Selasa, 09 Januari 2024

Al Quran Mengkoreksi Kitab-Kitab Para Nabi Sebelumnya Yang Banyak Dipalsukan Oleh Ahli Kitab



Sebagai kaum muslimin, sudah sepatutnya mempercayai (mengimani) segala yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Baik dalam kitab suci Al Quran maupun Hadis-Hadis Nabi. Serta memahami kedua sumber ilmu tersebut haruslah sesuai dengan apa yang dipahami oleh para Sahabat Nabi dan generasi awal umat Islam. 

Kita harus meyakini bahwa Al Quran adalah mukjizat terbesar yang akan terus berlaku hingga akhir zaman (kiamat). Al Quran tidak mengenal expired. Termasuk juga terjemahannya dan penafsirannya yang sesuai dengan pemahaman para Sahabat Nabi serta ulama-ulama generasi awal (termasuk 4 imam mahdzab) dan telah final di era itu. Sehingga tidak terbuka lagi untuk revisi dan penafsiran baru.

Allah sendiri menyampaikan bahwa Al Quran akan terjaga kelestariannya/ keotentikannya/ keasliannya, sesuai yang disampaikan dalam Al Quran:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

''Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.'' (Surat Al Hijr (15) ayat 9).

Al Quran dibuat mudah untuk dihafal sehingga banyak penghafal Al Quran. Seandainya semua kitab Al Quran dimusnahkan, maka Insya Allah akan mudah ditulis kembali. Seandainya ada yang mencoba memalsukan Al Quran, Insya Allah akan mudah dideteksi dan harus direvisi.   

Ini juga berimplikasi kepada terjemahan dan tafsirnya. Sehingga jika ada ulama di era ini atau kemudian yang menyampaikan sebuah tafsir Al Quran maka haruslah dikomparasi kesesuaiannya dengan tafsir Al Quran ulama-ulama terdahulu.

Lalu, bagaimana kedudukan Al Quran terhadap kitab-kitab Para Nabi sebelumnya. 

Kita sebagai umat Islam harus mengimani bahwa terdapat para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad. Mereka semua mengajarkan Islam. Mereka mengajak dan mengajakan umatnya untuk beriman hanya kepada 1 Tuhan yaitu Allah dan mengimani bahwa para Nabi dan Rasul adalah utusan Allah. Dan diantara mereka ada yang diturunkan kitab-kitab suci kepada mereka untuk disampaikan kepada umatnya. 

Diantaranya, kitab-kitab yang wajib diimani adalah: Kitab Zabur (Nabi Daud), Kitab Taurat (Nabi Musa) dan Kitab Injil (Nabi Isa). 

Namun demikian, sebagaimana diinfokan dalam Al Quran, kitab-kitab tersebut banyak diselewengkan/dipalsukan/ditafsirkan secara salah oleh para ahli kitab, setelah para Nabi yang membawa kitab tersebut meninggal dunia.

وَاِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya (ketika membaca) Alkitab agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Alkitab. Padahal, itu bukan dari Alkitab. Mereka berkata, “Itu dari Allah.” Padahal, itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, sedangkan mereka mengetahui. (Surat Ali 'Imran Ayat 78).

Sebagian umat mengikuti para ahli kitab yang melakukan penyelewangan terhadap ajaran Nabi dan Rasul tersebut. Sehingga muncullah agama-agama baru yang keluar dari ajaran Islamnya Para Nabi dan Rasul. 

Namun demikian, diantara para ahli kitab ada juga yang tetap memegang teguh ajarannya yang asli, mengajarkannya kepada umatnya, sehingga ketika Nabi Muhammad diutus dan menyampaikan kitab Al Quran, merekapun berbondong-bondong memeluk Islam dan mengikuti ajaran Nabi Terakhir yakni Nabi Muhammad. 

وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya di antara Ahlul Kitab ada yang beriman kepada Allah dan pada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka berendah hati kepada Allah dan tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka itu memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Cepat perhitungan-Nya. (Surat Ali 'Imron Ayat 199).

Sehingga dapat dikatakan, Al Quran diturunkan kepada Nabi Terakhir, yakni Nabi Muhammad, yang terjaga keotentikannya, dalam rangka mengkoreksi kitab-kitab para Nabi sebelumnya yang banyak diselewengkan oleh para ahli kitab.  



Minggu, 04 Juni 2023

SEJARAH AGAMA-AGAMA ANTARA PEMAHAMAN ISLAM DENGAN PEMAHAMAN PARA SEJARAWAN & BUDAYAWAN

Dalam tinjauan sosial & budaya, pemahaman kita akan selalu digiring untuk meyakini bahwa agama-agama merupakan produk dari budaya secara lokal & historis. Sehingga, Agama Islam akan selalu dianggap sebagai agama yang secara relatif baru muncul belakangan, dari tanah Arab. Namun demikian, bagaimanakah Islam sendiri memandang sejarah dari agama-agama yang ada di dunia ini?

Dalam persepsi agama Islam, sejak awal penciptaan manusia, sebenarnya itulah titik awal manusia sudah beragama Islam. Dimulai dari manusia pertama dan sekaligus nabi pertama, yakni Nabi Adam 'alaihi sallam beserta istrinya, Siti Hawa. Mereka sudah beragama Islam sejak awal dan diajarkan semua pengetahuan dan kebijaksanaan serta tata cara beribadah ketika masih berada di surga. 

Nabi Adam menyembah hanya kepada Allah. Beliau mendapat misi untuk turun ke muka bumi sebagai khalifah atau pengelola bumi dan isinya. Bersama Siti Hawa, beliau memiliki anak dan cucu yang tentunya Beliau didik mereka untuk juga bertauhid atau menyembah hanya kepada Allah. 

Jadi sejak awal kemunculan dan penciptaan manusia, sebenarnya mereka beragama Islam, yang dipimpin langsung oleh Nabi sekaligus manusia pertama, Yakni Nabi Adam 'Alaihi Sallam.

Setelah Nabi Adam wafat, kemudian berlalu beberapa generasi, berlalu beberapa zaman, mulai ada penyimpangan-penyimpangan. Yang awalnya manusia menyembah hanya kepada Allah, mulailah mereka dipengaruhi setan-setan agar menyembah lainnya. Menyembah orang-orang soleh yang dikultuskan sebagai dewa-dewi. Menyembah alam dan benda-benda keramat. Lahirlah bentuk pemujaan-pemujaan kepada selain Allah. Muncul banyak berhala yang disembah.

Ada juga yang dipengaruhi oleh pemikiran atau pemahaman sesat, sehingga muncullah konsep-konsep agama baru yang melenceng dari jalan tauhid. Muncul konsep-konsep agama baru berbasis pemikiran akal manusia, yang dicampur-adukkan dengan ajaran tauhid, dan ujung-ujungnya akhirnya menyimpang dari ajaran Tauhid. 

