Wednesday, December 6, 2017

MILITER DAN ENERGI


Share/Bookmark


Militer merupakan institusi alat negara yang diserahi tugas mempertahankan kedaulatan negara dari ancaman luar negeri maupun dalam negeri. Militer diberi wewenang oleh Negara untuk menggunakan kekuatan (termasuk menggunakan senjata) dalam mempertahankan bangsanya ataupun untuk menyerang Negara lain.

Kekuatan militer modern menggunakan senjata-senjata dan peralatan-peralatan yang bekerja dengan mengkonsumsi energi. Tank, pesawat tempur, kapal perang, kendaraan pengangkut personel militer, kapal induk, semuanya membutuhkan energi. Termasuk juga peralatan-peralatan komunikasi militer.

Oleh karena itu, sumber-sumber energi dan fasilitas pembangkit energi menjadi salah satu sarana yang vital dalam aksi-aksi militer. Sumber energi merupakan sumber tenaga bagi peralatan-peralatan militer. Sumber energi memungkinkan sarana-sarana militer dapat bekerja dan membantu tentara melaksanakan misi-misinya.

Seperti diketahui, pada saat Jepang menjajah Indonesia, sempat terdapat program tanam paksa. Salah satu tanaman yang menjadi program tanam paksa adalah tanaman jarak pagar. Tanaman ini merupakan sumber minyak nabati yang akan digunakan sebagai sumber energi.

Kapal perang inggris pada perang dunia I beralih dari bahan bakar batu bara ke bahan bakar minyak. Padahal batu bara saat itu tersedia banyak di dalam negeri Inggris. Sementara, minyak bumi tersedia cukup jauh dari wilayah Inggris, yakni di timur tengah. Pada masa itu muncul pertanyaan besar terhadap kebijakan tersebut. Mengapa Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang awalnya menggunakan bahan bakar batubara yang bersumber dari wilayah Wales yang dinilai lebih aman harus berganti ke bahan bakar minyak yang sumbernya terletak di daerah timur tengah yang tidak cukup meyakinkan keamanan dan keberlanjutan pasokannya. Hal ini dijawab melalui teori keamanan energi, dimana keamanan dan kepastian pasokan minyak terletak pada seberapa bervariasinya sumber pasokan minyak yang digunakan. Semakin bervariasi sumber pasokan minyak bumi yang digunakan, maka akan semakin aman dan handal kapal perang angkatan laut kerajaan Inggris.

Di sisi lain, fasilitas-fasilitas/sumber-sumber energi seringkali juga menjadi target serangan militer lawan dan menjadi sasaran yang diperebutkan antara pihak yang bertikai dan berkepentingan. Seringkali juga, fasilitas sumber energi lebih dipilih dibumi hanguskan daripada nantinya direbut/dimanfaatkan oleh pihak musuh.

Contohnya pada beberapa kilang di Indonesia. Kilang Wonokromo merupakan kilang pertama dan tertua di Indonesia. Dibangun pada tahun 1889 setelah ditemukan minyak di daerah konsesi Jabakota dekat Surabaya oleh De Dordtsche Petroleum Maatschappij. Kilang Wonokromo dihancurkan dalam pemboman tentara Sekutu pada agresi militer I Belanda.

Kilang pangkalan Brandan di Langkat Sumatera Utara, menurut catatan sejarah, sempat dilakukan 3 kali pembumi hangusan. Pertama, pada tanggal 9 Maret 1942 dilakukan oleh Vernielinkcorps (tentara Belanda) dengan tujuan agar tidak dimanfaatkan / direbut tentara Jepang yang akan menyerang Belanda di Indonesia. Bumi hangus kedua dilakukan pada tanggal 13 Agustus 1947 oleh pasukan PMC (Plaatselijk Militair Commando) - Pasukan Indonesia. Bumi hangus ketiga dilakukan oleh bangsa Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 untuk mencegah Belanda merebut dan memanfaatkan kilang tersebut.

Dalam perang teluk tahun 1990-an, Pasukan Irak sempat melakukan pembakaran sumur-sumur minyak di kuwait. Hal ini dilakukan agar sumur-sumur minyak di Kuwait yang sempat dikuasasi Irak tidak bisa digunakan lagi dalam waktu cepat oleh Amerika. Hal yang sama juga dilakukan Irak pada saat terjadi aksi agresi Amerika Serikat dan sekutunya pada tahun 2000-an. Kita bisa melihat dilakukan pembakaran pada sumur-sumur minyak di Irak oleh tentara Irak dengan tujuan agar tidak bisa dimanfaatkan oleh pasukan Amerika dan sekutunya.

