Alhamdulillah, setelah melalui proses panjang, dua novel fiksi ilmiah yang saya tulis akhirnya resmi terbit. Dua novel tersebut adalah:
- Syanara: Kesadaran Buatan 4.0
- Energion: Kebangkitan Manusia Energi.
Keduanya lahir dari perjalanan yang tidak sebentar. Ada proses menulis, berhenti, merevisi, menyimpan naskah, mencoba mengirim ke penerbit, mengalami penolakan, lalu kembali memberanikan diri untuk menerbitkannya melalui jalur self publishing.
Bagi saya pribadi, penerbitan dua novel ini bukan hanya tentang hadirnya buku fisik. Lebih dari itu, ini adalah bentuk penyelesaian atas gagasan yang sudah lama tersimpan. Ada cerita yang akhirnya selesai. Ada dunia fiksi yang akhirnya menemukan bentuknya. Ada karakter-karakter yang akhirnya keluar dari folder naskah dan hadir sebagai buku yang bisa dibaca.
Simak perjalanan saya menyelesaikan kedua novel tersebut dan juga beberapa rencana pengembangan dan penyelesaian novel-novel baru lainnya di bagian akhir artikel.
Perjalanan Panjang Menjadi Buku
Menulis novel bukan proses yang selalu mudah. Kadang ide mengalir deras, tetapi kadang berhenti total. Kadang semangat sangat tinggi, tetapi kadang naskah hanya tersimpan lama tanpa disentuh. Kadang juga ada perubahan nama karakter, nama istilah, dan nama-nama yang lain sehingga perlu mengubah banyak bagian pada naskah.
Saya mengalami dua proses berbeda pada dua novel ini.
Syanara: Kesadaran Buatan 4.0 sebenarnya sudah selesai dalam bentuk draft sejak tahun 2018. Bahkan saat itu sempat dicetak dalam bentuk buku dummy. Naskahnya juga sempat diajukan ke sejumlah penerbit. Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Beberapa kali pengajuan berakhir dengan penolakan.
Setelah itu, draft novel dan buku dummy Syanara akhirnya hanya tersimpan begitu saja. Bertahun-tahun naskah itu berada dalam kondisi “selesai tetapi belum benar-benar lahir”.
Sementara itu, Energion: Kebangkitan Manusia Energi mulai saya inisiasi sejak tahun 2019. Berbeda dengan Syanara, proses penulisan Energion sempat macet ketika mendekati bagian akhir. Kesibukan, perubahan fokus, dan kebuntuan ide membuat naskahnya mangkrak cukup lama.
Namun, pada tahun 2026, saya akhirnya memutuskan untuk kembali menyelesaikan keduanya. Syanara yang sudah lama selesai akhirnya diterbitkan. Energion yang sempat tertahan kebuntuan finishing akhir cerita akhirnya dilanjutkan sampai selesai.
Melalui jalur self publishing bersama CV Detak Pustaka, kedua novel ini akhirnya berhasil diterbitkan dan mendapatkan ISBN.
Syanara: Kesadaran Buatan 4.0
Novel pertama yang terbit adalah Syanara: Kesadaran Buatan 4.0.
Novel ini mengangkat tema fiksi ilmiah dengan latar perkembangan teknologi robot, kecerdasan buatan, super computer, artificial consciousness, popularitas publik, konflik rahasia, dan ancaman keamanan kota. Jika manusia bisa mengembangkan artificial intelligence, apakah manusia bisa juga mengembangkan artificial consciousness (kesadaran buatan) sehingga robot-robot memiliki pengalaman subjektif dan mendorong pembentukan karakter yang unik.
Awalnya, nama karakter utama sekaligus nama judul Novel adalah "Nara; Kesadaran Buatan 4.0". Judul ini telah final dan telah sempat dicetak sebagai buku dummy. Pada tahap awal, saat novel ini diajukan ke sejumlah penerbit, masih menggunakan judul dan cover ini. Saya kemudian menyadari nama Nara dalam kosa kata Jepang adalah nama netral, bisa digunakan cewek atau cowok. Sementara karakter utama pada novel ini digambarkan sebagai cewek feminim, centil dan menggemaskan, sehingga saya perlu menambahkan "Sya" pada "Nara" menjadi "Syanara".
