Selasa, 22 Maret 2011

Lomba Desain Sepeda: Cerita Tiga Konsep Sepeda dari Masa Kuliah


Ketika sedang membuka dan merapikan file-file lama, saya menemukan kembali beberapa gambar desain sepeda yang pernah saya buat. Gambar-gambar tersebut dibuat menggunakan AutoCAD ketika saya masih kuliah.

Waktu itu, saya mengikuti sebuah lomba desain sepeda. Saya mengirimkan tiga konsep desain, yaitu Otocycle, Sepeda Portable, dan Spiderbike.

Kalau dilihat kembali sekarang, desainnya memang masih jauh dari sempurna. Ada bagian yang terlihat terlalu kaku, ada konsep yang masih terlalu imajinatif, dan ada pula ide yang mungkin belum didukung perhitungan teknis yang matang.

Namun, justru di situlah menariknya. File lama ini menjadi pengingat bahwa proses kreatif selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba.

Mengapa Saya Membuat Desain Sepeda?

Pada masa kuliah, saya cukup tertarik dengan desain produk dan kendaraan. Sepeda menjadi salah satu objek yang menarik karena bentuknya sederhana, tetapi memiliki banyak kemungkinan pengembangan.

Sepeda bukan hanya alat transportasi. Ia juga dapat menjadi media eksplorasi desain, ergonomi, efisiensi, dan gaya hidup. Dari satu konsep dasar berupa rangka, roda, setang, dan sistem kayuh, seorang desainer dapat mengembangkan banyak variasi bentuk.

Dalam lomba tersebut, saya mencoba membuat desain yang tidak terlalu umum. Saya tidak ingin hanya menggambar sepeda biasa, tetapi mencoba membayangkan kemungkinan bentuk baru yang memiliki fungsi berbeda.

Hasilnya adalah tiga konsep yang masing-masing memiliki karakter tersendiri.

1. Otocycle: Gabungan Scooter dan Sepeda


Sebagai Scooter


Sebagai Sepeda Biasa

Konsep pertama saya beri nama Otocycle. Ide ini muncul ketika saya melihat bentuk scooter mainan yang sederhana dan mudah digunakan. Dari sana, saya membayangkan kendaraan kecil yang dapat digunakan seperti scooter, tetapi juga dapat difungsikan sebagai sepeda biasa dengan pedal.

Gagasan utamanya adalah menghadirkan kendaraan personal yang fleksibel. Dalam satu kendaraan, pengguna dapat memilih cara bergerak sesuai kebutuhan.

Jika berada di area pendek atau santai, kendaraan dapat digunakan seperti scooter. Namun, ketika membutuhkan jarak tempuh lebih jauh, pengguna dapat mengayuhnya seperti sepeda.

Secara konsep, Otocycle mencoba menggabungkan dua karakter:

  • kepraktisan scooter;
  • dan efisiensi sepeda kayuh.

Jika dikembangkan lebih jauh, desain ini perlu memperhatikan beberapa hal, seperti posisi pedal, kenyamanan pijakan, keseimbangan, tinggi setang, dan kekuatan rangka.

Pada masa itu, saya lebih fokus pada bentuk dan ide besarnya. Sekarang, saya menyadari bahwa desain seperti ini memerlukan pengujian ergonomi yang cukup serius agar benar-benar nyaman digunakan.

2. Sepeda Portable: Terinspirasi dari Sepeda Lipat


Konsep kedua adalah Sepeda Portable. Ide dasarnya berasal dari sepeda lipat, yaitu kendaraan yang mudah dibawa, disimpan, dan dipindahkan.

Saya membayangkan sebuah sepeda yang tidak hanya dapat dikayuh, tetapi juga mudah dijinjing ketika tidak digunakan. Konsep semacam ini cocok untuk pengguna yang menggabungkan beberapa moda transportasi, misalnya berjalan kaki, naik kendaraan umum, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda.

Sepeda portable perlu menjawab beberapa kebutuhan:

  • mudah dilipat atau diringkas;
  • tidak terlalu berat;
  • tetap kuat saat digunakan;
  • aman ketika dikendarai;
  • dan nyaman saat dibawa.

Tantangan terbesar dari desain sepeda portable adalah menemukan keseimbangan antara kekuatan dan kepraktisan. Jika terlalu ringan, rangka bisa kurang kuat. Jika terlalu kokoh, bobotnya bisa menjadi berat dan tidak nyaman dibawa.

