Friday, January 13, 2017

SIAPA DULU BARU APA


Share/Bookmark


Artikel ini merupakan kelanjutan pembahasan buku karya Jim Collins yang berjudul "Good To Great" sebagaimana telah dijelaskan dalam artikel saya sebelumnya pada link berikut : http://www.alekkurniawan.com/2016/11/kepemimpinan-level-5.html

Setelah membahas mengenai Kepemimpinan Level 5, formula rahasia selanjutnya yang dapat mengubah suatu perusahaan bagus menjadi hebat adalah konsep "Siapa Dulu Baru Apa".

Memiliki seorang pemimpin level 5 saja belum cukup bagi suatu perusahaan bagus yang ingin menjadi hebat, karena pemimpin level 5 tersebut haruslah melakukan aksi-aksi.

Dari hasil penelitiannya, Jim Collins dan tim menemukan fakta yang mencengangkan. Awalnya Jim Collins dan tim beranggapan bahwa yang akan dilakukan pertama kali oleh seorang pemimpin level 5 ketika memimpin sebuah perusahaan adalah menetapkan visi dan misi serta strategi yang baru bagi perusahaan. Tetapi anggapan ini ternyata keliru.

Pemimpin level 5 ternyata pertama-tama mencari orang yang tepat untuk duduk di dalam bus (dan mendepak orang yang tidak cocok keluar dari bus) dan kemudian barulah mencari tahu secara bersama-sama kemana harus membawa bus tersebut. Jadi inilah yang kemudian disebut sebagai konsep "Siapa Dulu Baru Apa".

Pemimpin level 5 menyadari bahwa mungkin dia tidak selalu tahu kemana harus mengarahkan perusahaan yang dipimpinnya. Tapi dia tahu, jika dia memulai dengan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, mengajukan pertanyaan yang tepat kepada mereka, dan melibatkan mereka dalam perdebatan keras, maka pemimpin level 5 dan timnya tersebut akan menemukan jalan terbaik untuk membuat perusahaan mereka menjadi hebat.

Sementara itu, perusahaan bagus yang tidak mampu berubah menjadi perusahaan hebat biasanya mengikuti model "seorang genius dengan seribu penolong". Si genius ini menjadi aset berharga bagi perusahaan, punya peran yang menonjol, dan bertindak sebagai kekuatan pendorong utama dalam kesuksesan perusahaan - selama si genius bertahan. Si genius biasanya cenderung tidak berupaya membangun tim yang hebat, tetapi hanya membutuhkan sepasukan prajurit penolong cakap yang bisa membantu menerapkan ide-ide brilian si genius. Namun ketika si genius hengkang, para pembantunya kerapkali tersesat, dan perusahaan menjadi terpuruk.

Fakta penelitian lain yang ditemukan Jim Collins adalah tidak adanya pola sistematis yang mengaitkan kompensasi yang diterima eksekutif dengan proses perubahan dari bagus ke hebat. Orang yang tepat akan melakukan hal yang benar dan memberikan hasil terbaik sebisa mereka, terlepas dari sistem insentifnya. Perusahaan-perusahaan yang berhasil bertransformasi dari bagus ke hebat menjadikan "kompensasi" bukan sebagai upaya memotivasi perilaku yang tepat dari orang yang salah, tetapi untuk mendapatkan dan mempertahankan orang yang tepat sejak awal.

Dalam proses membangun perusahaan hebat, diperlukan ketegasan terkait menajemen orang atau SDM. Para pemimpin level 5 tegas, tetapi tidak kasar. Perusahaan hebat akan terkesan sebagai tempat yang sulit untuk bekerja dengan budaya kerja keras yang dimilikinya. Ini memang benar adanya. Jika sesorang tidak memiliki apa-apa yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan hebat, maka dia mungkin tidak akan bertahan lama.

Tegas dalam melakukan menajemen SDM, bukan berarti kasar, ini berarti orang-orang terbaik tidak perlu mencemaskan posisi mereka dan bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaan mereka. Tegas juga berarti meyakinkan bahwa perusahaan hebat tidak terbebani oleh orang-orang yang tidak kompeten. Akan tetapi hal ini juga bukan berarti perusahaan hebat sering melakukan PHK. Bahkan berdasarkan penelitian Jim Collins, perusahaan-perusahaan hebat jauh lebih jarang melakukan PHK dibandingkan perusahaan pembanding.

