ada juga yang merupakan sistem pemerintahan campuran. 

Suatu sistem pemerintahan dapat disebut baik atau buruk, ditentukan oleh kualitas etika para pemegang kekuasaan, bukan oleh bentuk sistemnya. Bagi Aristoteles, monarki lebih baik daripada aristrokasi, dan aristrokasi lebih baik daripada konstitusional. Sedangkan dilihat dari sistem pemerintahan terburuk, maka tirani lebih buruk dibandingkan oligarki dan oligarki lebih buruk dibandingkan demokrasi. Karena Aristoteles menilai kebanyakan pemerintahan cenderung berwatak jahat maka diantara bentuk pemerintahan yang ada, demokrasi adalah yang terbaik.

Jumat, 05 Mei 2023

SISTEM SOSIAL & POLITIK BANGSA SPARTA

Cukup menarik penggambaran tentang bangsa Sparta sebagaimana disampaikan dalam buku Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat. Ia mengutip dari berbagai sumber. Beberapa literatur yang digunakan mengarah kepada sumber langsung dari catatan-catatan yang ditulis tokoh yang hidup sezaman dengan era keemasan Bangsa Sparta maupun sesudah kemundurannya, diantaranya dari Plutarchus, Heredotus, dan Aristoteles. 

Selama ini kebanyakan kita mengenal tentang bangsa Sparta dari kisah-kisah dan cerita-cerita yang digambarkan dalam film Hollywood seperti film berjudul "300" yang mengisahkan peperangan bangsa Sparta dengan Persia dalam pertempuran Thermopylae tahun 480 SM. Juga dari Film berjudul "Troy" yang dibintangi Brad Pitt, Eric Bana, Orlando Bloom. Menceritakan perang antara Bangsa Sparta dengan Bangsa Troy, yang merupakan kisah yang bersumber dari puisi karya sastrawan Yunani, Homer.  Walaupun tentu saja kisah-kisah film-film tersebut telah dibumbui cerita fiksi.

Kembali ke penggambaran Bangsa Sparta yang ditulis dalam buku Bertrand Russel, Bangsa Sparta dikenal sebagai bangsa yang digdaya pada masanya, dari sisi militer, yakni mulai sekitar abad 8 hingga abad 3 SM. Bangsa ini mendiami kawasan Laconia atau Lacadaemon. Berlokasi di kawasan Peloponessus bagian tenggara. Di wilayah negera Yunani sekarang. Awalnya Bangsa Sparta berasal dari Bangsa Doria dari utara yang menaklukkan daerah tersebut, merampas tanah dan menjadikan penduduk aslinya sebagai budak. Lalu muncullah negeri Sparta sebagai negara militer yang kuat dan digdaya, bersama tetangga mereka negeri Athena.

Sistem sosial dan pemerintahannya sering dikaitkan dengan seorang tokoh yang bernama Lycurgus yang telah melakukan perjalanan ke berbagai negeri seperti di Kreta, Ionia & Mesir, lalu kembali ke Yunani, ke bangsa Sparta, dan merumuskan Undang-Undang untuk bangsa Sparta. 

Lycurgus menetapkan aturan-aturan mengenai pengaturan warga negara, pendidikan, sistem sosial, ekonomi, dan sistem pemerintahaan yang menurutnya ideal bagi Bangsa Sparta. Sistem peraturan yang dirumuskannya bersifat militeristik, penuh keteraturan dan keseimbangan, berpusat pada kepentingan negara dan tidak ada kekuasaan absolut yang dipegang satu raja.

Dalam aturan mengenai kewarganegaraan, ditentukan bahea setiap anak yang baru lahir akan diperiksa oleh kepala suku. Mereka yang sehat akan diasuh dan mereka yang cacat akan dibunuh. 

Selanjutnya setiap anak laki-laki akan dimasukkan ke sekolah asrama. Mereka dilatih agar berwatak keras, disiplin, tahan derita dan memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Anak-anak ini akan dididik dengan pengetahuan dan teknik militer hingga umur 20 tahun. Tujuannya adalah menghasilkan serdadu unggulan yang mengabdi sepenuhnya pada negara Sparta.

Selepas berusia lebih dari 20 tahun, setiap pemuda mulai diikutkan tugas-tugas militer. Mereka boleh menikah tapi masih tetap harus tinggal di asrama hingga berumur 30 tahun. Baru setelah berumur 30 tahun mereka akan dianggap sebagai warga negera penuh. 

Orang-orang Sparta menaklukkan daerah-daerah sekitarnya. Dari kegiatan penaklukkan tersebut, mereka mendapat wilayah tanah dan para budak. Budak-budak disebut helot. 

Tanah-tanah dibagi oleh negara kepada setiap warga negara Sparta secara merata dengan luas yang sama, disebut tanah persil. Tanah persil ini dikelola oleh para Helot. Hasil pengelolaan tanah, sebagian diserahkan kepada pemilik tanah yakni Bangsa Sparta, sesuai yang ditetapkan. Sisanya bisa dinikmati oleh para Helot. Khusus kaum bangsawan Sparta, mereka memiliki tanah yang lebih luas. Tanah dan para helot ini tidak boleh diperjual belikan, namun bisa diwariskan. 

Jadi dengan sistem demikian, bangsa Sparta tidak perlu bekerja. Mereka fokus pada tugas negara berupa kegiatan-kegiatan militer yang wajib bagi mereka. Pertanian dan perekonomian dijalankan oleh para Helot. 

