Wednesday, December 6, 2017

MILITER DAN ENERGI


Share/Bookmark


Militer merupakan institusi alat negara yang diserahi tugas mempertahankan kedaulatan negara dari ancaman luar negeri maupun dalam negeri. Militer diberi wewenang oleh Negara untuk menggunakan kekuatan (termasuk menggunakan senjata) dalam mempertahankan bangsanya ataupun untuk menyerang Negara lain.

Kekuatan militer modern menggunakan senjata-senjata dan peralatan-peralatan yang bekerja dengan mengkonsumsi energi. Tank, pesawat tempur, kapal perang, kendaraan pengangkut personel militer, kapal induk, semuanya membutuhkan energi. Termasuk juga peralatan-peralatan komunikasi militer.

Oleh karena itu, sumber-sumber energi dan fasilitas pembangkit energi menjadi salah satu sarana yang vital dalam aksi-aksi militer. Sumber energi merupakan sumber tenaga bagi peralatan-peralatan militer. Sumber energi memungkinkan sarana-sarana militer dapat bekerja dan membantu tentara melaksanakan misi-misinya.

Seperti diketahui, pada saat Jepang menjajah Indonesia, sempat terdapat program tanam paksa. Salah satu tanaman yang menjadi program tanam paksa adalah tanaman jarak pagar. Tanaman ini merupakan sumber minyak nabati yang akan digunakan sebagai sumber energi.

Kapal perang inggris pada perang dunia I beralih dari bahan bakar batu bara ke bahan bakar minyak. Padahal batu bara saat itu tersedia banyak di dalam negeri Inggris. Sementara, minyak bumi tersedia cukup jauh dari wilayah Inggris, yakni di timur tengah. Pada masa itu muncul pertanyaan besar terhadap kebijakan tersebut. Mengapa Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang awalnya menggunakan bahan bakar batubara yang bersumber dari wilayah Wales yang dinilai lebih aman harus berganti ke bahan bakar minyak yang sumbernya terletak di daerah timur tengah yang tidak cukup meyakinkan keamanan dan keberlanjutan pasokannya. Hal ini dijawab melalui teori keamanan energi, dimana keamanan dan kepastian pasokan minyak terletak pada seberapa bervariasinya sumber pasokan minyak yang digunakan. Semakin bervariasi sumber pasokan minyak bumi yang digunakan, maka akan semakin aman dan handal kapal perang angkatan laut kerajaan Inggris.

Di sisi lain, fasilitas-fasilitas/sumber-sumber energi seringkali juga menjadi target serangan militer lawan dan menjadi sasaran yang diperebutkan antara pihak yang bertikai dan berkepentingan. Seringkali juga, fasilitas sumber energi lebih dipilih dibumi hanguskan daripada nantinya direbut/dimanfaatkan oleh pihak musuh.

Contohnya pada beberapa kilang di Indonesia. Kilang Wonokromo merupakan kilang pertama dan tertua di Indonesia. Dibangun pada tahun 1889 setelah ditemukan minyak di daerah konsesi Jabakota dekat Surabaya oleh De Dordtsche Petroleum Maatschappij. Kilang Wonokromo dihancurkan dalam pemboman tentara Sekutu pada agresi militer I Belanda.

Kilang pangkalan Brandan di Langkat Sumatera Utara, menurut catatan sejarah, sempat dilakukan 3 kali pembumi hangusan. Pertama, pada tanggal 9 Maret 1942 dilakukan oleh Vernielinkcorps (tentara Belanda) dengan tujuan agar tidak dimanfaatkan / direbut tentara Jepang yang akan menyerang Belanda di Indonesia. Bumi hangus kedua dilakukan pada tanggal 13 Agustus 1947 oleh pasukan PMC (Plaatselijk Militair Commando) - Pasukan Indonesia. Bumi hangus ketiga dilakukan oleh bangsa Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 untuk mencegah Belanda merebut dan memanfaatkan kilang tersebut.

Dalam perang teluk tahun 1990-an, Pasukan Irak sempat melakukan pembakaran sumur-sumur minyak di kuwait. Hal ini dilakukan agar sumur-sumur minyak di Kuwait yang sempat dikuasasi Irak tidak bisa digunakan lagi dalam waktu cepat oleh Amerika. Hal yang sama juga dilakukan Irak pada saat terjadi aksi agresi Amerika Serikat dan sekutunya pada tahun 2000-an. Kita bisa melihat dilakukan pembakaran pada sumur-sumur minyak di Irak oleh tentara Irak dengan tujuan agar tidak bisa dimanfaatkan oleh pasukan Amerika dan sekutunya.

Semua contoh-contoh kasus di atas merupakan sekelumit kisah yang menunjukkan begitu pentingnya keberadaan sumber energi dan fasilitas pembangkit energi dalam aktivitas militer. Dan dalam beberapa kasus, energi justru menjadi pendorong aksi militer. Dalam hal ini, sumber energi yang berupa minyak bumi masih merupakan jenis energi yang memiliki hubungan terkuat dengan aksi-aksi militer dibandingkan jenis energi lainnya.

Namun demikian, kita bisa melihat beberapa sumber energi lain juga memiliki potensi menjadi sumber konflik. Misalkan gas alam. Krisis Rusia dan Ukraina telah dipersepsikan secara umum sebagai konflik kepentingan terhadap gas alam. Peristiwa blokade ekspor gas dari Rusia ke Ukraina pada Januari 2006 hanya berlangsung 4 hari, dimana motif politik di balik peristiwa ini masih merupakan kontroversi. Di Indonesia, kita mengenal sumber gas alam di wilayah Indonesia, yakni di wilayah Natuna, saat ini menjadi salah satu objek konflik laut China Selatan.

Sumber energi lain yang sebenarnya cukup erat dengan aktivitas militer tentu saja Energi Nuklir. Kebanyakan masyakarakat telah terlanjur menganggap pengembangan energi nuklir berarti juga meningkatkan aktivitas pengembangan senjata nuklir. Hal ini berpotensi menggiring manusia pada perang nuklir yang dapat menghancurkan peradaban manusia. Padahal, pengembangan energi nuklir dan senjata nuklir merupakan hal yang berbeda. Pengembangan senjata nuklir masih memerlukan beberapa tahapan pemprosesan yang tidak dilakukan dalam pengembangan energi nuklir. Nuklir sebagai senjata dan nuklir sebagai energi masih merupakan isu yang sangat sensirtif. Sistem protokol keamanan dunia yang ada saat ini belum bisa memberi izin kepada semua negara untuk mengkases teknologi nuklir. Penguasaan nuklir untuk senjata dibatasi oleh beberapa negara besar saja seperti Amerika Serikat, Rusia, Perancis, China.

Sementara itu, pengembangan energi terbarukan rasanya masih belum memiliki pengaruh kuat dalam aktivitas militer. Energi terbarukan cenderung termanfaatkan secara lokal dan sangat tergantung pada kondisi alam. Namun setiap sumber energi/fasilitas energi tentu akan selalu menjadi sasaran serangan untuk melumpuhkan kemampuan militer lawan. Dan mungkin saja teknologi militer masa depan akan lebih condong menggunakan teknologi energi terbarukan karena adanya potensi untuk menjadi lebih praktis dan independen dalam pembangkitan energi terutama di remote area (wilayah terpencil) sehingga aktivitas militer tidak tergantung pada fasilitas/infrastruktur energi besar seperti fasilitas kilang minyak dan gas bumi.

Perlu kita ketahui, ketahanan Energi sebenarnya merupakan bagian dari Ketahanan Nasional. Ketahanan Nasional selama ini memang lebih fokus pada kekuatan militer daripada kekuatan lain yang ada dalam kehidupan suatu bangsa. Padahal ketahanan nasional terdiri dari berbagai elemen. Termasuk di dalamnya ketahanan ekonomi, ketahanan politik, ketahanan sosial dan budaya, ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, dan lain-lain.

Ketahanan militer tidak melulu mengenai jumlah dan kualitas personel militer yang dimiliki negara. Kekuatan militer juga tidak berarti selalu memperhitungkan jumlah, kualitas, dan kecanggihan persenjataannnya. Ketahanan militer juga tergantung pada hubungan antara militer dan sipil.

Kehidupan masyarakat sipil modern dan teknologi militer semakin terintegrasi dengan kebutuhan akan energi. Maka dari itu sumber-sumber energi dan keberadaan fasilitas energi akan semakin menjadi objek vital bagi suatu negara. Jika suatu negara belum mampu menghasilkan energinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka akan selalu dilakukan kebijakan pencarian sumber-sumber energi baru di luar negeri. Dalam memperoleh sumber-sumeber energi dari luar dan dalam proses pengamanan pasokan sumber energi dari luar negeri inilah yang kemudian akan cenderung mendorong upaya-upaya memanfaatkan kekuatan ekonomi dan politik. Kekuatan militer pada akhirnya juga harus ikut dilibatkan ketika kekuatan ekonomi dan politik dinilai belum mampu mencapai tujuan tersebut.


Sunday, December 3, 2017

AKSELERATOR TEKNOLOGI


Share/Bookmark


Setelah sebelumnya telah mempelajari beberapa bagian dari buku "Good to Great" karya Jim Collins yakni : "Kepemimpinan Level 5", "Siapa Dulu Baru Apa", "Menghadapi Fakta Keras", "Konsep Landak", dan "Kultur Disiplin" maka kini kita akan mempelajari : "Akselerator Teknologi".

Perusahaan "Bagus ke Hebat" berpikir secara berbeda tentang teknologi dan perubahan teknologi. Perusahaan-perusahaan "Bagus ke Hebat" menghindari tren teknologi dan ikut-ikutan. Namun demikian, mereka seringkali menjadi perintis dalam aplikasi teknologi yang dipilih secara cermat, yang sesuai kebutuhan dan diyakini secara nyata mampu mengakselerasi pertumbuhan bisnis.

Pertanyaan yang seringkali diajukan oleh perusahaan "Bagus ke Hebat" adalah : "Apakah teknologi ini sesuai secara langsung dengan konsep landak yang dianut?". Jika jawabannya "Ya" maka perusahaan akan mengambil langkah untuk menjadi perintis dalam penerapan teknologi tersebut. Jika "Tidak", maka Perusahaan dapat sekedar bersama-sama yang lain menerapkan teknologi tersebut atau dapat mengabaikannya sama sekali.

Perusahaan "Bagus ke Hebat" menggunakan teknologi sebagai akselerator momentum, bukan pencipta momentum. Tidak ada perusahaan "bagus ke hebat" yang memulai transformasi mereka dengan teknologi rintisan. Akan tetapi, mereka semua menjadi perintis dalam penerapan teknologi ketika mereka sudah memahami secara mendalam bagaimana teknologi itu cocok dengan ketiga lingkaran konsep landak.

Ketika perusahaan pembanding mencoba menggunakan teknologi yang sama persis dengan teknologi yang dirintis & digunakan oleh perusahaan "Bagus ke Hebat", perusahan pembanding tersebut akan tetap gagal membuahkan hasil yang mendekati sama dengan perusahaan "Bagus ke Hebat". Kegagalan perusahaan mencapai hasil hebat dan lestari bukan disebabkan karena kegagalan teknologi tetapi disebabkan kegagalan manajemen. Teknologi hanya bisa menjadi akselerator dari kegagalan atau keberhasilan perusahaan. Bukan penyebabnya. Sekali lagi perlu diingat, teknologi tidak pernah menjadi sebab utama bagi kejayaan atau kemunduran suatu perusahaan. Seringnya teknologi justru tidak masuk dalam lima faktor teratas agenda transformasi perusahan hebat.

Bagaimana perusahaan merespon pada perubahan teknologi dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai apakah suatu perusahaan memiliki dorongan batin akan kejayaan atau sudah cukup puas dengan kondisi sedang-sedang saja. Perusahaan hebat meresppon perubahan teknologi dengan kecermatan dan kreativitas, didorong oleh hasrat untuk mengubah potensi laten menjadi hasil. Perusahaan pembanding bereaksi dan bergerak maju mundur terhadap perubahan teknologi, dimotivasi oleh rasa takut tertinggal.

Pengaturan momentum kapan saatnya perusahan "merangkak", "berjalan", dan "berlari", dapat menjadi pendekatan efektif dalam menyikapi dan menghadapi setiap perubahan teknologi yang cepat dan radikal. Saat perusahaan hebat dihadapkan pada perubahan teknologi yang cepat dan radikal, perusahaan tersebut akan memperlambat langkahnya hinggga seperti "merangkak". Perusahaan mengambil jedah sejenak, berpikir, mempelajari secara cermat dan mendalam kesesuaian penggunaan teknologi itu dengan nilai-nilai dalam tiga lingkaran konsep landaknya.