Kemudian diutuslah kembali para Nabi dan Rasul untuk meluruskan mereka dan mengembalikan mereka ke jalan agama tauhid, yakni menyembah hanya kepada Allah. Ada yang ikut kepada seruan Nabi & Rasul tersebut, kembali pada ajaran tauhid, ajaran Islam. Tapi ada juga yang justru memusuhi Nabi dan Rasul. Bahkan ada diantara Nabi & Rasul yang diusir dan dibunuh. Lalu terus diutus kembali Nabi & Rasul. Dan begitulah seterusnya. 

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar : “Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi? Rasulullah menjawab: Nabi ada 120.000 orang. Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Rasul? Rasulullah menjawab: Rasul ada 313 orang, mereka sangat banyak” (HR. Ibnu Hibban no.361, didhaifkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Tahqiq Shahih Ibnu Hibban [2/79]).

Jadi total ada 120 ribu Nabi dan 313 Rasul yang diutus kepada umat manusia, sejak awal penciptaan manusia, Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Salam sebagai Nabi & sekaligus Rasul penutup. Semua Nabi & Rasul diutus dengan misi untuk mengembalikan manusia pada fitrah asalnya agar menyembah hanya kepada Allah, agar mereka mengikuti jalan Islam, jalan yang lurus, jalannya para Nabi & Rasul. Namun dalam Islam, yang wajib diimani dan diambil hikmah kisahnya hanyalah 25 Nabi & Rasul sebagaimana disebutkan kisah-kisah mereka dalam Al Quran. 

Jadi menurut pemahaman agama Islam, agama-agama selain Islam yang muncul, baik sebelum Nabi Muhammad maupun sesudahnya, adalah bentuk penyimpangan dari ajaran agama Islam, agama tauhid, yang dibawa oleh para Nabi & Rasul sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.  

Proses munculnya agama-agama selain agama Islam tersebut, salah satunya sebagaimana disebutkan dalam Hadis yang diriwatkan oleh Ibnu Abbas yang artinya, 

“Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya, berhala-berhala yang dahulu diagungkan oleh kaum Nabi Nuh, di kemudian hari tersebar di bangsa 'Arab. Wadd menjadi berhala untuk kamu Kalb di Daumatul Jandal. Suwa' untuk Bani Hudzail. Yaquts untuk Murad dan Bani Ghuthaif di Jauf tepatnya di Saba`. Adapun Ya'uq adalah untuk Bani Hamdan. Sedangkan Nashr untuk Himyar keluarga Dzul Kala'. Itulah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kaum itu untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama orang-orang saleh itu. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, sesudah itu, setelah ilmu tiada, maka berhala-berhala itu pun disembah," (Lihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Sahihul Bukhari, [Kairo, Dāru Thauqin Najah: 1422 H), juz XII, halaman 261).

Proses munculnya penyembahan berhala di Jazirah Arab sebelum Nabi Muhammad diutus juga berawal dari proses yang sama. Awalnya warga jazirah Arab mengikuti ajaran agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Mereka mendirikan ka'bah. Namun setelah berlalu beberapa generasi, mulai muncul bid'ah. 

Terdapat orang-orang dari keturunan Nabi Ismail yang ketika keluar dari Tanah Haram untuk bepergian, mereka membawa batu dari Tanah Haram. Ketika mereka singgah di sebuah tempat, mereka meletakkan batu itu, kemudian bertawaf (mengelilingi) batu tersebut sebagaimana mereka bertawaf di Baitullah Mekkah. Mereka juga berdoa kepada Allah. Saat melanjutkan perjalanan, batu itu terus dibawa serta.

Setelah berlalu beberapa generasi, serta sejalan dengan pergantian zaman, muncullah generasi jahil yang menganggap batu-batu itu adalah tuhan yang mampu mendekatkan mereka kepada Allah Ta’ala Rabb Baitullah Al-Haram. Inilah cikal-bakal penyembahan berhala oleh anak cucu Ismail dari keturunan Adnan.

Sampai pada akhirnya, pada generasi-generasi selanjutnya, ada seorang tokoh yang bernama Amr bin Luhay yang membawa berhala dari Syam ke Mekkah dan menempatkan berhala tersebut di area Ka'bah. 

Ibnu Hajar mengutip catatan dari ahli sejarah, Ibnu Ishaq, yang artinya, “Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa sebab penyembahan Amr bin Luhay atas berhala adalah ketika Amr bin Luhay pergi menuju Syam. Saat itu di sana ada Kaum Al-Amalik yang menyembah berhala. Amr bin Luhai pun meminta agar Kaum Amalik memberinya salah satu berhala yang mereka sembah dan membawa berhala tersebut masuk ke Kota Makkah. Amr kemudian mendirikan berhala itu di Ka’bah, berhala itu yang kelak dinamai Hubal,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Fatḥul Bārī Syarḥu Saḥīḥil Bukhari, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 547).

Dengan demikian, sebagai seorang muslim haruslah meyakini dengan iman yang kuat, bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Agama Islam, adalah agama tauhid, agama yang mengajarkan untuk menyembah hanya kepada Allah semata. Agama ini telah dibawa serta oleh manusia pertama sekaligus nabi pertama, yakni Nabi Adam 'alaihi sallam. Kemudian diserukan ulang oleh para Nabi dan Rasul kepada setiap umat pada setiap zaman, yang total ada 120-an ribu orang nabi & rasul, hingga akhirnya disempurnakan oleh Nabi & sekaligus Rasul penutup, yakni Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Salam. Itulah yang harus diyakini oleh kaum muslimin. 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”   (Al Quran Surat Ali Imron ayat 19).

Selebihnya, menyikapi agama-agama selain Islam tentunya kita diajarkan harus saling menghormati, saling toleransi, bersikap adil, dan menunjukkan ahlak yang baik, serta mendoakan mereka agar mendapatkan dan menerima hidayah Allah. 

Kita bisa menyampaikan satu ayat, dua ayat, satu hadis, dua hadis, semampu kita, sebagai upaya dakwah. Tidak ada paksaan dalam agama Islam. Selebihnya hidayah Allah adalah hak preogratif Allah dan pilihan masing-masing manusia. 

Jika Allah menghendaki, bisa saja semua umat manusia dikondisikan menerima semua ajaran Para Nabi & Rasul, sehingga hanya akan ada 1 umat, satu agama yang sama, yakni Islam. Namun demikian, berhubung dunia ini pada hakikatnya adalah ujian bagi manusia, dan manusia diberikan kehendak bebas memilih, maka akan menjadi suatu keniscayaam bagi umat manusia di dunia ini untuk membentuk masyarakat yang hanya memeluk 1 agama yang sama.

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, (Al Quran Surat Al Maidah ayat 48). 


Wallahu A'lam Bish Shawab.

Sabtu, 13 Mei 2023

TITIK TEMU AGAMA DAN FILSAFAT



Apa yang saya pahami dari selama ini mempelajari agama Islam dan filsafat, sepertinya dapat diketahui bahwa diskusi antara para ahli filsafat murni dengan keilmuwan Islam tidaklah akan pernah dapat dipertemukan dengan mudah. Hal ini diakibatkan ada perbedaan konsep dan referensi antara keduanya. Memang terdapat irisan-irisan antara Filsafat dan Agama yang dapat bersepakat tapi ada juga irisan yang tidak akan pernah dapat dipertemukan. 