Untuk memiliki ketegasan tersebut perusahaan hebat melakukan sejumlah disiplin praktis.

Disiplin Praktis #1 : Saat Ragu, Jangan Merekrut Tapi Teruslah Mencari. Orang-orang yang membangun perusahaan hebat menyadari bahwa hambatan utama bagi pertumbuhan perusahaan hebat bukanlah pasar, teknologi, kompetisi, atau produk. Tantangan utama yang mereka hadapi adalah : kemampuan untuk mendapatkan dan mempertahankan cukup banyak orang yang tepat.

Disiplin Praktis # 2 : Saat Anda Tahu Bahwa Anda Perlu Membuat Orang Berubah, Bertindaklah. Ketika perusahaan merasa perlu mengelola seseorang secara ketat, maka ini pertanda perusahaan telah melakukan kekeliruan dalam rekrutmen. Orang-orang terbaik tidak perlu dikelola. Mereka memang perlu dibimbing, diajari, dipimpin, tapi tidak perlu dikelola secara ketat. Mungkin perlu waktu untuk tahu pasti apakah seseorang hanya ada di kursi yang salah atau apakah dia perlu turun total dari bus. Meskipun demikian, ketika para pemimpin level 5 tahu mereka harus membuat perubahan terkait manusia, mereka segera bertindak.

Disiplin Praktis # 3 : Tempatkan Orang-Orang Terbaik Anda Pada Peluang-Peluang Terbesar Anda, Bukan Pada Masalah-Masalah Terbesar Anda. Jika perusahaan selalu menciptakan suatu tempat/sistem dimana orang-orang terbaik selalu memiliki kursi di dalam bus, mereka akan lebih cenderung mendukung perubahan yang mengarah kepada tujuan.

Salah satu elemen penting yang mampu mengubah perusahaan bagus menjadi hebat terlihat agak paradoks. Di satu sisi, eksekutif-eksekutif selalu tampak tidak pernah sepakat pada apapun dan berdebat mengenai segala sesuatu, kadang sedemikian sengit, untuk mencari jawaban-jawaban terbaik. Namun di sisi lain, ketika keputusan sudah dibuat, mereka akan bersatu mendukung keputusan tersebut dan melepaskan segala kepentingan pribadi yang sempit.

Ungkapan yang menyebutkan bahwa "Orang adalah aset terpenting anda" adalah keliru. "Orang" bukan aset terpenting perusahaan, tetapi "orang yang tepat"lah yang merupakan aset terpenting perusahaan. Apakah seseorang tergolong "orang yang tepat", hal ini dapat lebih terlihat dari ciri-ciri kepribadian dan kemampuan bawaan dibandingkan dengan pengetahuan, latar belakang, atau keterampilan khusus.

Melalui penerapan konsep "Siapa Dulu Baru Apa" ini maka sebuah perusahaan akan memiliki keseimbangan dalam kesuksesan yang dicapai, baik kesuksesan perusahaan itu sendiri maupun kesuksesan masing-masing karyawan secara pribadi dalam keluarga dan persahabatan. Dengan mempekerjakan orang-orang yang tepat maka akan tercipta lingkungan kerja yang baik. Jika kita menghabiskan sebagian besar waktu dengan orang yang kita cintai dan hormati (dengan orang-orang yang kita merasa senang satu bus dengan mereka sehingga kita tidak akan pernah mengecewakan mereka) maka kita hampir pasti akan memiliki hidup yang hebat, tak peduli kemana bus itu pergi. Tentunya pada akhirnya bus tersebut akan mengarah kepada pencapaian-pencapaian hebat.

Setelah membahas "Kepemimpinan Level 5" dan "Siapa Dulu Baru Apa" maka pada kesempatan pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai Menghadapi Fakta Keras (Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan)", Insya Allah.


0 comments :

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l:
:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Post a Comment

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini. Jangan malu - malu!