Kamis, 09 Januari 2020

Berpegang Teguh pada Agama Seperti Menggenggam Bara Api: Makna Sabar dan Istiqamah


Menjaga agama di tengah kehidupan modern bukanlah perkara yang selalu mudah. Ada banyak godaan, tekanan sosial, kesibukan dunia, budaya populer, gaya hidup, dan arus informasi yang dapat membuat seseorang perlahan menjauh dari nilai-nilai Islam.

Kadang seseorang ingin lebih taat, tetapi merasa asing di lingkungannya. Ingin menjaga shalat, tetapi dianggap terlalu serius. Ingin menjauhi maksiat, tetapi dianggap kaku. Ingin mengikuti sunnah, tetapi dianggap aneh. Ingin menjaga halal dan haram, tetapi dianggap tidak fleksibel.

Keadaan seperti ini mengingatkan kita kepada salah satu hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang sulitnya berpegang teguh pada agama.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menggambarkan bahwa akan ada masa ketika menjaga agama terasa sangat berat. Ibarat menggenggam bara api, seseorang yang ingin tetap istiqamah perlu kesabaran besar, kekuatan hati, dan pertolongan dari Allah.

Makna Menggenggam Bara Api

Bara api adalah sesuatu yang panas dan menyakitkan jika digenggam. Tidak mudah mempertahankannya di tangan. Orang yang menggenggam bara api pasti merasakan perih, panas, dan berat.

Perumpamaan ini menggambarkan keadaan orang yang berusaha menjaga agama di tengah banyaknya fitnah dan tekanan. Ia mungkin menghadapi komentar tidak menyenangkan, dianggap berbeda, dipandang aneh, atau merasa sendirian dalam memegang prinsip.

Namun, hadis ini bukan untuk membuat kita putus asa. Sebaliknya, hadis ini menjadi penguat bahwa kesulitan dalam menjaga agama sudah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ. Jika kita merasakan beratnya istiqamah, berarti kita tidak sendirian. Banyak orang beriman juga mengalami perjuangan yang sama.

Mengapa Menjaga Agama Terasa Berat?

Ada beberapa sebab mengapa berpegang teguh pada agama kadang terasa berat.

Pertama, karena hawa nafsu manusia cenderung menyukai kemudahan dan kesenangan. Banyak perintah agama membutuhkan pengendalian diri, seperti menjaga shalat, menahan lisan, menundukkan pandangan, menjauhi yang haram, dan bersabar dalam ujian.

Kedua, karena lingkungan sangat memengaruhi seseorang. Jika lingkungan terbiasa dengan kelalaian, maka orang yang ingin taat bisa dianggap berbeda.

Ketiga, karena maksiat semakin mudah diakses. Teknologi dapat membawa manfaat besar, tetapi juga membuka pintu fitnah jika tidak digunakan dengan bijak.

Keempat, karena sebagian orang memahami agama hanya dari potongan informasi, bukan dari ilmu yang utuh. Akibatnya, orang yang berusaha menjalankan sunnah bisa disalahpahami.

Kelima, karena iman manusia bisa naik dan turun. Ada saatnya hati kuat, ada saatnya hati lemah. Karena itu, istiqamah membutuhkan usaha yang terus-menerus.

Istiqamah Membutuhkan Ilmu

Berpegang teguh pada agama tidak cukup hanya dengan semangat. Semangat perlu dibimbing oleh ilmu. Tanpa ilmu, seseorang bisa salah memahami agama, terlalu keras kepada diri sendiri, atau mudah menyalahkan orang lain.

Ilmu membantu kita memahami mana yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Ilmu juga membantu kita memahami perbedaan pendapat ulama, adab menasihati, prioritas amal, dan cara menjalankan agama dengan hikmah.

Orang yang berilmu akan lebih tenang. Ia tidak mudah ikut-ikutan. Ia tidak mudah terbawa emosi. Ia juga tidak mudah merasa paling benar.