Setelah saya merubah nama karakter utama menjadi "Syanara" saya juga sempat meminta jasa desain cover buku melakukan editing cover buku, sehingga desain cover buku saya menjadi seperti gambar di bawah ini. Namun ketika diajukan ke penerbit self publishing, cover buku diubah lagi menjadi versi terbaru seperti gambar di paling atas.
Cover buku novel Syanara yang mana yang kalian suka?
Di dalam cerita, Syanara digambarkan sebagai robot humanoid berteknologi kecerdasan buatan yang menjadi idola masyarakat. Di tengah sorotan publik, panggung hiburan, dan popularitasnya, Syanara ternyata menyimpan sisi lain yang belum diketahui banyak orang.
Konflik mulai berkembang ketika Prof. Alif dan Yumiora berhasil mengambil alih Syanara dan menanamkan program kesadaran buatan atau artificial consciousness. Dari sinilah potensi kekuatan, karakter, dan sisi lain Syanara mulai terbuka.
Pada saat yang sama, Kota Jakarta dilanda ancaman teror dari robot tak dikenal. Syanara dan Yumiora akhirnya bekerja sama menghadapi ancaman besar yang dapat menghancurkan kota. Di tengah kekacauan itu, muncul Aisha, wanita bercadar dengan kekuatan besar yang misterius.
Cerita semakin rumit ketika dunia terorisme, keterlibatan ilmuwan, rahasia teknologi, dan pengkhianatan mulai terhubung satu sama lain. Keamanan Kota Jakarta pun berada dalam kondisi terancam.
Syanara bukan hanya cerita tentang robot. Novel ini juga mencoba mengangkat pertanyaan tentang kesadaran buatan, teknologi, identitas, popularitas, kendali, dan sisi gelap kemajuan manusia.
Sinopsis Singkat Syanara
Di zaman ketika peran manusia semakin banyak digantikan oleh teknologi robot dan kecerdasan buatan, lahirlah Syanara, robot humanoid berbasis artificial intelligence dan perpaduan super computer-komputer kuantum yang menjadi idola masyarakat.
Namun, di balik popularitasnya, Syanara menyimpan rahasia besar. Ketika Prof. Alif dan Yumiora menanamkan program kesadaran buatan ke dalam dirinya, Syanara mulai menunjukkan potensi yang jauh lebih besar dari sekadar robot hiburan.
Di saat yang sama, Jakarta menghadapi serangan robot misterius. Syanara dan Yumiora harus menghadapi ancaman besar, sementara rahasia tentang jaringan teror, ilmuwan, dan kekuatan tersembunyi perlahan terungkap.
Informasi Pemesanan Syanara
Novel Syanara: Kesadaran Buatan 4.0 sudah dapat dipesan secara online melalui halaman Detak Pustaka berikut:
https://detakpustakatoko.com/product/buku-syanara-kesadaran-buatan-4-0/
Versi digital novel ini direncanakan menyusul melalui Google Play Books dan Gramedia Digital.
Energion: Kebangkitan Manusia Energi
Novel kedua adalah Energion: Kebangkitan Manusia Energi.
Berbeda dengan Syanara yang banyak bermain pada tema robot dan kecerdasan buatan, Energion mengangkat fiksi ilmiah bertema energi, eksperimen luar angkasa, transformasi manusia, tragedi, kekuatan kosmik, kehendak bebas, dan konflik moral. Ketika seseorang menjadi mahluk adidaya, apa yang akan dilakukannya pada dunia dan bagaimana reaksi masyarakat dunia terhadapnya.
