Jumat, 02 Januari 2026

Teori Perulangan Sejarah Setiap 100 Tahun: Antara Pola, Siklus, dan Takdir Peradaban


Sejak ribuan tahun lalu, manusia selalu mencoba membaca pola dalam perjalanan waktu. Salah satu gagasan yang terus muncul—baik dalam kajian sejarah, filsafat, hingga pemikiran keagamaan—adalah teori perulangan peristiwa sejarah dalam siklus tertentu, salah satunya setiap 100 tahun.

Menariknya, dalam banyak catatan sejarah global, kita memang menemukan kemiripan pola:
perang besar, wabah mematikan, bencana alam besar, runtuhnya rezim lama, wafatnya tokoh-tokoh besar, lalu muncul generasi baru yang mengubah arah zaman.

Apakah ini kebetulan? Atau memang ada hukum tak kasat mata yang mengatur ritme peradaban?


1. Akar Pemikiran: Mengapa 100 Tahun?

Secara sosiologis dan biologis, 100 tahun sering dianggap sebagai:

  • Rentang 3–4 generasi manusia

  • Masa di mana memori kolektif langsung mulai hilang

  • Titik pergantian nilai, trauma, dan cara pandang terhadap dunia

Generasi yang mengalami perang atau wabah besar biasanya masih berhati-hati. Namun ketika mereka wafat, generasi berikutnya sering hanya mengenal tragedi itu sebagai cerita sejarah, bukan pengalaman emosional.

Di sinilah siklus sejarah sering dimulai kembali.


2. Pola Perang Besar: Dari Konflik ke Konflik

Jika kita melihat secara makro:

  • Perang Salib (abad ke-11–13)

  • Penaklukan Mongol & Pasca-Mongol (abad 13–14, efek panjang)
  • Perang Ottoman–Eropa (abad 15–18)

  • Perang Napoleon (awal abad ke-19)
    • Perang Napoleon (±1799–1815) mengubah wajah Eropa secara radikal
    • Mengakhiri banyak monarki feodal
    • Menyebarkan nasionalisme modern
    • Mengubah peta politik hampir seluruh Eropa
    • Ini bukan sekadar perang militer, tetapi perang ide yang membentuk dunia modern.
  • Awal abad ke-20 ditandai oleh Perang Dunia I (1914–1918)

  • Disusul Perang Dunia II (1939–1945) yang menjadi eskalasi lanjutan

  • Memasuki abad ke-21, dunia kembali berada pada fase ketegangan global, konflik regional besar, dan perlombaan teknologi militer.

Meski bentuknya berubah, akar konflik tetap sama:
perebutan sumber daya, ideologi, kekuasaan, dan rasa takut kehilangan dominasi.

Sejarah seakan berbisik:
ketika manusia lupa harga sebuah perdamaian, perang kembali menemukan jalannya.


3. Wabah dan Penyakit: Siklus Ketakutan Kolektif

Wabah besar juga sering muncul dalam interval panjang:

  • Abad ke-14: Black Death

  • Abad ke-16 (1500–1599): Wabah Cacar di Amerika

    Setelah kontak dengan Eropa:

    • Hingga 90% populasi asli Amerika musnah

    • Runtuhnya peradaban besar (Aztec, Inca)

    Salah satu kehancuran peradaban tercepat dalam sejarah.

  • Abad ke-19: Kolera global

  • Awal abad ke-20: Flu Spanyol

  • Awal abad ke-21: Pandemi global modern (Korona)

Menariknya, wabah tidak hanya soal penyakit, tetapi:

  • Menguji sistem kesehatan

  • Mengguncang ekonomi

  • Membuka tabir ketimpangan sosial

  • Mengubah cara manusia memandang kehidupan dan kematian

Setiap wabah besar selalu diikuti oleh perubahan tatanan dunia.


4. Bencana alam besar

  • Letusan Gunung Samalas – 1257 (Lombok). Salah satu letusan gunung api terbesar dalam 7.000 tahun terakhir
Dampak global: Pendinginan iklim dunia (global volcanic winter), Gagal panen di Eropa, Timur Tengah, dan Asia, Kelaparan massal, Ketidakstabilan kerajaan di berbagai wilayah.
Banyak sejarawan iklim menyebutnya pemicu awal rangkaian krisis abad 14
  • Banjir Besar & Cuaca Ekstrem Eropa (1315–1317). Dikenal sebagai Great FaminePenyebab utama:

    • Hujan ekstrem bertahun-tahun

    • Musim dingin panjang

    • Gagal panen beruntun

    Dampak:

    • Jutaan korban kelaparan

    • Populasi melemah drastis

    • Ketahanan sosial runtuh

  • Letusan Gunung Huaynaputina – 1600 (Peru)

    Meski terjadi di akhir abad 16 / awal 17, dampaknya global.