Karena itu, jika ingin istiqamah, mulailah dengan terus belajar. Bacalah Al-Qur’an, pelajari hadis, hadiri kajian yang terpercaya, bertanya kepada ustadz atau ulama yang berilmu, dan jauhi sikap merasa cukup dengan pemahaman sendiri.

Istiqamah Membutuhkan Kesabaran

Kesabaran adalah bekal utama dalam menjaga agama. Sabar bukan berarti pasif, tetapi kuat menahan diri agar tetap berada di jalan yang benar.

Ada sabar dalam menjalankan ketaatan. Misalnya sabar menjaga shalat, sabar belajar agama, sabar menutup aurat, sabar mencari rezeki halal, dan sabar memperbaiki akhlak.

Ada sabar dalam menjauhi maksiat. Misalnya sabar menahan pandangan, sabar tidak membalas hinaan, sabar menolak ajakan buruk, dan sabar menjauhi sesuatu yang dilarang Allah.

Ada juga sabar dalam menghadapi takdir. Misalnya sabar ketika diuji sakit, kehilangan, kegagalan, kesempitan rezeki, atau tekanan hidup.

Orang yang istiqamah bukan orang yang tidak pernah lelah. Ia bisa lelah, tetapi tidak menyerah. Ia bisa jatuh, tetapi kembali bertaubat. Ia bisa merasa berat, tetapi tetap meminta pertolongan Allah.

Jangan Merasa Paling Benar

Ketika seseorang mulai berusaha menjalankan agama dengan lebih baik, ada godaan lain yang perlu diwaspadai: merasa lebih baik daripada orang lain.

Ini berbahaya.

Orang yang menjaga sunnah tidak boleh merendahkan yang belum mampu menjalankannya. Orang yang sudah berhijrah tidak boleh menghina yang masih berproses. Orang yang sudah meninggalkan maksiat tidak boleh sombong kepada orang yang masih diuji dengan maksiat.

Hidayah adalah karunia Allah. Bisa jadi seseorang yang hari ini belum tampak baik, kelak menjadi hamba yang lebih dicintai Allah karena taubatnya. Sebaliknya, orang yang hari ini tampak taat bisa tergelincir jika hatinya dipenuhi kesombongan.

Karena itu, berpegang teguh pada agama harus disertai kerendahan hati.

Menjalankan Sunnah dengan Akhlak Mulia

Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang hal-hal lahiriah. Sunnah juga mencakup akhlak beliau: lembut, jujur, sabar, amanah, pemaaf, penyayang, rendah hati, dan bijaksana dalam berdakwah.

Jika seseorang ingin dikenal sebagai pengikut sunnah, maka akhlaknya juga harus mencerminkan sunnah.

Jangan sampai seseorang bersemangat menjalankan sebagian sunnah, tetapi lisannya kasar. Jangan sampai seseorang rajin membahas agama, tetapi mudah mencela. Jangan sampai seseorang menjaga penampilan Islami, tetapi tidak amanah dalam pekerjaan.

Sunnah yang benar seharusnya membuat seseorang semakin baik hubungannya dengan Allah dan semakin baik akhlaknya kepada manusia.

Tetap Baik Meski Dianggap Asing

Ada saatnya seseorang yang menjaga agama dianggap asing. Namun, asing bukan berarti salah. Jika seseorang dianggap berbeda karena menjaga shalat, menolak rezeki haram, menjaga pergaulan, atau berusaha meneladani Rasulullah ﷺ, maka ia perlu bersabar.

Namun, jangan jadikan rasa “asing” itu sebagai alasan untuk menjauh dari masyarakat. Seorang Muslim tetap perlu bergaul dengan baik, menolong sesama, menjaga hubungan keluarga, bekerja dengan amanah, dan memberi manfaat kepada lingkungan.

Menjaga agama bukan berarti memusuhi masyarakat. Menjaga agama berarti tetap memegang prinsip sambil membawa kebaikan.

