Tuesday, July 21, 2009

BOM BUNUH DIRI, JIHADKAH?


Share/Bookmark


Satu lagi kasus bom bunuh diri terjadi di Indonesia. Pada tanggal 17 Juli 2009 pagi, dua buah bom meledak hampir bersamaan. Satu bom meledak di Hotel JW Marriot, dan yang satunya lagi meledak tak jauh dari yang pertama, yaitu di Hotel Ritz Carlton.

Tetap saja pertanyaan yang akan sering muncul yaitu benarkah aksi bom bunuh diri ini adalah merupakan bentuk aksi jihad seperti yang diklaim para penganut pemikiran ekstrim tersebut? Lalu, apakah hal ini dibenarkan dalam islam? Barangkali seperti inilah pertanyaan yang akan muncul dari kebanyakan orang awam seperti kita. Tetapi kita tidak hanya bisa memutuskan sendiri, ya atau tidak, tanpa mengambil langkah berpikir yang benar. Untuk itu di sini mari kita coba renungkan bersama – bersama.

Kita bisa melihat bahwa jawaban yang beredar di tengah masyarakat terhadap pertanyaan di atas akan bervariasi. Banyak orang mengutuk dan beberapa semakin mengagung – ngagungkannya, dan juga tidak sedikit yang berlepas tangan dan menutup mata dengan slogan: yang penting diri sendiri selamat dan kondisi sekitar aman.

Tapi para ‘alim ulama di berbagai negara islam seperti misalnya di Arab Saudi kebanyakan tidak membenarkannya. Banyak ulama – ulama besar yang mengeluarkan fatwanya yang tidak membenarkan tindakan aksi bom bunuh diri sebagai bagian dari jihad. Hal mengenai ini secara lengkap, salah satunya bisa Anda baca dalam buku karangan Al Ustadz Dzulkarnain bin Muhammad Sanusi yang berjudul Meraih Kemuliaan Melalui Jihad yang sekaligus juga di dalamnya berisi sanggahan – sanggahan terhadap buku Aku Melawan Teroris karya Imam Samudera.

Lalu selanjutnya kita akan berbicara mengenai islam secara sekilas dalam hubungannya dengan praktek kekerasan. Kita tahu bahwa jalan islam adalah jalan pertengahan antara yang ekstrim dan yang menyepelekan. Islam adalah jalan yang lurus, jalannya orang yang berserah diri kepada Allah yang mana akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang mengikutinya. Jalan yang mengatur kodrat naluriah manusia yang tak lepas dari nafsu, dan juga mengatur kewajibannya untuk beribadah kepada Allah. Islam tidak mengajarkan manusia untuk berbuat kerusakan dan melakukan tindak kekerasan di muka bumi tanpa alasan yang dibenarkan. Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk beribadah secara total kepada Allah sehingga melupakan hak – hak duniawinya. Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan saling pengertian dengan pemeluk agama lainnya. Islam mengajak umat lainnya agar tidak saling menggangu selama tidak ada pelanggaran terhadap kesepakatan perdamaian.

Sementara itu, dalam kasus aksi teror bom seperti yang selama ini terjadi, kita dalam hal ini bisa mengkategorikannya sebagai sikap ekstrim. Sikap yang ekstrim adalah sikap yang melampaui batas dimana dilarang dalam islam. Sementara kita tahu bahwa islam bukan agama yang melembagakan kekerasan. Kalaupun kekerasan terpaksa harus dilakukan, baik sebagai upaya pertahanan maupun sebagai upaya menyerang musuh demi mengukuhkan agama Allah, maka hal itu adalah langkah yang paling terakhir dilakukan, setelah terpenuhi syarat – syarat yang menghalalkannya. Selain itu harus ada juga pertimbangan – pertimbangan mengenai kemungkinan – kemungkinan dalam pelaksanannya apakah akan cenderung membawa kemaslahatan bagi kaum Muslimin seluruhnya apa tidak.

Menurut para ahli Agama, terminologi jihad memiliki beberapa ketentuan. Apabila jihad yang dimaksud adalah yang berhubungan dengan suatu tindakan kekerasan secara fisik, maka kita akan bisa membaginya ke dalam dua tipe, yaitu jihad bertahan dan jihad menyerang. Jihad bertahan adalah wajib dilakukan oleh setiap umat muslimin yang diserang musuh dengan tidak terkecuali, karena hal ini ada hubungannya dengan mempertahankan nyawa, keluarga, harta, dan agama terhadap serangan musuh yang akan membinasakannya. Sementara itu, jihad menyerang berbeda dengan tipe yang pertama. Jihad menyerang ini harus memenuhi 3 syarat untuk bisa dikatakan sebagai jihad, yaitu ada persetujuan pemimpin muslim, ada kemampuan dan kekuatan yang cukup untuk melakukannya, dan ada wilayah kekuasaan.

Selain itu, dalam pelaksanaan aksi jihad ini, juga harus selalu ditaati beberapa ketentuan yang harus dipegang teguh oleh pelakunya. Beberapa diantaranya yaitu tidak melakukan pembunuhan terhadap orang yang diharamkan untuk dibunuh seperti wanita, anak – anak, orang lanjut usia, orang cacat yang tidak punya kemampuan ikut dalam perang, saudara seagama yang menegakkan shalat, pihak musuh yang telah tunduk dengan membayar jizyah, pihak di luar islam yang mendapat jaminan perlindungan dari Negara (termasuk di dalamnya turis, utusan, dan pekerja asing). Kalaupun misalnya dalam aksi jihad sejumlah dari mereka yang dilarang untuk dibunuh ini terbunuh juga, maka wajib bagi pasukan muslimin yang melakukannya dan juga pihak yang bertanggung jawab atasnya (pimpinannya) membayar denda terhadap keluarga yang terbunuh. Ini menunjukkan bahwa alasan ketidaksengajaan pun tidak dibenarkan kerena tetap dibebani tanggung jawab atau hukuman. Selain itu, juga ada ketentuan untuk selalu diupayakan agar tidak melakukan peperangan pada bulan – bulan haram kecuali terpaksa. Ada juga larangan untuk melakukan pengrusakan harta benda dan beberapa hal lainnya yang tidak bisa disebutkan secara detail beserta dalil – dalilnya dalam penulisan yang singkat ini.

Banyaknya ketentuan – ketentuan tersebut sebenarnya bukanlah sesuatu yang diada –adakan oleh para ahli agama, seperti yang selalu dituduhkan oleh kelompok ektrimis dimana mereka menganggap hal itu merupakan usaha untuk menghalang – halangi aksi jihad fi sabilillah. Para ahli agama itu merumuskan ketentuan – ketentuan yang rumit tersebut dengan mendasarkannya pada Al Quran dan Al Hadis, dimana dengan kedalaman pemahaman mereka terhadap ilmu Fiqih dan ilmu Tuhid, mereka mempunyai kapasitas dalam menentukan ini benar atau tidak, ini halal atau haram.

Kita juga harus tahu bahwa menjadi seorang ‘alim ulama sebenarnya merupakan tugas berat, dan tidak sembarang orang mampu sampai pada derajat ini. Mereka harus mempunyai pemahaman yang dalam mengenai bahasa arab, tata bahasanya, sastranya, menghatamkan buku – buku dan kitab – kitab yang tebal – tebal dan juga mengkajinya. Sangat tidak mungkin bagi kebanyakan kalangan kita melakukannya kecuali mereka yang benar – benar dipilih dan dikehendaki oleh Allah. Melalui tangan para ‘ulama, Allah memelihara kemurnian agama ini hingga sekarang, semenjak putusnya perutusan Allah yaitu para Nabi dan Rasul. Allah telah menjanjikan bahwa agama Allah ini tidak akan pernah padam sampai hari kiamat kalau pun mereka yang memusuhi islam berupaya menghapuskannya.

