Senin, 02 Desember 2019

ISTIQOMAH ITU BERAT, KALAU RINGAN NAMANYA ISTIRAHAT


Istiqamah itu berat. Jika terasa ringan terus-menerus, mungkin itu bukan perjuangan, tetapi istirahat.

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Menjadi seorang Muslim yang berusaha taat kepada Allah tidak berarti hidup akan selalu mudah, tenang, dan bebas dari masalah. Justru, dalam banyak keadaan, semakin seseorang ingin memperbaiki diri, semakin terasa pula ujian yang datang.

Ada ujian dari diri sendiri, seperti rasa malas, hawa nafsu, kebiasaan lama, dan lemahnya semangat.

Ada ujian dari lingkungan, seperti komentar orang, godaan pergaulan, tekanan pekerjaan, atau budaya yang menjauhkan dari agama.

Ada pula ujian berupa harta, kesehatan, keluarga, kehilangan, kesedihan, dan berbagai keadaan yang menguji kesabaran.

Namun, semua itu bukan alasan untuk berhenti. Dunia memang tempat ujian. Sedangkan tempat istirahat yang sesungguhnya bagi orang beriman adalah surga.

Apa Itu Istiqamah?

Istiqamah berarti tetap teguh berada di jalan yang benar. Bukan hanya semangat sesaat, bukan hanya berubah ketika suasana mendukung, dan bukan hanya taat ketika sedang mudah.

Istiqamah adalah terus berusaha taat kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit, saat dipuji maupun dicela, saat hati sedang semangat maupun sedang lemah.

Orang yang istiqamah bukan berarti tidak pernah jatuh. Ia tetap manusia yang bisa salah, lelah, dan lalai. Namun, ketika jatuh, ia kembali bangkit. Ketika berdosa, ia bertaubat. Ketika melemah, ia mencari pertolongan Allah. Ketika diuji, ia belajar bersabar.

Istiqamah adalah perjalanan panjang sampai akhir hayat.

Jangan Mengira Iman Membuat Hidup Bebas Ujian

Sebagian orang mengira bahwa setelah berhijrah, meninggalkan maksiat, memperbaiki ibadah, dan berusaha menjalankan Al-Qur’an serta Sunnah, maka hidup akan langsung tenang tanpa masalah.

Padahal, Allah telah mengabarkan bahwa orang beriman akan diuji.

Allah berfirman:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)

Ayat ini mengingatkan bahwa pengakuan iman akan diuji. Ujian bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Ujian bisa menjadi cara Allah membersihkan, menguatkan, dan membedakan siapa yang sungguh-sungguh dalam keimanannya.

Iman bukan janji bahwa hidup akan selalu mudah. Iman adalah bekal agar seseorang tetap kuat ketika hidup terasa sulit.

Dunia adalah Tempat Menanam Amal

Dunia bukan tempat istirahat yang sempurna. Dunia adalah tempat bekerja, beramal, belajar, berjuang, dan menghadapi ujian. Di sinilah manusia menanam bekal untuk kehidupan akhirat.

Jika dunia dijadikan tujuan akhir, seseorang akan mudah kecewa. Sebab, dunia memang tidak pernah sempurna. Ada sehat dan sakit. Ada senang dan sedih. Ada lapang dan sempit. Ada pertemuan dan perpisahan. Ada keberhasilan dan kegagalan.

Namun, jika dunia dipahami sebagai ladang amal, maka setiap keadaan dapat menjadi jalan menuju kebaikan.

Ketika sehat, seseorang bisa bersyukur dan memperbanyak ibadah.

Ketika sakit, ia bisa bersabar dan berharap penghapus dosa.

Ketika diberi harta, ia bisa bersedekah.

Ketika diuji kekurangan, ia bisa belajar tawakal.

Ketika dipuji, ia menjaga hati dari sombong.

Ketika dicela, ia belajar sabar dan memperbaiki diri.

Begitulah cara orang beriman memandang dunia.

Surga adalah Tempat Istirahat yang Sebenarnya

Di dunia, orang beriman berjuang menjaga ketaatan. Ia menahan diri dari yang haram, menjaga shalat, menundukkan pandangan, menahan lisan, mencari rezeki halal, bersabar atas ujian, dan terus memperbaiki diri.

