Sabtu, 07 Februari 2026

Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen Risiko: Dari Asuransi Laut, Keuangan Modern, Hingga HSSE

 

Manajemen risiko terdengar seperti istilah “korporat modern”. Padahal, akarnya tua—lahir dari kebutuhan paling manusiawi: bertahan hidup dan menghindari kerugian. Dari kapal dagang yang dihantam badai, pedagang yang khawatir kargo lenyap di lautan, hingga pabrik modern yang harus mencegah kecelakaan fatal dan bencana proses—semuanya punya satu benang merah: ketidakpastian.

Yang menarik: seiring dunia makin kompleks, ilmu manajemen risiko ikut berevolusi. Ia tidak hanya menjadi “alat pengaman”, tapi juga berubah menjadi “alat strategi”—bahkan bercabang menjadi disiplin yang sangat kuat di keuangan dan HSSE (Health, Safety, Security, Environment).

Artikel ini merangkum perjalanan panjang itu, dalam alur yang mudah dipahami.


1) Cikal-bakal: Risiko sebagai urusan “hidup-mati” (era maritim & asuransi)

Pada masa perdagangan global awal (khususnya perdagangan laut), risiko terbesar sangat nyata: badai, perompak, karam, atau salah navigasi. Di sinilah konsep transfer risiko lahir: membagi potensi kerugian agar tidak ditanggung sendirian.

Salah satu simbol pentingnya adalah pasar asuransi maritim yang tumbuh dari komunitas pelayaran dan penjaminan—yang kemudian dikenal luas sebagai Lloyd’s (berawal dari kultur pertemuan dan transaksi di sekitar aktivitas pelayaran).

Inti fase ini:

  • Risiko dipahami sebagai kerugian fisik/ekonomi yang dapat terjadi.

  • Solusi utamanya: asuransi (risk transfer) + kontrak + dokumentasi.


2) Risiko mulai “dihitung”: kelahiran probabilitas dan statistik (fondasi ilmiah)

Setelah praktik “berbagi rugi” berjalan, dunia mulai bertanya: bisakah risiko diprediksi? Dari sinilah matematika, probabilitas, dan statistik menjadi tulang punggung pengambilan keputusan modern.

Di fase ini, risiko tidak lagi dipandang sekadar nasib buruk, melainkan:

  • kejadian yang memiliki peluang (probability),

  • dan dampak (impact).

Inilah akar dari matriks risiko (probabilitas × dampak) yang masih dipakai sampai sekarang—dari proyek konstruksi, distribusi energi, hingga HSSE.


3) Ledakan pasca-Perang Dunia: risiko masuk ke perusahaan modern (1950–1970-an)

Memasuki era korporasi modern, perusahaan menghadapi risiko yang semakin beragam:

  • gangguan rantai pasok,

  • tuntutan hukum,

  • kecelakaan kerja,

  • volatilitas harga,

  • kegagalan teknologi.

Di titik ini, lahir profesi dan fungsi risk manager yang tidak hanya mengurus asuransi, tetapi mulai mengoordinasikan risiko lintas fungsi: operasional, hukum, keamanan, reputasi, dan lain-lain.


4) Cabang besar #1: Ilmu manajemen risiko keuangan (Financial Risk Management)

Ketika pasar keuangan semakin kompleks, risiko keuangan berkembang menjadi disiplin tersendiri—dengan alat kuantitatif yang kuat.

a) Portofolio dan diversifikasi (1950-an)

Salah satu tonggak penting adalah gagasan bahwa risiko investasi dapat dikendalikan melalui diversifikasi portofolio—yang kemudian menjadi dasar teori portofolio modern.

b) Derivatif dan pengukuran risiko modern (1970-an)

Perkembangan berikutnya adalah model harga opsi dan derivatif yang mengubah cara dunia menghitung risiko pasar dan lindung nilai (hedging). Salah satu karya paling berpengaruh adalah paper tentang penetapan harga opsi dan liabilitas korporasi.

Ciri khas cabang keuangan:

  • sangat kuat di matematika/statistik,

  • fokus pada market risk, credit risk, liquidity risk,

  • melahirkan praktik seperti VaR (Value at Risk), stress testing, hedging, dll.

c) Regulasi perbankan: Basel dan disiplin risiko (2000-an)

Krisis dan instabilitas finansial mendorong standar global tentang permodalan dan manajemen risiko bank. Basel II, misalnya, menekankan peningkatan manajemen risiko dan stabilitas sistem perbankan.


5) Cabang besar #2: Manajemen risiko HSSE/HSE (keselamatan, kesehatan, keamanan, lingkungan)

Berbeda dengan keuangan yang banyak “mengukur angka”, cabang HSSE lahir dari kenyataan bahwa risiko juga berarti:

  • cedera, kematian, kerusakan lingkungan, dan bencana industri.

a) Era regulasi dan sistem keselamatan kerja

Pembentukan kerangka keselamatan kerja modern didorong oleh kebijakan dan regulasi negara. Di AS, misalnya, lahirnya Occupational Safety and Health Act dan pembentukan OSHA menjadi salah satu tonggak penting untuk pendekatan keselamatan kerja yang lebih sistematis.

b) Dari “unsafe act” ke “system thinking”

HSSE modern bergerak dari menyalahkan individu semata menjadi melihat sistem: desain, prosedur, supervisi, budaya, dan barrier.

