Kamis, 13 November 2014

PERMASALAHAN DAN SOLUSI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL INDONESIA


A. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu pemain utama dalam perekonomian energi dunia. Hal ini dapat dilihat dari peranan Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara dan LNG terbesar di dunia. Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu Negara dengan penduduk terbesar di dunia dengan pertumbungan ekonomi pertahun yang cenderung stabil di angka 5-6%. Selama beberapa tahun terakhir, kebutuhan energi semakin meningkat. Pertumbuhan kebutuhan energi dalam negeri Indonesia telah mencapai angka 7 – 8 persen per tahun. Bahan bakar berbasis minyak masih menjadi sumber energi utama Indonesia hingga tahun 2011.

Gambar 1. Kondisi Bauran Energi Indonesia Tahun 2011
Sumber : (Pusdatin, KESDM, 2012)

Ketergantungan kepada sumber energi berbasis minyak bisa dilihat dari peningkatan subsidi untuk BBM yang semakin menyedot anggaran Negara dari tahun ke tahun. Ketergantungan kepada BBM mengakibatkan ketahan energi nasional yang rendah. Azmi dan Amir (2014) menyebutkan bahwa stok minyak mentah Indonesia hanya cukup untuk persediaan 3-4 hari, sedangkan stok bahan bakar minyak (BBM) di stasiun penyedia bahan bakar umum (SPBU) PT Pertamina hanya mampu melayani kebutuhan konsumsi kendaraan bermotor selama 21 hari. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik atas kehandalan pasokan bahan bakar dalam memenuhi permintaan masyarakat.

Ketergantungan Indonesia terhadap minyak impor diperkirakan semakin meningkat, khususnya dari kilang minyak Singapura. Hal ini menimbulkan pertanyaan seberapa jauh ketersediaan energi bisa menjamin terpenuhinya permintaan energi sebagai komponen utama kegiatan ekonomi. Di sisi lain, pemanfaatan energi terbarukan masih sangat rendah bila dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Hal ini juga masih menjadi tantangan tersendiri di sektor energi. Keterbatasan infrastruktur energi merupakan permasalahan serius dimana membatasi akses masyarakat terhadap energi. Karenanya penggunaan energi menjadi belum efisien.

Kompleksitas permasalahan sektor energi di Indonesia memerlukan suatu pengelolaan energi nasional yang komprehensif melalui Kebijakan Energi Nasional yang jelas dan terukur. Atas dasar itulah, Undang Undang (UU) No. 30 tahun 2007 tentang Energi mengamanatkan penyusunan Kebijakan Energi Nasional (KEN) sebagai pedoman dalam pengelolaan energi nasional. Kebijakan ini dirancang dan dirumuskan oleh Dewan Energi Nasional (DEN) dan ditetapkan oleh pemerintah dengan persetujuan DPR-RI.

UU tersebut juga mengamanatkan penyusunan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) untuk mendukung implementasi KEN. Sehubungan dengan hal tersebut, maka KEN yang dihasilkan harus benar-benar didukung dan selaras dengan RUEN dan RUED agar mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan.

B. Sejarah Perkembangan Kebijkan Energi Nasional

Kebijakan energi nasional Indonesia telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Hal ini dapat dilihat dari catatan sejarah perumusan kebijakan energi yang dapat dibagi berdasarkan urutan waktu sebagai berikut:
  1. Hingga tahun 1970-an
  2. Belum ada kebijakan energi. Sumber energi di Indonesia dianggap masih melimpah. Fokus kebijakan pada masa ini adalah mengoptimalkan produksi minyak bumi melalui kontrak bagi hasil untuk meningkatkan pendapatan negara.

  3. Tahun 1976 :
  4. Pembentukan Badan Koordinasi Energi Nasional (Bakoren). Badan ini setingkat dengan departemen dan bertanggung jawab memformulasikan kebijakan energi serta mengkoordinasikan implementasi kebijakan ini. Tujuan kebijakan di era ini adalah memaksimalkan pemanfaatan sumber daya energi.

  5. Tahun 1981
  6. BAKOREN untuk pertama kalinya mengeluarkan Kebijaksanaan Umum Bidang Energi (KUBE).

  7. Tahun 1987, dan 1991
  8. Selama selang waktu ini dilakukan revisi KUBE 1981 untuk disesuaikan dengan perkembangan strategis lingkungan yang mempengaruhi pembangunan energi di Indonesia pada masa itu. Fokus KUBE adalah pada intensifikasi, diversifikasi dan konservasi energi. Upaya intensifikasi dilakukan melalui peningkatan kegiatan survei dan eksplorasi sumber daya energi untuk mengetahui potensinya secara ekonomis. Diversifikasi merupakan upaya penganekaragaman penggunaan energi non-minyak bumi melalui pengurangan penggunaan minyak dan menetapkan batubara sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik dan industri semen. Konservasi dilakukan melalui penggunaan peralatan pembangkit maupun peralatan pengguna energi yang lebih efisien.

  9. Tahun 1998
  10. BAKOREN menyusun KUBE baru menggantikan KUBE 1991. KUBE ini bertujuan untuk menciptakan iklim yang mendukung terlaksananya strategi pembangunan bidang energi dan memberikan kepastian kepada pelaku ekonomi dalam kaitannya dengan pengadaan, penyediaan dan penggunaan energi. Dalam KUBE ini mulai diindikasikan adanya keterbatasan sumber daya energi, terutama minyak bumi. Minyak bumi diarahkan secara bertahap untuk digunakan di dalam negeri sebagai bahan bakar dan bahan baku industri yang dapat meningkatkan nilai tambah yang tinggi. Kebijakan energi yang perlu ditempuh mencakup lima kebijakan utama dan sembilan kebijakan pendukung. Kebijakan utama meliputi diversifikasi, intensifikasi, konservasi, penetapan harga rata-rata energi yang secara bertahap diarahkan mengikuti mekanisme pasar, memperhatikan aspek lingkungan dalam pembangunan di sektor energi termasuk didalamnya memberikan prioritas dalam pemanfaatan energi bersih. Sementara itu kebijakan pendukung meliputi: meningkatkan investasi, memberikan insentif dan disinsentif, standardisasi dan sertifikasi, pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengelolaan sistem infomasi, penelitian dan pengembangan, serta pengembangan kelembagaan dan pengaturan.

  11. Akhir tahun 2003
  12. DESDM mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau). Kebijakan ini merupakan pembaruan dari KUBE tahun 1998 yang penyusunannya dilakukan bersama-sama dengan stakeholders di bidang energi. Selain itu, kebijakan ini juga menjadi acuan utama dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang energi yang saat itu sedang dipersiapkan. Kebijakan yang ditempuh masih serupa dengan KUBE sebelumnya yaitu intensifikasi, diversifikasi, dan konservasi dengan menambah instrumen legislasi dan kelembagaan.

  13. Tahun 2006
  14. Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) ditetapkan sebagai pedoman dalam pengelolaan KEN. Di dalamnya berisi blue print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 yang mencakup aspek-aspek peningkatan produksi, diversifikasi, permintaan, maupun kebijakan harga, yang realistis dan bersifat lintas sektor sehingga berbagai sumber energi yang ada diharapkan dapat dikelola secara optimal. Target yang dicanangkan dalam Perpres ini adalah sebagai berikut:
    1. Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari satu pada tahun 2025.
    2. Terwujudnya bauran energi primer dengan peranan masing-masing jenis energi pada tahun 2025 sesuai Gambar 2 berikut.
    Gambar 2. Energi Mix yang diharapkan terjadi pada tahun 2025 sesuai amanah Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 tahun 2006

  15. Tahun 2007
  16. Pemerintah menerbitkan Undang-undang No.30 tahun 2007 tentang Energi. UU ini secara umum berisi:
    1. Pembentukan Dewan Energi Nasional (DEN) yang diketuai Presiden RI
    2. Prosedur elaborasi master plan energi nasional dan master plan energi daerah
    3. Aturan-aturan untuk management sumber energi, termasuk konservasi energi.
    4. Klarifikasi kewenangan pemerintahan pusat dan daerah dalam pengelolaan energi.
    Penetapan UU Energi No. 30 tahun 2007 ini tidak hanya bertujuan untuk mengamankan pasokan energi seperti di Perpres No. 5 tahun 2006 tetapi juga mencakup kebijakan pemanfaatan energi. Sedangkan DEN yang dibentuk berdasarkan UU No. 30 Tahun 2007 ini memiliki tugas-tugas sebagai berikut:
    1. Merancang dan Merumuskan Kebijakan Energi Nasional (KEN)
    2. Menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN)
    3. Menetapkan Langkah-langkah Penanggulangan Kondisi Krisis dan Darurat Energi
    4. Mengawasi Pelaksanaan Kebijakan Bidang Energi yang Bersifat Lintas Sektor.
    Gambar 3. Skema Penysunan KEN di Era UU No. 30 Tahun 2007
    Gambar 4. Alur Penysunan KEN, RUEN, dan RUED
    Sumber: Bapenas 2012

  17. Tahun 2008-sekarang
  18. Dewan Energi Nasional (DEN) mulai menyusun KEN yang baru. Dalam draft KEN yang sedang disusun, tahun 2008 dijadikan sebagai tahun dasar dan tahun 2050 dijadikan sebagai tahun target implementasi akhir kebijakan. Ruang lingkup dan fokus kebijakan KEN yang baru sangat berbeda dengan kebijakan energi yang sudah dikeluarkan sebelumnya seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut.
    Gambar 5. Perkembangan kebijakan energi semenjak tahun 1981 hingga 2012

    Prinsip lain yang dijadikan acuan untuk penyusunan KEN adalah sasaran bauran energi nasional sampai dengan tahun 2050 seperti dapat dilihat pada Gambar 6.
    Gambar 6. Sasaran Bauran Energi (Energy Mix) Dalam Draft Kebijakan Energi Nasional Dalam Presentase (DEN 2012)

    Target bauran energi pada tahun 2025 yang sedang disusun DEN, sedikit berbeda dengan bauran energi tahun 2025 yang ditetapkan pada Perpres 5 tahun 2006
    Gambar 7. Perbedaan bauran energi yang ditetapkan pada Perpres No. 5 tahun 2006 dengan yang direncakan dalam draft kebijakan energi nasional oleh DEN

    Draft Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2014 telah disetujui DPR pada bulan Januari 2014 dan kini sedang menunggu tanda tangan Presiden untuk bisa disahkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP), yang nantinya akan menjadi Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).


C. Permasalahan Implementasi Kebijkan Energi

Meskipun proses pembuatan kebijakan energi dari waktu ke waktu mengalami perbaikan tetapi masih banyak terjadi kontradiksi materi kebijakan. (Sugiyono, 2004). Strategi pengembangan energi baik jangka pendek maupun jangka panjang belum tersusun dengan jelas. Kebijakan-kebijakan yang ada masih terkesan sebagai kebijakan parsial yang tidak memiliki aliran strategis dalam rangka mencapai target program jangka panjang.

Dengan kondisi ini maka perlu kebijakan yang berlandaskan paradigma baru. Paradigma baru tersebut adalah:
  1. Proses pembuatan kebijakan harus transparan dan terbuka bagi masyarakat sehingga masyarakat dapat berpartisipasi untuk menyempurnakan kebijakan itu sendiri.
  2. Kebijakan sebaiknya tidak hanya bersifat kualitatif tetapi bersifat kuantitatif sehingga dampaknya dapat dengan mudah dievaluasi.
  3. Makin langkanya sumber minyak bumi dan kemungkinan Indonesia menjadi Negara pengimpor minyak maka sebaiknya mulai dipikirkan adanya kebijakan tentang keamanan energi (energy security).
Secara umum sasaran dari kebijakan energi, yaitu mengurangi ketergantungan pada minyak bumi sebagai sumber energi melalui diversifikasi dan intensifikasi sumber daya energi. Hal ini dapat dikatakan sudah cukup berhasil. Namun sasaran efisiensi penggunaan energi melalui strategi konservasi dapat dikatakan gagal. Hal ini disebabkan adanya kontradiksi antara kebijakan konservasi dengan kebijakan pemberian subsidi BBM.

Tumiran (2014) menyebutkan terdapat beberapa hambatan penerapan Kebijakan Energi Nasional (KEN) di Indonesia yaitu sebagai berikut:
  1. Masih bergantungnya sumber pendapatan negara pada hasil sumber daya energi.
  2. Tumpah tindih peraturan serta ketidakpastian hukum dan perizinan terutama di sektor energi.
  3. Masih kurangnya koordinasi yang terpadu antara sektor energi dengan sektor lain seperti sektor industri, sektor perdagangan dan sektor teknologi.
  4. Ketidakjelasan kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam hal pengelolaan energi mengakibatkan sering terhambatnya penerapan kebijakan energi.
  5. Lemahnya Koordinasi lintas sektor yang berdampak pada keterlambatan dan biaya
  6. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak terutama di sektor transportasi.
  7. Masih tingginya subsidi terhadap harga energi fosil sehingga kebijakan pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi terhambat karena kalah bersaing dengan harga energi fosil.
  8. Sektor energi memerlukan biaya investasi yang cukup besar, sehingga diperlukan dukungan finansial terutama dari sektor perbankan nasional dalam mendukung kebijakan di sektor energi.
  9. Lemahnya penguasaan teknologi dan lemahnya industri pendukung.
  10. Kurang berpihaknya sektor terhadap produk di dalam negeri.
Salah satu permasalahan yang dirasa perlu menjadi fokus terget penyelesaian masalah kebijakan energi adalah perlunya solusi praktis pengimplementasian kebijakan energi yang telah di susun secara nyata di lapangan. Hal ini dalam rangka untuk mencapai target bauran energi yang telah ditetapkan. Angka-angka persentase bauran energi yang ditetapkan dalam draft kebijakan energi nasional 2014 memang merupakan sebuah tantangan yang besar apabila kita melihat bauran energi yang aktual terjadi sekarang.

