Bahan bakar gas merupakan salah satu alternatif energi untuk sektor transportasi. Dalam konteks kendaraan, bahan bakar gas umumnya merujuk pada gas alam atau natural gas yang dapat digunakan dalam bentuk CNG dan LNG.
CNG adalah singkatan dari Compressed Natural Gas, yaitu gas alam yang disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi. Sementara itu, LNG adalah singkatan dari Liquefied Natural Gas, yaitu gas alam yang dicairkan pada temperatur sangat rendah agar volumenya menjadi jauh lebih kecil.
Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menyediakan bahan bakar alternatif selain bensin dan solar. Namun, teknologi penyimpanan, distribusi, biaya infrastruktur, serta segmentasi penggunaannya berbeda.
Perbedaan Gas Alam dan LPG
Sebelum membahas CNG dan LNG, penting untuk membedakan gas alam dan LPG. Gas alam memiliki kandungan utama berupa metana (CH₄). Gas inilah yang menjadi bahan baku utama CNG dan LNG.
Sementara itu, LPG atau Liquefied Petroleum Gas umumnya tersusun dari propana dan butana. LPG biasanya berasal dari hasil samping pengolahan minyak bumi atau proses pemisahan gas alam. LPG juga dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan, tetapi karakteristiknya berbeda dengan CNG dan LNG.
Dengan demikian, CNG dan LNG sama-sama berasal dari gas alam, sedangkan LPG berasal dari campuran propana dan butana.
Apa Itu CNG?
CNG adalah gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi, umumnya sekitar 200 bar. Setelah dikompresi, gas disimpan dalam tabung khusus yang kuat dan aman untuk menahan tekanan tinggi.
Pada kendaraan, CNG disimpan dalam tabung silinder bertekanan tinggi. Ketika akan digunakan, tekanan gas diturunkan melalui regulator agar sesuai dengan kebutuhan sistem mesin.
Teknologi CNG banyak digunakan pada kendaraan perkotaan, taksi, bus, kendaraan dinas, dan kendaraan operasional yang memiliki pola perjalanan relatif tetap. Hal ini karena kendaraan CNG membutuhkan akses ke stasiun pengisian gas atau SPBG.
Apa Itu LNG?
LNG adalah gas alam yang dicairkan melalui proses pendinginan ekstrem pada temperatur sekitar minus 160 derajat Celsius. Ketika menjadi cair, volume gas alam menyusut sangat besar sehingga lebih efisien untuk disimpan dan diangkut dalam jumlah besar.
Pada kendaraan, LNG disimpan dalam tangki cryogenic, yaitu tangki khusus yang mampu menjaga temperatur sangat rendah agar LNG tetap berada dalam bentuk cair. Ketika akan digunakan oleh mesin, LNG dialirkan melalui vaporizer agar berubah kembali menjadi gas, lalu tekanannya diatur sesuai kebutuhan mesin.
LNG lebih cocok untuk kendaraan jarak jauh, kendaraan berat, truk logistik, bus antarkota, kapal, atau kendaraan industri yang membutuhkan jarak tempuh lebih panjang. Hal ini karena LNG memiliki densitas energi per volume yang lebih baik dibandingkan CNG.
Perbedaan Utama CNG dan LNG
Perbedaan paling mendasar antara CNG dan LNG terletak pada cara penyimpanan. CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi, sedangkan LNG disimpan dalam bentuk cair bertemperatur sangat rendah.
CNG membutuhkan tabung tekanan tinggi, sementara LNG membutuhkan tangki cryogenic. Dari sisi infrastruktur, stasiun pengisian LNG biasanya lebih mahal karena membutuhkan fasilitas penyimpanan khusus bersuhu rendah.
Dari sisi jarak tempuh, LNG memiliki keunggulan karena gas dalam bentuk cair dapat menyimpan energi lebih banyak pada volume tangki yang sama. Karena itu, LNG lebih menarik untuk kendaraan berat dan jarak jauh, sedangkan CNG lebih umum digunakan untuk kendaraan perkotaan dan jarak menengah.
Produksi dan Infrastruktur CNG
CNG biasanya diproduksi di CNG plant atau SPBG. Gas alam dari jaringan pipa dialirkan ke kompresor, kemudian ditekan hingga mencapai tekanan tertentu. Setelah itu, gas disimpan dalam tabung bertekanan tinggi dan disalurkan ke kendaraan melalui dispenser CNG.
