Perkembangan Artificial Intelligence (AI), robotika, dan otomatisasi semakin cepat dan masif. Banyak pekerjaan manusia mulai digantikan oleh mesin: dari kasir, operator pabrik, hingga analis data. Tidak sedikit yang khawatir, “Apakah manusia akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan di masa depan?”
Pertanyaan ini wajar. Namun, dalam perspektif Islam, ada fondasi keyakinan yang sangat kuat: rezeki setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak berkurang dan tidak berlebihan, sesuai dengan keadilan-Nya.
Lalu, bagaimana seharusnya manusia menyikapi era AI dan otomatisasi ini?
Rezeki dalam Islam: Bukan Sekadar Pekerjaan
Dalam Islam, rezeki tidak identik dengan satu jenis pekerjaan. Rezeki adalah segala bentuk kebaikan yang Allah berikan—penghasilan, kesehatan, ilmu, kesempatan, bahkan ide dan kreativitas.
Teknologi boleh berubah, pekerjaan boleh hilang atau berganti, tetapi sumber rezeki tidak pernah berpindah dari Allah kepada mesin. AI dan robot hanyalah alat, bukan penentu hidup manusia.
Ketakutan muncul bukan karena AI terlalu kuat, melainkan karena manusia menyempitkan makna rezeki hanya pada pekerjaan lama yang ia kenal.
AI dan Otomatisasi: Ancaman atau Ujian Zaman?
Dalam sejarah, setiap revolusi teknologi selalu “menghilangkan” pekerjaan lama:
-
Mesin uap menggantikan tenaga otot
-
Komputer menggantikan pekerjaan manual
-
Internet mengubah cara bisnis dan komunikasi
Namun faktanya, pekerjaan baru selalu muncul—sering kali lebih kompleks, kreatif, dan bernilai tinggi.
Dalam kacamata Islam, AI dan otomatisasi dapat dipahami sebagai:
-
Ujian adaptasi bagi manusia
-
Sarana efisiensi, bukan penghapus peran manusia
-
Pemicu hijrah profesi, bukan akhir penghidupan
Solusi Islam di Era AI dan Robotika
1. Menguatkan Tauhid dan Tawakal
Keyakinan bahwa Allah Maha Adil harus diiringi dengan ikhtiar. Tawakal bukan berarti pasif, tetapi aktif mencari jalan baru dengan hati yang tenang.
Dalam Islam, konsep tawakkal sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal Rasulullah ﷺ memberi contoh yang sangat jelas melalui perumpamaan seekor burung.
Burung tidak berdiam diri di sarangnya menunggu rezeki jatuh dari langit. Setiap pagi ia keluar, terbang, mencari, berjuang, dan mengambil risiko. Ia tidak tahu di mana makanan berada, tetapi ia yakin bahwa Allah telah menyiapkannya. Ia berangkat dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.
2. Upgrade Ilmu dan Keterampilan
Islam sangat menekankan pentingnya ilmu. Di era AI:
-
Manusia perlu belajar hal yang tidak bisa digantikan mesin
-
Seperti etika, empati, kepemimpinan, kreativitas, dan kebijaksanaan
AI bisa menghitung, tetapi tidak bisa menilai dengan hati dan akhlak.
3. Menggeser Peran: dari Operator ke Pengendali
Jika mesin mengerjakan tugas teknis, manusia naik kelas:
-
Menjadi pengambil keputusan
-
Pengawas nilai dan dampak
-
Pengarah tujuan teknologi
Ini sejalan dengan konsep manusia sebagai khalifah di bumi, bukan sekadar pekerja mekanis.
4. Memperkuat Ekonomi Berbasis Nilai
Islam mendorong:
-
Keadilan sosial
-
Tolong-menolong
-
Distribusi yang seimbang
Di era AI, konsep seperti zakat, infak, sedekah, dan ekonomi berbasis kebermanfaatan menjadi semakin relevan, bukan usang.
Apa yang Harus Dilakukan Manusia Hari Ini?
-
Berhenti panik, mulai berpikir jernih
-
Belajar dan beradaptasi, tanpa meninggalkan nilai
-
Menggunakan AI sebagai alat, bukan sebagai “tuhan baru”
-
Menjaga akhlak dan integritas, di tengah dunia serba otomatis
-
Percaya bahwa rezeki tidak pernah salah alamat
Penutup
AI, robot, dan otomatisasi bukanlah musuh manusia. Mereka adalah bagian dari sunnatullah dalam perkembangan peradaban. Yang berbahaya bukanlah teknologinya, melainkan hilangnya keyakinan manusia terhadap keadilan dan ketetapan Allah.
Selama manusia menjaga iman, ilmu, dan akhlak, tidak ada teknologi apa pun yang mampu mencabut rezeki yang telah Allah tetapkan.
Teknologi boleh menggantikan pekerjaan, tetapi tidak pernah menggantikan peran manusia sebagai hamba dan khalifah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini. Jangan malu - malu!