Rabu, 15 Februari 2017

TREND ENERGI DI MASA DEPAN



Seperti diketahui, hingga sejauh ini terjadi beberapa tren fenomena global, baik yang berhubungan langsung maupun yang tidak langsung, yang dapat mempengaruhi dunia per-energian dunia di masa depan :
  1. Harga minyak dunia yang turun drastis. Secara umum hal ini disebabkan karena produksi minyak dunia naik sementara permintaan minyak dunia menurun. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia akhir-akhir ini ditengarai merupakan salah satu sebab perlambatan penyerapan minyak, sementara produksi terus bertambah. Belum bisa dipastikan gejala penurunan harga minyak ini akan menjadi fenomena sementara, atau akan berlangsung dalam waktu yang lama, atau justru akan bersifat fluktuatif dalam tempo cepat yang terus berulang. Hal ini berhubung banyak faktor yang mempengaruhi harga minyak, termasuk beberapa tren yang akan dijelaskan selanjutnya.
  2. Semakin ekonomisnya teknologi shale oil di Amerika Utara (USA dan Kanada) yang berpotensi menjadikan wilayah Amerika Utara bertranformasi dari sebelumnya sebagai wilayah pengimpor minyak menjadi wilayah yang berswasembada minyak bahkan juga bisa menjadi pengekspor minyak di masa depan. Berhubung saat ini shale oil ini baru bisa bersaing dengan minyak konvensional di pasar minyak global jika harga minyak konvensional di atas 60 USD/barel, maka ada upaya dari produser-produser minyak konvensional untuk mempertahankan harga minyak di bawah 60 USD/barel untuk menghambat/memperlambat perkembangan shale oil masuk ke pasar minyak global dan mempertahankan penguasaan pangsa pasar. Hal ini juga mendorong negara-negara yang selama ini menggantungkan sebagian besar devisa negaranya kepada penjualan minyak untuk mulai mengembangkan sektor-sektor penghasil devisa yang lain.
  3. Bangkitnya produser-produser minyak (konvensional) baru yang mengakibatkan terjadi perebutan pangsa pasar minyak, seperti Iran (pasca embargo), Rusia, Meksiko, dll. Tren ini menguatkan tren sebelumnya dalam mempengaruhi turunnya harga minyak karena semakin banyaknya penyedia minyak yang bersaing semakin ketat.
  4. Isu lingkungan yang didukung oleh target serta komitmen internasional terhadap penurunan emisi global. Hal ini mempengaruhi pengambil kebijakan di tiap negara untuk mengurangi pemanfaatan energi yang menghasilkan emisi besar seperti energi fosil dan mempertimbangkan penggunaan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Kesuksesan program ini akan tergantung dari komitmen negara-negara penghasil emisi besar dunia seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dll, dalam upaya mencapai target pengurangan emisi karbon sesuai komitmen yang telah disepakati bersama.
  5. Isu energy security mulai menjadi pertimbangan negara-negara untuk memvariasikan jenis sumber energi yang digunakan. Perhatiannya juga untuk mengurangi penggunaan sumber energi dari luar yang rawan menjadi instrumen geopolitik dan rawan konflik, yakni minyak. Selain mevariasikan sumber pemasok minyak dari luar, negara-negara improtir minyak juga akan berupaya memvariasikan jenis energi yang digunakan.
  6. Revolusi industri ke-4. Dunia industri di era ke-4 ini akan berfokus pada pemgembangan sistem fisik cyber (cyber physical system) seperti smart robotics, artificial intelligent, internet of things, automation tingkat lanjut, driverless car, dll. Kegiatan industri ini dapat mempengaruhi pola penggunaan energi karena adanya tuntutan terhadap tambahan (peningkatan) permintaan energi karena semakin banyak tools-tools atau gadget-gadget yang bekerja dengan menggunakan energi. Ditambah lagi dengan adanya isu penggantian tenaga manusia dengan tenaga automasi dan robot pintar berbasis artificial intelligent (kecerdasan buatan) maka kebutuhan energi di masa mendatang kemungkinan akan semakin meningkat. Selain itu ada kecenderungan pada revolusi industri ke-4 ini akan lebih dipilih sumber energi yang handal, murah, dan bersih (ramah lingkungan). Dapat dikatakan semangat revolusi industri ke-4 ini cukup erat (berkolaborasi) dengan semangat isu lingkungan. Selain itu, banyak harapan bahwa kegiatan revolusi industri ke-4 juga sekaligus dapat merevolusi cara kita menggunakan energi melalui penemuan sumber energi baru maupun melalui peningkatan efisiensi yang signifikan terhadap sumber energi dan teknologi eksisting.