CNG juga dapat berasal dari LNG yang diregasifikasi. Dalam sistem ini, LNG dikembalikan ke bentuk gas, kemudian dikompresi sesuai tekanan CNG.
Salah satu tantangan utama CNG adalah kebutuhan jaringan pipa gas. Jika suatu wilayah belum memiliki jaringan pipa gas, maka pembangunan stasiun CNG dapat menjadi lebih mahal karena perlu menggunakan sistem distribusi tambahan, seperti mother and daughter station.
Jenis-Jenis Stasiun CNG
Sistem distribusi CNG dapat menggunakan beberapa model stasiun pengisian. Masing-masing model memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri.
1. CNG Online Station
CNG online station adalah SPBG yang terhubung langsung dengan jaringan pipa gas. Gas alam dialirkan melalui pipa menuju stasiun, kemudian dikompresi hingga tekanan sekitar 200 sampai 250 bar.
Setelah itu, CNG diisikan ke kendaraan melalui dispenser. Model ini biasanya lebih efisien karena pasokan gas berasal langsung dari jaringan pipa.
Namun, CNG online station sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur pipa gas. Jika jaringan pipa belum tersedia, model ini sulit diterapkan.
2. Mother and Daughter Station
Pada sistem mother and daughter station, gas alam dialirkan melalui pipa ke mother station. Di mother station, gas dikompresi menjadi CNG, kemudian dimasukkan ke truk trailer atau kontainer CNG.
Truk tersebut kemudian mengirimkan CNG ke daughter station. Di daughter station, CNG disimpan dan kemudian diisikan ke kendaraan pengguna.
Model ini cocok untuk wilayah yang belum memiliki jaringan pipa gas langsung. Namun, biaya investasi dan biaya operasionalnya dapat lebih tinggi karena membutuhkan transportasi CNG menggunakan truk.
3. Mobile Refueling Unit
Mobile Refueling Unit atau MRU adalah stasiun pengisian CNG yang bersifat bergerak atau portabel. Biasanya MRU berbentuk kontainer yang berisi peralatan seperti dryer, filter, kompresor, tabung CNG, dan dispenser.
MRU dapat dipindahkan menggunakan truk ke lokasi tertentu. Model ini dapat digunakan untuk melayani pengguna CNG di lokasi yang belum memiliki SPBG permanen.
Namun, kapasitas MRU umumnya terbatas dibandingkan stasiun tetap. Penggunaannya lebih cocok untuk proyek percontohan, kebutuhan sementara, atau layanan pada lokasi tertentu.
4. Hybrid Station, Co-Location, atau Ecostation
Hybrid station atau ecostation adalah stasiun pengisian gas yang berada dalam satu lokasi dengan stasiun bahan bakar lain, seperti SPBU bensin dan solar. Model ini dapat berupa CNG online station, daughter station, atau MRU.
Keunggulan ecostation adalah pengguna dapat memperoleh beberapa jenis bahan bakar dalam satu lokasi. Model ini juga dapat membantu memperkenalkan bahan bakar gas kepada konsumen secara lebih mudah.
Infrastruktur dan Distribusi LNG
Berbeda dengan CNG, LNG diproduksi di pabrik pencairan gas alam atau LNG plant. Dalam proses pencairan, gas alam harus dibersihkan terlebih dahulu dari berbagai pengotor agar dapat dicairkan dengan aman dan efisien.
Setelah menjadi LNG, gas alam cair dapat dikirimkan ke stasiun pengisian LNG menggunakan beberapa moda transportasi. LNG dapat dikirim melalui truk kontainer LNG, kapal, kereta, atau pipa khusus, tergantung jarak dan kondisi infrastruktur.
Stasiun pengisian LNG membutuhkan tangki cryogenic untuk menjaga LNG tetap berada pada temperatur sangat rendah. Karena itu, biaya pembangunan LNG refueling station biasanya lebih mahal dibandingkan stasiun CNG.
Apa Itu LCNG Station?
LCNG station adalah stasiun yang menggabungkan layanan LNG dan CNG. Pada sistem ini, LNG disimpan di stasiun, kemudian sebagian LNG dapat diregasifikasi menggunakan vaporizer untuk menghasilkan CNG.