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (QS. Ash Shaff: 8).

Para ulama, dengan kedalam ilmu yang mereka punyai, tentunya mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap amanat yang diembannya karena mereka merupakan orang yang paling takut kepada Allah. Jadi tidaklah mungkin bagi mereka untuk menjerumuskan umat islam ini pada kesesatan, perpecahan, kelemahan, yang akhirnya berujung pada kehancuran dan kebinasaan. Apabila mereka berbuat demikian tentulah mereka mendapat siksasan Allah sangat pedih.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir: 28).

Sebenarnya apabila kita menghindari sikap berburuk sangka terhadap para ‘alim ulama ini kita bisa melihat bahwa dengan banyaknya aturan yang demikian ketat dalam praktek jihad, menunjukkan bahwa islam sebenarnya memang benar – benar merupakan agama yang cinta damai, dan tidak menganjurkan pemecahan masalah melalui jalur kekerasan. Kekerasan – kekerasan dalam konteks jihad dipertimbangkan melalui aturan yang sangat kompleks sesuai dengan yang ditentukan Allah. Hal ini menunjukkan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, sebagai perwujudan sifat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

……………….Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (QS. Al Baqarah :251).

…………………Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfaal :73).

Dan dalam masa sekarang ini, dimana jalur utusan Allah telah tertutup, maka menjadi tugas para ‘ulama inilah yang mana agama islam akan tetap dipelihara agar sesuai dengan kaidah – kaidah yang seharusnya, yaitu sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya. Karenanya kita, suka maupun tidak, harus percaya dan mengikuti fatwa – fatwa mereka. Pemimpin – pemimin islam pun harus mengikuti mereka dalam urusan syari’at.

Dari sisi lain, apabila kita membaca sirah (sejarah hidup) Nabi Muhammad SAW, kita juga bisa menyimak bagaimana Rasulullah SAW memberi tuntunan kepada kita dalam ibadah jihad. Dalam setiap peperangan yang dilakukan oleh Beliau selama memimpin kaum Muslimin, semua peperangan dilakukan secara gentle, dan tidak pernah ada aksi bunuh diri dan serangan terselubung. Walaupun di dalamnya ada manuver – manuver maupun siasat dan tipu muslihat, tetapi kesemuanya itu dilakukan demi kemaslahatan yang lebih besar bagi umat Muslimin. Tipu muslihat ini dilakukan dengan maksud bagaimana caranya pertumpahan darah yang lebih besar bisa dihindari, dan bahkan sebisa mungkin pertumpahan darah itu sendiri dihindari. Karena itulah tipu muslihat itu hanya diperbolehkan dalam kondisi perang.

Semua peperangan dilakukan melalui perjuangan mati – matian sampai titik darah penghabisan setelah mengupayakan terciptanya kemengangan. Semboyannya adalah hidup mulia atau mati syahid, yang mana tidak bisa hanya mati syahid saja yang diharapkan, tetapi hidup dalam kemengangan yang harus diperjuangkan terlebih dahulu.

Rasulullah tidak pernah memerintahkan kepada pasukan muslimin untuk melakukan aksi bunuh diri dan menerjunkan diri dalam pertempuran tanpa tujuan yang jelas. Tidak pernah tercatat bahwa rasul mengintruksikan pasukannnya untuk membakar dirinya lalu menerjunkan dirinya ke dalam barisan pasukan musuh dengan maksud melakukan aksi serangan bunuh diri. Bahkan rasul melarang pasukannya untuk maju sendirian keluar barisan menuju ke tengah – tengah musuh sebelum ada intruksi dari beliau. Walaupun pasukan Muslimin terkenal berani dan tak takut mati, tetapi rasul menyuruh mereka semua agar mampu mengendalikan keberaniannya itu dengan taat kepada pimpinan agar tidak membawa jiwa mereka kepada kebinasaan yang sia – sia.

Melalui Sirah Nabawiyah, kita bisa melihat bahwa sejumlah pasukan Muslimin tewas dalam suatu pertempuran ataupun mengalami kekalahan, tetapi semua tujuannya jelas tercapai yaitu mampu membuat musuh gentar. Akhirnya, kalaupun musuh mampu mengalahkan pasukan muslimin tetapi hal itu tidaklah mereka lakukan dengan mudah. Musuh akan selalu berpikir berkali – kali untuk menghadapi pasukan Muslimin kembali dimana menurut pandangan mereka walaupun jumlahnya sedikit tetapi ternyata pasukan Muslimin mampu membunuh banyak dari kalangan mereka.

Hal inilah yang dimaksud dengan membuat gentar musuh itu, yang mana lebih mengarah kepada menciptakan keseganan dan kegaguman terhadap pasukan Muslimin, dimana sebenarnya hal ini juga merupakan aksi dakwah untuk mengenalkan pada khalayak ramai bahwa Allah akan selalu berpihak kepada pasukan Muslimin. Bukan seperti yang dilakukan para pelaku bom bunuh diri dimana semakin menambah kebencian mereka yang memusuhi islam sehingga mereka semakin beringas dan semakin tidak percaya kepada islam. Hal ini tentu saja menutup pintu dakwah islam. Mereka pun semakin arogan untuk memusnahkan seluruh umat muslim dengan alasan menghapuskan teror sebagai legalisasi aksinya.

Selanjutnya ada hal yang juga bisa kita renungkan dari aksi bom bunuh diri ini, yaitu tidak adanya efektifitas dalam menegakkan kalimat Allah seperti halnya jihad yang sebenarnya. Malahan orang – orang yang tidak senang dengan islam akan semakin punya bahan fitnah, dan semakin leluasa melakukan pemusnahan terhadap islam dengan slogan anti terorisnya. Bisa dikatakan ini merupakan aktivitas teror yang kemudian tidak membuat musuh gentar, tetapi malah membuat musuh semakin arogan dan membalas dengan aksi teror yang lebih besar dimana membahayakan eksistensi kaum Muslimin sendiri.

Misalkan, anggap saja dilakukan aksi bom bunuh diri oleh pejuang Palestina terhadap daerah pemukiman Israel. Dari aksi ini paling – paling sekitar 15 - 20 orang penduduk Israel tewas. Tentu saja terhadap hal ini, Israel tidak akan tinggal diam. Israel dengan alasan – alasannya kepada dunia akan lebih leluasa lagi dan merasa mempunyai legalisasi untuk menyerang Palestina. Sekali mengeluarkan aksi militernya, bisa 60 – 80 orang Palestina yang tewas. Sedangkan di pihak mereka sendiri tidak ada korban jiwa. Dalam membunuhi warga palestina ini mereka juga akan berbuat serampangan dan bahkan lebih malampaui batas lagi. Wanita dan anak – anak seringkali menjadi korban. Hal ini tentu tidak sebanding dengan apa yang telah dikorbankan dari aksi bom bunuh diri. Inilah yang dimaksud dengan tidak ada efektifitasnya serangan dengan bom bunuh diri ini.

Efek buruk dari aksi bom bunuh diri lainnya ini adalah munculnya perpecahan umat islam itu sendiri. Kita bisa melihatnya dari aksi tuduhan “kafir” tehadap sejumlah ‘alim ulama dengan alasan para ‘alim ulama terlalu lembek dan menjadi antek musuh. Padahal kita tahu sebenarnya di tangan mereka yang punya ilmu mendalam mengenai Fiqih dan ilmu Tauhid inilah ajaran islam terpelihara hingga masa ini. Selain itu semakin banyak kelompok yang memisahakan diri dari jama’ah dan membentuk gerakan sendiri, yang mana hal ini berpotensi juga untuk menyulut perpecahan.