Bagi filsafat, cara berpikir bebas yang menyandarkan sepenuhnya kepada kemampuan akal dan pikiran manusia, nalar logis, dan sistematis adalah suatu metode berpikir filsafat yang baku. Referensi mereka adalah pendapat tokoh-tokoh filsafat sebelumnya yang akan terus dikaji, didukung atau dipertentangkan secara terus menerus. 

Bagi keilmuwan Islam cara berpikir filsafat seperti ini tidaklah dikehendaki. Para pemikir Islam percaya bahwa akal dan rasio manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Akal dan pikiran manusia adalah ciptaan Tuhan. Sehingga sehebat apapun pikiran manusia, tidak akan pernah melampui yang menciptakannya. 

Oleh karena itu manusia membutuhkan sumber keilmuwan bersifat dogmatis dari wahyu ilahi yang disampaikan melalui para Nabi dan rasul. Hal ini dalam rangka memandu manusia agar menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) kehidupan di bumi secara bijak. Juga untuk menyelamatkan jiwa dan pikiran manusia dari cara berpikir yang merusak (bisikan setan) atau minimal mencegah manusia dari pemikiran yang menimbulkan kesia-siaan. 

Bagi keilmuwan Islam rujukan utamanya adalah Al Quran dan Al Hadis. Metode berpikirnya adalah  berupaya mengamalkan Al Quran dan al Hadis secara benar sesuai dengan pemahaman dan praktek Nabi Muhammad, Khulafaur Rasydin dan Para Sahabat. 

Hal yang terutama diatur secara dogmatis tentu saja adalah dalam ritual tata cara Ibadah. Seperti apa syarat dan rukum ibadah. Dalam Islam juga diajarkan konsep-konsep mendasar tentang cara memahami kehidupan ini. Mulai dari bagaimana kehidupan berawal, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana berakhirnya. 

Dalam tataran kehidupan sehari-hari diatur juga beberapa praktek halal dan haram. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dalam keilmuwan science, kita juga diberi gambaran bagaimana fenomena-fenomena alam terjadi, bahkan sebelum tersedia teknologi untuk menelitinya. 

Kesemua hal tersebut, merupakan hal-hal yang haruslah diterima secara gamblang sebagai bentuk keimanan. Inilah perbedaan pengetahuan berbasis keimanan dengan pengetahuan berbasis akal dan rasio semata. Seyogyanya akal dan rasio haruslah tunduk pada keimanan.

Akan tetapi masih terdapat ranah yang dapat disepakati bersama, antara Filsafat dan Agama Islam. Terutama dalam tataran keilmuwan sains dan teknologi. 

Bagi filsafat, keilmuwan yang sifatnya sains dan teknologi merupakan produk dari filsafat itu sendiri. Ada juga yang berpendapat, sains tumbuh bersama Filsafat. Sebelumnya, diantara keduanya tidak terdapat sekat dan tidak terpisahkan. 

Namun karena sains telah menjadi kebenaran yang bersifat eksak dan cenderung memiliki lingkup terbatas & spesifik, terspesialisasi, sementara filsafat harus terus berputar dan bergerak karena bersifat universal (menyeluruh), maka sains harus dipisahkan dari filasafat. 

Sains adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dari suatu pengalaman empiris. Berbentuk penelitian yang objektif atau dari pengujian menggunakan metode ilmiah. Bersifat sistematis dan logis. Usaha sistematis dengan metode ilmiah terus dilakukan untuk pengembangan dan penataan pengetahuan. Sains harus dapat dibuktikan dengan penjelasan dan prediksi yang teruji. Semua upaya sains diarahkan untuk meningkatkan pemahaman manusia tentang alam semesta dan dunianya sehingga dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti yang dapat digunakan oleh manusia untuk pengembangan kehidupan sehari-hari. 

Ruang lingkup sains meliputi segala sesuatu yang bisa diterima oleh indra manusia sehingga sains memang merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki cakupan yang begitu luas. Sains bersifat universal yang artinya bisa dilakukan dimana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja sehingga bersifat dapat direplikasi. Sains / Ilmu pengetahuan termasuk ke dalam ilmu pengetahuan yang dinamis sehingga dapat berubah seiring dengan berkembangnya zaman.

Bagi Islam juga ditekankan pentingnya sains dan teknologi, terutama yang dapat memudahkan umat Islam mempermudah ibadah, tapi tidak mengubah syarat & rukun ibadah. Misalkan, teknologi pesawat, dapat mempermudah dan mempercepat jamaah haji sampai di kota suci Mekkah dan Madinah. Speaker masjid membantu memperluas jangkauan suara Adzan. Dalam kehidupan sehari-hari, Islam juga mendukung pengembangan sains dan teknologi, selama hal tersebut tidak bersifat mengganggu ibadah dan keimanan.

Keilmuwan Islam juga menyampaikan sains yang bersumber dari wahyu Ilahi (Al Quran) misalkan: 
  • Peristiwa mumi Firaun yang jasadnya dijaga lestari berdasarkan Firman Allah dalam Al Quran, dan pada akhirnya jasad mumi Firaun tersebut baru ditemukan di abad 20
  • Mekanisme pembuahan sel telur oleh sel sperma dan perkembangan janin di dalam kandungan dijelaskan dalam Al Quran padahal di era turunnya Al Quran belum ada teknologi untuk mengamati hal tersebut.
  • Fenomena bertemunya air laut dan air tawar dan tidak mengalami pencampuran dijelaskan dalam Al Quran padahal di era turunnya Al Quran belum ada teknologi penyelaman ke dalam laut untuk mengamati hal tersebut.
  • Teori bumi bulat dan peristiwa terjadinya siang dan malam.
  • Teori penciptaan alam semesta.   
  • dll 

Jadi, antara Filsafat dan keilmuwan Islam dapat bertemu di area Sains/Ilmu Pengetahuan. Filsafat, melalui akal dan rasio dan metode berpikir nalar, logis sistematis, terus mendorong pengembangan sains. Teori gravitasi Newton berkembang menjadi teori relativitas gravitasi Einstein. Teori atom berkembang menjadi teori medan kuantum. Sains kemudian berkembang membentuk spesialisasi cabang-cabang. Ada fisika, kimia, biologi, ilmu sosial, politik, dan lain sebagainya. Filsafat juga terus berkembang membentuk berbagai aliran, cabang, dan metode. 

Agama mendorong pengembangan sains yang dapat membantu kehidupan sehari-hari umat manusia. Termasuk dalam mempermudah kegiatan beribadah umat Islam. Namun tetap menjaga agar pengembangan sains terkontrol dan tidak menggangu syarat dan rukun ibadah, tidak menggangu pemahaman agama Islam yang benar dan juga tidak mengganggu keyakinan dan keimanan. Pada dasarnya, Sains jika dikembangkan secara benar, maka akan semakin membuktikan kebenaran Wahyu Ilahi dan meningkatkan keimanan.