Ketika diputuskan bahwa teknologi itu sesuai, maka perusahaan akan mulai menggunakan teknologi tersebut secara perlahan. Perusahan hebat tersebut mulai "berjalan" dengan penuh kehati-hatian dalam merancang sistem pengimplementasian teknologi tersebut, mencobanya secara internal, dan terus mengevaluasi kinerjanya. Seringkali perusahaan bagus ke hebat awalnya terkesan lambat dalam merespon perubahan teknologi.

Selanjutnya, saat perusahaan hebat benar-benar mengetahui secara nyata bahwa dengan implementasi teknologi baru tersebut mereka dapat berakselerasi menuju kejayaan, maka mereka segera "berlari" dengan cepat mengimplementasikan teknologi tersebut secara masif. Pada akhirnya mereka menjadi yang terdepan dan meninggalkan para pesaingnya di belakang.

Saturday, December 2, 2017

KULTUR DISIPLIN


Share/Bookmark


Setelah sebelumnya telah mempelajari beberapa bagian dari buku "Good to Great" karya Jim Collins yakni : "Kepemimpinan Level 5", "Siapa Dulu Baru Apa", "Menghadapi Fakta Keras", dan "Konsep Landak", maka kini kita akan mempelajari : "Kultur Disiplin"

Hasil hebat yang lestari yang mampu dicapai oleh suatu perusahaan tergantung pada bagaimana perusahaan tersebut membangun suatu kebudayaan (culture) yang penuh dengan orang-orang berdisiplin mandiri yang mengambil langkah penuh disiplin dan secara fanatik bertindak konsisten mematuhi 3 lingkaran konsep landak.

Seiring suatu perusahaan berkembang dan menjadi kian kompleks, perusahaan pun mulai tersandung kesuksesannya sendiri. Terlalu banyak orang baru, terlalu banyak pelanggan baru, terlalu banyak pesanan baru, terlalu banyak produk baru. Apa yang tadinya menyenangkan kini berubah menjadi bola liar yang tak terorganisir. Kurangnya perencanaan, kurangnya sistem, kurangnya pembukuan/pencatatan, kurangnya batasan rekrutmen, menciptakan gesekan-gesekan yang semakin lama semakin tak terkendali.

Sebagai respon, biasanya diambillah langkah untuk menyewa manajemen profesional, konsultan ternama, dan eksekutif terkenal. Selanjutnya proses birokrasi rumit, prosedur, daftar periksa, dan semua alur kerja kompleks mulai tumbuh pesat seperti ilalang.

Lambat laun, lingkungan kerja yang tadinya egaliter berubah menjadi hierarki. Rantai komando yang panjang mulai muncul. Bermunculan juga kelas eksekutif dengan tunjangan istimewa. Segmentasi "Kami" dan "Mereka" bermunculan dan menggantikan "Kita". Manajemen eksekutif mencoba terus membenahi kekusutan sistem kerja perusahaan. Namun langkah-langkah yang mereka ambil seringkali membunuh semangat kewirausahaan. Keajaiban kreatif mulai pudar. Anggota-anggota paling inovatif dalam perusahaan mulai hengkang karena muak dengan pembengkakan birokratis dan hierarki. Perusahaan yang dulunya menyenangkan akhirnya berubah menjadi perusahaan-perusahaan besar pada umumnya, yang mulai menuju penghancuran dirinya sendiri. Siklus kematian kewirausahaan ini akan senantiassa terjadi pada suatu perusahaan jika tidak ada upaya untuk mempertahankan kultur yang tepat yang sesuai dengan tiga lingkaran konsep landak.

Kultur birokratis di suatu perusahaan biasanya muncul untuk mengkompensasi ketidakbecusan (inkompentensi) dan kurangnya disiplin. Hal ini terjadi karena perusahaan memiliki orang-orang yang keliru dalam "bus" semenjak awal. Jika perusahaan memiliki orang-orang yang tepat di dalam "Bus" dan mendepak orang-orang yang tidak tepat dari dalam "Bus" maka perusahaan tidak memerlukan sistem birokrasi rumit yang cenderung melemahkan semangat kreativitas dan kewirausahaan.

Suatu kultur yang disiplin akan selalu melibatkan dualitas. Di satu sisi, kultur memerlukan orang-orang yang mematuhi satu sistem secara konsisten. Di sisi lain, kultur memberikan orang-orang kebebasan dan tanggung jawab yang cukup dalam kerangka kerja sistem. Kultur disiplin bukan sekedar soal tindakan. Ini dimulai dari adanya "orang-orang disiplin" yang bergulat dengan "pemikiran penuh disiplin" dan kemudian mengambil "tindakan penuh disiplin". Dalam pembentukan kultur disiplin, "daftar hal yang harus berhenti dilakukan" lebih penting dibandingkan daftar "hal yang harus dilakukan".

Semakin disiplin suatu perusahaan untuk tetap berada di dalam tiga lingkaran konsep landak, dengan konsistensi yang nyaris religius, maka perusahaan tersebut semakin memiliki peluang untuk terus bertahan dan tumbuh. Jika suatu perusahaan terus konsisten berada dalam tiga lingkaran konsep landaknya, maka konsep "peluang sekali seumur hidup" tidak lagi relevan. Perusahaan "bagus ke hebat" akan memiliki banyak peluang seumur hidupnya.

Perusahaan "Bagus ke Hebat" pada titik terbaiknya selalu mengikuti mantra sederhana : "Segala sesuatu yang tidak cocok dengan konsep landak yang mereka anut, maka tidak akan dilakukan". Perusahaan tidak akan meluncurkan bisnis-bisnis yang tidak terkait. Perusahaan tidak akan membuat akuisisi-akuisisi yang tidak terkait. Perusahaan tidak akan melakukan joint venture yang tidak terkait. Jika semua hal itu tidak cocok, maka perusahaan tidak akan melakukannya, tidak perduli para kritikus akan terus menakut-nakuti dengan teori dan prediksi.

Hal ini terjadi karena adanya keteguhan keyakinan suatu perusahaan dalam menerapkan tiga lingkaran konsep landak yang telah mereka sepakati sejak awal perumusan. Suatu bentuk disiplin paling penting bagi hasil lestari adalah kepatuhan fanatik pada konsep landak dan kesediaan untuk mengabaikan peluang-peluang yang berada di luar ketiga lingkaran konsep landak.

Perusahaan "bagus ke hebat" membangun sistem konsisten dengan batasan-batasan jelas, tapi mereka juga memberi kebebasan dan tanggung jawab di dalam kerangka kerja sistem tersebut. Mereka mempekerjakan orang-orang tepat yang berdisiplin pribadi tinggi, orang-orang yang tidak perlu dikelola. Kemudian perusahaan tersebut mengelola sistem, bukan mengelola orang.

Perusahaan bagus ke hebat tampak membosankan dan kaku jika dilihat dari luar. Padahal jika ditelaah lebih dalam, perusahaan tersebut penuh dengan orang-orang yang menunjukkan ketekunan ekstrem dan intensitas mengagumkan. Mereka melakukan disiplin ketat ala atlet.

Salah satu tindakan disiplin dapat dilihat dari kegiatan proses penganggaran kegiatan. Proses kegiatan penganggaran perusahaan "bagus ke hebat" bukanlah berpedoman untuk memutuskan berapa alokasi anggaran yang akan didapatkan setiap kegiatan perusahaan. Keputusan alokasi angaran kegiatan dilakukan dengan berpedoman pada konsep landak. Dengan berdisiplin pada konsep landak, maka dapat diputuskan secara tepat dan akurat mana kagiatan-kegiatan yang cocok/sesuai dengan konsep landak dan harus didanai penuh. Dan mana yang seyogianya tidak didanai sama sekali.

Kultur disiplin dapat menjadi kacau jika perusahaan dipimpin oleh seorang tiran yang selalu melakukan tindakan pendisiplinan sepihak. Sistem disiplin ala tiran mengandalkan kekuatan figur/ketokohan sang pemimpin. Kultur disiplin yang dibentuk oleh seorang pemimpin tiran bersifat disfungsional. Hal ini merupakan konsep berbeda dengan konsep kedisiplinan dari suatu perusahaan "bagus ke hebat" yang bersifat fungsional. Para CEO yang melakukan pendisiplinan melalui kekuatan keras kepribadian biasanya hanya mampu membawa perusahaan menjadi perusahaaan hebat sesaat. Kehebatan yang dicapai ini tidak akan mampu bertahan lama / membawa hasil yang lestari. Ketika CEO tersebut tidak lagi menjabat atau ketika CEO tidak lagi mengontrol kedisiplinan perusahaan dalam tiga lingkaran konsep landak, biasanya perusahaan akan langsung jatuh terpuruk.

Tuesday, November 28, 2017

KONSEP LANDAK (KESEDERHANAAN DALAM 3 LINGKARAN)


Share/Bookmark


Melanjutkan pembahasan buku Good to Great karya Jim Collins, dimana sebelumnya kita telah membahas "Kepemimpinan Level 5", "Siapa Dulu Baru Apa", dan "Menghadapi Fakta Keras", sekarang kita akan membahas mengenai "Konsep Landak".

Penggunaan analogi Landak terilhami dari sebuah esai berjudul "The hedgehog and the fox" (si Landak dan si Rubah). Rubah digambarkan sebagai hewan yang cerdas, tahu banyak hal, ahli strategi. Rubah mengejar banyak tujuan dan melihat dunia yang akan dihadapinya dengan segala kompleksitasnya. Namun, rubah tidak bisa mengintegrasikan pemikiran mereka ke dalam satu konsep umum atau visi yang padu.

Sebaliknya, Landak memang tidak secerdas dan setangkas rubah, namun memiliki pemikiran sederhana. Walau landak terlihat sebagai hewan membosankan, ia mampu menyederhanakan dunia yang kompleks ke dalam satu ide, satu prinsip dasar, atau konsep dasar yang kemudian menjadi tuntunannya melakukan segala sesuatu.

Dalam kisahnya, rubah selalu berupaya menyerang landak. Ia menggunakan dan mencoba segala cara dan muslihat untuk bisa mewujudkan keinginannya. Sebaliknya landak selalu berpikir sederhana. Setiap kali rubah hendak menyerang dengan berbagai variasi serangan dan muslihat, maka landak hanya tinggal menggulung dirinya dan menegangkan duri-duri di tubuhnya ke segela arah seperti bola berduri. Pada akhirnya si rubah yang hendak menerkam landak, ketika melihat pertahanan itu, ia akan membatalkan serangan, dan mundur kembali ke hutan, mencoba kembali merencanakan strategi serangan baru. Setiap hari, versi lain peperangan landak dan rubah terjadi. Meskipun kecerdasan rubah lebih tinggi, sang landak selalu menang, walau hanya menggunakan cara yang itu-itu saja, yakni menggulung dirinya dan mengandalkan pertahanan duri-duri di tubuhnya.

Melangkah dari perusahaan bagus ke hebat menuntut perusahaan untuk melampaui kutukan kompetensi. Walaupun suatu perusahan telah meyakini bahwa ia memiliki bisnis inti yang dibanggakan dan telah digelutinya selama bertahun-tahun, bukan berarti perusahaan tersebut dapat menjadi yang terbaik di bidang bisnis tersebut. Jika perusahaan tersebut tidak bisa menjadi yang terbaik di bisnis intinya tersebut, maka bisnis inti tersebut jelas tidak bisa mengantarkan perusahaan tersebut menjadi perusahaan hebat. Oleh karena itu, bisnis inti perusahaan tersebut harus diganti dengana suatu konsep sederhana yang mencerminkan pemahaman mendalam tentang 3 lingkaran yang saling beririsan, disebut sebagai konsep Landak, kesederhanaan dalam 3 lingkaran :



Perusahaan "Bagus ke Hebat" berfokus pada kegiatan-kegiatan yang memantik gairah mereka. Gagasannya di sini adalah bukan merangsang gairah, tapi menemukan apa yang membuat perusahaan bergairah.

Pemahaman "terbaik di dunia" adalah standar yang jauh lebuh ketat dibandingkan kompetinsi inti. Suatu Perusahaan mungkin memiliki kompetensi tapi tidak mesti memiliki kemampuan untuk benar-benar menjadi yang terbaik di dunia berdasarkan kompetensi tersebut. DI sisi lain, mungkin ada kegiatan-kegiatan di mana Perusahaan sebenarnya bisa menjadi yang terbaik di dunia, hanya saja Perusahaan belum memiliki kompetensi yang dibutuhkan saat ini.

Kuncinya adalah suatu perusahaan bisa memahami di mana organisasi/perusahaan tersebut bisa menjadi yang terbaik di dunia. Hal ini sama pentingnya dengan memahmi di mana organisasi/perusahaan tidak bisa menjadi yang terbaik di dunia. Dan yang penting, bukan dimana organisasi/perusahaan "ingin" menjadi yang terbaik di dunia.

