Minggu, 08 Desember 2019

Resep Telur Ceplok Kecap Pedas Manis yang Praktis


Telur ceplok adalah salah satu lauk rumahan yang paling mudah dibuat. Selain praktis, bahan utamanya juga sederhana dan cocok untuk menu harian. Agar tidak terasa terlalu biasa, telur ceplok bisa diolah kembali dengan bumbu kecap pedas manis.

Kali ini saya mencoba membuat telur ceplok kecap dengan racikan sederhana menggunakan bawang merah, bawang putih, bawang bombai, cabai rawit, cabai merah, kecap manis, dan seledri. Rasanya gurih, manis, sedikit pedas, dan cocok disantap bersama nasi hangat.

Resep ini bisa menjadi pilihan ketika ingin memasak cepat, hemat, tetapi tetap enak.

Bahan-Bahan

  1. Telur ayam 3 butir

  2. Bawang putih 1 siung, cincang halus

  3. Bawang merah 2 siung, cincang halus

  4. Bawang bombai 1/2 buah, cincang halus

  5. Cabai rawit 8 buah, iris tipis

  6. Cabai merah 1 buah, iris tipis

  7. Kecap manis secukupnya

  8. Garam secukupnya

  9. Seledri secukupnya, iris kecil

  10. Minyak beras, minyak bekatul, atau rice bran oil secukupnya untuk menggoreng dan menumis

  11. Air secukupnya

Cara Membuat Telur Ceplok Kecap

  1. Panaskan minyak secukupnya di dalam wajan.

  2. Gunakan api kecil hingga sedang agar telur matang merata.

  3. Ceplok telur satu per satu atau sekaligus, sesuai selera.

  4. Taburkan sedikit garam pada bagian putih telur.

  5. Setelah telur cukup matang, angkat dan sisihkan sementara.

  6. Panaskan kembali sedikit sisa minyak di wajan.

  7. Masukkan bawang putih, bawang merah, dan bawang bombai yang sudah dicincang.

  8. Tumis sampai harum dan bawang mulai layu.

  9. Masukkan irisan cabai rawit dan cabai merah.

  10. Aduk sampai cabai layu dan aromanya keluar.

  11. Tambahkan kecap manis secukupnya.

  12. Tuang sedikit air, lalu aduk hingga bumbu tercampur rata.

  13. Masak sampai bumbu mendidih dan kuah mulai sedikit mengental.

  14. Masukkan telur ceplok ke dalam wajan.

  15. Balik telur perlahan agar bumbu kecap meresap ke kedua sisi.

  16. Tambahkan irisan seledri.

  17. Masak sebentar sampai bumbu meresap sesuai selera.

  18. Matikan kompor, lalu angkat dan sajikan.

Tips agar Telur Ceplok Kecap Lebih Enak

Agar telur ceplok tidak mudah hancur saat dimasak bersama bumbu, goreng telur terlebih dahulu sampai bagian pinggirnya cukup kokoh. Jika suka tekstur renyah, telur bisa digoreng sedikit lebih kering.

Gunakan kecap manis secukupnya agar rasa tidak terlalu manis. Jika ingin rasa lebih pedas, jumlah cabai rawit bisa ditambah sesuai selera.

Tambahkan air sedikit saja agar bumbu kecap tidak terlalu encer. Masak sampai kuah agak mengental agar bumbu lebih mudah menempel pada telur.

Seledri sebaiknya dimasukkan menjelang akhir proses memasak agar aromanya tetap segar dan tidak terlalu layu.

Saran Penyajian

Telur ceplok kecap pedas manis paling nikmat disajikan bersama nasi putih hangat. Menu ini juga cocok dipadukan dengan sayur bening, tumis kangkung, capcay, lalapan, atau kerupuk.

Jika ingin lebih lengkap, Anda bisa menambahkan taburan bawang goreng atau irisan daun bawang sebelum disajikan.

Kesimpulan

Telur ceplok kecap pedas manis adalah lauk rumahan yang praktis, sederhana, dan mudah dibuat. Dengan bahan seperti telur, bawang, cabai, kecap manis, garam, seledri, dan sedikit air, telur ceplok biasa bisa menjadi hidangan yang lebih gurih dan menggugah selera.