Namun demikian Filasafat sendiri, tidaklah bisa dibiarkan sendiri tanpa pengawasan. Seperti dijelaskan di depan, akal dan rasio adalah cipataan Tuhan. Akal dan Rasio, yang merupakan andalan Filsafat, memiliki kekurangan-kekurangan dan rawan mendapat pengaruh bisikan setan. Sehingga, akal dan rasio haruslah tetap dijaga bersih dan murni dengan cara selalu dikontrol oleh pengetahuan dan pemahaman agama Islam yang benar.   

BENARKAH ASAL MUASAL FILSAFAT DARI BANGSA YUNANI KUNO

Bagi pemahaman cendikiawan barat, filsafat dan ilmu pengetahuan dilahirkan di Yunani. Tokoh filsafat pertama adalah Thales. Dia mengemukakan pendapat bahwa segala sesuatu berasal dari air. Ia dikenal karena berhasil meramalkan terjadinya gerhana matahari, yakni pada tahun 585 SM. 

Tidak dipungkuri, peradaban-peradaban yang lebih kuno dari Yunani seperti peradaban Mesir dan Bailonia telah mengenal tulis-menulis serta ilmu teknik pengelolaan bangunan, astronomi, pertanian, material, logam dan sebagainya. Peninggalan-peninggalan mereka secara nyata dan secara arkeologis masih bisa dilihat dan ditemukan hingga sekarang. 

Namun  demikian, peninggalan peradaban Yunani lah yang dianggap merupakan cikal bakal kebangkitan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan serta budaya intelektualitas. Para tokoh-tokoh filsafat Yunanilah yang dianggap memberikan sumbangsih pertama bagi ilmu pengetahuan modern, baik yang sifatnya teoritis maupun yang praktis, dengan segala kekurangannya. 

Para pemikir Yunani Kuno dianggap telah berhasil mengembangkan pola pikir yang mengedepankan cara berpikir bebas, kritis, dan logis dan mengejarkannya secara terbuka kepada masyarakat. Mereka melakukan spekulasi bebas tentang asal muasal kehidupan, hakikat dunia dan tujuan hidup. Cara berpikir yang mereka perkenalkan dianggap menjadi awal kebangkitan pola pikir yang melepaskan diri dari belenggu pemikiran skeptis dan pasif yang menguasai masyarakat di era itu dan di era sebelumnya. Inilah yang dianggap membedakan peradaban Yunani dengan peradaban manusia di era-era sebelumnya yang cenderung dipengaruhi pola pikir mistis yang dogmatis dan turun-temurun. 

Hasil utama dari produk pemikiran para cendikiawan Yunani kuno yang patut diakui adalah merekalah yang menemukan matematika, ilmu pengetahuan, filsafat dan menuliskan sejarah. 

Menurut pandangan saya, memang sepertinya ada kecenderungan untuk menganggap bahwa bangsa Yunanilah yang berupaya dipatenkan sebagai sumber utama kebangkitan filsafat dan ilmu pengetahuan serta intelektualitas. Hal ini karena dari semua peninggalan peradaban kuno yang dapat ditemukan, barangkali hanya peninggalan dari bangsa Yunani Kunolah yang dinilai cukup lengkap & representatif sehinga paling memungkinkan untuk ditarik kesimpulan seperti itu.

Peninggalan mereka, terutama dalam bentuk tulisan-tulisan dan catatan-catatan, cukup lestari dan meninggalkan petunjuk-petunjuk yang cukup lengkap serta masih dapat dipahami secara mudah dan dikaji secara komprehensif hingga era sekarang. 

Barangkali hal demikian dapat terjadi karena sedikit banyaknya terdapat kontribusi dari peradaban muslim yang mana di era Abbasiyah dan Andalusia, para cendikiawan muslim banyak menerjemahkan karya tulis yunani kuno, sehingga karya tersebut terus lestari. Sementara di era itu, Yunani dan Eropa masih tenggelam dalam era dark age. Sekiranya para cendikiawan muslim tidak melakukannya, mungkin karya-karya tokoh Yunani Kuno juga akan lenyap dan tenggelam di era dark age bangsa Eropa. Pada era selanjutnya, ketika peradaban eropa mulai bangkit, merekalah yang kemudian menggandrungi karya-karya tulis Yunani Kuno. 

Melalui kondisi yang demikian, maka tidak heran jika kemudian kesimpulan yang paling dapat disepakati bersama oleh para pemikir adalah bahwa bangsa Yunani kunolah yang mengawali filsafat dan ilmu pengetahuan. 

Akan tetapi saya tidak bisa serta merta mengiyakan hal ini. Berhubung saya masih mengganggap bahwa kesimpulan yang demikian, "bahwa bangsa Yunani yang mengawali filsafat dan ilmu pengetahuan", akan cenderung mengabaikan sumbangsih tokoh-tokoh pada peradaban-peradaban di era sebelumnya. 

Masih sangat memungkinkan jika di era sebelum Yunani Kuno banyak tokoh-tokoh yang jauh lebih hebat dari para filsuf Yunani kuno. Hanya saja, sayangnya, belum ditemukan peninggalan-peninggalan tertulis dan arkeologi yang lengkap & representatif,  untuk mengemukakan teori tersebut secara nyata dan dapat diterima semua pihak. 

Sebagai seorang yang beriman, tidaklah salah jika kita mempercayai suatu sumber kebenaran yang secara dogmatis memang harus selalu kita yakini kebenarannya yang mutlak.  Orang beriman percaya terhadap sumber pengetahuan yang berbasis wahyu ilahi yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul. 

Dalam pemahaman Islam dipercaya terdapat para Nabi dan Rasul semenjak era manusia pertama, yakni Nabi Adam alaihi salam, yang entah Beliau hidup di tahun berapa ribu atau juta sebelum masehi, hingga di era nabi & rasul terakhir & penutup, yakni Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam pada tahun 570-632 M. Kaum muslimin diinfokan bahwa total ada 124 ribu orang Nabi & Rasul, tetapi yang wajib diimani cukup 25 orang Nabi & Rasul. 

Angka tersebut belum dihitung dengan pengikut/sahabat Nabi & Rasul yang setia ataupun para penentangnya, yang menjadi tokoh yang berkontribusi besar pada umat (kontribusi positif atau negatif) setelah masing-masing Nabi & Rasul mereka wafat.

Bagi pengikut setia Nabi & Rasul, tentunya mereka memberikan sumbangsih tenaga dan pemikiran demi menjaga syariat para Nabi & Rasul terus lestari hingga diutus Nabi & Rasul baru. Sedangkan bagi tokoh yang menentang ajaran Nabi & Rasul, akan memberikan sumbangsih pemikiran yang menjauhkan umat dari ajaran asli para Nabi & Rasul. 

Kaum muslimin haruslah mempercayai bahwa Nabi Adam telah dibekali pengetahuan yang lengkap terhadap segala sesuatu. Beliau dibekali semua ilmu pengetahuan dan ilmu kebijaksanaan oleh Allah ketika masih di surga. Hal ini karena Beliau hendak diutus ke muka bumi sebagai pengelola kehidupan di bumi. Bahkan para malaikat pun tidak bisa menyaingi keilmuwan yang dimiliki Nabi Adam. Hanya Iblislah yang tidak bisa menerima hal itu, sehingga ia enggan menerima Nabi Adam. Sehingga bisa diyakini bahwa induk semua ilmu pengetahuan adalah berasal dari manusia pertama, yakni Nabi Adam.

