Sebagian bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dakwah, kemanusiaan, pemuda, ekonomi umat, kajian kitab, penguatan akhlak, atau pembinaan keluarga. Perbedaan semacam ini sebenarnya dapat menjadi kekayaan umat apabila dikelola dengan ilmu dan adab.
Namun, perbedaan juga dapat berubah menjadi masalah apabila melahirkan fanatisme sempit. Ketika seseorang merasa kelompoknya paling benar dalam seluruh perkara, lalu mudah merendahkan kelompok lain, maka persaudaraan umat dapat melemah.
Karena itu, pembahasan mengenai munculnya berbagai golongan dan gerakan Islam perlu dilakukan secara hati-hati. Tujuannya bukan untuk menambah perpecahan, melainkan untuk memahami bagaimana seorang Muslim dapat menjaga prinsip agama tanpa kehilangan adab dalam menghadapi perbedaan.
Perbedaan dalam Umat Islam Bukan Hal Baru
Perbedaan pendapat di tengah umat Islam bukanlah sesuatu yang baru. Sejak masa awal Islam, para ulama telah membahas berbagai persoalan fikih, akidah, hadis, tafsir, dan kehidupan sosial dengan tingkat kedalaman yang berbeda.
Dalam sejarah, lahir mazhab-mazhab fikih, madrasah keilmuan, dan tradisi dakwah yang beragam. Banyak perbedaan tersebut muncul karena perbedaan cara memahami dalil, kondisi masyarakat, tingkat pengetahuan terhadap hadis, bahasa, atau metode istinbat hukum.
Tidak semua perbedaan otomatis berarti penyimpangan. Sebagian perbedaan termasuk wilayah ijtihad yang masih dapat diterima. Namun, ada pula pandangan yang dapat dinilai menyimpang apabila bertentangan dengan prinsip pokok ajaran Islam.
Karena itu, seorang Muslim perlu membedakan antara perbedaan yang masih berada dalam ruang ijtihad dan penyimpangan yang menyentuh prinsip dasar agama.
Bahaya Fanatisme Golongan
Salah satu masalah yang sering muncul dalam kehidupan beragama adalah fanatisme golongan. Fanatisme terjadi ketika seseorang membela kelompoknya secara berlebihan, meskipun kelompok tersebut keliru.
Fanatisme dapat terlihat dari beberapa tanda berikut:
- menganggap hanya kelompoknya yang pasti benar;
- menolak nasihat dari luar kelompok;
- mudah menuduh Muslim lain sesat tanpa ilmu;
- lebih sibuk membela tokoh daripada mencari kebenaran;
- merasa cukup dengan potongan ceramah tanpa memeriksa dalil;
- merendahkan ulama atau penuntut ilmu yang berbeda pandangan;
- menjadikan perbedaan kecil sebagai alasan permusuhan; dan
- mengukur kebenaran dari identitas kelompok, bukan dari Al-Qur’an, sunah, dan pemahaman ulama yang terpercaya.
Fanatisme seperti ini berbahaya karena dapat membuat seseorang kehilangan sikap adil. Ia tidak lagi menilai pendapat berdasarkan dalil dan argumentasi, melainkan berdasarkan siapa yang mengucapkannya.
Padahal, kebenaran tidak boleh diukur hanya dari nama kelompok. Setiap pendapat tetap perlu dinilai dengan ilmu, adab, dan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menjaga Persatuan Tanpa Menghapus Nasihat
Islam sangat menekankan persatuan. Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai.
Namun, persatuan dalam naungan khalifah atau tidak, persatuan dalam menyikapi sikap khalifah yang tidak adil, bukan berarti semua perbedaan harus dihapus. Persatuan juga bukan berarti kesalahan tidak boleh dinasihati. Persatuan yang benar adalah kesediaan untuk tetap bersaudara, saling menasihati, dan kembali kepada petunjuk Allah ketika terjadi perselisihan.
Dalam praktiknya, menjaga persatuan memerlukan beberapa sikap:
- tidak mudah menuduh;
- tidak menyebarkan potongan informasi yang belum jelas;
- memahami konteks perbedaan;
- bertanya kepada orang berilmu;
- menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat;
- mendahulukan akhlak dalam berdiskusi; dan
- tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci sesama Muslim.