Kunci membuat telur ceplok kecap yang enak adalah menumis bumbu sampai harum, memasak kecap hingga sedikit mengental, dan membiarkan telur menyerap bumbu sebelum disajikan.

Selamat mencoba.

Resep Telur Dadar Sayur Jamur yang Praktis dan Mengenyangkan


Telur dadar adalah menu rumahan yang mudah dibuat, cepat matang, dan bisa dikreasikan dengan berbagai bahan. Jika ada sisa sayuran atau bahan makanan di kulkas, telur dadar bisa menjadi salah satu cara praktis untuk mengolahnya.

Kali ini saya mencoba membuat telur dadar dengan campuran jamur kancing, sawi, tomat, bawang bombai, bawang putih, cabai, daun bawang, dan seledri. Karena bahan yang digunakan cukup beragam, saya menyebutnya sebagai “Telur Dadar Gila” ala rumahan.

Meski namanya terdengar santai, resep ini cukup mengenyangkan dan cocok untuk lauk makan sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan lebih segar karena menggunakan tambahan sayuran.

Bahan-Bahan

  1. Telur ayam 3 butir

  2. Jamur kancing 5 butir, iris tipis

  3. Bawang putih 3 siung, iris tipis kecil

  4. Tomat 1 buah, iris kecil

  5. Cabai merah 1 buah, iris tipis kecil

  6. Bawang bombai 1 buah, iris tipis

  7. Daun bawang 1 batang, iris kecil

  8. Sawi 3 batang, iris atau gunting kecil

  9. Seledri 3 tangkai atau secukupnya, iris kecil

  10. Garam secukupnya

  11. Gula merah secukupnya

  12. Minyak beras, minyak bekatul, atau rice bran oil secukupnya untuk menggoreng

Cara Membuat Telur Dadar Sayur Jamur

  1. Pecahkan telur ke dalam wadah yang cukup besar.

  2. Kocok telur hingga lepas.

  3. Masukkan irisan jamur kancing, bawang putih, tomat, cabai merah, bawang bombai, daun bawang, sawi, dan seledri ke dalam kocokan telur.

  4. Tambahkan garam dan sedikit gula merah secukupnya.

  5. Aduk semua bahan hingga tercampur rata.

  6. Panaskan minyak di dalam wajan.

  7. Setelah minyak cukup panas, tuang adonan telur ke dalam wajan.

  8. Ratakan adonan agar bahan menyebar merata.

  9. Goreng dengan api kecil hingga sedang agar bagian dalam telur matang sempurna.

  10. Setelah bagian bawah telur berwarna kuning kecokelatan, balik telur dengan hati-hati.

  11. Goreng sisi lainnya hingga matang.

  12. Angkat, tiriskan, lalu sajikan selagi hangat.

Tips agar Telur Dadar Tidak Mudah Hancur

Karena menggunakan banyak bahan tambahan, adonan telur bisa menjadi lebih berat dan mudah patah saat dibalik. Agar lebih aman, gunakan wajan anti lengket dan api sedang.

Jika ingin telur lebih mudah dibalik, buat adonan tidak terlalu tebal. Anda juga bisa membagi adonan menjadi dua kali penggorengan agar ukuran telur dadar tidak terlalu besar.

Jamur dan sawi mengandung air, sehingga sebaiknya gunakan secukupnya agar telur tidak terlalu basah. Jika ingin hasil lebih padat, bahan sayuran bisa ditumis sebentar terlebih dahulu sebelum dicampurkan ke dalam telur.

Gunakan garam secukupnya dan tambahkan gula merah sedikit saja untuk menyeimbangkan rasa.

Saran Penyajian

Telur dadar sayur jamur ini cocok disajikan bersama nasi putih hangat, nasi merah, atau sebagai lauk pendamping sayur bening. Agar lebih nikmat, bisa ditambahkan saus sambal, sambal terasi, atau kecap sesuai selera.

Jika ingin memakai saus sambal buatan sendiri, Anda bisa menyajikannya bersama saus sambal alami ala rumahan.