Gambar 8. Target Bauran energi Indonesia tahun 2025 dilihat dari kondisi aktual tahun 2011
Sumber : (Pusdatin, KESDM, 2012)


Pengurangan penggunaan minyak bumi dari 49,5 persen (2011) menjadi 25 persen (2025) bukanlah sesuatu yang mudah. Begitu pula halnya dengan upaya memacu pertumbuhan energi terbarukan dari yang awalnya hanya 4,2 persen di tahun 2011 menjadi 25 persen di tahun 2025. Semua ini harus tercapai dalam kurun waktu yang singkat dimana hanya tersisa yakni sekitar 10 tahun.

D. Pemetaan Potensi Pengembangan Energi di Indonesia

Selama ini telah cukup banyak dilakukan kajian dan studi terkait potensi, sumber daya dan cadangan sejumlah sumber energi di Indonesia. Termasuk juga pemetaan potensi pemanfaatan energi terbarukan. Pemetaan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kekayaan minyak bumi, gas alam, batu bara, geothermal, dan energi terbarukan di Indonesia. Dari hal ini kemudian muncullah istilah sumber daya (resource) dan cadangan (reserve) energi.

Sumber daya (resource) adalah bagian dari potensi energi yang diharapkan dapat dimanfaatkan.

Cadangan (reserve) energi adalah bagian dari sumber daya energi yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang telah dikaji dan dinyatakan layak untuk dieksplorasi.

Berdasarkan data-data yang berhasil dihimpun, didapatkanlah data-data cadangan dan potensi sumber energi yang terkandung di setiap wilayah Indonesia sebagai berikut:
  1. Cadangan (reserve) minyak bumi Indonesia
  2. Gambar 9. Cadangan Minyak Bumi 2010 dalam satuan MMSTB (juta stock tank barrel)
    Sumber : Ditjen Migas

  3. Cadangan (reserve) gas alam Indonesia
  4. Gambar 10. Cadangan Gas Bumi 2012 dalam TSCF (trillion square cubic feet) Sumber: Ditjen Migas

  5. Resource dan reserve batu bara Inodonesia

  6. Tabel 1. Sumber daya (resources) dan cadangan (reserve) batu bara Indonesia dalam satuan juta ton
    Sumber: Pusdatin ESDM

  7. Potensi Geothermal

  8. Tabel 2. Sumber daya (resources) dan cadangan (reserves) energi geothermal Indonesia tahun 2012 dalam MW
    Sumber : Pusdatin ESDM
  9. Potensi Tenaga Air

  10. Tabel 3. Potensi tenaga air berdasarkan data tahun 2009
    Sumber: Statistik EBTKE, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi

  11. Potensi Tenaga Surya

  12. Tabel 4. Intensitas radiasi matahari Indonesia
    Sumber: BPPT, BMG

    Pada Tabel 4 terlihat bahwa Nusa Tenggara Barat dan Papua mempunyai intensitas radiasi matahari paling tinggi di seluruh wilayah Indonesia, sedangkan Bogor mempunyai intensitas radiasi matahari paling rendah di seluruh wilayah Indonesia. Rahardjo dan Fitriana (2005) melakukan simulasi permodelam Markal mengenai potensi pemanfaatan tenaga Surya di Indonesia. Didapatkan potensi pemanfaatan meliputi kapasitas dan produksi listrik sebagai berikut.

    Tabel 5. Kapasitas Dan Produksi Listrik PLTS pada Kasus Dasar (BASE)* dan PVCOST**
    *BASE: kasus dimana semua kondisi diambil berdasarkan kondisi tahun 2000 **PVCOST: biaya investasi PLTS diasumsikan berdasarkan pada penelitian Amerika Serikat, dimana pada penelitian tersebut biaya investasi PLTS dimasa mendatang diperkirakan akan terus menurun.
    Sumber: Keluaran Model Markal

  13. Potensi Tenaga Angin

  14. Tabel 6. Perkiraan potensi energi angin di beberapa pulau di Indonesia
    Sumber: Majalah LAPAN No. 16 Tahun ke-4 Keterangan : WPEA = Wilayah Produksi Energi Angin

  15. Potensi Biofuels (Biodiesel dan Ethanol)

  16. Tabel 7. Luas Lahan Bahan Baku dan Potensi Produksi Bio-diesel menurut wilayah di Indonesia 2004
    Catatan: Setiap hektar pertanaman kedelai dapat menghasilkan rata-rata 4,5 kl Bio-diesel. Setiap hektar perkebunan kelapa sawit dapatmenghasilkan rata-rata 6,1 kl Bio-diesel
    Sumber: Statistik Perkebunan Kelapa Sawit 2004. Ditjen Bina Produksi Perkebunan. Buku Statistik Indonesia 2004. BPS

    Tabel 8. Luas Lahan Bahan Baku dan Potensi Produksi BioEthanol menurut Wilayah di Indonesia 2004.
    Catatan: Kebutuhan bahan baku jagung 5 kg/liter ethanol, ubi jalar 8 kg/liter ethanol, dan ubi kayu 6,5 kg/liter ethanol.
    Sumber: * Diolah berdasarkan data BPS, 2004 dan BBTP-BPPT, 2005

  17. Potensi Biogas

  18. Tabel 9. Potensi pemanfaatan energi biogas di setiap provinsi di Indonesia
    Sumber: Indonesia Energy Outlook & Statistic 2006

  19. Potensi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa)


    Tabel 10. Potensi sampah kota VS kapasitas pembangkitan listrik
    Sumber: Statistik EBTKE 2013

E. Pendelegasian Target Energy Mix Nasional ke Masing-Masing Daerah Yang Potensial 

Melalui data pemetaan kekayaan sumber energi Indonesia seperti disebutkan pada pembahasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa masing-masing wilayah/daerah memiliki potensi pemanfaatan sumber energi yang spesifik. Baik itu berupa kandungan minyak bumi, gas alam, geothermal, hingga potensi pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Suatu daerah dapat memiliki potensi salah satu dari jenis sumber energi atau berupa beberapa jenis sumber energi sekaligus. 

Bagi pemerintah pusat pengelolaan pemanfaatan cadangan dan potensi energi skala nasional tampaknya akan menjadi beban yang berat. Luasnya area dan keterbatasan jumlah tenaga ahli di pusat seringkali menjadi kendala. Selain itu, target periode waktu pengimplementasian yang semakin sempit serta kesibukan tenaga ahli pusat pada bidang pekerjaan lain juga menjadi tantangan tersendiri. Situasi politik di pusat juga sangat berpengaruh yang seringkali menghambat akselerasi perkembangan pemanfaatan potensi energi di daerah. 

Hal ini berpotensi menghambat pencapaian target bauran energi nasional yang telah ditetapkan. Padahal sumber energi yang akan dieksplorasi ada di daerah. Sebenarnya pengelolaan potensi energi yang ada di setiap daerah dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat dengan mengkoordinasikannya bersama Pemerintah Daerah. Karena itulah Rencana Umum Energi Daerah (RUED) menjadi sangat penting. RUED harus senantiasa selaras dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dalam koridor Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang telah ditetapkan. 

Namun demikian, penyusunan RUED yang ideal akan menghadapi kendala yang selama ini telah dianggap umum, yaitu kurangnya kompetensi dan knowledge yang cukup yang dimiliki personil di daerah. Ini adalah akibat kebijakan pengelolaan energi selama ini yang cenderung terpusat. Aliran knowledge dan kompetensi hanya berpusat di Ibu Kota. Jarang teralirkan hingga ke daerah. Mengenai permasalahan minimnya tenaga daerah yang dinilai kompeten tersebut sebenarnya terdapat solusi yang dapat ditawarkan. Pemerintah Pusat dapat merinci lebih lanjut dan lebih detail target bauran energi nasional hingga ke level daerah melalui RUEN yang akan disusun. 

Selanjutnya angka-angka inilah yang harus dijadikan pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam memacu kegiatan eksplorasi dan pengembangan pemanfaatan sumber energi yang terkandung di daerahnya. Setiap daerah yang memiliki potensi cadangan sumber energi atau potensi pemanfaatan energi baru dan terbarukan harus mampu memberikan konstribusi yang signifikan terhadap pencapaian target bauran energi nasional. 

Angka persentase masing-masing sumber energi dalam target bauran energi nasional dapat dirinci berdasarkan persentase jumlah reserve masing-masing energi yang dimiliki setiap daerah. Sehubungan dengan hal tersebut dirasa perlu untuk mengutamakan menggunakan data reserve energi daripada data sumber daya/resource. 

Hal ini untuk meyakinkan bahwa potensi yang dimilki suatu daerah benar-benar telah siap dimanfaatkan dan dieksplorasi. Kita dapat melihat sejumlah contoh aplikasi perincian target bauran energi nasional hingga ke level daerah yaitu sebagai berikut.
Gambar 11. Pembagian kontribusi per wilayah terhadap pencapaian target energy mix tahun 2025 untuk setiap komponen

Melalui upaya pembagian perwilayah seperti ini diharapkan Pemerintah Daerah dapat memiliki peranan lebih besar dalam mengeksplorasi reserve atau potensi energi yang dimiliki daerahnya. Misalkan berdasarkan arahan Pemerintah Pusat, suatu daerah diketahui memiliki reserve suatu jenis enegi dalam jumlah tertentu. Pemerintah Daerah yang bersangkutan kemudian dapat mengambil peranan dalam pencapaian target bauran energi nasional melalui penentuan strategi dan target ekplorasi terhadap reserve energi di daerahnya tersebut yang dituangkan dalam RUED. 

Selanjutnya dapat dituangkan melalu penerbitan Peraturan Daerah (Perda). Dengan demikian, Pemerintah Daerah akan menjadi agen eksekutor proyek eksplorasi energi dan pengembangan energi terbarukan di daerahnya sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui kerjasama investasi dengan pihak BUMN atau pihak swasta. Sedangkan Pemerintah Pusat dapat lebih berperan sebagai pemberi arahan dan pemberi approval. Baik approval menyangkut aspek legalitas, komersialisasi dan juga teknis. 

Untuk memacu peranan aktif pemerintah daerah, maka Pemerintah Pusat dapat memberikan insentif kepada Pemerintah Daerah atau personil daerah yang berhasil berperan secara nyata dalam menyumbang pemenuhan target energy mix nasional. Penganugerahan yang dimaksud dapat berupa duta energi daerah dan nasional. Dapat pula berupa penghargaan terhadap daerah terbaik dalam pencapaian target eksplorasi cadangan energi dan pengembangan energi terbarukan. 

Selain itu, juga dapat diberikan penghargaan daerah terbaik pencapaian konversi dan konservasi energi. Insentif ini dapat berupa acara ceremonial yang dilakukan secara rutin, atau insentif lainnya berupa peningkatan alokasi APBN untuk daerah. Dalam setiap kegiatan kajian, eksplorasi, hingga operasional pengelolaan sumber energi di daerah harus selalu diupayakan juga untuk melibatkan personil atau lembaga dan institusi setempat. Misalnya BUMD dapat bekerjsama dengan BUMN atau swasta dalam hal eksekusi proyek dan operasional. Kajian-kajian komersial dan teknis juga diutamakan untuk melibatkan tenaga ahli dan akademisi di daerah. Melalui upaya-upaya ini diharapakan terjadi transfer knowledge dari Pusat ke Daerah. 

F. Kesimpulan dan Saran 

Kebijakan Energi Nasional (KEN) memilliki peranan yang signifikan dalam pengelolaan sumber energi nasional serta dalam menjamin ketahanan energi nasional. Kebijakan ini bukan hanya menjadi payung hukum pengelolaan energi, tetapi juga akan menjadi arahan praktis. Hal ini dapat dilihat pada pendefinisain target bauran energi nasional hingga tahun 2050. Untuk meningkatkan kemudahan dalam pengimplementasian pencapaian target bauran energi nasional, dirasa perlu untuk merinci angka bauran energi nasional dalam KEN ini hingga ke level daerah. 

Dengan demikian kebijakan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat tetapi juga menjadi target Pemerintah Daerah. Prakteknya adalah dengan menyesuaikan peta persebaran potensi energi yang ada di setiap daerah dengan angka target pencapaian energi mix nasional untuk setiap jenis sumber energi. Masing-masing daerah yang memiliki potensi cadangan energi dan potensi pengembangan energi terbarukan harus berperan serta dengan menetukan target daerahnya dalam hubungannya untuk berkontribusi terhadap pencapaian energi mix nasional. 

Untuk memacu peranan Pemerintah Daerah maka perlu ada insentif dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah yang mampu berperan signifikan dalam pencapaian energi mix. Hal ini misal dilakukan melalui pemberian penghargaan tahunan kepada Pemerintah Daerah yang berhasil memaksimalkan pemanfaatan potensi cadangan energi yang ada di daerahnya. Atau berupa peningkatan alokasi APBN untuk daerah yang berhasil melakukan pengelolaan energi dengan baik dan mampu memaksimalkan pemanfaatan potensi energi di daerahnya. 

