Dalam pembahasan akidah, terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik akal dan rasa ingin tahu manusia. Misalnya:
Pertanyaan seperti ini sering muncul karena manusia berusaha memahami perkara ghaib dengan logika yang terbatas. Padahal, dalam Islam, perkara ghaib hanya dapat diketahui sejauh yang Allah kabarkan melalui Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ melalui hadis yang sahih.
Karena itu, dalam membahas perkara seperti ini, seorang muslim perlu bersikap hati-hati. Kita wajib beriman kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, tanpa menolak dalil, dan tanpa membahas sesuatu yang tidak dijelaskan oleh wahyu secara berlebihan.
Allah Bersemayam di Atas Arasy
Allah telah mengabarkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an bahwa Dia bersemayam di atas Arasy. Di antaranya firman Allah:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. Al-A’raf [7]: 54)
Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan.”(QS. Yunus [10]: 3)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengabarkan tentang istiwa’-Nya di atas Arasy. Kewajiban seorang muslim adalah mengimani kabar tersebut sebagaimana yang Allah sampaikan, dengan tetap meyakini bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya.
Arasy Allah adalah Makhluk yang Sangat Agung
Allah menyebutkan bahwa Dia adalah pemilik Arasy yang agung. Allah berfirman:
“Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.”(QS. At-Taubah [9]: 129)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu dan Penciptanya. Dia adalah pemilik Arasy yang agung, yang menaungi seluruh makhluk. Seluruh makhluk di langit dan bumi, serta apa yang ada di antara keduanya, berada di bawah Arasy dan berada di bawah kekuasaan Allah. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, kekuasaan-Nya terlaksana atas segala sesuatu, dan Dia adalah pelindung atas segala sesuatu.
Penjelasan ini mengingatkan kita bahwa Arasy adalah makhluk Allah yang sangat agung. Namun, sebesar apa pun Arasy, ia tetap makhluk. Adapun Allah adalah Pencipta seluruh makhluk.
Malaikat Pemikul Arasy
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Arasy dipikul oleh malaikat-malaikat dan dikelilingi oleh malaikat lainnya yang senantiasa bertasbih memuji Allah.
Allah berfirman:
“Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. Az-Zumar [39]: 75)
Allah juga berfirman:
“Malaikat-malaikat yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Ghafir/Al-Mu’min [40]: 7)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas mereka.”(QS. Al-Haqqah [69]: 17)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Aku telah diizinkan untuk menyampaikan tentang para malaikat Allah pembawa Arasy. Sesungguhnya antara daun telinga dan lehernya berjarak tujuh ratus tahun.”(HR. Abu Dawud no. 4727)
Dalil-dalil ini menunjukkan betapa agungnya Arasy dan betapa besarnya makhluk-makhluk Allah. Jika makhluk Allah saja demikian besar dan menakjubkan, maka semakin jelas bahwa akal manusia sangat terbatas dalam memahami perkara ghaib.
Tidak Perlu Membayangkan Bagaimana Istiwa’ Allah
Mengenai bagaimana hakikat Allah beristiwa’ di atas Arasy, hal itu tidak layak untuk diperdebatkan secara berlebihan. Apakah manusia mampu menggambarkan bagaimana keadaan Allah beristiwa’? Tentu tidak.
Dalam perkara seperti ini, sikap yang selamat adalah mengimani apa yang Allah kabarkan, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menolak makna yang telah Allah sampaikan.
Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. Asy-Syura [42]: 11)
Ayat ini menjadi kaidah penting. Kita mengimani sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi tidak menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Di Manakah Allah Sebelum Arasy Diciptakan?
Pertanyaan seperti “Di manakah Allah sebelum Arasy diciptakan?” termasuk perkara ghaib yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an dan hadis yang sahih untuk menjadi bahan pembahasan panjang.
Seorang muslim tidak dibebani untuk mengetahui perkara yang tidak Allah jelaskan. Yang wajib adalah beriman kepada Allah sesuai dengan wahyu yang telah Dia turunkan.