Untuk mendapatkan pengetahuan tentang pendorong mesin ekonomi Perusahaan, perusahaan "bagus ke hebat" mencari satu denominator (misal laba/X, atau dalam sektor sosial, arus kas per X, dll) yang memiliki dampak terbesar. Perusahaan "Bagus ke Hebat" memiliki pengetahuan mendalam mengenai bagaimana cara paling efektif menciptakan profitabilitas dan arus kas matang yang lestari.

Konsep landak bukanlah tujuan, strategi, atau niatan. Konsep Landak adalah pemahaman. Dibutuhkan rata-rata 4 tahun bagi suatu perusahaan untuk menemukan konsep landak mereka. Perusahaan-perusahaan yang mampu berubah dari "bagus" ke "hebat" mematok tujuan dan strategi mereka berdasarkan pemahaman. Berkebalikan dengan itu perusahaan pembanding (perusahaan yang gagal menjadi hebat) mematok tujuan dan strategi mereka berdasarkan kesombongan.

Upaya mendapatkan dan menerepkan kosep landak merupakan proses berulang (siklus). Dewan (Council) bisa menjadi berguna. Dewan terdiri dari sekumpulan orang yang tepat yang berpartisipasi dalam dialog dan debat yang dituntun oleh pertanyaan-pertanyaan untuk merumuskan konsep tiga lingkaran terbaik, dan membahas mengenai isu-isu penting dan keputusan-keputusan yang dihadapi organisasi.

Perusahaan-perusahaan "bagus ke hebat" berperilaku seperti landak. Sederhana, membosankan, yang hanya tahu satu hal besar dan terus bertahan dengan itu. Perusahaan yang tidak bisa menjadi hebat berperilaku seperti rubah. Mahluk tangkas dan cerdas yang tahu banyak hal tapi tidak memiliki konsistensi.

Perusahaan "Bagus ke Hebat" tidak perlu berada di bidang industri yang hebat untuk menciptakan hasil yang hebat. Tak peduli betapa pun buruknya kondisi industri/bisnis yang sedang terjadi dan melanda dunia, perusahaan "bagus ke hebat" selalu dapat menemukan jalan bagaimana cara menciptakan imbal hasil ekonomi yang benar-benar unggul.

Saturday, November 25, 2017

PERILAKU KONSUMEN MEMPENGARUHI PENGGUNAAN ENERGI MASA DEPAN


Share/Bookmark


Telah berlalu sekitar 1 abad sejak umat manusia mengeksploitasi sumber-sumber energi fosil (batubara, minyak dan gas bumi) secara masif. Penemuan mesin uap mendorong penggunaan batu bara secara besar-besaran. Hal ini mendorong revolusi industri. Terjadi urbanisasi dari desa ke kota. Tak lama kemudian, setelah kendaraan berbahan bakar minyak (bensin dan diesel) dapat diproduksi secara massal dan semakin ekonomis, maka eksploitasi terhadap sumber-sumber minyak bumi semakin gencar. Gas bumi/alam baru termanfaatkan belakangan dalam jumlah besar, seiring dengan perkembangan teknologi pemprosesan dan transportasi gas alam yang semakin canggih dan ekonomis.

Selanjutnya, di era kini, mulai muncul isu-isu terkait lingkungan. Penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca, dalam hal ini CO2, ditengarai merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Indikator-indikator yang biasanya diangkat adalah kualitas udara yang semakin menurun di perkotaan dan daerah industri, mencairnya es di kutub utara dan selatan, naiknya permukaan air laut, terbentuknya lubang pada lapisan ozon, bencana alam yang semakin sering terjadi, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, penggunaan energi fosil dianggap sebagai ancaman bagi kelestarian lingkungan di masa depan.

Isu-isu tersebut memberi dorongan untuk beralih ke energi terbarukan. Maka teknologi energi terbarukan diperkenalkan, walau harganya masih relatif jauh lebih tinggi dari energi fosil. Pemerintah-pemerintah dunia semakin marak berpartisipasi dalam program-program berkenaan dengan perlindungan lingkungan. Perusahaan-perusahaan migas didorong untuk semakin menurunkan tingkat emisinya dan semakin efisien. Manufaktur-manufaktur kendaraan dan mesin didorong untuk mengeluarkan varian kendaraan dan alat yang menggunakan energi non fosil. Proyek-proyek energi terbarukan diberi insentif-insentif untuk semakin menarik minat investor.

Walaupun demikian, dalam praktek dan kenyataannya, upaya-upaya beralih ke penggunaan energi terbarukan ini dinilai masih sangat lambat. Mahalnya biaya teknologi energi terbarukan dan kurangnya fleksibilitas (karena sangat tergantung pada kondisi alam dan mahalnya investasi untuk penyimapan energi) seringkali menjadi alasan keengganan perubahan perilaku di sisi pengusaha energi dan manufaktur dan termasuk juga para pengambil kebijakan. Pada akhirnya, target-target kebijakan lingkungan dan komitmen-komitmen lingkungan tidak mampu tercapai dan terkesan hanya menjadi komoditas politik belaka.

Namun berbeda halnya pada sektor end user (pengguna akhir) energi. Kita bisa melihat akhir-akhir ini semakin banyak muncul tokoh-tokoh futuris yang menyuarakan perubahan. Mereka memperkenalkan teknologi-teknologi masa depan yang terlihat keren, membuat hidup semakin praktis, dengan harga semakin terjangkau. Seolah membuat nyata teknologi-teknologi yang selama ini hanya ada di kisah science fiction (fiksi ilmiah). Mereka terus berinovasi tiada henti. Di satu sisi membuat orang-orang tercengang. Di sisi lain membuat deg-degan para pelaku industri & bisnis eksisting karena adanya kemungkinan perubahan radikal dalam proses bisnis eksisiting sebagai akibat masuknya teknologi-teknologi baru yang mereka perkenalkan.

Ada kendaraan listrik, kendaraan tanpa pengemudi, robot, kecerdasan buatan (artificial intelligence), virtual & augmented reality, internet of things, cloud & big data, dll. Pengenalan teknologi-teknologi tersebut menuntut semua aktivitas manusia untuk berubah mengikuti tren teknologi yang digandrungi masyarakat.

Tenaga-tenaga manusia/manual ssuatu saat mungkin dapat digantikan oleh tenaga robot dan artificial intelligence. Tuntutan proses produksi agar semakin efisien akan menyebabkan perusahaan dan pabrik semakin gencar memanfaatkan teknologi-teknologi canggih dan otomatisasi. Hal ini mendorong pengurangan peranan dan jumlah tenaga manusia yang dipekerjakan. Akan tetapi ruang-ruang lapangan kerja baru mungkin juga dapat tercipta dan secara perlahan memaksa masyarakat masa depan beralih ke bidang-bidang pekerjaan baru yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya.

Perkembangan teknologi-teknologi baru tersebut, sangat memungkinkan mendorong terjadinya perubahan perilaku konsumen (end user). Dan perubahan prilaku konsumen inilah yang nantinya mendorong secara masif para produsen dan pelaku bisnis untuk mengikuti dan menyesuaikan kebutuhan konsumen dengan paradigma baru tersebut. Contohnya saja pada pengenalan smartphone layar sentuh. Para produsen awalnya belum ada yang berani mengeluarkan produk smartphone dengan layar sentuh. Namun ketika ada salah satu produsen mengeluarkan produk handphone layar sentuh dan sukses di pasaran, maka kemudian hampir semua produsen smartphone langsung mengeluarkan produk-produk smarphone layar sentuh.

Sementara itu, dalam komunitas konsumen energi, juga sangat memungkinkan mengalami perubahan. Mungkin saja, konsumen di masa depan akan lebih memilih penggunaan kendaraan listrik untuk menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil, karena dianggap lebih keren, lebih murah, lebih sehat, tidak berisik, lebih murah ongkos perawatan, dan pertimbangan lainnya. Ibu rumah tangga juga mungkin akan lebih memilih kompor listrik ketika kompor listrik harganya lebih murah, dan biaya bulanannya lebih murah, dan mungkin juga dianggap lebih keren dari kompor gas LPG, lebih prestisius. Industri pengguna energi mungkin saja juga akan lebih banyak menggunakan alat-alat canggih yang menggunakan teknologi komputer cerdas. Misalkan sistem otomatisasi pabrik, robot, artificial intelligent, 3D printer, dan lain-lain. Hal ini karena tuntutan pasar yang memaksa mereka untuk beroperasi secara lebih praktis, efisien, aman (safe), memenuhi regulasi lingkungan, dan alasan lainnya. Bisa saja dorongan perubahan perilaku konsumen bukan lagi disebabkan oleh faktor harga yang lebih murah. Konsumen masa depan bisa saja bersedia membayar lebih mahal demi memenuhi tuntutan paradigma masyarakat baru. Semuanya serba memungkinkan terjadi di masa depan.

Perubahan-perubahan yang dipacu penggunaan teknologi-teknologi baru tersebut memang tidak menentu. Banyak prediksi, proyeksi, dan spekulasi. Namun satu hal yang kemungkinan pasti, bahwa penggunaan teknologi-teknologi baru tersebut mengindikasikan kebutuhan energi listrik yang semakin besar di masa depan. Teknologi-teknologi masa depan semakin tergantung pada energi listrik untuk dapat beroperasi. Hal yang menjadi pertanyaan adalah darimanakah umat manusia di masa depan menghasilkan energi listrik dalam jumlah besar, stabil, dan murah. Seperti diketahui bersama, energi listrik harus dihasilkan/dibangkitkan dari sumber energi lain. Bisa dari energi fosil (minyak bumi, batubara, dan gas alam), bisa juga dari energi terbarukan, dan bisa dari energi baru (misal nuklir).

Konsumen energi yang semakin tergantung pada teknologi-teknologi bertenaga listrik tersebut, akan sangat berperan dalam pola penggunaan energi di masa depan. Tentu saja hal ini juga akan mendorong inovasi-inovasi teknologi pembangkitan energi listrik secara cepat. Teknologi batere bisa semakin murah dan canggih dan lifetime (umur pakai) lebih panjang. Teknologi energi terbarukan bisa saja semakin ekonomis dan fleksibel dan terintegrasi dengan teknologi penyimpanan energi yang murah dan canggih serta terhubung secara lancar dengan jaringan listrik pintar. Teknologi energi nuklir mungkin saja semakin aman dan murah. Dan mungkin juga, teknologi pembangkit listrik dari energi fosil juga akan ikut berbenah dan semakin mampu memenuhi tuntutan kebijakan lingkungan, semakin efisien dan semakin murah.

Semua sumber energi tersebut, baik energi fosil, energi terbarukan, dan energi baru, akan berkompetisi semakin ketat. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan energi di end user yang semakin banyak dimanjakan teknologi-teknologi baru yang semakin tergantung pada tenaga listrik. Perilaku konsumen dalam menyikapi kehadiran teknologi-teknologi baru tersebut akan mempengaruhi pola penggunaan energi di masa depan.

Friday, November 24, 2017

HUBUNGAN ENERGY SECURITY DENGAN PERUBAHAN IKLIM SERTA LINGKUNGAN (2)


Share/Bookmark


Pendekatan “holistik” antara perubahan iklim dengan keamanan energi, secara narasi adalah: “Pertumbuhan penggunaan energi oleh manusia yang berasal dari bahan bakar fosil menyebabkan pemanasan global”. Oleh sebab itu perubahan iklim harus diakui sebagai sebuah masalah keamanan internasional. (World Economic Forum, 2012).

Dengan demikian narasi holistik (menyeluruh) tadi menjadi berlanjut, yaitu bahwa perubahan iklim tidak hanya sekedar sebuah ancaman terhadap keamanan global melainkan juga sebuah “pelipat ganda” ancaman, dalam kaitannya dengan keamanan energi. Berangkat dari contoh kasus “migrasi masal pengungsi untuk berlindung dari bencana ekologi dapat mendestabilisasi wilayah-wilayah di dunia”, solusi terhadap perubahan iklim harus merupakan bagian dan paket dari strategi keamanan energi nasional dan internasional. (World Economic Forum, 2012).

Jika ada ketidaknyamanan kebenaran yang terkait dengan sistem energi yang ada, hal itu disebabkan masyarakat tidak bisa menyuarakan perubahan iklim dan keamanan energi secara serentak. Sebaliknya, terlalu banyak memberikan penekanan terhadap salah satunya maka akan memperparah yang lain. Pernyataan ini tidak untuk mengatakan bahwa tidak ada kebijakan maupun teknologi yang dapat menyatakan keduanya. Efisiensi, konservasi, dan pemanfaatan teknologi bersih secara umum bermanfaat untuk menurunkan emisi CO2 maupun meningkatkan keamanan energi secara serempak. (World Economic Forum, 2012).