Semua itu tidak selalu mudah. Namun, Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

Tempat istirahat yang sempurna bukan di dunia, tetapi di surga. Di sanalah tidak ada lelah, tidak ada sakit, tidak ada kesedihan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada perpisahan. Di sanalah seorang hamba memanen rahmat Allah atas amal saleh yang dikerjakannya di dunia.

Karena itu, jangan berharap dunia menjadi surga. Dunia adalah perjalanan. Surga adalah tujuan.

Ujian Datang Sesuai Kadar Keimanan

Dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang siapa manusia yang paling berat ujiannya. Beliau menjawab bahwa yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya semakin berat. Jika agamanya lemah, maka ia diuji sesuai kadar agamanya.

Hadis ini memberi pelajaran penting. Ujian tidak selalu berarti kehinaan. Bisa jadi ujian adalah tanda bahwa Allah sedang mengangkat derajat seorang hamba, membersihkan dosanya, dan menguatkan imannya.

Namun, bukan berarti seseorang boleh mencari-cari ujian. Seorang Muslim tetap dianjurkan memohon keselamatan dan afiyah kepada Allah. Jika ujian datang, barulah ia bersabar dan menghadapinya dengan iman.

Ujian Bisa Menghapus Dosa

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa ujian akan terus menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa membawa dosa. Maknanya, musibah dan ujian yang dihadapi dengan sabar dapat menjadi sebab dihapusnya kesalahan seorang Muslim.

Ini adalah kabar yang menenangkan. Rasa sakit, kesedihan, kehilangan, kesempitan, dan berbagai ujian hidup tidak selalu sia-sia. Jika dihadapi dengan iman, sabar, dan ridha kepada ketetapan Allah, semua itu bisa menjadi kebaikan.

Namun, sabar bukan berarti tidak boleh sedih. Sabar bukan berarti tidak boleh menangis. Sabar bukan berarti pura-pura kuat. Sabar adalah menjaga hati, lisan, dan tindakan agar tetap berada dalam batas yang diridhai Allah.

Istiqamah Membutuhkan Kesabaran

Tidak ada istiqamah tanpa sabar. Sebab, menjaga ketaatan membutuhkan perjuangan.

Butuh sabar untuk menjaga shalat tepat waktu.

Butuh sabar untuk meninggalkan maksiat.

Butuh sabar untuk menjauhi lingkungan buruk.

Butuh sabar untuk menahan lisan.

Butuh sabar untuk mencari rezeki halal.

Butuh sabar untuk belajar agama.

Butuh sabar untuk menghadapi komentar orang.

Butuh sabar untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Karena itu, orang yang ingin istiqamah harus sering memohon pertolongan kepada Allah. Manusia lemah. Tanpa pertolongan Allah, hati mudah berubah dan semangat mudah turun.

Jangan Menyerah Ketika Semangat Turun

Dalam perjalanan hijrah dan perbaikan diri, semangat tidak selalu stabil. Ada hari ketika ibadah terasa ringan. Ada hari ketika hati terasa dekat dengan Allah. Namun, ada juga hari ketika rasa malas datang, hati terasa kering, dan amal terasa berat.

Jangan langsung menyerah ketika semangat turun.

Yang penting adalah jangan meninggalkan kewajiban. Jika belum mampu memperbanyak amal sunnah, tetap jaga yang wajib. Jika belum bisa membaca Al-Qur’an banyak, baca sedikit tetapi rutin. Jika belum mampu sedekah besar, sedekah semampunya. Jika terjatuh dalam dosa, segera bertaubat.

Istiqamah bukan berarti selalu berlari cepat. Kadang istiqamah berarti tetap berjalan meskipun pelan.

Cara Menjaga Istiqamah

Ada beberapa langkah praktis agar seorang Muslim lebih mudah menjaga istiqamah.

Pertama, jaga shalat wajib. Shalat adalah tiang agama dan penguat hubungan dengan Allah.

Kedua, perbanyak doa agar diberi keteguhan hati. Hati manusia mudah berubah, maka mintalah kepada Allah agar diteguhkan.

Ketiga, pilih lingkungan yang baik. Teman dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keistiqamahan.