    Dampak:

    • Pendinginan iklim dunia

    • Gagal panen di Eropa & Rusia

    • Kelaparan besar Rusia (1601–1603)

    Bencana di Amerika Selatan berdampak langsung ke Eurasia.

  • Little Ice Age (puncak abad 17)

    Pendinginan global berkepanjangan.

    Dampak:

    • Musim dingin ekstrem

    • Panen gagal bertahun-tahun

    • Banjir & pembekuan sungai

    • Kerusuhan pangan di Eropa & Asia

    ➡️ Alam menjadi faktor utama instabilitas global.

  • “Year Without a Summer” (1816) Dipicu oleh letusan besar gunung Tambora (1815), dunia mengalami: Musim panas yang gagal, Kelaparan massal di Eropa dan Amerika Utara, Migrasi besar-besaran,Kerusuhan sosial akibat krisis pangan.

  • Letusan Gunung Krakatau (1883). Dampaknya: Tsunami besar di Nusantara, Abu vulkanik menyelimuti atmosfer global, Gagal panen di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, Perubahan iklim sementara yang memengaruhi ekonomi global.


5. Wafatnya Tokoh Besar dan Munculnya Pengganti

Dalam banyak peradaban—termasuk Islam—terdapat keyakinan bahwa terdapat siklus sejarah yang berulang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini, pada setiap awal seratus tahun, seseorang yang memperbarui agamanya.”
(HR. Abu Dawud)

Sesuai konteks hadis, 100 tahun dimaksud adalah dalam kalender tahun Hijriyah. 

Secara historis, kita sering melihat:

  • Wafatnya ulama besar, pemimpin karismatik, atau tokoh intelektual yang menjaga nilai-nilai dan ajaran Islam yang murni, dan meninggalkan banyak kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam beragama.

  • Terjadi masa kekosongan pemikiran atau kebingungan arah. Umat Islam terjebak dalam berbagai nilai-nilai dan praktek-praktek agama yang kian menyimpang dari ajaran Islam yang murni.

  • Lalu muncul kembali ulama besar yang baru yang berupaya memperkenalkan kembali nilai-nilai Islam dan ajaran Islam yang murni dan akan banyak menghadapi berbagai kontroversi dan konfrontasi di tengah Umat Islam sendiri. 

  • Ini bukan sekadar regenerasi biologis, tetapi regenerasi ide dan keberanian moral.


6. Perspektif Filsafat: Siklus atau Ilusi Pola?

Tidak semua sejarawan sepakat bahwa sejarah benar-benar berulang secara matematis.

Ada dua kubu besar:

  1. Deterministik – percaya sejarah mengikuti pola siklik

  2. Kontingensi – percaya sejarah dibentuk oleh kebetulan dan pilihan manusia

Namun di antara keduanya, ada satu titik temu:

Manusia cenderung mengulangi kesalahan yang sama ketika lupa alasan mengapa kesalahan itu dulu terjadi.


7. Lalu, Kita Ada di Fase Apa Sekarang?

Jika benar kita sedang berada di ujung atau awal satu siklus baru, maka ciri-cirinya biasanya:

  • Ketidakpastian global

  • Krisis kepercayaan pada institusi

  • Polarisasi sosial

  • Ledakan teknologi yang melampaui etika

  • Kerinduan pada figur pemimpin atau pemikir yang memberi arah

Pertanyaannya bukan lagi apakah sejarah akan berulang,
melainkan:

Apakah kita belajar cukup cepat sebelum harga yang harus dibayar terlalu mahal?


8. Penutup: Antara Takdir dan Kesadaran

Mungkin sejarah tidak dikunci oleh angka 100 tahun secara mutlak.
Namun pola-pola besar itu nyata—dan berulang, baik karena sifat manusia itu sendiri dan/atau tentunya juga karena Sunnatullah/Takdir Allah.

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu.
Ia adalah cermin, dan kadang peringatan.

Dan seperti semua peringatan:
ia hanya berguna jika kita mau mendengarkan.

Rabu, 31 Desember 2025

Islam dan Lingkungan: Amanah Khalifah di Bumi yang Sering Dilupakan


Ketika isu krisis iklim, polusi, kerusakan lingkungan, bencana meteorologi & ekologi, semakin sering dibicarakan, agama kerap dianggap “tidak relevan” dengan persoalan ekologis modern. Padahal, dalam Islam, hubungan manusia dengan alam adalah bagian dari iman dan amanah spiritual, bukan sekadar urusan teknis atau kebijakan publik.

Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang bagaimana manusia hidup di bumi tanpa merusaknya.