Secara teknis, upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi perubahan iklim dapat dilakukan melalui pengurangan konsumsi bahan bakar fosil, baik dengan penghematan dan konservasi energi yang ketat, serta beralih kepada sumber energi yang rendah karbon atau sumber energi non fosil. Di masa depan, saat teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture & storage – CCS) semakin ekonomis, maka opsi ini juga merupakan upaya yang secara signifikan dapat mengurangi emisi karbon. (World Economic Forum, 2012).

Kenyataannya, pertumbuhan populasi, pertumbuhan ekonomi, dan urbanisasi, telah memicu peningkatan konsumsi energi, makanan, dan air bersih. Ketika permintaan masyarakat akan air bersih bertambah, maka sumber-sumber air bersih akan semakin langka. Karenanya akan dibutuhkan tambahan konsumsi energi untuk melakukan pemompaan, desalinasi, treatment dan distribusi air. Penarikan air tanah tahunan pada sektor energi seperti pada pertambangan, pemprosesan, pengolahan, dan pembangkitan listrik, terhitung sebanyak sekitar 15% dari pemanfatan air bersih total dunia. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan dalam satu dekade ke depan. Sektor agrikultural bahan pangan juga tercatat mengkonsumsi sekitar 30% energi dunia dan mengkonsumsi 70% air bersih dunia. (REN21, 2015).

Ketika permintaan bahan pangan tumbuh, maka konsumsi energi dan air juga akan ikut tumbuh. Dalam rangka memutus keterkaitan yang selaras di antara ketiga komponen ini (air, pangan, dan energi) maka pemanfaatan energi terbarukan dapat mengambil peranan. Sejumlah bentuk energi terbarukan berpotensi dapat membantu mengurangi konsumsi air bersih dalam proses pembangkitan energi, misalkan dengan pemanfaatan energi matahari dan angin. (REN21, 2015).

Di sektor agrikultur bahan pangan, pemanfaatan energi terbarukan juga dapat membantu mengurangi ketergantungan harga bahan pangan terhadap harga bahan bakar fosil. Beberapa aktivitas pengolahan makanan seperti misalnya dalam proses pendinginan dan pengeringan, dan juga pendistribusian, energi terbarukan memiliki potensi untuk masuk dan mengurangi peranan energi fosil. Bahkan sampah bahan pangan juga dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit energi terbarukan sehingga memiliki nilai tambah. Dengan demikian energi terbarukan dapat berperan cukup signifikan dalam peningkatan ketahanan energi, ketahanan pangan, dan sekaligus ketahanan air bersih. (REN21, 2015).

Referensi : Apriyanto, Alek Kurniawan. 2015. Membangun Energy Security Indonesia. Jakarta : Pustaka Muda.
Buku ini tersedia pada : https://www.tokopedia.com/bukuqu/membangun-energy-security-indonesia


Thursday, November 23, 2017

HUBUNGAN ENERGY SECURITY DENGAN PERUBAHAN IKLIM SERTA LINGKUNGAN (1)


Share/Bookmark


Pemanfaatan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara) untuk memproduksi energi merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca. Pada skala global, gas rumah kaca bertanggung jawab terhadap lebih dari 60% jumlah emisi secara total (WRI, 2005; dalam IEA, 2005a). Ketika hanya mempertimbangkan negara-negara anggota OECD dan negara-negara yang sedang dalam tahap transisi ekonomi, angka ini naik menjadi 80 persen (IEA, 2005a).

Gas rumah kaca (greenhouse gas atau disingkat GHG) bisa berupa uap air (uap H2O), karbondioksida (CO2), metana (CH4), Nitrogen Oksida (NO), dan gas lain seperti hidrofluorokarbon (HCFC-22), klorofluorokarbon (CFC), dan lain-lain. Secara umum, gas rumah kaca terbentuk secara alami di lingkungan. Namun demikian, sejumlah aktivitas manusia di bidang industri telah berkontribusi menambah peningkatan produksi gas rumah kaca. Hal ini menyebabkan kadar gas rumah kaca ini semakin tinggi sehingga berada pada level yang berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan.

Uap air merupakan komponen gas rumah kaca terbesar. Namun demikian peningkatan uap air di udara dapat menjadi umpan balik positif (penyeimbang) terhadap peningkatan gas rumah kaca lain. Hal ini karena kadar uap air dapat meningkat seiring dengan peningkatan temperatur.

Berbeda halnya dengan uap air, CO2 merupakan gas rumah kaca terbesar kedua, dan juga dipandang sebagai gas rumah kaca yang paling berperan terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Gas CO2 ini bersifat lebih bertahan lama di atmosfer. CO2 dapat dikurangi secara alami melalui penyerapan oleh laut dan tumbuhan (fotosintesis). Akan tetapi aktivitas manusia dalam memproduksi gas CO2 ini jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan alam untuk menguranginya.

Peningkatan komposisi gas rumah kaca di atmosfer akan menyebabkan pemanasan temperatur bumi dan secara global akan menyebabkan perubahan iklim. Mencairnya es di daerah kutub, peningkatan level air laut, ditengarai menjadi indikasi telah naiknya temperatur bumi. Hal ini dinilai mengancam eksistensi manusia di masa depan. Dengan demikian, mencegah perubahan iklim tidak dapat secara sukses dilakukan tanpa melakukan perubahan secara radikal dalam cara kita memproduksi, mengolah, dan menggunakan energi. (IEA, 2007).

Dewasa ini, telah cukup populer upaya-upaya pakar lingkungan untuk menghubungkan isu perubahan iklim dengan energy security. Hal ini dinilai dapat meningkatkan perhatian politik mengenai pentingnya tindakan yang lebih serius dalam upaya mencegah perubahan iklim. Segala upaya yang mengarah kepada pengembangan sistem energi yang lebih handal juga diharapkan dapat mengurangi emisi yang dihasilkan. Sebagai contoh, semakin besar upaya-upaya efisiensi energi yang dilakukan, diharapkan dapat membantu tercapainya tujuan kedua program tersebut. (World Economic Forum, 2012).

Kebijakan yang ditujukan untuk energy security yang dihubungkan dengan konsentrasi sumber energi akan memberi dampak terhadap pengurangan perubahan iklim dan juga sebaliknya. Pada kedua kasus tersebut, kebijakan-kebijakan yang dirumuskan secara tepat merupakan yang paling besar pengaruhnya terhadap pemilihan bahan bakar. Pada energy security, targetnya adalah untuk menjauhi sumber bahan bakar yang rentan terhadap gangguan, sedangkan pada isu perubahan iklim, targetnya adalah untuk mengurangi intensitas penggunaan bahan bakar yang menghasilkan emisi karbon. (IEA, 2007).

Secara teoritis, upaya untuk menghubungkan sasaran energy security dengan sasaran isu perubahan iklim dapat mendorong kemajuan yang lebih baik pada kedua sisi. Akan tetapi, dalam prakteknya, upaya menghubungkan energy security dengan perubahan iklim ini membuahkan hasil positif yang relatif kecil. Hal ini disebabkan upaya-upaya untuk melestarikan lingkungan lebih dikendalikan oleh faktor kelayakan politik dibandingkan visi praktis mengenai apa yang secara realistis dapat dicapai dari kebijakan lingkungan. (World Economic Forum, 2012).

Para pembuat kebijakan cenderung untuk menentukan sasaran yang tidak dapat dicapai dalam upaya mengurangi emisi, sedangkan langkah nyata untuk mencapainya cenderung dilakukan dengan sangat lambat. Upaya-upaya yang mendorong terjadinya perubahan sistem energi yang mendukung tercapainya target perbaikan lingkungan tampak tidak dijalankan secara serius. Hal ini mengakibatkan semakin meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap program-program perbaikan lingkungan. Kurangnya kepercayaan publik, pada gilirannya, telah mengurangi minat pelaku industri untuk berinvestasi di teknologi baru yang dibutuhkan yang mendukung tercapainya target-target kebijakan lingkungan. Para pelaku industri semakin sadar bahwa sasaran kebijakan lingkungan yang dirumuskan pemerintah merupakan sasaran yang tidak akan mampu dicapai. (World Economic Forum, 2012).

Upaya perbaikan terhadap sistem kebijakan yang bermasalah seperti ini membutuhkan upaya-upaya perbaikan pada tiga bidang. Pertama, adalah menyusun sasaran yang lebih realistis. Kedua, adalah fokus pada mekanisme pasar yang dapat menumbuhkan kompetisi yang sehat dari semua teknologi energi. Ketiga, adalah merangkul dampak-dampak dari globalisasi. Kebangkitan pasar global untuk teknologi energi dan bahan bakar merupakan potensi yang besar dalam perjuangan untuk menjamin energy security, sementara di sisi lain melakukan upaya mengurangi produk emisi karbon pada pemanfaatan energi (decarbonizing). Pasar global akan mengembangkan pasokan dan mendiversifikasi sistem energi. (World Economic Forum, 2012).

To Be Continued..............

Referensi : Apriyanto, Alek Kurniawan. 2015. Membangun Energy Security Indonesia. Jakarta : Pustaka Muda.
Buku ini tersedia pada : https://www.tokopedia.com/bukuqu/membangun-energy-security-indonesia

Sunday, October 29, 2017

MENGAPA NYINYIR PADA WANITA BERJILBAB DAN BERCADAR


Share/Bookmark


Jika selama ini banyak orang tidak masalah dengan mbak perawat/dokter/guru/karyawati/siswi yang mengenakan rok (bahkan rok mini) dan pakaian ketat, seharusnya mereka juga tidak akan mempermasalahkan wanita yang berjilbab, berjilbab lebar dan bahkan yang bercadar.

Kemungkinan pertama, mereka yang berkeberatan terhadap jilbab, jilbab lebar dan bahkan jilbab bercadar adalah orang-orang yang pikirannya senang mesum, sehingga terhalangilah kemesumannya tersebut oleh pakaian serba tertutup yang dikenakan seorang wanita muslimah. Kemungkinan kedua, karena mereka sedang terjangkit virus islamphobia. Pokoknya mereka akan selalu berpikiran negatif atau berprasangka buruk terhadap segala sesuatu yang berbau Islam. Termasuk cara berpakaiannya. Kemungkinan lainnya adalah karena kurang pahamnya mereka terhadap syariat berjilbab/berhijab bagi wanita muslimah termasuk detail-detail syarat dan ketentuan berlakunya. Sehingga ketika mereka menemui suatu praktek yang berbeda dengan yang biasa mereka lakukan, mereka langsung menolak dan menutup diri serta tidak berupaya terbuka pada doalog dan diskusi untuk memahami.

Padahal Fashion berjilbab dan bercadar untuk wanita sempat nge-trend di era Nabi Muhammad, para Sahabat, dan generasi-generasi setelahnya sampai ke-khalifa'an Islam terakhir, Turki Ustmani. Ini bukanlah upaya mengekang kebebasan kaum wanita seperti diserukan para pendukung feminisme. Akan tetapi, ini adalah upaya seorang wanita muslimah yang beriman dan bertakwa untuk menjalankan perintah agama. Sekaligus, ini adalah hak setiap wanita untuk mengenakan apa yang ingin mereka kenakan sesuai keyakinan agamanya. Fashion Islami serba tertutup ini adalah untuk memuliakan wanita muslimah dan melindunginya dari pandangan/gangguan laki-laki buaya dan berbagai bentuk eksploitasi wanita.

Coba kita bandingkan dengan fashion wanita zaman sekarang yang tampak semakin terbuka dan semakin bebas (tapi laki-laki suka 😝). Sebenarnya ini menunjukkan bahwa trend fashion terbuka ini semakin mengarah kembali ke fashion era jahiliyah. Justru inilah yang menandakan kemunduran peradaban umat manusia. Manusia beradab akan senantiasa menutupi tubuhnya secara layak.

Maka dari itu, hal ini perlu dicermati dan direnungi bersama. Mengapa seorang wanita yang hendak menutup auratnya justru dinyinyirin, diprasangkai buruk, dianggap berlebihan dan bahkan dilarang. Sementara itu, wanita-wanita lainnya yang membuka auratnya dengan alasan berkesenian dan kebebasan berekspresi justru dipuja-puji dan dibayar mahal. Tanya kenapa?

Saturday, October 28, 2017

MENGAPA NEGERI MUSLIM KALAH MAJU DENGAN NEGERI NON MUSLIM


Share/Bookmark


Sering orang bertanya kenapa kini negeri-negeri muslim kalah maju dengan negeri-negeri kafir/non muslim di semua bidang. Baik di bidang ilmu pengetahuan & teknologi, politik, ekonomi, sosial & budaya, pertahanan & keamanan, dll. Jawabannya yang saya tahu ada dua.