Tantangan Beragama di Zaman Modern

Zaman modern memiliki banyak kemudahan. Ilmu lebih mudah diakses, komunikasi lebih cepat, pekerjaan lebih beragam, dan dakwah dapat menjangkau banyak orang. Namun, di balik kemudahan itu ada tantangan.

Media sosial bisa membuat seseorang mudah membandingkan diri, mencari pujian, atau terbawa perdebatan. Hiburan tanpa batas bisa melalaikan. Gaya hidup konsumtif bisa membuat manusia lupa akhirat. Informasi agama yang tidak jelas sumbernya bisa membingungkan.

Karena itu, seorang Muslim perlu bijak. Gunakan teknologi untuk kebaikan. Ikuti akun yang bermanfaat. Kurangi hal yang melalaikan. Jangan mudah menyebarkan informasi agama tanpa memastikan kebenarannya.

Teknologi boleh maju, tetapi iman harus tetap dijaga.

Cara Agar Tetap Kuat Berpegang pada Agama

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu kita tetap istiqamah.

1. Perkuat hubungan dengan Allah

Jaga shalat, perbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan berzikir. Hati yang dekat kepada Allah akan lebih kuat menghadapi fitnah.

2. Belajar agama secara bertahap

Jangan berhenti belajar. Pelajari agama dari sumber yang benar dan guru yang terpercaya.

3. Pilih lingkungan yang baik

Teman sangat berpengaruh. Dekatlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah dan mendukung kebaikan.

4. Jangan menunda taubat

Jika terjatuh dalam dosa, segera kembali kepada Allah. Jangan biarkan dosa membuat hati semakin jauh.

5. Jaga akhlak

Istiqamah bukan hanya menjaga ibadah pribadi, tetapi juga memperbaiki cara berbicara, bekerja, bergaul, dan memperlakukan orang lain.

6. Jangan membandingkan proses diri dengan orang lain

Setiap orang memiliki ujian berbeda. Fokuslah memperbaiki diri, bukan sibuk menilai orang lain.

7. Berdoa agar diberi keteguhan

Di antara doa yang sering dibaca adalah:

“Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.”
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Balasan bagi Orang yang Bersabar

Menjaga agama di masa sulit memang berat. Namun, setiap kesulitan yang dihadapi karena Allah tidak akan sia-sia.

Jika seseorang bersabar dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan tetap menjaga akhlak meskipun menghadapi tekanan, maka ia sedang menempuh jalan mulia. Allah Maha Mengetahui setiap kesulitan hamba-Nya. Tidak ada air mata, rasa lelah, atau pengorbanan dalam ketaatan yang luput dari pengetahuan Allah.

Karena itu, jangan menyerah. Jangan merasa sendirian. Jangan merasa rugi karena memilih taat.

Apa yang berat hari ini bisa menjadi sebab kemuliaan di akhirat kelak.

Penutup

Hadis tentang menggenggam bara api mengingatkan bahwa akan datang masa ketika berpegang teguh pada agama terasa sangat berat. Banyak godaan, tekanan, dan fitnah yang membuat seseorang sulit istiqamah.

Namun, kesulitan itu bukan alasan untuk menyerah. Justru, ia menjadi pengingat agar kita memperkuat ilmu, memperbanyak doa, menjaga lingkungan, memperbaiki akhlak, dan terus meminta pertolongan Allah.

Berpegang teguh pada agama bukan berarti merasa paling benar, bukan pula menjauh dari masyarakat. Berpegang teguh pada agama berarti menjaga iman, menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat, mengikuti sunnah dengan ilmu, dan tetap berakhlak baik kepada manusia.

Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya, memudahkan kita menjalankan ketaatan, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang sabar dalam menjaga iman.

Wallahu a‘lam.

Sumber Hadis

Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang berpegang teguh pada agama seperti menggenggam bara api diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.