Dunia sering tampak indah di mata manusia. Harta, jabatan, popularitas, rumah yang nyaman, kendaraan yang bagus, bisnis yang sukses, tubuh yang sehat, keluarga yang terlihat sempurna, dan berbagai kesenangan lainnya bisa membuat hati mudah terpikat.
Namun, Allah mengingatkan bahwa keindahan dunia hanyalah sementara. Dalam Al-Qur’an, keindahan itu digambarkan sebagai “bunga kehidupan dunia”. Seperti bunga, ia bisa tampak indah ketika mekar. Warnanya menarik, bentuknya menawan, dan aromanya menyenangkan. Tetapi bunga tidak mekar selamanya.
Ada waktunya bunga tumbuh.
Ada waktunya mekar.
Ada waktunya layu.
Ada waktunya gugur.
Begitulah dunia. Apa yang hari ini terlihat indah, suatu saat bisa berubah. Apa yang hari ini dibanggakan, suatu saat bisa hilang. Apa yang hari ini dikejar mati-matian, suatu saat harus ditinggalkan.
Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati agar tidak silau oleh dunia.
Dunia adalah Ujian
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Thaha: 131)
Ayat ini mengajarkan bahwa keindahan dunia bukan semata-mata tanda kemuliaan. Bisa jadi ia adalah ujian. Harta adalah ujian. Jabatan adalah ujian. Popularitas adalah ujian. Kesehatan adalah ujian. Kelapangan hidup juga ujian.
Sebagian manusia diuji dengan kekurangan. Sebagian lain diuji dengan kelapangan. Keduanya sama-sama membutuhkan iman.
Orang yang diuji dengan kekurangan perlu bersabar.
Orang yang diuji dengan kelapangan perlu bersyukur.
Yang berbahaya adalah ketika kelapangan dunia membuat seseorang lupa kepada Allah. Ia merasa aman, bangga, dan mengira bahwa semua yang dimiliki adalah hasil usahanya sendiri. Padahal, semua nikmat adalah pemberian Allah dan akan dipertanggungjawabkan.
Jangan Silau Melihat Nikmat Orang Lain
Salah satu penyakit hati yang sering muncul adalah silau melihat nikmat orang lain. Ketika melihat orang lain lebih kaya, lebih sukses, lebih terkenal, lebih mudah hidupnya, atau lebih banyak fasilitasnya, hati mulai membandingkan.
Mengapa dia punya, saya belum?
Mengapa hidupnya terlihat mudah, saya sulit?
Mengapa rezekinya lapang, saya sempit?
Pertanyaan seperti ini bisa membuka pintu iri, tidak puas, dan lupa bersyukur.
Padahal, kita tidak tahu ujian apa yang sedang Allah berikan kepada orang tersebut. Bisa jadi harta yang banyak adalah ujian berat baginya. Bisa jadi popularitas yang besar justru menjadi beban. Bisa jadi jabatan tinggi membawa tanggung jawab yang tidak ringan.
Tidak semua yang tampak indah dari luar benar-benar menenangkan di dalam. Karena itu, jangan terlalu menatap bunga dunia yang Allah berikan kepada orang lain hingga lupa pada karunia yang Allah berikan kepada diri sendiri.
Keindahan Dunia Tidak Kekal
Dunia memiliki sifat berubah. Orang yang hari ini kaya bisa mengalami kerugian. Orang yang hari ini sehat bisa sakit. Orang yang hari ini terkenal bisa dilupakan. Orang yang hari ini kuat bisa menjadi lemah. Orang yang hari ini berkuasa bisa kehilangan jabatan.
Tidak ada yang benar-benar menetap di dunia.
Inilah sebabnya menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada dunia akan membuat hati mudah kecewa. Ketika dunia datang, seseorang senang berlebihan. Ketika dunia pergi, ia hancur berlebihan.
Seorang Muslim perlu menikmati nikmat dunia dengan syukur, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir. Dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menguasai hati.
Harta di tangan bisa bermanfaat.
Harta di hati bisa membelenggu.
Hadis tentang Dibukakannya Bunga Dunia
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ duduk di mimbar sementara para sahabat duduk di sekeliling beliau. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku ialah dibukakannya bunga dunia dan perhiasannya untuk kalian.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.
Pesan hadis ini sangat dalam. Rasulullah ﷺ mengkhawatirkan umatnya ketika dunia dibukakan. Bukan hanya ketika umat dalam keadaan miskin dan sulit, tetapi juga ketika umat mendapatkan kelapangan, harta, dan kemewahan.
Mengapa?
Karena dunia yang terbuka lebar bisa membuat manusia lalai. Ketika hidup serba mudah, manusia bisa merasa tidak membutuhkan Allah. Ketika harta melimpah, manusia bisa lupa akhirat. Ketika kesenangan tersedia, manusia bisa sulit menahan diri.
Maka, kelapangan dunia perlu disikapi dengan hati-hati.
Dunia Bukan Musuh, tetapi Jangan Dijadikan Tujuan Utama
Islam tidak mengajarkan umatnya membenci dunia secara mutlak. Dunia adalah tempat beramal. Di dunia kita shalat, bersedekah, menuntut ilmu, bekerja, mendidik anak, membantu orang lain, dan mencari rezeki halal.
Dunia bisa menjadi ladang akhirat jika digunakan dengan benar.
