Ketika membahas romantisme, banyak orang langsung membayangkan kisah cinta dalam film, novel, drama, atau budaya populer. Romantisme sering digambarkan melalui kata-kata manis, perhatian, pengorbanan, dan kemesraan antara dua orang yang saling mencintai.
Namun, bagi seorang Muslim, teladan terbaik dalam cinta dan kasih sayang tetaplah Rasulullah ﷺ. Beliau bukan hanya teladan dalam ibadah, dakwah, kepemimpinan, dan akhlak, tetapi juga teladan dalam memperlakukan istri dengan penuh kelembutan.
Romantisme Rasulullah ﷺ adalah romantisme yang halal, penuh adab, dan berada dalam ikatan pernikahan. Cinta yang beliau ajarkan bukan sekadar perasaan, tetapi juga tanggung jawab, kasih sayang, penghormatan, pelayanan, kesetiaan, dan akhlak mulia.
Romantisme dalam Islam Itu Ada
Sebagian orang mengira bahwa Islam hanya membahas hukum dan larangan, seolah-olah tidak memberi ruang untuk cinta dan kemesraan. Padahal, Islam sangat menghargai cinta yang ditempatkan pada jalan yang benar.
Islam tidak mematikan rasa cinta. Islam mengarahkannya agar menjadi berkah.
Cinta kepada pasangan menjadi indah ketika dibangun dalam pernikahan. Perhatian menjadi ibadah ketika diberikan kepada pasangan yang halal. Nafkah menjadi pahala. Senyum kepada istri menjadi kebaikan. Membantu pekerjaan rumah menjadi bagian dari akhlak mulia.
Dengan demikian, romantisme dalam Islam bukan sesuatu yang tabu. Yang perlu dijaga adalah batasannya. Cinta yang halal membawa ketenangan, sedangkan cinta yang melanggar syariat dapat membuka pintu kerusakan.
Cinta Setelah Menikah Lebih Berkah
Dalam banyak kisah populer, cinta sering digambarkan sebelum pernikahan. Hubungan yang belum halal dianggap sebagai puncak romantisme. Padahal, dalam Islam, hubungan laki-laki dan perempuan memiliki batasan sebelum menikah.
Islam mengajarkan agar cinta dijaga melalui jalan yang terhormat. Jika seseorang mencintai, maka jalan terbaik adalah menikah jika sudah mampu dan siap. Dengan pernikahan, cinta tidak hanya menjadi perasaan, tetapi menjadi ibadah dan amanah.
Romantisme yang dibangun setelah menikah lebih menenangkan karena berada dalam ridha Allah. Suami dan istri dapat saling mencintai, saling memperhatikan, saling membantu, dan saling menguatkan tanpa rasa bersalah.
Inilah cinta yang halal dan penuh keberkahan.
Rasulullah ﷺ Lembut kepada Istri
Salah satu sisi indah dari rumah tangga Rasulullah ﷺ adalah kelembutan beliau kepada istri-istrinya. Beliau adalah nabi, pemimpin umat, panglima, dan manusia paling sibuk dalam dakwah. Namun, kesibukan itu tidak membuat beliau kasar kepada keluarga.
Beliau tetap memperhatikan istri, membantu urusan rumah, bercanda dengan cara yang baik, dan menunjukkan kasih sayang.
Keteladanan ini penting bagi para suami. Menjadi laki-laki yang tegas di luar rumah tidak berarti harus keras kepada istri. Menjadi pemimpin keluarga bukan berarti boleh bersikap semena-mena. Pemimpin yang baik adalah yang melindungi, menyayangi, dan membimbing keluarganya.
Membantu Pekerjaan Rumah
Salah satu bentuk romantisme yang sering dilupakan adalah membantu pekerjaan rumah. Dalam kehidupan modern, banyak orang mengira romantis hanya berarti hadiah, kata-kata manis, atau makan malam berdua. Padahal, membantu pasangan dalam pekerjaan harian juga merupakan bentuk cinta yang nyata.
Rasulullah ﷺ dikenal membantu pekerjaan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan rumah bukan sesuatu yang hina bagi laki-laki. Justru, membantu istri adalah bagian dari akhlak mulia.
Seorang suami yang membantu membersihkan rumah, mengurus anak, menyiapkan kebutuhan keluarga, atau meringankan beban istri sedang menunjukkan kasih sayang yang nyata.
Kadang, bagi seorang istri, bantuan kecil lebih bermakna daripada kata-kata panjang.
Memanggil Pasangan dengan Panggilan yang Baik
Romantisme juga dapat hadir melalui panggilan yang lembut. Rasulullah ﷺ memberi contoh bagaimana memanggil istri dengan panggilan yang baik dan penuh kedekatan.