Jadi kita bisa melihat bahwa aksi bom bunuh diri ini tidaklah bisa dibenarkan apabila mengatasnamakan islam. Barangkali aksi ini hanya bisa dikatakan sebagai aksi lanjutan dari semangat yang meluap – meluap, dendam yang membara, dibalut dengan doktrin – doktrin yang semakin membuat motivasi itu meledak – ledak lalu terjadilah aksi – aksi fisik yang brutal. Sementara itu di sisi lain, ilmu dan pemahaman agama mereka kurang. Akal pun tidak jalan karena terlanjur tertutupi oleh semangat yang terlampau menggebu – gebu itu sehingga yang dilihatnya hanyalah efek aksi itu dalam jangka pendek saja, tidak dalam tujuan yang lebih luas bagi umat islam. Kondisi pemikiran seperti inilah yang kemudian membawa mereka pada tindakan – tindakan ekstrim dan melampaui batas yang sebenarnya membahayakan Umat Muslimin secara keseluruhan dalam beberapa waktu ke depan.

Apabila kita merenungkan baik – baik, kita akan menyadari bahwa sebenarnya tujuan inilah yang memang hendak dicapai oleh musuh – musuh islam yang telah semenjak dulu berupaya melakukan tipu muslihat untuk melemahkan agama Allah. Mereka menciptakan segala konspirasi yang ada ini sebenarnya adalah untuk melemahkan pengaruh para ‘alim ulama itu terhadap masyarakat islam. Apabila umat islam sudah tidak mengikuti para ‘alim ulama tentulah akan ada kekacauan karena semua orang seolah – olah akan mempunyai hak dalam memutuskan suatu perkara, halal atau haram. Semua orang akan marasa dirinya pantas terhadap tanggung jawab itu. Perpecahan umat akan semakin meruncing dan akan membawa pada kelemahan terhadap kesatuan umat dan akhirnya berujung pada kehancuran umat islam. Jadi musuh – musuh islam itu nantinya akan dengan mudah semakin memperkukuh kekuatan mereka dan membuat kerusakan di muka bumi.

Kenapa kita tidak sadar akan hal ini, padahal ini adalah politik lawas, devide et impera. Sementara, kita tahu bahwa kekuatan yang menghalangi pelaksanaan politik pecah belah ini adalah keberadaan pengaruh ‘alim ulama di tengah – tengah masyarakat islam. Kita bisa lihat contoh kasusnya dari perang Aceh dimana agen mata – mata Belanda, yang bernama Snouck Hugronye yang melakukan penelitiannya di Aceh mulai tanggal 16 Juli 1891 sampai 4 Februari 1892, telah memberikan kesimpulannya mengenai hal ini. Menurut Snouck dalam “Laporan Politik Agama” yang disampaikannya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, di Aceh ada tiga kekuatan yang saling mempengaruhi rakyat Aceh untuk menentang pemerintah kolonial Belanda. Dari ketiga pihak ini, pihak sultan adalah pihak yang bisa disisihkan dan pihak adat adalah pihak yang bisa diajak kompromi. Sedangkan pihak ulama, adalah pihak yang paling tidak kenal damai dan paling tegar. Karenanya harus ditumpas habis, agar tidak tumbuh kembali menjadi kekuatan potensial menentang pemerintah kolonial Belanda.

Dari situ kita bisa lihat bahwa pengaruh para ‘alim ulama inilah yang memang diupayakan untuk dihilangkan dalam kehidupan masyarakat muslim saat ini. Apabila pengaruh mereka bisa dihilangkan, maka politik adu domba bisa semakin lancar pelaksanaannya. Dengan menguatnya persepsi dan mosi – mosi tidak percaya terhadap para ‘alim ulama seperti yang terjadi saat ini, kita bisa melihat bahwa langkah – langkah aksi konspirasi mereka semakin menunjukkan indikasi keberhasilan.

Praktek konspirasi ini, sementara di sisi lain juga dibarengi dengan upaya – upaya untuk merusak generasi muda islam. Muda – mudi kita dialihkan perhatiannya kepada para artis dan selebritis dan budaya barat yang kebanyakan tidak memberi contoh yang baik kepada mereka. Mereka semakin terlena kepada mimpi – mimpi keduniaan yang ditawarkan oleh acara – acara televisi sehingga semakin jauhlah mereka terhadap para ‘alim ulama. Dan bisa dikatakan bahwa perilaku mereka pun akan semakin jauh dari agama. Kita bisa melihat ini dalam kehidupan sehari – hari. Di sisi lain, kelompok ekstrimis semakin fanatik dengan paham dan tokoh – tokoh mereka. Gerakan – gerakan islam yang semakin banyak bermunculan juga semakin banyak orang – orang yang mengikutinya, dan juga beberapa semakin fanatik pula pada ajaran gerakannya dan pada tokoh – tokohnya. Inilah yang kemudian semakin memperuncing masalah.

Kalau di atas telah dijelaskan bahwa jalan yang islam adalah jalan pertengahan antara yang ekstrim dan yang menyepelekan, maka bisa dikatakan jarak keduanya (yang ekstrim dan yang menyepelekan) semakin diperlebar terhadap jalan yang islam sehingga akan melamahkan jalan yang islam yang berada diantaranya, karena semakin banyak masyarakat islam yang tertarik pada jalan yang ekstrim atau yang menyepelekan.

Untuk itulah berprasangka baik terhadap para ‘alim ulama adalah jalan untuk kembali menyatukan jama’ah. Jangan sampai kita mudah termakan fitnah – fitnah yang dilontarkan sekelompok orang terhadap mereka. Memang telah datang zaman dimana orang hina dimuliakan dan orang mulia dihinakan.

”Akan datang kepada manusia tahun – tahun yang menipu, (dimana) akan dibenarkn padanya orang yang berdusta dan dianggap dusta orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap berkhianat dan akan berbicara Ar Ruwaibidhoh. Ditanyakan, “Siapakah Ar Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab, “Orang dungu yang berbicara tentang perkara umum.”. (diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam Ahmad, Ibnu Majjah, Al Hakim, dll. Dishohihkan oleh syaikh Al Albany, Syaikh Muqbil)

Jadi kita juga harus bisa memikirkan hal ini bersama – sama. Kalaupun setidaknya kita tidak bisa banyak berbuat banyak, setidaknya kita ikut memikirkan pemasalahan umat ini. Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang benar.

Selanjutnya bagaimana kita bisa tahu, siapa saja para ‘alim ulama itu? Sementara sekarang semuanya menjadi serba tidak jelas, mana yang benar – benar ‘alim ulama dan mana yang bukan. Seperti yang telah dijelaskan di atas mereka ini adalah yang dalam pengetahuannya terhadap masalah agama. Mereka paham mengenai ilmu Fiqih dan Tauhid sehingga punya wewenang dalam menentukan halal – haram, boleh atau tidak. Karena mereka adalah orang yang paling takut kepada Allah tentulah sikap – sikap mereka menunjukkan ciri teladan umat yang baik. Mereka ini bukanlah orang yang gemar mencari harta dan memamerkannya, bukanlah orang yang senang melakukan maksiat dan sangat hati – hati dalam menyampaikan risalah agama. Semoga Allah memberi jalan bagi kebangkitan islam melalui tangan mereka ini.

Dan suatu langkah yang diwajibkan apabila kita dalam setiap permasalahan selalu menyerahkannya kepada mereka.

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. Al Anbiya: 7).

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An Nisa: 83).

Mengenai segala permasalahan agama janganlah kita berspekulasi sendiri, yang mana hanya akan membawa umat kepada perpecahan, kelemahan dan akhirnya kehancuran. Kalau para ‘ulama ini merumuskan fatwa – fatwa itu dari Al Quran dan Al Hadis tentu tidaklah mungkin ada pertentangan antar mereka, kecuali sedikit saja dimana hal ini bisa dikompromikan. Tetapi merekalah yang lebih benar daripada orang – orang awam seperti kita. Dan suka ataupun tidak, kita wajib mengikuti fatwa – fatwa yang dikeluarkannya tersebut.