Pada era Nabi & Rasul selanjutnya, terdapat penambahan keilmuwan sesuai dengan situasi dan kondisi umat dimana Nabi & Rasul tersebut diutus. 

Misalkan pada Nabi Idris, Allah mengajarkan ilmu tulis menulis dengan pena, ilmu jahit-menjahit, matematika, ilmu astronomi, dan lain sebagainya. 

Nabi Nuh diajarkan membuat kapal besar yang mampu bertahan dari terjangan banjir, tsunami, badai.

Kepada Nabi Sulaiman, Allah memberi mukjizat yang membuat Beliau bisa memahami bahasa binatang dan menundukkan bangsa Jin sehingga mereka bekerja untuk Nabi Sulaiman. Bahkan kita harus mengimani bahwa kerajaan Nabi Sulaiman merupakan kerajaan dengan peradaban tertinggi yang pernah ada di dunia ini yang tidak akan pernah ada tandingannya, baik kerajaan sebelumnya maupun sesudahnya. 

Dan pada akhirnya, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi diturunkan kepada Nabi Muhammad, melalui mukjizat kitab Al Quran yang mukjizatnya akan tetap berlaku hingga akhir zaman. 

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa semua ilmu pengetahuan dan inspirasi berpikir bangsa Yunani kuno kemungkinan besar juga merupakan hasil dari pengamatan dan penyerapan mereka terhadap peradaban-peradaban sebelumnya, yang merupakan produk dari peninggalan peradaban yang dibangun para Nabi & Rasul serta para pengikutnya yang hidup di era sebelum bangsa Yunani kuno. 

Jadi, sekali lagi, hanya karena peninggalan bangsa Yunani kuno yang berupa karya-karya tulis yang cukup lengkap dan lestari, maka kemudian diarahkan bahwa bangsa Yunanilah yang paling hebat. Dalam tulisan-tulisan mereka, bisa diketahui cara berpikir mereka yang spekulatif berdasarkan nalar yang logis dan sistematis. Hal ini dianggap menjadi cikal bakal pemikiran intelektual yang mampu melepaskan diri dari cara berpikir dogmatis yang membentuk masyarakat di era itu dan era sebelumnya. 

Akan tetapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa para Nabi & Rasul adalah sorang ahli filsafat. Jika definisi filsafat adalah produk pemikiran dari akal dan pikiran secara murni, nalar spekulatif, logis dan sistematis, yang melepaskan diri dari segala pemikiran dogmatis turun-temurun, maka tidak demikianlah para Nabi & Rasul yang mendapat pengetahuan dan kebijaksanan melalui wahyu ilahi. 

Saya juga tidak bisa menyatakan bahwa sebelum Yunani Kuno tidak ada tokoh-tokoh (misalkan di Mesir & Babylonia) yang memiliki pemikiran seperti filsuf Yunani Kuno dan menyebarkan pemahamannnya. Kemungkinan besar ada. Namun bukti sejarah dan peninggalan pemikiran mereka barangkali belum ditemukan, belum lengkap, atau tidak akan pernah ditemukan sama sekali karena memang telah musnah tanpa jejak. 


Jumat, 12 Mei 2023

PANDANGAN ARISTOTELES TERHADAP NEGARA YANG IDEAL

Kita mengenal Aristoteles sebagai salah seorang filsuf terkemuka di era Yunani Kuno. Ia dilahirkan tahun 384 SM. Pada masa mudanya ia menjadi murid Plato. Pada sekitar tahun 343 SM ia menjadi guru bagi Aleksander yang kelak menjadi raja Makedonia termasyhur, penakluk Eropa, Asia dan Afrika. 

Salah satu pemikiran Aristoles yang menarik adalah pandangannya tentang sistem Negara dan Masyarakat yang ideal. Di era itu, Yunani, tempat tinggal Aristoteles, menganut sistem Negara Kota. Bagi Aristoteles sistem negara ini adalah sistem yang ideal. Sebuah wilayah seluas wilayah perkotaan yang memiliki sistem pemerintahan dan mandiri. Walaupun, tak lama kemudian, sistem negara kota ini menjadi sistem yang kadaluwarsa setelah bangkitnya kekaisaran Makedonia di bawah Aleksander dan dilanjutkan kekaisaran Romawi.

Aristoteles merinci pandangannya mengenai negara kota yang ideal. Ia menyebutkan bahwa Negara amatlah penting dan dibutuhkan karena negara adalah jenis komunitas tertinggi yang bertujuan mencapai kebaikan tertinggi. Komunitas pembentuk negara dimulai dari keluarga. Keluarga dibangun dari relasi antara laki-laki dan perempuan, tuan dan budak, yang bersifat alamiah. 

Sejumlah keluarga bergabung membentuk sebuah desa. Beberapa desa membentuk negara. Walau negara muncul lebih belakangan daripada keluarga, namun hakikatnya, negara lebih utama daripada keluarga, dan lebih penting daripada individu. Keselurahan (negara) lebih utama daripada bagian-bagiannya. 

Seperti halnya sebuah organisme. Tangan merupakan bagian dari organisme. Tangan dapat melakukan fungsinya, misalkan memegang sesuatu, selama tubuh organisme itu masih hidup dan tidak hancur. Serupa dengan itu, individu tak akan dapat memenuhi tujuannya jika ia tidak menjadi bagian dari negara.

Bagi Aristoteles, ukuran wilayah suatu negara haruslah tidak terlampau besar, karena wilayah yang besar akan cenderung tidak terurus dengan baik. Ukuran wilayah negara yang ideal haruslah cukup kecil sehingga negara tersebut bisa berswasembada dan juga bisa melakukan aktivitas ekspor & impor untuk memenuhi kebutuhannya. 

Ukuran negara juga harus bisa memungkinkan seluruh wilayah negara dapat diawasi dari sebuah puncak bukit. Ukuran wilayah negara juga harus memungkinkan seluruh penduduk warganegara tersebut dapat saling mengenal perangai satu sama lain. 

Penduduk warga negara idealnya haruslah seorang yang memiliki waktu senggang yang banyak. Mereka juga sebaiknya tidak berprofesi sebagai tukang, pedagang, apalagi petani. Profesi demikian dianggap tidak terhormat. 

Aristoteles tidak menyukai profesi pedagang karena dianggapnya profesi tersebut tidak berkolerasi dengan kekayaan walau perdagangan bersangkut-paut dengan kepemilikan terhadap uang. Bagi Aristoteles kekayaan sejati adalah kepemilikan atas tanah dan rumah, bukan uang. Sementara perdagangan hanyalah kepemilikan terhadap uang. Apalagi proses menambah kepemilikan uang tersebut dilakukan melalui praktek riba. Ia sangat membenci hal ini.

Warga negara hendaknya adalah para pemilik harta benda atau aset. Sedangkan pengelola aset, misalkan petani, haruslah kaum budak. 