Dengan demikian, LCNG station dapat melayani kendaraan berbahan bakar LNG dan kendaraan berbahan bakar CNG sekaligus. Model ini dapat menjadi solusi fleksibel, terutama di wilayah yang ingin mengembangkan dua jenis bahan bakar gas dalam satu lokasi.
Namun, investasi LCNG station juga lebih kompleks karena membutuhkan fasilitas penyimpanan LNG, vaporizer, sistem tekanan, dan dispenser untuk dua jenis bahan bakar.
Kendaraan Berbahan Bakar CNG dan LNG
Secara umum, teknologi penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan dapat diterapkan melalui beberapa cara, yaitu sistem bi-fuel, dual fuel, atau modifikasi mesin menjadi mesin gas penuh.
Perbedaan utama antara kendaraan CNG dan LNG adalah sistem penyimpanan bahan bakarnya. Kendaraan CNG menggunakan tabung silinder bertekanan tinggi. Sementara itu, kendaraan LNG menggunakan tangki cryogenic yang mampu menjaga temperatur sangat rendah.
Dari sisi mesin, teknologi bahan bakar gas dapat diterapkan pada kendaraan bensin maupun diesel, tetapi pendekatannya berbeda.
Sumber : US Energy Infromation Administration
Sumber : West Port, 2013.
Sumber : West Port, 2013.
Sistem Bi-Fuel untuk Kendaraan Bensin
Pada kendaraan berbahan bakar bensin, penggunaan CNG atau LNG biasanya dilakukan melalui sistem bi-fuel. Artinya, kendaraan dapat menggunakan bensin dan gas secara bergantian.
Agar dapat menggunakan sistem ini, kendaraan dipasang converter kit. Dengan converter kit, pengemudi dapat berpindah dari bensin ke gas atau sebaliknya melalui proses switching, baik secara manual maupun otomatis.
Sistem bi-fuel memberi fleksibilitas kepada pengguna. Jika gas tersedia, kendaraan dapat menggunakan bahan bakar gas. Jika tidak tersedia, kendaraan tetap dapat menggunakan bensin.
Sistem Dual Fuel untuk Kendaraan Diesel
Pada kendaraan diesel, bahan bakar gas dapat digunakan melalui sistem dual fuel. Dalam sistem ini, gas dan solar digunakan secara bersama-sama di ruang bakar.
Gas berfungsi sebagai bahan bakar utama tambahan, sedangkan solar tetap digunakan untuk membantu proses penyalaan. Sistem ini umum diterapkan pada truk, bus, atau kendaraan berat yang ingin mengurangi konsumsi solar.
Keunggulan sistem dual fuel adalah kendaraan masih dapat menggunakan solar ketika pasokan gas tidak tersedia. Namun, sistem ini membutuhkan pengaturan teknis yang baik agar performa mesin tetap stabil dan aman.
Modifikasi Mesin Menjadi Gas Penuh
Selain bi-fuel dan dual fuel, kendaraan diesel juga dapat dimodifikasi agar menggunakan bahan bakar gas secara penuh. Dalam sistem ini, mesin diesel dibongkar dan dimodifikasi sehingga tidak lagi menggunakan solar sebagai bahan bakar utama.
Teknologi ini dapat memberikan penggunaan gas yang lebih maksimal. Namun, biaya modifikasinya lebih tinggi dan fleksibilitas terhadap penggunaan solar menjadi hilang.
Karena itu, pilihan antara bi-fuel, dual fuel, atau dedicated gas engine perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional, biaya, ketersediaan gas, dan karakter kendaraan.
Biaya Konversi Kendaraan CNG dan LNG
Biaya konversi kendaraan ke bahan bakar gas bervariasi tergantung jenis kendaraan, teknologi yang digunakan, kapasitas tabung atau tangki, serta standar pemasangan.
Berdasarkan pengalaman yang pernah digunakan dalam kajian, biaya pemasangan converter kit CNG untuk kendaraan pribadi berbahan bakar bensin dapat berkisar sekitar 15 sampai 25 juta rupiah.
Untuk truk diesel yang dikonversi menjadi sistem dual fuel CNG, biayanya dapat berkisar sekitar 100 sampai 200 juta rupiah. Sementara itu, modifikasi truk atau bus diesel menjadi mesin berbahan bakar gas penuh dapat mencapai sekitar 200 juta rupiah.
