Dalam perspektif Islam, agama yang Allah turunkan kepada umat manusia sejak awal adalah agama tauhid, yaitu ajaran untuk menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Ajaran tauhid ini telah dimulai sejak penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam.
Allah mengajarkan kepada Nabi Adam berbagai ilmu pengetahuan. Nabi Adam kemudian mengajarkan kepada keturunannya tentang keimanan kepada Allah, tata cara beribadah, serta prinsip hidup yang sesuai dengan petunjuk Allah.
Seiring berjalannya waktu, manusia berkembang menjadi berbagai generasi dan bangsa. Dalam perjalanan sejarah tersebut, terjadi penyimpangan-penyimpangan dari ajaran tauhid. Karena itu, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk mengembalikan manusia kepada penyembahan yang benar kepada Allah.
Agama Manusia Bermula dari Tauhid
Islam mengajarkan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam adalah manusia pertama sekaligus nabi pertama. Setelah Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke dunia, keduanya memiliki keturunan. Nabi Adam mengajarkan kepada anak-cucunya agar menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Dapat dikatakan, semejak awal penciptaan manusia, Nabi Adam dan anak cucunya telah beragama Islam, agama tauhid, walau mungkin di era itu agama tauhid yang dimaksud tidak disebut sebagai "Islam". Penamaan "Islam" baru muncul atau dikenal di era wahyu kenabian Nabi Muhammad, yakni sebutan agama tauhid dalam bahasa arab.
Kata "Islam" dalam bahasa Arab berasal dari akar kata س ل م (s-l-m) yang berkaitan dengan makna selamat, damai, tunduk, patuh, dan berserah diri.
Secara bahasa, Islam (الإسلام) berarti berserah diri, tunduk, dan patuh.
Dalam konteks agama, "Islam" berarti: berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengikuti ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul, yang disempurnakan melalui Nabi Muhammad ﷺ.
Pada masa awal setelah Nabi Adam, manusia masih memegang ajaran tauhid tersebut. Mereka mengenal Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Namun, seiring bergantinya generasi, ilmu agama mulai melemah dan manusia mulai menyimpang dari ajaran yang benar.
Penyimpangan tersebut tidak terjadi sekaligus, tetapi berlangsung perlahan. Setan menggoda manusia melalui berbagai cara, termasuk dengan menumbuhkan sikap berlebihan dalam menghormati orang-orang saleh.
Awal Munculnya Penyimpangan Akidah
Sebelum diutusnya Nabi Nuh ‘alaihissalam, terdapat beberapa orang saleh yang dicintai oleh masyarakat. Nama-nama mereka disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.
Allah berfirman:
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan terhadap tuhan-tuhan kamu, dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.’”(QS. Nuh [71]: 23)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa nama-nama tersebut adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat berhala di tempat-tempat majelis mereka dan menamainya dengan nama orang-orang saleh tersebut.
Pada awalnya, patung-patung itu belum disembah. Namun, setelah generasi pembuat patung tersebut meninggal dan ilmu agama mulai hilang, generasi berikutnya mulai menyembah patung-patung tersebut. Riwayat ini disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Tafsir.
Dari sini dapat dipahami bahwa kesyirikan pada awalnya muncul melalui sikap berlebihan terhadap orang-orang saleh. Apa yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai bentuk mengenang, lama-kelamaan berubah menjadi bentuk pengagungan yang melampaui batas.
Diutusnya Nabi Nuh ‘Alaihissalam
Ketika kemusyrikan mulai menyebar di tengah manusia, Allah mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau menyeru kaumnya agar kembali kepada tauhid, yaitu menyembah Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya.
Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dalam waktu yang sangat panjang. Namun, sebagian besar kaumnya menolak ajakan tersebut. Hanya sedikit yang beriman dan mengikuti beliau.
Kisah Nabi Nuh menunjukkan bahwa penyimpangan agama bukan hanya persoalan perilaku, tetapi terutama berkaitan dengan rusaknya akidah. Karena itu, misi utama para nabi dan rasul adalah mengajak manusia kembali kepada tauhid.
Para Nabi dan Rasul Diutus untuk Menegakkan Tauhid
Setelah Nabi Nuh, Allah terus mengutus nabi dan rasul kepada berbagai umat. Setiap kali ajaran tauhid mulai dilupakan, Allah mengutus rasul untuk memberi peringatan dan membawa kabar gembira.
Allah berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat agar mereka menyerukan: Sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut.”(QS. An-Nahl [16]: 36)
Dalam ayat lain, Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”(QS. Fathir [35]: 24)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa dakwah para nabi memiliki inti yang sama, yaitu mengajak manusia menyembah Allah semata dan menjauhi segala bentuk penyembahan kepada selain Allah.
Sejarah Berulang: Lurus, Menyimpang, lalu Diingatkan
Dalam perjalanan sejarah, pola yang sama sering terulang. Ketika seorang nabi atau rasul diutus, sebagian manusia menerima ajarannya dan kembali kepada tauhid. Namun, setelah nabi tersebut wafat dan berlalu beberapa generasi, sebagian manusia kembali menyimpang.
Penyimpangan dapat terjadi dalam bentuk perubahan ajaran, pengagungan berlebihan kepada tokoh tertentu, penambahan ritual yang tidak diajarkan, atau pengabaian terhadap wahyu.