Perbedaan yang dibahas dengan ilmu dapat menjadi sarana belajar. Namun, perbedaan yang dibahas dengan emosi dapat menjadi sumber perpecahan.
Sikap terhadap Kelompok yang Dianggap Menyimpang
Dalam masyarakat Muslim, kadang muncul ajaran atau kelompok yang dinilai menyimpang dari prinsip dasar Islam. Persoalan seperti ini tidak sebaiknya diputuskan oleh orang awam hanya berdasarkan perasaan, potongan video, atau kabar dari media sosial.
Penilaian terhadap suatu ajaran memerlukan ilmu yang memadai. Harus diperiksa apa yang diajarkan, bagaimana dalilnya, bagaimana penjelasan para ulama, dan apakah ajaran tersebut benar-benar bertentangan dengan pokok agama.
Karena itu, apabila menemukan ajaran yang meragukan, sikap yang lebih baik adalah:
- tidak langsung menyebarkan tuduhan;
- memeriksa sumber ajaran secara utuh;
- bertanya kepada ulama atau lembaga keagamaan yang terpercaya;
- menghindari penghinaan terhadap pengikutnya;
- tetap menjaga keamanan dan ketertiban;
- tidak melakukan kekerasan; dan
- menyerahkan persoalan hukum kepada pihak yang berwenang.
Mengingatkan penyimpangan boleh dilakukan, tetapi caranya harus tetap mengikuti ilmu, adab, dan aturan yang berlaku. Menasihati tidak boleh berubah menjadi fitnah, persekusi, atau tindakan anarkis.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah
Ketika umat Islam menghadapi banyak perbedaan, pegangan utamanya tetap Al-Qur’an dan sunah Rasulullah. Keduanya menjadi sumber petunjuk dalam beragama.
Namun, kembali kepada Al-Qur’an dan sunah bukan berarti setiap orang bebas menafsirkan sendiri tanpa ilmu. Memahami dalil memerlukan penguasaan bahasa Arab, ilmu tafsir, hadis, usul fikih, sejarah turunnya ayat, serta penjelasan para ulama. Ulama yang mana? Tentunya diutamakan ulamanya ulama yakni Rasulullah, kemudian ulama-ulama generasi Sahabat nabi, kemudian ulama-ulama generasi selanjutnya (tabi'in) dan kemudian generasi selanjutnya lagi (tabi'ut tabi'in). Jika telah terdapat pendapat / fatwa ijma' ulama terdahulu yang terbukti tertulis dalam kitab-kitab yang sahih dan otentik, terhadap suatu permasalahan/isu agama, maka hal ini seharusnya menjadi pendapat/fatwa yang lebih diikuti dibandingkan pendapat/fatwa ulama kekinian.
Karena itu, orang awam tidak seharusnya ketika mendengar suatu fatwa/pendapat ulama kekinian kemudian langsung menerimanya tanpa memeriksa apakah telah ada pendapat dari ulama-ulama terdahulu terhadap suatu permasalahan/isu agama. Juga ketika seseorang merasa cukup dengan membaca terjemahan lalu langsung memutuskan halal, haram, benar, atau sesat. Terjemahan dapat membantu memahami makna umum, tetapi tidak selalu cukup untuk menetapkan hukum.
Al-Qur’an mengajarkan agar manusia bertanya kepada orang yang berilmu apabila tidak mengetahui. Prinsip ini penting agar umat tidak mudah terseret pemahaman yang keliru.
Peran Ulama dalam Menjaga Umat
Ulama memiliki peran penting dalam menjaga pemahaman agama. Mereka mempelajari dalil, menjelaskan hukum, membimbing masyarakat, serta mengingatkan umat dari penyimpangan.
Namun, menghormati ulama bukan berarti menganggap setiap tokoh agama pasti benar dalam seluruh pendapatnya. Ulama tetap manusia yang dapat berbeda pendapat dan dapat keliru. Sikap yang tepat adalah menghormati ilmu mereka, mengambil manfaat dari penjelasan mereka, dan tetap menilai pendapat berdasarkan dalil serta kaidah keilmuan.