Pada tahap awal proses pengembangan cerita dan drafting novel, karakter utama masih saya beri nama "Arka". Bahkan saya sempat meminta bantuan teman untuk mendesain cover buku Novel. Namun akhirnya saya mengubah nama karakter menjadi "Gion", "Gionaldi, "Gionaldi Soedibjo" agar sesuai dengan penamaan "EnerGION".
Setelah saya merubah nama karakter utama menjadi "Gion" saya menggunakan jasa desain cover buku, sehingga desain cover buku novel awal saya menjadi seperti gambar di bawah ini. Namun ketika diajukan ke penerbit self publishing, cover buku diubah lagi menjadi versi terbaru seperti gambar di paling atas.
Cover buku novel Energion yang mana yang kalian suka?
Cerita dimulai dari Profesor Gionaldi Soedibjo, seorang ilmuwan yang hampir menyentuh takdirnya sebagai penyelamat manusia. Dalam misi antariksa Corona II yang mengorbit Merkurius, ia dan tim ilmuwan internasional berhasil menciptakan “Matahari Buatan”, kandidat sumber energi masa depan yang melimpah dan gratis.
Eksperimen partikel Seedrium yang revolusioner seharusnya menjadi terobosan besar bagi umat manusia. Namun, euforia itu berubah menjadi tragedi ketika Kapten Dezta, pelindung misi, menarik pelatuk pistolnya.
Satu per satu ilmuwan tewas dalam gravitasi rendah. Di tengah genangan darah yang melayang, sebuah ledakan energi murni terjadi. Gionaldi tidak mati. Ia berubah menjadi Energion, makhluk cahaya dengan kesadaran tanpa batas.
Setelah kembali ke Bumi, Energion bukan lagi manusia yang dulu dikenal. Di dunia yang penuh industri senjata dan ambisi kekuasaan, kehadirannya dianggap sebagai ancaman global sekaligus senjata suci yang diperebutkan.
Saat Energion mencoba “menyembuhkan” dunia dengan menghancurkan pabrik-pabrik senjata, muncul Deathstar, entitas kegelapan yang lahir dari dosa masa lalu yang sama. Konflik mereka membawa pertarungan dari jalanan Jakarta hingga orbit Bumi.
Energion harus memilih: menjadi pelindung yang penuh belas kasih, atau menjadi algojo bagi peradaban yang telah mengkhianatinya.
Sinopsis Singkat Energion
Profesor Gionaldi Soedibjo memimpin eksperimen energi masa depan di misi antariksa Corona II. Eksperimen itu seharusnya menjadi harapan baru bagi umat manusia. Namun, tragedi mengubah segalanya.
Dalam ledakan energi murni, Gionaldi berubah menjadi Energion, manusia energi dengan kekuatan luar biasa. Ketika kembali ke Bumi, ia berhadapan dengan dunia yang penuh kepentingan, senjata, ambisi, dan ketakutan.
Di tengah upayanya menghentikan kehancuran manusia, muncul Deathstar, entitas kegelapan yang menjadi lawan sekaligus cermin dari masa lalunya. Pertarungan mereka bukan hanya pertarungan kekuatan, tetapi juga pertarungan makna: apakah manusia layak diselamatkan, atau justru harus dihukum karena pilihan-pilihannya sendiri?
Informasi Pemesanan Energion
Novel Energion: Kebangkitan Manusia Energi sudah dapat dipesan secara online melalui halaman Detak Pustaka berikut:
https://detakpustakatoko.com/product/buku-energion-kebangkitan-manusia-energi/
Versi digital novel ini direncanakan menyusul melalui Google Play Books dan Gramedia Digital.
Mengapa Memilih Self Publishing?
Awalnya, saya sempat berharap novel-novel ini bisa diterbitkan melalui penerbit mayor atau penerbit konvensional. Namun, setelah mengalami proses pengajuan dan penolakan, saya mulai memahami bahwa setiap naskah memiliki jalannya masing-masing.
Self publishing akhirnya menjadi pilihan yang realistis. Melalui jalur ini, penulis memiliki kesempatan untuk tetap menerbitkan karya, meskipun tidak melalui mekanisme seleksi penerbit besar.