Dari desain lama ini, saya belajar bahwa konsep “mudah dibawa” tidak cukup hanya terlihat ringkas. Desain tersebut harus benar-benar mempertimbangkan berat, titik pegangan, mekanisme lipatan, serta keamanan penguncian rangka.

3. Spiderbike: Konsep Sepeda Berkaki


Konsep ketiga adalah Spiderbike. Desain ini pernah saya tampilkan juga dalam artikel lain di blog ini.

Spiderbike merupakan konsep yang paling imajinatif dibanding dua desain sebelumnya. Bentuknya terinspirasi dari hewan berkaki banyak, terutama laba-laba. Alih-alih menggunakan dua roda seperti sepeda biasa, konsep ini membayangkan kendaraan dengan beberapa kaki mekanis.

Jika dilihat dari sudut pandang desain, Spiderbike lebih dekat kepada kendaraan eksperimental daripada sepeda konvensional. Ia tidak lagi mengandalkan roda sebagai alat gerak utama, melainkan kaki-kaki mekanis yang menopang dan menggerakkan badan kendaraan.

Konsep seperti ini menarik karena membuka pertanyaan baru:

  • apakah kendaraan personal harus selalu memakai roda?
  • apakah kaki mekanis dapat membantu melewati medan tidak rata?
  • bagaimana sistem penggeraknya bekerja?
  • bagaimana menjaga keseimbangan kendaraan?
  • apakah efisiensinya masuk akal dibandingkan roda?

Jika dinilai secara teknis, konsep Spiderbike tentu masih memiliki banyak tantangan. Sistem gerak kaki mekanis jauh lebih rumit daripada roda. Diperlukan mekanisme penggerak, pola langkah, sumber tenaga, dan kontrol keseimbangan yang baik.

Namun, sebagai latihan imajinasi desain, Spiderbike memberi pelajaran bahwa ide kreatif kadang perlu keluar dari bentuk yang sudah biasa.

Melihat Kembali Desain Lama dengan Sudut Pandang Baru

Setelah bertahun-tahun, saya melihat desain-desain lama ini dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya bisa tersenyum karena beberapa bentuknya terlihat terlalu sederhana dan belum matang. Di sisi lain, saya juga merasa bahwa keberanian untuk membuat dan mengirimkan desain ke lomba adalah pengalaman yang berharga.

Dahulu, saya mungkin hanya berpikir bagaimana membuat bentuk yang unik. Sekarang, saya lebih memahami bahwa desain produk membutuhkan banyak pertimbangan, antara lain:

  • fungsi;
  • kenyamanan pengguna;
  • keselamatan;
  • kekuatan material;
  • biaya produksi;
  • kemudahan perawatan;
  • estetika;
  • dan kelayakan teknis.

Sebuah desain yang menarik secara visual belum tentu mudah diproduksi. Sebaliknya, desain yang sederhana bisa saja lebih berhasil karena lebih realistis, lebih murah, dan lebih mudah digunakan.

Mengapa Desain Saya Tidak Masuk Nominasi?

Setelah melihat daftar desain yang masuk nominasi lomba, saya akhirnya sadar bahwa desain saya masih belum cukup kuat. Barangkali idenya belum matang, gambarnya terlalu kaku, atau konsepnya belum dijelaskan dengan baik.

Bisa juga karena desain lain lebih realistis, lebih rapi, dan lebih sesuai dengan kriteria penilaian panitia.

Saat itu mungkin ada sedikit rasa kecewa. Namun, sekarang saya melihatnya sebagai bagian dari proses belajar. Tidak semua karya harus menang untuk menjadi berharga.

Dari kegagalan tersebut, saya belajar bahwa mengikuti lomba bukan hanya soal menang atau kalah. Lomba juga menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan, melihat standar karya orang lain, dan memahami bahwa ide bagus perlu didukung penyajian yang baik.


Pelajaran dari Lomba Desain Sepeda

Ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman ini.

1. Ide unik perlu dijelaskan dengan jelas

Desain yang berbeda belum tentu langsung dipahami orang lain. Karena itu, konsep harus dijelaskan dengan baik melalui gambar, keterangan fungsi, dan alasan mengapa desain tersebut diperlukan.

2. Imajinasi perlu bertemu dengan realitas teknis

Kreativitas sangat penting, tetapi desain produk juga membutuhkan perhitungan. Bentuk yang menarik harus tetap mempertimbangkan kenyamanan, keselamatan, dan kemungkinan produksi.