Akal manusia memiliki batas. Dalam perkara ghaib, akal tidak dapat berjalan sendiri tanpa bimbingan wahyu. Jika manusia memaksakan diri menelusuri hal-hal yang tidak dijelaskan Allah, ia dapat terjebak dalam spekulasi yang tidak membawa manfaat bagi iman dan amal.
Lebih baik waktu dan tenaga digunakan untuk mempelajari perkara yang jelas tuntunannya, seperti memahami Al-Qur’an, mempelajari hadis, memperbaiki shalat, menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ibadah.
Allah Turun ke Langit Dunia pada Sepertiga Malam Terakhir
Selain mengimani bahwa Allah bersemayam di atas Arasy, seorang muslim juga mengimani hadis sahih tentang turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.”(HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)
Hadis ini menunjukkan keutamaan sepertiga malam terakhir. Pada waktu tersebut, seorang muslim dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, shalat malam, dan munajat kepada Allah.
Adapun bagaimana hakikat turunnya Allah, maka hal itu termasuk perkara ghaib. Kita mengimani sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah ﷺ, tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk dan tanpa membahas bagaimana caranya.
Bagaimana dengan Perbedaan Waktu di Bumi?
Sebagian orang bertanya, “Jika sepertiga malam terakhir berbeda-beda di berbagai wilayah bumi, lalu bagaimana Allah turun ke langit dunia?”
Pertanyaan ini kembali kepada hakikat perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa yang sulit dibayangkan manusia sangat mudah bagi Allah. Kita terjebak dalam pertanyaan ini karena secara tidak sadar kita sedang menyerupakan Allah sebagaimana mahluk. Padahal kalau kita meyakini Allah adlaah Dzat yang Maha, maka semuanya dapat terjadi.
Yang penting bagi seorang muslim adalah mengimani hadis tersebut dan memanfaatkan waktu sepertiga malam terakhir untuk beribadah. Jangan sampai pertanyaan yang terlalu jauh justru membuat seseorang lalai dari manfaat utama hadis tersebut, yaitu memperbanyak doa dan istighfar pada waktu yang mustajab.
Apakah Allah Ada di Mana-Mana?
Sebagian orang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana. Ungkapan ini perlu dijelaskan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Menurut pemahaman Ahlus Sunnah, Allah bersemayam di atas Arasy, sebagaimana yang Allah kabarkan dalam Al-Qur’an. Namun, ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat seluruh makhluk-Nya.
Jadi, Allah tidak dipahami menyatu dengan makhluk atau berada di setiap tempat secara dzat. Akan tetapi, ilmu, pengawasan, kekuasaan, dan pengaturan Allah meliputi seluruh alam semesta.
Dengan memahami hal ini, seorang muslim dapat mengimani dalil tentang Allah di atas Arasy sekaligus meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi di mana pun.
Ka’bah dan Masjid sebagai Tempat Ibadah
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah Allah berada di Ka’bah atau di masjid karena masjid disebut rumah Allah.
Ka’bah adalah kiblat umat Islam dan tempat yang sangat mulia. Masjid juga disebut rumah Allah dalam makna sebagai tempat yang dimuliakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun, hal itu tidak berarti bahwa Allah secara dzat bertempat di Ka’bah atau di setiap masjid.
Penyebutan “rumah Allah” menunjukkan kemuliaan dan kehormatan tempat tersebut. Karena itu, masjid harus dimuliakan, dijaga kebersihannya, dan digunakan untuk ibadah yang diridhai Allah.
Jangan Menjadikan Akal sebagai Hakim atas Wahyu
Dalam perkara ghaib, seorang muslim tidak boleh menjadikan akal sebagai hakim tertinggi atas wahyu. Akal adalah nikmat besar dari Allah, tetapi akal memiliki batas.