Guna mendukung perincian target setiap daerah, perlu dilakukan studi yang lebih komprehensif dan rutin terhadap potensi sumber energi yang dimiliki setiap daerah. Hal ini untuk mendapatkan peta potensi cadangan sumber energi dan potensi pemanfaatan energi terbarukan setiap daerah yang lebih detail dan terpadu. Semakin detail cakupan peta potensi energi maka akan semakin baik. Hal ini agar memudahkan proses koordinasi Pemerintah Pusat hingga ke level Pemerintahan Daerah terkecil. 

Bagi daerah yang tidak memiliiki potensi cadangan sumber energi atau dinilai belum berpotensi dalam penerapan teknologi energi terbarukan, maka tidak akan dibebankan target kontribusi terhadap bauran energi nasional. Akan tetapi, daerah-daerah ini dapat menyelenggarakan program-program lainnya yang berhubungan dengan pengelolaan energi, misalkan penyelenggaraan program konservasi energi dan juga monitoring dan kontrol terhadap penggunaan energi di daerahnya yang misalnya berupa jaminan keseimbangan supply dan demand energi. 

Selain itu, daerah ini dapat juga berkontribusi dalam program-program di daerah lain yang terdekat yang memiliki cadangan sumber energi. Daerah yang minim cadangan sumber energinya dan sedang kekurangan pasokan energi, dapat memenuhi kekurangan kebutuhan energinya tersebut dengan bekerjasama dengan daerah-daerah lain yang terdekat yang kaya cadangan sumber energinya. Hal ini dapat menciptakan sinergi antar daerah yang solid. Masing-masing daerah atau daerah-daerah yang berdekatan akan mampu mandiri energi. Ketahanan daerah pada khususnya dan ketahanan nasional pada umumnya akan tercapai. 

Referensi
  1. ___________. 2012. Keselarasan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dengan Rencana Umum Energi nasional (RUEN) Dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Direktorat Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
  2. Hanan Nugroho. 2009. Konservasi Energi Sebagai Keharusan Yang Terlupakan Dalam Manajemen Energi Nasional Indonesia: Belajar Dari Jepang dan Muangthai. http://www.bappenas.go.id/data-dan-informasi-utama/makalah/artikel-majalah-perencanaan/april-tahun-2005/konservasi-energi-sebagai-keharusan-yang-terlupakan-dalam-manajemen-energi-nasional-indonesia-belajar-dari-jepang-dan-muangthai-oleh--hanan-nugroho/
  3. Agus Sugiyono. 2004. Perubahan Paradigma Kebijakan Energi Menuju Pembangunan yang Berkelanjutan. Dipresentasikan pada Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I Pascasarjana FEUI & ISEI, 8-9 Desember 2004, Hotel Nikko, Jakarta.
  4. Rasbin. 2014. Kebijakan Energi Dan Subsidi Energi: Tantangan Pemimpin Baru Indonesia. Info Singkat Ekonomi dan kebijakan public Vol. VI, No. 16/II/P3DI/Agustus/2014.
  5. Riza Azmi dan Hidayat Amir. 2014. Ketahanan Energi: Konsep, Kebijakan dan Tantangan bagi Indonesia. Buletin Info Risiko Fiskal Edisi 1 Tahun 2014.
  6. Pusdatin ESDM. 2014. Handbook of Energy and Economic Statistic of Indonesia 2013. Ministry of Energy and Mineral Resources.
  7. Tumiran. 2014. Paradigma Baru Kebijakan Energi Nasional Menuju Ketahanan dan Kemandirian Energi. Dewan Energi Nasional. Dipresentasikan di Direktorat Jendeal Ketenaga Listrikan pada 21 Maret 2014
  8. Irawan Rahardjo dan Ira Fitriana. 2005. ANALISIS POTENSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DI INDONESIA. Strategi Penyediaan Listrik Nasional dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, dan Pembangkit Energi Terbarukan. Dalam http://www.geocities.ws/markal_bppt/publish/pltkcl/plrahard.pdf
  9. Sahat Pakpahan. 2003. Pemetaan Energi Angin Untuk Pemanfaatan dan Melengkapi Peta Potensi SDA Indonesia. Orasi Ilmiah Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Instrumentasi dan Pengolahan Data. Jakarta 10 Nevember 2003. Lembaga Penerapan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
  10. Statistik EBTKE 2013. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi
  11. Hasan, Mahlia & Hadi Nur. 2011. A review on energy scenario and sustainable energy in Indonesia. Elsevier
  12. Indonesia Energy Outlook & Statistic 2006. Depok, Indonesia: Energy Reviewer, University of Indonesia; 2006.


Rabu, 22 Oktober 2014

Memahami Dahsyatnya Perkembangan Ekonomi China: SDM, Reformasi Pasar, dan Alih Teknologi


Perkembangan ekonomi China merupakan salah satu kisah transformasi ekonomi terbesar dalam sejarah modern. Dalam beberapa dekade, China berubah dari negara yang sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Pertumbuhan ekonomi China bukan sekadar “keajaiban”, melainkan hasil dari kombinasi berbagai faktor: kualitas sumber daya manusia, reformasi institusi pasar, industrialisasi, keterbukaan terhadap investasi, alih teknologi, pembangunan infrastruktur, serta kemampuan pemerintah menjaga arah pembangunan jangka panjang.

Profesor Gregory C. Chow dalam bukunya Interpreting China’s Economy banyak membahas bagaimana reformasi ekonomi China sejak akhir 1970-an membuka jalan bagi pertumbuhan yang sangat cepat. China tidak langsung menjadi negara maju, tetapi memanfaatkan posisinya sebagai negara berkembang untuk mengejar ketertinggalan melalui pembelajaran, produksi, ekspor, dan akumulasi modal.

Namun, dalam membaca perkembangan ekonomi China, kita perlu berhati-hati. Angka-angka proyeksi masa lalu tidak selalu terjadi persis sebagaimana diperkirakan. Ekonomi dunia berubah, tantangan China juga berubah, dan pertumbuhan China saat ini tidak lagi setinggi masa awal reformasi. Karena itu, artikel ini berusaha membahas perkembangan ekonomi China secara lebih seimbang: mengapa China bisa tumbuh sangat cepat, apa faktor pendorongnya, dan apa tantangan yang dihadapi ke depan.

Reformasi Ekonomi China sejak 1978

Titik penting perkembangan ekonomi China modern dimulai pada tahun 1978, ketika Deng Xiaoping mendorong kebijakan reformasi dan keterbukaan. Sebelum masa itu, ekonomi China sangat dikendalikan oleh negara melalui sistem ekonomi terencana. Produktivitas masih rendah, insentif pasar terbatas, dan ruang gerak pelaku ekonomi belum berkembang luas.

Reformasi 1978 mengubah arah pembangunan China secara bertahap. China mulai memberi ruang lebih besar kepada mekanisme pasar, mendorong investasi, membuka diri terhadap teknologi asing, mengembangkan kawasan ekonomi khusus, serta memberi insentif bagi masyarakat untuk berproduksi dan berusaha.

Yang menarik, reformasi China dilakukan secara bertahap, bukan dengan perubahan mendadak. Pemerintah tetap mempertahankan kontrol politik yang kuat, tetapi pada saat yang sama membuka ruang ekonomi yang lebih fleksibel.

Pendekatan bertahap ini membuat China mampu bereksperimen. Kebijakan yang berhasil diperluas, sedangkan kebijakan yang kurang berhasil diperbaiki. Dalam banyak hal, China menjalankan reformasi ekonomi dengan prinsip pragmatis: yang penting mampu meningkatkan produksi, menyerap tenaga kerja, memperkuat industri, dan menaikkan kesejahteraan masyarakat.

Tiga Faktor Utama Pendorong Pertumbuhan China

Secara umum, terdapat tiga faktor besar yang sering disebut sebagai pendorong perkembangan ekonomi China.

Pertama, kualitas sumber daya manusia.

Kedua, institusi pasar yang semakin berfungsi.

Ketiga, posisi China sebagai negara berkembang yang mampu mengejar ketertinggalan teknologi dan produktivitas dari negara maju.

Ketiga faktor ini saling berhubungan. Sumber daya manusia yang kuat membutuhkan sistem ekonomi yang memberi ruang untuk berkembang. Institusi pasar membutuhkan masyarakat yang mampu merespons insentif. Sementara posisi sebagai negara berkembang memberi peluang besar untuk tumbuh cepat melalui adopsi teknologi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.

1. Sumber Daya Manusia yang Kuat

Sumber daya manusia merupakan salah satu fondasi penting perkembangan ekonomi China. Yang dimaksud dengan sumber daya manusia bukan hanya tingkat pendidikan formal, tetapi juga keterampilan, etos kerja, disiplin, kemampuan belajar, jiwa dagang, dan kecerdikan dalam melihat peluang.

China memiliki sejarah panjang sebagai peradaban besar. Sejak zaman kuno, masyarakat China dikenal memiliki tradisi kerajinan, perdagangan, birokrasi, pendidikan, dan kemampuan produksi yang tinggi. Produk seperti sutra, porselen, kertas, dan berbagai kerajinan bernilai tinggi menunjukkan bahwa tradisi keterampilan telah lama mengakar dalam masyarakat China.

Nilai-nilai seperti kerja keras, ketekunan, penghormatan terhadap pendidikan, serta kemampuan beradaptasi menjadi modal sosial yang penting ketika reformasi ekonomi dibuka.

Ketika peluang pasar mulai tersedia, masyarakat China dapat bergerak cepat. Petani, pekerja, pedagang, pengusaha kecil, hingga pengusaha industri mulai memanfaatkan ruang baru yang diberikan oleh reformasi. Inilah salah satu alasan mengapa pertumbuhan China berlangsung sangat cepat.

Pendidikan dan Mobilitas Sosial

Pendidikan juga menjadi bagian penting dalam pembangunan China. Banyak keluarga China melihat pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki nasib. Anak-anak didorong untuk belajar keras, masuk universitas terbaik, dan menguasai ilmu yang dapat meningkatkan status sosial serta ekonomi.

Selain pendidikan dalam negeri, China juga mengirim banyak pelajar ke luar negeri. Mereka belajar di berbagai universitas besar dunia, terutama di bidang teknik, sains, manajemen, ekonomi, dan teknologi. Sebagian dari mereka kemudian kembali ke China membawa pengetahuan, jaringan, dan pengalaman internasional.

Mobilitas sosial seperti ini menjadi bahan bakar bagi perkembangan industri, teknologi, dan kewirausahaan.

Namun, kualitas sumber daya manusia tidak hanya lahir dari sekolah. Ia juga lahir dari budaya kerja, pengalaman produksi, disiplin industri, dan kemampuan belajar dari praktik.

Etos Kerja dan Budaya Produksi

Salah satu kekuatan China adalah kemampuannya membangun budaya produksi dalam skala besar. Banyak wilayah di China berkembang menjadi pusat manufaktur yang sangat efisien. Pekerja, pemasok, pabrik, logistik, dan jaringan distribusi terhubung dalam ekosistem industri yang kuat.

Dalam banyak sektor, China tidak hanya memproduksi barang murah. Seiring waktu, China bergerak naik ke produk yang lebih kompleks, seperti elektronik, kendaraan listrik, panel surya, baterai, kereta cepat, telekomunikasi, dan teknologi digital.

Kemampuan ini tidak muncul hanya karena upah tenaga kerja rendah. Pada tahap awal, upah rendah memang menjadi daya tarik. Namun, dalam jangka panjang, yang membuat China kuat adalah kemampuan mengorganisasi produksi, membangun rantai pasok, meningkatkan keterampilan, dan mengadopsi teknologi.

2. Institusi Pasar yang Semakin Berfungsi

Sebelum reformasi ekonomi, China belum memiliki institusi pasar yang kuat. Banyak keputusan ekonomi ditentukan oleh perencanaan negara. Harga, produksi, distribusi, dan alokasi sumber daya tidak sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.

Reformasi mengubah keadaan tersebut. China mulai memperkenalkan insentif pasar. Masyarakat diberi ruang lebih besar untuk bekerja, berusaha, menjual produk, menerima keuntungan, dan mengembangkan bisnis.

Institusi pasar dapat dipahami sebagai seperangkat aturan, sistem, dan mekanisme yang membuat kegiatan ekonomi berjalan. Di dalamnya termasuk hak usaha, harga, perbankan, sistem hukum, kontrak, pasar tenaga kerja, investasi, perdagangan, serta perlindungan terhadap aktivitas ekonomi.

Ketika institusi pasar mulai berfungsi, orang yang bekerja lebih produktif dapat memperoleh hasil lebih baik. Pengusaha yang mampu membaca peluang dapat berkembang. Modal dapat mengalir ke sektor yang lebih produktif. Barang dan jasa dapat bergerak mengikuti kebutuhan pasar.

Reformasi Bertahap, Bukan Sekali Jadi

Salah satu pelajaran penting dari China adalah bahwa institusi pasar tidak harus sempurna sejak awal agar ekonomi bisa tumbuh. Pada awal reformasi, sistem hukum, perbankan, tata kelola perusahaan, dan perlindungan hak ekonomi di China masih jauh dari sempurna.

Namun, pemerintah China terus melakukan perbaikan secara bertahap. Ketika pasar mulai berkembang, aturan dan lembaga penunjang juga ikut diperbaiki. Sistem perbankan diperkuat, perusahaan negara direstrukturisasi, sektor swasta diberi ruang, dan investasi asing diarahkan ke sektor strategis.

China menunjukkan bahwa pertumbuhan dapat terjadi ketika ada kombinasi antara ruang pasar, insentif ekonomi, stabilitas politik, dan komitmen perbaikan berkelanjutan.