3. Kegagalan bukan akhir dari proses kreatif

Tidak masuk nominasi bukan berarti karya tersebut tidak berguna. Setiap karya dapat menjadi latihan dan bahan evaluasi untuk karya berikutnya.

4. Dokumentasi karya itu penting

File lama yang tersimpan ternyata bisa menjadi bahan refleksi. Dari sana, kita dapat melihat perkembangan cara berpikir dari waktu ke waktu.

5. Desain adalah proses belajar

Semakin banyak mencoba, semakin banyak pula hal yang dapat dipahami. Desainer yang baik tidak langsung lahir dari satu karya, tetapi dari banyak percobaan, kesalahan, dan perbaikan.

Apakah Konsep Ini Masih Bisa Dikembangkan?

Jika suatu saat desain-desain ini ingin dikembangkan kembali, saya mungkin akan memperbaikinya dengan pendekatan yang lebih matang.

Untuk Otocycle, saya akan memperjelas mekanisme perpindahan fungsi antara scooter dan sepeda. Posisi pedal, pijakan kaki, dan sistem kemudi perlu dibuat lebih realistis.

Untuk Sepeda Portable, saya akan fokus pada bobot, mekanisme lipat, titik pegangan, dan keamanan pengunci rangka.

Untuk Spiderbike, saya akan menempatkannya sebagai konsep kendaraan eksperimental atau proyek robotika, bukan sebagai sepeda harian. Desainnya perlu didukung simulasi gerak dan sistem pengendalian yang lebih serius.

Dengan perkembangan teknologi saat ini, seperti desain 3D, simulasi mekanik, pencetakan 3D, motor listrik, dan sensor, beberapa gagasan lama mungkin bisa divisualisasikan ulang dengan lebih baik.

Penutup

Menemukan kembali gambar lomba desain sepeda dari masa kuliah membuat saya sadar bahwa ide lama tetap memiliki nilai. Walaupun tidak menang lomba, desain-desain itu menjadi bagian dari perjalanan belajar dan proses kreatif.

Otocycle, Sepeda Portable, dan Spiderbike mungkin belum menjadi desain yang sempurna. Namun, ketiganya menyimpan semangat yang sama: mencoba membayangkan kendaraan personal dari sudut pandang yang berbeda.

Tidak semua ide harus langsung berhasil. Kadang, ide hanya perlu disimpan, dilihat kembali, lalu dipahami sebagai bagian dari proses menuju karya yang lebih baik.

Barangkali waktu itu memang belum rezeki untuk menang. Namun, pengalaman mencoba tetap menjadi rezeki dalam bentuk lain: pelajaran, kenangan, dan bahan cerita yang masih bisa dibagikan hari ini.


Kamis, 17 Maret 2011

Kapan Menikah? Belajar Berempati sebelum Bertanya




Ada sebuah anekdot menarik yang pernah disampaikan oleh salah seorang rekan kerja saya. Ceritanya sederhana, tetapi menyimpan pesan sosial yang cukup dalam.

Suatu hari, seorang pemuda lajang menghadiri pesta pernikahan. Di acara tersebut, ia bertemu dengan seorang bapak yang dituakan di lingkungannya. Karena mengetahui bahwa pemuda itu belum menikah, sang bapak kemudian bertanya sambil bercanda, “Kapan nyusul?”

Mendengar pertanyaan itu, si pemuda hanya tersenyum malu. Ia tidak menjawab dan memilih menjauh dari percakapan.

Bagi sebagian orang, pertanyaan seperti itu mungkin dianggap biasa. Namun, bagi orang yang sedang mengalaminya, pertanyaan “kapan menikah?” dapat terasa berat. Apalagi jika pertanyaan itu diulang berkali-kali oleh banyak orang.

Dalam cerita tersebut, si pemuda sebenarnya bukan tidak ingin menikah. Ia juga bukan tidak berusaha. Hanya saja, belum ada calon yang cocok dan belum ada jalan yang Allah bukakan untuknya.

Pada kesempatan lain, si pemuda kembali bertemu dengan bapak yang sama. Namun, kali ini mereka bertemu di acara pemakaman warga kampung. Melihat sang bapak, si pemuda kemudian menyapa dengan kalimat yang sama, “Kapan nyusul, Pak?”

Anekdot itu terdengar lucu, tetapi juga menyentil. Kalimat yang sama bisa terasa sangat berbeda ketika diucapkan dalam konteks yang berbeda.

