Dalam kehidupan sehari-hari, berjabat tangan sering dianggap sebagai bentuk sopan santun. Saat bertemu teman, rekan kerja, tetangga, keluarga besar, atau tamu, orang biasanya mengulurkan tangan sebagai tanda penghormatan.
Namun, dalam Islam, interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram memiliki batasan. Salah satu adab yang perlu diperhatikan adalah tidak berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Pembahasan ini sering terasa sensitif karena berkaitan dengan kebiasaan sosial. Ada orang yang sudah memahami dan menghormatinya. Ada pula yang belum tahu, atau menganggapnya sebagai sikap terlalu kaku. Karena itu, tema ini perlu dijelaskan dengan ilmu, adab, dan bahasa yang baik.
Tujuannya bukan untuk merendahkan orang lain, tetapi untuk saling belajar menjaga batasan yang diajarkan dalam Islam.
Apa Itu Mahram dan Non-Mahram?
Sebelum membahas hukum berjabat tangan, penting untuk memahami istilah mahram dan non-mahram.
Mahram adalah orang yang haram dinikahi karena hubungan nasab, pernikahan, atau persusuan. Misalnya ibu, ayah, saudara kandung, anak, paman, bibi, mertua, menantu, dan beberapa hubungan lain yang dijelaskan dalam fikih.
Non-mahram adalah orang yang secara hukum masih mungkin dinikahi. Karena itu, interaksi dengannya memiliki batasan tertentu dalam Islam. Contohnya teman kerja lawan jenis, teman sekolah, tetangga, sepupu, ipar dalam kondisi tertentu, atau orang lain yang bukan termasuk mahram.
Dalam budaya masyarakat, sering kali ada orang yang dianggap “keluarga dekat” tetapi sebenarnya bukan mahram. Karena itu, memahami batasan ini penting agar seorang Muslim dapat menjaga adab pergaulan dengan lebih baik.
Mengapa Islam Mengatur Batasan Interaksi?
Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk menjaga kehormatan, hati, keluarga, dan masyarakat. Manusia memiliki fitrah ketertarikan kepada lawan jenis. Jika tidak dijaga, interaksi yang awalnya tampak biasa dapat membuka pintu fitnah.
Karena itu, Islam mengajarkan adab menjaga pandangan, menutup aurat, tidak berkhalwat, menjaga ucapan, dan menjaga sentuhan fisik dengan non-mahram.
Aturan ini bukan bentuk kebencian kepada lawan jenis. Justru, aturan ini adalah bentuk penjagaan agar hubungan sosial tetap bermartabat dan tidak mengarah kepada hal yang dilarang.
Seorang Muslim tetap boleh berinteraksi, bekerja sama, berdiskusi, belajar, berdagang, dan saling membantu dengan lawan jenis. Namun, semua itu dilakukan dalam batasan adab dan syariat.
Dalil tentang Tidak Berjabat Tangan dengan Non-Mahram
Salah satu dalil yang sering dijadikan rujukan dalam pembahasan ini adalah hadis tentang Rasulullah ﷺ yang tidak berjabat tangan dengan perempuan yang bukan mahram.
Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membaiat kaum perempuan dengan ucapan, bukan dengan berjabat tangan. Ini menunjukkan bahwa beliau menjaga batasan sentuhan fisik dengan perempuan non-mahram.
Selain itu, terdapat hadis yang maknanya sangat tegas tentang larangan menyentuh perempuan yang tidak halal baginya. Hadis ini sering disebut dalam pembahasan fikih tentang berjabat tangan dengan non-mahram.
Karena itu, banyak ulama menjelaskan bahwa berjabat tangan dengan lawan jenis non-mahram sebaiknya dihindari, bahkan sebagian ulama menegaskannya sebagai perkara yang terlarang.
Dalam praktiknya, seorang Muslim yang ingin menjaga hal ini perlu melakukannya dengan cara yang santun agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Menjaga Sunnah Bukan Berarti Tidak Sopan
Sebagian orang mungkin merasa tersinggung ketika salaman ditolak. Mereka mengira penolakan itu berarti tidak menghormati, tidak ramah, atau merasa paling suci.