Peran Perusahaan Desa dan Kota

Pada masa awal reformasi, salah satu fenomena penting adalah berkembangnya perusahaan desa dan kota. Perusahaan-perusahaan ini menjadi motor produksi lokal, menyerap tenaga kerja, dan memenuhi kebutuhan pasar yang sedang tumbuh.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi tidak hanya didorong oleh perusahaan besar negara. Inisiatif lokal juga berperan penting. Banyak daerah memanfaatkan peluang untuk membangun industri, memproduksi barang, dan menjualnya ke pasar domestik maupun internasional.

Dari sini muncul dinamika baru: masyarakat lokal menjadi lebih produktif, pendapatan meningkat, dan perekonomian bergerak lebih cepat.

3. Posisi China sebagai Negara Berkembang

Faktor ketiga yang sangat penting adalah posisi China sebagai negara berkembang ketika reformasi dimulai. Negara berkembang yang memiliki penduduk besar, tenaga kerja melimpah, dan tingkat teknologi awal yang relatif rendah memiliki peluang untuk tumbuh cepat jika mampu mengadopsi teknologi dari negara maju.

China memanfaatkan kesenjangan teknologi ini dengan sangat agresif.

Melalui investasi asing, kerja sama industri, ekspor, pendidikan luar negeri, transfer teknologi, dan pembelajaran produksi, China mampu mengejar ketertinggalan. Banyak teknologi yang awalnya berasal dari luar kemudian dipelajari, dimodifikasi, dan dikembangkan lebih lanjut.

Dalam ekonomi pembangunan, negara yang masih berada pada tahap awal industrialisasi sering memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Produktivitas dapat meningkat cepat ketika tenaga kerja berpindah dari sektor pertanian tradisional ke sektor industri dan jasa yang lebih produktif.

China mengalami proses ini dalam skala sangat besar.

Industrialisasi dan Ekspor

Salah satu strategi utama China adalah industrialisasi berbasis ekspor. China menjadi pusat produksi dunia karena mampu menyediakan barang dalam jumlah besar, harga kompetitif, dan kualitas yang terus meningkat.

Banyak perusahaan global memindahkan sebagian proses produksinya ke China. Hal ini memberi China akses pada modal, teknologi, standar produksi, manajemen, dan jaringan pasar internasional.

Seiring waktu, China tidak hanya menjadi tempat perakitan. China mulai membangun merek, teknologi, dan kemampuan inovasi sendiri.

Perubahan ini terlihat pada berbagai sektor seperti elektronik, teknologi informasi, kendaraan listrik, energi terbarukan, baterai, dan infrastruktur transportasi.

Infrastruktur sebagai Pengungkit Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi China juga ditopang oleh pembangunan infrastruktur besar-besaran. Jalan raya, pelabuhan, bandara, kawasan industri, pembangkit listrik, jaringan kereta cepat, dan kota-kota baru dibangun untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Infrastruktur yang baik menurunkan biaya logistik, mempercepat distribusi barang, meningkatkan konektivitas, dan memperkuat daya saing industri.

Bagi negara sebesar China, infrastruktur bukan sekadar proyek fisik. Infrastruktur menjadi alat untuk menghubungkan wilayah, membuka pasar, menggerakkan industri konstruksi, dan meningkatkan produktivitas ekonomi.

Peran Negara dalam Ekonomi China

Model ekonomi China tidak sepenuhnya sama dengan ekonomi pasar liberal. Negara tetap memainkan peran besar. Pemerintah menentukan arah pembangunan, mengatur sektor strategis, mengendalikan sistem keuangan dalam tingkat tertentu, dan menggunakan perusahaan negara untuk menjalankan prioritas nasional.

Di satu sisi, peran negara yang kuat dapat membantu menjaga stabilitas, membangun infrastruktur, dan mengarahkan investasi ke sektor prioritas.

Namun, di sisi lain, peran negara yang terlalu besar juga dapat menimbulkan risiko, seperti inefisiensi, utang tinggi, distorsi pasar, dan ketergantungan pada investasi.

Karena itu, perkembangan ekonomi China perlu dilihat secara seimbang. Ada keberhasilan besar, tetapi juga ada tantangan struktural.

Tantangan Ekonomi China Saat Ini

Pertumbuhan China saat ini tidak lagi setinggi masa awal reformasi. Setelah beberapa dekade tumbuh sangat cepat, ekonomi China mulai memasuki fase yang lebih matang dan menghadapi tantangan baru.

Beberapa tantangan utama antara lain:

1. Perlambatan pertumbuhan

Pertumbuhan dua digit semakin sulit dipertahankan. Ketika ekonomi sudah besar, menjaga pertumbuhan tinggi menjadi lebih sulit. Sumber pertumbuhan lama seperti tenaga kerja murah, urbanisasi cepat, dan ekspor manufaktur tidak lagi sekuat dahulu.

2. Penuaan penduduk

China menghadapi masalah demografi. Jumlah penduduk usia kerja mulai tertekan, sementara jumlah penduduk lanjut usia meningkat. Hal ini dapat memengaruhi produktivitas, konsumsi, sistem pensiun, dan beban sosial.

3. Masalah sektor properti

Sektor properti pernah menjadi mesin penting pertumbuhan China. Namun, ketergantungan berlebihan pada properti menimbulkan risiko utang, kelebihan pasokan, dan tekanan terhadap kepercayaan konsumen.

4. Ketegangan perdagangan dan teknologi

Hubungan China dengan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, menghadapi ketegangan dalam perdagangan, teknologi, semikonduktor, dan geopolitik. Hal ini dapat memengaruhi akses teknologi dan pasar global.

5. Kebutuhan meningkatkan konsumsi domestik

China selama ini sangat kuat dalam investasi dan ekspor. Namun, untuk pertumbuhan jangka panjang yang lebih seimbang, konsumsi domestik perlu diperkuat.

6. Transisi dari manufaktur murah ke inovasi

China perlu terus bergerak dari produksi biaya rendah menuju inovasi bernilai tinggi. Proses ini tidak mudah karena membutuhkan riset, kreativitas, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan ekosistem inovasi yang kuat.

Pelajaran untuk Negara Berkembang

Perkembangan ekonomi China memberikan banyak pelajaran bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pertama, kualitas sumber daya manusia sangat penting. Pendidikan formal, keterampilan teknis, etos kerja, dan budaya produktif harus dibangun dalam jangka panjang.

Kedua, institusi ekonomi harus terus diperbaiki. Pasar membutuhkan aturan yang jelas, birokrasi yang efisien, sistem hukum yang dapat dipercaya, dan insentif yang mendorong produktivitas.

Ketiga, industrialisasi masih penting. Negara berkembang tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi dan ekspor bahan mentah. Nilai tambah perlu dibangun melalui industri, teknologi, dan rantai pasok.

Keempat, infrastruktur dapat menjadi pengungkit besar jika diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, bukan sekadar proyek fisik.

Kelima, transfer teknologi perlu dikelola. Negara berkembang harus belajar dari luar, tetapi juga membangun kemampuan domestik agar tidak selamanya bergantung.

Keenam, stabilitas politik dan konsistensi kebijakan berpengaruh besar terhadap investasi dan pembangunan jangka panjang.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Indonesia memiliki potensi besar: jumlah penduduk besar, sumber daya alam melimpah, pasar domestik luas, posisi strategis, dan peluang industrialisasi. Namun, potensi itu perlu dikelola dengan serius.

Dari China, Indonesia dapat belajar tentang pentingnya konsistensi pembangunan, pendidikan, infrastruktur, hilirisasi industri, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan keberanian memperbaiki institusi ekonomi.

Namun, Indonesia tidak harus meniru China sepenuhnya. Setiap negara memiliki sistem politik, budaya, sejarah, dan struktur sosial yang berbeda. Yang perlu diambil adalah prinsip-prinsip umumnya: membangun SDM, memperkuat institusi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah.

Indonesia perlu menemukan jalannya sendiri.

Kesimpulan

Perkembangan ekonomi China adalah hasil dari kombinasi sumber daya manusia yang kuat, reformasi pasar, industrialisasi, alih teknologi, pembangunan infrastruktur, dan peran negara yang konsisten dalam mengarahkan pembangunan.

China berhasil memanfaatkan momentum reformasi sejak 1978 untuk mengubah struktur ekonominya. Dari negara berkembang dengan produktivitas rendah, China tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi, industri, dan teknologi dunia.

Namun, keberhasilan China tidak berarti tanpa tantangan. Saat ini, China menghadapi perlambatan pertumbuhan, penuaan penduduk, tekanan sektor properti, ketegangan geopolitik, dan kebutuhan untuk meningkatkan konsumsi domestik serta inovasi.

Bagi negara berkembang, kisah China memberi pelajaran penting: pertumbuhan ekonomi besar membutuhkan kerja panjang, institusi yang terus diperbaiki, SDM yang disiplin, strategi industrialisasi, dan kemampuan belajar dari dunia.

Pada akhirnya, tidak ada pembangunan yang terjadi secara instan. Kemajuan ekonomi adalah hasil dari akumulasi kebijakan, budaya kerja, pembelajaran, dan konsistensi dalam jangka panjang.

Selasa, 26 Agustus 2014

Sukses Terbesar dalam Hidup: Meraih Ridha Allah dan Surga-Nya


Setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda. Ada yang menganggap sukses sebagai kemampuan memiliki penghasilan yang cukup, pekerjaan yang stabil, rumah yang nyaman, dan keluarga yang harmonis. Ada juga yang menganggap sukses sebagai keberhasilan membuat karya, membangun usaha, mencapai jabatan tertentu, atau memberikan manfaat bagi banyak orang.

Semua definisi itu tidak sepenuhnya salah. Dalam kehidupan dunia, manusia memang membutuhkan penghasilan, keluarga, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan pencapaian. Bahkan, Islam tidak melarang umatnya untuk berusaha meraih kehidupan dunia yang baik selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melalaikan akhirat.

Namun, sebagai seorang Muslim, definisi sukses tidak boleh berhenti pada ukuran dunia. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat kembali. Maka, kesuksesan sejati harus dilihat dari sudut pandang yang lebih besar: apakah hidup kita membawa kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?

Sukses Menurut Pandangan Dunia

Dalam pandangan umum, sukses sering diukur dari sesuatu yang terlihat. Misalnya harta, kendaraan, rumah, gelar, jabatan, pengaruh, popularitas, atau prestasi.

Ukuran seperti ini mudah dipahami karena dapat dilihat secara langsung. Seseorang yang memiliki banyak harta sering dianggap sukses. Seseorang yang memiliki jabatan tinggi dianggap berhasil. Seseorang yang dikenal banyak orang dianggap telah mencapai sesuatu yang besar.

Namun, ukuran sukses yang hanya berpatokan pada dunia memiliki kelemahan. Semua itu dapat berubah. Harta bisa berkurang. Jabatan bisa hilang. Popularitas bisa memudar. Kesehatan bisa melemah. Bahkan, hidup manusia sendiri memiliki batas yang tidak diketahui kapan berakhirnya.

Karena itu, ukuran sukses yang hanya bergantung pada dunia tidak cukup kokoh untuk menjadi tujuan akhir hidup manusia.

Sukses Dunia Bukan Sesuatu yang Salah

Meskipun demikian, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci dunia secara mutlak. Seorang Muslim boleh bekerja keras, berusaha memperbaiki ekonomi, belajar dengan sungguh-sungguh, membangun keluarga yang baik, dan memberi manfaat melalui profesinya.

Harta dapat menjadi sarana kebaikan. Jabatan dapat menjadi amanah untuk menegakkan keadilan. Ilmu dapat menjadi jalan amal jariyah. Keluarga dapat menjadi ladang pahala. Pekerjaan dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.

Yang menjadi masalah bukanlah dunia itu sendiri, melainkan ketika dunia menjadi tujuan utama hingga seseorang melupakan Allah, mengabaikan kewajiban, menghalalkan segala cara, dan tidak lagi memikirkan akhirat.

Dunia seharusnya menjadi bekal, bukan tujuan akhir.

Sukses Menurut Islam

Dalam Islam, kesuksesan sejati adalah keselamatan di akhirat dan keridhaan Allah. Seorang Muslim disebut sukses bukan hanya ketika ia memperoleh kenyamanan dunia, tetapi ketika ia mampu menjalani hidup sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Allah telah memberikan pedoman hidup melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Di dalamnya terdapat arahan tentang ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, pekerjaan, hubungan sosial, kepemimpinan, dan berbagai sisi kehidupan manusia.

Islam mengajarkan bahwa setiap aktivitas dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan tidak melanggar aturan Allah.

Tidur bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk menguatkan tubuh agar bisa taat kepada Allah. Bekerja bisa bernilai ibadah jika dilakukan untuk mencari rezeki halal dan menafkahi keluarga. Mendidik anak bisa bernilai ibadah. Menolong tetangga bisa bernilai ibadah. Menjaga lisan dari menyakiti orang lain juga termasuk ibadah.

Dengan demikian, sukses dalam Islam bukan hanya soal pencapaian besar, tetapi juga soal konsistensi menjalankan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesuksesan Kecil dalam Kehidupan Sehari-Hari

Sering kali kita membayangkan sukses sebagai sesuatu yang besar dan jauh. Padahal, kesuksesan besar di akhirat dibangun dari kesuksesan-kesuksesan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Bangun untuk shalat Subuh adalah kesuksesan kecil.

Menjaga lisan dari fitnah adalah kesuksesan kecil.

Mencari rezeki yang halal adalah kesuksesan kecil.

Menolak suap adalah kesuksesan kecil.

