Jumat, 19 Desember 2014

PENEMPATAN AKAL DAN RASIO DALAM KONSEP ISLAM


Kebangkitan peradaban Eropa atau renaissance merupakan cikal bakal munculnya dominasi pemikiran ala barat. Produk pemikiran barat dijadikan kiblat pemikiran di segala bidang, termasuk di bidang keilmuan. Westernisasi keilmuan menjadikan akal dan rasio serta panca-indera sebagai dasar pencarian nilai kebenaran. Hasilnya, lahirlah berbagai macam paham pemikiran seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relativisme, ateisme, agnostisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme dan liberalisme. Westernisasi ilmu kemudian mengakibatkan terpisahnya hubungan antara nilai-nilai alam dan nilai-nilai Tuhan. Hal tersebut juga telah meniadakan Wahyu sebagai sebagai sumber ilmu karena wahyu dianggap tidak rasional.

Ketika manusia diizinkan mendefinisikan sendiri nilai-nilai kebenaran melalui akal, rasio dan panca inderanya, maka terjadi beragam pendapat, pemahaman dan pemikiran mengenai nilai-nilai kebenaran itu sendiri. Masing-masing manusia memiliki interpretasi terhadap nilai-nilai kebenaran. Nilai kebenaran menjadi relatif dan subjektif.

Selain itu, masing-masing nilai kebenaran tersebut akan saling berebut pengaruh di tengah-tengah masyarakat. Ketika ada suatu nilai kebenaran yang condong lebih dijadikan acuan, tak lama kemudian muncul teori-teori kebenaran baru yang meruntuhkan teori-teori kebenaran sebelumnya. Dengan kata lain nilai-nilai kebenaran menjadi tidak pernah konsisten.

Pada kondisi yang lain, nilai-nilai kebenaran yang begitu beragam akhirnya menjadi sumber konflik di tengah masyarakat. Masyarakat berkubu-kubu dan berkutub-kutub terhadap masing-masing nilai kebenaran yang dianut. Bahkan lebih jauh, lahirlah kalangan fanatik dan ekstrimis dari masing-masing kutub pemikiran.

Pada kondisi inilah semangat pluralisme dan hak keberagaman mulai didengang-dengungkan. Masyarakat dipaksa hidup berdampingan dengan nilai-nilai kebenaran lain yang berbeda dan sama sekali tidak bisa dipandang sebagai nilai kebenaran bagi dirinya. Bahkan dianggap cenderung mengancam secara dekstruktif bagi nilai kebenaran yang dianutnya. Masyarakat berada dalam kecemasan karena tidak lagi mampu menyikapi perbedaan yang semakin kontras.

Di sisi lain, konsep berpikir yang didasarkan rasio dan panca indera memaksa semua nilai kebenaran harus dikuantitatifkan. Semuanya harus berupa angka-angka dan data-data statistik. Semua harus terukur dalam suatu perangkat alat ukur yang representatif. Karena hal inilah westernisasi keilmuan enggan memasukkan perkara gaib dalam rana pembahasannya. Termasuk di dalamnya sumber-sumber keilmuan yang berasal dari wahyu Tuhan. Hal gaib tidak bisa diukur, tidak bisa diindera. Kehidupan akhirat tidak bisa diteliti. Termasuk juga mahluk-mahluk gaib seperti malaikat dan jin. Tidak bisa dilihat secara nyata.

Keilmuan yang berasal dari wahyu lalu dianggap sebatas dogma agama yang tidak dikehendaki berada dalam ruang lingkup keilmuan modern. Agama tidak dianggap sebagai science menurut pemikir barat. Ilmu agama kemudian dikerdilkan dari yang awalnya bersifat umum menjadi bersifat khusus dan eksklusif. Ilmu agama mulai digusur dari struktur keilmuan modern. Ilmu agama seolah-olah semakin dijadikan ilmu khusus yang hanya dipelajari di pesantren atau lembaga pendidikan agama. Dan semakin lama semakin tidak diakui sebagai sumber ilmu oleh masyarakat modern.