Demikian tulisan saya ini, semoga bermanfaat, dan terakhir saya suguhkan pesan Nabi Muhammad mengenai pentingnya keberadaan ‘ulama di tengah – tengah kita.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya para hamba, akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan) para ulama sampai bila tidak tersisa lagi seorang alim ulama maka manusia pun mengambil para pemimpin yang bodoh, maka mereka pun ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu maka sesatlah mereka lagi mnyesatkan.”. (Hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majjah).

Wednesday, July 15, 2009

HAMIL DI LUAR NIKAH? BIASA!


Share/Bookmark


Suatu waktu, saya pernah makan di sebuah warung sederhana. Warung itu terletak di suatu sudut pasar sebuah kampung. Ya sekedar cari makan yang murah dan halal gitu. Ketika saya sedang dengan lahapnya makan, tak sengaja saya mendengar pembicaraan dua orang laki – laki. Salah satunya seorang pemuda, dan yang satunya lagi seorang bapak – bapak yang tidak terlalu tua umurnya. Sebenarnya bukan maksud saya untuk mencuri dengar. Tetapi hanya saja karena warung itu tidak terlalu besar, tentu saja pembicaraan antara dua orang lelaki itu, yang juga nongkrong di warung tempat saya makan, terdengar secara otomatis.

Setelah beberapa pembicaraan berlalu, maka sampailah pembicaraan kedua orang itu kepada masalah keluarga.

“Oh ya! Gimana kabar adik perempuanmu itu?,” Tanya si bapak – bapak kepada pemuda itu, “udah lama gak ketemu, tentunya sekarang dia sudah besar.”

Si pemuda itu menjawab, “Wah iya Pak…anu…,” pemuda itu garuk – garuk kepala, “Adik saya itu kecelakaan.”

Sejenak si bapak – bapak itu nampak terkejut mendengar itu. Tetapi dari raut muka si pemuda itu, si bapak – bapak tersebut kemudian mengetahui bahwa yang dimaksud oleh si pemuda itu “kecelakaan” bukanlah “kecelakaan” yang dia maksud.

“Ooo…kecelakaan!,” bapak itu manggut –manggut sebagai tanda mengerti, “sekarang kalo seperti itu sih sudah biasa dik.”

Spontan sebenarnya aku terkejut mendengar komentar si bapak – bapak tersebut. Seolah – olah, beliau dengan begitu entengnya memberi komentar yang serupa itu. Padahal kalo menurutku suatu “kecelakaan” seperti itu janganlah dianggap “biasa”. Tentunya nantinya hal – hal demikian akan dianggap sebagai kebiasaan pula oleh masyarakat. Apabila sudah menjadi kebiasaan tentu saja pada masa – masa yang akan datang, tidak akan ada rasa bersalah lagi bagi mereka yang melakukannya.

Seks bebas memang saat ini sudah mulai menjadi tren. Suatu hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 6 – 20% anak SMU dan mahasiswa di Jakarta pernah melakukan hubungan seks pranikah. Lebih mengagetkan lagi, survei yang dilakukan terhadap mahasiswa – mahasiswa kedokteran di sebuah universitas swasta menyatakan bahwa 35% dari mereka sepakat tehadap adanya seks pranikah. (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0207/08/ nas11.html).

Bukankah hal ini sudah mulai kelewatan. Legalisasinya sudah mulai muncul dengan adanya anggapan di kalangan muda – mudi sekarang yang menyatakan kalau tidak melakukannya berarti gak mengikuti jaman. Lebih jauh lagi, orang yang tidak mau melakukannya seringkali akan disebut kuno, ketinggalan jaman, homo, lesbi, lemah syahwat, dan apalah. Persepsi yang demikian tentunya sangat merusak moral.

Padahal kita tahu bahwa zinah adalah merupakan salah satu dosa besar. Kepada perempuan besuami yang berzinah saja hukumannya adalah dirajam sampai mati menurut syaria’at islam. Bagi pezinah yang tidak demikian tentunya hukumannya juga berat kan?. Seharusnya!

Kita juga tahu, kalo kita dengar cerita orang – orang tua dahulu, misalnya kakek – kakek dan nenek – nenek kita dalam mengarungi masa mudanya, tentulah tidak akan pernah mendengar ada cerita demikian dalam hidup mereka. Karena orang – orang jaman dahulu masih kental budaya ketimurannya. Karena belum adanya pengaruh budaya barat, maka hubungan antara pria dan wanita dalam persepsi mereka adalah sesuatu yang sakral. Tidak boleh dilanggar. Mereka menjadi serba sungkan kalau berada di dekat wanita yang bukan muhrimnya. Tentu saja dengan demikian mereka bisa menjaga dirinya dari zina. Mereka menganggap bahwa zina ini adalah tindakan yang tidak terpuji, tercela, kotor, sesat, tidak sesuai dengan budaya, tidak sesuai dengan agama. Dengan anggapan demikian kita bisa lihat orang – orang jaman dahululah yang labih kuat dalam menjaga bahtera rumah tangga mereka. Sulit sekali dijumpai kawin cerai pada masa dahulu.

Tapi sekarang, bukankah persepsi demikian sudah mulai berbalik 180 derajat? Kalaupun tidak terlalu besar saat ini, tetapi bisa diramalkan bahwa persepsi itu akan semakin meluas di masyaratakat dan dalam beberapa jangka waktu ke depan semua masyarakat akan memberikan persetujuan sosialnya terhadap masalah ini. Kalau hal pembiasaan semacam ini terus terjadi, dan persepsi positif mengenai seks pra nikah terus meluas hingga menimbulkan persetujuan sosial terhadapnya, bisa saja suatu saat nanti, kondisinya akan semakin parah. Pergeseran nilai – nilai luhur akan semakin mengarah pada budaya jahiliyah.

Dengan deikian, secara otomatis, selanjutnya, pikiran saya jadi melayang jauh. Misalnya saja sebuah contoh mengenai pergeseran persepsi ini dapat dilihat dalam kisah imajinasi saya berikut. Sekitar 40 tahun lagi dari sekarang, ketika saya sudah menjadi “orang”, saya kembali makan di warung tersebut. Warungnya bukan lagi warung yang sederhana seperti 40 tahun yang lalu, tetapi sekarang sudah bekelas restoran. Dan di warung tersebut saya kembali secara tak sengaja mendengar perbincangan antara dua orang yang mirip – mirip dengan perbincangan di atas. Misalnya perbincangan kali ini adalah antara dua orang, yang satu seorang tante – tante dan seorang lagi seorang wanita muda. Berikut perbincangan di antara keduanya.

“Oh ya! Gimana kabar adik perempuanmu itu?” Tanya si tante – tante kepada si wanita muda itu, “udah lama gak ketemu, tentunya sekarang dia sudah besar.”

Si wanita muda itu menjawab, “Wah iya Tante…anu…” wanita itu senyam – senyum, “Adik perempuan saya itu hamil setelah diperkosa orang banyak.”

“O…begitu!,” tante itu manggut –manggut, namun tidak nampak sekali bahwa dirinya terkejut mendengar itu, tidak seperti empat puluh tahun yang lalu. Lalu dia melanjutkan, “Wah, sekarang kalo seperti itu sih sudah biasa dik.”

Boleh saja ini hanyalah sebuah imajinasi. Tapi hal ini tentunya memungkinkan apabila suatu saat nanti akan terjadi demikian. Seperti kita ketahui apabila tidak ada suatu system yang revolusioner, budaya itu semakin lama akan semakin bergeser menuju budaya jahiliyah kembali, apabila semakin banyak manusia yang meninggalkan agamanya. Kalau memang nantinya benar – benar menjadi seperti itu, wah…Apa Kata Dunia?