Bersabar ketika diuji adalah kesuksesan kecil.

Meminta maaf ketika salah adalah kesuksesan kecil.

Membantu orang lain tanpa berharap pujian adalah kesuksesan kecil.

Mendidik keluarga dengan kasih sayang adalah kesuksesan kecil.

Menyisihkan rezeki untuk sedekah adalah kesuksesan kecil.

Membaca Al-Qur’an walau beberapa ayat adalah kesuksesan kecil.

Kesuksesan kecil seperti ini mungkin tidak selalu terlihat oleh manusia. Namun, Allah mengetahuinya. Tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah.

Konsistensi Lebih Penting daripada Sekadar Semangat Sesaat

Dalam perjalanan hidup, semangat manusia bisa naik dan turun. Ada saatnya seseorang rajin beribadah, tetapi ada juga saatnya merasa lemah. Ada saatnya mudah bersedekah, tetapi ada juga saatnya merasa berat. Ada saatnya hati terasa dekat kepada Allah, tetapi ada juga saatnya lalai.

Karena itu, salah satu kunci sukses adalah konsistensi.

Amal yang kecil tetapi dilakukan terus-menerus dapat menjadi bekal yang besar. Konsistensi menunjukkan kesungguhan hati. Ia melatih jiwa agar tidak mudah menyerah dan tidak hanya beramal ketika sedang semangat.

Seorang Muslim tidak harus menunggu sempurna untuk mulai berbuat baik. Mulailah dari yang mampu dilakukan. Jaga shalat. Perbaiki niat. Kurangi dosa. Tambah sedikit demi sedikit amal saleh. Jika jatuh, segera bangkit dengan taubat.

Sukses Terbesar adalah Masuk Surga

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 13:

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.”

Ayat ini memberi definisi yang sangat jelas. Kemenangan besar bukan semata-mata kekayaan, jabatan, gelar, atau pujian manusia. Kemenangan besar adalah masuk ke dalam surga Allah.

Inilah sukses terbesar seorang Muslim.

Ketika seseorang mendapatkan ridha Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya, maka semua lelah dalam ketaatan menjadi bermakna. Semua kesabaran saat diuji menjadi tidak sia-sia. Semua perjuangan menahan diri dari maksiat menjadi kebahagiaan. Semua amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas menjadi bekal abadi.

Jangan Tertipu oleh Penilaian Manusia

Manusia sering menilai dari luar. Mereka melihat pakaian, rumah, pekerjaan, kendaraan, jabatan, jumlah pengikut, atau banyaknya harta. Namun, Allah melihat hati dan amal.

Seseorang bisa tampak biasa saja di mata manusia, tetapi sangat mulia di sisi Allah karena ketakwaannya. Sebaliknya, seseorang bisa terlihat sukses di dunia, tetapi merugi jika hidupnya jauh dari Allah.

Karena itu, jangan terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia. Pengakuan manusia tidak selalu menunjukkan nilai sejati. Yang lebih penting adalah bagaimana kedudukan kita di sisi Allah.

Jika manusia memuji, jangan sampai membuat sombong. Jika manusia meremehkan, jangan sampai membuat putus asa. Fokus utama seorang Muslim adalah memperbaiki hubungan dengan Allah dan menjalani hidup dengan benar.

Menyeimbangkan Sukses Dunia dan Akhirat

Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim boleh berusaha sukses di dunia, tetapi tidak boleh melupakan akhirat. Ia boleh mencari rezeki, tetapi harus halal. Ia boleh mengejar ilmu, tetapi harus bermanfaat. Ia boleh memiliki jabatan, tetapi harus amanah. Ia boleh kaya, tetapi harus bersyukur dan tidak sombong.

Sukses dunia yang mendukung akhirat adalah nikmat. Namun, sukses dunia yang membuat lalai adalah ujian yang berbahaya.

Maka, setiap pencapaian dunia perlu ditanya: apakah ini mendekatkan saya kepada Allah atau menjauhkan saya dari-Nya? Apakah harta ini membuat saya lebih dermawan atau lebih kikir? Apakah jabatan ini membuat saya lebih adil atau lebih sombong? Apakah ilmu ini membuat saya lebih rendah hati atau justru merasa paling benar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membantu menjaga arah hidup.

Cara Membangun Kesuksesan Sejati

Ada beberapa langkah sederhana untuk membangun kesuksesan sejati dalam hidup.

1. Perbaiki niat

Sebelum melakukan sesuatu, luruskan niat. Niatkan pekerjaan, belajar, keluarga, dan aktivitas harian sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

2. Jaga shalat

Shalat adalah tiang agama. Jika ingin sukses sejati, hubungan dengan Allah harus dijaga.

3. Cari rezeki yang halal

Rezeki halal mungkin tidak selalu terlihat paling cepat, tetapi lebih berkah dan lebih menenangkan hati.

4. Perbanyak amal saleh

Jangan menunggu kaya atau tua untuk berbuat baik. Lakukan kebaikan sesuai kemampuan.

5. Jaga akhlak

Sukses tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari cara. Akhlak yang baik adalah bagian penting dari kesuksesan seorang Muslim.

6. Bertaubat setiap hari

Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Karena itu, perbanyak istighfar dan segera kembali kepada Allah ketika salah.

7. Gunakan dunia sebagai bekal akhirat

Jadikan harta, ilmu, jabatan, waktu, dan tenaga sebagai sarana untuk meraih ridha Allah.

8. Ingat kematian

Mengingat kematian membantu manusia tidak terlalu larut dalam dunia dan lebih serius mempersiapkan akhirat.

Penutup

Sukses memiliki banyak definisi. Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki harta, jabatan, keluarga harmonis, karya besar, atau pengaruh sosial. Semua itu bisa menjadi kebaikan jika ditempatkan dengan benar.

Namun, bagi seorang Muslim, sukses terbesar adalah mendapatkan ridha Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Itulah kemenangan yang besar.

Kesuksesan akhirat tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari kesuksesan kecil dalam kehidupan sehari-hari: menjaga shalat, mencari rezeki halal, memperbaiki akhlak, menolong sesama, bersabar dalam ujian, dan terus bertaubat kepada Allah.

Semoga Allah membimbing kita untuk tidak tertipu oleh ukuran sukses yang semu, serta menuntun kita menuju kesuksesan sejati di dunia dan akhirat.

Wallahu a‘lam.

Selasa, 05 Agustus 2014

EKSTRAKSI SILICA (SiO2) DARI ABU SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN BAKU PENGUAT KOMPOSIT BERMATRIKS ALUMUNIUM (AMCs) UNTUK APLIKASI BAHAN KOMPONEN OTOMOTIF



Berikut adalah studi yang pernah saya lakukan bersama teman-teman ketika masih kuliah. Studinya mengenai penelitian terhadap sekam padi. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda semua.

I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, perkembangan teknologi komposit, khususnya metal matrix composite (MMCs) semakin maju seiring dengan perkembangan teknologi industri otomotif. Penggunaan baja sebagai bahan suku cadang dan komponen otomotif mulai digantikan dengan bahan komposit dimana memiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang lebih baik. Metalurgi serbuk (powder metallurgy) merupakan salah satu metode pembuatan MMCs yang paling banyak digunakan dalam pembuatan komponen industri otomotif karena menawarkan efisiensi bahan baku dan energi yang lebih baik dibandingkan dengan metode produksi lainnya.

Penerapan teknologi MMCs dalam industri otomotif di Indonesia, khususnya yang berbasis powder metallurgy masih belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produksi komponen otomotif dalam negeri yang masih rendah, yaitu sebesar 200 produk dibandingkan dengan Thailand yang sudah memiliki 1.500 produk industri komponen. Padahal, kebutuhan komponen otomotif dalam negeri, baik untuk kendaraan baru maupun untuk spare parts cukup besar karena menurut data statistik tahun 2006, jumlah populasi kendaraan bermotor roda empat di tanah air adalah 9.461.984 unit, sedangkan untuk kendaraan bermotor roda dua adalah 23.312.945 unit. (http://www.bppt.go.id/).

Kekayaan SDA nasional sebenarnya menawarkan potensi pengadaan material – material yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan MMCs untuk mendukung kemajuan industri otomotif dalam negeri. Salah satunya adalah sekam padi dimana berdasarkan penelitian, (Houston, 1972; Hara,1986; Shofiatun, 2000 dalam Harsono, 2002), diketahui banyak mengandung bahan keramik silika (SiO2). Harga sekam padi di pasaran cukup murah, dan ketersediannya di alam juga melimpah. Di wilayah Jawa Timur saja, potensi sekam padi yang dapat dihasilkan dapat mencapai 3,2 juta ton tiap tahunnya.

Akan tetapi, dari jumlah ini hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan. Selama ini, sekam padi sering hanya digunakan sebagai bahan pembakar bata merah atau dibuang begitu saja. (Pakpahan, 2006). Padahal bahan SiO2 yang terkandung dalam sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan penguat pada MMCs.

Proses ekstraksi silika dilakukan terhadap abu sekam padi yang merupakan hasil proses pembakaran sekam padi. Terdapat beberapa metode pemurnian silika dari sekam padi mulai dari yang mahal hingga yang murah dan sederhana. (Harsono, 2002; Mittal, D., 1997). Harsono (2002) melakukan ekstraksi silika dari sekam padi melalui beberapa tahapan proses. Proses tersebut meliputi pengeringan, pengabuan, pengarangan, pengasaman, dan identifikasi unsur.

Silika (SiO2) memimilki kekerasan, sifat tahan aus, ketahanan termal dan kekakuan yang tinggi. Apabila material ini digunakan sebagai penguat dan dipadukan dengan aluminium sebagai matriks maka akan dapat dihasilkan komposit yang memiliki kekuatan serta ketahanan korosi tinggi, ringan serta machinability yang baik. Jenis MMCs yang bermatriks alumunium seperti ini disebut AMCs (Alumunium Matrix Composite). Aplikasi AMCs pada komponen otomotif diantaranya pada cylinder liner, disc brake, drum brake, dan engine piston. (Schumacher.C., 1991).

Penelitian terhadap AMCs berpenguat SiO2 pernah dilakukan sebelumnya oleh Gregolin (2002). Bahan SiO2 yang digunakan merupakan bahan non sintetik yang diambil dari endapan mineral yang terdapat di pegunungan Brazil yang disebut spongilites. Komponen yang terkandung pada mineral ini adalah silika (> 90 %), Al2O3 (< 0,5 %), dan Fe2O3 (dapat mencapai hingga 1 persen) serta mempunyai struktur kristal campuran amorf dan kristalin. Selama proses heat treatment pada suhu 600 oC diketahui terbentuk struktur co – continuous AlSi/Al2O3 pada interface dimana mampu menambah kekuatan ikatan antar muka antara partikel matriks dan penguat pada komposit. Pada kegiatan ini akan diteliti pengaruh besar temperatur pengabuan sekam padi terhadap kandungan SiO2 dan fasa – fasa lain yang dihasilkan. Temperatur pengabuan divariasikan pada tempertur 600, 750, dan 900 oC. Dari variasi temperatur pengabuan ini dikatahui juga akan berpengaruh terhadap karakteristik kristal SiO2 yang terbentuk dimana kemudian akan ditinjau pengaruhnya terhadap karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk pada partikel komposit. Fraksi volume penguat SiO2 divariasikan menjadi 10, 25, dan 40 persen. Sifat mekanik komposit perlu juga diukur untuk mengetahui apakah komposit Al/SiO2 ini layak untuk diaplikasikan sebagai bahan komponen otomotif.

I.2 Perumusan Masalah

Permasalahan yang diangkat pada program ini dirumuskan sebagai berikut:
  1. Bagaimana pengaruh temperatur pengabuan yang diberikan kepada sekam padi terhadap kuantitas silika serta karakteristik struktur kristal yang dihasilkan.
  2. Bagaimanakah pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan tersebut terhadap karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk pada komposit.
  3. Bagaimana pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan terhadap kekuatan mekanik komposit.

I.3 Tujuan Program

Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Mengkaji pengaruh temperatur pengabuan yang diberikan kepada sekam padi terhadap kuantitas silika serta karakteristik struktur kristal yang dihasilkan.
  2. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan tersebut terhadap karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk pada komposit.
  3. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan terhadap kekuatan mekanik komposit.

I.4 Luaran yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari program ini adalah diperoleh suatu teknik rekayasa material baru yang berbasis metal matrix composites melalui metode powder metallurgy dengan memanfaatkan bahan – bahan SDA nasional. Seperti diketahui Indonesia memiliki kekayaan bahan tambang seperti bijih bauskit yang merupakan bahan baku alumunium serta kuantitas sekam padi yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini mendorong adanya penelitian – penelitian untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi keberadaan bahan – bahan tersebut melalui pengembangan teknologi rekayasa material yang murah dan sederhana seperti yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Besar harapan agar dari teknologi tersebut nantinya bangsa Indonesia mampu memproduksi bahan komponen dan suku cadang otomotif secara mandiri.

