Senin, 02 Desember 2019

ISTIQOMAH ITU BERAT, KALAU RINGAN NAMANYA ISTIRAHAT

Istiqomah itu berat. Kalau ringan namanya istirahat. Janganlah beranggapan kalau sudah komitmen ber-Islam dengan baik dan benar, berhijrah meninggalkan kemaksiatan untuk kemudian berupaya menegakkan Al Quran dan Sunnah, maka hidup akan tenang dan tentram, dijamin masuk surga. 

Tidak demikian. 

Justru ujian akan datang semakin kencang, bertubi-tubi. Ini adalah hakikat dunia yang memang diciptakan sebagai ujian bagi manusia. Dunia merupakan tempat berlelah-lelah bagi orang beriman. Tempat menanam amal-amal dan menghadapi segala ujian. 

Sedangkan tempat istirahat orang beriman adalah surga. Ini tempat penuh segala kenikmatan dimana kita akan memanen amal-amal kita selama di dunia. Hal ini hanya bisa diraih melalui amalan-amalan kita yang Diridhoi oleh Allah Azza wa Jalla. 

Jadi mumpung masih di dunia, banyak-banyaklah beramal, terus perbaiki kualitas amalan, serta bersabarlah dan istiqomahlah dalam menghadapi segala ujian. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman: Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31]

Allâh Azza wa Jalla berfirman: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]

Allâh Azza wa Jalla berfirman: Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allâh membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa [HR. at-Tirmidzi no.2398 , an-Nasâ’i di as-Sunan al-Kubrâ no. 7482 dan Ibnu Mâjah no. 4523 (Hadits shahîh. Ash-Shahîhah no. 143)]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu : “Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)]

Minggu, 01 Desember 2019

SAUS SAMBAL ALAMI SEHAT ALA CHEF ALEX

Ceritanya ingin makan omelet/telur dadar lengkap dengan saus sambalnya. Tapi inginnya saus sambal yang alami, sehat, tanpa bahan pengawet, MSG, pewarna dan bahan kimia lain. Juga tidak memakai gula pasir. Akhirnya coba sendiri buat. Berikut bahan dan proses pembuatannya.

BAHAN:
1. Tomat 8-10 butir. Sesuai selera.
2. Bawang putih 1 buah/bongkol. kupas kulit.
3. Cabai rawit segenggam. Bisa dicampur dengan cabai kriting.
4. Gula merah/aren 3 sdm.
5. Garam secukupnya.
6. Tepung Talbinah 4 sdm, campur sedikit air sehinga terbentuk adonan kental.

PROSES :
1. Rebus tomat, bawang putih dan cabai sampai matang. Tiriskan dan tunggu agak dingin.
2. Masukkan ke blender. Tambahkan sekitar 300 ml air. Haluskan. 
3. Tuang adonan dari blender ke wajan. Didihkan. 
4. Tuang gula merah/aren dan garam. Aduk-aduk.
5. Tuang adonan tepung talbinah dan langsung aduk-aduk. 
6. Terus didihkan sampai mencapai tingkat kekentalan dan rasa yang sesuai. 
6. Matikan api, biarkan, dinginkan, lalu tuang ke wadah kaca. Insya Allah bisa disimpan di kulkas untuk waktu lama.

SELAMAT MENCOBA 
😅🤣🙏👨‍🍳👩‍🍳🤤


Sabtu, 30 November 2019

OMELET SEHAT RADIKAL ALA CHEF ALEX

Sarapan pagi biasanya enaknya makan omelet. Kali ini saya mencoba resep omlete sehat, dari bahan-bahan alami. Menggorengnya menggunakan minyak beras/minyak bekatul/rice bran oil sebagai alternatif dari minyak sawit.

Bahan :
1. Minyak bekatul/minyak beras/rice bran oil.
2. Telur tiga butir.
3. Jamur kancing 5 buah ukuran. sedang.
4. Bawang putih 3 siung.
5. Bawang bombai setengah buah.
6. Cabai merah 1 buah.
7. Bawang daun 1 batang.

Cara Membuat :
1. Kocok telur lepas, beri garam secukupnya, sisihkan sejenak.
2. Cincang bawang putih.
3. Cincang halus bawang bombai.
4. Iris tipis jamur kancing.
5. Iris tipis bawang daun.
6. Iris tipis cabai merah.
7. Tuang 2 sdm minyak bekatul ke wajan. Panaskan. 
8. Masukkan bawang putih cincang, tunggu sampai tercium harum.
9. Masukkan bawang bombai, Aduk-aduk.
10. Setelah terlihat layu, masukkan irisan jamur, irisan bawang daun, dan irisan cabai merah. Aduk merata. Setelah matang, angkat adonan, tiriskan, sisihkan sementara.
11. Panaskan kembali sisa minyak bekatul, masukkan telur yang sudah dikocok. Tunggu sampai setengah matang. Tuang adonan merata ke permukaan telur. Lalu lipat dan matangkan sesuai selera.
12. Sajikan dengan rebusan kentang, brokoli, jagung, dll.

