Setiap manusia memiliki dorongan untuk mengejar sesuatu dalam hidupnya. Ada yang mengejar harta, jabatan, popularitas, prestasi, kenyamanan, atau pengakuan dari manusia. Semua itu tidak selalu salah apabila ditempatkan secara proporsional dan dicari dengan cara yang halal.
Namun, masalah muncul ketika dunia menjadi tujuan utama. Manusia bisa lupa bahwa hidup di dunia hanya sementara. Waktu terus berjalan, usia terus berkurang, dan setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Dalam Islam, manusia tidak diciptakan untuk hidup tanpa tujuan. Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah bukan hanya shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga mencakup seluruh amal baik yang dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan Allah serta Rasul-Nya.
Karena itulah, seorang Muslim diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Tujuan Hidup Manusia
Allah berfirman:
Ayat ini menjadi dasar penting dalam memahami tujuan hidup. Manusia tidak diciptakan hanya untuk makan, bekerja, menikah, membangun rumah, mengumpulkan harta, lalu selesai. Semua aktivitas dunia seharusnya diarahkan untuk ibadah kepada Allah.
Bekerja dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan cara halal dan niat yang benar. Menafkahi keluarga dapat menjadi ibadah. Menuntut ilmu dapat menjadi ibadah. Membantu orang lain dapat menjadi ibadah. Bahkan tersenyum kepada saudara dengan niat kebaikan pun dapat bernilai ibadah.
Namun, agar semua itu bernilai ibadah, hati harus dijaga. Niat harus benar. Cara yang ditempuh juga harus sesuai dengan syariat.
Allah Melihat Hati dan Amal
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan semata penampilan, kekayaan, jabatan, atau status sosial. Di hadapan Allah, yang paling penting adalah hati dan amal.
Seseorang bisa terlihat sederhana, tetapi mulia karena keikhlasan dan amalnya. Sebaliknya, seseorang bisa terlihat hebat di mata manusia, tetapi rendah di sisi Allah jika hatinya dipenuhi kesombongan, riya, dan cinta dunia.
Karena itu, berlomba-lomba dalam kebaikan bukan tentang terlihat paling saleh di hadapan manusia. Berlomba dalam kebaikan adalah upaya memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan mencari ridha Allah.
Makna Berlomba-Lomba dalam Kebaikan
Allah berfirman:
Berlomba dalam kebaikan berarti menyegerakan diri untuk melakukan amal saleh. Jika ada kesempatan berbuat baik, jangan ditunda. Jika ada peluang membantu, lakukan. Jika ada waktu untuk bertaubat, jangan menunggu tua. Jika ada kemampuan untuk bersedekah, jangan menunggu kaya.
Dalam urusan dunia, manusia sering sangat cepat bergerak. Ada diskon, langsung dikejar. Ada peluang bisnis, segera dihitung. Ada jabatan, diperjuangkan. Ada tren baru, segera diikuti.
Namun, ketika urusan akhirat datang, sering kali manusia menunda. Shalat ditunda. Taubat ditunda. Sedekah ditunda. Membaca Al-Qur’an ditunda. Meminta maaf ditunda. Berbakti kepada orang tua ditunda.
Padahal, kesempatan hidup tidak selalu panjang.
Dunia Itu Sementara
Allah menggambarkan kehidupan dunia dalam Surah Al-Hadid ayat 20 sebagai permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, ajang bermegah-megahan, dan saling membanggakan harta serta anak. Dunia diumpamakan seperti tanaman yang mengagumkan setelah hujan, lalu mengering, menguning, dan akhirnya hancur.
Ayat ini bukan berarti dunia harus dibenci sepenuhnya. Dunia tetap tempat manusia beramal. Dunia adalah ladang akhirat. Namun, dunia tidak boleh menipu manusia sehingga lupa pada tujuan akhir.
Harta dapat menjadi bekal jika digunakan untuk kebaikan. Jabatan dapat menjadi ladang pahala jika dipakai untuk menegakkan keadilan. Ilmu dapat menjadi amal jariyah jika diajarkan dengan ikhlas. Keluarga dapat menjadi jalan ibadah jika dibina dengan iman.
Dunia menjadi berbahaya ketika ia menguasai hati.
Berlomba Mengejar Dunia Bisa Membinasakan
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa yang beliau khawatirkan atas umatnya bukan semata kemiskinan, tetapi ketika dunia dibentangkan, lalu manusia berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana umat terdahulu berlomba-lomba, hingga dunia itu membinasakan mereka.
Peringatan ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Banyak orang merasa tertinggal jika tidak memiliki rumah besar, kendaraan bagus, pakaian bermerek, jabatan tinggi, atau pencapaian tertentu. Media sosial sering memperkuat perasaan ini. Manusia menjadi mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Akhirnya, hidup terasa seperti perlombaan tanpa akhir.