Pertama, karena istidraj terhadap negeri-negeri non muslim tersebut sehingga mereka cenderung semakin tenggelam dalam urusan dunia dan semakin jauh dari hidayah Islam. Istidraj adalah kesenangan dan nikmat yang Allah berikan kepada seseorang/kaum padahal seseorang/kaum tersebut jauh dari petunjuk-Nya, dimana hal ini sebenarnya merupakan penundaan azab bagi mereka. Nabi SAW bersabda, “Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.” Kemudian Nabi SAW membaca firman Allah (QS. Al-An’am : 44) yang artinya, “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga bila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (HR. Ahmad, no. 17349, disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).

Kedua, Umat Islam mengalami kemunduran karena kini kaum muslimin belum menerapkan Al Quran dan Sunnah secara kaffah (total) seperti di era terdahulu. Kaum muslimin kemudian lebih memilih untuk mengikuti/meniru jalannya orang-orang non muslim yang dianggap lebih modern dan lebih keren serta secara bersamaan cenderung meninggalkan syariat Islam. Hal inilah yang mengakibatkan diangkatlah kedigdayaan dan keberkahan dari negeri-negeri kaum muslimin oleh Allah Azza Wa Jalla.

Bagi Umat Islam yang benar-benar beriman, maka mereka akan percaya bahwa umat Islam dapat mencapai kejayaannya kembali cukup dengan bermodalkan Iman yang benar kepada Allah yakni yang sesuai pedoman sunnah Nabi dan sunnah khulafaur Rasyidin. Karena kalau iman sudah benar dan berjaya di tubuh kaum muslimin maka hal ini secara otomatis akan menarik kejayaan di bidang-bidang lain seperti kejayaan di bidang sains, teknologi, ekonomi, militer, politik, sosial, budaya, dll. Dan ini sudah terbukti pada masyarakat Arab di era Nabi dan Para Sahabat dimana dengan kondisi masyarakat arab di masa itu yang terbelakang di bidang sains, teknologi, politik, militer, dll dibandingkan peradaban Romawi dan Persia, namun mereka dengan semangat iman dan Islam ternyata bisa menjadi peradaban unggulan hingga ribuan tahun berikutnya, mengungguli peradaban super power saat itu yakni Romawi dan Persia.

Insya Allah kalau mayoritas umat Islam sudah kembali berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah sesuai pemahaman dan prakteknya generasi salafus saleh, semakin semangat beramar makruf nahi mungkar, maka akan dihadirkan kembali ditengah kaum muslimin, ilmuan-ilmuan muslim yang berpartner dengan para ulama dan pemimpin-pemimpin yang soleh dalam membangun peradaban Islam yang unggul dan Rahmatan Lil Alamin. Termasuk juga hadirnya sistem yang mendukung ilmuan-ilmuan muslim tersebut berkembang dan berkontribusi maksimal. Sesuai dengan janji Allah : 

“Dan jika penduduk negeri beriman dan bertaqwa (kepada Allah) sesungguhnya Kami (Allah) bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi; Tetapi mereka mendustakan ( ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjakan.” [Qs. Al-A’raf: 96]

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS Âli ‘Imrân, 3: 110]

Seandainya umat Islam kembali secara kaffah kepada Al Quran dan Hadis sesuai Standar Pemahaman dan Prakteknya generasi Salafus Sholeh (generasi awal ke-Islaman : Para Shabat Nabi, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in) maka niscaya tidak akan ada perdebatan dan keributan yang tidak perlu dalam pembahasan syariat-syariat Agama Islam yang sudah sempurna seiring berakhirnya era kenabian, sehingga waktu, tenaga dan pikiran umat Islam bisa difokuskan untuk membangun peradaban dunia. 

Namun sayangnya sebagian umat Islam justru menggunakan standar-standar selain standar salafus shaleh dalam memahami syariat agamanya sendiri. Ada yang lebih memilih mengedepankan menggunakan Standar akal, Standar rasio, Standar perasaan, Standar Selera, Standar Ormas, atau malah pakai Standar-Standar kaum di luar Islam. Padahal para Salafus Sholehlah yang paling memahami intepretasi Al Quran dan Hadis karena mereka hidup di era awal ke-Islaman yang dibawa Nabi Muhammad dan telah banyak kitab yang mereka tinggalkan untuk generasi selanjutnya. Ulama-ulama berikutnya hingga saat ini pun sebenarnya masih banyak yang berpegang teguh Al Quran dan Sunnah sesuai pada standar pemahaman & praktek salafus saleh. Walaupun dalam kenyataannya bagi sejumlah kaum muslimin, ulama-ulama tersebut sering dijadikan sasaran fitnah oleh mereka yang tidak suka.  

Jadi seharusnya tidak perlu lagi aqidah-aqidah, praktek-praktek, dan pokok-pokok dalam agama Islam diotak-atik, dimodifikasi, dikreasikan baru, atau justru diakal-akalin dimana hal ini akan menimbulkan polemik berkepanjangan di internal umat Islam. Tinggal laksanakan saja sesuai apa yang dicontohkan Nabi Muhammad dan generasi salafus sholeh, dan apa yang tidak dicontohkan jangan dikerjakan. Jika menemukan ada perselisihan pendapat ambil mana yang telah menjadi kesepakatan jumhur (mayoritas) ulama dan yang paling kuat referensi dalilnya. Mungkin tinggal pembahasan permasalahan-permasalahan kontemporer saja yang akan terus berlangsung. 

Apabila demikian adanya, maka semua potensi tenaga, akal dan rasio, dan waktu berharga umat Islam akan dapat banyak difokuskan untuk pengembangan keilmuan dunia seperti sains & teknologi, politik, ekonomi, sosial & budaya, pertahanan & keamanan global, untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Bukan malah justru seperti selama ini dimana energi umat Islam banyak dihabiskan dalam debat kusir tak berujung, perselisihan, perpecahan, mengenai masalah-masalah syariat Islam yang sebenarnya telah jelas tuntunannya, yakni sesuai Al Quran dan Sunnah sesuai Standar Pemahaman dan Prakteknya generasi Salafus Sholeh.

Sunday, October 22, 2017

PRIBUMI


Share/Bookmark


Pribumi adalah kata yang akhir-akhir ini cukup meramaikan perbincangan di tengah-tengah masyarakat tanah air. Pribumi berarti penghuni asli yang mendiami suatu wilayah tertentu yang biasanya memiliki kesamaan ciri fisik, karakter dan bahasa. Kita mengenal suku aborigin adalah penghuni asli benua Australia. Suku Indian adalah penghuni asli benua Amerika. Termasuk di Indonesia, kita mengenal berbagai suku yang mendiami wilayah Nusantara.

Wacana yang akhir-akhir ini mengemuka adalah perlunya mengutamakan pengembangan kaum pribumi daripada kaum non pribumi. Hal ini didasarkan adanya fenomena semakin pudarnya pengaruh kaum pribumi dibandingkan pengaruh kaum non pribumi. Padahal kaum pribumi ini adalah penduduk asli wilayah tersebut.

Degradasi pengaruh kaum pribumi di wilayahnya sendiri dapat disebabkan oleh beberapa faktor/peristiwa. Diantaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, dapat diakibatkan karena adanya aktivitas kolonialisme/penjajahan. Bangsa penjajah akan sesegera mungkin menggusur peranan kaum pribumi demi menguasai kekayaan alam dan sumber daya yang dimiliki suatu wilayah yang dihuni kaum pribumi.
Kedua, adanya kecenderungan semangat untuk survive dan eksis yang tinggi dari kaum non pribumi. Kaum non pribumi/imigran/pendatang cenderung memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih baik. Sebagai pendatang di suatu negeri mereka memiliki semangat untuk survive. Mereka cenderung ulet, pekerja keras, kreatif, berani mengambil resiko, serta cenderung kompak dengan sesama pendatang karena ada rasa senasib sepenanggungan. Hal inilah yang tak jarang mengantarkan para pendatang/imigran/non pribumi kepada kesuksesan di tempat perantauan/hijrah, terutama dalam bidang ekonomi.
Ketiga, karena adanya kecenderungan karakter penduduk asli/pribumi yang biasanya kurang memiliki kecakapan dalam memanfaatkan peluang dan mengelola potensi sumber daya yang ada di wilayahnya. Penduduk asli pribumi cenderung telah merasa nyaman dengan kondisi yang sudah ada, kurang dapat merangkul perubahan, dan seringkali berpecah belah antar sesama mereka.

Oleh karena itu, akhir-akhir ini semakin mencuatlah isu perlunya kebijakan-kebijakan proteksi dan pengembangan aktivitas kaum pribumi agar kaum pribumi ini memiliki pengaruh yang kuat di segala bidang di wilayahnya sendiri. Istilahnya, menjadikan pribumi sebagai tuan di negeri sendiri.

Hal tersebut adalah hal yang wajar dilakukan di negeri-negeri lain. Misalnya Donald Trump dalam kampanyenya ketika mencalonkan diri menjadi presiden USA, mengangkat isu perlunya membuka lapangan-lapangan pekerjaan baru di Amerika bagi penduduk USA. Bahkan secara ekstrem sempat disebutkan bahwa Donald Trump akan membangun tembok raksasa di perbatasan USA dan Meksiko untuk mencegah gelombang deras imigran yang masuk ke USA.

Hal sejenis juga dilakukan oleh Inggris ketika memutuskan keluar dari Uni Eropa. Peristiwa ini disebut sebagai Brexit yang berarti British Exit. Salah satu hal yang melatar belakangi Inggris keluar dari Uni Eropa adalah pengaruh imigran yang dinilai semakin mengancam eksistensi penduduk asli Inggris.

China pada sekitar tahun 2015 juga sempat melakukan pengetatan aturan bagi perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di China. Hal ini bahkan sempat membuat sejumlah perusahaan asing angkat kaki dari China dan mengalihkan investasi ke negara-negara Asia Tenggara. Uni Eropa juga sempat melakukan perubahan aturan proteksi perdagangan (trade remedy) yang bermaksud melindungi perdagangan di internal Uni Eropa dari serbuan produk-produk dari luar Uni Eropa yang harganya murah.

Dalam prakteknya, kita bisa mempelajari nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah dalam mengelola isu kesukuan dan pribumi-non pribumi ini. Di era Rasulullah kita mengenal ada kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Kaum Muhajirin adalah penduduk Mekkah muslim yang hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah karena penindasan kaum kafir/non muslim kepada mereka selama di Mekkah.

Kaum Anshor adalah penduduk asli kota Madinah. Kaum Anshor terdiri dari dua suku besar yakni suku Aus dan Khazraj. Sebelum Rasulullah hadir, kedua suku ini selalu terlibat perselisihan dan perang.

Di Madinah juga terdapat beberapa kelompok kaum Yahudi yang hijrah ke Madinah sejak lama karena menunggu nubuwat kenabian bahwa akan hadir Nabi terahir mereka di Madinah. Namun ketika hadir Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam yang ternyata adalah keturunan dari Nabi Ismail, bukan Nabi Ishaq, mereka kemudian tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

Melalui kepemimpinan Nabi Muhammad di Medinah, Kaum Aus dan Khazraj dipersatukan dan kemudian disebut kaum Anshor. Kaum Anshor dipersaudarakan dengan Kaum Muhajirin dengan semangat persaudaraan Islam. Mereka bersama-sama bahu-membahu membangun kota Madinah dan berjihad bersama. Selain itu dibuat juga perjanjian bersama dengan suku-suku Yahudi untuk bersama-sama menjaga kota Madinah jika terjadi serangan. Walau pada akhirnya beberapa suku Yahudi berkhianat dan berujung pada pengusiran mereka dari wilayah Madinah. Namun kepada beberapa suku Yahudi yang tetap berkomitmen terhadap perjanjian, Rasulullah pun senantiasa bersikap adil dan memberikan apresiasi-apresiasi dan perlindungan.

Saturday, October 21, 2017

FENOMENA KIDS ZAMAN NOW


Share/Bookmark


Akhir-akhir ini muncul istilah yang disebut sebagai fenomena Kids Jaman Now. Ini adalah istilah untuk menggambarkan aktivitas anak-anak/remaja era ini yang tampak aneh bagi generasi-generasi yang lebih tua.

Bagi generasi yang lebih tua, yakni mereka yang masa anak-anak/remajanya berada di tahun 80-an dan 90-an, masa anak-anak dan remaja mereka lebih banyak diisi dengan aktivitas permainan tradisional dan aktivitas di luar rumah. Misalnya seperti main petak umpet, main layang-layang, kelereng, menonton film kartun, dll. Bagi mereka, aktivitas seperti inilah yang seharusnya dilakukan di masa anak-anak dan remaja.