Kesimpulan

Telur dadar sayur jamur adalah menu sederhana yang cocok untuk memanfaatkan stok bahan di kulkas. Dengan campuran telur, jamur kancing, sawi, tomat, bawang bombai, bawang putih, cabai, daun bawang, dan seledri, telur dadar biasa bisa menjadi lauk yang lebih lengkap dan mengenyangkan.

Kunci membuat telur dadar ini adalah mencampur bahan secara merata, menggunakan api sedang, dan membalik telur dengan hati-hati agar tidak mudah hancur.

Selamat mencoba.

Sabtu, 07 Desember 2019

Cara Sukses Dunia bagi Muslim: Ikhtiar, Iman, dan Keberkahan



Setiap manusia tentu ingin sukses dalam hidupnya. Ada yang mengartikan sukses sebagai memiliki pekerjaan baik, penghasilan cukup, bisnis berkembang, pendidikan tinggi, keluarga harmonis, atau kedudukan yang terhormat di tengah masyarakat.

Dalam Islam, sukses dunia tidak dilarang. Seorang Muslim boleh bekerja keras, berdagang, belajar setinggi mungkin, berinovasi, membangun usaha, mengembangkan karier, dan memberi manfaat luas kepada masyarakat.

Namun, cara seorang Muslim memandang kesuksesan seharusnya berbeda. Bagi seorang Muslim, sukses dunia bukan sekadar banyak harta, tinggi jabatan, atau luas pengaruh. Sukses dunia harus terhubung dengan iman, halal-haram, ibadah, akhlak, keberkahan, dan tujuan akhirat.

Dunia boleh dikejar, tetapi tidak boleh menjadi tujuan utama. Dunia harus menjadi bekal menuju ridha Allah.

Sukses Dunia Bukan Hal yang Tercela

Sebagian orang mengira bahwa menjadi Muslim yang baik berarti tidak boleh mengejar kemajuan dunia. Padahal, Islam tidak mengajarkan kemalasan. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja, mencari rezeki halal, menuntut ilmu, menjaga amanah, dan memberi manfaat.

Rasulullah ﷺ berdagang. Para sahabat juga banyak yang bekerja, berdagang, bertani, dan membangun kehidupan ekonomi. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sahabat yang kaya dan dermawan. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu juga dikenal sebagai pedagang sukses yang banyak berinfak.

Mereka tidak meninggalkan dunia sepenuhnya. Namun, dunia tidak menguasai hati mereka.

Inilah pelajaran pentingnya. Seorang Muslim boleh sukses secara duniawi, tetapi kesuksesan itu harus tetap tunduk kepada Allah.

Perbedaan Orientasi Sukses

Yang membedakan cara sukses seorang Muslim bukan terletak pada apakah ia bekerja keras atau tidak. Seorang Muslim tetap perlu bekerja keras. Ia tetap perlu belajar, meneliti, berinovasi, mengelola waktu, membangun jaringan, meningkatkan keterampilan, dan berusaha profesional.

Perbedaannya ada pada orientasi dan batasan.

Seseorang yang hanya mengejar dunia bisa saja menghalalkan segala cara. Ia mungkin mengorbankan ibadah, keluarga, kesehatan, kejujuran, dan halal-haram demi target dunia. Ukuran suksesnya hanya angka, jabatan, popularitas, dan pencapaian lahiriah.

Sementara itu, seorang Muslim seharusnya menjadikan dunia sebagai sarana. Ia bekerja keras, tetapi tidak meninggalkan shalat. Ia mengejar ilmu, tetapi tidak sombong. Ia membangun bisnis, tetapi tidak menipu. Ia mencari keuntungan, tetapi tetap membayar zakat dan bersedekah. Ia ingin maju, tetapi tidak melupakan akhirat.

Jadi, Islam tidak menolak kerja keras. Islam menolak kerja keras yang membuat manusia lupa kepada Allah.

Ikhtiar adalah Bagian dari Ibadah

Dalam Islam, ikhtiar adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal. Bekerja untuk menafkahi keluarga adalah ibadah. Belajar untuk meningkatkan kualitas diri adalah ibadah. Berdagang dengan jujur adalah ibadah. Mengelola perusahaan dengan amanah adalah ibadah. Menjadi profesional yang memberi manfaat juga bisa bernilai ibadah.