Keempat, mulai dari amal kecil yang konsisten. Amal yang sedikit tetapi rutin lebih mudah dijaga daripada amal besar yang hanya sesaat.

Kelima, terus belajar ilmu agama. Ilmu membantu seseorang memahami arah hidup dan cara beribadah dengan benar.

Keenam, hindari pintu maksiat. Jangan hanya menjauhi dosa, tetapi juga jauhi jalan yang mengarah kepada dosa.

Ketujuh, ingat kematian dan akhirat. Mengingat akhirat membantu hati tidak terlalu larut dalam dunia.

Kedelapan, jangan terlalu keras pada diri hingga putus asa. Perbaikan diri membutuhkan proses.

Kesembilan, banyak beristighfar. Istighfar membersihkan hati dan mengingatkan bahwa kita selalu butuh ampunan Allah.

Kesepuluh, jangan mencari ridha manusia. Jadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Jangan Merasa Sudah Aman

Seseorang tidak boleh merasa pasti selamat hanya karena sudah mulai berhijrah atau sudah memperbaiki diri. Hidayah adalah nikmat yang harus dijaga. Iman bisa naik dan turun. Hati bisa kuat dan bisa lemah.

Karena itu, orang beriman perlu tetap rendah hati. Jangan merendahkan orang lain yang belum berada pada tahap yang sama. Jangan merasa lebih suci. Jangan merasa amal sudah cukup.

Teruslah berdoa agar diberi husnul khatimah. Sebab, yang paling penting bukan hanya memulai kebaikan, tetapi bertahan di atas kebaikan sampai akhir hidup.

Penutup

Istiqamah memang berat. Jika ringan, namanya istirahat. Dunia adalah tempat berjuang, bukan tempat menikmati ketenangan tanpa ujian. Orang beriman akan diuji agar tampak kesungguhan imannya, agar dosanya dihapus, dan agar derajatnya diangkat.

Namun, Allah tidak membebani hamba di luar kesanggupannya. Setiap ujian yang datang selalu berada dalam ilmu dan hikmah Allah. Tugas kita adalah terus memperbaiki diri, menjaga kewajiban, memperbanyak amal saleh, bersabar, dan memohon pertolongan Allah.

Jangan berhenti hanya karena lelah. Jangan kembali kepada maksiat hanya karena diuji. Jangan putus asa hanya karena belum sempurna.

Teruslah berjalan menuju Allah. Jika mampu berlari, berlarilah. Jika hanya mampu berjalan pelan, tetaplah berjalan. Jika terjatuh, bangkitlah kembali.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah, sabar dalam ujian, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Wallahu a‘lam.

Rujukan

  • Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 31.
  • Al-Qur’an Surah Al-‘Ankabut ayat 2.
  • Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 186.
  • Hadis tentang ujian yang menghapus dosa, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
  • Hadis tentang manusia yang paling berat ujiannya, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
  • Allâh Azza wa Jalla berfirman: Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31]
  • Allâh Azza wa Jalla berfirman: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]
  • Allâh Azza wa Jalla berfirman: Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]
  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allâh membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa [HR. at-Tirmidzi no.2398 , an-Nasâ’i di as-Sunan al-Kubrâ no. 7482 dan Ibnu Mâjah no. 4523 (Hadits shahîh. Ash-Shahîhah no. 143)]
  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu : “Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)]

Minggu, 01 Desember 2019

Resep Saus Sambal Rumahan dari Tomat dan Cabai


Saus sambal merupakan pelengkap makanan yang sering digunakan untuk menambah rasa pedas, manis, dan segar. Biasanya saus sambal cocok disajikan bersama telur dadar, omelet, gorengan, ayam, tahu, tempe, atau makanan rumahan lainnya.

Kali ini saya mencoba membuat saus sambal rumahan dengan bahan sederhana seperti tomat, cabai rawit, bawang putih, gula aren, garam, dan tepung talbinah sebagai pengental. Resep ini dibuat tanpa tambahan MSG, pewarna, dan pengawet buatan.

Karena dibuat sendiri di rumah, rasa pedas, manis, asin, dan tingkat kekentalannya bisa disesuaikan dengan selera.