Sedangkan anak-anak/remaja zaman sekarang, aktivitasnya cukup berbeda dengan anak-anak/remaja di generasi sebelumnya. Berhubung semakin tersedia koneksi internet dan gadget maka arus informasi semakin cepat dan dapat diakses siapa saja. Banyak anak-anak zaman sekarang yang telah terbiasa dengan aktivitas yang melibatkan teknologi. Misalkan berfoto selfie dengan pose-pose aneh, menghabiskan waktu main gadget dan seperti tidak memperdulikan lingkungan sekitar, update status dan curhat di media sosial, pacaran (cenderung tidak terkontrol dan mengarah ke seks bebas karena dipengaruhi akses pornografi yang semakin mudah), nonton sinetron yang barangkali sebenarnya tidak sesuai dengan umurnya, dan lain-lain. Aktivitas-aktivitas anak-anak/remaja zaman ini tentu tampak aneh bagi generasi sebelumnya. Aktivitas mereka sangat berbeda dengan apa yang dilakukan generasi sebelumnya saat mereka masih anak-anak/remaja dulu.

Anggap saja generasi anak-anak Indonesia dibagi menjadi beberapa era :
  • Generasi Kids Jaman Now
  • Generasi anak-anak/remaja era Reformasi
  • Generasi anak-anak/remaja era Orde baru
  • Generasi anak-anak/remaja era Revolusi/orde lama
  • Generasi anak-anak/remaja era Perjuangan Kemerdekaan.
  • Generasi anak-anak/remaja era Kolonial

Dari contoh pembagian era generasi anak-anak/remaja, maka kemudian dapat kita renungkan bersama. Barangkali apa yang dulu kita lakukan saat masih anak-anak / remaja juga sebenarnya tampak aneh bagi generasi-generasi sebelumnya.

Sebenarnya ini adalah hal yang wajar. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan anak-anak/remaja akan dipengaruhi oleh ketersediaan teknologi (perkembangan teknologi), ketersediaan akses informasi, lingkungan dan budaya serta, serta keluasan interaksi dengan dunia luar.

Masa anak-anak adalah masa-masa belajar dan meniru. Mereka akan meniru apa saja yang dilakukan anak-anak lain dan bahkan yang dilakukan orang dewasa. Globalisasi teknologi dan informasi menyebabkan anak-anak dapat belajar dan meniru dengan cepat apa yang dilakukan orang lain di belahan dunia yang lain.

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri (pra dewasa). Remaja akan cenderung melakukan hal-hal yang sesuai dengan dengan trend remaja kekinian. Mereka akan mengikuti suatu trend keremajaan atau suatu trend center populer yang mereka anggap keren dan mencerminkan pribadi mereka. Trend center dipopulerkan oleh berbagai jenis media informasi. Arus informasi semakin gencar, aksesnya semakin luas. Maka bukan suatu hal yang sulit untuk mengakses berbagai pilihan trend center di dunia ini. Mereka kemudian akan berkelompok-kelompok dengan sesama mereka yang memiliki minat terhadap trend yang sama.

Jadi karakter anak-anak dan remaja dari masa ke masa akan cenderung terus berubah. Dipengaruhi teknologi, sosial dan budaya, kondisi ekonomi dan mungkin juga politik yang sedang berkembang di sekitar mereka.

Namun demikian di era kini, proteksi terhadap perkembangan anak-anak dan remaja harus semakin intens. Sejalan dengan arus informasi positif yang semakin deras, maka arus informasi-informasi negatif juga semakin masif. Perlu upaya serius untuk membentuk karakter anak-anak dan remaja, agar ketika dewasa nanti mereka telah siap menerima tongkat estafet kepemimpinan kehidupan era berikutnya.

Sebagai seorang muslim, kita telah memiliki panduan-panduan dalam mendidik anak-anak dan remaja agar memiliki ahlak yang baik, cinta ilmu (terutama ilmu agama), paham aturan-aturan agama, tahu mana yang halal dan mana yang haram serta berkomitmen dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Tidak hanya itu saja, Islam juga telah memiliki trend center yang harus dijadikan panutan utama dalam segala aktivitas kehidupan, yakni Rasulullah sebagai suri teladan yang baik bagi seluruh umat manusia.

Sedangkan dalam bidang keilmuwan dunia, sejarah umat Islam juga telah menorehkan tinta emas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat di era keemasan Islam. Ini menunjukkan bahwa pemahaman ilmu agama yang benar yang berdasaarakn Al Quran dan Sunnah secara otomatis akan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan pemahan Islam, proteksi perkembangan anak-anak dan remaja haruslah dikontrol oleh keluarga. Seorang ayah akan mempertangungjawabkan kepemimpinannya dalam keluarga di akhirat kelak. Begitu pula seorang Ibu. Anak yang soleh juga akan manjadi amal jariyah yang tidak terputus-putus bagi orang tuanya yang telah meninggal. Seorang Ayah sebagai tulang punggung keluarga yang bertugas mencari nafkah haruslah berperan sebagai sosok teladan yang ada di depan anak-anak/remaja dan sebagai motivator dari belakang. Sedangkan seorang Ibu yang berdasarkan Islam adalah sekolah pertama bagi anak-anak haruslah senantiasa ada dan mendampingi anak-anak & para remaja dalam setiap aktivitas mereka. Seorang Ibu haruslah memiliki pengetahun dan pendidikan tinggi (terutama di bidang agama) agar bisa setiap saat mendampingi proses perkembangan anak-anak/remaja mereka.

Kedua orang tualah yang harus mengambil tanggung jawab penuh dalam mengawasi perkembangan anak-anak/remaja mereka. Sedangkan sekolah hanyalah sebagai sarana membantu orang tua dalam memberikan pendidikan dan memberi akses pada pergaulan yang lebih luas. Sekolah dan guru hanyalah kepanjangan tangan orang tua. Orang tualah yang bertanggung jawab memilihkan sekolah bagi anak-anak mereka. Pertimbangan sistem pengembangan karakter dan pemahaman nilai-nilai agama yang ditawarkan sekolah haruslah lebih diutamakan daripada pertimbangan keunggulan sekolah dalam mencetak murid-murid bernilai akademis iptek yang tinggi.

Dengan demikian, diharapkan generasi-generasi mendatang akan terus memiliki komitmen dalam mempertahankan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah Azza wa Jalla, dalam kondisi perubahan zaman seperti apapun juga. Baik dalam perubahan/perkembangan di bidang teknologi, sosial budaya, ekonomi, politik, dan lain sebaginya. Trend aktivitas anak-anak & remaja boleh saja berubah-ubah dari masa ke masa, namun iman dan takwa di dada harus terus ada.

Sunday, August 13, 2017

BELAJAR DARI STARBUCKS DALAM MENGHADAPI KRISIS DAN SEKALIGUSMEMPERTAHANKAN DAN MEMPERKUAT MEREK & NILAI PERUSAHAAN


Share/Bookmark


Membaca buku berjudul "Onward" karya Howard Schultz (pendiri Starbucks) dan Joanne Gordon memberikan sebuah gambaran pentingnya rasa cinta dan sense of belonging serta gairah dalam mengelola perusahaan. Selain itu perlu adanya suatu tujuan mulia yang jelas dan diyakini bersama untuk memberi alasan kenapa perusahaan tersebut harus terus ada sehingga perlu melakukan segala upaya untuk mewujudkannya. Terus belajar pada masa lalu, memperbaiki diri dan berinovasi.

Starbucks merupakan icon brand yang mendunia. Kesuksesan kedai kopi ini tidak terlepas dari perjalanan hidup founder-nya yakni Howard Schultz dalam menerapkan dan menjaga nilai-nilai inti dan budaya Starbucks agar tetap terjaga dan kuat sehingga mampu bertahan dalam kondisi ekonomi terburuk sekalipun pada era krisis ekonomi global tahun 2008. Starbucks memberikan contoh kasus sukses bagaimana sebuah perusahaan berhasil merancang perubahan dan menjaga nilai-nilai inti perusahaan dan secara bersamaan menghadapi krisis. 

Awalnya Howard Schultz hanyalah seorang kepala bagian pemasaran untuk 4 toko milik pabrik kopi kecil yang bernama Starbucks pada tahun 1982. Saat itu belum ada inspirasi mengenai bisnis kopi yang filofosis. Penjualan kopi hanya dilakukan sebatas penjualan rutinitas, tidak banyak memberi arti. Sampai akhirnya dia berkesempatan mengunjungi Italia dan mencoba menikmati kopi di beberapa kedai kopi lokal. Disana dia menemukan ritual yang khas pada kedai-kedai kopi kecil di Italia tersebut. Mulai dari pelayanannya, jalinan komunikasi yang terbentuk, aksi para barista, rasa kopinya, suasananya, dan lain-lain. Karakter dan pengalaman yang dialami selama berada di kedai-kedai kopi lokal Italia itu memberikan dia inspirasi. Dia merasakan dan menyadari bahwa seharusnya seperti inilah sebuah kedai kopi menjual kopi. Menjual kopi seharusnya bukan hanya dianggap sebatas sebuah "pekerjaan" namun sebuah "gairah" yang terasa seperti sebuah "teater" yang memberikan pengalaman yang menyatu dan tak terlupakan.

Setelah kembali ke Amerika Serikat, dia menceritakan pengalaman-pengalaman yang mengispirasi selama di Italia tersebut kepada atasannya, para pendiri Starbucks. Namun sayangnya hal itu dipandang sebelah mata. Akhirnya pada tahun 1986 Howard keluar dari Starbucks dan mencoba mendirikan kedai kopi sendiri yang diberi nama "Il Giornale". Di kedai kopi inilah dia menerapkan inspirasi-inspirasinya. Usahanya terus berkembang.

Enam belas bulan kemudian, ternyata Howard mampu membeli kedai kopi Starbucks, tempat dia dulu bekerja. Dia mempertahankan nama "Starbucks", dengan penuh keyakinan bahwa nama ini mencerminkan apa yang menjadi visinya untuk menciptakan merek nasional untuk kopi yang dia sebut sebagai "Starbucks Experience" dan menjadi "tempat ketiga" bagi semua orang (setelah rumah dan kantor) untuk berinteraksi sosial secara mewah namun terjangkau. Untuk itu Starbukcs harus mampu menawarkan "hubungan emosional" yang baik sebagai komoditas sejatinya, baik dengan mitra maupun dengan pelanggan.

Pengalaman masa kecil juga mengajarkan Howard untuk mendirikan sebuah perusahaan yang benar-benar memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Ayah Howard adalah seorang veteran perang yang tidak berpendidikan dan meskipun ia bangga dengan status tersebut, kenyataannya dia tidak pernah mendapatkan tempat yang layak di dunia. Ia berpindah-pindah pekerjaan. Mulai dari menjadi pengemudi truk, pekerja pabrik, hingga supir taksi. Suatu ketika di tahun 1960-an ia mengalami kecelakaan dan tidak lagi mampu bekerja sehingga mendapatkan pemutusan hubungan kerja sepihak dari perusahaan, tanpa pesangon dan tanpa tunjangan kesehatan. Akhirnya ayah Howard meninggal di tahun 1988 karena kanker paru-paru. Ia tidak memiliki tabungan pensiun. Howard menilai bahwa ayahnya tidak pernah menemukan kepuasan dan makna dalam pekerjaannya. Karena itulah Howard bertekad mendirikan sebuah perusahaan yang tidak sempat dimasuki oleh ayahnya. Suatu perusahaan yang mampu memberikan tujuan dan makna. Karyawan menyukai bekerja di perusahaan itu, dan perusahaan pun harus membalas rasa suka tersebut secara layak.

Sejak tahun 1992 hingga 2000, setelah 15 tahun mengelola Starbucks sebagai CEO, Howard telah mampu membawa Starbucks meraih capaian penting. Gerai Starbucks telah mencapai 2.600 gerai di 13 negara dan pendapatan hampir mencapai 2 miliar dolar. Sejak 1992, pertumbuhan tahunan keseluruhan sebesar 49%. Akhirnya Howard menyadari bahwa dia sedikit merasa bosan, namun tetap bergairah. Diapun memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan CEO. Dewan komisaris dan dirinya mengangkat Orin C. Smith sebagai CEO baru. Sementara Howard sendiri berperan sebagai Chairman dan Chief Global Strategist.

Waktu terus berlalu. Orin dinilai cukup berhasil sebagai CEO. Jumlah gerainya meningkat drastis di seluruh dunia. Setelah masa jabatan Orin habis, dipilihlah Jim Donald sebagai CEO. Rutinitas di Starbucks terus berlanjut. Starbucks terus tumbuh. Bahkan sempat Starbucks merambah dunia hiburan. Penjualan CD kompilasi musik yang dijual di gerai dinilai sukses, bahkan eksperimen music bar juga dibilang cukup berhasil. Penjualan buku-buku juga sukses, banyak yang menjadi best seller dan mengorbitkan nama pengarangnya.