Karena itu, seorang Muslim tidak boleh malas dengan alasan tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti berusaha dengan cara yang benar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Seorang Muslim yang bertawakal tetap menyusun rencana, bekerja dengan disiplin, meningkatkan kompetensi, dan memperbaiki kualitas. Ia tidak pasif. Ia aktif, tetapi hatinya bergantung kepada Allah.

Ibadah Tidak Menghambat Kesuksesan

Sebagian orang mungkin menganggap kewajiban agama sebagai beban yang mengurangi waktu produktif. Ada shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, sedekah, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu agama, dan berbagai amal lainnya.

Namun, bagi orang beriman, ibadah bukan penghambat kesuksesan. Justru ibadah adalah sumber keberkahan dan penata hidup.

Shalat melatih disiplin.

Puasa melatih pengendalian diri.

Zakat membersihkan harta.

Sedekah melembutkan hati.

Zikir menenangkan jiwa.

Ilmu agama menjaga arah.

Tawakal mengurangi kegelisahan.

Dengan ibadah, seorang Muslim tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga menjaga dirinya agar tetap berada di jalan yang benar.

Kesuksesan Muslim Harus Halal dan Berkah

Dalam Islam, keberkahan lebih penting daripada sekadar banyak. Harta yang banyak tetapi haram akan menjadi beban. Jabatan tinggi yang diperoleh dengan zalim akan menjadi sumber pertanggungjawaban. Bisnis besar yang dibangun dengan penipuan tidak akan membawa ketenangan.

Sukses yang baik adalah sukses yang halal dan berkah.

Halal berarti cara mendapatkannya sesuai syariat.

Berkah berarti membawa kebaikan, ketenangan, manfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati dalam mencari rezeki. Jangan sampai demi mengejar dunia, ia mengabaikan riba, penipuan, manipulasi, suap, pengkhianatan amanah, atau kezaliman kepada orang lain.

Lebih baik rezeki sederhana tetapi halal dan berkah daripada harta banyak yang menggelisahkan hati.

Belajar Tinggi dan Berinovasi Tetap Penting

Ada kesan seolah-olah jika seseorang memilih jalan Islam, maka ia tidak perlu serius dalam pendidikan, riset, teknologi, bisnis, atau inovasi. Ini pemahaman yang keliru.

Seorang Muslim justru perlu menjadi pribadi yang berilmu dan kompeten. Umat Islam membutuhkan dokter, insinyur, guru, peneliti, ekonom, pengusaha, teknisi, ahli hukum, penulis, pemimpin, dan pekerja profesional yang amanah.

Ilmu dunia dapat menjadi sarana besar untuk kebaikan jika diarahkan oleh iman.

Teknologi dapat membantu dakwah.

Bisnis dapat membuka lapangan kerja.

Pendidikan dapat mengangkat kualitas umat.

Riset dapat menyelesaikan masalah masyarakat.

Kepemimpinan dapat menegakkan keadilan.

Maka, belajar tinggi dan berinovasi bukan bertentangan dengan Islam. Yang perlu dijaga adalah niat, cara, dan tujuan akhirnya.

Meneladani Para Sahabat dalam Dunia dan Akhirat

Generasi sahabat Nabi ﷺ memberi teladan tentang keseimbangan antara dunia dan akhirat. Mereka tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga kuat dalam perjuangan, perdagangan, kepemimpinan, dan pembangunan masyarakat.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah contoh sahabat kaya yang hartanya banyak digunakan untuk Islam. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah pedagang sukses yang tetap dikenal karena kedermawanannya. Para sahabat tidak menjadikan harta sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk kebaikan.

Dari mereka kita belajar bahwa kekayaan tidak tercela jika berada di tangan orang yang beriman dan bertakwa. Yang tercela adalah ketika harta membuat manusia lalai, sombong, dan zalim.

Sukses Dunia Tidak Selalu Berarti Hidup Mewah

Dalam pandangan Islam, sukses dunia tidak harus selalu identik dengan kemewahan. Seseorang bisa dikatakan sukses jika hidupnya bermanfaat, rezekinya halal, keluarganya terjaga, ibadahnya kuat, akhlaknya baik, dan hatinya tenang.