Bahan-Bahan

  1. Tomat 8–10 buah, sesuai selera

  2. Bawang putih 1 bonggol, kupas kulitnya

  3. Cabai rawit segenggam, bisa dicampur dengan cabai keriting

  4. Gula merah atau gula aren 3 sendok makan

  5. Garam secukupnya

  6. Tepung talbinah 4 sendok makan

  7. Air secukupnya

  8. Air sekitar 300 ml untuk proses blender

Cara Membuat Saus Sambal Rumahan

  1. Cuci bersih tomat, bawang putih, dan cabai.

  2. Rebus tomat, bawang putih, dan cabai sampai matang.

  3. Setelah matang, tiriskan dan tunggu sampai agak dingin.

  4. Masukkan tomat, bawang putih, dan cabai rebus ke dalam blender.

  5. Tambahkan sekitar 300 ml air.

  6. Blender sampai semua bahan halus.

  7. Tuang hasil blender ke dalam wajan.

  8. Panaskan dan didihkan sambil sesekali diaduk.

  9. Masukkan gula merah atau gula aren.

  10. Tambahkan garam secukupnya.

  11. Aduk sampai gula larut dan rasa mulai menyatu.

  12. Larutkan tepung talbinah dengan sedikit air hingga membentuk adonan kental.

  13. Tuang larutan tepung talbinah ke dalam wajan sambil langsung diaduk agar tidak menggumpal.

  14. Masak terus dengan api kecil hingga saus mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan.

  15. Koreksi rasa. Jika ingin lebih pedas, manis, atau asin, sesuaikan dengan selera.

  16. Setelah matang, matikan kompor.

  17. Biarkan saus dingin terlebih dahulu.

  18. Tuang saus ke dalam wadah kaca yang bersih dan kering.

  19. Simpan di kulkas agar lebih awet.

Tips agar Saus Sambal Lebih Enak

Gunakan tomat yang matang agar rasa saus lebih segar dan warnanya lebih menarik. Jika ingin rasa lebih pedas, jumlah cabai rawit bisa ditambah. Jika ingin pedas yang lebih ringan, cabai rawit bisa dikurangi dan dicampur dengan cabai merah besar.

Bawang putih memberi aroma gurih pada saus. Namun, jika tidak ingin aroma bawang terlalu kuat, jumlahnya bisa dikurangi sesuai selera.

Gula merah atau gula aren dapat memberi rasa manis yang lebih khas dibanding gula pasir. Tambahkan sedikit demi sedikit agar rasa saus tidak terlalu manis.

Tepung talbinah digunakan sebagai pengental. Saat memasukkannya, pastikan sudah dilarutkan dengan sedikit air dan langsung diaduk agar tekstur saus tetap halus.

Cara Menyimpan Saus Sambal Rumahan

Karena saus ini dibuat tanpa pengawet buatan, penyimpanannya perlu diperhatikan. Gunakan wadah kaca yang bersih, kering, dan tertutup rapat.

Setelah saus dingin, simpan di dalam kulkas. Gunakan sendok bersih setiap kali mengambil saus agar tidak mudah terkontaminasi.

Sebaiknya buat saus dalam jumlah secukupnya dan habiskan dalam beberapa hari. Jika warna, aroma, atau rasa saus berubah, sebaiknya jangan dikonsumsi.

Saran Penyajian

Saus sambal rumahan ini cocok disajikan bersama telur dadar, omelet, ayam goreng, tahu, tempe, kentang goreng, atau gorengan lainnya. Saus ini juga bisa dijadikan pelengkap nasi hangat dan lauk sederhana.

Jika ingin rasa lebih segar, Anda bisa menambahkan sedikit perasan jeruk nipis saat saus akan disajikan.

Kesimpulan

Saus sambal rumahan dari tomat dan cabai adalah pelengkap makanan yang mudah dibuat. Dengan bahan seperti tomat, cabai rawit, bawang putih, gula aren, garam, dan tepung talbinah, saus sambal bisa dibuat sendiri sesuai selera.

Kunci membuat saus sambal rumahan yang enak adalah merebus bahan sampai matang, menghaluskannya dengan baik, memasak hingga rasa menyatu, dan menyimpannya dalam wadah bersih di kulkas.

Selamat mencoba.

