Rabu, 25 Februari 2026

Penjualan Mobil Listrik Dunia Turun, atau Sebenarnya “Cuma Melambat”?

 


Beberapa bulan terakhir, narasi “EV lagi sepi, penjualan mobil listrik dunia merosot” ramai beredar. Ada benarnya—di beberapa negara dan kawasan memang terjadi penurunan atau stagnasi. Tapi kalau kita bicara dunia, gambarnya lebih kompleks: pasar EV global masih tumbuh, hanya lajunya melambat dan tidak merata.

Laporan International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa penjualan mobil listrik global mendekati 14 juta unit pada 2023 (sekitar 18% dari total mobil yang terjual) dan berpotensi mencapai ~17 juta unit pada 2024 (lebih dari 1 dari 5 mobil terjual di dunia).

Artinya: secara global tidak “kolaps”, tetapi beberapa pasar yang sebelumnya “panas” mulai mengalami fase penyesuaian.


Mengapa Muncul Kesan “Merosot”?

1) Penurunan terjadi di pasar tertentu (terutama Eropa)

Di Eropa, data registrasi menunjukkan penurunan registrasi battery-electric (BEV) di 2024 (walau mobil total bisa naik). Misalnya, rilis ACEA menyebut registrasi BEV di EU turun sekitar 5,9% pada 2024 dibanding 2023.

Kalau Eropa melemah, tajuk berita global mudah membesar, karena Eropa adalah salah satu “barometer” transisi EV.

2) Pengurangan/berakhirnya insentif membuat efek “shock”

Ketika subsidi dibatasi atau dihentikan (contoh yang sering dibahas: perubahan skema dukungan di sejumlah negara), permintaan EV bisa turun mendadak karena:

  • konsumen “menunggu” kebijakan baru / diskon baru,

  • gap harga EV vs ICE kembali terasa,

  • dealer menahan stok / produsen menyesuaikan strategi.

IEA juga menyinggung contoh kasus ketika subsidi BEV berakhir di Jerman, terjadi pelemahan penjualan pada periode awal 2024.

3) Headline sering menggabungkan berbagai hal jadi satu

“Penjualan EV turun” kadang sebenarnya merujuk pada:

  • penjualan merek tertentu (misalnya perang harga vs margin),

  • segmen model tertentu (EV premium melemah, EV entry mulai tumbuh),

  • atau pergeseran dari BEV ke hybrid/PHEV.


Penyebab Lain (Selain Insentif) yang Membuat Minat EV Melambat

Berikut faktor yang paling sering muncul dalam data dan analisis industri (dan terasa nyata di lapangan):

1) Harga & cicilan: bunga tinggi bikin EV terasa “lebih mahal”

EV itu sensitif terhadap biaya pembiayaan. Saat suku bunga tinggi, cicilan naik, dan konsumen jadi lebih selektif. IEA menyebut risiko bahwa suku bunga tinggi dan ketidakpastian ekonomi dapat menekan laju pertumbuhan EV.

2) “Range anxiety” bergeser jadi “charging anxiety”

Banyak konsumen bukan lagi takut “jaraknya kurang”, tapi:

  • susah cari charger cepat,

  • antre,

  • kualitas charger tidak konsisten,

  • biaya charging publik kadang terasa mahal.

3) Residual value & pasar mobil bekas EV belum stabil

Konsumen khawatir nilai jual kembali EV turun cepat karena:

  • teknologi baterai berkembang cepat,

  • model baru makin murah,

  • kekhawatiran kesehatan baterai (battery health).

4) “Mismatch produk”: model banyak, tapi yang terjangkau masih kurang

IEA mencatat jumlah model EV meningkat, namun tren penawaran banyak mengarah ke kendaraan lebih besar/SUV. Ini bisa membuat sebagian pasar entry-level merasa “EV belum cocok di dompet”.

5) Kompetisi dan perang harga menimbulkan sinyal campuran

Perang harga memang bisa mendorong adopsi, tapi juga membuat:

  • konsumen menunda beli (nunggu turun lagi),

  • produsen menahan ekspansi,

  • dealer bingung menentukan strategi stok.


Dampak Turunnya Minat EV: Apa Implikasinya?