Islam bukan agama yang bertentangan dengan akal sehat. Namun, Islam adalah agama wahyu. Dalam hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal, seorang muslim harus tunduk kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya.
Jangan membuat syarat dalam keimanan, misalnya: “Jika masuk akal saya imani, jika tidak masuk akal saya tolak.” Sikap seperti ini dapat merusak keimanan, karena perkara ghaib memang tidak semuanya dapat dijangkau oleh logika manusia.
Tugas seorang muslim adalah menggabungkan penggunaan akal yang sehat dengan ketundukan kepada wahyu.
Gunakan Akal untuk Hal yang Lebih Bermanfaat
Daripada terlalu jauh memperdebatkan perkara ghaib yang tidak dijelaskan rinci oleh Allah, lebih baik akal dan waktu kita digunakan untuk mempelajari hal-hal yang jelas manfaatnya.
Masih banyak ilmu yang perlu dipelajari, seperti tafsir Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, sirah Nabi, sejarah para sahabat, dan ilmu-ilmu yang membantu manusia menjalankan agama dengan benar.
Kita juga dapat menggunakan akal untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat. Ilmu dunia yang digunakan dengan niat yang benar dapat membuka jalan hikmah dan memperkuat keimanan kepada Allah.
Dengan demikian, akal tidak ditinggalkan, tetapi diarahkan kepada hal-hal yang bermanfaat dan sesuai dengan tuntunan wahyu.
Cukupkan Diri dengan Apa yang Diajarkan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam bertanya tentang hal-hal yang tidak membawa manfaat. Beliau bersabda:
“Wahai kaum muslimin, cukupkanlah diri kalian dengan apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka banyak bertanya dan suka menyelisihi para nabi mereka. Karena itu, bila aku perintahkan kalian mengerjakan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian. Dan apabila aku larang kalian mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah.”(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan sikap pertengahan. Bertanya untuk belajar adalah kebaikan. Namun, bertanya dengan tujuan memperumit, memperdebatkan perkara ghaib, atau mencari-cari hal yang tidak dibebankan kepada kita dapat menjadi jalan yang tidak bermanfaat.
Kesimpulan
Pertanyaan “Di manakah Dzat Allah?” termasuk pembahasan akidah yang harus dijawab dengan dalil dan adab. Al-Qur’an mengabarkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy. Kita wajib mengimani kabar tersebut sebagaimana yang Allah sampaikan, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya.
Allah juga mengabarkan melalui Rasul-Nya bahwa Dia turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Kita mengimani hadis tersebut dan mengambil manfaatnya dengan memperbanyak doa, istighfar, dan ibadah pada waktu tersebut.
Adapun perkara-perkara yang tidak dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti bagaimana hakikat istiwa’ atau bagaimana keadaan sebelum Arasy diciptakan, maka tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Akal manusia terbatas, sedangkan perkara ghaib hanya dapat diketahui melalui wahyu.
Kita harus meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan MahlukNya. Selanjutnya, ketika kita dihadapkan pada ayat Al Quran dan Hadis Sahih yang menginformasikan tentang Dzat Allah, maka kita wajib beriman secara tekstual sesuai deskripsi dan narasi dari Ayat dan Hadis tersebut. Namun demikian tidak layak bagi kita mempertanyakan dan membayangkan mengenai hal tersebut. Kita harus mengembalikan lagi intepretasi ke keyakinan bahwa Allah tidak serupa dengan Mahluk. Segala daya dan upaya manusia membayangkan Dzat Allah hanya akan membuat akal terus terjebak dalam daya imajinasi sebagai mahluk.
Seorang muslim hendaknya menggunakan akal dan waktunya untuk mempelajari Al-Qur’an, Sunnah, fikih, akhlak, ilmu bermanfaat, serta memperbaiki amal. Dengan begitu, keimanan tidak hanya menjadi bahan perdebatan, tetapi juga menjadi jalan untuk semakin tunduk, takut, cinta, dan taat kepada Allah.