Pada teknologi LNG, biaya konversi cenderung lebih mahal karena tangki cryogenic memiliki harga tinggi. Biaya konversi bus menjadi sistem dual fuel LNG dapat mencapai hampir USD 30.000. Dalam pengalaman lain, biaya konversi truk menjadi sistem dual fuel LNG dapat mencapai sekitar 500 juta rupiah. Bahkan harga truk berbahan bakar LNG dari pabrikan dapat mencapai lebih dari 1 miliar rupiah.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa bahan bakar gas memang memiliki potensi, tetapi keekonomiannya sangat bergantung pada harga gas, jarak tempuh, konsumsi bahan bakar, biaya konversi, dan ketersediaan infrastruktur.
Keunggulan CNG dan LNG untuk Transportasi
CNG dan LNG memiliki beberapa keunggulan sebagai bahan bakar transportasi. Pertama, keduanya dapat menjadi alternatif pengganti bensin dan solar, terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM.
Kedua, gas alam umumnya memiliki pembakaran yang lebih bersih dibandingkan bahan bakar minyak tertentu. Hal ini dapat membantu mengurangi emisi polutan pada sektor transportasi.
Ketiga, bahan bakar gas dapat mendukung diversifikasi energi. Negara yang memiliki pasokan gas alam dapat memanfaatkannya untuk sektor transportasi, bukan hanya untuk industri dan pembangkit listrik.
Keempat, LNG memiliki keunggulan dari sisi densitas energi. Gas alam dalam bentuk cair dapat menyimpan energi lebih besar dalam volume yang sama dibandingkan CNG. Hal ini membuat LNG cocok untuk kendaraan berat dan perjalanan jarak jauh.
Tantangan Pengembangan CNG dan LNG
Meskipun teknologinya sudah cukup matang, pengembangan CNG dan LNG untuk transportasi tetap menghadapi tantangan. Tantangan pertama adalah infrastruktur pengisian. Tanpa jaringan SPBG atau LNG station yang memadai, pengguna kendaraan akan kesulitan mengakses bahan bakar gas.
Tantangan kedua adalah biaya investasi. Stasiun CNG membutuhkan kompresor, sistem penyimpanan bertekanan tinggi, dispenser, dan sistem keselamatan. Stasiun LNG membutuhkan fasilitas cryogenic yang lebih mahal.
Tantangan ketiga adalah biaya konversi kendaraan. Banyak pengguna akan mempertimbangkan apakah penghematan bahan bakar dapat menutup biaya konversi dalam jangka waktu yang wajar.
Tantangan keempat adalah regulasi dan perizinan. Pembangunan SPBG atau LNG station membutuhkan dukungan izin lokasi, izin lingkungan, standar keselamatan, dan penerimaan masyarakat sekitar.
Tantangan kelima adalah penetapan harga. Jika harga jual CNG atau LNG terlalu rendah, pelaku usaha kurang tertarik berinvestasi. Namun, jika harga terlalu tinggi, konsumen tidak tertarik beralih dari bensin atau solar.
Penggunaan CNG dan LNG di Dunia
Secara global, kendaraan berbahan bakar gas atau Natural Gas Vehicle telah digunakan di berbagai negara. Penggunaan CNG dan LNG bukanlah teknologi baru. Beberapa negara telah mengembangkan jaringan kendaraan gas untuk taksi, bus, truk, hingga kendaraan industri.
Sumber : http://www.iangv.org/
Berdasarkan data historis yang digunakan dalam referensi, jumlah kendaraan berbahan bakar gas di dunia telah mencapai belasan juta unit. Negara seperti Iran, Pakistan, Argentina, Bangladesh, dan Armenia pernah menjadi contoh negara dengan tingkat penggunaan kendaraan gas yang cukup besar.
Pengalaman internasional menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan kendaraan gas sangat bergantung pada kombinasi kebijakan, harga bahan bakar yang kompetitif, ketersediaan infrastruktur, standar keselamatan, dan dukungan industri.