Manusia sebagai khalifah, bukan pemilik bumi

Dalam Al-Qur’an, manusia disebut sebagai khalifah di bumi—bukan pemilik mutlak. Konsep ini menempatkan manusia sebagai pengelola (steward) yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan Allah.

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)

Makna khalifah di sini bukan kekuasaan tanpa batas, melainkan tanggung jawab moral: menggunakan sumber daya secukupnya, mencegah kerusakan, dan memastikan keberlanjutan bagi generasi berikutnya.

Larangan merusak lingkungan dalam Al-Qur’an

Islam secara tegas mengecam perusakan lingkungan (fasād):

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini sering dibaca dalam konteks moral dan sosial, tetapi relevansinya sangat kuat dengan isu lingkungan: deforestasi berlebihan, pencemaran air, eksploitasi alam tanpa kendali—semuanya termasuk bentuk fasād modern.

Nabi Muhammad ﷺ dan etika lingkungan

Dalam sirah Nabi Muhammad ﷺ, kita menemukan banyak contoh konkret kepedulian terhadap alam:

  • Nabi melarang penebangan pohon secara sembarangan, bahkan saat perang.

  • Beliau menganjurkan penanaman pohon sebagai amal jariyah:

“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.”
(HR. Sahih Bukhari & Sahih Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa konservasi lingkungan bernilai ibadah, bahkan ketika manfaatnya tidak langsung dirasakan oleh penanamnya.

Konsep hima dan haram: kebijakan lingkungan dalam Islam klasik

Jauh sebelum istilah conservation area dikenal, Islam telah memiliki konsep hima dan haram:

  • Hima: kawasan lindung yang tidak boleh dieksploitasi bebas (biasanya padang rumput dan sumber air).

  • Haram: wilayah yang dilindungi secara ketat, seperti sekitar Makkah dan Madinah.

Pada masa para sahabat dan khalifah, konsep ini digunakan untuk:

  • Melindungi sumber air,

  • Mencegah overgrazing,

  • Menjaga keseimbangan ekosistem lokal.

Khalifah Umar bin Khattab bahkan dikenal tegas dalam mengatur penggunaan lahan dan air agar tidak dimonopoli segelintir orang. Termasuk juga kisah populer Sahabat Usman Bin Affan yang membeli sumur milik seorang Yahudi untuk kemudian diwakafkan untuk seluruh penduduk. Sumur tersebut dikenal dengan nama sumur Raumah. Sampai hari ini, sumur wakaf Utsman ra. itu masih mengalir. Kini, sumur Raumah dimanfaatkan Kementerian Arab Saudi untuk mengairi perkebunan dan ladang kurma yang ada di sekitarnya.

Ulama klasik dan prinsip keberlanjutan

Para ulama terdahulu juga menegaskan prinsip maslahah (kemaslahatan umum) dan larangan israf (pemborosan). Dalam konteks modern, israf tidak hanya berarti boros makanan, tetapi juga:

  • Boros energi,

  • Boros air,

  • Eksploitasi sumber daya melebihi daya dukung alam.

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini relevan langsung dengan pola konsumsi modern yang tidak berkelanjutan.

Lingkungan, iman, dan tanggung jawab generasi

Krisis lingkungan hari ini bukan hanya krisis teknologi, tetapi krisis etika dan spiritual. Islam memandang kerusakan alam sebagai cerminan rusaknya hubungan manusia dengan amanah yang diberikan Allah.

Melestarikan lingkungan dalam Islam bukan tren, bukan agenda politik, dan bukan isu Barat. Ia adalah:

  • Bagian dari tauhid (kesadaran ciptaan Allah),

  • Wujud tanggung jawab khalifah,

  • dan investasi pahala lintas generasi, sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir (tidak putus-putus) selama dimanfaatkan, bahkan setelah yang bersangkutan meninggal dunia.

Penutup

Jika seorang Muslim memahami ajaran agamanya secara utuh, maka menjaga lingkungan bukan pilihan tambahan, melainkan konsekuensi iman. Menanam pohon, menjaga air, mengurangi kerusakan, dan hidup selaras dengan alam—semuanya adalah bagian dari ibadah yang sering luput kita sadari.

Islam telah berbicara tentang lingkungan jauh sebelum krisis iklim menjadi isu global. Tantangannya hari ini bukan kurangnya dalil, tetapi kurangnya kesadaran dan konsistensi dalam mengamalkannya.

Senin, 29 Desember 2025

Emisi CO₂ Indonesia vs Daya Serap Alam: Apakah Masih Seimbang?


Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan hutan tropis, mangrove, dan laut yang luas. Namun di tengah pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi, muncul pertanyaan penting: apakah kemampuan alam Indonesia menyerap karbon masih sebanding dengan emisi CO₂ yang kita hasilkan setiap tahun?