Ada orang yang hartanya banyak tetapi hidupnya gelisah. Ada orang yang jabatannya tinggi tetapi hatinya kosong. Ada orang yang terkenal tetapi keluarganya berantakan. Sebaliknya, ada orang yang hidupnya sederhana tetapi penuh keberkahan.

Karena itu, ukuran sukses seorang Muslim harus lebih luas daripada standar materi.

Sukses adalah ketika dunia yang dimiliki membantu mendekat kepada Allah.

Sukses adalah ketika pekerjaan tidak membuat lupa shalat.

Sukses adalah ketika harta menjadi sedekah.

Sukses adalah ketika ilmu menjadi manfaat.

Sukses adalah ketika jabatan menjadi amanah.

Sukses adalah ketika keluarga tumbuh dalam iman.

Mengatur Waktu antara Ibadah dan Ikhtiar

Seorang Muslim perlu pandai mengatur waktu. Ibadah tidak boleh diabaikan, tetapi pekerjaan juga harus dilakukan dengan profesional. Jangan sampai alasan ibadah digunakan untuk bermalas-malasan dalam amanah kerja. Sebaliknya, jangan sampai alasan kerja digunakan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Keseimbangan ini penting.

Tidur cukup agar tubuh kuat.

Bangun lebih awal untuk shalat dan memulai hari dengan baik.

Bekerja dengan fokus dan amanah.

Menjaga waktu shalat.

Menyisihkan waktu untuk keluarga.

Meluangkan waktu untuk ilmu agama.

Mengurangi hal yang tidak bermanfaat.

Dengan manajemen waktu yang baik, seorang Muslim bisa tetap produktif tanpa kehilangan arah akhirat.

Shalat Malam dan Kekuatan Jiwa

Dalam tradisi Islam, shalat malam memiliki kedudukan yang agung. Banyak orang saleh menjadikan waktu malam sebagai saat untuk mendekat kepada Allah, bermunajat, beristighfar, dan memperkuat jiwa.

Namun, shalat malam tidak boleh dipahami sebagai pengganti ikhtiar dunia. Ia adalah penguat hati agar siang harinya seseorang lebih jujur, lebih kuat, lebih tenang, dan lebih berkah dalam bekerja.

Orang beriman boleh tidur lebih sedikit karena ibadah, tetapi tetap perlu menjaga kesehatan dan tanggung jawab. Islam mengajarkan keseimbangan, bukan merusak tubuh dengan alasan semangat.

Jangan Meniru Dunia Tanpa Saringan Iman

Banyak metode sukses dunia yang baik untuk dipelajari: disiplin, riset, inovasi, manajemen, kepemimpinan, literasi keuangan, teknologi, dan produktivitas. Seorang Muslim boleh mengambil manfaat dari semua itu selama tidak bertentangan dengan syariat.

Namun, tidak semua konsep sukses dunia boleh ditelan mentah-mentah. Ada konsep yang terlalu memuja ambisi pribadi, menghalalkan segala cara, menormalkan riba, mengorbankan keluarga, meremehkan ibadah, atau menjadikan manusia seolah-olah hanya mesin produktivitas.

Di sinilah iman menjadi penyaring.

Ambil ilmu yang baik.

Tinggalkan cara yang haram.

Gunakan strategi yang bermanfaat.

Jaga hati dari kesombongan.

Jadikan Allah sebagai tujuan akhir.

Prinsip Sukses Dunia bagi Muslim

Ada beberapa prinsip yang dapat menjadi pegangan.

Pertama, niatkan usaha untuk ibadah.

Kedua, cari rezeki dengan cara halal.

Ketiga, jaga shalat dan kewajiban agama.

Keempat, tingkatkan ilmu dan keterampilan.

Kelima, bekerja dengan amanah dan profesional.

Keenam, hindari riba, penipuan, suap, dan kezaliman.

Ketujuh, perbanyak sedekah dan zakat.

Kedelapan, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama.

Kesembilan, bertawakal setelah berikhtiar.

Kesepuluh, ukur kesuksesan dengan keberkahan, bukan hanya jumlah harta.

Jika prinsip-prinsip ini dijaga, insya Allah kesuksesan dunia tidak akan menjadi penghalang menuju akhirat.

