Namun, pembahasan tentang pakaian sering kali menjadi sensitif. Ada yang merasa dihakimi ketika dinasihati. Ada pula yang terlalu keras dalam menilai orang lain hanya dari penampilan luarnya. Akibatnya, nasihat yang seharusnya membawa kebaikan justru berubah menjadi perdebatan, sindiran, atau saling melabeli.
Padahal, dakwah tentang pakaian syar’i seharusnya disampaikan dengan ilmu, akhlak, dan kasih sayang.
Berpakaian Syar’i adalah Bagian dari Ketaatan
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga aurat dan berpakaian dengan sopan. Bagi laki-laki maupun perempuan, ada batasan aurat dan adab berpakaian yang telah dibahas oleh para ulama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Bagi Muslimah, pakaian syar’i umumnya dipahami sebagai pakaian yang menutup aurat, tidak transparan, tidak ketat membentuk lekuk tubuh, tidak dimaksudkan untuk tabarruj, dan tidak menjadi sarana menarik perhatian secara berlebihan.
Bagi Muslim laki-laki, adab berpakaian juga penting. Seorang Muslim dianjurkan berpakaian bersih, sopan, tidak berlebih-lebihan, tidak menyerupai pakaian yang dilarang, serta tetap menjaga kehormatan dirinya.
Dengan demikian, pakaian syar’i bukan hanya urusan perempuan. Laki-laki juga memiliki kewajiban menjaga adab berpakaian, menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjaga akhlak.
Jangan Mudah Memberi Label Negatif
Salah satu masalah dalam masyarakat adalah kebiasaan memberi label secara berlebihan. Orang yang berpakaian lebih tertutup kadang dicurigai. Sebaliknya, orang yang belum berpakaian sesuai tuntunan sering langsung dicela.
Keduanya tidak bijak.
Orang yang berusaha berpakaian syar’i tidak seharusnya dicap negatif hanya karena penampilannya. Selama ia tidak mengajak kepada keburukan, tidak melanggar hukum, dan tetap berakhlak baik, pilihan berpakaian sesuai keyakinan agama patut dihormati.
Di sisi lain, orang yang belum berpakaian sesuai tuntunan juga tidak seharusnya dihina. Bisa jadi ia sedang belajar, belum memahami, masih berproses, atau menghadapi lingkungan yang belum mendukung. Tugas dakwah bukan mempermalukan, tetapi mengajak kepada kebaikan.
Melabeli orang lain dengan istilah negatif hanya akan memperlebar jarak. Padahal, tujuan nasihat adalah mendekatkan seseorang kepada Allah.
Dakwah Pakaian Syar’i Perlu Hikmah
Mengajak orang untuk menutup aurat adalah kebaikan. Namun, cara menyampaikannya harus diperhatikan. Nasihat yang benar tetapi disampaikan dengan kasar bisa membuat orang menjauh.
Allah memerintahkan dakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Karena itu, dakwah tentang pakaian syar’i perlu disampaikan dengan bahasa yang menenangkan, bukan merendahkan.
Daripada berkata, “Kamu salah karena pakaianmu seperti itu,” akan lebih baik mengatakan, “Islam punya tuntunan berpakaian yang indah untuk menjaga kehormatan. Mari kita pelajari pelan-pelan.”
Daripada menyindir, akan lebih baik memberi contoh.
Daripada menghina, akan lebih baik mendoakan.
Daripada mempermalukan di depan umum, akan lebih baik menasihati secara pribadi jika memang memungkinkan.
Dakwah yang lembut lebih mudah masuk ke hati.
Menutup Aurat dan Menjaga Pandangan
Dalam pembahasan pakaian, sering kali fokus hanya diarahkan kepada perempuan. Padahal Islam juga memerintahkan laki-laki untuk menjaga pandangan.
Menjaga pandangan adalah bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Ketika melihat sesuatu yang tidak pantas, seorang laki-laki beriman tidak boleh menjadikannya alasan untuk menyalahkan orang lain semata. Ia juga memiliki tanggung jawab menjaga dirinya.
Begitu pula perempuan memiliki tanggung jawab menjaga aurat dan kehormatannya.
Artinya, kebaikan harus dijalankan dari dua sisi. Muslimah berusaha berpakaian sesuai syariat, sementara Muslim laki-laki berusaha menjaga pandangan dan hatinya. Keduanya saling mendukung dalam membangun masyarakat yang lebih beradab.
Jangan Menjadikan Fashion sebagai Sumber Kesombongan
Industri fashion terus berkembang. Ada banyak model pakaian, tren busana, dan gaya hidup yang ditawarkan kepada masyarakat. Sebagian tren dapat dipilih selama tetap sesuai dengan nilai Islam. Namun, sebagian lainnya perlu disaring karena tidak sejalan dengan prinsip menutup aurat dan kesopanan.