Bagi Aristoteles perbudakan adalah adil dan dibenarkan. Sejak lahir, sejumlah orang sudah ditentukan untuk takluk sedangkan yang lain ditentukan berkuasa. Para budak sebaiknya bukan dari bangsa Yunani, namun berasal dari ras yang lebih rendah dan semangatnya lebih lemah. 

Negara haruslah memiliki sistem pemerintahan yang bertujuan mencapai kebaikan bagi seluruh warga negaranya, bukan kebaikan untuk individu atau kelompok. Ada tiga sistem pemerintahan yang baik: monarki, aristrokasi, dan konstitusional (polity). Ada juga tiga sistem pemerintahan yang buruk: tirani, oligarki, dan demokrasi. Ada juga yang merupakan sistem pemerintahan campuran. 

Suatu sistem pemerintahan dapat disebut baik atau buruk, ditentukan oleh kualitas etika para pemegang kekuasaan, bukan oleh bentuk sistemnya. Bagi Aristoteles, monarki lebih baik daripada aristrokasi, dan aristrokasi lebih baik daripada konstitusional. Sedangkan dilihat dari sistem pemerintahan terburuk, maka tirani lebih buruk dibandingkan oligarki dan oligarki lebih buruk dibandingkan demokrasi. Karena Aristoteles menilai kebanyakan pemerintahan cenderung berwatak jahat maka diantara bentuk pemerintahan yang ada, demokrasi adalah yang terbaik.

Jumat, 05 Mei 2023

SISTEM SOSIAL & POLITIK BANGSA SPARTA

Cukup menarik penggambaran tentang bangsa Sparta sebagaimana disampaikan dalam buku Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat. Ia mengutip dari berbagai sumber. Beberapa literatur yang digunakan mengarah kepada sumber langsung dari catatan-catatan yang ditulis tokoh yang hidup sezaman dengan era keemasan Bangsa Sparta maupun sesudah kemundurannya, diantaranya dari Plutarchus, Heredotus, dan Aristoteles. 

Selama ini kebanyakan kita mengenal tentang bangsa Sparta dari kisah-kisah dan cerita-cerita yang digambarkan dalam film Hollywood seperti film berjudul "300" yang mengisahkan peperangan bangsa Sparta dengan Persia dalam pertempuran Thermopylae tahun 480 SM. Juga dari Film berjudul "Troy" yang dibintangi Brad Pitt, Eric Bana, Orlando Bloom. Menceritakan perang antara Bangsa Sparta dengan Bangsa Troy, yang merupakan kisah yang bersumber dari puisi karya sastrawan Yunani, Homer.  Walaupun tentu saja kisah-kisah film-film tersebut telah dibumbui cerita fiksi.

Kembali ke penggambaran Bangsa Sparta yang ditulis dalam buku Bertrand Russel, Bangsa Sparta dikenal sebagai bangsa yang digdaya pada masanya, dari sisi militer, yakni mulai sekitar abad 8 hingga abad 3 SM. Bangsa ini mendiami kawasan Laconia atau Lacadaemon. Berlokasi di kawasan Peloponessus bagian tenggara. Di wilayah negera Yunani sekarang. Awalnya Bangsa Sparta berasal dari Bangsa Doria dari utara yang menaklukkan daerah tersebut, merampas tanah dan menjadikan penduduk aslinya sebagai budak. Lalu muncullah negeri Sparta sebagai negara militer yang kuat dan digdaya, bersama tetangga mereka negeri Athena.

Sistem sosial dan pemerintahannya sering dikaitkan dengan seorang tokoh yang bernama Lycurgus yang telah melakukan perjalanan ke berbagai negeri seperti di Kreta, Ionia & Mesir, lalu kembali ke Yunani, ke bangsa Sparta, dan merumuskan Undang-Undang untuk bangsa Sparta. 

Lycurgus menetapkan aturan-aturan mengenai pengaturan warga negara, pendidikan, sistem sosial, ekonomi, dan sistem pemerintahaan yang menurutnya ideal bagi Bangsa Sparta. Sistem peraturan yang dirumuskannya bersifat militeristik, penuh keteraturan dan keseimbangan, berpusat pada kepentingan negara dan tidak ada kekuasaan absolut yang dipegang satu raja.

Dalam aturan mengenai kewarganegaraan, ditentukan bahea setiap anak yang baru lahir akan diperiksa oleh kepala suku. Mereka yang sehat akan diasuh dan mereka yang cacat akan dibunuh. 

Selanjutnya setiap anak laki-laki akan dimasukkan ke sekolah asrama. Mereka dilatih agar berwatak keras, disiplin, tahan derita dan memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Anak-anak ini akan dididik dengan pengetahuan dan teknik militer hingga umur 20 tahun. Tujuannya adalah menghasilkan serdadu unggulan yang mengabdi sepenuhnya pada negara Sparta.

Selepas berusia lebih dari 20 tahun, setiap pemuda mulai diikutkan tugas-tugas militer. Mereka boleh menikah tapi masih tetap harus tinggal di asrama hingga berumur 30 tahun. Baru setelah berumur 30 tahun mereka akan dianggap sebagai warga negera penuh. 

Orang-orang Sparta menaklukkan daerah-daerah sekitarnya. Dari kegiatan penaklukkan tersebut, mereka mendapat wilayah tanah dan para budak. Budak-budak disebut helot. 

Tanah-tanah dibagi oleh negara kepada setiap warga negara Sparta secara merata dengan luas yang sama, disebut tanah persil. Tanah persil ini dikelola oleh para Helot. Hasil pengelolaan tanah, sebagian diserahkan kepada pemilik tanah yakni Bangsa Sparta, sesuai yang ditetapkan. Sisanya bisa dinikmati oleh para Helot. Khusus kaum bangsawan Sparta, mereka memiliki tanah yang lebih luas. Tanah dan para helot ini tidak boleh diperjual belikan, namun bisa diwariskan. 

Jadi dengan sistem demikian, bangsa Sparta tidak perlu bekerja. Mereka fokus pada tugas negara berupa kegiatan-kegiatan militer yang wajib bagi mereka. Pertanian dan perekonomian dijalankan oleh para Helot. 

Sistem perekonomian bangsa Sparta cukup tertutup dan cenderung mengisolasi diri. Mereka hidup sederhana, seragam, sama rasa dan sama rata, jauh dari kesan kemewahan, khas kehidupan para serdadu militer di barak, yang ditetapkan standarnya oleh Negara. 

Mereka telah mencukupkan kehidupan mereka dari hasil pengelolaan tanah mereka yang dikelola oleh para budak Helot. 

Mata uang bangsa Sparta terbuat dari besi, sehingga kurang menarik minat para pedagang luar untuk berdagang dengan bangsa Sparta. Pada era itu alat tukar global adalah emas dan perak. 

Sementara itu, kaum perempuan bangsa Sparta memiliki kedudukan istimewa di era itu jika dibandingkan kaum perempuan bangsa lain di era yang sama. Kaum perempuan bangsa Sparta diwajibkan juga menjalani pelatihan-pelatihan jasmani, seperti senam, atletik, dan lain sebagainya. Diharapkan para kaum perempuan bangsa sparta memiliki fisik dan mental yang kuat sehingga dapat melahirkan anak-anak yang sehat dan kuat. 