1) Industri otomotif: strategi elektrifikasi direvisi

Bukan berarti EV ditinggalkan, tapi banyak pabrikan mengubah tempo:

  • fokus ke model yang profit dulu,

  • memperkuat hybrid sebagai jembatan,

  • menunggu infrastruktur dan biaya baterai makin turun.

2) Rantai pasok baterai & mineral: koreksi investasi jangka pendek

Jika proyeksi penjualan direvisi, investasi smelter/katoda/anoda bisa lebih selektif. Namun, karena global masih tumbuh, yang terjadi lebih sering penyesuaian timing, bukan pembatalan total.

3) Kebijakan iklim: target emisi bisa makin sulit dicapai

Jika adopsi EV melambat sementara, negara perlu:

  • memperkuat efisiensi ICE,

  • mempercepat transport publik,

  • atau meningkatkan biofuel/energi bersih lain sebagai penyangga.

4) Konsumen diuntungkan dalam bentuk harga lebih kompetitif

Sisi positifnya: kompetisi sering mendorong:

  • diskon,

  • paket pembiayaan,

  • garansi baterai lebih panjang,

  • layanan purna jual makin serius.


Breakthrough Apa yang Dibutuhkan Agar Penjualan EV “Naik Lagi”?

A. Terobosan teknologi

  1. Baterai lebih murah & lebih tahan lama
    Target nyata: biaya turun + degradasi rendah + garansi panjang yang meyakinkan.

  2. Fast charging yang “benar-benar cepat” dan aman
    Bukan hanya klaim angka, tapi konsisten di dunia nyata.

  3. Standarisasi & interoperabilitas
    User ingin “colok-isi-jalan”, bukan ribet aplikasi dan kompatibilitas.

B. Terobosan kebijakan

  1. Insentif yang lebih tepat sasaran
    Bukan sekadar subsidi beli, tapi bisa digeser ke:

  • insentif untuk EV terjangkau,

  • dukungan home charging,

  • tarif listrik EV yang rasional,

  • insentif armada (taksi, logistik) yang dampaknya cepat.

  1. Regulasi infrastruktur & SLA charger
    Misalnya standar uptime, transparansi harga, kewajiban perbaikan cepat.

  2. Skema fiskal yang stabil (tidak zig-zag)
    Pasar benci ketidakpastian. Begitu aturan berubah mendadak, konsumen “rem”.

C. Terobosan perilaku & ekosistem

  1. Edukasi total cost of ownership (TCO)
    Banyak orang membandingkan harga beli saja, padahal biaya operasional bisa lebih rendah—tergantung pola pakai dan tarif listrik.

  2. Penguatan pasar bekas EV + sertifikasi battery health
    Kalau pasar second stabil, pasar baru ikut terdorong.

  3. Solusi charging untuk penghuni apartemen & perkantoran
    Ini sering jadi hambatan terbesar di kota-kota besar.


Perspektif Lain: Mungkin EV Tidak Turun—Tapi Sedang “Masuk Fase Dewasa”

Kalau 2021–2023 adalah fase “booming”, maka 2024–seterusnya cenderung fase:

  • normalisasi,

  • seleksi pemain,

  • fokus profitabilitas,

  • dan pembangunan infrastruktur yang mengejar adopsi.

IEA sendiri menekankan bahwa penjualan EV global tetap naik dan konsentrasinya masih besar di China–Eropa–AS, tetapi pertumbuhan di pasar baru mulai muncul juga.


Penutup: Jadi, EV Akan “Mati”?

Tidak. Yang terjadi lebih masuk akal disebut perlambatan/ketidakteraturan pertumbuhan, bukan “EV tamat”. EV masih tumbuh global, tapi butuh:

  • produk yang lebih terjangkau,

  • infrastruktur charging yang nyaman,

  • kebijakan yang stabil,

  • dan ekosistem mobil bekas yang sehat.

Kalau empat ini beres, “gelombang kedua” adopsi EV biasanya akan lebih kuat—karena bukan lagi didorong hype, tapi didorong kenyamanan dan hitungan ekonomi.


Referensi utama (terverifikasi)

  • International Energy Agency (IEA), Global EV Outlook 2024 (angka penjualan global 2023 dan estimasi 2024, risiko suku bunga, tren pasar).

  • ACEA (European Automobile Manufacturers’ Association), rilis registrasi mobil UE (indikasi penurunan BEV EU 2024 vs 2023).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.