Padahal, tidak semua yang tampak indah adalah berkah. Tidak semua yang terlihat sukses membawa ketenangan. Tidak semua yang banyak dimiliki manusia akan menolongnya di akhirat.
Yang akan menemani manusia setelah mati adalah amalnya.
Berlomba Menuju Ampunan dan Surga
Allah berfirman:
Ayat ini mengarahkan perlombaan manusia kepada tujuan yang benar: ampunan Allah dan surga.
Jika manusia ingin berlomba, berlombalah dalam hal yang mendekatkan kepada Allah. Berlombalah menjadi lebih jujur. Berlombalah lebih sabar. Berlombalah lebih ikhlas. Berlombalah dalam sedekah. Berlombalah dalam menolong orang. Berlombalah dalam menjaga shalat. Berlombalah dalam memperbaiki akhlak.
Perlombaan seperti ini tidak merugikan orang lain. Justru, jika banyak orang berlomba dalam kebaikan, masyarakat akan menjadi lebih baik.
Berbeda dengan perlombaan dunia yang sering memicu iri, dengki, kesombongan, dan persaingan tidak sehat, perlombaan dalam kebaikan melahirkan keberkahan.
Jangan Menunda Amal Saleh
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis ini mengingatkan bahwa keadaan manusia bisa berubah. Hati bisa berubah. Waktu luang bisa hilang. Kesehatan bisa berganti sakit. Kesempatan bisa tertutup. Lingkungan bisa berubah. Ujian bisa datang tanpa diduga.
Karena itu, jangan menunda amal saleh.
Jika hari ini masih mampu shalat dengan tenang, jagalah. Jika hari ini masih bisa membaca Al-Qur’an, bacalah. Jika hari ini masih ada orang tua, berbaktilah. Jika hari ini masih ada rezeki, sedekahkan sebagian. Jika hari ini masih ada kesempatan meminta maaf, lakukanlah.
Menunda kebaikan adalah salah satu tipu daya setan.
Contoh Berlomba dalam Kebaikan
Berlomba dalam kebaikan tidak harus selalu berupa amal besar. Banyak amal kecil yang jika dilakukan dengan ikhlas dan konsisten akan bernilai besar di sisi Allah.
Beberapa contoh yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Menjaga shalat tepat waktu
Shalat adalah tiang agama. Salah satu bentuk perlombaan dalam kebaikan adalah berusaha memperbaiki kualitas shalat, menjaga waktunya, dan tidak menundanya tanpa alasan.
2. Membaca dan memahami Al-Qur’an
Tidak harus langsung banyak. Mulailah dari beberapa ayat setiap hari. Yang penting konsisten dan disertai usaha memahami maknanya.
3. Bersedekah sesuai kemampuan
Sedekah tidak harus menunggu kaya. Memberi sedikit dengan ikhlas lebih baik daripada menunggu banyak tetapi tidak pernah dilakukan.
4. Menolong orang lain
Membantu tetangga, meringankan pekerjaan teman, memberi makan orang yang membutuhkan, atau membantu keluarga adalah bentuk kebaikan yang besar nilainya.
5. Menjaga lisan dan tulisan
Di era media sosial, menjaga komentar, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak mencaci orang lain juga termasuk amal saleh.
6. Berbakti kepada orang tua
Selama orang tua masih ada, berbuat baiklah kepada mereka. Jika sudah wafat, doakan mereka dan sambung silaturahmi dengan orang-orang yang mereka cintai.
7. Memperbaiki akhlak
Menjadi lebih sabar, tidak mudah marah, tidak sombong, tidak iri, dan mudah memaafkan adalah bentuk kebaikan yang sangat penting.
8. Menuntut ilmu
Ilmu membantu seseorang beribadah dengan benar, bekerja dengan baik, dan mengambil keputusan secara bijak.
9. Mengajak kepada kebaikan
Dakwah tidak selalu harus di mimbar. Mengajak keluarga shalat, mengingatkan teman dengan baik, menulis hal bermanfaat, atau memberi contoh akhlak yang baik juga termasuk dakwah.
10. Bertaubat setiap hari
Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Karena itu, memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri adalah bagian dari perlombaan menuju ampunan Allah.
Kualitas Lebih Penting daripada Sekadar Banyak
Berlomba dalam kebaikan bukan berarti hanya mengejar jumlah amal tanpa memperhatikan kualitas. Amal yang banyak tetapi dilakukan dengan riya dapat rusak nilainya. Amal kecil yang ikhlas bisa sangat besar di sisi Allah.
Karena itu, ada dua hal yang perlu dijaga: kuantitas dan kualitas.
