Setiap manusia memiliki kebutuhan hidup. Kita perlu bekerja, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, belajar, membangun karier, menjaga kesehatan, dan mengatur masa depan. Semua itu adalah bagian dari kehidupan dunia yang tidak bisa diabaikan.
Namun, ada pertanyaan penting yang perlu selalu direnungkan: apakah dunia menjadi tujuan utama hidup kita, atau hanya menjadi bekal menuju akhirat?
Dalam Islam, dunia tidak selalu tercela. Dunia bisa menjadi ladang amal. Harta bisa menjadi sarana sedekah. Pekerjaan bisa menjadi ibadah. Ilmu bisa menjadi amal jariyah. Jabatan bisa menjadi jalan menegakkan keadilan. Keluarga bisa menjadi sumber pahala.
Yang menjadi masalah adalah ketika dunia dikejar dengan melupakan akhirat. Ketika pekerjaan membuat seseorang meninggalkan shalat. Ketika harta membuat seseorang sombong. Ketika jabatan membuat seseorang zalim. Ketika kesibukan membuat hati jauh dari Allah.
Karena itu, seorang Muslim perlu belajar menata prioritas: dunia boleh diusahakan, tetapi akhirat harus menjadi tujuan utama.
Dunia Itu Sementara
Kehidupan dunia memiliki batas. Seberapa banyak pun harta yang dikumpulkan, semuanya akan ditinggalkan. Seberapa tinggi jabatan yang diraih, suatu saat akan selesai. Seberapa besar popularitas yang diperoleh, perlahan akan dilupakan.
Dunia memang terlihat dekat dan nyata. Kita bisa melihat uang, rumah, kendaraan, pekerjaan, dan pencapaian. Karena terlihat nyata, manusia mudah terpikat. Akhirat sering terasa jauh karena belum terlihat oleh mata, padahal justru akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Seorang Muslim perlu menyadari bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya. Dunia adalah tempat ujian, tempat menanam amal, dan tempat mengumpulkan bekal untuk kembali kepada Allah.
Jika dunia dipahami sebagai ladang akhirat, maka dunia menjadi bermakna. Namun, jika dunia dijadikan tujuan akhir, manusia akan mudah lelah, gelisah, dan tidak pernah merasa cukup.
Rezeki Sudah Ditentukan, Ikhtiar Tetap Wajib
Dalam Islam, seorang Muslim meyakini bahwa rezeki sudah ditetapkan oleh Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil rezeki orang lain, dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan lebih dari apa yang telah Allah tetapkan baginya.
Namun, keyakinan terhadap takdir rezeki bukan berarti manusia boleh malas. Islam tetap memerintahkan ikhtiar. Seorang Muslim harus bekerja, belajar, berdagang, menanam, merencanakan, dan berusaha dengan cara yang halal.
Perbedaannya terletak pada hati.
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama akan mengejar rezeki dengan gelisah. Ia takut miskin, takut kalah, takut tertinggal, dan mudah menghalalkan segala cara. Sementara orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama tetap bekerja keras, tetapi hatinya lebih tenang karena ia yakin bahwa rezeki berada di tangan Allah.
Ia berusaha, tetapi tidak panik.
Ia bekerja, tetapi tidak melupakan shalat.
Ia mencari harta, tetapi tetap menjaga halal dan haram.
Ia merencanakan masa depan, tetapi tetap bertawakal kepada Allah.
Hadis tentang Menjadikan Dunia atau Akhirat sebagai Tujuan
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran selalu ada di hadapannya, padahal ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niat dan tujuan utamanya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan rasa cukup dalam hatinya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk.”
Hadis ini mengajarkan bahwa orientasi hidup sangat menentukan keadaan hati seseorang. Jika dunia menjadi tujuan utama, seseorang mudah merasa kurang, gelisah, dan terpecah pikirannya. Namun, jika akhirat menjadi tujuan utama, Allah akan menata urusannya dan memberikan rasa cukup dalam hatinya.
Rasa cukup ini sangat penting. Sebab, kekayaan sejati bukan hanya banyaknya harta, tetapi hati yang tenang dan tidak diperbudak oleh dunia.
Mengejar Akhirat Bukan Berarti Meninggalkan Dunia
Sebagian orang salah memahami bahwa mengejar akhirat berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Padahal, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup tanpa usaha, mengabaikan keluarga, atau meninggalkan tanggung jawab dunia.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam ibadah, tetapi beliau juga berdagang, memimpin umat, membangun masyarakat, mengatur urusan keluarga, dan berinteraksi dengan manusia. Para sahabat juga banyak yang bekerja, berdagang, bertani, dan memiliki harta.
Yang membedakan mereka adalah orientasi. Dunia ada di tangan mereka, tetapi tidak menguasai hati mereka.
Maka, mengejar akhirat bukan berarti berhenti bekerja. Mengejar akhirat berarti menjadikan pekerjaan sebagai ibadah.
Mengejar akhirat bukan berarti tidak boleh kaya. Mengejar akhirat berarti menggunakan kekayaan untuk kebaikan.
Mengejar akhirat bukan berarti tidak boleh sukses. Mengejar akhirat berarti kesuksesan dunia tidak membuat seseorang lupa kepada Allah.
Tanda Dunia Mulai Menguasai Hati
Ada beberapa tanda ketika dunia mulai menguasai hati seseorang.
