Misalnya, ada laki-laki Muslim yang memelihara jenggot. Ada yang memilih celana di atas mata kaki. Ada perempuan Muslimah yang memilih jilbab longgar, cadar, atau pakaian yang lebih tertutup. Semua itu biasanya dilakukan karena keyakinan agama dan keinginan untuk mengikuti tuntunan Islam.
Namun, di sebagian lingkungan, ciri berpakaian seperti ini kadang disalahpahami. Ada yang langsung memberi label tertentu. Ada yang menganggap aneh. Bahkan, ada pula yang mudah menuduh seseorang berpaham keras hanya karena penampilan lahiriahnya.
Padahal, menilai seseorang hanya dari pakaian tidak selalu adil.
Jangan Mudah Menuduh dari Penampilan
Penampilan memang dapat memberi kesan pertama, tetapi tidak cukup untuk menilai keseluruhan diri seseorang. Seorang Muslim yang berjenggot, memakai celana di atas mata kaki, atau berpakaian lebih tertutup belum tentu memiliki sikap keras, tertutup, atau membenci orang lain.
Sebaliknya, seseorang yang berpakaian biasa saja juga belum tentu lebih baik atau lebih buruk. Kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari tampilan luar, tetapi dari iman, ilmu, akhlak, kejujuran, amanah, dan manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam memberi label kepada sesama. Tuduhan yang tidak tepat dapat melukai hati, merusak hubungan sosial, dan menimbulkan prasangka yang tidak perlu.
Dalam Islam, prasangka buruk adalah hal yang harus dijauhi. Menuduh seseorang tanpa bukti juga bertentangan dengan akhlak yang baik.
Berpakaian Sesuai Sunnah sebagai Bentuk Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Bagi sebagian Muslim, berusaha mengikuti sunnah dalam berpakaian adalah bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ. Mereka ingin meneladani beliau dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal penampilan, ibadah, akhlak, dan kebiasaan sehari-hari.
Tentu, mengikuti sunnah tidak hanya terbatas pada pakaian. Sunnah juga mencakup kejujuran, kasih sayang, kelembutan, kesabaran, amanah, memuliakan tetangga, menepati janji, menjaga lisan, dan berbuat baik kepada sesama.
Karena itu, orang yang ingin berpakaian sesuai sunnah juga perlu berusaha menampilkan akhlak sunnah. Jangan sampai penampilan sudah terlihat Islami, tetapi lisan mudah menyakiti, sikap mudah merendahkan, atau perilaku tidak mencerminkan kelembutan Islam.
Sunnah lahiriah dan sunnah akhlak sebaiknya berjalan bersama.
Jangan Jadikan Sunnah sebagai Sumber Kesombongan
Ada dua hal yang perlu dijaga. Pertama, masyarakat jangan mudah menuduh orang yang berpenampilan Islami sebagai radikal. Kedua, orang yang berusaha menjalankan sunnah juga jangan merasa lebih suci daripada orang lain.
Ketaatan adalah nikmat dari Allah. Jika seseorang dimudahkan menjalankan sebagian sunnah, seharusnya ia semakin bersyukur dan rendah hati. Jangan sampai ia merasa lebih tinggi dari Muslim lain yang belum menjalankan hal yang sama.
Setiap orang memiliki proses masing-masing. Ada yang sedang belajar memperbaiki shalat. Ada yang sedang belajar menutup aurat. Ada yang sedang belajar meninggalkan maksiat. Ada yang sedang belajar memperbaiki akhlak. Tidak semua orang berada pada tahap yang sama.
Maka, yang diperlukan adalah saling menasihati dengan lembut, bukan saling merendahkan.
Membedakan Identitas Keagamaan dan Sikap Ekstrem
Masyarakat juga perlu belajar membedakan antara identitas keagamaan dan sikap ekstrem. Pakaian Islami bukan tanda otomatis bahwa seseorang memiliki pandangan berbahaya. Yang perlu dinilai adalah perilaku, ucapan, ajakan, dan tindakan.
Jika seseorang berpakaian sesuai sunnah, bekerja dengan baik, menjaga hubungan sosial, menghormati hukum, bersikap santun, dan memberi manfaat, maka tidak ada alasan untuk mencurigainya hanya karena penampilan.
Sebaliknya, jika ada orang yang mengajak kepada kekerasan, kebencian, permusuhan, atau pelanggaran hukum, maka yang dinilai adalah ajaran dan tindakannya, bukan semata pakaiannya.
Penilaian yang adil membutuhkan ilmu, data, dan kehati-hatian.
Mengapa Kesalahpahaman Bisa Terjadi?
Kesalahpahaman terhadap pakaian sunnah bisa muncul karena beberapa sebab.