Ketika penyimpangan semakin besar, Allah mengutus nabi atau rasul berikutnya untuk meluruskan kembali akidah dan ibadah manusia. Demikianlah sejarah pengutusan para nabi dan rasul berlangsung hingga akhirnya Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul terakhir.
Allah berfirman:
“Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. An-Nisa’ [4]: 165)
Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul Penutup
Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai nabi dan rasul terakhir. Melalui beliau, Allah menyempurnakan ajaran Islam dan menjadikannya sebagai agama tauhid yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk seluruh manusia dari berbagai suku, bangsa, bahasa, dan wilayah.
Allah berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam telah sempurna. Setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Karena itu, umat manusia diperintahkan untuk mengikuti ajaran yang beliau bawa.
Hubungan Islam dengan Ajaran Para Nabi Sebelumnya
Dalam perspektif Islam, ajaran para nabi sebelumnya pada dasarnya adalah ajaran tauhid. Para nabi menyeru umatnya untuk menyembah Allah, menjauhi syirik, dan hidup sesuai petunjuk wahyu.
Nabi Muhammad ﷺ datang bukan untuk memutus ajaran para nabi sebelumnya, tetapi untuk menyempurnakan dan membenarkan ajaran tauhid yang telah dibawa oleh mereka. Karena itu, seorang muslim wajib beriman kepada seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah.
Namun, Islam juga menjelaskan bahwa sebagian umat terdahulu melakukan perubahan, penyembunyian, atau penyimpangan terhadap ajaran yang dibawa nabi-nabi mereka.
Allah berfirman:
“Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 15)
Dalam membahas hal ini, seorang muslim tetap perlu menjaga adab. Kritik terhadap penyimpangan akidah dan kitab terdahulu sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang ilmiah, bukan dengan celaan atau penghinaan kepada pemeluk agama lain.
Tantangan Penyimpangan dalam Internal Umat Islam
Setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada lagi nabi dan rasul yang diutus. Namun, umat Islam tetap menghadapi ujian berupa penyimpangan pemikiran, penyimpangan ibadah, perselisihan, dan jauhnya sebagian umat dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Karena itu, umat Islam perlu terus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Rasulullah ﷺ, para sahabat, generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama yang mengikuti jalan mereka.
Penyimpangan dalam agama dapat muncul ketika manusia lebih mengedepankan hawa nafsu, fanatisme kelompok, tradisi yang tidak sesuai dalil, atau pemikiran yang jauh dari wahyu.
Namun, Allah telah menjanjikan penjagaan terhadap Al-Qur’an.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”(QS. Al-Hijr [15]: 9)
Allah juga berfirman:
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-An’am [6]: 115)
Janji Allah ini menjadi keyakinan bagi umat Islam bahwa Al-Qur’an tetap terjaga sebagai pedoman utama hingga akhir zaman.
Pentingnya Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Dalam menghadapi perbedaan, penyimpangan, dan tantangan zaman, umat Islam perlu selalu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya adalah sumber utama dalam memahami agama.
Namun, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah harus dilakukan dengan ilmu. Umat Islam perlu mempelajari tafsir, hadis, fikih, akidah, sirah, dan penjelasan para ulama agar tidak memahami dalil secara keliru.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah juga tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus terlihat dalam ibadah, akhlak, muamalah, cara berdakwah, cara menyikapi perbedaan, serta cara berinteraksi dengan sesama manusia.
Sikap Muslim terhadap Sejarah Agama-Agama
Mempelajari sejarah agama-agama dalam perspektif Islam seharusnya membuat seorang muslim semakin memahami pentingnya tauhid. Sejarah manusia menunjukkan bahwa penyimpangan sering bermula dari hal-hal yang tampak kecil, seperti pengagungan berlebihan kepada orang saleh atau penambahan praktik keagamaan tanpa ilmu.
Namun, pemahaman ini tidak boleh membuat seorang muslim bersikap kasar kepada pemeluk agama lain. Islam mengajarkan dakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.
Seorang muslim dapat meyakini kebenaran Islam dengan kuat, tetapi tetap menjaga akhlak dalam menyampaikan keyakinannya. Kebenaran tidak harus disampaikan dengan celaan. Justru, akhlak yang baik dapat menjadi jalan terbukanya hati manusia kepada hidayah.
Kesimpulan
Dalam perspektif Islam, agama umat manusia sejak awal adalah ajaran tauhid, yaitu menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Ajaran ini dimulai sejak Nabi Adam ‘alaihissalam dan terus disampaikan oleh para nabi dan rasul setelahnya.
Seiring berjalannya waktu, manusia mengalami penyimpangan dari ajaran tauhid. Karena itu, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk mengembalikan manusia kepada jalan yang benar. Nabi Nuh ‘alaihissalam diutus ketika kemusyrikan mulai menyebar, dan para nabi setelahnya juga membawa misi yang sama, yaitu menegakkan tauhid.
Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul terakhir. Melalui beliau, Allah menyempurnakan Islam sebagai agama yang diridhai-Nya. Setelah beliau, tidak ada lagi nabi dan rasul, tetapi Allah menjaga Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat manusia hingga akhir zaman.
Mempelajari sejarah agama-agama seharusnya membuat umat Islam semakin mencintai tauhid, menjaga kemurnian ibadah, mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah, serta berdakwah dengan ilmu dan akhlak yang baik.