Pada saat ilmu agama telah dilemahkan pengaruhnya, liberalisme mencoba masuk seolah-olah hendak menyelamatkannya dari keterpurukan. Para liberalis menginginkan agar nilai-nilai agama disesuaikan dengan konsep berpikir barat. Ilmu agama dibedah menggunakan akal dan rasio sehingga memunculkan interpretasi-interpretasi baru yang sangat berbeda dengan interpretasi para fundamentalis. Melalui olah pikir para liberalis, agama tampak sebagai sesuatu yang fresh dan visioner.

Hal ini cukup berbahaya, karena pada akhirnya para liberalis akan berupaya untuk merekonstruksi ilmu agama berdasarkan akal dan rasio semata. Bahkan mereka hendak menghapus dan merevisi nilai-nilai agama yang dianggap tidak merepresentasikan nilai-nilai kebenaran sesuai pencapaian akal dan rasio mereka. Para liberalis hendak menyandarkan penafsiran beragama dalam konsep kebebasan berpikir yang sebebas-bebasnya.

Dengan demikian, perlu kita tinjau ulang kembali konsep keilmuan yang sedang berjalan ini. Apakah Agama telah dianggap menjadi konsep usang sehingga membutuhkan sentuhan cara berpikir liberalis untuk tetap bertahan di era modern. Atau mungkin cara berpikir orang modern yang mulai salah dalam menyikapi permasalahan agama.

Pembahasan mengenai hal tersebut harus dimulai dari konsep keimanan. Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah “Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan”.

Arti iman dalam Al-Qur’an maksudnya membenarkan dengan penuh Keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hambaNya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Dan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang Ia firmankan dengan sebenar-benarnya.

Arti Iman dalam Hadits maksudnya pembenaran batin. Rasullullah menyebutkan hal-hal lain sebagai iman, seperti akhlak yang baik, bermurah hati, sabar, cinta Rasul, cinta sahabat, rasa malu dan sebagainya.

“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)


Rasulullah bersabda:
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, kepada hari akhir dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Jadi hal inilah yang membedakan orang yang beriman dengan yang tidak. Orang beriman mengawali proses berpikirnya dengan membenarkan dengan hatinya terlebh dahulu mengenai wahyu yang diturunkan kepada para Nabi, sekalipun belum sampai nalar akal dan rasionya. Kita harus mempercayai sepenuh hati bahwa apa yang dikabarkan dan difirmankan oleh Allah adalah kebenaran yang tidak bisa ditawar lagi.

Jadi bukanlah orang beriman jika kemudian manusia hanya mendasarkan pencarian kebenaran pada akal dan rasio serta panca indera semata. Seperti kita ketahui bersama, kemampuan akal dan rasio serta panca indera memiliki keterbatasan-keterbatasan secara alami. Akal dan rasio tidaklah bisa secara 100 persen objektif dalam menilai sesuatu.

Proses kuantifikasi data juga tidak bisa melepaskan dirinya dari berbagai asumsi dan pengabaian sejumlah parameter. Hal ini menunjukkan kelemahannya. Seperti disebutkan di awal, semenjak tolak ukur kebenaran adalah akal dan rasio, kebenaran menjadi relatif. Kerangka berpikir manusia menjadi lebih subjektif. Bisa dikatakan bahwa apa yang dihasilkan oleh akal dan rasio hanyalah suatu dugaan-dugaan atau prasangka-prasangka belaka.

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus [10]:36)

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (QS. An Najm [53]:28)

Dengan mengetahui hal ini, maka sudah selayaknya orang yang beriman mengikuti Apa yang telah diperintahkan Allah di dalam Al Quran dan dicontohkan Rasulullah dalam sunnah Rasul. Keduanya merupakan kebenaran yang bersumberkan dari Wahyu Ilahi.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al Baqarah [2]:147)

Dan Kami turunkan (Al Qur'an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur'an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (QS. Al Isra' [17]:105)

Selain itu, Al Quran dan As Sunnah merupakan dua sumber nilai kebenaran yang terjamin kemurniannya dan keotentikannya hingga hari kiamat nanti.