Aspek Keselamatan CNG dan LNG
Keselamatan menjadi aspek penting dalam penggunaan CNG dan LNG. CNG disimpan pada tekanan tinggi, sehingga tabung dan sistem perpipaannya harus memenuhi standar keselamatan. Pemeriksaan berkala juga perlu dilakukan untuk memastikan tabung tetap layak digunakan.
LNG memiliki tantangan berbeda karena disimpan pada temperatur sangat rendah. Tangki cryogenic harus mampu menjaga suhu LNG dan mencegah kebocoran. Pengisian dan distribusi LNG juga membutuhkan prosedur keselamatan khusus.
Meski demikian, penggunaan CNG dan LNG bukan hal baru. Standar internasional, panduan teknis, serta praktik terbaik dalam penggunaan bahan bakar gas telah banyak dikembangkan. Dengan penerapan standar yang tepat, risiko penggunaan CNG dan LNG dapat dikelola secara aman.
CNG dan LNG di Indonesia
Di Indonesia, pengembangan bahan bakar gas untuk transportasi telah dilakukan melalui pembangunan SPBG dan program konversi kendaraan. Namun, pelaksanaannya menghadapi berbagai tantangan.
Beberapa kendala yang sering muncul antara lain terbatasnya jaringan pipa gas, biaya pembangunan SPBG yang tinggi, belum meratanya pasokan gas, kendala perizinan, penolakan warga di beberapa lokasi, serta keterbatasan minat konsumen.
Sistem mother and daughter station dapat menjadi solusi untuk wilayah yang belum memiliki jaringan pipa gas, tetapi biaya investasi dan operasionalnya lebih tinggi. Hal ini dapat membuat harga CNG menjadi kurang kompetitif dibandingkan online station.
Untuk LNG, pemanfaatannya di Indonesia pernah diuji coba pada kendaraan pertambangan di Kalimantan Timur. LNG digunakan sebagai bahan bakar truk tambang dengan sistem dual fuel LNG-diesel. Penggunaan ini menunjukkan bahwa LNG memiliki potensi untuk kendaraan berat dan sektor industri tertentu.
CNG atau LNG, Mana yang Lebih Cocok?
Pemilihan antara CNG dan LNG perlu disesuaikan dengan kebutuhan kendaraan dan pola operasional. CNG lebih cocok untuk kendaraan perkotaan, kendaraan dengan rute tetap, armada taksi, bus kota, atau kendaraan operasional yang kembali ke pangkalan secara rutin.
Sementara itu, LNG lebih cocok untuk kendaraan berat, truk jarak jauh, bus antarkota, kendaraan tambang, kapal, atau transportasi yang membutuhkan jarak tempuh panjang dan kapasitas energi lebih besar.
Dengan demikian, CNG dan LNG tidak perlu diposisikan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Keduanya dapat digunakan untuk segmen yang berbeda dalam strategi diversifikasi bahan bakar transportasi.
Kesimpulan
CNG dan LNG merupakan dua bentuk pemanfaatan gas alam sebagai bahan bakar transportasi. CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi, sedangkan LNG disimpan dalam bentuk cair pada temperatur sangat rendah.
CNG lebih cocok untuk kendaraan perkotaan dan jarak menengah, terutama jika tersedia jaringan pipa gas dan SPBG. LNG lebih cocok untuk kendaraan berat dan jarak jauh karena dapat menyimpan energi lebih banyak pada volume tangki yang sama.
Penggunaan CNG dan LNG dapat mendukung diversifikasi energi, mengurangi ketergantungan terhadap BBM, dan menjadi alternatif bagi sektor transportasi. Namun, pengembangannya membutuhkan infrastruktur pengisian, standar keselamatan, kepastian harga, dukungan regulasi, serta keekonomian yang menarik bagi pengguna dan investor.
Bagi Indonesia, CNG dan LNG dapat menjadi bagian dari strategi bahan bakar alternatif, terutama untuk armada tertentu seperti bus, truk, kendaraan operasional, transportasi industri, dan kendaraan tambang. Namun, pengembangannya perlu dilakukan secara terencana, realistis, dan berbasis kebutuhan wilayah serta ketersediaan pasokan gas.
Referensi:
Apriyanto, Alek Kurniawan. 2015. Membangun Energy Security Indonesia. Jakarta: Pustaka Muda.
Buku ini tersedia melalui pemesanan langsung kepada penulis.