Proyeksi beberapa lembaga internasional seperti International Energy Agency (IEA) dan British Petroleum menunjukkan bahwa peranan energi fosil (minyak, gas, dan batu bara) masih akan cukup dominan dalam bauran energi dunia di masa depan, setidaknya hingga sekitar pertengahan abad ini. Pemanfaatan energi terbarukan memang akan mengalami peningkatan pesat, namun secara total masih lebih rendah dibandingkan peranan energi fosil. Penggunaan energi fosil sendiri kemungkinan akan mengalami perlambatan. Pengguna energi terbesar juga akan semakin bergeser, dari yang awalnya dikuasai oleh negara-negara industri maju, bergeser ke negara-negara ekonomi-ekonomi baru seperti China dan India

Energi terbarukan seperti energi surya dan energi angin menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun, baik dalam pertumbuhan pengembangan dan juga penurunan biaya investasi dan teknologi. Masih banyak pekerjaan rumah dalam upaya pengembangan energi terbarukan misalnya perlunya upaya peningkatan fleksibilitas energi terbarukan agar tetap mampu bekerja mensuplai energi walaupun kondisi alam sedang tidak memihak. Misalkan bagi energi surya, hambatannya adalah ketika intensitas cahaya matahari sedang rendah karena mendung atau karena musim dingin atau musim hujan. Teknologi batere diharapkan mampu mengatasi hal ini. Namun demikian, hingga sejauh ini teknologi batere yang ada masih menghadapi beberapa isu seperti isu biaya yang sangat mahal, intensitas penampungan energi yang masih rendah, dan juga isu safety.

Selama ini harga minyak yang tinggi merupakan salah satu instrumen pendorong kuat agar manusia segera beralih ke energi terbarukan. Namun setelah harga minyak turun drastis, maka faktor pendorong penggunaan energi terbarukan semakin berkurang, karena semakin lemahnya faktor pendorong di sisi keekonomian. Tinggal tersisa beberapa faktor pendorong lain seperti komitmen untuk memenuhi isu lingkungan dan energy security. Faktor-faktor lain yang bersifat sebatas komitmen tersebut mungkin tidak akan sekuat faktor ekonomi.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah budaya masyarakat dalam penggunaan energi. Perlu adanya upaya mempelajari apakah budaya penggunaan energi fosil di masyarakat dan industri yang telah dilakukan selama sekitar lebih dari 1 abad ini memang dapat diubah dengan cepat, menyongsong jenis energi baru yang menawarkan pengalaman baru. Misalnya saja di sektor transportasi, selama ini masyarakat dan industri otomotif telah terbiasa menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin atau minyak diesel. Bagaimanakah respon masyarakat dan industri ketika diperkenalkan kepada mereka jenis bahan bakar transportasi baru seperti bahan bakar gas, listrik, atau hidrogen. Apakah masyarakat dapat menerima pengalaman baru tersebut sebagai bagian dari budaya baru penggunaan energi di sektor transportasi. Atau justru ada keraguan, inkonsistensi, atau malah restriksi/penolakan karena masyarakat telah begitu terbiasa dan lebih senang menggunakan bahan bakar berbasis petroleum di sektor transportasi. Apalagi ketika harga energi alternatif tersebut masih relatif mahal dan tidak sepraktis bahan bakar petroleum.