Dalam rumah tangga, panggilan yang baik dapat memperkuat kasih sayang. Sebaliknya, panggilan yang kasar, merendahkan, atau penuh sindiran dapat melukai hati pasangan.
Suami dan istri sebaiknya membiasakan ucapan yang lembut. Memanggil dengan nama yang disukai, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan mendoakan pasangan adalah bentuk cinta yang sederhana tetapi besar pengaruhnya.
Rumah tangga yang hangat sering dimulai dari lisan yang terjaga.
Makan dan Minum Bersama
Kebersamaan dalam hal sederhana juga bisa menjadi bentuk romantisme. Makan bersama, minum bersama, duduk bersama, dan berbincang dengan pasangan adalah hal kecil yang dapat memperkuat ikatan hati.
Dalam kehidupan rumah tangga, tidak semua romantisme harus mahal. Tidak harus selalu bepergian jauh atau membeli hadiah besar. Kadang, duduk bersama setelah hari yang melelahkan, saling mendengar cerita, dan makan dengan tenang sudah cukup membuat hati terasa dekat.
Rasulullah ﷺ memberi teladan bahwa kemesraan dalam rumah tangga dapat muncul dari momen-momen sederhana.
Menemani Pasangan Saat Sakit
Cinta yang sejati terlihat saat pasangan berada dalam keadaan lemah. Ketika sehat dan bahagia, mencintai terasa mudah. Namun, ketika pasangan sakit, lelah, sedih, atau menghadapi masalah, di situlah kesetiaan diuji.
Menemani pasangan yang sakit adalah bentuk kasih sayang yang sangat besar. Memberi perhatian, menanyakan keadaan, membantu kebutuhan, dan mendoakan kesembuhan adalah bagian dari akhlak rumah tangga.
Rasulullah ﷺ mengajarkan perhatian dan kelembutan kepada keluarga. Seorang suami dan istri seharusnya saling menjadi tempat pulang, bukan saling menambah beban.
Mengajak Istri dalam Perjalanan
Dalam beberapa riwayat, Rasulullah ﷺ mengajak istri beliau dalam perjalanan tertentu. Ini menunjukkan bahwa istri bukan hanya orang yang ditinggal di rumah, tetapi juga pasangan hidup yang dihargai keberadaannya.
Dalam kehidupan sekarang, bentuknya bisa sederhana. Misalnya mengajak pasangan menghadiri acara keluarga, berjalan bersama, belanja kebutuhan rumah, atau sekadar keluar menikmati suasana.
Yang penting bukan tempatnya, tetapi perhatian dan kebersamaannya.
Pasangan yang sering meluangkan waktu bersama akan lebih mudah membangun komunikasi yang baik.
Tetap Romantis dalam Kondisi Berbeda
Rumah tangga tidak selalu berada dalam suasana ideal. Ada hari-hari ketika pasangan lelah, sakit, berbeda pendapat, atau sedang tidak nyaman. Dalam kondisi seperti itu, romantisme bukan berarti selalu tertawa dan bahagia, tetapi tetap menjaga kelembutan.
Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kasih sayang kepada istri tidak hilang hanya karena kondisi tertentu. Beliau tetap memperlakukan istri dengan baik, menjaga perasaan, dan tidak mudah bersikap kasar.
Ini pelajaran penting. Cinta dalam rumah tangga bukan hanya tentang momen indah, tetapi juga tentang kemampuan menjaga akhlak saat suasana tidak mudah.
Hadiah dan Perhatian
Memberi hadiah adalah salah satu cara memperkuat kasih sayang. Hadiah tidak harus mahal. Sesuatu yang sederhana tetapi diberikan dengan tulus bisa membuat pasangan merasa dihargai.
Hadiah bisa berupa barang, makanan kesukaan, waktu khusus, bantuan, atau perhatian yang selama ini dibutuhkan pasangan.
Dalam Islam, memberi hadiah dianjurkan karena dapat menumbuhkan cinta. Dalam rumah tangga, hadiah menjadi salah satu cara menunjukkan bahwa pasangan tidak dilupakan.
Namun, hadiah terbaik tetaplah akhlak yang baik. Barang bisa rusak, tetapi akhlak yang lembut akan lama dikenang.
Romantisme Bukan Sekadar Kemesraan Fisik
Romantisme dalam Islam lebih luas daripada kemesraan fisik. Ia mencakup tanggung jawab, kejujuran, perhatian, kesabaran, dan kemampuan menjaga pasangan dari hal yang buruk.
Suami yang bekerja mencari rezeki halal untuk keluarga sedang menunjukkan cinta.
Istri yang menjaga rumah dan mendukung suami dalam kebaikan juga sedang menunjukkan cinta.