SELAMAT MENCOBA. 

Kualitas rasa sesuai selera dan keterampilan masing-masing. Bahan bisa di-adjust sesuai selera.
🤣😅🙏🙈👨‍🍳👩‍🍳🍳

Kamis, 28 November 2019

RESEP SOP DAGING HIJRAH SEHAT ALA CHEF ALEX

Sop Daging Hijrah Sehat ala chef Alex dibuat dari bahan-bahan sehat dengan proses yang juga sehat. Sehat di sini maksudnya tidak menggunakan penyedap, MSG, unsur tepung, gorengan (minyak sawit), gula pasir. Namun bukan berarti bahan-bahan tersebut benar-benar tidak sehat, namun maksudnya sebisa mungkin untuk dihindari, kecuali benar-benar terpaksa/darurat. 

Misalkan untuk penyedap, diupayakan menggunakan bumbu penyedap rempah-rempah alami dibuat secata alami di cobek atau diblender. Untuk tepung, sebisa mungkin menggunakan tepung gandum. Gula pasir sebaiknya dihindari dan bisa menggunakan gula aren. Minyak sawit sebaiknya dihindari, jika terpaksa harus ada yang digoreng, maka gunakan minyak beras/rice brand oil. 

Untuk proses juga ada beberapa teknik-teknik yang sehat. Misalkan menghindari makanan dipanaskan/dimasak lebih dari sekali. Sebisa mungkin sekali masak, matang, langsung dimakan sampai habis. Nanti kalau hendak makan lagi maka perlu memasak lagi. Memang agak merepotkan.

Selain itu untuk bahan-bahan juga sebaiknya yang organik. Bahkan kalau memang menungkinkan menanam/memrlihara bahan sendiri. Kalau memungkinkan. Berhubung kita tidak tahu proses-proses apa saja yang telah dilakukan di perkebunan/pertanian/peternakan terhadap tumbuhan/hewan ternak, termasuk saat proses distribusinya ke pasar/super market. 😅🙏

Berikut resep dari saya.

Bahan : 
Daging sapi secuil (tanggal tua),
Wortel 2 buah potong kecil-kecil,
Kentang 2 buah potong kecil-kecil,
Tomat 1 buah potong kecil-kecil,
Brokoli 3 cuil,
Cabai merah 1 buah iris kecil-kecil,
Selederi 2 batang iris kecil-kecil, 
Bawang daun 2 batang iris kecil-kecil,

Bumbu :
7 siung bawang merah,
5 siung bawang putih,
Lada secukupnya,
Pala 1/2 biji,
Gula aren,
Garam.

Cara Membuat:
1. Rebus daging sebentar, buang air rebusan pertama. Tambahkan air bersih baru. Rebus kembali sampai mendidih.
2. Sambil lalu, haluskan bumbu dan kemudian tumis bumbu sampai matang (menggunakan munyak beras/rice brand oil). 
3. Masukkan bumbu yg sudah ditumis matang ke rebusan daging yang mendidih. Aduk-aduk.
4. Masukkan irisan kentang dan wortel.
5. Setelah matang, sesaat sebelum matikan api, masukkan brokoli, tomat, irisan cabai merah, seledri, daun bawang. 
6. Sajikan dengan irisan cabai rawit dan perasan jeruk nipis secukupnya. Makan dengan nasi merah.

SELAMAT MENCOBA

🥗🍲😋🤤😅🤣🙈🙈

Sabtu, 23 November 2019

JILBOOB ATAU JILBAB SYAR'I

Semasa kuliah dulu sempat ikutan sinis melihat akhwat berjilbab besar atau bercadar. Tapi Alhamdulillah justru hal tersebut mendorong saya mempelajari agama lebih jauh dan atas berkat rahmat Allah tersingkaplah mana yang benar dan mana yang salah. Tinggal pilihan masing-masing, mau tunduk pada syariat Allah secara penuh atau tidak.

Benar. Ini adalah pilihan masing-masing. Tidak ada paksaan. Apakah seorang wanita muslim memilih mengenakan jilbab sesuai syar'i. Atau memilih mengenakan jilbab sekedarnya atau jilboob. Atau malah tidak mau mengenakan jilbab sama sekali. 

Tugas kita hanya mengingatkan dan mengajak.

Sebenarnya ini juga tanggung jawab setiap orang tua muslim. Yakni untuk mendidik anak gadisnya untuk menjadi solehah. Salah satu ukuran kesolahaan adalah komitmen dalam menjaga aurat sesuai syariah. 

Kalau menjaga aurat yang sesuai syar'i sudah bisa, insya Allah dia akan bisa menjaga yang lain.