Sistem pemerintahan Bangsa Sparta cukup unik. Terdapat 2 raja yang berasal dari dua keluarga berbeda. Mereka menjabat secara turun-temurun. Kedua raja saling melengkapi. Keduanya juga menjadi anggota Dewan Sesepuh. 

Dewan Sesepuh ini merupakan kelompok orang pilihan Bangsa Sparta, terdiri dari 30 orang, termasuk 2 raja. Dewan Sesepuh diangkat oleh seluruh warga negara dan jabatan ini bersifat seumur hidup. Semua anggotanya adalah kalangan bangsawan. Dewan sesepuh bertugas mengadili perkara-perkara kriminal dan menyiapkan bahan-bahan kebijakan yang akan diajukan ke Majelis.

Lembaga yang disebut Majelis merupakan lembaga yang beranggotakan semua warga negara Sparta. Majelis tidak dapat mengusulkan apapun. Mereka hanya bisa memilih ya atau tidak terhadap usulan yang diajukan kepada mereka.

Salain itu terdapat pula lembaga yang disebut sebagai Lima Ephor. Lembaga yang terdiri dari lima orang yang dipilih oleh semua warga negara melalui proses undian. Lima Ephor ini memiliki kewenangan sebagai mahkamah sipil tertinggi yang bertugas mengawasi kinerja Kedua Raja yang berkuasa. 

Pada era keemasannya, sistem negara bangsa Sparta sangat dikagumi karena stabilitas politik internalnya. Namun dari sisi lain, karena bangsa Sparta merupakan bangsa yang fokus pada kegiatan militer, maka hampir tidak ada warisan dan sumbangsih mereka terhadap peradaban dunia dalam bentuk suatu pemikiran ilmu pengetahuan, juga karya seni sastra. Berbeda dengan negara tetangganya, Athena.

Bangsa sparta cenderung dikenal dalam aktivitas-aktivitas militer yang tercatat dalam sejarah. Misalnya dalam pertempuran Thermopylae (480 SM), tentara Sparta berjumlah 300 orang menghadapi pasukan Persia. Dan kemudian dilanjutkan dengan perang Plataea yang berhasil membawa bangsa Sparta pada kemenangan atas bangsa Persia.

Dalam kurun waktu yang panjang, Bangsa Sparta dikenal merupakan bangsa yang tak tertaklukkan di daratan. Hingga pada tahun 371 SM, akhirnya mereka dikalahkan bangsa Thebes dalam perang Leuctra. Hal ini kemudian menjadi akhir dari kedigdayaan sejarah militer mereka. 

Sebagai negeri yang bertetangga dengan negeri Athena, bangsa Sparta dinilai cenderung bersikap individualis. Selama kawasan yang didiaminya aman, daerah Peloponessus, maka Bangsa Sparta cenderung acuh tak acuh terhadap kondisi yang terjadi Athena dan sekitarnya. Upaya-upaya penyatuan Bangsa-Bangsa Yunani juga sering mengalami jalan buntu, karena sikap bangsa Sparta yang dinilai picik dan apatis. 

Fokus mereka pada bidang militer cenderung hanya mencetak generasi serdadu yang memiliki pola pikir seragam dan homogen. Mereka bukan generasi yang memiliki ragam keterampilan dan pola pikir seperti halnya negara tetangga mereka, Athena. Karenanya bangsa Sparta hampir tidak dikenal memiliki dan mewariskan karya-karya serta kesan-kesan bagi peradaban dunia. Selain kisah-kisah heroik dalam peperangan dan pertempuran semata. Namun keseragaman pola pikir bangsa Sparta dan sistem yang ketat dan diatur negara, memberikan stabilitas politik internal yang tinggi di negari tersebut, membedakannya dengan negara-negara di sekitarnya yang penuh gejolak pasang surut kehidupan dan tidak henti-hentinya terlibat dalam revolusi kekuasaan berulang kali. 

Kondisi yang demikian membuat banyak tokoh yang menyaksikan langsung era kejayaan bangsa Sparta memberikan apresiasi dan pujian bagi sistem Sparta. Namun setelah era kejayaanya berakhir, banyak juga tokoh yang mengkritik sistem negara Sparta tersebut. 

Jumat, 21 April 2023

Mengapa Penentuan Hari Idul Fitri Bisa Berbeda? Memahami Hisab dan Rukyatul Hilal


Setiap menjelang akhir Ramadan, masyarakat Indonesia sering kembali membicarakan pertanyaan yang sama: kapan Hari Raya Idul Fitri?

Kadang Idul Fitri dirayakan secara bersamaan antara pemerintah, ormas Islam, dan mayoritas masyarakat. Namun, pada tahun tertentu, penetapan Idul Fitri bisa berbeda. Ada yang merayakan lebih awal, ada yang mengikuti keputusan pemerintah setelah sidang isbat, dan ada pula yang mengikuti keputusan organisasi keagamaannya masing-masing.

Perbedaan ini sering menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa umat Islam bisa berbeda dalam menentukan hari raya? Apakah perbedaannya karena dalil yang berbeda? Apakah karena perbedaan metode? Atau karena perbedaan kriteria dalam membaca posisi bulan?

Agar tidak mudah saling menyalahkan, kita perlu memahami bahwa perbedaan penentuan awal dan akhir bulan Hijriah umumnya berkaitan dengan metode ijtihad dalam memahami dalil, ilmu falak, dan praktik penetapan kalender Islam.

Kalender Hijriah Berbasis Peredaran Bulan

Kalender Hijriah adalah kalender yang berbasis pada peredaran bulan. Satu bulan Hijriah dapat berumur 29 atau 30 hari. Karena itu, penentuan awal bulan seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah berkaitan erat dengan posisi bulan baru atau hilal.

Hilal adalah bulan sabit muda yang muncul setelah terjadinya ijtimak atau konjungsi. Dalam praktiknya, penentuan awal bulan tidak hanya melihat apakah ijtimak sudah terjadi, tetapi juga mempertimbangkan apakah hilal sudah mungkin terlihat atau benar-benar terlihat.

Di sinilah muncul perbedaan pendekatan antara metode hisab dan rukyatul hilal.

Apa Itu Metode Hisab?

Hisab adalah metode perhitungan astronomis untuk mengetahui posisi bulan, matahari, dan kemungkinan kemunculan hilal. Melalui hisab, awal dan akhir bulan Hijriah dapat diperkirakan jauh hari sebelumnya.

Metode hisab menggunakan data dan rumus astronomi. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perhitungan posisi benda langit dapat dilakukan dengan tingkat ketelitian yang semakin baik.

Kelebihan metode hisab adalah membantu membuat kalender lebih terencana. Misalnya, jadwal awal Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari penting Islam dapat diperkirakan sejak jauh hari. Ini berguna untuk administrasi, pendidikan, transportasi, libur nasional, dan perencanaan masyarakat.