Pertanyaan Sederhana yang Bisa Melukai

Pertanyaan “kapan menikah?” sering muncul dalam acara keluarga, reuni, pernikahan, atau pertemuan sosial. Sebagian orang mengucapkannya sebagai basa-basi. Sebagian lainnya mungkin bermaksud memberi perhatian.

Namun, tidak semua orang yang ditanya merasa nyaman.

Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut dapat mengingatkan pada kegagalan, penolakan, tekanan keluarga, masalah ekonomi, trauma, atau keadaan pribadi yang tidak mudah dijelaskan kepada orang lain.

Ada yang belum menikah karena masih membantu keluarga. Ada yang sedang memperbaiki kondisi keuangan. Ada yang belum mendapatkan pasangan yang tepat. Ada yang pernah gagal dalam hubungan. Ada pula yang sedang menjaga diri dari pilihan yang tidak baik.

Kita tidak selalu tahu cerita lengkap di balik kehidupan seseorang.

Karena itu, sebelum bertanya, kita perlu berpikir: apakah pertanyaan ini benar-benar membantu, atau hanya sekadar memuaskan rasa ingin tahu?

Menikah Adalah Kebaikan, tetapi Tidak Semua Orang Berada pada Kondisi yang Sama

Dalam Islam, menikah adalah ibadah dan salah satu jalan untuk menjaga kehormatan. Pernikahan juga menjadi sarana membangun keluarga, menumbuhkan kasih sayang, dan melanjutkan keturunan.

Namun, kebaikan tetap perlu dilakukan pada waktu, kesiapan, dan kondisi yang tepat. Tidak semua orang berada dalam keadaan yang sama.

Seseorang mungkin belum menikah karena:

  • belum memiliki kesiapan finansial;
  • masih memiliki tanggung jawab keluarga;
  • belum menemukan calon yang cocok;
  • belum mendapat restu keluarga;
  • sedang menyelesaikan pendidikan;
  • sedang memperbaiki diri;
  • pernah mengalami pengalaman emosional yang berat;
  • memiliki pertimbangan kesehatan;
  • atau sedang berusaha, tetapi belum Allah takdirkan.

Jika kita tidak mengetahui keadaan seseorang secara utuh, komentar yang tampak ringan dapat berubah menjadi tekanan.

Mendorong seseorang kepada kebaikan boleh dilakukan. Namun, dorongan tersebut sebaiknya disampaikan dengan empati, bukan sindiran.

Bahaya Penilaian Sosial yang Dangkal

Salah satu masalah dalam masyarakat adalah kebiasaan menilai orang lain dari informasi yang sangat sedikit. Melihat seseorang belum menikah, kita langsung menyimpulkan ia terlalu pemilih. Melihat seseorang belum punya anak, kita langsung bertanya tanpa memikirkan perasaannya. Melihat seseorang belum bekerja, kita langsung menganggapnya malas.

Padahal, informasi yang kita miliki sering kali tidak lengkap.

Inilah yang dapat disebut sebagai penilaian sosial yang dangkal. Kita menilai kehidupan seseorang hanya dari permukaan, lalu merasa berhak memberi komentar.

Al-Qur’an mengajarkan pentingnya memeriksa informasi sebelum mengambil sikap. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan orang beriman agar meneliti berita yang datang, supaya tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu akhirnya menyesal.

Ayat ini bukan hanya relevan untuk berita besar, tetapi juga untuk sikap sehari-hari. Kita perlu berhati-hati dalam menerima informasi, menyebarkan cerita, dan mengomentari kehidupan orang lain.

Tabayyun dalam Kehidupan Sehari-hari

Tabayyun berarti memeriksa, meneliti, dan mencari kejelasan. Dalam konteks sosial, tabayyun mengajarkan kita agar tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya dari potongan informasi.

Jika seseorang belum menikah, kita tidak harus langsung bertanya dengan nada menekan. Jika benar-benar peduli, kita dapat membangun kedekatan terlebih dahulu. Dengarkan ceritanya jika ia ingin bercerita. Berikan bantuan jika ia membutuhkan. Doakan tanpa mempermalukan.

Tabayyun juga berarti memahami bahwa setiap orang memiliki ujian berbeda.

Ada orang yang diuji dengan kesendirian. Ada yang diuji dengan rumah tangga. Ada yang diuji dengan ekonomi. Ada yang diuji dengan keluarga. Ada yang diuji dengan kesehatan. Karena ujiannya berbeda, cara menasihatinya pun tidak boleh disamaratakan.