AURAT SEORANG BIDUWANITA MUSLIMAH


Share/Bookmark


Dalam beberapa kesempatan saya sering melihat seorang artis Muslimah yang sedang diwawancarai oleh wartawan media infotainment dalam suatu acara bergenre gossip. Dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan kepadanya itu, sering ia menunjukkan identitas keislamannya dengan megucapkan lafadz – lafadz pujian kepada Allah. Seperti Alhamdulillah! MasyaAllah! Astagfirullah! Insya Allah! Dan lain sebagainya.

Akan tetapi ada sesuatu yang janggal. Dan saya tidak habis pikir mengenai hal ini. Bagaimana ia bisa menyebut – nyebut kata – kata suci itu, sementara ia sedang mengenakan pakaian yang auratnya kelihatan. Entah belah dadanya yang kelihatan, atau pahanya yang mulus itu yang kelihatan. Atau dalam suatu hal yang lebih samar walaupun tetap saja salah, lekuk – lekuk tubuhnya itu yang terlihat jelas melalui pakainnya yang ketat.

Sungguh sangat disayangkan. Seorang public figure Muslimah yang seharusnya memberi contoh kepada muslimah – muslimah fansnya, kenyataannya memberikan contoh yang tidak baik dalam hal caranya berpenampilan. Apakah mereka mengucapkan kata – kata itu hanya agar supaya nampak sebagai seorang Muslimah yang baik? Lalu bagaimana dengan belah dadanya yang kelihatan itu? Apakah hanya sebuah Eye Cather saja agar semua perhatian tertuju kepadanya? Lantas muncul juga pertanyaan apakah mereka hanya menjadikan ungkapan – ungkapan keTuhanan itu sebagai praktek dagang mereka saja, agar mereka tampak sebagai wanita – wanita yang alim, dan dengan demikian semakin banyak fansnya, sehingga mereka lebih laku di dunia hiburan? Sungguh, hal ini tidak pernah saya habis pikir dibuatnya? Kenapa mereka melakukan perbuatan bodoh itu.

Padahal sudah jelas di dalam Al Quran mengenai masalah menutupi aurat ini.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS. Al Ahzab:59).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nur: 31).

Dari ayat – ayat di atas dapat dilihat bahwa sesuatu yang sangat dianjurkan bagi seorang muslimah untuk mengenakan pakaian yang secara total menutupi seluruh tubuhnya, sehingga auratnya tidak tampak, seperti tonjolannya dan lekukan tubuhnya. Selain itu pakaian itu juga harus mampu menutupi perhiasan – perhiasan yang dia pakai seperti kalung, gelang tangan, gelang kaki, dan anting. Hal ini perlu dilakukan yang mana sebenarnya demi kebaikan mereka juga. Yaitu agar mereka dikenal sebagai seorang muslimah, dan selain itu, karena seluruh tubuhnya tertutupi, maka mereka tidak akan diganggu atau digoda oleh para lelaki. Akan tetapi anjuran islam ini memang telah banyak sudah ditinggalkan oleh kaum wanita Muslimin jaman sekarang, walaupun tujuan sebenarnya dari ketetapan Allah yang demikian adalah baik. Tidak bisa dipungkiri, memang tidak semua manusia mau menuruti kebenaran – kebenaran yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, karena kebanyakan manusia memang bukanlah orang yang menyenangi kebaikan. Mereka senang melakukan kerusakan di muka bumi.

Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.
(QS. Az Zukhruf : 78)

Artis – artis itu seolah – olah lupa bahwa diri mereka adalah seorang Muslimah. Apakah mereka hanya termasuk kumpulan orang yang tidak tahu mengenai kewajiban menutup aurat itu, ataukah mereka termasuk ke dalam kelompok yang tidak mau tahu. Tetapi kenyataannya pada kelompok yang belakangan inilah, yang menurut saya, mereka banyak terdapat. Mereka malah semakin menjadi – jadi. Dengan alasan membuat sensasi, atau tampil beda, berekspresi bebas dalam seni, atau tuntutan profesi maka aturan – aturan agama itu dilanggar. Sudah tidak ada rasa bersalah lagi bagi mereka dalam menerima tawaran untuk tampil seronok. Dengan alasan acting, berkesenian, dan lain sebagainya yang barangkali sebenarnya hanya urusan dunia dan tidak ada pesan moralnya sama sekali. Semua hanya untuk menambah popularitas dan ujung – ujungnya uang.

Makanya, untuk menutupi kebobrokan agamanya itu, ketika diwawancarai wartawan media infotainment, mereka sering mengucapkan ungkapan – ungkapan Islam layaknya seorang yang selalu ingat kepada Tuhannya. Bahkan mereka mengaku – ngaku dekat pada ustad atau kiyai tertentu, atau bahkan mengaku berasal dari keluarga kyai.

Padahal sebenarnya, public figure adalah suatu pekerjaan yang sarat amanat. Mereka adalah ikon dari masyarakat, dimana mereka yang akan menjadi kiblat masyarakat dalam segala hal. Mereka sebenarnya merupakan “pemimpin” masyarakat dalam hal tren, cara bersikap di depan publik, cara berbicara, dan banyak hal bentuk keteladanan lainnya. Termasuk di dalamnya cara berpakaiannya. Mereka juga ditonton oleh jutaan pasang mata di Indonesia, baik secara langsung maupun dibalik layer kaca, dimana hal ini mengakibatkan mereka menjadi sorotan dan menjadi rujukan bagi masyarakat. Jadi beban moral sebagai seorang pemimpin umat, sebenarnya juga diemban oleh mereka.

Kitab Hadis Sahih Bukhari Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Ra, dimana dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin yang dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurusi keadaan rakyatnya adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang rakyatnya. Seorang laki – laki adalah pemimpin bagi keluarga di rumahnya. Ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang keluarganya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya. Ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang hal itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang harta tuannya itu. Ketahuilah bahwa kamu semua adalah pemimpin dan semua akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya itu.”


Dari hadis di atas maka dapat dikatakan pula bahwa seorang public figure adalah pemimpin dari para fansnya, dan setiap public figure itu akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa – apa yang dilakukan fansnya itu dalam hubungannya dengan dia sebagai teladan para fansnya itu. Apabila mereka memberikan contoh berpenampilan yang mengumbar aurat kepada masyarakat, dan para fansnya itu menirunya sehingga mereka lalai dari agamanya, maka dosa para fansnya itu, juga public figure itulah yang menanggungnya, selain dosanya sendiri.

Makanya saya tidak heran, kalau saya dengar isi ceramah Bapak Ustad dan Bapak Kyai yang menyatakan bahwa sebagian besar orang – orang yang masuk surga nantinya adalah orang – orang yang beriman dari kalangan fakir, miskin, dan tidak terkenal, dan juga dari kalangan laki – laki. Sedangkan kebalikannya mereka yang banyak di neraka adalah mereka yang banyak dikenal selama hidup di dunia, mereka yang kaya, dan mereka dari kalangan kaum hawa. Dan hal ini memang disebutkan dalam kitab Hadis. Dalam hal ini, berarti yang paling banyak masuk neraka adalah salah satunya dari kalangan biduwanita perempuan itu. Wawwahu A’lam!.

AGAMA NENEK MOYANG


Share/Bookmark


Assalamualaikum Wr. Wb.

Bismillahhirohmanirrohim

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al Baqarah:170).

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (QS. Al Maidah5:104).

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?. (QS. Al A’raf7:28).

Menurut saya, ayat – ayat di atas tidak hanya ditujukan hanya kepada kaum Musyrikin penyembah berhala, tetapi peringatan – peringatan tersebut juga ditujukan kepada beberapa kelompok dari kalangan islam sendiri, yang hanya mengaku islam di luarnya saja. Mereka sebenarnya bukanlah seorang islam sejati, tetapi orang yang mengaku – ngaku islam.