Dalam memilih rujukan agama, perhatikan beberapa hal:
- kejelasan latar belakang keilmuannya;
- akhlak dan kehati-hatiannya dalam berfatwa;
- kesesuaian penjelasannya dengan dalil;
- tidak mudah mengafirkan atau menyesatkan;
- tidak mendorong kekerasan;
- tidak menjadikan agama sebagai alat kebencian;
- mampu menjelaskan perbedaan dengan adab; dan
- diakui oleh lingkungan keilmuan yang terpercaya.
Ulama yang baik biasanya tidak membuat umat mudah membenci. Mereka mengajarkan ilmu, adab, kehati-hatian, dan rasa takut kepada Allah.
Hadis tentang Islam yang Kembali Asing
Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Hadis ini sering dikutip ketika membahas keadaan umat di akhir zaman.
“Dari sahabat Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah Sallahu ’Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya agama Islam datang dalam keadaan asing, dan suatu saat akan kembali menjadi asing, maka keberuntungan (surga) akan diperoleh oleh orang-orang yang asing.’” (HR. Muslim)
Menjadi “asing” dalam kebaikan bukan berarti menjadi kasar, mudah menuduh, atau memusuhi masyarakat. Seorang Muslim yang berpegang pada agama tetap harus menunjukkan akhlak yang baik, kasih sayang, kejujuran, dan kebijaksanaan.
Jika seseorang mengaku berpegang pada sunah tetapi lisannya penuh hinaan, mudah menuduh, dan tidak memiliki adab, maka ia perlu memeriksa kembali cara beragamanya.
Pembaruan Agama Bukan Membuat Ajaran Baru
Dalam hadis juga disebutkan bahwa Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada setiap masa orang-orang yang memperbarui urusan agamanya. Pembaruan dalam Islam bukan berarti membuat ajaran baru.
Pembaruan yang dimaksud adalah menghidupkan kembali ajaran yang dilupakan, membersihkan pemahaman yang keliru, memperkuat ilmu, memperbaiki akhlak, dan mengajak umat kembali kepada petunjuk yang benar.
Seorang pembaru agama tidak diukur dari popularitas, jumlah pengikut, atau kemampuan berbicara di depan publik. Yang lebih penting adalah ilmu, ketakwaan, kejujuran, akhlak, dan jasanya dalam memperbaiki umat.
Karena itu, berhati-hatilah terhadap orang yang mengaku sebagai pembaru tetapi justru menimbulkan kebencian, perpecahan, atau pengultusan terhadap dirinya sendiri.
Adab Berbeda Pendapat
Perbedaan pendapat akan selalu ada. Yang perlu dijaga adalah adab dalam menyikapinya.
Beberapa adab penting dalam berbeda pendapat antara lain:
- membedakan masalah pokok dan cabang;
- tidak memotong ucapan orang lain dari konteksnya;
- tidak menuduh niat seseorang tanpa bukti;
- tidak menyebarkan kabar yang belum jelas;
- tidak menghina ulama atau guru orang lain;
- menggunakan bahasa yang sopan;
- memberi ruang untuk klarifikasi;
- mengakui bahwa diri sendiri bisa salah; dan
- mendoakan kebaikan bagi sesama Muslim.
Adab tidak berarti melemahkan prinsip. Justru dengan adab, nasihat akan lebih mudah diterima dan kebenaran lebih mudah terlihat.
Menghindari Sikap Mudah Menyesatkan
Menilai seseorang atau kelompok sebagai sesat adalah perkara berat. Tuduhan seperti itu tidak boleh keluar dari lisan orang yang tidak memiliki ilmu dan kewenangan.
Seseorang dapat mengkritik pendapat tertentu dengan mengatakan bahwa pendapat tersebut keliru, lemah, atau tidak tepat berdasarkan dalil. Namun, menjatuhkan vonis terhadap pribadi atau kelompok memerlukan kehati-hatian yang jauh lebih besar.
Sikap mudah menyesatkan dapat menimbulkan kerusakan, antara lain:
- memutus persaudaraan;
- menyebarkan kebencian;
- membuat orang menjauh dari agama;
- memicu konflik sosial;
- menutup pintu dialog; dan
- menjadikan agama tampak keras tanpa kasih sayang.
Karena itu, kritik perlu diarahkan kepada pemikiran atau perbuatan, bukan kepada penghinaan pribadi.