I.5 Kegunaan Program

Kegunaan dan manfaat dari program penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Memberikan solusi upaya peningkatan nilai fungsi serta nilai jual sekam padi yang selama ini kurang mampu dimanfaatkan secara maksimal sehingga diharapkan nantinya dapat meningkatkan taraf hidup petani.
  2. Memberikan bahan masukan dalam upaya pengembangan industri otomotif dalam negeri yang bertujuan meningkatkan kemampuan memproduksi komponen otomotif dan suku cadang secara mandiri.
  3. Dapat dijadikan referensi atau acuan pembuatan komposit bermatriks alumunium (Al) dengan penguat silika (SiO2) yang dapat diaplikasikan dalam bidang otomotif dengan metode metalurgi serbuk misalnya pada pembuatan automotive breaking system, gears, automotive pushrods, disc brake, planetary barier, chain sprockets.
  4. Dapat digunakan sebagai bahan referensi pada penelitian – penelitian selanjutnya yang sejenis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Komposit adalah gabungan dari dua material atau lebih yang berbeda secara makroskopis, dimana sifat yang dihasilkan merupakan perpaduan sifat dari elemen penyusunnya. Material pembentuk komposit ada dua yaitu matriks dan penguat (reinforcement). Matriks merupakan bahan yang berperan sebagai penyangga dan pengikat bahan penguat. Matriks memiliki karakteristik lunak, ulet, berat per satuan volume yang rendah serta modulus elastisitas yang lebih rendah dari penguatnya. Antara partikel matriks dan penguat harus memiliki kemampuan mengikat dan atau memberikan ikatan antar muka (interface bonding) yang kuat satu sama lain. (Jones, R. M., 1975)

Metal Matrix Composites (MMCs) merupakan salah satu jenis komposit dimana matriks yang digunakan adalah dari bahan logam. MMCs tergolong ke dalam komposit partikulat dimana termasuk komposit isotropik karena partikel penguatnya tersebar merata pada matriks, sehingga distribusi penguatannya sama ke segala arah. Komposit partikulat pada umumnya keuletan (ductililty) dan ketangguhannya (failure thoughness) menurun dengan semakin tinggi fraksi volume penguatnya. (Froyen dan Verlinden, 1994).

Pada komposit partikulat, nilai modulus elastisitasnya secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Halpin-Tsai (Cawla, 1987), yaitu:


Salah satu contoh dari MMCs yang paling banyak penggunaannya adalah AMCs dimana bahan logam alumunium bertindak sebagai matriks. Pemanfaatan AMCs dalam industri otomotif memiliki beberapa alasan yaitu untuk meningkatkan temperatur operasi mesin, memperbaiki properti (tahan aus), meningkatkan kekakuan dan kekuatan, serta mereduksi berat bagian mesin. (Schumacher.C., 1991).

II.1 Metode Pembuatan MMCs

MMCs dapat dibuat dengan menggunakan metode peleburan atau dengan metalurgi serbuk (powder metallurgy). Metode peleburan dilakukan dengan memasukkan komponen penguat yang memiliki titik leleh lebih tinggi ke dalam komponen matriks yang dilelehkan. Pencampuran ini disertai dengan pengadukan untuk diperoleh penguat yang tersebar lebih merata pada matriks kemudian dituang atau dicetak ke dalam cetakan.

Sedangkan pada metode metalurgi serbuk terdapat beberapa tahapan proses yang meliputi pencampuran, penekanan dan sintering. (Hirschhorn, J. S., 1976). Pencampuran adalah penggabungan dua bahan serbuk atau lebih dengan komposisi tertentu untuk memperoleh struktur komposit yang isotropik. Penekanan merupakan salah satu cara untuk memadatkan serbuk menjadi bentuk tertentu yang sesuai dengan cetakannya (dies). Sintering merupakan teknik untuk memproduksi material dengan densitas yang terkontrol melalui aplikasi termal. Teknik sintering menawarkan kemudahan dalam desain kontrol mikrostruktural yaitu kontrol ukuran butir (grain size), densitas pasca sintering (sintered density), ukuran dan distribusi fase lain termasuk pori (pores). (Kang Suk – Joong., 2005). Sintering umumnya dilakukan pada temperatur konstan dengan waktu tahan (holding time) yang bervariasi untuk mendapatkan hasil tertentu.

Proses metalurgi serbuk merupakan proses fabrikasi yang sangat efektif dari segi biaya (cost effective). Metalurgi serbuk juga menawarkan efisiensi bahan baku yang sangat tinggi dengan komposisi matriks dan reinforced yang bervariasi.(Fogagnolo.J.B., 2004.). Gambar 2.1 menunjukkan efisiensi bahan baku dan efisiensi energi dari metode powder metallurgy dibandingkan metode manufaktur lainnya. Keunggulan lainnya adalah banyaknya variabel proses yang dapat dikontrol, sehingga kualitas produk akhir yang dihasilkan akan lebih akurat sesuai dengan yang diinginkan. Untuk itu, penggunaan metode powder metallurgy perlu menjadi pertimbangan mengingat aplikasinya terhadap dunia otomotif yang mensyaratkan standar keamanan yang tinggi. Gambar 2.2 menunjukkan persentase aplikasi powder metallurgy pada berbagai jenis.


Kelemahan dari metode ini adalah tidak bisa digunakan pada proses pembuatan benda – benda yang mempunyai dimensi relatif besar. Hal ini membuat motode metalurgi serbuk cocok untuk digunakan dalam pembuatan komponen otomotif dan suku cadang otomotif yang mempunyai dimensi relatif kecil. Misalnya pada automotive breaking system, gears, automotive pushrods, disc brake, planetary barier, chain sprockets.


Pada tahun 1980-an, industri transportasi mulai mengembangkan AMCs berpenguat discontinuous. Keunggulan AMCs ini adalah karakteristik mekaniknya yang isotropik dan biaya proses pembuatan dan bahan penguat discontinuous seperti SiC dan Al2O3 yang murah.

Pada Gambar 2.1 disajikan beberapa contoh produk AMCs dalam aplikasi industri transportasi : (a) Brake rotor pada kereta api kecepatan tinggi dari Jerman, ICE – 1 dan ICE – 2 yang dikembangkan oleh Knorr Bremse AG dan dibuat dari paduan alumunium berpenguat partikulat (AlSi7Mg + SiC partkulat). Dibandingkan dengan komponen konvensional yang terbuat dari besi tuang dengan berat 120 kg/komponen, produk AMCs ini jauh lebih ringan yaitu sebesar 76 kg/komponen. (b) braking system (disc, drum, dan caliper) dari New Lupo untuk Volkswagen yang dibuat dari paduan alumunium berpenguat partikulat. (c). Pushrod AMCs berpenguat serat continuous yang diproduksi oleh 3M untuk mesin balap. Pushrod – pushrod tersebut mempunyai berat 40% dari berat baja, selain itu juga lebih kuat dan kaku, serta mempunyai kemampuan meredam getaran yang lebih baik. (d) Kawat AMCs juga dikembangkan oleh 3M untuk core dari konduktor listrik. (Froyen,L., Verlinden,B., 1994).

MPIF (Metal Powder Industry Federation) melaporkan beberapa produk komponen otomotif terbaik di dunia yang dibuat dengan teknik powder metallurgy. (ASM Handbook, Vol 7). Salah satunya adalah auto transmission sprockets (Gambar 2.2) yang diproduksi oleh Stackpole Limited Automotive Gear Division yang berbahan dasar ferrous. Komponen – komponen tersebut mempunyai kekeuatan tarik sebesar 860 MPa (125 ksi), tegangan luluh 825 MPa (120 ksi), serta kekerasan permukaan lebih dari 60 HRC.

II.2 Sekam Padi Dan Silika

Sekam padi adalah bagian terluar dari butir padi yang merupakan hasil sampingan saat proses penggilingan padi dilakukan. Sekitar 20 – 35 persen dari bobot padi adalah sekam padi dan kurang lebih lima belas persen dari komposisi sekam padi adalah abu sekam. (Hara, 1986 dalam Harsono 2002). Tabel 2.1 menunjukkan analisis proksimasi kandungan komponen fisik sekam padi.


Harsono (2002), mensintesa silika dioksida (amorf) dari sekam padi melalui beberapa tahapan proses, yaitu pencucian, pengeringan, pengabuan, pengarangan, dan pengasaman. Kandungan SiO2 tertinggi diperoleh dengan pengeringan dengan sinar matahari selama 1 jam yaitu sebesar 89,46 persen, dibandingkan dengan pengeringan dalam oven (190 oC) selam 1 jam yang sebesar 83,15 persen. Persentase bobot yang hilang dari sekam padi setelah proses pembakaran adalah antara 78,78 – 80,2 persen.

Nilai paling umum kandungan silika dari abu sekam adalah 90 – 96 %. Silika yang terdapat dalam sekam memiliki struktur amorf terhidrat (Houston, 1972 dalam Harsono, 2002). Apabila pembakaran dilakukan pada suhu di atas 650 oC, kristalinitas SiO2 akan meningkat sehingga dapat terbentuk fase kristobalit dan tridimit (Hara,1986 dalam Harsono 2002).


Penelitian Hwang C. L. (2002) menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur pada proses pengarangan sekam dalam oven akan diperoleh kemurnian SiO2 yang makin tinggi. Temperatur optimal adalah 1.000 oC dengan kandungan silika maksimal 95,48 persen. Selain silika yang kandungannya dominan terdapat zat – zat lainnya yang terkandung dalam abu sekam yang dapat disebut sebagai zat pengotor (impurities). Apabila diurut dari kandungannya yang tertinggi, zat – zat tersebut yaitu : K2O, CaO, MgO, SO3, Na2O, dan Fe2O3. Komposisi kimia abu sekam setelah proses pemurnian pada perlakuan temperatur berbeda ditunjukkan oleh Tabel 2.2.

Silika (SiO2) dalam bentuk amorf memiliki densitas sebesar 2,21 gr/cm3 dengan modulus elastisitas sebesar 10 x 106 psi. Kandungan unsur silikon (Si) dan oksigen (O) pada silika jenis ini, adalah 46,7 persen dan 53,3 persen. Nilai kekerasan material ini pada pembebanan tegak lurus dengan menggunakan indentor intan (metode vickers atau knoop) adalah sebesar 710 kg/mm2 sedangkan pada arah pembebanan dengan sudut elevasi diketahui nilai kekerasannya adalah sebesar 790 kg/mm2. (Mantell, C. L., 1958). Gambar 2.3 Berikut adalah diagaram fase SiO2 polimorf.


II.3 Penelitian Tentang AMCs Berpenguat SiO2

Pada AMCs, pemanfaatan silika masih belum dikaji secara optimal karena selama ini diketahui memiliki reaktifitas yang tinggi terhadap alumunium. Kontak antara leburan alumunium dengan silika akan merusak struktur silika berdasarkan reaksi reduksi :
4Al + 3SiO2 → 2Al2O3 + 3Si

Bahkan, proses pencampuran kedua material tersebut pada temperatur 400 oC sudah dapat memicu terjadinya reaksi reduksi tersebut dimana terbentuk struktur material yang disebut co – continous microstructure AlSi/Al2O3 pada interface antara penguat dan matriks.

Gregolin E. N., (2002) melakukan penelitian tentang AMCs dengan memanfatkan SiO2 sebagai penguat. Proses pembuatannya dilakukan dengan metode powder metallurgy. Setelah proses mixing dilakukan, pada bahan dilakukan cold compaction sebesar 100 MPa kemudian disinter dengan temperatur sebesar 450 oC dan waktu tahan 4,5 jam. Hot extrusion dilakukan untuk mereduksi diameter penampang spesimen yang dihasilkan dari 100 mm menjadi 18 mm. Pada spesimen lalu dilakukan heat treatment pada temperatur 600 oC dengan variasi waktu tahan dan media pendingin air.


Dari analisa struktur mikro dengan menggunakan SEM diketahui terbentuk bentuk fase co – continuous pada permukaan partikel penguat seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Daerah B meruapakan daerah dimana terjadi reaksi antara penguat dan matriks. Warna abu – abu gelap pada wilayah batas butir di wilayah B menunjukkan tigginya kandungan Si di wilayah tersebut.

Struktur co – continuous tersebut (wilayah B) akan makin dominan seiring penambahan temperatur dan waktu tahan pada proses pemanasan hingga reaksi berhenti pada saat seluruh penguat telah bertransformasi menjadi struktur co – continuous. Sebenarnya pembentukan struktur semacam ini, menawarkan pengembangan komposit in situ dimana penguatnya dibentuk dalam matriks melalui reaksi kimia antar elemen selama proses fabrikasi komposit. Dengan mengupayakan reaksi yang terjadi dapat diminimalkan dan terkontrol, maka dapat dihasilkan komposit dengan ikatan antar muka partikel yang lebih kuat sehingga memiliki kekuatan mekanik lebih baik.


Fase gelap menunjukkan fase logam sedangkan fase terang menunjukkan fase keramik. Berdasarkan Gambar 4, fase keramik yang terbentuk mempunyai ukuran lebar sekitar 0,25 µm dimana ukuran ini seragam (homogen) pada seluruh penguat. Padahal pada penelitian – penelitian yang lain diketahui fase keramik yang terbentuk pada penguat mempunyai ukuran yang bervariasi dari 0,2 – 0,5 µm. Perbedaan ini diakibatkan karena adanya kandungan Fe2O3 pada bahan penguat. Struktur yang seragam (homogen) seperti yang dihasilkan dalam penelitian ini tentunya meyebabkan komposit memiliki distribusi tegangan yang lebih baik.

III. METODE PENELITIAN

III.1 Prosedur Penelitian

Penelitian ini dimulai dari persiapan alat dan bahan. Lalu dilanjutkan dengan beberapa tahap poses pengerjaan yang meliputi ekstraksi silika dari sekam padi, pembuatan spesimen komposit dilanjutkan dengan pengujian struktur mikro dan mekanik. Adapaun rincian dari prosedur penelitian ini akan disajikan mulai dari sub bab III.1.1 sampai III.1.9.