Harta bisa menjadi sedekah.
Ilmu bisa menjadi amal jariyah.
Jabatan bisa menjadi jalan menegakkan keadilan.
Kesehatan bisa menjadi sarana memperbanyak ibadah.
Keluarga bisa menjadi tempat menanamkan iman dan akhlak.
Yang dilarang adalah menjadikan dunia sebagai tujuan utama hingga melupakan Allah. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi untuk diarahkan sebagai bekal menuju akhirat.
Bunga yang Mekar Selamanya
Bunga dunia akan layu. Namun, karunia Allah di akhirat lebih baik dan lebih kekal. Itulah “bunga” yang tidak akan layu. Kenikmatan akhirat tidak akan rusak, tidak akan hilang, dan tidak akan berakhir.
Karena itu, fokus hidup seorang Muslim seharusnya bukan sekadar mengejar keindahan dunia yang sementara, tetapi mengejar ridha Allah dan kehidupan akhirat yang kekal.
Jika dunia datang, gunakan untuk kebaikan.
Jika dunia pergi, jangan hancur.
Jika diberi nikmat, syukuri.
Jika diuji kekurangan, sabari.
Jika melihat orang lain diberi lebih, jangan iri.
Jika memiliki kesempatan beramal, jangan tunda.
Akhirat adalah tujuan. Dunia adalah perjalanan.
Tanda Seseorang Mulai Tertipu Dunia
Ada beberapa tanda ketika seseorang mulai tertipu oleh bunga kehidupan dunia.
Pertama, ia lebih sering memikirkan harta daripada shalat.
Kedua, ia lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan iman.
Ketiga, ia merasa rendah diri hanya karena belum memiliki pencapaian dunia tertentu.
Keempat, ia mudah iri melihat rezeki orang lain.
Kelima, ia menilai kemuliaan seseorang hanya dari jabatan, uang, atau penampilan.
Keenam, ia sulit bersedekah karena terlalu takut kekurangan.
Ketujuh, ia menghalalkan segala cara demi meraih dunia.
Kedelapan, ia tidak punya waktu untuk Al-Qur’an, ilmu agama, dan amal saleh.
Jika tanda-tanda ini mulai terasa, saatnya hati kembali diarahkan kepada Allah.
Cara Agar Tidak Silau oleh Dunia
Ada beberapa cara yang dapat membantu seorang Muslim agar tidak tertipu oleh keindahan dunia.
1. Perbanyak mengingat Allah
Hati yang sering mengingat Allah akan lebih kuat menghadapi godaan dunia. Zikir membuat manusia sadar bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
2. Jaga shalat
Shalat mengingatkan bahwa manusia adalah hamba. Sesibuk apa pun mengejar dunia, shalat tidak boleh ditinggalkan.
3. Lihat orang yang berada di bawah dalam urusan dunia
Melihat orang yang lebih sulit kehidupannya dapat membantu kita bersyukur. Jangan hanya melihat orang yang lebih kaya atau lebih sukses.
4. Perbanyak sedekah
Sedekah melatih hati agar tidak terlalu terikat pada harta. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah justru menjadi bekal akhirat.
5. Ingat kematian
Kematian memutus seluruh kenikmatan dunia. Mengingat kematian membantu manusia menata prioritas hidup.
6. Gunakan dunia untuk akhirat
Bekerja, belajar, berdagang, dan membangun kehidupan dunia tetap baik jika diniatkan untuk ibadah dan dilakukan dengan cara yang halal.
7. Jangan membandingkan hidup secara berlebihan
Membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan dapat melemahkan syukur. Fokuslah pada amanah yang Allah berikan kepada kita.
Syukur Saat Diberi, Sabar Saat Diuji
Hidup seorang Muslim berputar antara syukur dan sabar. Ketika Allah memberi nikmat, ia bersyukur. Ketika Allah menguji dengan kekurangan, ia bersabar.
Keduanya sama-sama baik jika dijalani dengan iman.
Orang yang bersyukur tidak sombong ketika diberi dunia. Ia sadar bahwa semua hanya titipan. Orang yang sabar tidak putus asa ketika diuji. Ia yakin bahwa Allah mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dengan syukur dan sabar, hati menjadi lebih tenang. Tidak terlalu mabuk saat dunia datang, dan tidak terlalu hancur saat dunia pergi.
Penutup
Bunga kehidupan dunia memang tampak indah. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kesenangan dapat membuat manusia terpikat. Namun, seperti bunga, semua itu tidak mekar selamanya.
Allah mengingatkan bahwa bunga dunia adalah ujian. Karunia Allah di sisi-Nya jauh lebih baik dan lebih kekal. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh silau melihat dunia yang dibukakan kepada dirinya atau orang lain.
Gunakan dunia sebagai bekal akhirat. Syukuri nikmat yang ada. Jaga hati dari iri. Jangan mengorbankan iman demi mengejar sesuatu yang sementara.
Semoga Allah menjaga hati kita dari fitnah dunia, menjadikan dunia berada di tangan kita bukan di hati kita, dan membimbing kita menuju kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal.
Wallahu a‘lam.
Rujukan
- Al-Qur’an Surah Thaha ayat 131.
- Hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kekhawatiran Rasulullah ﷺ terhadap dibukakannya bunga dunia, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.