Golongan yang seperti ini, kenyataannya memang jumlahnya semakin banyak dalam kehidupan kita sekarang ini. Mereka mengaku sebagai seorang muslim, mereka juga dalam beberapa kesempatan kita jumpai melakukan shalat, dan juga ikut serta dalam shalat jama’ah di masjid, dan juga selalu hadir dalam shalat jama’ah juma’at (bagi yang laki – laki). Mereka juga ikut merayakan hari – hari besar agama. Kita dapati juga wanita – wanita dari kalangan ini juga mengenakan jilbab.

Akan tetapi, ketika mereka kembali berbaur dengan masyarakat, kembali ke pekerjaan – pekerjaan duniawi mereka, maka kita dapati mereka tidak tampak lagi sebagai seorang Muslim. Mereka melakukan penyelewengan amanat, mereka melakukan pungli, mereka menggunakan fasilitas umum untuk mendapatkan keuntungan pribadi, mereka melakukan korupsi, mereka melakukan kolusi, mereka melakukan nepotisme tanpa dasar yang jelas, dan lain sebagainya. Atau perbuatan hal – hal lainnya yang sepele tapi menyesakkan dada, seperti mengunjing orang lain, menghasut, fitnah, berkata bohong untuk keuntungan pribadi, dan lain sebagainya.

Kita bisa melihat mereka – mereka ini dalam kehidupan sehari – hari. Beberapa orang menjadi mafia peradilan, beberapa lagi menjadi mafia pendidikan, beberapa lagi menjadi mafia kantoran, mafia pemerintahan, mafia perekonomian, mafia informasi, mafia birokrasi, dan dalam banyak bidang pekerjaan lainnya dimana mereka menyisipi amanat perkerjaan itu dengan praktek yang kotor. Mereka berlomba – lomba memakan harta melalui jalur yang tidak halal seperti riba, memakan dari hasil uang yang bukan haknya, memakan uang sogokan, salam tempel, dan lain sebagainya.

Tetapi mereka tetap saja mengaku sebagai bagian dari islam. Mereka tetap memakai jilbab (bagi yang wanita), berkata santun apabila bertemu orang, bagi yang laki – laki juga sering kita temui masih melaksanakan shalat Jama’ah Jumat, dan lain sebagainya. Bukankan ini adalah sebuah ironi?

Budaya kotor yang sudah sangat kental ini sebenarnya sudah mereka akui sendiri merupakan lanjutan dari apa yang mereka dapati dari pendahulu – pendahulu mereka, senior – senior mereka, bapak dan ibu mereka, guru – guru mereka, atasan – atasan mereka, teman – teman mereka dan bahkan ada yang hanya karena berupaya meniru mereka – mereka yang berasal dari kalangan di luar islam. Padahal tidak semua yang demikian itu adalah baik.

Karena mereka hanya ikut – ikutan saja terhadap apa yang dilakukan pendahulu – pendahulu mereka, padahal dirinya mengaku seorang muslim, maka bisa dikatakan bahwa sebenarnya mereka bukanlah seorang muslim sejati. Mereka ini hanya orang – orang yang mengaku dirinya islam tetapi sebenarnya mereka adalah orang – orang yang hanya mengikuti agama nenek moyangnya itu, yaitu islam menurut persepsi nenek moyangnya. Dan dengan demikian mereka tidak dapat dikatakan sebagi seorang yang islam. Tetapi mereka hanyalah orang yang beragama seperti nenek moyangnya itu. Tidak peduli apakah nenek moyangnya itu mereka dapati menyembah berhala, lalu mereka secara berduyun – duyun mengikutinya, atau karena mereka juga mendapati nenek moyang mereka melakukan korupsi, maka mereka secara berjamaah pun mengikutinya. Melihat nenek moyangnya melakukan dan menerima sogok, pungutan liar, maka mereka secara berlomba – lomba pula melakukannya.

Seringkali juga dalam perkara – perakara yang masih belum jelas gelap terangnya, halal haramnya, mereka embat saja semuanya. Padahal Allah dan Rasul memerintahkan manusia agar memakan harta yang jelas kehalalannya.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah :168).

Diriwayatkan dari Abu Abdullah Al Nu'man ibn Basyer RA, dimana beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perkara yang halal itu terang jelas, dan sesungguhnya perkara yang haram itu terang jelas, dan di antara kedua perkara tersebut ada perkara-perkara syubhat yang kesamaran yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga perkara syubhat maka sesungguhnya dia telah membersihkan agamanya dan maruah dirinya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara syubhat, maka dia telah jatuh dalam perkara haram, umpama seorang pengembala yang mengembala di sekeliling kawasan larangan, dibimbangi dia akan menceroboh masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahawa setiap raja ada sempadan dan sesungguhnya sempadan Allah itu ialah perkara – perkara yang diharamkanNya. Ketahuilah bahwa dalam setiap jasad itu ada seketul daging yang apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah ia adalah hati”. (Hadis riwayat Al lmam Al Bukhari dan Muslim).

Hal ini sungguh sangat disayangkan. Karena segala hal penyelewengan seperti misalnya pungli dan sogok dibudayakan, dan seolah – olah hasil yang diperoleh darinya sudah dianggap sesuatu yang biasa. Dan karenanya mereka menghalalkannya dan memberikan persetujuan sosial terhadapnya. Dan tindakan itu tidak lagi dilakukannya secara sembunyi – sembunyi, tetapi sudah mereka lakukan secara terang – terangan. Mereka mengakuinya dan bahkan berbangga atasnya.

Akan tetapi, kita sering melihat bahwa beberapa diantara mereka sebenarnya dulunya adalah aktivis kampus yang selalu berkata dan berteriaak secara lantang: tolak korupsi, tolak kolusi, tolak nepotisme! Gantung koruptor! Tolak Liberalisme! Tapi kenyataannya setalah mereka lulus dari kuliahnya dan masuk dalam dunia kerja, dunia pemerintahan, dan berbaur dengan masyarakat, justru mereka inilah yang paling pertama dan yang paling bersemangat untuk melakukan perbuatan kotor itu. Semagat mereka untuk berbuat kotor ketika sudah masuk lingkungan demikian sama halnya dengan semagat mereka dahulu sebagai aktivis kampus untuk menolaknya, bahkan lebih dari itu. Idealisme mereka ternyata tidak lebih dari ibarat debu yang menempel di permukaan sebuah batu. Ketika hujan turun, maka lenyaplah debu itu dari permukaan batu, dimana batu itu kemudian menjadi licin, mulus, dan hilang tidak berbekas sama sekali idealisme mereka itu.

Beberapa lainnya selalu ragu – ragu awalnya untuk melakukan itu. Mereka sadar bahwa itu salah. Tetapi setelah didapatinya seolah – olah tidak ada jalan keluar dan tidak banyak yang bisa diperbuatnya untuk mengubah budaya itu, ia pun akhirnya turut serta menggabungkan diri. Dari yang awalnya ragu – ragu, menjadi malu – malu kucing, akhirnya bak singa yang sedang lapar, semuanya diterkam tanpa batasan.

Sungguh apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah suatu kerugian! Semoga mereka kembali ke jalan yang benar!

Tetapi ada juga kelompok yang secara sadar mengakui itu salah, tetapi mereka tidak merasa mampu untuk berbuat banyak terhadapnya, sehingga mereka hanya berdiam diri dan menutup mata. Kelompok yang demikian dapat dijelaskan melalui hadis berikut.

Daripada Abu Sa'id Al Khudrie RA. dimana beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa dari kalangan kamu melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Sekiranya dia tidak mampu maka hendaklah dia mengubahnya dengan lidahnya. Sekiranya dia tidak mampu maka hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya. Yang sedemikian itu adalah selemah-lemah iman. (Hadis diriwayatkan oleh Al lmam Muslim).