Dari Komentar Menjadi Solusi

Masyarakat yang baik bukan hanya pandai berkomentar, tetapi juga mampu memberi solusi. Sayangnya, kita sering lebih mudah bertanya dan menghakimi daripada membantu.

Ketika bertemu seseorang yang belum menikah, pertanyaan “kapan menikah?” mungkin tidak banyak membantu. Kalimat yang lebih baik bisa berupa:

  • “Semoga Allah mudahkan jodoh yang baik untukmu.”
  • “Kalau suatu saat butuh dikenalkan dengan orang baik, kabari saja.”
  • “Semoga Allah beri jalan terbaik pada waktu yang tepat.”
  • “Saya doakan semoga dimudahkan urusannya.”
  • “Tidak apa-apa, setiap orang punya waktunya masing-masing.”

Kalimat seperti itu lebih menenangkan karena tidak memojokkan. Ia tetap mengandung doa dan perhatian, tetapi tidak memaksa orang untuk menjelaskan kehidupan pribadinya.

Jika memang ingin membantu, lakukan dengan cara yang nyata. Misalnya mengenalkan kepada calon yang baik, memberi nasihat secara pribadi jika diminta, atau membantu mengurangi hambatan yang sedang dihadapi.

Society Wisdom: Kebijaksanaan Sosial yang Mulai Hilang

Dalam artikel lama, saya pernah menyebut istilah society wisdom atau kebijaksanaan sosial. Maksudnya adalah kemampuan masyarakat untuk bersikap bijak terhadap keadaan orang lain.

Kebijaksanaan sosial berarti kita tidak hanya bertanya, tetapi juga mempertimbangkan dampak pertanyaan. Tidak hanya menilai, tetapi juga memahami. Tidak hanya menuntut orang lain memenuhi standar sosial, tetapi juga menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.

Masyarakat yang memiliki kebijaksanaan sosial akan lebih banyak memberi dukungan daripada tekanan. Lebih banyak mendengar daripada menghakimi. Lebih banyak mendoakan daripada mempermalukan.

Kebijaksanaan seperti ini sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab banyak orang sebenarnya sedang berjuang diam-diam.

Tidak Semua Basa-Basi Itu Baik

Dalam budaya kita, basa-basi adalah hal yang umum. Bertanya kabar, pekerjaan, keluarga, dan rencana hidup sering dianggap bagian dari keramahan.

Namun, tidak semua basa-basi baik untuk diucapkan.

Beberapa pertanyaan dapat terasa sensitif, misalnya:

  • “Kapan menikah?”
  • “Kapan punya anak?”
  • “Kenapa belum kerja?”
  • “Kok belum punya rumah?”
  • “Gajinya berapa?”
  • “Kapan tambah anak?”
  • “Kenapa cerai?”
  • “Kok badannya berubah?”

Pertanyaan seperti ini menyentuh wilayah pribadi. Jika tidak disampaikan dengan kedekatan dan empati, ia dapat melukai.

Kita boleh peduli, tetapi kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk pertanyaan langsung.

Belajar Menahan Lisan

Salah satu bentuk kedewasaan adalah kemampuan menahan lisan. Tidak semua yang ingin kita tanyakan harus ditanyakan. Tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan.

Dalam Islam, menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak. Ucapan yang tampak kecil dapat meninggalkan bekas yang besar bagi orang lain.

Sebelum bertanya atau berkomentar, kita bisa mempertimbangkan tiga hal:

  1. Apakah ucapan ini benar?
  2. Apakah ucapan ini bermanfaat?
  3. Apakah ucapan ini disampaikan dengan cara yang baik?

Jika jawabannya tidak jelas, diam sering kali lebih selamat.

Diam bukan berarti tidak peduli. Kadang, diam adalah bentuk penghormatan terhadap ruang pribadi orang lain.

Jika Kita yang Ditanya “Kapan Menikah?”

Bagaimana jika kita berada di posisi orang yang sering ditanya “kapan menikah?” Tidak semua pertanyaan perlu dijawab dengan kesal. Namun, kita juga berhak menjaga batas.