Hal selanjutnya yang perlu kita tentukan adalah bagaimana peranan kita dalam menyikapi tren-tren di atas. Barangkali kita memiliki beberapa pilihan sikap:
  1. Sebatas sebagai pengamat. Layaknya seseorang yang menonton serial drama korea di televisi, mungkin kita dapat bersikap hanya menjadi penikmat jalannya cerita. Kita ikut bertepuk tangan ketika tokoh idola kita sukses, kita ikut merasa sedih ketika adegannya sedang mempertontonkan penderitaan. Melalui sikap ini kita sama sekali tidak bisa mempengaruhi jalannya cerita.
  2. Wait and see. Bisa dikatakan cara ini merupakan cara pilihan bermain yang dipandang aman. Sambil mengamati secara cermat perkembangan dan situasi yang berkembang, kita dapat menyiapkan dan menumpuk sumber daya sebanyak-banyaknya. Ketika telah ada kejelasan tren energi akan mengarah kemana, maka "jebret", kita langsung masuk ke permainan dan langsung mengambil peranan signifikan. Namun yang menjadi masalah, belum adanya pengalaman terjun langsung dan bermain di lapangan menuntut proses adaptasi yang sangat cepat. Jika tidak mampu beradaptasi secara cepat dan segera mengambil peranan secara tepat, maka tetap saja kita akan dilibas oleh pemain lama yang lebih sarat pengalaman.
  3. Menjadi pemain. Sikap ini membutuhkan kelihaian dan kekuatan yang cukup serta komitmen dan determinasi yang tinggi dalam pergulatan energi dan teknologi global. Kita harus berani mengambil keputusan, belajar dari kegagalan dan berani bereksperimen, serta harus berjiwa ulet dan berani menghadapi tantangan dan rintangan. Dengan memilih sikap ini kita akan berpotensi menjadi pelopor dan pencetak sejarah dunia di bidang energi.

Demikian tulisan ini dibuat. Hanya sekedar kumpulan uneg-uneg. Mudah-mudahan bermanfaat.


Sabtu, 14 Januari 2017

MENGHADAPI FAKTA KERAS TAPI TIDAK PERNAH KEHILANGAN KEYAKINAN


Melanjutkan pembalajaran sebelumnya dari buku Good to Great, tentang "Kepemipinan Level 5" dan "Siapa Dulu Baru Apa", kali ini kita akan melanjutkan pembelajaran mengenai upaya selanjutnya yang perlu dilakukan untuk merubah perusahaan bagus menjadi perusahaan hebat, yakni "Menghadapi Fakta Keras Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan".

Setelah sebuah perusahaan memiliki Pemimpin Level 5 yang kemudian memulai pekerjaannya dengan menentukan "Siapa Dulu Baru Apa", maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menghadapi fakta-fakta keras yang sedang dan akan dihadapi perusahaan dan dengan penuh keyakinan terus mencari jalan terbaik untuk meraih keunggulan.

Semua perusahaan "bagus ke hebat" yang diteliti oleh Jim Collins dan tim menujukkan pola yang sama. Mereka memulai proses dengan mencari jalan dan solusi untuk menuju keagungan dan kejayaan dengan menghadapi fakta-fakta brutal dari realitas terkini mereka. Para pengambil keputusan perusahaan harus memulai upaya jujur dan tekun dalam menentukan fakta-fakta dan realitas situasi yang sedang dihadapi dan tidak berusaha menghindari, mengabaikan, atau meremehkannya. Lalu, keputusan yang harus diambil akan menjadi jelas dengan sendirinya.

Perusahaan "bagus ke hebat" secara umum memiliki kemampuan yang sama dengan perusahaan pembanding dalam mendapatkan informasi-informasi dan fakta-fakta. Hal yang membedakannya adalah Perusahaan "bagus ke hebat" menghadapi fakta-fakta dan realitas tersebut, sedangkan perusahaan pembanding mengabaikan, meremehkan, atau mengacuhkannya, dan baru sadar ketika perusahaan telah sangat terpuruk. Untuk itu, tugas utama pemimpin level 5 agar dapat mengubah perusahaan dari bagus ke hebat adalah menciptakan sistem/kultur dimana orang akan memiliki peluang besar untuk didengarkan, sehingga pada akhirnya kebenaran pun akan didengar dan perusahaan dapat menentukan langkah-langkah untuk menghadapi realitas tersebut secara positif.

Dalam upaya membentuk iklim dimana kebenaran dapat didengar, perusahaan perlu menerapkan 4 praktik dasar :
  • Memimpin dengan pertanyaan, bukan jawaban
  • Terlibat dalam dialog dan debat, bukan paksaan
  • Melakukan otopsi tanpa saling menyalahkan
  • Membangun mekanisme bendera merah (semacam sistem notifikasi dini) yang dapat mengubah sebuah informasi menjadi informasi yang tak bisa diabaikan

Perusahaan "bagus ke hebat" menghadapi kesukaran dan fakta-fakta keras yang sama dengan perusahaan pembanding. Akan tetapi perusahaan "bagus ke hebat" merespon kesukaran itu dengan langsung menghadapi realita situasi. Pada akhirnya perusahaan "bagus ke hebat" mampu keluar dari kesukaran itu dalam kondisi lebih kuat.