Sistem perekonomian bangsa Sparta cukup tertutup dan cenderung mengisolasi diri. Mereka hidup sederhana, seragam, sama rasa dan sama rata, jauh dari kesan kemewahan, khas kehidupan para serdadu militer di barak, yang ditetapkan standarnya oleh Negara. 

Mereka telah mencukupkan kehidupan mereka dari hasil pengelolaan tanah mereka yang dikelola oleh para budak Helot. 

Mata uang bangsa Sparta terbuat dari besi, sehingga kurang menarik minat para pedagang luar untuk berdagang dengan bangsa Sparta. Pada era itu alat tukar global adalah emas dan perak. 

Sementara itu, kaum perempuan bangsa Sparta memiliki kedudukan istimewa di era itu jika dibandingkan kaum perempuan bangsa lain di era yang sama. Kaum perempuan bangsa Sparta diwajibkan juga menjalani pelatihan-pelatihan jasmani, seperti senam, atletik, dan lain sebagainya. Diharapkan para kaum perempuan bangsa sparta memiliki fisik dan mental yang kuat sehingga dapat melahirkan anak-anak yang sehat dan kuat. 

Sistem pemerintahan Bangsa Sparta cukup unik. Terdapat 2 raja yang berasal dari dua keluarga berbeda. Mereka menjabat secara turun-temurun. Kedua raja saling melengkapi. Keduanya juga menjadi anggota Dewan Sesepuh. 

Dewan Sesepuh ini merupakan kelompok orang pilihan Bangsa Sparta, terdiri dari 30 orang, termasuk 2 raja. Dewan Sesepuh diangkat oleh seluruh warga negara dan jabatan ini bersifat seumur hidup. Semua anggotanya adalah kalangan bangsawan. Dewan sesepuh bertugas mengadili perkara-perkara kriminal dan menyiapkan bahan-bahan kebijakan yang akan diajukan ke Majelis.

Lembaga yang disebut Majelis merupakan lembaga yang beranggotakan semua warga negara Sparta. Majelis tidak dapat mengusulkan apapun. Mereka hanya bisa memilih ya atau tidak terhadap usulan yang diajukan kepada mereka.

Salain itu terdapat pula lembaga yang disebut sebagai Lima Ephor. Lembaga yang terdiri dari lima orang yang dipilih oleh semua warga negara melalui proses undian. Lima Ephor ini memiliki kewenangan sebagai mahkamah sipil tertinggi yang bertugas mengawasi kinerja Kedua Raja yang berkuasa. 

Pada era keemasannya, sistem negara bangsa Sparta sangat dikagumi karena stabilitas politik internalnya. Namun dari sisi lain, karena bangsa Sparta merupakan bangsa yang fokus pada kegiatan militer, maka hampir tidak ada warisan dan sumbangsih mereka terhadap peradaban dunia dalam bentuk suatu pemikiran ilmu pengetahuan, juga karya seni sastra. Berbeda dengan negara tetangganya, Athena.

Bangsa sparta cenderung dikenal dalam aktivitas-aktivitas militer yang tercatat dalam sejarah. Misalnya dalam pertempuran Thermopylae (480 SM), tentara Sparta berjumlah 300 orang menghadapi pasukan Persia. Dan kemudian dilanjutkan dengan perang Plataea yang berhasil membawa bangsa Sparta pada kemenangan atas bangsa Persia.

Dalam kurun waktu yang panjang, Bangsa Sparta dikenal merupakan bangsa yang tak tertaklukkan di daratan. Hingga pada tahun 371 SM, akhirnya mereka dikalahkan bangsa Thebes dalam perang Leuctra. Hal ini kemudian menjadi akhir dari kedigdayaan sejarah militer mereka. 

Sebagai negeri yang bertetangga dengan negeri Athena, bangsa Sparta dinilai cenderung bersikap individualis. Selama kawasan yang didiaminya aman, daerah Peloponessus, maka Bangsa Sparta cenderung acuh tak acuh terhadap kondisi yang terjadi Athena dan sekitarnya. Upaya-upaya penyatuan Bangsa-Bangsa Yunani juga sering mengalami jalan buntu, karena sikap bangsa Sparta yang dinilai picik dan apatis. 

Fokus mereka pada bidang militer cenderung hanya mencetak generasi serdadu yang memiliki pola pikir seragam dan homogen. Mereka bukan generasi yang memiliki ragam keterampilan dan pola pikir seperti halnya negara tetangga mereka, Athena. Karenanya bangsa Sparta hampir tidak dikenal memiliki dan mewariskan karya-karya serta kesan-kesan bagi peradaban dunia. Selain kisah-kisah heroik dalam peperangan dan pertempuran semata. Namun keseragaman pola pikir bangsa Sparta dan sistem yang ketat dan diatur negara, memberikan stabilitas politik internal yang tinggi di negari tersebut, membedakannya dengan negara-negara di sekitarnya yang penuh gejolak pasang surut kehidupan dan tidak henti-hentinya terlibat dalam revolusi kekuasaan berulang kali. 

Kondisi yang demikian membuat banyak tokoh yang menyaksikan langsung era kejayaan bangsa Sparta memberikan apresiasi dan pujian bagi sistem Sparta. Namun setelah era kejayaanya berakhir, banyak juga tokoh yang mengkritik sistem negara Sparta tersebut.