Selasa, 17 Desember 2019

Jadilah Muslim yang Terus Belajar, Bukan Sekadar Biasa-Biasa Saja


Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mendengar nasihat seperti ini: “Jangan terlalu kaku dalam beragama. Jadilah Muslim yang biasa-biasa saja.”

Sekilas, kalimat itu terdengar sederhana. Mungkin maksudnya adalah agar seseorang tidak bersikap keras, tidak mudah menghakimi orang lain, dan tetap menjaga akhlak dalam beragama. Jika maknanya seperti itu, tentu nasihat tersebut bisa dipahami sebagai pengingat yang baik.

Namun, kalimat “jadilah Muslim yang biasa-biasa saja” juga bisa menjadi masalah jika dipahami sebagai ajakan untuk tidak terlalu serius belajar agama, tidak memperbaiki ibadah, tidak mengikuti sunnah, atau merasa cukup dengan pemahaman Islam yang seadanya.

Padahal, seorang Muslim seharusnya terus berusaha memperbaiki dirinya. Islam bukan hanya identitas, tetapi jalan hidup yang perlu dipelajari, diamalkan, dan dijaga sampai akhir hayat.

Apa Maksud Muslim yang Biasa-Biasa Saja?

Setiap orang bisa memiliki tafsir berbeda tentang “Muslim yang biasa-biasa saja”. Ada yang memahaminya sebagai Muslim yang tidak ekstrem dan tetap berakhlak baik. Ada pula yang memahaminya sebagai Muslim yang tidak perlu terlalu mendalami agama.

Di sinilah pentingnya memperjelas standar.

Jika “biasa-biasa saja” berarti tidak berlebihan dalam sikap, tidak kasar dalam berdakwah, tidak mudah menyalahkan orang lain, dan tetap menjaga adab, maka itu adalah hal yang baik.

Namun, jika “biasa-biasa saja” berarti malas belajar agama, meremehkan shalat, tidak peduli halal dan haram, enggan memperbaiki akhlak, atau menganggap sunnah sebagai sesuatu yang tidak penting, maka pemahaman seperti ini perlu diluruskan.

Seorang Muslim tidak boleh menjadikan standar agama hanya berdasarkan selera pribadi, kebiasaan masyarakat, atau perasaan manusia. Standar utama dalam beragama adalah Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Islam Mengajarkan Kesungguhan, Bukan Sikap Berlebihan

Dalam Islam, ada perbedaan antara bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan berlebih-lebihan dalam beragama.

Bersungguh-sungguh berarti menjaga kewajiban, menjauhi larangan, memperbanyak amal saleh, belajar ilmu agama, dan memperbaiki akhlak.

Adapun berlebih-lebihan berarti melampaui batas yang diajarkan syariat, mempersulit diri tanpa dasar, mudah menghakimi orang lain, atau bersikap keras tanpa ilmu dan hikmah.

Maka, seorang Muslim perlu menempuh jalan tengah: serius dalam beragama, tetapi tetap lembut dalam akhlak; kuat dalam prinsip, tetapi tidak kasar kepada manusia; semangat mengikuti sunnah, tetapi tetap rendah hati.

Islam tidak mengajarkan kelalaian. Islam juga tidak mengajarkan sikap ekstrem. Islam mengajarkan ketaatan yang dibangun di atas ilmu, adab, dan keikhlasan.

Belajar dari Generasi Terbaik

Acuan penting dalam memahami Islam adalah generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, kemudian generasi setelahnya dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan masa turunnya wahyu. Mereka belajar langsung dari Rasulullah ﷺ atau dari murid-murid para sahabat. Mereka memahami agama bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai kehidupan yang diamalkan.

Jika kita membandingkan diri dengan mereka, tentu amal kita masih sangat jauh. Ibadah kita belum sebanding. Ilmu kita belum seberapa. Kesabaran kita masih lemah. Keikhlasan kita masih sering diuji. Akhlak kita masih perlu banyak diperbaiki.

Karena itu, tidak pantas jika seseorang merasa sudah cukup dalam beragama. Tidak pantas merasa tidak perlu belajar lagi. Tidak pantas merasa amalnya sudah aman.

Yang lebih layak adalah terus merasa butuh kepada Allah, terus belajar, dan terus memperbaiki diri.

Jangan Puas dengan Pemahaman yang Seadanya

Salah satu bahaya dalam beragama adalah merasa cukup dengan pemahaman yang seadanya. Seseorang mungkin merasa sudah Muslim sejak lahir, sudah tahu dasar-dasar agama, sudah bisa shalat, dan sudah cukup baik dibandingkan orang lain.

Padahal, agama ini sangat luas. Banyak hal yang perlu terus dipelajari: tauhid, shalat, puasa, zakat, adab, akhlak, muamalah, keluarga, halal dan haram, cara berdakwah, serta cara menghadapi perbedaan.

Jika seseorang berhenti belajar, ia mudah terjebak pada kebiasaan yang belum tentu benar. Ia bisa menganggap sesuatu yang salah sebagai hal biasa karena sudah lama dilakukan. Ia bisa menolak nasihat bukan karena dalil, tetapi karena merasa tidak nyaman.