Orang yang melihat suatu kemungkaran berlaku di depan matanya, dan dia berkuasa mencegahnya dengan tangannya atau dengan lidahnya maka dia berkewajipan mencegah kemungkaran tersebut. Dia berdosa apabila membiarkan kemungkaran tersebut berlalu tanpa sebarang tindakan atau percobaan untuk mencegahnya, kecuali kalau dia tidak mampu atau karena dibimbangi bahwa tindakannya nanti akan membawa kemudharatan kepada dirinya apabila dia mencegah kemungkaran itu. Mencegah kemungkaran hanya dengan hati, yaitu dengan membencinya dan berkeinginan mau mencegahnya pada suatu saat nanti kalau dia mampu. Orang yang berdiam diri inilah yang mana dalam hal ini mereka termasuk ke dalam kalangan dengan tingkatan iman yang paling lemah.

Lebih parah lagi, ketika mereka diingatkan untuk kembali ke jalan Allah dan Rasulnya, dan menjadi seorang Muslimin yang sebenarnya, mereka menolaknya, tidak menghiraukannya, atau bahkan memaki – maki orang yang memberi peringatan itu dengan celaan, “Sok suci kau!”. Dan pemberi peringatan itu pun ditinggalkan, tidak dihiraukan dan disisihkan dari pergaulan sehari – hari. Bahkan terkadang mereka memberi tambahan penghinaan terhadap si pemberi peringatan itu dengan sejumlah fitnah.

Hal ini sudah menjadi salah satu bukti bahwa memang telah datang zaman dimana orang hina dimuliakan dan orang mulia dihinakan. Salah satu tanda bahwa hitung mundur waktu kiamat sudah semakin mendekati saatnya.

Semoga kita semua selalu diberi rahmat dan hidayah oleh-Nya, sehingga kita selalu berada di jalan yang lurus, jalan yang islam, jalannya orang yang berserah diri kepada Allah. Semoga kita selalu diselamatkan dari kesesatan.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Dan akhir kata saya tutup artikel ini dengan sebuah wasiat Rasulullah kepada kaum – kaum Muslimin yang hidup setelahnya.

Diriwayatkan dari Abu Najih Al 'lrbadh ibn Sariyah RA., dimana beliau berkata: Rasulullah SAW telah menasihati kami suatu nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Hal itu seolah-olah merupakan nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal. Kami berkata: “Ya Rasulullah! Maka berikanlah kami wasiat!”. Baginda bersabda: Aku mewasiatkan kamu supaya bertaqwa kepada Allah SWT, supaya mendengar dan taat, sekalipun kamu diperintah oleh seorang hamba. Sesungguhnya, barangsiapa di kalangan kamu yang masih hidup nanti, niscaya dia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa'ur Rasyidin yang mendapat hidayat. Gigitlah ia dengan kuat (yaitu berpegang teguhlah kamu dengan sunnah-sunnah tersebut) dan berwaspadalah kamu dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu dalam neraka. (Hadis riwayat Abu Dawud dan Al Tirmizi. Al Tirmizi berkata ini hadis sahih).

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Monday, July 6, 2009

TEKNOLOGI TELEPORT, MUNGKINKAH?


Share/Bookmark

Sulaiman Berkata: "Hai pembesar – pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya (Ratu Balqis) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An Naml : 38 – 40)

Kita bisa melihat dari kisah yang diabadikan dalam Al Quran di atas, bahwa bukanlah jin yang membantu Sulaiman dalam memindahkan singgasana ratu Balqis ke tempat Sulaiman, melainkan seorang manusia yang mempunyai ilmu. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa golongan manusia punya kemampuan yang lebih baik dari golongan jin.

Negeri tempat ratu Balqis itu berada adalah di negeri Saba’ yang terletak di daerah Yaman, sedangkan kerajaan Sulaiman terletak di negeri Syam (palestina). Jarak antara dua kerajaan itu adalah sekitar 2.000 kilometer. Terlihat sepintas, tidaklah mungkin orang itu bisa memindahkan singgasana ratu Balqis dalam waktu sebelum mata Sulaiman berkedip.

Menurut Jennifer S. Holland, orang dewasa yang cemas akan berkedip sebanak 50 kali per menit. Orang dewasa yang tenang berkedip 15 kali per menit. Dari sini kita tahu bahwa manusia normal akan berkedip rata – rata setiap 4 detik.

Terdapat salah satu transportasi yang paling cepat yang ada saat ini, yaitu pesawat jet yang bernama X-15. Apakah teknologi transportasi tercepat ini mampu melaksanakan tugas Sulaiman? Mari kita lihat dan telaah bersama - sama.

Bisa dilihat, bentuknya hampir sama seperti Roket. Pesawat yang satu ini adalah keluaran dari NASA. Diterbangkan pertama kali oleh pilot pertamanya yang bernama Scott Crossfield pada 8 June 1959. Tahun '59 itu generasi pertama dari pesawat ini. Gambar di atas adalah modifikasi terbarunya. Pada ketinggian 100 km, X-15 bisa mencapai Mach 6.72. Satuan Mach 6,72 berarti 6,72 kali kecepatan suara. Karena kecepatan suara itu bervariasi terkandung kondisi atmosfer, kita andaikan saja pesawat ini terbang pada kondisi atmosfer normal, dimana kecepatan suara yang berlaku adalah 331,6 m/s. Berarti kecepatan pesawat ini dalam kondisi atmosfer normal adalah:

6,72 X 331,6 = 2228,35 m/s atau 8022,06 km/jam.

Dengan menngunakan rumus kecepatan:
S = V x t

Jadi dapat diketahui bahwa pesawat ini dapat menepuh perjalan dari Yaman ke Syam dalam waktu:

(2.000 km) / (8022,06 km/jam) yaitu sekitar 0,25 jam atau 15 menit.

Tentulah tidak mungkin seorang manusia akan menahan matanya berkedip selama itu. Dari sini kita tahu bahwa selang waktu yang selama ini tidak mampu memenuhi selang waktu yang disyaratkan sebagai selang waktu manusia mampu menahan matanya berkedip secara normal. Kesimpulannya sangat tidaklah mungkin apabila singgasana itu dipindahkan dalam sekejap mata dengan meggunakan teknologi transportasi yang paling mutakhir saat ini seperti pesawat ini.

Akan tetapi kalau kita sedikit berimajinasi, kita bisa melihat sebuah film Star Trex. Dalam film itu dikisahkan pesawat Enterprise memiliki suatu teknologi yang disebut teleport. Teknologi ini mampu memindahkan seseorang atau barang lainnya dalam sekejap. Seseorang yang akan dipindahkan masuk ke dalam sebuah ruangan khusus, sedangkan operator mengintrusikan computer untuk mengirimkan orang tersebut ke tempat tujuan, dan zlppp..! Ia pun menghilang. Tiba – tiba dirinya telah berada di tempat yang dituju dengan tidak kurang satu apapun.

Kalaupun hal ini hanyalah sebuah cerita fiksi, tetapi apakah memungkinkan teknologi teleport ini benar – benar terwujud suatu saat ini?

Jawabannya: Ya. Perkembangan ilmu fisika kita sedang megarah kearah sana. Penjelasan ilmiah yang masuk akal dari hal ini, bisa kita mulai dengan melihat teori Einstein yang terkenal itu. Mudah – mudahan Anda masih ingat

Salah satu rumusan yang dikeluarkan Einstein adalah:

E = m.c2

Dalam hal ini, sebuah benda yang memiliki massa dapat berubah menjadi suatu bentuk energi. Dan peristiwa ini reversible, atau bisa dibolak balik. Maksudnya, energi yang terbentuk ini nantinya juga dapat dirubah kembali menjadi wujud benda asal. Ini secara teori. Lalu, bagaimana secara prakteknya berdasarkan teknologi yang ada saat ini?