Semua contoh-contoh kasus di atas merupakan sekelumit kisah yang menunjukkan begitu pentingnya keberadaan sumber energi dan fasilitas pembangkit energi dalam aktivitas militer. Dan dalam beberapa kasus, energi justru menjadi pendorong aksi militer. Dalam hal ini, sumber energi yang berupa minyak bumi masih merupakan jenis energi yang memiliki hubungan terkuat dengan aksi-aksi militer dibandingkan jenis energi lainnya.

Namun demikian, kita bisa melihat beberapa sumber energi lain juga memiliki potensi menjadi sumber konflik. Misalkan gas alam. Krisis Rusia dan Ukraina telah dipersepsikan secara umum sebagai konflik kepentingan terhadap gas alam. Peristiwa blokade ekspor gas dari Rusia ke Ukraina pada Januari 2006 hanya berlangsung 4 hari, dimana motif politik di balik peristiwa ini masih merupakan kontroversi. Di Indonesia, kita mengenal sumber gas alam di wilayah Indonesia, yakni di wilayah Natuna, saat ini menjadi salah satu objek konflik laut China Selatan.

Sumber energi lain yang sebenarnya cukup erat dengan aktivitas militer tentu saja Energi Nuklir. Kebanyakan masyakarakat telah terlanjur menganggap pengembangan energi nuklir berarti juga meningkatkan aktivitas pengembangan senjata nuklir. Hal ini berpotensi menggiring manusia pada perang nuklir yang dapat menghancurkan peradaban manusia. Padahal, pengembangan energi nuklir dan senjata nuklir merupakan hal yang berbeda. Pengembangan senjata nuklir masih memerlukan beberapa tahapan pemprosesan yang tidak dilakukan dalam pengembangan energi nuklir. Nuklir sebagai senjata dan nuklir sebagai energi masih merupakan isu yang sangat sensirtif. Sistem protokol keamanan dunia yang ada saat ini belum bisa memberi izin kepada semua negara untuk mengkases teknologi nuklir. Penguasaan nuklir untuk senjata dibatasi oleh beberapa negara besar saja seperti Amerika Serikat, Rusia, Perancis, China.

Sementara itu, pengembangan energi terbarukan rasanya masih belum memiliki pengaruh kuat dalam aktivitas militer. Energi terbarukan cenderung termanfaatkan secara lokal dan sangat tergantung pada kondisi alam. Namun setiap sumber energi/fasilitas energi tentu akan selalu menjadi sasaran serangan untuk melumpuhkan kemampuan militer lawan. Dan mungkin saja teknologi militer masa depan akan lebih condong menggunakan teknologi energi terbarukan karena adanya potensi untuk menjadi lebih praktis dan independen dalam pembangkitan energi terutama di remote area (wilayah terpencil) sehingga aktivitas militer tidak tergantung pada fasilitas/infrastruktur energi besar seperti fasilitas kilang minyak dan gas bumi.

Perlu kita ketahui, ketahanan Energi sebenarnya merupakan bagian dari Ketahanan Nasional. Ketahanan Nasional selama ini memang lebih fokus pada kekuatan militer daripada kekuatan lain yang ada dalam kehidupan suatu bangsa. Padahal ketahanan nasional terdiri dari berbagai elemen. Termasuk di dalamnya ketahanan ekonomi, ketahanan politik, ketahanan sosial dan budaya, ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, dan lain-lain.

Ketahanan militer tidak melulu mengenai jumlah dan kualitas personel militer yang dimiliki negara. Kekuatan militer juga tidak berarti selalu memperhitungkan jumlah, kualitas, dan kecanggihan persenjataannnya. Ketahanan militer juga tergantung pada hubungan antara militer dan sipil.

Kehidupan masyarakat sipil modern dan teknologi militer semakin terintegrasi dengan kebutuhan akan energi. Maka dari itu sumber-sumber energi dan keberadaan fasilitas energi akan semakin menjadi objek vital bagi suatu negara. Jika suatu negara belum mampu menghasilkan energinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka akan selalu dilakukan kebijakan pencarian sumber-sumber energi baru di luar negeri. Dalam memperoleh sumber-sumeber energi dari luar dan dalam proses pengamanan pasokan sumber energi dari luar negeri inilah yang kemudian akan cenderung mendorong upaya-upaya memanfaatkan kekuatan ekonomi dan politik. Kekuatan militer pada akhirnya juga harus ikut dilibatkan ketika kekuatan ekonomi dan politik dinilai belum mampu mencapai tujuan tersebut.