Sabtu, 30 November 2019

Resep Omelet Jamur Kancing yang Praktis untuk Sarapan


Omelet merupakan salah satu menu sarapan yang praktis, mudah dibuat, dan bisa dikreasikan dengan berbagai bahan. Selain telur, kita bisa menambahkan jamur, bawang bombai, bawang putih, cabai, dan daun bawang agar rasanya lebih gurih dan aromanya lebih harum.

Kali ini saya mencoba membuat omelet jamur kancing sederhana. Untuk menggoreng, saya menggunakan minyak beras, minyak bekatul, atau rice bran oil sebagai salah satu pilihan minyak untuk memasak di rumah.

Resep ini cocok bagi Anda yang ingin membuat sarapan praktis dengan bahan sederhana, tetapi tetap terasa nikmat dan mengenyangkan.

Bahan-Bahan

  1. Telur ayam 3 butir

  2. Jamur kancing 5 buah ukuran sedang, iris tipis

  3. Bawang putih 3 siung, cincang halus

  4. Bawang bombai 1/2 buah, cincang halus

  5. Cabai merah 1 buah, iris tipis

  6. Daun bawang 1 batang, iris tipis

  7. Garam secukupnya

  8. Minyak beras, minyak bekatul, atau rice bran oil secukupnya untuk menumis dan menggoreng

Cara Membuat Omelet Jamur Kancing

  1. Pecahkan telur ke dalam mangkuk.

  2. Kocok telur hingga lepas, lalu tambahkan garam secukupnya.

  3. Sisihkan adonan telur sementara.

  4. Cincang bawang putih dan bawang bombai.

  5. Iris tipis jamur kancing, daun bawang, dan cabai merah.

  6. Panaskan sekitar 2 sendok makan minyak di dalam wajan.

  7. Masukkan bawang putih cincang, lalu tumis sebentar sampai harum.

  8. Tambahkan bawang bombai, kemudian aduk hingga layu.

  9. Masukkan irisan jamur kancing, daun bawang, dan cabai merah.

  10. Aduk sampai semua bahan tercampur rata dan matang.

  11. Angkat tumisan, lalu tiriskan dan sisihkan sementara.

  12. Panaskan kembali sedikit minyak di wajan.

  13. Tuang telur yang sudah dikocok ke dalam wajan.

  14. Masak sampai telur mulai setengah matang.

  15. Tuang tumisan jamur dan bawang secara merata di atas permukaan telur.

  16. Lipat omelet perlahan.

  17. Masak sampai telur matang sesuai selera.

  18. Angkat dan sajikan selagi hangat.

Tips agar Omelet Lebih Enak

Gunakan api kecil hingga sedang agar omelet matang merata dan tidak cepat gosong. Telur yang dimasak dengan api terlalu besar biasanya cepat kering di bagian luar, tetapi bagian dalamnya belum matang sempurna.

Jamur kancing sebaiknya ditumis terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam omelet. Hal ini membantu mengurangi kadar air pada jamur dan membuat aroma masakan lebih sedap.

Jika ingin omelet lebih tebal, gunakan wajan kecil. Jika ingin hasil lebih tipis dan mudah dilipat, gunakan wajan yang lebih lebar.

Cabai merah bisa digunakan sesuai selera. Jika tidak suka pedas, cabai dapat dikurangi atau dihilangkan.

Saran Penyajian

Omelet jamur kancing ini cocok disajikan sebagai menu sarapan. Agar lebih lengkap, Anda bisa menyajikannya bersama kentang rebus, brokoli rebus, jagung, roti panggang, atau nasi hangat.

Jika ingin rasa lebih segar, tambahkan irisan tomat atau mentimun sebagai pelengkap. Omelet ini juga bisa disajikan dengan saus sambal rumahan sesuai selera.

Kesimpulan

Omelet jamur kancing adalah menu sarapan sederhana yang mudah dibuat dan cukup mengenyangkan. Dengan bahan seperti telur, jamur kancing, bawang putih, bawang bombai, cabai merah, daun bawang, garam, dan minyak untuk memasak, omelet biasa bisa menjadi hidangan yang lebih menarik.

Kunci membuat omelet yang enak adalah menumis isian sampai harum, memasak telur dengan api sedang, dan melipat omelet dengan hati-hati agar bentuknya tetap rapi.

Selamat mencoba.