Padahal, menolak berjabat tangan dengan non-mahram bukan berarti merendahkan orang lain. Itu adalah bentuk usaha menjaga batasan agama.
Sopan santun tidak selalu harus berbentuk sentuhan fisik. Seseorang tetap bisa menghormati orang lain dengan senyum, salam, sapaan hangat, anggukan kepala, tangan diletakkan di dada, atau ucapan yang baik.
Yang penting adalah cara menyampaikan.
Jika dilakukan dengan wajah masam dan ucapan kasar, orang lain bisa salah paham. Namun, jika dilakukan dengan lembut dan disertai permintaan maaf, biasanya orang akan lebih mudah memahami.
Cara Menolak Salaman dengan Sopan
Agar tidak menimbulkan ketegangan, ada beberapa cara praktis yang bisa dilakukan ketika lawan jenis non-mahram mengulurkan tangan.
Pertama, senyum dan letakkan tangan di dada. Ini memberi tanda penghormatan tanpa harus berjabat tangan.
Kedua, ucapkan dengan lembut, “Mohon maaf, saya tidak berjabat tangan dengan lawan jenis, tetapi saya tetap menghormati Bapak/Ibu.”
Ketiga, gunakan bahasa yang sederhana. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar di tempat umum jika situasinya tidak memungkinkan.
Keempat, jangan menunjukkan ekspresi merendahkan. Ingat bahwa orang lain mungkin belum mengetahui batasan ini.
Kelima, tetap ramah setelahnya. Lanjutkan percakapan dengan baik agar orang memahami bahwa penolakan itu bukan karena benci.
Keenam, biasakan memberi isyarat lebih awal. Misalnya dengan menangkupkan tangan atau meletakkan tangan di dada ketika baru bertemu.
Ketujuh, dalam acara formal, siapkan kalimat pendek yang sopan agar tidak canggung.
Dengan cara seperti ini, seseorang tetap bisa menjaga prinsip tanpa kehilangan akhlak.
Contoh Kalimat yang Bisa Digunakan
Berikut beberapa contoh kalimat yang dapat digunakan:
“Mohon maaf, saya tidak bersalaman dengan lawan jenis. Salam hormat dari saya.”
“Maaf ya, saya menjaga prinsip agama untuk tidak berjabat tangan dengan non-mahram.”
“Mohon dimaklumi, saya cukup salam dari jauh saja. Senang bertemu dengan Anda.”
“Maaf, bukan bermaksud tidak sopan. Ini bagian dari adab yang saya coba jaga.”
Kalimat seperti ini lebih baik daripada langsung menarik tangan tanpa penjelasan, apalagi jika dilakukan dengan ekspresi tidak ramah.
Jangan Meremehkan Batasan Kecil
Dalam agama, perkara yang terlihat kecil bisa memiliki pengaruh besar. Pandangan mata, ucapan, pesan pribadi, pertemuan berdua, dan sentuhan fisik sering kali menjadi pintu awal munculnya fitnah.
Karena itu, Islam mengajarkan penjagaan sejak awal. Tidak semua orang yang berjabat tangan akan jatuh pada maksiat besar. Namun, syariat mengajarkan agar pintu-pintu yang dapat mengarah pada keburukan dijaga.
Orang yang berhati-hati bukan berarti merasa dirinya kuat. Justru, ia sadar bahwa manusia lemah dan membutuhkan perlindungan dari Allah.
Menjaga batasan bukan tanda kebencian. Menjaga batasan adalah tanda keseriusan dalam menjaga hati.
Jangan Menghakimi yang Belum Mengamalkan
Walaupun adab tidak berjabat tangan dengan non-mahram perlu dijaga, kita juga tidak boleh mudah menghakimi orang yang belum mengamalkannya. Bisa jadi mereka belum tahu, belum paham, berada dalam lingkungan yang sulit, atau masih berproses.
Dakwah harus disampaikan dengan hikmah. Jangan menghina orang yang belum mampu. Jangan menuduh mereka meremehkan agama. Jangan menjadikan nasihat sebagai alat untuk merasa lebih saleh.