Maka, seorang Muslim sebaiknya memiliki semangat untuk terus menuntut ilmu. Bukan untuk merasa lebih baik dari orang lain, tetapi agar ibadahnya semakin benar dan hidupnya semakin dekat kepada Allah.

Introspeksi Diri dalam Beragama

Daripada sibuk menilai orang lain terlalu kaku atau terlalu biasa-biasa saja, lebih baik kita mulai dari introspeksi diri.

Apakah shalat kita sudah dijaga dengan baik?

Apakah bacaan Al-Qur’an kita sudah rutin?

Apakah rezeki yang kita cari sudah halal?

Apakah lisan kita sudah terjaga dari ghibah, dusta, dan hinaan?

Apakah kita sudah berbakti kepada orang tua?

Apakah kita sudah memperlakukan pasangan, anak, tetangga, dan teman dengan akhlak yang baik?

Apakah kita sudah mau menerima nasihat jika terbukti benar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membantu kita melihat bahwa perjalanan memperbaiki diri masih panjang.

Jangan Mencari Ridha Manusia dalam Beragama

Dalam beragama, seorang Muslim perlu berhati-hati agar tidak menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama. Jika seseorang terlalu mengejar ridha manusia, ia akan mudah berubah sesuai tekanan lingkungan.

Ketika lingkungan meremehkan sunnah, ia malu mengamalkannya.

Ketika lingkungan menganggap maksiat sebagai hal biasa, ia ikut terbawa.

Ketika lingkungan menilai orang taat sebagai berlebihan, ia mengurangi ketaatan agar diterima.

Padahal, tujuan hidup seorang Muslim adalah mencari ridha Allah. Tentu kita tetap harus menjaga hubungan baik dengan manusia. Kita tetap harus santun, bijak, dan tidak kasar. Namun, jangan sampai demi diterima manusia, kita mengorbankan ketaatan kepada Allah.

Beragama dengan Ilmu dan Akhlak

Semangat beragama harus dibimbing oleh ilmu. Tanpa ilmu, seseorang bisa salah memahami agama. Ia bisa terlalu keras dalam perkara yang seharusnya lapang, atau terlalu longgar dalam perkara yang seharusnya dijaga.

Ilmu juga harus disertai akhlak. Jangan sampai seseorang rajin membahas agama tetapi lisannya kasar. Jangan sampai seseorang semangat mengikuti sunnah tetapi mudah merendahkan orang lain. Jangan sampai seseorang ingin memperbaiki umat tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam ibadah sekaligus teladan dalam akhlak. Beliau adalah manusia paling taat, tetapi juga paling indah akhlaknya.

Maka, semakin seseorang ingin mengikuti Islam dengan baik, seharusnya semakin baik pula adabnya.

Jangan Merasa Aman dengan Amal Sendiri

Seorang Muslim tidak tahu amalan mana yang menjadi sebab Allah meridhainya. Bisa jadi satu sedekah kecil yang ikhlas, satu sujud yang penuh harap, satu nasihat yang lembut, satu bantuan kepada orang lain, atau satu air mata taubat menjadi sebab kebaikan besar di sisi Allah.

Karena itu, jangan meremehkan amal saleh. Jangan pula merasa cukup dengan amal yang sudah dilakukan.

Teruslah memperbaiki shalat.

Teruslah membaca Al-Qur’an.

Teruslah beristighfar.

Teruslah bersedekah.

Teruslah menjaga lisan.

Teruslah belajar.

Teruslah berbuat baik kepada keluarga dan sesama.

Amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas, walaupun kecil, bisa menjadi sangat berharga di sisi Allah.

Menjadi Muslim yang Seimbang

Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak boleh lalai, tetapi juga tidak boleh melampaui batas. Tidak boleh meremehkan agama, tetapi juga tidak boleh bersikap kasar kepada manusia.

Muslim yang baik adalah yang berusaha menjaga kewajiban, memperbaiki akhlak, mengikuti sunnah dengan ilmu, dan memberi manfaat kepada orang lain.

Ia tidak malu menjalankan agama, tetapi juga tidak sombong karena amalnya.

Ia tidak takut dianggap berbeda, tetapi tetap menjaga adab.

Ia tidak mencari pujian manusia, tetapi tetap berbuat baik kepada manusia.

Ia tidak berhenti belajar, karena sadar bahwa dirinya masih jauh dari sempurna.

Penutup

Nasihat “jadilah Muslim yang biasa-biasa saja” perlu dipahami dengan hati-hati. Jika maksudnya adalah jangan bersikap kasar, jangan mudah menghakimi, dan jangan melampaui batas, maka itu nasihat yang baik. Namun, jika maksudnya adalah tidak perlu serius belajar agama, tidak perlu memperbaiki ibadah, atau tidak perlu mengikuti sunnah, maka itu bukan pemahaman yang tepat.

Seorang Muslim seharusnya terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus mengejar ridha Allah. Standar dalam beragama bukan selera manusia, tetapi Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Kita mungkin belum mampu menyamai kualitas ibadah para sahabat dan generasi terbaik umat ini. Namun, justru karena itulah kita perlu terus berjuang mengejar ketertinggalan amal kita.

Semoga Allah melindungi kita dari kelalaian, membimbing kita dalam ilmu yang benar, memperindah akhlak kita, dan menjadikan kita hamba yang istiqamah sampai akhir hayat.

Wallahu a‘lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.