Pertama, ia mudah meninggalkan shalat karena pekerjaan.
Kedua, ia tidak peduli halal dan haram dalam mencari rezeki.
Ketiga, ia merasa gelisah berlebihan jika kehilangan harta.
Keempat, ia lebih bangga dengan pencapaian dunia daripada kedekatannya kepada Allah.
Kelima, ia sulit bersedekah karena terlalu takut kekurangan.
Keenam, ia memandang rendah orang lain karena status ekonomi.
Ketujuh, ia selalu merasa kurang meskipun sudah memiliki banyak nikmat.
Kedelapan, ia tidak punya waktu untuk Al-Qur’an, zikir, ilmu agama, dan keluarga.
Jika tanda-tanda ini mulai terasa, saatnya menata ulang hati.
Cara Menjadikan Dunia sebagai Bekal Akhirat
Dunia bisa menjadi bekal akhirat jika digunakan dengan benar. Berikut beberapa cara sederhana.
1. Luruskan niat dalam bekerja
Bekerjalah bukan semata untuk mengejar uang, tetapi untuk mencari rezeki halal, menafkahi keluarga, menjaga kehormatan diri, dan memberi manfaat kepada orang lain.
2. Jaga shalat tepat waktu
Sesibuk apa pun, jangan korbankan shalat. Shalat adalah tanda bahwa Allah tetap menjadi prioritas utama.
3. Pastikan rezeki halal
Harta yang halal lebih berkah daripada harta banyak tetapi diperoleh dengan cara haram.
4. Sisihkan untuk sedekah
Sedekah membantu membersihkan hati dari cinta dunia yang berlebihan.
5. Gunakan ilmu dan jabatan untuk manfaat
Jika memiliki ilmu, ajarkan. Jika memiliki jabatan, berlaku adil. Jika memiliki pengaruh, gunakan untuk kebaikan.
6. Jangan menunda taubat
Kesibukan dunia sering membuat manusia lupa memperbaiki diri. Biasakan istighfar dan taubat setiap hari.
7. Ingat kematian
Mengingat kematian bukan untuk membuat pesimis, tetapi agar hidup lebih terarah.
Kaya Hati Lebih Penting daripada Kaya Harta
Banyak orang memiliki harta, tetapi hidupnya gelisah. Ada pula orang yang hartanya sederhana, tetapi hatinya lapang. Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati adalah rasa cukup dalam hati.
Rasa cukup bukan berarti tidak punya cita-cita. Rasa cukup berarti tidak rakus, tidak iri, tidak diperbudak oleh keinginan, dan mampu mensyukuri nikmat yang Allah berikan.
Orang yang mengejar akhirat tetap boleh memiliki target hidup. Namun, ia tidak menjadikan target dunia sebagai ukuran mutlak kebahagiaan. Ia sadar bahwa semua yang diperoleh adalah titipan Allah.
Jika diberi lebih, ia bersyukur.
Jika diberi sedikit, ia bersabar.
Jika berhasil, ia tidak sombong.
Jika gagal, ia tidak putus asa.
Menyeimbangkan Ikhtiar dan Tawakal
Seorang Muslim perlu menggabungkan dua hal: ikhtiar dan tawakal.
Ikhtiar berarti berusaha sebaik mungkin. Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha.
Orang yang hanya tawakal tanpa ikhtiar bisa jatuh pada kemalasan. Orang yang hanya ikhtiar tanpa tawakal bisa jatuh pada kegelisahan.
Keduanya harus berjalan bersama.
Dalam urusan dunia, berusahalah dengan sungguh-sungguh. Belajar, bekerja, berdagang, menabung, merencanakan, dan memperbaiki kualitas diri. Namun, setelah semua dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah.
Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Akhirat sebagai Kompas Hidup
Menjadikan akhirat sebagai tujuan utama berarti menjadikan ridha Allah sebagai kompas hidup.
Ketika memilih pekerjaan, tanyakan: apakah ini halal?
Ketika mencari uang, tanyakan: apakah cara ini diridhai Allah?
Ketika ingin membeli sesuatu, tanyakan: apakah ini kebutuhan atau sekadar gengsi?
Ketika mendapat jabatan, tanyakan: apakah saya bisa amanah?
Ketika punya kesempatan berbuat baik, tanyakan: apakah saya mau menundanya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membantu menjaga hati agar tidak terseret oleh dunia.
Penutup
Mengejar dunia tidak selalu salah. Bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, dan meraih kesuksesan dapat menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang halal.
Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan utama. Dunia harus menjadi bekal menuju akhirat.
Jika seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, ia mudah gelisah dan merasa tidak pernah cukup. Namun, jika ia menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, Allah akan menata urusannya, memberi rasa cukup di hatinya, dan mendatangkan dunia sesuai ketetapan-Nya.
Maka, kejarlah akhirat tanpa melupakan tanggung jawab dunia. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah, harta sebagai sarana kebaikan, ilmu sebagai manfaat, dan hidup sebagai persiapan untuk bertemu Allah.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak diperbudak dunia, memudahkan kita mencari rezeki halal, dan menjadikan akhirat sebagai tujuan terbesar hidup kita.
Wallahu a‘lam.
Rujukan
Hadis dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang menjadikan dunia atau akhirat sebagai tujuan utama, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan lainnya.




