Banyak orang memahami rezeki hanya sebagai harta, jabatan tinggi, gaji besar, bisnis sukses, rumah bagus, kendaraan mewah, atau pencapaian dunia lainnya. Semua itu memang bisa menjadi rezeki dan karunia dari Allah jika diperoleh dengan cara yang halal serta digunakan untuk kebaikan.
Namun, ada karunia yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar harta benda. Bagi seorang Muslim, nikmat terbesar adalah iman. Setelah itu, salah satu nikmat yang sangat besar adalah afiyah, yaitu keselamatan, kesehatan, dan perlindungan dari berbagai keburukan.
Sayangnya, nikmat kesehatan sering baru terasa mahal ketika seseorang jatuh sakit. Saat tubuh masih kuat, napas masih lapang, makan masih enak, tidur masih nyenyak, dan anggota badan masih dapat digunakan untuk beraktivitas, manusia sering lupa bersyukur. Padahal, semua itu adalah karunia yang tidak ternilai.
Iman adalah Nikmat Terbesar
Nikmat terbesar bagi seorang hamba adalah iman. Dengan iman, seseorang mengenal Allah, memahami tujuan hidup, mengetahui halal dan haram, serta memiliki arah dalam menjalani dunia.
Harta tanpa iman bisa membuat manusia sombong. Jabatan tanpa iman bisa membuat manusia zalim. Ilmu tanpa iman bisa membuat manusia merasa tidak membutuhkan Allah. Namun, jika iman hadir dalam hati, seluruh nikmat dunia dapat berubah menjadi sarana ibadah.
Karena itu, ketika seseorang masih diberi iman, masih dijaga dari kesyirikan, masih diberi kesempatan beribadah, dan masih memiliki keinginan untuk memperbaiki diri, maka itu adalah karunia yang sangat besar.
Jangan sampai kita hanya bersyukur ketika mendapatkan uang, tetapi lupa bersyukur karena masih diberi iman.
Afiyah: Karunia Setelah Iman
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya memohon ampunan dan afiyah kepada Allah.
Dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berdiri di atas mimbar lalu menangis. Kemudian beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ pada tahun pertama hijrah berdiri di atas mimbar, lalu menangis dan bersabda:
“Hendaklah kalian memohon kepada Allah ampunan dan afiyah. Setelah dikaruniai keyakinan, sesungguhnya seorang hamba tidak diberi karunia yang lebih baik daripada afiyah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Sebagian ulama menilai hadis ini sahih.
Makna afiyah sangat luas. Afiyah mencakup keselamatan agama, keselamatan jiwa, kesehatan badan, ketenangan hati, perlindungan dari musibah yang merusak, serta keselamatan dunia dan akhirat.
Dengan kata lain, afiyah bukan hanya bebas dari sakit fisik. Afiyah juga mencakup dijaganya seseorang dari keburukan yang dapat merusak agama, akhlak, keluarga, harta, dan kehidupannya.
Kesehatan Sering Baru Terasa Saat Hilang
Banyak orang baru menyadari mahalnya kesehatan setelah sakit. Ketika sehat, seseorang bisa bekerja, beribadah, berjalan, makan, belajar, dan membantu orang lain. Namun, ketika sakit, hal-hal sederhana yang dulu mudah dilakukan bisa menjadi berat.
Makan yang biasanya nikmat bisa terasa hambar.
Tidur yang biasanya pulas bisa terganggu.
Berjalan yang biasanya biasa saja bisa menjadi sulit.
Shalat yang biasanya dilakukan berdiri mungkin harus dilakukan sambil duduk atau berbaring.
Dari sini kita belajar bahwa kesehatan adalah modal besar untuk beramal. Dengan tubuh yang sehat, seseorang lebih mudah shalat, puasa, bekerja, mencari rezeki halal, menuntut ilmu, membantu keluarga, bersedekah, dan berbuat baik kepada sesama.
Maka, kesehatan bukan hanya nikmat untuk menikmati hidup. Kesehatan adalah amanah untuk memperbanyak kebaikan.
Jangan Menunggu Sakit untuk Bersyukur
Bersyukur tidak perlu menunggu nikmat besar menurut ukuran manusia. Bisa bangun pagi dalam keadaan beriman adalah nikmat. Bisa bernapas dengan lapang adalah nikmat. Bisa melihat, mendengar, berjalan, berpikir, dan beribadah adalah nikmat.
Kadang manusia terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, sehingga lupa pada nikmat yang sudah ada.
Belum punya rumah besar, tetapi masih punya tempat berteduh.
Belum punya kendaraan mewah, tetapi masih bisa berjalan.
Belum punya gaji tinggi, tetapi masih bisa makan.
Belum mencapai semua impian, tetapi masih diberi umur dan kesempatan memperbaiki diri.
Rasa syukur seperti ini dapat membuat hati lebih tenang. Bukan berarti tidak boleh berusaha meraih kehidupan yang lebih baik, tetapi jangan sampai usaha dunia membuat seseorang lupa terhadap nikmat yang sudah Allah berikan.
Kesehatan adalah Amanah
Dalam Islam, tubuh bukan milik manusia sepenuhnya. Tubuh adalah amanah dari Allah. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh sengaja merusak tubuhnya dengan kebiasaan buruk.
Menjaga kesehatan termasuk bagian dari rasa syukur. Jika Allah memberi tubuh yang sehat, maka gunakan untuk ketaatan dan rawat dengan cara yang baik.