III.1.1. Ekstraksi SiO2 Dari Sekam Padi

Sintesa silika dari sekam padi dilakukan secara bertahap yang meliputi pencucian, pengeringan, pengarangan, pengabuan, pemurnian dan identifikasi.
  1. Pencucian, dilakukann dengan air yang bertujuan untuk membersihkan sekam dari impuritas akibat kotoran.
  2. Pengeringan, dilakukan di bawah sinar matahari
  3. Penimbangan, dilakukan untuk membagi sampel sekam padi menjadi dua bagian sama besar yaitu sampel A, B dan C dimana harus memenuhi berat sekam padi yang akan diproses yaitu masing – masing dengan berat 250 gram. Dengan asumsi persentase berat sekam yang hilang selama proses sebesar 80 persen, maka nantinya akan didapatkan abu sekam dari masing – masing sampel sebanyak 50 gram.
  4. Pengarangan dan Pengabuan, merupakan tahap selanjutnya yang dilakukan dimana masing – masing sampel dikenai variabel temperatur pengabuan seperti disajikan pada Tabel 3.1 berikut.

  5. Pemurnian, dilakukan setelah didapatkan abu sekam untuk memisahkan zat – zat pengotor dari abu sekam. Metode yang dipakai untuk pemurnian ini adalah metode pengasaman yaitu dengan menggunakan larutan HCl pekat. Proses pemurnian dibawah kondisi asam dimaksudkan untuk menghilangkan oksida – oksida logam dan non logam dari dalam abu sekam karena asam klorida yang diberikan akan mengikat oksida logam yaitu P2O5, K2O, MgO, Na2O,CaO dan Fe2O3 menjadi kloridanya dan oksida non logam kecuali silika diubah menjadi asamnya. Proses pemurniannya dilakukan dengan cara memasukkan sampel berupa abu sekam ke dalam gelas piala dan dibasahi dengan akuades panas, lalu pada campuran ditambahkan 200 ml HCl pekat dan diuapkan sampai kering. Pengerjaan ini diulangi tiga kali. Selanjutnya dituangkan 625 ml akuades dan 40 ml HCl pekat ke gelas piala tadi dan dibiarkan di atas penangas air selama 15 menit. Campuran tersebut kemudian disaring dengan kertas saring bebas abu dan dicuci lima kali dengan akuades panas. Hasil dari penyaringan berupa residu padat beserta kertas saringnya dipanaskan mula-mula pada suhu 300 oC selama 1 jam hingga kertas saring menjadi arang. Kemudian dilanjutkan dengan memanaskan pada suhu 600 oC selama 2 jam hingga yang tersisa hanya endapan Silika (SiO2) berwarna putih.
  6. Pengujian XRD dan Gravimetri, ditujukan untuk identifikasi apakah fase SiO2 telah terbentuk dan jenis SiO2 apa yang terbentuk, kristalin atau amorf, serta zat pngotor apa yang terkandung. Selain itu juga dilakukan perhitungan kuantitas kandungan SiO2 dalam abu sekam tersebut dengan menggunakan analisa gravimetri.
  7. Penggerusan dan Pengayakan, dilakukan pada endapan silika pada sampel A, B dan C dimana masing – masing dihaluskan secara mekanik dengan menggunakan mortar lalu diayak hingga didapatkan partikel SiO2 dengan ukuran lebih besar dari 200 mesh.

III.1.2. Penentuan Banyaknya Spesimen Yang Akan Dibuat

Fraksi volume penguat divariasikan sebesar 10, 25, dan 40 persen untuk masing- masing sampel abu sekam (A, B, dan C) sehingga dalam penelitian ini akan didapatkan spesimen sebanyak sembilan jenis. Replikasi dilakukan sebanyak tiga kali sehingga jumlah spesimen total adalah 27 spesimen. Adapun penentuan banyak sampel berdasarkan variabel perlakuannya seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3.2 berikut.

III.1.3. Penentuan Dimensi Komposit Yang Akan Dibuat

Dari cetakan yang telah tersedia diketahui memiliki diameter rongga cetakan berbentuk silinder sebesar 14 mm. Dalam penelitian ini akan dibuat spesimen komposit yang memiliki ukuran diamater dan tinggi yang sama sehingga diketahui volume spesimen komposit yang akan dibuat adalah sebesar 2,154 cm3.

III.1.4. Penentuan Dan Penimbangan Massa Masing – Masing Konstituen

Penentuan massa masing – masing kontituen (matriks dan penguat) dalam struktur komposit dilakukan sesuai fraksi volume masing – masing. Densitas komponen (matriks dan penguat) yaitu untuk Al sebesar 2,7 gr/cm3 dan silika amorf sebesar 2,21 gr/cm3. Massa masing – masing komponen ditentukan berdasarkan perhitungan persentase komponen dikalikan dengan volume komposit dikalikan dengan massa jenis komponen.

Dimana m SiO2 adalah massa silika (gr), V SiO2 adalah fraksi volume silika yang besarnya divariasikan menjadi 10, 25, dan 40 persen, ρ SiO2 adalah densitas silika yaitu sebesar 2,21 gr/cm3, m Al adalah massa alumunium (gr), V Al adalah fraksi volume alumunium yang besarnya adalah 100% - , ρ Al adalah densitas alumunium (gr/cm3) yaitu sebesar 2,70 gr/cm3 dan Vc adalah volume komposit yang besarnya adalah 2,154 cm3. Hasil perhitungan massa masing komponen adalah seperti ditunjukkan oleh Tabel 3.3 berikut.

III.1.5. Pencampuran Material Matriks Dan Penguatnya (Mixing)

Proses pencampuran yang digunakan adalah metode wet mixing dengan menambahkan pelarut polar, yaitu metil alkohol. Pencampuran dilakukan dengan menggunakan hot plate magnetic stirrer dengan temperatur pemanasan 80oC. Dalam metode wet mixing ini pengadukan terus dilakukan hingga larutan media pencampur menguap seluruhnya. Indikasinya ditunjukkan dengan stirrer yang telah berhenti berputar karena tertahan oleh gumpalan matriks dan penguat yang telah tercampur. Stirrer kemudian diambil dari baker yang berisi gumpalan sedangkan gumpalan tersebut dikeringkan dengan furnace pada temperatur konstan sebesar 100 oC selama 30 menit.

III.1.6. Kompaksi

Kompaksi dilakukan dengan metode cold compaction dimana proses penekanan dilakukan pada temperatur kamar serta tipe penekanan singgle compaction dimana arah kompaksi hanya satu arah. Sebagai bahan lubricant digunakan zinc stearat yang dioleskan secara merata pada permukaan rongga cetakan (dies) dan penekan. Besar tekanan kompaksi yang diberikan yaitu sebesar 15 kN dan lama penekanan 15 menit.

III.1.7. Sintering

Sintering dilakukan dengan menggunakan vacuum furnace dengan tekanan ruang vakum sebesar 10-2 torr (10-2 mmHg). Besar temperatur sinter yang diberikan yaitu 600 oC dengan lama penahanan (holding time) 2 jam.

III.1.8. Pengujian Tekan dan SEM

Pengujian tekan dilakukan untuk mendapatkan karakteristik grafik tegangan dan regangan sehingga bisa diketahui karakteristik mekanik dari masing – masing spesimen seperti nilai modulus elastisitas dan kekutan tarik komposit. Pengujian kompresi dilakukan sesuai standar ASTM E9 – 89a, yang digunakan untuk mengetahui nilai modulus elastisitas komposit yang menunjukkan karakteristik mekaniknya. Pengamatan struktur mikro dengan menggunakan SEM untuk mengetahui karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk.

III.1.9. Pengukuran Densitas Setelah Sinter dan Fraksi Porositas

Sebagai data pendukung perlu juga dilakukan pengukuran densitas komposit setelah sinter dan fraksi porositas. Untuk pengukuran densitas setelah sinter digunakan metode archimides. Volume komposit setelah sintering diukur dengan prinsip archimides. Pertama, tentukan besarnya massa benda setelah sinter (ms) dengan timbangan seperti pada Gambar 3.1.(a), lalu tentukan berat benda (Ws) dengan cara mengalikan massa benda setelah sinter (ms) dengan nilai percepatan gravitasi bumi (g) yang besarnya 9,8 m/s2.

Dengan menggunakan timbangan gantung tentukan apparent weight (Wap) atau berat benda saat dicelup pada fluida. Gaya apung Fby, atau disebut juga buoyant force ditentukan dengan persamaan Fby = Ws - Wap, dimana Fby adalah sama dengan berat fluida yang dipindahkan (Wf), sehingga massa fluida yang dipindahkan (mf) dapat ditentukan dari persamaan 3.1 berikut.


Maka volume fluida yang dipindahkan dapat ditentukan berdasarkan Persamaan 3.4 berikut.

Dimana fluida yang digunakan pada penelitian ini adalah butanol dengan massa jenis sebesar 0.809 gr/cm3. Volume fluida yang dipindahkan (Vf) sama dengan volume benda yang dimasukkan fluida (Vs). Sehingga densitas benda setelah sinter adalah:

Porositas setelah sintering dapat dihitung, dimana terlebih dahulu densitas komposit teoritik, ρt ditentukan. Teori ini berdasarkan pada formula rule of mixture seperti pada persamaan 3.7. Hasil perhitungan densitas teoritis untuk fraksi volume 10, 20, 30, dan 40 persen disajikan pada Tabel 3.4. Porositas setelah sinter, Ps, ditentukan berdasarkan persamaan 3.8.

III.2 Variabel Penelitian

Adapun variabel penelitian dalam kegiatan ini disajikan dalam Tabel 3.5 berikut.

III.3. Flow Chart Penelitian


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sintesa silika dari sekam padi dilakukan secara bertahap yang meliputi pencucian, pengeringan, pengarangan, pengabuan, pemurnian dan identifikasi. Tahap awal dari sintesa silika dari sekam padi ini adalah, pencucian dilakukan dengan air yang bertujuan untuk membersihkan sekam dari impuritas akibat kotoran. Penimbangan dilakukan untuk tiga sampel, sampel A, B dan C, dengan berat masing – masing 250 gram. Selanjutnya, adalah pengeringan dengan sinar matahari dilanjutkan pengeringan dengan pengarangan dan pengabuan dengan furnace pada temperatur berbeda-beda dari tiap-tiap sampelnya.

Setelah proses pengabuan dengan variasi temperatur yang berbeda, ternyata dari masing – masing sampel, kecuali dari sampel C, didapatkan dua jenis produk, yaitu abu sekam berwarna hitam dan putih. Abu sekam yang berwarna putih terpisah dengan produk abu sekam yang berwarna hitam, dimana terletak pada pemukaan lapisan teratas dari produk abu sekam secara keseluruhan. Adapun visualisasi dari fenomena ini dapat dilihat pada Gambar 4.1. Pada sampel C, tidak terbentuk abu sekam yang berwarna putih, namun hanya terbentuk abu sekam berwarna hitam.

Pada sampel A dan B dimana terbentuk abu sekam berwarna putih dan hitam, dilakukan pemisahan diantaranya. Lalu massa masing – masing jenis produk abu sekam ini ditimbang. Adapun hasil penimbangan abu sekam pada sampel A, B, dan C disajikan pada Tabel 4.2.

Tahap selanjutnya adalah pemurnian dengan metode pengasaman menggunakan HCl pekat. Sampel yang pertama dimurnikan yaitu sampel A yang meliputi jenis sampel A berupa abu sekam berwarna putih, dan abu sekam berwarna hitam.



Pada sampel A yang berwarna hitam, setelah dilakukan pemurnian tidak dihasilkan abu sekam yang berwarna putih seperti yang diharapkan dimana seharusnya tampilan warna fisik silika berwarna putih. Hal ini dikarenakan pada sampel abu sekam A yang berwarna hitam kandungan unsur karbonnya sangat dominan yang menyebabkannya berwarna hitam dimana setelah ekstraksi pun unsur karbon ini tidak dapat dipisahkan dengan silika. Maka dapat dikatakan bahwa pada sampel abu sekam yang berwarna putihlah kandungan silikanya yang paling banyak.

Untuk itu, pada pemurnian sampel B cukup dilakukan pada abu sekam yang berwarna putih saja. Sedangkan pada sampel C, karena tidak terdapat abu sekam berwarna putih maka proses ekstraksi dilakukan pada sampel C secara keseluruhan yang berwarna hitam.Setelah Proses pemurnian dilakukan terhadap sampel A, B, dan C maka didapatkan sampel hasil pemurnian seperti ditunjukkan pada Gambar 4.2.


IV.1 Karakteristik Silika Yang Dihasilkan

Dalam penelitian ini, karakteristik silika yang akan dikaji meliputi karakteristik kualitas dan kuantitas silika yang dihasilkan dari variabel perlakuan temperatur pengabuan yang diberuikan pada sekam.

IV.1.1 Analisa Kualitatif

Sampel A, B, dan C ini diuji XRD untuk mengetahui apakah telah terbentuk silika. Hasil uji XRD disajikan pada Gambar 4.3. Dari Gambar 4.3 tersebut diketahui bahwa bentuk grafik dari masing – masing sampel menunjukkan kemiripan dalam hal nilai 2θ dimana terbentuk puncak – puncak difraksi serta terbentuknya fase amorf yang dapat dilihat dari terbentuknya noise pada grafik yang dihasilkan. Hal ini diakibatkan, sinar – X yang ditembakkan oleh alat XRD tidak mampu didifraksikan secara sempurna oleh struktur kristal yang amorf sehingga sudut difraksi sinar – X yang dibaca oleh alat menjadi tidak beraturan akibat terjadinya penghamburan.