Gerakan Islam dan Tanggung Jawab Sosial
Setiap organisasi atau gerakan Islam seharusnya tidak hanya sibuk membangun identitas kelompok. Mereka juga perlu memberi manfaat nyata kepada masyarakat.
Dakwah dapat diwujudkan melalui:
- pendidikan;
- bantuan sosial;
- pemberdayaan ekonomi;
- penguatan keluarga;
- pembinaan akhlak;
- pelayanan kesehatan;
- literasi keagamaan;
- perlindungan anak dan perempuan;
- kepedulian lingkungan; dan
- kerja sama dalam kebaikan.
Jika sebuah gerakan hanya membuat anggotanya merasa paling benar, tetapi tidak membangun akhlak dan manfaat sosial, maka gerakan tersebut perlu mengevaluasi dirinya.
Umat membutuhkan dakwah yang mencerahkan, bukan sekadar memperbanyak label kelompok.
Jangan Mudah Terjebak Teori Konspirasi
Perpecahan umat sering dijelaskan dengan teori konspirasi. Memang, dalam sejarah, ada pihak-pihak yang memanfaatkan perpecahan untuk kepentingan politik. Namun, tidak semua masalah umat harus dijelaskan dengan tuduhan terhadap pihak luar. Misalnya tuduhan "Wahabi", "Neo Wahabi" dan penyimpangan atau pengaburan catatan sejarah seringkali menimbulkan keresahan di tengah umat.
Kadang penyebab perpecahan justru berasal dari dalam diri umat sendiri, seperti kurang ilmu, lemahnya adab, fanatisme tokoh, fanatisme kelompok, fanatisme ormas, kepentingan politik, perebutan pengaruh, dan kurangnya kemampuan berdialog untuk mencari kebenaran dan cenderung mencari pembenaran.
Menuduh pihak tertentu tanpa bukti dapat membuat kita abai terhadap perbaikan internal. Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih baik umat memperkuat ilmu, akhlak, persaudaraan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Sikap kritis tetap diperlukan, tetapi tuduhan harus berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Cara Bijak Menyikapi Banyaknya Kelompok Islam
Agar tidak bingung menghadapi banyaknya kelompok dan gerakan Islam, seorang Muslim dapat melakukan beberapa hal berikut:
- Memperkuat dasar agama dari sumber yang terpercaya.
- Belajar kepada guru yang berilmu dan berakhlak.
- Membaca pendapat ulama dari berbagai rujukan yang sah.
- Tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber agama.
- Menghindari komunitas yang mudah menebar kebencian.
- Tidak fanatik kepada tokoh atau organisasi.
- Menghormati perbedaan yang masih berada dalam ruang ijtihad.
- Bersikap tegas terhadap penyimpangan, tetapi tetap beradab.
- Mengutamakan persatuan dalam kebenaran.
- Selalu berdoa agar diberi petunjuk oleh Allah.
Dengan cara ini, seseorang dapat tetap memiliki prinsip tanpa terjebak fanatisme sempit.
Penutup
Munculnya berbagai golongan dan gerakan Islam merupakan kenyataan yang perlu disikapi dengan ilmu dan adab. Perbedaan tidak selalu buruk apabila tetap berada dalam koridor dalil, akhlak, dan persaudaraan.
Yang perlu diwaspadai adalah fanatisme golongan, fanatisme pada tokoh, sikap mudah menyesatkan, sikap suka menuduh "wahabi", pemahaman agama tanpa ilmu, serta kecenderungan menjadikan kelompok/ormas/organisasi/komunitas sebagai ukuran mutlak kebenaran.
Seorang Muslim sebaiknya kembali kepada Al-Qur’an dan sunah dengan bimbingan ulama yang terpercaya sesuai referensi otentik/shahih. Pada saat yang sama, ia perlu menjaga persatuan, menghormati perbedaan yang dapat ditoleransi, dan tidak mudah menyebarkan tuduhan.
Kebenaran harus dicari dengan ilmu. Persatuan harus dijaga dengan adab. Dakwah harus disampaikan dengan hikmah.
Semoga Allah membimbing kita kepada jalan yang lurus, menjauhkan kita dari fanatisme, dan menjadikan umat Islam sebagai umat yang berilmu, berakhlak, serta saling menolong dalam kebaikan.
Wallahu a‘lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.