Berapa emisi CO₂ Indonesia per tahun?

Data terbaru menunjukkan bahwa emisi CO₂ Indonesia dari sektor energi (listrik, industri, dan transportasi) telah mencapai sekitar 650–660 juta ton CO₂ per tahun. Angka ini terus meningkat seiring naiknya konsumsi energi fosil.

Jika seluruh sektor dihitung (termasuk sektor industri proses, limbah, dan pertanian & perkebunan) total emisi gas rumah kaca Indonesia berada di kisaran ±1,2 miliar ton CO₂e per tahun (tidak termasuk sektor kehutanan dan perubahan penggunaan lahan).

Dengan kata lain, setiap tahun Indonesia melepaskan karbon ke atmosfer dalam skala ratusan juta hingga lebih dari satu miliar ton.

Seberapa luas penyerap karbon alami Indonesia?

Indonesia memiliki aset alam yang sangat besar sebagai penyerap karbon alami (carbon sink):

  • Luas hutan Indonesia: ± 95,5 juta hektare

  • Mangrove: ± 3,4 juta hektare (terluas di dunia)

  • Padang lamun: ± 660 ribu hektare

  • Terumbu karang: ± 2,3 juta hektare

  • Perkebunan kelapa sawit: ± 16,8 juta hektare

  • Lahan pertanian (luas panen padi): ± 10,2 juta hektare per tahun

Hutan, gambut, dan mangrove merupakan penyerap karbon paling efektif karena mampu menyimpan karbon dalam biomassa dan tanah selama puluhan hingga ratusan tahun.

Berapa kemampuan alam Indonesia menyerap CO₂?

Angka serapan karbon nasional tidak tunggal karena bergantung pada metode dan kondisi ekosistem. Namun beberapa indikator penting dapat dijadikan gambaran:

  • Target resmi Indonesia (FOLU Net Sink 2030):
    sektor kehutanan dan penggunaan lahan ditargetkan menjadi penyerap bersih −140 juta ton CO₂e per tahun.

  • Potensi serapan mangrove:
    diperkirakan mencapai ±170 juta ton CO₂ per tahun, meski angka ini sangat bergantung pada kondisi dan perlindungan ekosistem.

  • Padang lamun:
    berkontribusi lebih kecil secara tahunan, namun menyimpan karbon jangka panjang di sedimen laut.

  • Terumbu karang:
    penting bagi ekosistem, tetapi bukan penyerap CO₂ bersih utama secara kimia.

Apakah sebanding dengan emisi?

Jika dibandingkan secara kasar:

  • Emisi energi: ± 650 juta ton CO₂/tahun

  • Serapan bersih sektor lahan (target): −140 juta ton CO₂e/tahun

Artinya, daya serap alam Indonesia saat ini belum mampu menutup emisi dari sektor energi saja, hanya sekitar 21% saja kemampuan penyerapannya, apalagi jika seluruh sektor dihitung dan dipertimbangkan (termasuk industri proses, limbah, dan pertanian) dan juga kebakaran hutan dan lahan gambut yang rutin terjadi. Bahkan dalam skenario pengelolaan hutan terbaik, ketimpangan ini masih signifikan.

Kontroversi teknologi Carbon Capture (CCUS)

Sebagai pelengkap, teknologi Carbon Capture, Utilization & Storage (CCUS) sering diajukan sebagai solusi. Namun efektivitasnya masih diperdebatkan:

Pro CCUS:

  • CO₂ dapat disimpan di lapisan batuan dalam dengan caprock yang tepat.

  • Beberapa proyek menunjukkan penyimpanan relatif stabil dalam periode monitoring.

Kritik terhadap CCUS:

  • Risiko kebocoran melalui retakan geologi dan sumur lama.

  • Ketidakpastian kemampuan batuan menyimpan CO₂ hingga ratusan–ribuan tahun.

  • Biaya tinggi dan potensi menjadi alasan menunda pengurangan emisi di sumbernya.

CCUS bukan solusi ajaib, melainkan opsi terbatas untuk sektor industri yang sulit menurunkan emisi secara langsung.

Kesimpulan

Indonesia memang memiliki penyerap karbon alami yang luar biasa, tetapi laju emisi kita tumbuh lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengimbanginya.

Perlindungan hutan, mangrove, gambut, dan laut adalah keharusan. Bahkan jika memungkinkan menambah luasannnya (hutan) dan taman-taman hijau di perkotaan dan area industri. Namun tanpa pengurangan emisi energi dan industri, ketergantungan pada alam semata—atau pada teknologi seperti CCUS—tidak akan cukup.