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al-Hijr : 9)

Dengan menyandarkan nilai kebenaran hanya kepada satu sumber yaitu dari Allah Subhanallahu Wata'ala, maka sebenarnya umat manusia bisa bersatu padu dalam satu nilai kebenaran yang hakiki. Namun pada kenyataannya manusia memilih jalan yang berbeda-beda karena dorongan keinginan dan hawa nafsunya yang lebih kuat dibandingkan keinginannya untuk mengikuti Al Quran dan As Sunnah secara menyeluruh dan total.

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al Baqarah [2]:213)

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. Al Maidah [5]:48)

Dari sini dapat dikatakan, mereka yang hanya mengikuti rasio dan akal semata tanpa menyandarkannya kepada Al Quran dan As Sunnah hanyalah membangun pondasi pemikiran yang rapuh dan lemah. Mereka membangun dasar-dasar yang tidak kokoh dan cenderung berubah-ubah dan tidak konsisten. Karenanya akan muncul perselisihan diantara mereka yang semakin sengit. Pada akhirnya hal ini dapat mengantarkan mereka ke dalam jurang kebinasaan.

Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. Al Mu'minun [23]:71)

Dengan demikian, wahyu harus ditempatkan diatas akal dan rasio, apalagi panca indera. Hanya wahyu yang memungkinkan keilmuan benar-benar bersumber dari kebenaran mutlak, yaitu dari Allah Azza Wa Jalla secara langsung. Sedangkan akal dan panca indera tidak bisa selalu memurnikan dirinya dari berbagai gangguan dan bias. Entah ditunggangi oleh syahwat dan hawa nafsu atau memang keterbatasan-keterbatasan kemampuan yang secara alami dimiliki oleh akal dan rasio serta panca indera. Akal seringkali tercampur dengan syahwat dan hawa nafsu. Subjektivitas akal bukanlah jalan yang baik dalam merumuskan kebenaran. Panca indera memiliki keterbatasan-keterbatasan secara alami.

Oleh karena itu pentinglah kiranya bagi setiap orang-orang yang beriman untuk menempatkan kebenaran yang bersumber dari wahyu di atas pembenaran rasio, akal, dan panca indera. Karena dengan menyandarkan pemikiran kita pada nilai-nilai kebenaran yang ada di dalam Al Quran dan As Sunnah kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an). (QS. An Nisa' [4]:174)

Sekalipun demikian, bukan berarti konsep berpikir yang dilandaskan keimanan yang diperkenalkan Islam kemudian dipandang sebagai belenggu terhadap akal dan rasio. Justru keimanan dalam bingkai Islam inilah yang akan menyelamatkan akal dan rasio manusia dari jurang kebinassaan. Akal dan rasio akan menemukan tempat bersandar yang kokoh yang memang telah menjadi fitrahnya.

Dewasa ini kita telah melihat banyak penemuan ilmu pengetahuan yang bersesuaian atau mendukung informasi yang ada dalam Al Quran dan Al Hadis. Hal ini telah menunjukkan bahwa wahyu merupakan sumber ilmu yang hakiki, dan merupakan kebenaran mutlak. Tidak terbantahkan. Beruntunglah kita yang hidup di era science dan teknologi ini. Ilmu pengetahuan telah membukakan jalan bagi umat manusia modern untuk bisa mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dari kebenaran Al Quran dan Al Hadis.

Dengan demikian seorang Muslim sejati haruslah juga bersemangat untuk mempelajari science dan teknologi (dengan tetap mengutamakan ilmu agama)sesuai kemampuannya. Melalui hal ini diharapkan semakin terbukalah jalan-jalan hikmah kepada Islam, sehingga semakin kuatlah keimanan seorang Muslim dan semakin jelaslah kebenaran wahyu Allah dalam Al Quran.

"…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali 'Imraan, 3:190-191)