Satu konsep psikologi yang dapat menggambarkan apa yang dilakukan perusahaan hebat adalah Paradoks Stockdale : Mempertahankan keyakinan mutlak bahwa seseorang/perusahaan dapat meraih kemenangan pada akhirnya, terlepas dari rintangan yang dihadapi, DAN pada saat bersamaan terus bertahan dan menghadapi fakta-fakta paling brutal dari realitas terkini, untuk kemudian menjadi semakin kuat dan terus semakin kuat.

Satu hal yang perlu dicatat, ternyata karisma kepemimpinan bisa menjadi beban ketimbang aset. Kekuatan kepribadian pemimpin bisa menyurutkan orang untuk membawa fakta-fakta brutal kepada pemimpin. Kepemimpinan tidak hanya memulai dengan visi. Kepemimpinan memulai pekerjaannya dengan membuat "orang-orang yang tepat" menghadapi fakta-fakta keras dan bertindak mengatasi dampak-dampak yang terjadi.

Untuk itu, bagi perusahaan "bagus ke hebat", upaya untuk memotivasi orang sama saja dengan membuang tenaga. Hal yang penting untuk membentuk kultur perusahaan hebat ini bukanlah dengan bertanya "Bagaimana cara memotivasi orang", tetapi hal ini dilakukan dengan meyakinkan bahwa perusahaan telah memiliki "orang-orang yang tepat" sehingga mereka akan memotivasi diri sendiri. Kuncinya adalah bagaimana caranya agar jangan sampai menyurutkan motivasi "orang-orang yang tepat" ini. Jika suatu perusahaan selalu mengabaikan fakta-fakta keras realitas, maka hal ini dapat menyurutkan motivasi "orang-orang yang tepat".

Setelah membahas "Kepemimpinan Level 5", "Siapa Dulu Baru Apa" dan "Menghadapi Fakta Keras (Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan)" maka pada kesempatan pembahasan selanjutnya kita akan membahas mengenai "Konsep Landak (Kesederhanaan Dalam Tiga Lingkaran), Insya Allah.

Jumat, 13 Januari 2017

Great Leadership & Organization System


Discussing about leadership reminds me to a leadership theory popularized by Ki Hadjar Dewantara. He is well known as the founding father of Indonesia national education. The motto used by Ki Hadjar Dewantara in his educational system is “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. The meaning of this Javanese motto is : “(for those) in front should set good example, “(for those) in the middle should raise the spirit or enthusiasm, and (for those) behind should give encouragement and motivation”.

This motto describes what an ideal leader should do and shows that the mission of Indonesia educational system is to build the leadership character of the people. Leadership must be present in every part of the organization. Leadership must manage the organization well, not only as the level of vertical organizational structure as always described formally, but also as a series of horizontal work. Not only as a “top-down” organizational structure but also as in “front, in the middle, and behind” organizational structure.

In every part of the organization, a leader must be always present and to play its role well and properly. In front, a leader must set a good example to the people around him. A leader must demonstrate high integrity and professionalism, strong commitment and determination, good morals and attitudes, and the other good characters as personal. In the middle, a leader should be present to make organization’s environment becomes conducive, safe and comfortable. By maintaining these conditions, it may raise the spirit or enthusiasm of all members of the organization and increase the productivity and efficiency of organization as a whole. From behind, a leader must give motivation and encouragement to raise the moral force of the organization’s members so that they have same reason to move forward together.

A leader should not only depend on the charisma/force to influence/ask others to do what the leader or organization wants to do, like usual good leaders do. As described by Jim Collins on his book “Good to Great”, to achieve significant achievement and to establish lasting prosperity, great leadership characteristic will be needed by a company. A great leader will focus on the organization, not on himself. A great leader creates and manages a leadership & organization system in order to work properly and continuously improved.

To manage a big organization, it would be very hard for a leader to always be physically present and manage everything. Therefore, a leader needs to create a leadership & organization system to help him strengthening its leadership presence in every part of the organization. To ensure that the leadership & organization system created has worked well, a leader must choose the right people and put them in the right positon in the organization to establish a collective leadership. Afterwards, organization can move forward simultaneously and automatically to the right path by the system. The organizational system is also created to be able to prepare better leaders successor in order to achieve everlasting prosperity of the organization.