Materi bisa berubah menjadi energi dan sebaliknya. Manusia saat ini telah berhasil mengubah materi menjadi energi dalam berbagai perlengkapan atau peralatan dengan memanfaatkan energi atom antara lain melahirkan atau memproduksi energi listrik untuk kemaslahatan peradaban manusia. Meskipun demikian, kemampuan manusia dalam mengubah materi menjadi energi masih berada dalam tahap pengembangan yang masih jauh dari cita – cita menciptakan teknologi teleport.

Demikian pula dalam hal upaya mengubah energi menjadi materi. Dalam hal ini, manusia telah berhasil melakukannya, kendatipun dalam kadar yang sangat minim. Untuk mengubah energi menjadi materi digunakan alat yang disebut sebagai Akselerator partikel /particel accelerator/. Walaupun demikian, kadar kemampuan dalam hal pengubahan itu masih diupayakan untuk terus ditingkatkan dan disempurnakan.

Jadi dari sini, kita akan sampai pada satu kesimpulan, pengubahan materi menjadi energi dan sebaliknya merupakan pekerjaan yang dapat dilakukan secara ilmiah dan praktis. Intinya teknologi – teknologi yang merupakan embrionya sudah ada.

Karena energi ini merupakan suatu esensi yang tidak dapat dimusnahkan, tetapi bisa dirubah ke dalam bentuk energi yang lain, tentunya energi ini akan memiliki sifat sesuai dengan wujud energi tersebut. Energi ini dapat dikirimkan dengan menggunakan kecepatan cahaya pada gelombang mikro ke tempat mana saja yang kita inginkan, yang kemudian kita ubah kembali menjadi materi asal. Dengan cara itu, kita bisa mengirim peralatan atau perlengkapan apa saja, bahkan rumah berikut isinya bisa dipindahkan ke daerah mana saja dimuka bumi ini menurut pilihan kita.

Kita tahu bahwa kecepatan cahaya adalah 3 x 108 m/s atau sebesar 300.000.000 m/s. Dari sini kita bisa menetukan berapa lama suatu benda yang bergerak dengan kecepatan ini, menempuh perjalanan Yaman – Syam yang sejauh 3000 km atau 3.000.000 m. Apabila S adalah jarak antara Syam-Palestina, dan v adalah besar kecepatan cahaya, maka waktu tempuh t yang dibutuhkan bisa ditentukan.

S = v x t
t = S / v
t = 3.000.000 / 300.000.000
t = 0,01 detik

Kita bisa melihat, bahwa teknologi inilah yang memungkinkan untuk mewujudkan keinginan Sulaiaman tersebut, walaupun dalam hal ini, masihlah sebuah teori saja. Akan tetapi kita harus tetap optimis pada perkembangan teknologi fisika ke depan, sehingga hal tersebut memang benar – benar dapat terwujud.

Tetapi ada satu hal yang masih diakui sebagai kendala utama oleh para sarjana fisika
untuk membuktikan mimpi ini. Kesulitannya adalah dalam menggabungkan dan merangkaikan bagian-bagian atau atom-atom partikel dalam bentuk aslinya secara sempurna sehingga setiap atom diletakkan pada tempat semula sebelum atom itu diubah menjadi energi guna melakukan tugas pokoknya.

Kemampuan instrumen transmisi gelombang elektromagnetik yang ada sekarang juga belum mumpuni. Instrumen termodern saat ini hanya mampu menghimpun gelombang elektromagnetik itu sebesar 60% saja dari total yang seharusnya terhimpun. Ini disebabkan berpencarnya gelombang itu diudara selama proses pengiriman.

Kita juga tahu bahwa untuk mengubah materi menjadi gelombang mikro harus melalui beberapa tahapan. Pertama, materi dirubah menjadi energi panas, lalu dirubah menjadi energi mekanik, kemudian dirubah lagi menjadi energi listrik. Dan terakhir, energi listrik ini dikirimkan dalam bentuk gelombang mikro. Proses yag cukup panjang ini mengakibatkan sebagian besar bagian dari materi akan hilang selama proses perubahan – perubahan tersebut. Hanya sebagian kecil saja yang dapat terkirimkan melalui gelombang mikro. Hasil maksimal yang mampu dicapai saat ini dalam pengubahan energi mekanik menjadi energi listrik tidak akan lebih dari 20%.

Dalam beberapa contoh kasus, kita melihat dalam teknologi nuklir, ketika uranium diproses untuk dirubah menjadi energi, maka yang berubah menjadi energi itu hanyalah bagian kecil dari uranium. Sementara sisanya tidak menjadi energi, tetapi hilang selama proses dalam bentuk panas nuklir. Energi panas ini dipancarkan secara radiasi selama ribuan dan jutaan tahun dan kemudian berubah menjadi anasir – anasir lain, dimana akhirnya menjadi timah.

Dengan demikian, apabila kita menggunakan teknologi yang ada sekarang untuk memindahkan singgasana Ratu Saba’ maka kita akan mendapatkan hanya sedikit saja bagian dari singgasana itu pada akhir proses. Proses dimulai dengan mengubah singgasana Ratu Saba' menjadi energi melalui suatu metode tertentu. Selanjutnya kita kirimkan energi ini via gelombang mikro ke tempat tujuan. Setelah sampai di tempat tujuan, kemudian gelombang ini kita ubah lagi menjadi bentuk materi asal. Pada tahap akhir ini, kita tidak akan mendapatkan lebih dari 5% dari bagian singgasana Ratu Saba' itu.

Sisanya hilang selama proses perubahan-perubahan itu. Jika kita lihat kemampuan teknologi yang ada sekarang ini, yang dalam praktiknya hanya mampu mengirimkan sebesar 5% dari materi asli ke tempat tujuan, maka hal ini tentu tidaklah cukup untuk membentuk kembali satu bagian kecil saja dari singgasana Ratu Saba' tersebut. Sulaiman barangkali hanya bisa menunjukkan secuil saja materi dari singgasana itu kepada Ratu Saba’.

Padahal dalam ceritanya, ketika Ratu Saba’ sampai di istana Sulaiman, betapa kagetnya dia melihat singgasanaya ada di situ.

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku”, “kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (QS. An Naml:42).

Pesan dari cerita ini adalah:
  1. Maha suci Allah atas segala kebesarannya yang membuat manusia mampu melakukan hal – hal yang menakjubkan dengan ilmu yang diberikan-Nya. Kita harus selalu bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan oleh Allah, jangan samapi kufur nikmat, karena suatu saat kita akan kembali kepada-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa – apa yang telah dititipkan Allah kepada kita selama hidup di dunia.
  2. Kita tidak bisa mengatakan bahwa peradaban kita sekarang adalah peradaban yag paling maju dan modern. Buktinya, teknologi termutakhir yang ada sekarang ternyata tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh manusia pada zamannya nabi Sulaiman. Bayangkan coba! Bukankah nabi Sulaiman itu hidup beberapa generasi setelah Nabi Musa dan sebelum Nabi Isa. Sebelum Masehi donk!
  3. Kita harus selalu optimis bahwa kita bisa melakukan segal hal yang menakjubkan dengan ilmu – ilmu yang kita miliki. Bahkan kita bisa lebih unggul dari bangsa jin yang selalu kita kenal sebagai mahluk yang sakti, kayak jin-nya Alladin itu. Akan tetapi segal hal menakjubkan itu tidaklah dapat dicapai tanpa usaha. Untuk itu Allah berfirman:

    Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. (QS. Ar Rahman : 33).

    Kekuatan inilah yang harus kita cari dengan usaha keras, dan tetap banyak – banyak memohon kepada Allah.