Seorang Muslim tidak dilarang berpakaian rapi, bersih, dan pantas. Islam mencintai keindahan. Namun, keindahan harus tetap berada dalam batas syariat dan tidak membawa kepada kesombongan, tabarruj, atau pamer berlebihan.
Pakaian yang baik bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menjaga kehormatan pemakainya.
Berpakaian Syar’i Tidak Menghalangi Aktivitas
Sebagian orang mengira pakaian syar’i akan menghambat aktivitas. Padahal, banyak Muslim dan Muslimah tetap bisa belajar, bekerja, berdagang, berkarya, berolahraga, dan berkontribusi di masyarakat sambil menjaga adab berpakaian.
Yang dibutuhkan adalah pemahaman, kreativitas, dan pilihan busana yang tepat. Saat ini banyak pakaian yang longgar, nyaman, rapi, dan tetap mendukung aktivitas harian.
Berpakaian syar’i bukan berarti tidak produktif. Justru, ketaatan seharusnya membuat seseorang semakin bertanggung jawab, profesional, dan bermanfaat.
Jangan Merendahkan yang Sedang Berproses
Setiap orang memiliki perjalanan masing-masing. Ada yang sejak kecil sudah terbiasa berpakaian sesuai syariat. Ada yang baru memahami setelah dewasa. Ada yang masih berusaha memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Karena itu, jangan mudah merendahkan orang yang sedang berproses.
Mungkin hari ini seseorang belum menutup aurat dengan sempurna, tetapi ia sedang mulai memperbaiki shalat. Mungkin hari ini pakaiannya belum ideal, tetapi hatinya mulai tersentuh untuk belajar agama. Mungkin hari ini ia masih lemah, tetapi Allah sedang membimbingnya menuju kebaikan.
Nasihat tetap perlu, tetapi harus disampaikan dengan penuh kasih sayang.
Orang yang Berpakaian Syar’i Juga Harus Menjaga Akhlak
Pakaian syar’i adalah bagian dari ketaatan, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesalehan. Orang yang sudah berusaha berpakaian sesuai syariat tetap harus menjaga akhlaknya.
Jangan sampai pakaian sudah tertutup, tetapi lisan mudah menyakiti. Jangan sampai penampilan tampak Islami, tetapi perilaku tidak amanah. Jangan sampai semangat menasihati orang lain, tetapi lupa memperbaiki diri sendiri.
Semakin seseorang ingin menjaga sunnah dan syariat, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam ibadah sekaligus teladan dalam kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
Mengubah Budaya dengan Teladan
Jika ingin masyarakat lebih menghargai pakaian syar’i, maka cara terbaik adalah memberi teladan yang baik. Tunjukkan bahwa orang yang berpakaian syar’i dapat menjadi pribadi yang ramah, cerdas, profesional, bersih, rapi, dan bermanfaat.
Ketika masyarakat melihat akhlak yang baik, prasangka negatif akan berkurang. Ketika orang yang berpakaian syar’i juga unggul dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan kehidupan sosial, maka pesan dakwah akan lebih kuat.
Dakwah melalui teladan sering kali lebih efektif daripada perdebatan panjang.
Sikap Bijak terhadap Perbedaan Gaya Berpakaian
Dalam masyarakat, akan selalu ada perbedaan gaya berpakaian. Ada yang sudah memahami tuntunan syar’i, ada yang masih belajar, ada yang berbeda pendapat dalam sebagian rincian fikih, dan ada yang belum peduli sama sekali.
Sikap seorang Muslim adalah tetap berpegang pada kebenaran, tetapi tidak kehilangan adab.
Kita boleh meyakini bahwa berpakaian syar’i adalah kewajiban. Kita boleh mengajak orang lain kepada kebaikan. Namun, hindari penghinaan, ejekan, dan label yang merendahkan.
Kebenaran tidak membutuhkan kata-kata kasar untuk menjadi kuat.
Penutup
Berpakaian syar’i adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga aurat, menjaga pandangan, berpakaian sopan, serta menjauhi tabarruj dan kesombongan.
Namun, dakwah tentang pakaian syar’i perlu disampaikan dengan hikmah. Jangan mudah memberi label negatif kepada orang yang berbeda penampilan. Jangan mencela orang yang sedang berproses. Jangan pula menjadikan pakaian syar’i sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab. Muslimah berusaha menjaga aurat dan kehormatannya. Muslim laki-laki berusaha menjaga pandangan dan akhlaknya. Keduanya saling mendukung dalam menciptakan masyarakat yang lebih bermoral dan beradab.
Semoga Allah membimbing kita untuk berpakaian sesuai tuntunan-Nya, menjaga hati dari kesombongan, dan menyampaikan nasihat dengan akhlak yang baik.
Wallahu a‘lam.