Lambat laun Howard menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak semestinya terjadi Starbucks. Ini disadarinya dalam rutinitas melakukan banyak kunjungan di gerai-gerai Starbucks di seluruh dunia semenjak menjabat sebagai Chairman & Chief Global Strategist. Nilai-nilai Starbuck Experiences mulai hilang. Banyak gerai yang mulai kurang memperhatikan hal ini. Mesin-mesin espresso baru yang terlalu jangkung memang efisien, namun menghalangi pengunjung menikmati aksi para barista. Perhatian untuk menjaga aroma kopi yang khas di gerai-gerai mulai berkurang. Kemungkinan karena cara yang salah dalam menyimpan dan mengirimkan biji kopi. Gerai-gerai lebih memilih mengirim dan menyimpan kopi dalam bentuk yang telah dipanggang dan digiling karena dinilai lebih efisien. Penjualan breakfast sandwich, walau dinilai mampu menaikkan pendapatan setiap gerai yang menjualnya, dinilai tidak sesuai dengan nilai inti Starbucks sebagai penjual kopi. Aroma bahan-bahan sandwich yang menyengat merusak suasana aroma kopi di gerai. Interior gerai-gerai juga mulai kurang diperhatikan, semakin kehilangan kehangatan dan kenyamanan.

Karenanya Howard merasa perlu menyampaikan unek-uneknya tersebut agar Starbuck kembali ke nilai-nilai inti dan tradisi perusahaan untuk menghadirkan Starbuck Experiences yang murni pada setiap gerainya. Uneg-uneg ini awalnya hanya disampaikan di internal perusahaan. Namun ternyata bocor hingga ke publik dan menjadi bahan perbincangan. Howard mengkhawatirkan hal ini akan mempengaruhi hubungannya dengan Jim yang sedang menjabat sebagai CEO. Sampai sejauh ini tidak ada masalah. Namun perbicangan publik terus berlanjut, seolah memiliki kehidupannya sendiri.

Howard meyakini bahwa merek yang terbangun dengan baik merupakan kulminasi dari hal-hal yang tak dapat dirasakan dan mungkin tidak mengalir secara langsung ke kenaikan pendapatan atau profitabilitas perusahaan. Tetapi hal-hal tersebut ikut membentuk teksturnya. Jika hal-hal penting yang tak dapat dirasakan secara langsung ini ditinggalkan, maka akan menimbulkan dampak negatif yang mungkin seringkali terasa kecil dan diabaikan, namun secara kolektif akan sangat merugikan. Apalagi jika dibiarkan dalam jangak panjang. Kondisi Starbucks secara korporasi secara kasat mata mungkin masih relatif baik. Gerai baru terus dibuka. Namun kenyataannya nilai-nilai perusahaan untuk menampilkan "teater kopi" terbaik mulai tergerus oleh alasan efisiensi dan meningkatkan laba per gerai. Walaupun hal ini masih pada level-level yang mungkin masih kecil dan belum terlihat ke permukaan. Namun Howard telah melihat ancaman itu mulai mengusik perusahaan yang didirikannya.

Hari demi hari Howard mearasa semakin frustasi. Dia belum melihat perubahan di Starbucks seperti yang dia inginkan, sesuai unek-unek yang sempat dia sampaikan. Akhirnya terbersit pemikiran untuk kembali menjadi CEO. Setelah berdiskusi dengan banyak orang dan mendapatkan dukungan Dewan Komisaris, Howard kembali menjabat sebagai CEO Starbucks pada Januari 2008.

Howard segera melakukan keputusan-keputusan cepat dalam rangka melaksanakan program transformasi yang dia gadang-gadang. Misalkan melakukan pelatihan kembali 135.000 barista dalam penyiapan minuman espresso, mulai dari cara menyeduh kopi hingga cara steaming susu. Howard segera menghentikan penjualan breakfast sandwich yang dinilainya tidak sesuai dengan nilai murni Starbucks dan aromanya menggangu suasana dan aroma kopi di gerai. Dia juga membuat komitmen untuk menyelenggarakan konfrensi kepemimpinan bagi 8.000 manager gerai dan hampir 2.000 mitra lain.

Starbukcs juga mengeluarkan varian produk kopi baru yang diberi nama Pike Place Roast. Sebagai pelengkapnya, Starbucks mengakuisisi perusahaan kecil yang memproduksi mesin kopi seduh yang bermerek Clover. Juga melakukan kolaborasi ulang dengan perusahaan pembuat mesin espresso, Thermoplan, untuk mengganti mesin espresso yang dibuat sebelumnya yang dinilai terlalu jangkung sehingga menghalangi pandangan pelanggan kepada aksi para barista. Terciptalah mesin espresso generasi berikutnya untuk Starbucks yang diberi nama Mastrena. Starbucks juga mencoba menggali potensi dari jejaring sosial online, membangun komunitas Starbucks di dunia maya.

Starbucks juga semakin memperkuat komitmen untuk menggunakan hanya biji kopi arabika bermutu tinggi yang diambil dari perkebunan yang berwawasan lingkungan dan sosial yang baik. Hal ini dilakukan melalui kerjasama dengan Fairtrade dan Conservation International. Ini dilakukan untuk memastikan biji kopi arabika Starbucks diambil dari yang terbaik dan sekaligus sesuai dengan misi pelestarian lingkungan dan sosial.

Hal yang juga dibenahi adalah penyediaan teknologi yang layak dan terupdate di gerai-gerai, misalkan memperbarui sistem point of sales, penyediaan laptop bagi para manager gerai, memastikan akses internet cukup baik, update aplikasi-aplikasi dan software, dan sejenisnya. Terdapat juga program reward melalui Reward Card bagi pengguna setia Starbucks.

Starbucks menghidupkan kembali komitmen inovasi terhadap kesehatan dan meningkatkan nilai gizi produk. Beberapa produk minuman pokok dan makanan panggang telah berhasil dikurangi kandungan kalori dan lemaknya. Dan lebih jauh lagi, Starbucks mempekenalkan produk baru yang sesuai dengan nilai kesehatan dan kebugaran yang diberi nama Vivanno Nourishing Blends, sebuah versi smoothie Starbucks, berupa minuman kental dan dingin dibuat dari pisang asli ditambah air dadih dan tepung protein, susu sapi/kedelai, dan es. Produk ini menghadapi kendala logistik pengiriman buah sebagai bahan baku yang tidak tahan lama. Selain itu, karena Starbucks lebih fokus pada produk baru lainnnya yang bernama Sorbetto, maka akhirnya kurang mendapat perhatian publik.

Sorbetto merupakan produk minuman manis, lembut, dingin yang lezat. Produk baru dan inovatif ini digadang-gadang menjadi produk penyelamat Starbucks. Namun belakangan ternyata menjadi produk gagal karena dinilai mengandung gula dan kurang sesuai dengan standar kesehatan dan diet. Selain itu ada kendala pada biaya bahan baku yang sementara ini mahal karena harus didatangkan dari Italia. Walau telah ada harapan nantinya biaya bahan baku bisa ditekan ketika telah menggunakan bahan baku lokal, namun di awal peluncurannya tersebut tetap saja memberi tekanan kuat pada keuangan Starbucks dalam penyediaan bahan baku dari Italia tersebut. Selain itu ternyata baru disadari bahwa dibutuhkan investasi besar untuk peyediaan alat dan mesin peracik sorbetto. Volume yang terbuang relatif banyak jika dibandingkan dengan yang disajikan kepada pelanggan. Pembersihan mesin-mesin sorbetto cukup lama sehingga menguras gairah para barista terhadap produk ini.

Kegagalan ini mengajarkan bahwa tidak pernah ada sebutir peluru perak yang dapat menyelamatkan perusahaan dalam sekali tembak.

Kembalinya Howard sebagai CEO di tahun 2008 kemudian juga dibayang-bayangi oleh gejolak ekonomi krisis global 2008 yang mulai berlangsung dan terus berlanjut semakin parah. Masyarakat sedang mengurangi konsumsi harian mereka. Termasuk mengurangi berkunjung ke Starbucks.

Di awal-awal kembalinya Howard sebagai CEO, Starbucks masih belum menunjukkan kenaikan pendapatan perusahaan secara signifikan. Penelitian yang diadakan oleh perusahaan menunjukkan bahwa hal ini bukan disebabkan karena faktor pesaing, namun lebih diakibatkan tata kelola internal Starbucks sendiri. Akhirnya keputusan berat pun diambil. Starbucks harus menutup 600 gerai yang dinilai kurang berprestasi di Amerika Serikat atau 8% dari jumlah total gerasi dan kios yang dioperasikan Starbucks di Amerika Serikat. Temuan yang menarik adalah 70% dari gerai yang akan ditutup tersebut adalah gerai yang baru dibuka dalam 3 tahun terakhir. Hal ini mengajarkan Howard bahwa kesuksesan Starbucks ternyata tidak bisa hanya diukur sebatas dari pertumbuhan jumlah gerai secara total. Namun perlu ada perhatian lebih detail dan rinci hingga pada level per gerai dan aktivitas-aktivitas yang ada di dalamnya.

Laba yang menurun tidak menyurutkan Howard untuk melaksanakan konferensi kepemimpinan Starbucks. Dia memilih New Orleans sebagai lokasi konferensi. Kota yang sedang dalam fase pemulihan pasca mengalami bencana badai. Selain menikmati konfrensi, para peserta dan termasuk Howard sendiri ikut berpartisipasi melibatkan diri menjadi sukarelawan dalam membangun kembali kota New Orleans. Hal ini dinilai mampu menaikkan moral karyawan dan mitra Starbucks dalam menghadapi krisis ekonomi yang sedang berlangsung.

Starbucks juga meluncurkan iklan terbarunya di televisi yang mendorong orang untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum dan Starbucks akan memberi mereka secangkir kopi cuma-cuma setelah melakukan pemilihan. Iklan itu ditayangkan di sela-sela acara TV dengan rating tertinggi. Walau hanya tampil satu kali, tim digital Starbucks segera melanjutkan penayangannya melalui media digital dan media sosial Starbucks. Hal ini meningkatkan reputasi Starbucks yang baik. Upaya ini juga secara positif menjadi sarana berinteraksi dengan pelanggan dengan biaya yang rendah, sehingga membuat orang-orang masih menyadari kehadiran merek Starbucks ditengah-tengah mereka.

Howard menyadari bahwa Starbucks tidak mampu mengendalikan kondisi perekonomian global yang sedang bermasalah. Namun masih dapat mengendalikan semaksimal mungkin terhadap kegiatan operasi. Segala upaya perlu dilakukan agar Starbucks mampu bertahan secara finansial di tengah krisis ekonomi. Starbucks terus menerapkan langkah-langkah untuk memangkas pengeluaran dan membuat proses-proses lebih efisien. Memperbaiki jaringan perdagangan barang, merampingkan operasi gerai, memperbarui sistem IT, menerapkan sistem operasi yang lebih disiplin dan meningkatkan kecepatan pelayanan.

Starbucks juga terus berinovasi. Mengeluarkan produk kopi bubuk kemasan instan yang diberi nawa VIA. Awalnya sempat diragukan, namun ternyata tidak mengecewakan. Starbucks mencoba melakukan kerjasama dengan developer game Blizzard yang memiliki produk game iconic dan populer "World of Warcraft" yang memiliki komunitas fanatik. Namun kerjasama ini dinilai cukup beresiko karena produk Blizzard tersebut dinilai berbeda jauh dengan nilai intisari Starbucks.

Breakfast sandwich yang awalnya ditiadakan mulai dijajakan lagi di gerai Starbucks. Hal ini dilakukan karenan banyaknya tuntutan pelanngan di dunia maya. Tentu saja breakfast sandwich yang disajikan tidak lagi seperti sebelumnya. Bahan-bahannya diperbaiki kualitasnya dan begitu juga dengan cara memasak dan cara penyajiannya, sehingga tidak lagi menimbulkan aroma yang mengganggu aroma kopi dan suasana Starbucks Experience di gerai.

Starbucks juga meluncurkan gerai baru dengan desain yang unik dan tidak akan seperti gerai-gerai lain. Dalam proses percobaan ini gerai tersebut tidak diberi nama Starbucks tetapi diberi nama sesuai nama jalan tempat gerai itu berada dan hanya diberi label "Inspired by Starbucks".

Pada bulan Juni 2009 tanda-tanda keberhasilan transformasi Howard mulai nampak. Desain gerai baru mendapatkan banyak pujian. Mitra-mitra semakin memperhatikan dan mempraktekkan prinsip-prinsip Lean dan semakin efisien dan efektif. Skor keramahan mitra naik 6%. Kecepatan pelayanan naik 10 poin. Kepuasan pelanggan naik 8%. VIA sukses melebihi target yang ditetapkan dan tengah bersiap untuk rencana peluncuran secara nasional. Starbucks meraih peringkat 1 untuk merek paling menarik dalam media sosial. Rencana menghemat biaya berhasil melampaui target per kuartal dan memperbesar margin operasi. Angka komparasi naik dari minus 7% dalam bulan April menjadi minus 4% dalam bulan Juni. Harga saham akhir bulan Juni ditutup pada USD 13,89, naik 41% dibandingkan angka pada awal tahun. Starbuks menduduki peringkat 1 di Zagat rating untuk kopi dengan rasa terbaik.