Tentu, self publishing juga memiliki tantangan tersendiri. Penulis perlu lebih aktif mengurus naskah, penyuntingan, desain, promosi, distribusi, dan komunikasi dengan pembaca. Namun, di sisi lain, self publishing memberi ruang bagi penulis untuk tetap menjaga visi kreatifnya.
Bagi saya, yang terpenting adalah karya ini akhirnya bisa hadir sebagai buku resmi, memiliki ISBN, dan dapat diakses pembaca.
Dua Novel dengan Dua Dunia Berbeda
Syanara dan Energion sama-sama berada dalam genre fiksi ilmiah, tetapi keduanya memiliki nuansa yang berbeda.
Syanara lebih dekat dengan tema kecerdasan buatan, robot humanoid, artificial consciousness, dunia digital, ancaman teror teknologi, dan konflik manusia dengan mesin.
Energion lebih banyak bermain pada tema energi masa depan, eksperimen kosmik, manusia energi, kehancuran moral peradaban, pertarungan cahaya dan kegelapan, serta pertanyaan tentang apakah manusia mampu bertanggung jawab atas kehendak bebasnya sendiri.
Keduanya lahir dari ketertarikan saya pada dunia teknologi, energi, risiko, moralitas, dan masa depan manusia. Saya ingin menghadirkan cerita fiksi ilmiah yang tetap memiliki warna lokal, terutama dengan latar Indonesia dan Jakarta.
Fiksi Ilmiah dengan Latar Indonesia
Salah satu hal yang ingin saya dorong melalui dua novel ini adalah menghadirkan fiksi ilmiah yang tidak selalu harus berlatar negara asing. Indonesia, khususnya Jakarta, juga bisa menjadi panggung cerita fiksi ilmiah.
Kita bisa membayangkan robot humanoid, kecerdasan buatan, eksperimen energi, konflik kosmik, kota futuristik, dan pertarungan besar terjadi di ruang yang dekat dengan kehidupan kita sendiri.
Dengan latar Indonesia, cerita fiksi ilmiah terasa lebih dekat, lebih membumi, dan memiliki identitas sendiri. Semoga ke depan semakin banyak karya fiksi ilmiah lokal yang berani mengeksplorasi ide-ide besar dengan rasa Indonesia.
Terima Kasih untuk Pembaca
Penerbitan dua novel ini menjadi salah satu pencapaian pribadi yang sangat saya syukuri. Tidak semua proses berjalan mulus. Ada masa ketika naskah selesai tetapi tidak terbit. Ada masa ketika ide berhenti. Ada masa ketika rasa ragu muncul.
Namun, pada akhirnya, karya yang lama tersimpan ini berhasil menemukan jalannya.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, membaca, memberi masukan, mendoakan, dan membantu proses penerbitan dua novel ini. Semoga Syanara dan Energion dapat menemukan pembacanya masing-masing.
Bagi pembaca yang menyukai cerita fiksi ilmiah, robot, kecerdasan buatan, energi masa depan, superhero lokal, konflik moral, dan latar Indonesia, semoga dua novel ini bisa menjadi bacaan yang menarik.
Penutup
Syanara: Kesadaran Buatan 4.0 dan Energion: Kebangkitan Manusia Energi adalah dua novel yang lahir dari perjalanan panjang. Satu naskah selesai sejak 2018 dan akhirnya terbit pada 2026. Satu naskah dimulai pada 2019, sempat terhenti, lalu akhirnya berhasil diselesaikan dan diterbitkan.
Keduanya menjadi pengingat bahwa karya yang tertunda bukan berarti gagal. Kadang, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk dilahirkan.
Semoga dua novel ini dapat memberi hiburan, inspirasi, dan pengalaman membaca yang berbeda bagi para pembaca.
Selamat membaca.
Link Pemesanan
Versi digital kedua novel direncanakan menyusul melalui Google Play Books dan Gramedia Digital.