Walaupun sama – sama terbentuk fase amorf, namun pada masing – masing sampel sebenarnya terdapat perbedaan karakteristik puncak tertinggi yang dihasilkan. Pada nilai 2θ sekitar 26, terlihat perbedaan nilai intensitas puncak tertinggi masing – masing sampel dimana akan kita dapatkan bahwa puncak terendah terjadi pada Sampel A dan tertinggi pada Sampel C. Selain itu dapat juga kita amati bahwa pada masing – masing sampel terdapat perbedaan bentuk puncak tertinggi yang terbentuk. Untuk sampel A puncak tertingginya adalah yang paling landai dibandingkan yang lainnya, sedangkan untuk sampel C adalah yang puncak tertingginya paling lancip. Dari sini dapat dikatakan bahwa dengan menaikkan temperatur pengabuan, maka akan semakin ada kecenderungan silika amorf bertransformasi menjadi fase kristalin dimana dari hasil pengujian XRD dapat ditunjukkan dengan semakin terbentuknya puncak yang semakin lancip dan semakin besar intensitasnya.


Hasil penelitian ini, khususnya pada Sampel A yang dikenakan temperatur pengabuan sebesar 600 oC sama dengan hasil percobaan yang dilakukan oleh Harsono (2002) dimana sama – sama didapatkan SiO2 dalam fasa amorf. Namun, pada sampel B dan C dengan temperatur pemanasan hingga 750oC dan 900oC perlu diteliti lebih lanjut seberapa banyakkah fase kristalin yang terbentuk dari variabel perlakuan temperatur pemanasan tersebut. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian XRD diketahui pada Sampel B dan C semakin cenderung membentuk fase kristalin dimana ditunjukkan dengan puncak grafik yang semakin lancip dan semakin tinggi intensitasnya. Hal ini sesuai dengan teori Hara (1986) dalam Harsono (2002) yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan fasa kristalin maka harus dilakukan pemanasan pada suhu di atas 650oC agar kristalinitas SiO2 meningkat sehingga dapat terbentuk fase kristobalit dan tridimit.

V.1.2 Analisa Kuantitatif

Pada analisa kuantitatif silika dalam abu sekan digunakan analisa gravimetri untuk mengetahui berapa persentase kandungan SiO2 dalam abu sekam yang dihasilkan, dimana hasil pengujian disajikan pada Tabel 4.1. Dari hasil pengujian gravimetri diketahui bahwa kandungan silika tertinggi terbentuk pada Sampel B yaitu pada temperatur pengabuan sebesar 750oC. Hasil ini ternyata di luar dari prediksi yang diharapkan, dimana berdasarkan Hwang, C. L., (2002) seharusnya pada temperatur pemanasan sekam yang semakin tinggi akan dapat dihasilkan kandungan silika yang semakin tinggi pula.


Penjelasan mengenai hal ini dapat dijelaskan apabila dihubungkan dengan diagram fasa SiO2 seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.3. Ketika pemanasan dilakukan pada tekanan atmosfer yaitu sebesar 1 bar, maka saat temperatur pemanasan mencapai 900oC, temperatur ini telah mencapai temperatur perubahan fase dari quartz (high) menjadi SiO2 tridymite. Pada proses perubahan fasa kristal ini waktu tahan yang diberikan kurang memadai untuk terbentuknya SiO2 tridymite kristalin secara menyeluruh. Hal ini berakibat pada SiO2 amorf yang sudah memutuskan ikatan terhidratnya namun belum sempat menyusun atom – atomnya secara teratur untuk membentuk SiO2 kristalin akan membentuk SiO2 amorf dan sejumlah unsur silikon bebas yang bereaksi dengan zat pengotor atau lingkungan. Unsur silikon bebas inilah yang kemudian hilang selama proses karena bereaksi dengan zat pengotor yang kemudian mengakibatkan persentase silika total (amorf dan kristalin) pada Sampel C lebih rendah dibandingkan Sampel B.

V.2 Karakteristik Ikatan Antar Muka Partikel Alumunium Dan Silika

Pengujian struktur mikro dengan SEM sedang dalam proses pengerjaan saat laporan ini dibuat. Tempat pengujian yaitu di Laboraturium Geologi Kuarter, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jl. Dr. Junjunan 236 Bandung 40174. Dalam laporan ini penulis menampilkan foto SEM dari spesimen yang diuji yaitu spesimen dengan varibel temperatur pengabuan sekam sebesar 600oC, 750oC, dan 900oC pada fraksi volume penguat silika untuk masing – masing spesimen tersebut yakni sebesar 10 persen.




Dari foto SEM, dapat dilihat bahwa anatara partikel alumunium dan alumina terbentuk ikatan yang secara visual dapat dilihat pada gambar. Namun, hal ini perlu penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui apakah struktur co-continuous AlSi/Al2O3 terbentuk.

V.3 Karakteristik Mekanik Komposit

Dari hasil pengujian tekan diketahui karakteristik kekuatan tekan dari masing – masing spesimen seperti yang disajikan pada Gambar 4.4 Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa pada sampel dengan variabel temperatur pengabuan sekam sebesar 900oC memiliki karakteristik kekuatan tekan yang berbeda dengan sampel lainnya, khususnya untuk fraksi volume silika lebih besar dari 25 persen. Fenomena ini diakibatkan karena pada sampel tersebut mempunyai fraksi porositas yang rendah dimana karakteristik fraksi porositas dapat dilihat pada Gambar 4.6. Sedangkan dari karakteristik densitas komposit pada Gambar 4.5 dikeatahui bahwa untuk spesimen dengan variabel temperatur pengabuan sekam sebesar 900oC memberikan nilai densitas yang cenderung meningkat untuk fraksi volume penguat lebih besar dari 25 persen dibandingkan dengan spesimen pada variabel lainnya dimana memiliki tren karakteristik nilai densitas yang cenderung menurun. Ini berarti pada spesimen tersebut terjadi peningkatan berat.


Penjelasan dari fenomena naiknya nilai kekuatan tarik pada spesimen dengan temperatur pengabuan sekam sebesar 900oC adalah semakin rendah fraksi porositas yang terjadi akan semakin sedikit daerah yang menjdi konsentrasi tegangan ketika spesimen dikenakan beban mekanik. Karena jumlah konsentrasi tegangan yang sedikit, maka semakin sulit gejala – gejala failure (patah) dari suatu material memulai prosesnya, sehingga material yang seperti ini akan lebih kuat menerima beban mekanik dibandingkan denganmaterial yang mempunyai banyak daerah konsentrasi regangan, dimana dalam hal ini daerah tersebut dapat dikatakan sebagai produk cacat dari suatu proses pembuatan material.


Porositas merupakan salah satu bentuk cacat yang sering dijumpai pada produk – produk hasil pengecoran dan proses powder metallurgy. Dalam hubungannya dengan proses powder metallurgy, keberadaan cacat sulit untuk dipisahkan selama proses powder metallurgy yang digunakan yaitu proses manual.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi fraksi porositas pada produk powder metallurgy. Salah satu caranya adalah dengan mereduksi ukuran partikel serbuk yang akan dikompaksi seminimal mungkin. Dengan mereduksi ukuran partikel berarti memberikan sedikit kesempatan bagi partikel – partikel serbuk untuk membentuk rongga yang terbentuk antar permukaan partikel yang diakibatkan bentuk partikel yang kasar dan cukup besar sehingga cukup memberi ruang kosong. Walaupun rongga ini seharusnya hilang ketika proses pemadatan dilakukan, namun seringkali masih belum mampu menghilangkan secara keseluruhan keberadaan rongga tersebut terutama yang terletak di bagian dalam – tengah spesimen karena udara yang terjebak dan sulit keluar. Saat proses sinter dilakukan rongga ini seharusnya akan semakin berkurang lagi, namun karena letak porous terlalu jauh dari permukaan spesmen sehingga mengakibatkan udara terjebak di dalam spesimen saat setelah sinter.

Dalam penelitian ini, walaupun telah dilakukan upaya untuk mereduksi ukuran partikel dengan menggunakan mortar, hingga ketika diayak partikel lolos ayakan dengan kerapatan ayakan sebesar 200 mesh, namun kenyataanya porositas yang terjadi masih tetap ada dimana kisarannya dalah 1 – 8 persen dari volume komposit.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
VI.1 Kesimpulan

Berdasarkan data penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat dibuat beberapa kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut.
  1. Variasi temperatur pengabuan sekam dalam furnace sebesar 600oC, 750oC dan 900oC ternyata mampu menghasilkan produk silika dengan struktur kristal yang sebagian amorf dan sebagian lagi kristalin dengan persentase kandungan silika paling tinggi didapatkan dengan perlakuan temperatur pengabuan 750oC yaitu sebesar 91 persen.
  2. Dari pengujian SEM diketahui bahwa antara partikel alumunium dan silika terbentuk ikatan antar muka
  3. Untuk karakteristik kekuatan tekan diketahui bahwa yang paling baik adalah spesimen dengan temperatur pengabuan silika sebesar 900oC dan fraksi volume penguat lebih besar dari 25 persen.
VI. 2 Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut.
  1. Beberapa perhitungan, pengamatan dan pengujian perlu dilakukan lebih lanjut untuk mengetahui secara lebih mendetail hasil percobaan ini. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu dan biaya yang diberikan kurang mendukung. Untuk itu pada penelitian selanjutnya terdapat beberapa hal yang perlu ditelaah dari hasil penelitian ini yaitu perbandingan jumlah silika kristalin dan amorf yang dihasilkan dalam abu sekam, karakteristik thermal, perilaku korosi, serta karakteristik mekanik yang meliputi karakteristik impak, kekerasan dan abrasivitas komposit.
  2. Penelitian pendukung sebaiknya dilakukan dengan variasi perlakuan yang lain dimana nantinya dapat dijadikan sebagai pendukung dari penelitian ini mengingat penelitian ini merupakan penelitian awalan dari penelitian besar yang masih memiliki banyak varibel yang perlu diteliti untuk bisa mengetahui variabel – variable terbaik yang dapat dijadikan sebagai refrensi dalam produksi komponen otomotif berbasis komposit alumunium – silika.
  3. Mengingat potensi pemanfaatan dari silika yang luas dimana tidak hanya seperti yang ditujukan dari penelitian ini yaitu sebagai bahan penguat dari komposit bermatriks alumunium, tetapi juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kaca, dan bahan baku peralatan – peralatan elektronik, maka perlu diadakan suatu sistem industrialisasi ekstraksi silika dari sekam padi, agar nantinya dapat menambah stok silika dalam negeri.

DAFTAR PUSTAKA
  • _________, 1998. ASM Handbook Vol. 7, Powder Metal Technologies and Aplications. ASM International
  • Chawla, K. K. 1987. Composite Material: Science and Engineering. London Paris Tokyo : Springer-Verlag New York Berlin Heidelberg.
  • Fogagnolo, J.B., 2004. Aluminium Matrix Composites Reinforced with Si3N4, AIN and ZrB2, Produced by conventional powder Metallurgy and Mechanical Alloying. Avenide de la Universid, 30-28911
  • Froyen, L., dan Verlinden, B., 1994. Aluminium Matrix Composites Materials. Talat 1402. Belgium : European Aluminium Associations (EAA)
  • Gregolin, E. N., 2002. Alumunium Matrix Composites Reinforced With Co – Continuous Interlaced Phases Alumunium – Alumina Needles. Materials Research, vol.5, no.3 São Carlos July/Sept. 2002
  • Harsono, H. 2002. Pembuatan Silika Amorf Dari Limbah Sekam Padi. Jurnal Ilmu dasar Vol. 3, No. 2, 2002 : 98 – 103
  • Hirschhorn. Joel. S., 1976. Introduction to Powder Metallurgy. New Jersey : American Powder Metallurgy Institute.
  • Hwang, C.L. and Wu, D.S., 1989. Properties of Cement Paste Containing Rice Husk Ash. ACI Third International Conference Proceedings, pg. 738.
  • Jones, R. M. 1975. Mechanics Of Composite Material. Washington, DC : Scripta Book Company
  • Kang Suk – Joong., 2005. Sintering : Densifikation, Grain Growth and Microstructures. Elseviere - Butterworth. Heinemenn
  • Mantell, C. L., 1958. Engineering Material Handbook. New York : McGraw – Hill Book Company.
  • Mittal, D. 1997. Silica From Ash, A Valuable Produst From Waste Material. Resonance, July
  • Nursuhud, D., dan Basuki, T. (1989). Suatu Studi Kemungkinan Pemakaian Bahan Bakar Sekam Padi untuk Pusat Listrik Tenaga Uap Sistem Gasifikasi. Laporan Penelitian Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Industri. Surabaya : Pusat Penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
  • Pakpahan, A. 2006. Padi Lebih Bernilai dari Emas. Suara Pembaharuan, 20 November 2006.
  • PM2 Industry, 2001. Vision And Technology Roadmap, Powder Metallurgy And Particulate Materials. Metal Powder Industries Federation (MPIF), September, 2001.
    Schumacher C.,1991, SAE Technology, paper No.892495
  • Workshop Roadmap Industri Komponen Otomotif. 13 Oktober 2004. dalam http://www.bppt.go.id/. dikunjungi : 8 September 2007 pukul 07.15 WIB

TIM PENELITI
  1. Alek Kurniawan Apriyanto
  2. Moch. Zaenal Arifin
  3. Huda Istikha Lubis
  4. Rahmatillah Isra