Penutup

Cara sukses dunia bagi seorang Muslim bukan berarti meninggalkan kerja keras, pendidikan, riset, inovasi, atau profesionalisme. Semua itu tetap penting. Namun, semua usaha dunia harus dipandu oleh iman, takwa, halal-haram, ibadah, akhlak, tawakal, dan tujuan akhirat.

Seorang Muslim bekerja keras, tetapi tidak meninggalkan shalat. Ia belajar tinggi, tetapi tetap rendah hati. Ia membangun bisnis, tetapi menjauhi yang haram. Ia mencari harta, tetapi menggunakan hartanya untuk kebaikan. Ia ingin maju, tetapi tidak lupa bahwa dunia hanya sementara.

Sukses sejati adalah ketika dunia menjadi bekal akhirat, bukan penghalang menuju Allah.

Cara kaum muslimin mencapai kesuksesan dunia ini secara konsep berbeda dengan cara orang-orang di luar Islam. 

Kalau orang di luar Islam, mereka akan memaksimalkan upaya-upaya dunia mereka, melalui kerja keras banting tulang. Kerja, kerja, kerja, kerja tanpa henti. Selain itu juga melalui jalur pendidikan dunia yang setinggi-tingginya. Mendayagunakan secara maksimal akal dan rasio, melakukan riset-riset dan berinovasi tiada henti. Menggalakkan entrepreneurship, memaksimalkan potensi diri tanpa batas. Hingga waktu tidurnya sedikit. Fokus pada segala daya dan upaya yang sepenuhnya berorientasi dunia. 

Berbeda dengan kaum muslimin yang beriman yang seolah kesehariannya sudah terbebani banyak kewajiban dan sunnah syariat. Ada syariat sholat 5 waktu, sholat-sholat sunnah, bayar zakat, infaq, sedekah, puasa ramadhan dan puasa-puasa sunnah, naik haji, dan kewajiban serta sunnah lainnya. Seolah waktu tersisa untuk mencari dunia bagi kaum muslimin beriman hanya sedikit saja.

Bahkan waktu tidur orang beriman juga banyak berkurang. Bukan karena bekerja tapi karena ibadah. Justru kalau kaidah dalan syariat Islam, tidurlah di awal waktu (setelah Isya), bangun di 1/3 malam terakhir untuk melaksanakan sholat tahajjud, di pagi hari bertebaranlah di muka bumi mencari rejeki yang halal barokah sekedarnya dengan iman dan takwa dan banyak berdzikir. Dari kaidah ini bisa diketahui bahwa sedikitnya waktu tidur kaum muslimin beriman bukan karena bekerja banting tulang tetapi karena melaksanakan sholat malam. 

Namun demikian, walau waktu tersisa bagi kaum muslimim untuk mencari dunia seolah singkat, jika Allah berkehendak, maka dunia dan segala isinya akan diberikan kepada kaum muslimin sesuai dengan yang dikehendaki Allah. 

Alhasil kaidah dan keistiqomahan kaum muslimin beriman ini telah terbukti pernah melahirkan pengusaha-pengusaha hebat nan dermawan seperti Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dll. Dan bahkan di era para Sahabat Nabi itu pun dua negeri adidaya saat itu, Romawi dan Persia, berhasil ditaklukkan. 

Jadi bagi kaum muslimin, terdapat perbedaan cara menggapai kesuksesan dunianya. Kaum muslimin tidak akan meniru cara-caranya orang di luar Islam yang benar-benar full dan fokus hanya pada dunia, tetapi akan selalu istiqomah berupaya melalui cara-cara Islam seperti pernah dicontohkan generasi salafus shaleh. Namun demikian, seorang muslim tetap harus kerja keras, mengenyam pendidikan setingi-tingginya, melakukan riset, inovasi, dan kegiatan profesionalisme lainnya sesuai kemampuan. Namun demikian di sisi lain juga tetap selalu giat beribadah baik yang wajib dan sunnah.

Semoga Allah memudahkan kita meraih rezeki yang halal dan berkah, menjadikan kita pribadi yang produktif dan amanah, serta menjaga hati kita agar tidak diperbudak oleh dunia.

Wallahu a‘lam.