Beberapa bentuk menjaga amanah kesehatan antara lain makan secukupnya, memilih makanan yang halal dan baik, menjaga kebersihan, beristirahat cukup, bergerak dan berolahraga sesuai kemampuan, menjauhi hal yang merusak tubuh, serta memeriksakan diri ketika ada keluhan kesehatan.
Menjaga kesehatan bukan tanda kurang tawakal. Justru, itu bagian dari ikhtiar. Tawakal bukan berarti mengabaikan sebab. Tawakal adalah berusaha dengan cara yang benar lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Nikmat Sehat untuk Beribadah
Salah satu cara terbaik mensyukuri kesehatan adalah menggunakannya untuk ibadah.
Jika masih kuat berdiri, jagalah shalat dengan baik.
Jika masih mampu berjalan, langkahkan kaki ke masjid bagi laki-laki yang mampu.
Jika masih diberi waktu, bacalah Al-Qur’an.
Jika masih diberi tenaga, bantulah orang tua, keluarga, tetangga, dan orang yang membutuhkan.
Jika masih diberi kemampuan bekerja, carilah rezeki halal.
Jika masih diberi ilmu, ajarkan kebaikan kepada orang lain.
Kesehatan yang digunakan untuk maksiat akan menjadi kerugian. Namun, kesehatan yang digunakan untuk ketaatan akan menjadi bekal akhirat.
Ketika Sakit, Jangan Putus Asa
Walaupun kesehatan adalah nikmat besar, setiap manusia tetap mungkin diuji dengan sakit. Sakit bukan selalu tanda keburukan. Bagi seorang Muslim, sakit bisa menjadi penghapus dosa, pengingat untuk kembali kepada Allah, dan sarana melembutkan hati.
Ketika sakit, seorang Muslim dianjurkan untuk bersabar, berdoa, berobat dengan cara yang halal, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Jangan merasa bahwa Allah tidak sayang hanya karena tubuh sedang sakit. Bisa jadi melalui sakit, Allah ingin mengangkat derajat hamba-Nya, menghapus kesalahan, atau mengingatkan agar ia tidak terlalu jauh tenggelam dalam urusan dunia.
Namun, sakit juga harus disikapi dengan ikhtiar. Berdoa dan berobat perlu berjalan bersama.
Memohon Afiyah dalam Doa
Karena afiyah adalah karunia yang sangat besar, seorang Muslim dianjurkan untuk sering memohonnya kepada Allah.
Kita dapat berdoa agar Allah memberikan afiyah dalam agama, dunia, keluarga, harta, tubuh, hati, dan akhirat. Doa seperti ini penting karena manusia sangat lemah. Kita tidak tahu ujian apa yang akan datang. Kita tidak tahu musibah apa yang Allah hindarkan dari hidup kita.
Sering kali, nikmat terbesar bukan hanya apa yang Allah berikan, tetapi juga keburukan yang Allah jauhkan tanpa kita sadari.
Maka, jangan lupa memohon ampunan dan afiyah.
Cara Mensyukuri Karunia Kesehatan
Ada beberapa cara sederhana untuk mensyukuri nikmat kesehatan.
Pertama, gunakan tubuh untuk taat kepada Allah.
Kedua, jaga shalat dan ibadah wajib.
Ketiga, rawat tubuh dengan pola hidup yang baik.
Keempat, hindari kebiasaan yang merusak kesehatan.
Kelima, gunakan tenaga untuk membantu orang lain.
Keenam, jangan sombong ketika sehat dan kuat.
Ketujuh, doakan orang yang sedang sakit.
Kedelapan, sisihkan sebagian rezeki untuk membantu kebutuhan kesehatan orang lain jika mampu.
Kesembilan, perbanyak doa agar diberi afiyah.
Kesepuluh, ingat bahwa kesehatan bisa berubah kapan saja, sehingga jangan menunda kebaikan.
Jangan Menukar Kesehatan dengan Kelalaian
Banyak orang mengorbankan kesehatan demi mengejar dunia secara berlebihan. Bekerja tanpa istirahat, makan sembarangan, kurang tidur, stres berkepanjangan, dan melupakan ibadah. Padahal, jika tubuh rusak, harta yang dikumpulkan pun bisa habis untuk berobat.
Tentu bekerja keras tidak salah. Mencari rezeki halal adalah ibadah. Namun, jangan sampai dunia membuat seseorang lalai menjaga tubuh, keluarga, dan hubungannya dengan Allah.
Seimbanglah dalam hidup. Bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap jaga ibadah. Berikhtiar mencari rezeki, tetapi jangan melupakan kesehatan. Mengejar target dunia, tetapi tetap ingat tujuan akhirat.
Penutup
Karunia tidak selalu berupa harta, jabatan, gaji besar, atau bisnis yang sukses. Nikmat terbesar bagi seorang Muslim adalah iman. Setelah itu, salah satu nikmat yang sangat besar adalah afiyah, yaitu keselamatan dan kesehatan dalam makna yang luas.
Kesehatan adalah amanah. Ia perlu disyukuri, dijaga, dan digunakan untuk ketaatan. Jangan menunggu sakit baru menyadari mahalnya nikmat sehat. Selama masih diberi tubuh yang kuat, hati yang beriman, dan kesempatan beramal, gunakan semua itu untuk mendekat kepada Allah.
Semoga Allah menjaga iman kita, memberi kita afiyah di dunia dan akhirat, menyembuhkan yang sedang sakit, serta menjadikan nikmat sehat sebagai sarana untuk memperbanyak amal saleh.
Wallahu a‘lam.
Rujukan
Hadis dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu tentang anjuran memohon ampunan dan afiyah, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Sebagian ulama menilai hadis ini sahih.



