Rabu, 11 Februari 2026

Sejarah Perintah Puasa Ramadan: Jejak Syariat Puasa dari Nabi Terdahulu hingga Umat Islam

Puasa Ramadan adalah salah satu ibadah terbesar dalam Islam. Setiap tahun, lebih dari satu miliar umat Muslim di seluruh dunia menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu sejak fajar hingga terbenam matahari.

Namun pernahkah kita bertanya:
Sejak kapan sebenarnya perintah puasa Ramadan dimulai?

Apakah puasa hanya dikenal dalam Islam, atau sudah ada sejak zaman nabi-nabi terdahulu?

Ternyata, ibadah puasa memiliki sejarah panjang yang jauh lebih tua daripada umat Islam itu sendiri.
Perintah Puasa dalam Al-Qur’an: “Sebagaimana Diwajibkan kepada Umat Sebelumnya”

Dasar utama perintah puasa bagi umat Islam terdapat dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini mengandung pesan penting:
Puasa adalah kewajiban, bukan sekadar anjuran.

Ibadah puasa bukan hal baru.
Tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan.

Kalimat “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu” menunjukkan bahwa tradisi puasa sudah ada dalam syariat para nabi dan rasul terdahulu.

Puasa dalam Syariat Nabi dan Rasul Terdahulu

Sebelum Islam datang, konsep menahan diri dari makan, minum, dan syahwat sebagai bentuk ibadah telah dikenal dalam banyak tradisi kenabian.

1. Puasa pada Zaman Nabi Adam dan Nabi-Nabi Awal

Dalam berbagai riwayat ulama tafsir, disebutkan bahwa umat-umat awal juga mengenal bentuk ibadah puasa, meskipun tata caranya berbeda.
Sebagian ulama menyebut bahwa:
Nabi Adam ‘alaihis salam dan keturunannya mengenal hari-hari tertentu untuk berpuasa,

Puasa menjadi bentuk penyucian diri dan pendekatan kepada Allah.
Walaupun detail teknisnya tidak sama dengan puasa Ramadan, prinsip dasarnya serupa: menahan diri demi ketaatan kepada Allah.

2. Puasa dalam Syariat Nabi Musa (Bani Israil)
Dalam tradisi Bani Israil, puasa juga merupakan ibadah yang sangat dikenal.

Beberapa riwayat menyebut bahwa:
Nabi Musa ‘alaihis salam berpuasa 40 hari ketika menerima wahyu di Gunung Sinai.

Kaum Yahudi mengenal puasa pada hari-hari tertentu sebagai bentuk taubat dan penyucian diri.

Bahkan dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ pernah menemukan orang-orang Yahudi di Madinah berpuasa pada hari Asyura, sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa dari Fir’aun.
Ini menunjukkan bahwa konsep puasa sudah menjadi bagian dari syariat sebelum Islam.

3. Puasa dalam Syariat Nabi Isa (Umat Nasrani)

Dalam tradisi Kristen awal, puasa juga dikenal luas. Nabi Isa ‘alaihis salam sendiri disebutkan dalam Injil melakukan puasa selama 40 hari.

Hingga kini, umat Kristen mengenal tradisi puasa “Lent” menjelang perayaan Paskah. Meskipun bentuk dan aturannya berbeda dengan Islam, esensinya tetap sama:
menahan diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, melatih spiritualitas.

Datangnya Islam: Penyempurnaan Syariat Puasa

Ketika Islam datang, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan ibadah puasa melalui syariat Nabi Muhammad ﷺ.

Namun menariknya, pada awal Islam puasa Ramadan belum langsung diwajibkan seperti sekarang.
Tahapan Perintah Puasa dalam Islam

Tahap 1: Puasa Asyura
Pada masa awal hijrah ke Madinah, umat Islam lebih dulu diperintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Puasa ini bersifat wajib pada waktu itu.

Tahap 2: Turunnya Kewajiban Puasa Ramadan
Pada tahun ke-2 Hijriyah, turunlah ayat yang mewajibkan puasa Ramadan secara penuh, yaitu surat Al-Baqarah ayat 183–185.

Sejak saat itu:
puasa Asyura menjadi sunnah,
puasa Ramadan menjadi kewajiban utama umat Islam.
Inilah titik sejarah resmi dimulainya puasa Ramadan sebagaimana kita kenal sekarang.
Mengapa Puasa Menjadi Ibadah Universal?
Jika kita melihat sejarahnya, hampir semua syariat para nabi mengenal puasa.

Mengapa?

Karena puasa memiliki manfaat yang sangat mendasar bagi manusia:
Melatih pengendalian diri
Manusia belajar menguasai hawa nafsu, bukan dikuasai olehnya.
Menyucikan jiwa
Puasa membersihkan hati dari keserakahan dan sifat berlebihan.
Membangun empati sosial
Rasa lapar membuat manusia lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Meningkatkan kesehatan fisik
Secara ilmiah, puasa terbukti memberi banyak manfaat bagi metabolisme tubuh.

Tidak heran jika Allah menjadikan puasa sebagai ibadah lintas zaman dan lintas umat.

Puasa Ramadan: Penyempurna Puasa Umat Terdahulu

Islam tidak menghapus tradisi puasa sebelumnya, melainkan menyempurnakannya dengan aturan yang lebih jelas:
waktunya ditentukan satu bulan penuh,
ada ketentuan sahur dan berbuka,
ada aturan zakat fitrah,
ada malam istimewa bernama Lailatul Qadar.

Dengan syariat ini, puasa tidak hanya menjadi ritual pribadi, tetapi juga sistem sosial-spiritual yang utuh.

Hikmah Besar dari Sejarah Puasa

Memahami sejarah puasa mengajarkan kita beberapa hal penting:
Puasa bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi warisan spiritual para nabi.
Islam hadir untuk menyempurnakan, bukan memutus, ajaran tauhid sebelumnya.
Tujuan utama puasa selalu sama sejak dahulu: membentuk manusia bertakwa.

Dengan menyadari akar sejarahnya, puasa Ramadan seharusnya tidak kita jalani sekadar rutinitas, melainkan sebagai:
perjalanan spiritual yang telah ditempuh manusia beriman sejak ribuan tahun lalu.

Penutup

Puasa Ramadan adalah mata rantai panjang dari tradisi kenabian. Dari Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad ﷺ—semuanya mengenal ibadah menahan diri demi mendekatkan diri kepada Allah.

Perbedaannya hanya pada bentuk dan aturannya.

Esensinya tetap sama:
menjadikan manusia lebih dekat kepada Tuhannya.

Semoga dengan memahami sejarah ini, kita dapat menjalani puasa Ramadan dengan lebih sadar, khusyuk, dan bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.