Howard juga meningkatkan komitmen memberi bantuan kepada petani-petani kopi. Kolaborasi dengan Fairtrade dan Conservation International semakin baik. Di Rwanda, Howard berdiskusi dengan seorang petani wanita lokal, dia bertanya apakah yang menjadi cita-cita bagi keluarganya. Wanita itu menjawab bahwa ia ingin memperoleh pendapatan cukup besar untuk bisa membeli sapi Friesian sehingga dapat memperoleh susu lebih banyak bagi keluarganya. Howard pun memberikan bantuan seokor sapi. Bahkan hal ini berlanjut semakin serius dengan adanya kerjasama antara Starbucks dengan Heifer International, sebuah organisasi nirlaba yang menyediakan bantuan penyediaan hewan ternak bagi penduduk miskin di seluruh dunia.

Pada kuartal ketiga 2009 akhirnya Starbucks mampu meraih laba pertamanya setelah semenjak kuartal pertama 2008 mengalami kerugian. Pendapatan yang diraih adalah 152 juta dolar dibanding rugi hampir 7 juta dolar setahun sebelumnya. Starbukcs mendapat pujian dari The Wall Street Journal atas keberhasilannya mengubah diri selama masa resesi ekonomi global.

Langkah selanjutnya, Howard mengalihkan fokus kepada Starbucks Coffe International. Unit ini meliputi semua gerai dan produk kemasan di luar Amerika Serikat. Howard meyakini kunci kesuksesan Starbucks selanjutnya ada di luar negeri. Berkaca kepada pengalaman-pengalaman sebelumnya bahwa pertumbuhan yang hanya dilakukan demi pertumbuhan adalah sebuah kebijakan yang keliru. Oleh karena itu Starbucks harus tumbuh secara cerdas dan memberikan perhatian sampai kepada hal-hal yang detail. Dalam hubungannya dengan pertumbuhan Starbucks di luar negari, hal-hal detail berarti mempertimbangkan relevansi dengan unsur-unsur lokal setempat dan dengan tanpa melunturkan merek.

Upaya-upaya tersebut mulai dia rasakan. Misalkan pada gerai Starbucks di China. Dia melihat banyak inovasi lokal yang sukses. Diantaranya adalah Black Sesame Green Tea Frappucino. Mirip dengan Green Tea Frappucino yang diciptakan di Jepang. Teh hijau dinilai merupakan bahan pokok dalam budaya China. Sedangkan Wijen (sesame) Hitam adalah bahan yang biasa digunakan dalam masakan China dan dipercaya memiliki khasiat terhadap kesehatan. Dorongan inovasi entrepreneurial semacam inilah yang diharapakan oleh Starbucks ketika tampil di seluruh dunia. Starbucks dimanapun berada harus mengerti kebutuhan pelanggan yang ingin mencicipi produk-produk Starbukcs, bukan sajian yang ada di toko sebelah. Akan tetapi para pelanggan internasional akan senang jika Starbucks menyajikan produk yang telah disesuaikan dengan tradisi mereka.

Kesuksesan Starbucks terus berlanjut. Dalam tahun fiskal 2010 pendapatan Starbucks meningkat menjadi 10,7 miliar dolar US. Pendapatan operasi meningkat dari 857 juta dolar menjadi 1,4 miliar dolar, naik 562 juta dolar dalam tahun fiskal 2009. Marjin operasi dalam setahun penuh yang mencapai 13,3% merupakan marjin operasi paling terkonsolidasi dalam sejarah Starbucks. Melampaui angka tertinggi sebelumnya, 12,3% di tahun fiskal 2005.

VIA juga mencatatkan rekor fantastis hanya dalam 10 bulan di pasaran. Penjualannya mencapai 100 juta dolar. Perlu diketahui, tidak banyak produk eceran (hanya 3%) Amerika Serikat yang mampu menghasilkan penjualan di atas 50 juta dolar di tahun pertamanya. Tapi VIA berhasil melakukannya. Starbucks langsung mengeluarkan beberapa produk varian VIA : decaf, kopi es, VIA dengan citarasa vanila, moka, karamel,dan kayu manis.

Sebagai penutup, berikut aspirasi dan 7 sasaran (atau yang disebut sebagai 7 langkah besar) Starbucks yang digunakan Howard dan tim dalam membawa kesuksesan Starbucks.

Aspirasi : Untuk menjadi perusahaan besar yang tahan lama dengan salah satu merek yang paling diakui dan disegani di dunia, yang terkenal karena mengilhami dan mengembangkan semangat manusiawi.

7 Langkah Besar :
  1. Menjadi otoritas kopi yang tak perlu diperdebatkan : Starbucks berhasil mewujudkan melalui produk Pike Place Roast, penggunaan mesin espresso Mastrena, dan mesin kopi Clover
  2. Merangkul dan mengilhami mitra-mitra kami : Starbucks mempererat hubungan dengan para Mitra dan meyakinkan mereka bahwa mereka harus juga memiliki kepedulian yang sama terhadap Starbucks.
  3. Menyulut ketertarikan emosional dengan para pelanggan kita : Starbucks menggabungkan Reward dan Gold Cards menjadi My Starbucks Rewards. Program ini dinilai berhasil menarik pelanggan mengunjungi gerai-gerai Starbucks lebih sering. Selain itu ada MyStarbucksidea.com sebagai wadah komunitas di dunia maya, tempat Starbucks menampung semua gagasan pelanggan. Starbucks juga aktif di media sosial dan website dan juga meluncurkan aplikasi-aplikasi smartphone yang informatif dan aplikatif. Starbucks bekerjsama dengan Digital Ventures meluncurkan Starbucks Digital Network untuk menghadirkan informasi tentang komunitas dan konten premium gratis bagi pelanggan yang memabawa laptop dan piranti mobile. Melalui Lean Techniques, Starbucks mampu mengefisienkan dan mengefektifkan operasional gerai-gerai dan mendorong partisipasi aktif karyawan dalam melahirkan ide-ide dalam meningkatkan pelayanan dan operasional.
  4. Memperluas presensi global kita sambil menjadikan tiap gerai sebagai sebuah pusat di lingkungan masing-masing: Starbucks Coffe Internasional akan tetap menjadi sumber pertumbuhan di masa mendatang. Ekspansi di China juga merupakan langkah strategis karena China Raya berpotensi menjadi pasar utama kedua Starbucks. Desain dan konsep gerai baru juga terus diperkenalkan, dan memanfaatkan bahan-bahan setempat dan bekerjasama dengan pengrajin lokal untuk menciptakan ruang-ruang yang mampu membuat pelanggan merasa betah. Gerai-gerai mercantile yang merupakan gerai percobaan juga terus memberikan kontribusi positif dalam memberikan ide dan gagasan baru bagi Starbucks.
  5. Menjadi pemimpin dalam membeli bahan baku secara etis dan dalam kepedulian kepada masalah lingkungan : Pengadaan bahan baku, Starbukcs terus meningkatkan kopi yang dibeli yang sesuai dengan C.A.F.E Practice. Starbucks terus membeli kopi dari Faitrade menjadikannya sebagai pembeli kopi Fairtrade terbesar dunia. Di Rwanda sapi-sapi didistribusikan dengan menggunakan penggalangan dana mitra-mitra Starbucks. Melayani Masyarakat merupakan program wajib Starbucks. Dampak lingkungan juga terus diperhatikan untuk memastikan gerai-gerai makin ramah lingkungan.
  6. Menciptakan platform-platform pertumbuhan inovatif yang berharga untuk kopi kita : Kesuksesan Starbucks pada poin ini bisa dilihat dari kesuksesan produk kopi kemasan dengan merek VIA. Selain itu Starbucks juga belajar dari kegagalan produk Sorbetto.
  7. Menciptakan model perekonomian yang berkelanjutan : Reduksi biaya terus dilakukan dalam rangka efisiensi. Jaringan perdagangan barang semakin ditingkatkan untuk memastikan distribusi barang berhasil dikirimkan secara sempurna, tepat waktu, lengkap, tanpa kesalahan ke gerai-gerai Starbucks. Teknologi gerai juga ditingkatkan baik penyediaan laptop yang layak bagi Manager Gerai, perbaikan sistem point of sales, dan penyediaan aplikasi-aplikasi yang mengotomatiskan dan memudahkan proses-proses. Membangun Tim Kepemimpinan Senior merupakan langkah yang perlu dilakukan, dimana dilakukan pertemuan rutin membahas upaya-upaya memajukan perusahaan dengan tetap belajar pada pengalaman masa lalu. Konferensi Analis Dua Tahunan terus diikuti dimana pada 1 Desember 2010 benar-benar menjadi ajang pembuktian kesuksesan Starbucks. Sehari setelahnya saham Starbucks ditutup pada 32,76 dolar, naik hampir 400% dibandingkan Desember 2008.



Friday, August 11, 2017

INDUSTRI ENERGI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI KE-4


Share/Bookmark


Kini kita memasuki era revolusi industri ke-4. Fokus industri pada era ini adalah teknologi IT, Robot, Artificial Intelligence, Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), internet of things, automation, driverless vehicle, dan sejenisnya. Semua teknologi ini terus berkembang pesat dan terus masuk dalam kehidupan sehari-hari kita, baik di tempat kerja maupun di rumah maupun di sosial masyarakat secara umum.

Tidak hanya itu saja, semakin maraknya penggunaan teknologi-teknologi ini dalam kehidupan sehari-hari, semakin tergantung pula manusia pada teknologi-teknologi tersebut. Lihat saja penggunaan komputer, laptop, smartphone dengan berbagai aplikasinya seolah membuat hidup kita semakin tergantung pada teknologi-teknologi tersebut. Pabrik-pabrik manufaktur banyak yang telah melibatkan robot dalam proses manufaktur. Bayangkan saja seandainya komputer, smartphone, atau teknologi-teknologi tersebut tidak berfungsi selama beberapa waktu saja, kita tentu akan kesulitan dalam beraktivitas.

Satu hal yang perlu dipikirkan bersama bahwa semua teknologi-teknologi tersebut membutuhkan energi untuk dapat bekerja. Semakin maraknya penggunaan teknologi-teknologi tersebut, dan semakin banyak tenaga manusia manual yang digantikan oleh tenaga automation, robot, AI, dll, maka semakin banyak juga kebutuhan energi. Jadi semakin berkembangnya teknologi-teknologi revolusi industri ke-4 tersebut seharusnya juga mendorong berkembangnya industri energi untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat. 

Walau misalkan teknologi-teknologi tersebut mampu menyediakan teknologi efisiensi yang semakin baik, sehingga mengurangi konsumsi energi, namun tetap saja kebutuhan energi terutama di negara-negara berkembang akan terus meningkat seiring semakin membengkaknya populasi dunia.

Hanya saja, juga ada tuntutan umat manusia untuk memanfaatkan energi yang ramah lingkungan. Hal ini bukan berarti hanya energi terbarukan saja yang memiliki masa depan cerah di masa depan. Tentu saja dengan catatan energi terbarukan secara konsisten terus berinovasi sehingga semakin ekonomis dan semakin mampu menyediakan energi yang stabil dan kontinyu. 

Namun demikian, bisa saja energi fosil-pun semakin berbenah sehingga pemanfaatannya semakin efisien dan semakin ramah lingkungan. Misalkan semakin berkembanganya teknologi pemanfaatan emisi fosil yang dihasilkan sehingga semakin memberi nilai tambah dan semakin sesuai dengan tujuan lingkungan.

Semua jenis energi yang digunakan sebagai penyokong teknologi-teknologi revolusi industri ke empat haruslah energi yang murah dan terjangkau (affordable), selalu tersedia (available), dapat diakses dengan mudah (accessable), dapat diterima masyarakat pengguna energi (acceptable), dan berwawasan lingkungan (environmental friendly). 

Di era revolusi industri ke-4 sektor energi kemungkinan tidak lagi difokuskan sebagai komoditas penghasil revenue secara langsung, tetapi harus difokuskan penggunaannnya untuk menyokong kegiatan sektor produktif yang bernilai jual tinggi seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, industri kreatif, perdagangan dan jasa, manufaktur, pelayanan publik dan lain-lain yang mendorong masyarakat lebih produktif dan kreatif. Termasuk di dalamnya untuk mendorong dan mendukung pemanfaatan dan pengembangan teknologi-teknologi revolusi industri ke-4.