Pertama, kurangnya pemahaman tentang ajaran Islam. Sebagian orang belum mengetahui bahwa beberapa ciri berpakaian tertentu memiliki dasar dalam pembahasan fikih dan sunnah.
Kedua, pengaruh media. Kadang media menampilkan sosok berpenampilan tertentu dalam konteks negatif, sehingga masyarakat mudah membuat generalisasi.
Ketiga, pengalaman sosial. Jika seseorang pernah bertemu orang berpenampilan Islami tetapi bersikap kasar, ia bisa salah menyimpulkan bahwa semua orang yang berpenampilan demikian pasti sama.
Keempat, kurangnya dialog. Banyak prasangka muncul karena orang tidak saling mengenal dan tidak pernah berbicara secara baik-baik.
Karena itu, komunikasi dan edukasi sangat penting.
Pentingnya Akhlak dalam Menjalankan Sunnah
Orang yang berusaha menjalankan sunnah perlu memperhatikan cara berinteraksi dengan masyarakat. Semangat mengikuti sunnah harus disertai akhlak mulia.
Jika ada yang bertanya, jelaskan dengan lembut. Jika ada yang belum paham, jangan langsung marah. Jika ada yang mencela, balas dengan sikap yang baik selama masih memungkinkan. Jika ada perbedaan pendapat, sampaikan dengan adab.
Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang lembut, amanah, penuh kasih sayang, dan sangat baik akhlaknya. Maka, siapa pun yang mengaku mencintai sunnah beliau harus berusaha meneladani akhlak beliau.
Penampilan dapat membuat orang melihat Islam. Namun, akhlak yang baik dapat membuat orang merasakan keindahan Islam.
Jangan Malu Menjalankan Kebaikan
Jika seseorang yakin bahwa pakaian yang ia pilih adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, maka jangan malu menjalankannya. Selama tidak melanggar hukum, tidak mengganggu orang lain, dan dilakukan dengan adab, pilihan berpakaian sesuai keyakinan agama patut dihormati.
Namun, jangan pula menjadikan pilihan berpakaian sebagai bahan untuk memancing konflik. Tetaplah santun, rapi, bersih, dan sesuai dengan konteks yang tidak melanggar prinsip agama.
Seorang Muslim dapat menunjukkan identitas Islam dengan percaya diri sekaligus tetap menjadi pribadi yang ramah, profesional, dan bermanfaat.
Menghormati Perbedaan dalam Masyarakat
Indonesia adalah masyarakat yang beragam. Ada banyak suku, budaya, cara berpakaian, latar pendidikan, dan tingkat pemahaman agama. Dalam keberagaman seperti ini, sikap saling menghormati sangat penting.
Menghormati bukan berarti harus selalu setuju. Menghormati berarti tidak mencela, tidak merendahkan, dan tidak mudah memberi label buruk tanpa alasan yang benar.
Jika ada perbedaan cara berpakaian di antara sesama Muslim, maka sikap terbaik adalah berdialog dengan ilmu dan adab. Jangan jadikan perbedaan sebagai bahan ejekan. Jangan pula menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.
Menjadi Muslim yang Baik di Tengah Masyarakat
Berpakaian sesuai sunnah akan lebih mudah diterima masyarakat jika disertai kontribusi nyata. Misalnya, jujur dalam bekerja, membantu tetangga, ramah kepada orang sekitar, disiplin, menjaga kebersihan, tidak menyakiti orang lain, dan berperan positif di lingkungan.
Jika masyarakat melihat bahwa orang yang berpenampilan Islami juga memiliki akhlak baik, prasangka negatif akan berkurang. Bahkan, bisa jadi orang lain menjadi tertarik untuk mempelajari Islam dengan lebih baik.
Dakwah terbaik sering kali bukan perdebatan panjang, tetapi teladan hidup yang baik.
Penutup
Berpakaian sesuai sunnah adalah pilihan keagamaan yang patut dihormati selama dilakukan dengan niat yang baik, ilmu yang benar, dan akhlak yang mulia. Masyarakat tidak seharusnya mudah menuduh seseorang berpaham buruk hanya karena jenggot, celana di atas mata kaki, jilbab longgar, atau ciri lahiriah lainnya.
Di sisi lain, orang yang berusaha menjalankan sunnah juga perlu menjaga kerendahan hati. Jangan merasa paling benar. Jangan merendahkan orang lain. Jangan lupa bahwa sunnah terbesar yang harus dihidupkan adalah akhlak Rasulullah ﷺ.
Mari saling memahami. Mari menilai manusia dengan lebih adil. Mari menjaga agama dengan ilmu, cinta, dan akhlak.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnah beliau dengan benar, dan menebarkan kebaikan bagi sesama.
Wallahu a‘lam.