Suami yang mengajari agama dengan lembut sedang menunjukkan cinta.
Istri yang menasihati suami dengan adab juga sedang menunjukkan cinta.
Pasangan yang saling mendoakan dalam diam sedang menunjukkan cinta.
Cinta yang paling indah adalah cinta yang saling mendekatkan kepada Allah.
Jangan Belajar Cinta dari Sumber yang Salah
Budaya populer sering menampilkan cinta sebagai sesuatu yang bebas tanpa batas. Pacaran sebelum menikah dianggap wajar. Berkhalwat dianggap romantis. Hubungan yang melanggar batas dianggap biasa. Bahkan, sebagian cerita menggambarkan pengorbanan cinta tanpa mempedulikan halal dan haram.
Seorang Muslim perlu berhati-hati. Tidak semua kisah cinta layak dijadikan teladan. Standar cinta seorang Muslim bukan sekadar perasaan, tetapi ridha Allah.
Cinta yang baik tidak menyeret kepada maksiat. Cinta yang baik tidak membuat seseorang melupakan shalat. Cinta yang baik tidak merusak kehormatan. Cinta yang baik tidak menjauhkan seseorang dari Allah.
Jika cinta membawa kepada dosa, maka itu bukan romantisme yang layak dibanggakan.
Tips Membangun Romantisme Halal dalam Rumah Tangga
Ada beberapa cara sederhana untuk meneladani romantisme Rasulullah ﷺ dalam rumah tangga.
Pertama, biasakan memanggil pasangan dengan panggilan yang baik.
Kedua, luangkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan gawai.
Ketiga, bantu pekerjaan rumah.
Keempat, ucapkan terima kasih atas kebaikan pasangan.
Kelima, minta maaf jika melakukan kesalahan.
Keenam, berikan hadiah meskipun sederhana.
Ketujuh, doakan pasangan.
Kedelapan, jaga rahasia rumah tangga.
Kesembilan, jangan membandingkan pasangan dengan orang lain.
Kesepuluh, jadikan ibadah sebagai penguat cinta, seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, atau saling mengingatkan dalam kebaikan.
Romantisme yang baik bukan hanya membuat pasangan bahagia, tetapi juga membuat rumah tangga lebih dekat kepada Allah.
Penutup
Romantisme terbaik adalah romantisme yang halal dan penuh akhlak. Rasulullah ﷺ telah memberi teladan bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya dengan kasih sayang, kelembutan, perhatian, dan tanggung jawab.
Cinta dalam Islam bukan sekadar kata-kata manis. Cinta adalah amanah. Cinta adalah penjagaan. Cinta adalah kesetiaan. Cinta adalah upaya saling membantu menuju ridha Allah.
Maka, jika ingin belajar romantisme, belajarlah dari teladan terbaik: Rasulullah ﷺ. Bangunlah cinta setelah menikah, rawatlah dengan akhlak, dan jadikan rumah tangga sebagai jalan menuju keberkahan.
Semoga Allah menjadikan keluarga-keluarga Muslim penuh sakinah, mawaddah, rahmah, dan keberkahan.
Wallahu a‘lam.
Catatan Rujukan
Beberapa contoh sikap romantis Rasulullah ﷺ kepada istri disebutkan dalam berbagai riwayat hadis, seperti membantu pekerjaan rumah, memberi perhatian kepada istri, makan dan minum bersama, menemani istri, serta memperlakukan keluarga dengan lembut. Untuk penulisan ilmiah yang lebih kuat, sebaiknya setiap hadis diperiksa kembali nomor, derajat, dan sumber rujukannya sebelum dipublikasikan.
Rangkuman
1. Satu selimut bersama istri (HR. Tirmidzi 132)
2. Makan sepiring berdua, minum segelas berdua (HR. Bukhari VI/293)
3. Mencium istri sering-sering (HR. Nasa'i)
4. Mandi bersama istri (HR. Nasa'i I/202)
5. Menyikat/menyisir rambut suami (HR. Ahmad)
6. Membantu pekerjaan rumah tangga (HR. Muslim)
7. Membelai istri (HR. Ahmad)
8. Tetap romantis walau istri sedang haid (HR. Bukhari 7945)
9. Menemani istri yang sedang sakit (HR. Muslim 2770)
10. Memberikan istri hadiah (HR. Ahmad)
11. Mengajak istri ketika hendak keluar kota (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Mendinginkan kemarahan istri dengan kemesraan (HR. Ibnu Sunni)
13. memanggil dengan kata-kata mesrah (HR. Muslim)
14. Suami Istri berjalan-jalan berduaan waktu malam (HR. Muslim 2445)
15. Tidur di pangkuan istri (HR. Bukhari)

