Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu kejadian paling agung dan penuh makna dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang menegaskan kekuasaan Allah, kemuliaan Rasulullah ﷺ, serta pondasi ibadah umat Islam hingga akhir zaman.
Isra’ Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah ﷺ—setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib, serta penolakan keras dari penduduk Thaif. Dalam kondisi duka dan tekanan inilah Allah memperjalankan Nabi-Nya sebagai penghiburan, penguatan, dan peneguhan misi kenabian.
Makna Isra’: Perjalanan di Bumi atas Kehendak Allah.
Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ pada satu malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Perjalanan ini bukan mimpi, melainkan kejadian nyata atas kuasa Allah.
Isra’ mengajarkan bahwa:
Jarak dan waktu tunduk pada kehendak Allah
Masjidil Aqsa memiliki kedudukan suci dalam Islam
Rasulullah ﷺ adalah pemimpin para nabi, terbukti dengan shalat bersama para nabi di Masjidil Aqsa
Di tengah dunia modern yang sangat mengagungkan sains dan teknologi, Isra’ mengingatkan manusia bahwa ada realitas di luar logika material, yang hanya dapat dipahami dengan iman.
Makna Mi’raj: Kenaikan Spiritual Menuju Sidratul Muntaha
Mi’raj adalah perjalanan Nabi ﷺ dari Masjidil Aqsa menembus lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, tempat yang tidak dapat dijangkau makhluk mana pun selain atas izin Allah.
Dalam Mi’raj, Rasulullah ﷺ:
Bertemu para nabi di setiap lapisan langit.
Menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah.
Menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang luar biasa.
Shalat yang kita kerjakan setiap hari sejatinya adalah “Mi’raj-nya orang beriman”—sarana komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya.
Isra’ Mi’raj dan Relevansinya bagi Kehidupan Modern.
Di era yang penuh tekanan, ketidakpastian ekonomi, krisis moral, dan kecemasan masa depan, Isra’ Mi’raj membawa pesan yang sangat relevan:
Ujian adalah tanda kedekatan, bukan penolakan Allah
Rasulullah ﷺ dimi’rajkan justru setelah masa terberat hidupnya.
Solusi utama krisis manusia adalah penguatan hubungan dengan Allah
Bukan harta, jabatan, atau teknologi yang pertama diperintahkan, melainkan shalat.
Iman mendahului logika
Isra’ Mi’raj menguji keimanan para sahabat. Yang beriman membenarkan, yang ragu tersingkir.
Hikmah Besar Isra’ Mi’raj bagi Umat Islam
Menegaskan kedudukan shalat sebagai pilar utama kehidupan Muslim
Mengajarkan tawakkal aktif di tengah ujian.
Mengingatkan bahwa pertolongan Allah datang di waktu terbaik-Nya
Menanamkan keyakinan bahwa langit tidak pernah jauh bagi hamba yang dekat dengan Allah
Penutup
Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa historis yang diperingati setiap tahun. Ia adalah pesan abadi bahwa dalam kondisi seberat apa pun, jalan menuju Allah selalu terbuka.
Ketika bumi terasa sempit, Allah membuka langit.
Ketika manusia terhimpit masalah, Allah menawarkan shalat.
Barang siapa menjaga shalatnya, maka Allah akan menjaga hidupnya.
Semoga peringatan Isra’ Mi’raj tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran ruhani, memperbaiki shalat, dan menguatkan iman kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini. Jangan malu - malu!