Novel-Novel Lain Dalam Proses Pengembangan & Pengerjaan:
- Yumiora. Kisah Yumiora yang mengalami kecelakaan sehingga harus menggunakan tubuh dengan teknologi prostesis robotik. Namun material logam yang disebut biometal yang digunakan sebagai bahan prostesis ternyata memberi efek tersembunyi dan dampak psikologis mendalam bagi Yumiora. Selain itu ia harus mengalami perundungan dan diskriminasi di sekolah luar negeri akibat statusnya yang dianggap penyandang disabilitas dan juga bukan warga lokal.
- Aisha. Peperangan berkepanjangan di Timur Tengah membuat Aisha kecil hampir kehilangan nyawa. Tubuh yang telah hancur akibat bom membuat Ayahnya yang seorang Profesor terpaksa menggunakan teknologi baru robotika dengan mentransplantasikan otak dan sistem saraf ke dalam wadah tubuh robot humanoid. Teknologi ini memiliki masalah sinkronisasi sehingga memberikan dampak psikologis dan traumatik bagi organ Aisha untuk terus bertahan hidup dalam wadah robotik-mekanik-sibernetik. Kelompok teroris melihat peluang untuk memanfaatkan Aisha sebagai senjata pamungkas.
- Petrux. Kemunculan seorang manusia bertopeng Petruk dan berpakaian ala arab serba hitam menggemparkan masyarakat. Aksinya yang kontroversial menimbulkan pro dan kontra. Ia membongkar berbagai tindak kejahatan terselubung yang melibatkan petinggi-petinggi negara. Pada akhirnya Petrux harus menghadapi berbagai manipulasi media yang disokong petinggi-petinggi negeri dan juga lawan-lawan yang kuat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
- Roro. Bangsa manusia penghuni laut dalam mulai gelisah dengan berbagai pencemaran laut dan sampah yang dibuat manusia permukaan. Roro sebagai penguasa laut selatan akhirnya turun tangan dan harus muncul ke dunia manusia permukaan. Ia memiliki misi untuk menghancurkan korporasi-korporasi, pabrik-pabrik dna kelompok masyarakat yang mencemari lingkungan serta menghukum petingi-petinggi yang bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan di dunianya.
- Energanisme. Kelanjutan dari novel Energanisme. Ketika sekelompok mahluk/entitas adidaya turun ke bumi dan mencoba memperbaiki semua permasalahan umat manusia dalam waktu singkat. Ternyata niat dan upaya membentuk tatanan dunia baru utopia ini menghadapi tantangan berat dari umat manusia itu sendiri.
- Nanosuit. Kisah seorang peneliti muda yang mengalami diskriminasi sosial akibat kebencian masyarakat yang tidak bisa dijelaskan. Ketika ia hampir menerima tawaran bekerja sebagai peneliti di luar negeri, Ia mencoba mengotak-atik kembali penelitian nanobot yang sempat ia tekuni karena menemukan inspirasi dari peristiwa Energion sebagai sumber energi bagi nanobot. Ia belum menyadari efek dari integrasi nanobot dengan otak manusia membuatnya memiliki berbagai jenis kepribadian.
- Mardanu: Manusia Harimau. Penelitian brutal di era kolonial Belanda dan dilanjutkan penelitian sadis di era pendudukan jepang menghasilkan manusia yang dapat berubah menjadi harimau raksasa. Mardanu berhasil lolos dan mengembara dari hutan yang satu ke hutan yang lain dan menjadi legenda-legenda siluman harimau. Di era masa kini, di tengah makin menyusutnya luas hutan, Mardanu terus berupaya bertahan hidup. Ia berupaya melakukan teror dengan menghancurkan perusahaan-perusahaan, pabrik-pabrik dan perkebunan yang merusak hutan, sekaligus menyembunyikan jatidirinya.
- Novel Otobiografi Alek Kurniawan.
- Dll

_Syanara_13x19_Opsi%203.jpg%20(1).jpeg)


_Energion_13x19_Opsi%201.jpg.jpeg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.