Kuantitas berarti memperbanyak amal sesuai kemampuan. Kualitas berarti menjaga keikhlasan, mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, dan berusaha menghadirkan hati ketika beramal.
Jangan sampai seseorang sibuk memperbanyak amal tetapi lupa memperbaiki niat. Jangan pula menjadikan alasan “yang penting ikhlas” untuk malas beramal.
Keduanya perlu berjalan bersama.
Jangan Meremehkan Kebaikan Kecil
Kadang seseorang merasa amalnya terlalu kecil. Ia merasa sedekahnya sedikit, ilmunya sedikit, bacaan Al-Qur’annya sedikit, atau kebaikannya tidak seberapa.
Padahal, di sisi Allah, amal kecil bisa bernilai besar jika dilakukan dengan ikhlas.
Senyum yang tulus, ucapan baik, menyingkirkan gangguan dari jalan, memberi minum, membantu orang tua, mendoakan saudara, dan menahan diri dari membalas keburukan adalah kebaikan.
Jangan meremehkan kebaikan kecil. Bisa jadi amal kecil itulah yang menjadi sebab Allah memberi rahmat kepada kita.
Berlomba dalam Kebaikan Bukan untuk Sombong
Ada bahaya yang perlu diwaspadai. Ketika seseorang mulai beramal, setan bisa menggoda dari pintu lain: merasa lebih baik dari orang lain.
Berlomba dalam kebaikan bukan berarti memandang rendah orang yang belum mampu melakukan kebaikan yang sama. Jangan merasa paling saleh karena lebih sering hadir di masjid. Jangan merasa paling dermawan karena lebih banyak bersedekah. Jangan merasa paling berilmu karena lebih banyak membaca.
Tujuan berlomba dalam kebaikan adalah mendekat kepada Allah, bukan memenangkan pujian manusia.
Jika melihat orang lain berbuat baik, jadikan itu motivasi. Jika melihat orang lain belum baik, doakan dan nasihati dengan lembut. Jangan jadikan amal sebagai bahan kesombongan.
Mengubah Orientasi Hidup
Agar dapat berlomba dalam kebaikan, seseorang perlu mengubah orientasi hidupnya.
Jika sebelumnya ukuran sukses hanya harta, maka tambahkan ukuran keberkahan. Jika sebelumnya ukuran mulia hanya jabatan, maka ingat bahwa kemuliaan sejati ada pada takwa. Jika sebelumnya waktu habis untuk mengejar dunia, maka sisihkan waktu terbaik untuk Allah.
Mengubah orientasi hidup bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau tanggung jawab dunia. Seorang Muslim tetap harus bekerja, belajar, menafkahi keluarga, membangun usaha, dan memberi manfaat.
Namun, semua itu dilakukan sebagai bagian dari ibadah, bukan sebagai tujuan akhir yang melalaikan.
Cara Menumbuhkan Semangat Berlomba dalam Kebaikan
Ada beberapa cara sederhana untuk menumbuhkan semangat beramal saleh.
Pertama, ingat kematian. Kesadaran bahwa hidup terbatas membuat manusia lebih serius memanfaatkan waktu.
Kedua, baca Al-Qur’an secara rutin. Al-Qur’an menghidupkan hati dan mengingatkan manusia pada tujuan hidup.
Ketiga, berkumpul dengan orang saleh. Lingkungan yang baik dapat memudahkan seseorang berbuat baik.
Keempat, kurangi hal yang melalaikan. Terlalu banyak hiburan, media sosial, dan pergaulan yang sia-sia dapat melemahkan semangat ibadah.
Kelima, buat target amal harian. Misalnya shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, sedekah, zikir, atau membantu orang lain.
Keenam, evaluasi diri sebelum tidur. Tanyakan: kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? Dosa apa yang harus saya taubati?
Ketujuh, berdoa agar Allah memudahkan hati untuk taat.
Penutup
Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah panggilan bagi setiap Muslim untuk tidak menyia-nyiakan hidup. Dunia ini sementara, sedangkan akhirat kekal. Harta, jabatan, dan popularitas akan ditinggalkan. Yang akan terus menyertai manusia adalah amalnya.
Islam tidak melarang manusia bekerja dan meraih kebaikan dunia. Namun, dunia harus ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan utama.
Jika ingin berlomba, berlombalah menuju ampunan Allah. Berlombalah dalam shalat, sedekah, ilmu, akhlak, bakti kepada orang tua, menolong sesama, menjaga lisan, dan memperbaiki hati.
Jangan menunggu waktu lapang untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertaubat. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai nikmat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senang berbuat baik, ikhlas dalam beramal, dan diberi akhir kehidupan yang baik.
Wallahu a‘lam.