Jika Allah memudahkan kita mengamalkan suatu sunnah atau adab syariat, maka syukurilah dengan rendah hati. Semakin seseorang memahami agama, seharusnya semakin baik pula akhlaknya.
Jangan Takut Dicap Berlebihan
Di sisi lain, orang yang berusaha menjaga batasan agama tidak perlu takut berlebihan terhadap komentar manusia. Mungkin ada yang menganggap aneh. Mungkin ada yang belum memahami. Mungkin ada yang menilai terlalu kaku.
Selama dilakukan dengan ilmu, adab, dan sikap yang baik, tidak perlu malu menjalankan ajaran agama.
Namun, tetap perhatikan cara. Jangan menjadikan prinsip agama sebagai alasan untuk bersikap kasar. Jangan pula menjadikan komentar manusia sebagai alasan meninggalkan sesuatu yang diyakini benar.
Seorang Muslim perlu kuat dalam prinsip, tetapi lembut dalam akhlak.
Bagaimana dalam Lingkungan Kerja?
Lingkungan kerja sering menjadi tantangan. Dalam pertemuan bisnis, rapat, wawancara, atau acara resmi, salaman dianggap hal biasa.
Dalam situasi seperti ini, seorang Muslim perlu bijak. Tidak perlu membuat suasana tegang. Gunakan bahasa yang sopan dan profesional. Misalnya dengan senyum, meletakkan tangan di dada, dan menyampaikan permintaan maaf singkat.
Jika dilakukan secara konsisten, rekan kerja biasanya akan memahami. Bahkan, kebiasaan ini dapat menjadi edukasi positif bahwa menghormati orang lain tidak selalu harus melalui sentuhan fisik.
Profesionalisme tetap bisa dijaga tanpa melanggar prinsip agama.
Menjaga Batasan dalam Keluarga Besar
Tantangan lain sering terjadi dalam keluarga besar. Misalnya dengan sepupu, ipar, atau kerabat jauh yang bukan mahram. Karena merasa keluarga, orang sering menganggap semua bentuk salaman adalah wajar.
Padahal, tidak semua kerabat adalah mahram.
Dalam kondisi seperti ini, perlu kesabaran. Jelaskan pelan-pelan kepada keluarga. Jangan memulai dengan nada menghakimi. Beri pemahaman bahwa ini adalah bagian dari upaya menjaga adab, bukan memutus silaturahmi.
Silaturahmi tetap harus dijaga. Hanya saja, bentuk interaksinya disesuaikan dengan batasan syariat.
Adab Lebih Luas daripada Sekadar Salaman
Menjaga batasan dengan non-mahram tidak berhenti pada salaman. Ada beberapa adab lain yang juga perlu diperhatikan.
Menjaga pandangan.
Menjaga ucapan agar tidak menggoda.
Tidak berkhalwat atau berduaan di tempat sepi.
Tidak bercanda berlebihan.
Tidak berkirim pesan pribadi yang membuka pintu fitnah.
Menjaga aurat.
Menjaga niat dalam setiap interaksi.
Jika seseorang tidak berjabat tangan tetapi masih bebas bercanda mesra, berkhalwat, atau membuka pintu fitnah lainnya, maka tujuan penjagaan belum tercapai. Karena itu, adab Islam perlu dipahami secara utuh.
Penutup
Larangan berjabat tangan dengan non-mahram adalah bagian dari adab Islam dalam menjaga batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya bukan untuk menyulitkan atau merendahkan orang lain, tetapi untuk menjaga kehormatan, hati, dan keselamatan diri.
Seorang Muslim yang ingin mengamalkan adab ini perlu melakukannya dengan ilmu dan akhlak. Tolaklah salaman dengan cara yang sopan, senyum, dan ucapan yang baik. Tetap hormati orang lain meskipun tidak berjabat tangan.
Jangan meremehkan syariat, tetapi jangan pula menghakimi orang yang belum memahami. Jadilah kuat dalam prinsip dan lembut dalam penyampaian.
Semoga Allah memudahkan kita menjaga batasan, memperbaiki akhlak, dan menjalankan agama dengan ilmu serta keikhlasan.
Wallahu a‘lam.