Model Swiss Cheese yang populer di literatur keselamatan menunjukkan bagaimana kecelakaan besar sering terjadi ketika banyak lapisan pengaman “bolong” pada waktu yang sama—ini memperkuat pendekatan barrier management dan system safety.

c) Standarisasi sistem manajemen: ISO dan pendekatan proses

Di HSSE, standar sistem manajemen berkembang untuk memastikan pendekatan yang konsisten. ISO 45001 (K3) menjadi salah satu rujukan besar untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.


6) Era “Enterprise Risk Management (ERM)”: menyatukan risiko jadi strategi (1990-an–sekarang)

Saat risiko makin lintas sektor (cyber, geopolitik, reputasi, iklim, kepatuhan), organisasi mulai sadar: risiko tidak boleh “berjalan sendiri” di masing-masing departemen.

Muncullah Enterprise Risk Management (ERM): pendekatan yang menyatukan risiko untuk mendukung strategi, pengambilan keputusan, dan kinerja.

Salah satu rujukan paling terkenal adalah COSO ERM, yang menekankan hubungan ERM dengan strategi dan performa organisasi.

Di tingkat standar internasional yang lebih umum lintas industri, ISO 31000 menjadi rujukan besar untuk prinsip dan pedoman manajemen risiko (termasuk pembaruan edisi 2018).

Inti era ERM:

  • risiko bukan hanya “ancaman”, tapi juga terkait “peluang”,

  • risiko harus selaras dengan tujuan organisasi,

  • budaya risiko (risk culture) dan tata kelola (governance) jadi kunci.


7) Kenapa akhirnya “terpecah” jadi keuangan dan HSSE?

Bukan benar-benar “pecah”—lebih tepatnya spesialisasi karena kebutuhan dan alatnya berbeda.

  • Keuangan: dominan angka, model, data pasar, probabilitas statistik, korelasi, sensitivitas.

  • HSSE: dominan sistem pengamanan, perilaku organisasi, engineering controls, budaya keselamatan, kepatuhan, mitigasi berlapis.

Tetapi keduanya bertemu kembali di ERM:

  • perusahaan energi misalnya harus mengelola volatilitas harga (keuangan) dan risiko kecelakaan/bencana lingkungan (HSSE) dalam satu “peta keputusan”.


8) Pelajaran praktis untuk organisasi hari ini

Kalau kita tarik benang merah sejarahnya, ada beberapa “hukum” yang hampir selalu benar:

  1. Risiko selalu mengikuti kompleksitas. Makin kompleks sistem (teknologi, supply chain, regulasi), makin perlu sistem manajemen risiko yang matang.

  2. Mitigasi terbaik jarang single-solution. Risiko besar biasanya butuh kombinasi: engineering + prosedur + kompetensi + monitoring + budaya.

  3. Standar membantu, tapi tidak menggantikan kepemimpinan. ISO/COSO memberi kerangka, namun keberhasilan ditentukan oleh komitmen pimpinan dan disiplin eksekusi.

  4. Risk management yang dewasa itu proaktif. Bukan sibuk setelah kejadian, tapi kuat pada deteksi dini, indikator, dan skenario.


Referensi autentik (buku, jurnal, standar, lembaga)

Berikut daftar rujukan yang bisa Anda cantumkan di akhir artikel (sebagian berupa standar/lembaga, sebagian buku/jurnal klasik):

Standar & kerangka (paling “otoritatif” untuk praktik)

  1. ISO 31000:2018 – Risk management — Guidelines (International Organization for Standardization).

  2. COSO ERM – Enterprise Risk Management: Integrating with Strategy and Performance (2017).

  3. Basel Committee on Banking Supervision – Basel II implementation guidance (BIS).

  4. OSHA / OSH Act – tonggak regulasi keselamatan kerja modern.

  5. ISO 45001:2018 – Occupational health and safety management systems (rujukan K3 berbasis sistem manajemen).

Jurnal/paper akademik (tonggak kuantitatif & teori)

  1. Markowitz, H. (1952). Portfolio Selection (dasar teori portofolio modern).

  2. Black, F., & Scholes, M. (1973). The Pricing of Options and Corporate Liabilities.

  3. Perneger, T. V. (2005). The Swiss cheese model of safety incidents (membahas konsep Swiss Cheese yang berasal dari pemikiran James Reason).

Referensi sejarah institusional (akar asuransi/transfer risiko)

  1. Sejarah pasar asuransi maritim dan kultur penjaminan risiko: Lloyd’s.

Buku klasik yang sangat sering dijadikan rujukan (layak dicantumkan)

  1. Bernstein, P. L. Against the Gods: The Remarkable Story of Risk (sejarah konsep risiko & probabilitas).

  2. Reason, J. Human Error (fondasi pemikiran system safety dan kecelakaan sebagai kegagalan sistem).

  3. Vaughan, E. J., & Vaughan, T. Fundamentals of Risk and Insurance (akar risk management dari dunia asuransi).

  4. Harrington, S. E., & Niehaus, G. Risk Management and Insurance (jembatan praktik asuransi ke risk management modern).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.