Beberapa jawaban yang bisa digunakan dengan sopan antara lain:

  • “Mohon doanya, semoga Allah mudahkan.”
  • “Sedang berproses. Doakan yang terbaik ya.”
  • “Belum waktunya, semoga nanti dipertemukan dengan yang baik.”
  • “Saya sedang mempersiapkan diri dulu.”
  • “Kalau ada calon yang baik, boleh dikenalkan.”

Jawaban seperti ini cukup singkat, sopan, dan tidak membuka terlalu banyak urusan pribadi.

Jika pertanyaan disampaikan berulang-ulang dan mulai mengganggu, kita boleh memberi batas dengan tetap santun. Misalnya, “Saya tahu maksudnya baik, tetapi pertanyaan itu agak sensitif bagi saya. Mohon doanya saja ya.”

Menikah Bukan Perlombaan

Setiap orang memiliki waktu hidup yang berbeda. Ada yang menikah muda, ada yang menikah setelah mapan, ada yang menikah setelah perjalanan panjang, dan ada yang belum menikah karena berbagai alasan.

Menikah bukan perlombaan sosial. Pernikahan juga bukan sekadar status untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Pernikahan adalah amanah besar yang membutuhkan kesiapan.

Daripada menekan seseorang untuk segera menikah, lebih baik membantu seseorang mempersiapkan diri untuk menikah dengan baik. Kesiapan itu mencakup ilmu agama, tanggung jawab, kesehatan mental, kemampuan komunikasi, kesiapan finansial, serta kematangan dalam mengambil keputusan.

Yang lebih penting bukan hanya cepat menikah, tetapi menikah dengan cara yang baik, niat yang benar, dan tanggung jawab yang jelas.

Penutup

Pertanyaan “kapan menikah?” mungkin terdengar sederhana, tetapi tidak selalu ringan bagi orang yang menerimanya. Di balik status lajang seseorang, bisa saja ada perjuangan, tanggung jawab, atau keadaan yang tidak kita ketahui.

Karena itu, kita perlu belajar berempati sebelum bertanya. Jangan mudah menilai kehidupan orang lain hanya dari permukaan. Periksa informasi, pahami kondisi, dan gunakan lisan untuk memberi dukungan, bukan tekanan.

Jika benar-benar peduli, gantilah sindiran dengan doa. Gantilah komentar dengan bantuan. Gantilah rasa ingin tahu dengan kebijaksanaan.

Menikah adalah kebaikan, tetapi menasihati orang lain juga harus dilakukan dengan kebaikan. Sebab ucapan yang baik dapat menjadi penguat, sedangkan ucapan yang sembarangan dapat menjadi luka.

Semoga Allah menjaga lisan kita, melembutkan hati kita, dan memudahkan setiap orang menuju kebaikan pada waktu terbaik menurut-Nya.

Wallahu a‘lam.

LOMBA POSTER K3

Terdapat lomba design poster tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan kerja) tahun 2011 di kantor. Mengetahui hal ini, langsung ada niatan dalam diri saya untuk mengikuti lomba ini. Selanjutnya saya mencoba mencari inspirasi untuk membuat poster yang sesuai dengan tema K3. Setelah dipikir-pikir dan diimajinasikan, oh saya ada ide!

Saya cari gambar spiderman, lalu dapatlah gambar berikut.

Selanjutnya saya mengumpulkan sejumlah model sebisa yang saya dapatkan di kantor. Saya meminta tolong rekan kerja untuk berpose selayaknya spiderman seperti gambar di atas, tetapi dengan memakai body harness. Akan tetapi tentu saja tidak dalam posisi bergelantungan seperti dalam gambar spiderman di atas. Saya tidak sekejam itu friend.

Lalu saya minta dia lagi untuk berpose dengan mengenakan helm safety yang memiliki tali pengaman atau tali pengikat.

Model yang lain saya minta untuk mengenakan helm safety yang berwarna putih.

Model-model tersebut saya rahasiakan identitasnya karena menyangkut privasi. He...he..he...(Sebenarnya takut kena marah karena pasang tampang orang tanpa bayar).

Selanjutnya saya ambil sejumlah item dari foto-foto para model, yaitu body harness, tali helm safety, dan helm safety warna putih. Dan dengan sedikit sentuhan modifikasi grafis....

Jadilah poster K3 yang saya maksud seperti dalam imajinasi saya yaitu sebagai berikut.

Poster ini cukup kompeten dalam Lomba K3 tahun 2011 kali ini, dimana masuk dalam nominasi juara. Hadiahnya juga lumayan buat beli gorengan untuk dimakan bersama rekan-rekan sekantor.