Namun, dalam praktik fikih, tidak semua pihak menggunakan hisab sebagai dasar tunggal penetapan awal bulan. Sebagian ulama dan ormas tetap mensyaratkan rukyatul hilal sebagai dasar utama.

Apa Itu Metode Rukyatul Hilal?

Rukyatul hilal adalah metode pengamatan langsung terhadap hilal pada akhir bulan Hijriah. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dibantu alat optik seperti teleskop.

Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan yang sedang berjalan disempurnakan menjadi 30 hari.

Metode rukyatul hilal merujuk pada hadis Rasulullah ﷺ:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

Artinya:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika hilal tertutup dari kalian, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dasar kuat bagi ulama yang menekankan pentingnya rukyatul hilal dalam penetapan awal dan akhir Ramadan.

Mengapa Bisa Berbeda?

Secara sederhana, perbedaan penentuan Idul Fitri dapat terjadi karena beberapa hal.

Pertama, perbedaan metode. Ada pihak yang lebih menekankan hisab, ada yang menekankan rukyatul hilal, dan ada pula yang menggabungkan keduanya.

Kedua, perbedaan kriteria. Dalam metode hisab pun terdapat beberapa kriteria. Misalnya, apakah cukup hilal sudah berada di atas ufuk, atau harus memenuhi tinggi dan elongasi tertentu agar dianggap mungkin terlihat.

Ketiga, perbedaan lokasi pengamatan. Kondisi geografis memengaruhi kemungkinan terlihatnya hilal. Hilal mungkin terlihat di suatu wilayah, tetapi tidak terlihat di wilayah lain.

Keempat, perbedaan cuaca dan kondisi langit. Awan, hujan, polusi cahaya, kabut, atau gangguan atmosfer dapat membuat hilal sulit diamati.

Kelima, perbedaan otoritas penetapan. Dalam suatu negara, biasanya pemerintah memiliki mekanisme resmi penetapan hari raya. Namun, beberapa ormas juga memiliki metode dan keputusan masing-masing.

Dengan memahami faktor-faktor ini, masyarakat dapat melihat bahwa perbedaan Idul Fitri bukan sekadar “siapa benar dan siapa salah”, tetapi berkaitan dengan perbedaan pendekatan ilmiah dan fikih.

Hisab dan Rukyat Tidak Selalu Harus Dipertentangkan

Sering kali hisab dan rukyat dipahami seolah-olah saling bertentangan. Padahal, keduanya dapat saling membantu.

Hisab dapat membantu menentukan kapan dan di mana hilal mungkin diamati. Hisab juga dapat membantu memetakan posisi bulan, tinggi hilal, elongasi, umur bulan, dan lokasi pengamatan yang lebih potensial.

Sementara itu, rukyat memberikan konfirmasi observasional terhadap kemunculan hilal di lapangan.

Dengan kata lain, hisab dapat menjadi alat bantu yang sangat penting, sedangkan rukyat menjadi metode pengamatan yang memiliki dasar kuat dalam praktik umat Islam sejak masa awal.

Dalam konteks modern, pendekatan yang memadukan hisab dan rukyat dapat membantu mengurangi perbedaan, selama kriteria yang digunakan disepakati bersama.

Praktik pada Masa Rasulullah ﷺ

Pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat, metode yang digunakan adalah rukyatul hilal. Hal ini sesuai dengan hadis yang memerintahkan umat Islam untuk berpuasa dan berbuka berdasarkan terlihatnya hilal.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

Artinya:

“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi. Kami tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu seperti ini dan seperti ini.”
Beliau mengisyaratkan bilangan 29 dan 30.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sering dijadikan dasar oleh ulama yang menekankan bahwa penetapan awal bulan dilakukan dengan rukyat atau menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari jika hilal tidak terlihat.

Namun, para ulama kemudian berbeda pendapat dalam menyikapi perkembangan ilmu hisab. Sebagian tetap menjadikan rukyat sebagai dasar utama. Sebagian lain menerima hisab dengan kriteria tertentu. Ada pula yang menggunakan hisab sebagai alat bantu untuk mendukung rukyat.

Perbedaan ini termasuk wilayah ijtihad, sehingga perlu disikapi dengan ilmu dan adab.

Perbedaan Hisab dan Rukyat dalam Bahasa Sederhana

Agar lebih mudah dipahami, perbedaan hisab dan rukyat dapat dianalogikan seperti ini.

Hisab seperti menghitung jadwal kedatangan sebuah kapal berdasarkan data posisi, kecepatan, dan arah perjalanannya. Dengan perhitungan yang akurat, kita bisa memperkirakan kapan kapal sampai.

Rukyat seperti berdiri di pelabuhan dan melihat langsung apakah kapal itu sudah tampak di cakrawala.

Keduanya memiliki fungsi. Perhitungan membantu membuat perkiraan. Pengamatan membantu memastikan kondisi nyata di lapangan.

Dalam penentuan hilal, hisab membantu mengetahui posisi bulan secara astronomis. Rukyat membantu memastikan apakah hilal terlihat atau tidak berdasarkan kondisi aktual.

Perbedaan Wilayah Barat dan Timur

Dalam kalender berbasis bulan, wilayah yang lebih barat cenderung memiliki peluang lebih besar melihat hilal lebih awal dibanding wilayah timur. Hal ini karena ketika bumi berputar, wilayah barat mendapatkan waktu tambahan setelah matahari terbenam sehingga posisi bulan bisa lebih tinggi dan lebih mudah terlihat.

Ini berbeda dengan penentuan hari berdasarkan matahari, seperti waktu harian dan waktu shalat. Dalam sistem matahari, wilayah timur lebih dahulu mengalami matahari terbit dan pergantian waktu.

Karena itu, dalam penentuan kalender Hijriah, aspek geografis sangat penting. Hilal yang tidak terlihat di wilayah timur bisa saja terlihat di wilayah barat pada hari yang sama.

Mengapa Pemerintah Mengadakan Sidang Isbat?

Di Indonesia, pemerintah biasanya mengadakan sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Sidang ini mempertemukan unsur pemerintah, ahli falak, ormas Islam, dan pihak-pihak terkait.

Tujuan sidang isbat adalah mengambil keputusan resmi untuk kepentingan nasional. Keputusan ini penting karena berkaitan dengan hari libur, pelayanan publik, aktivitas ibadah, dan ketertiban masyarakat.

Meskipun demikian, dalam praktiknya masih ada ormas yang menggunakan metode dan kriteria tersendiri. Hal ini dapat membuat keputusan mereka berbeda dari pemerintah.

Perbedaan tersebut sebaiknya tidak menjadi sumber perpecahan. Selama masing-masing pihak memiliki dasar ijtihad dan tidak saling menghina, masyarakat perlu menyikapinya dengan dewasa.

Sikap Bijak Menghadapi Perbedaan Idul Fitri

Perbedaan penentuan Idul Fitri dapat menjadi ujian kedewasaan umat. Jangan sampai perbedaan metode membuat sesama Muslim saling merendahkan.

Ada beberapa sikap yang perlu dijaga.

Pertama, menghormati keputusan yang diambil berdasarkan ilmu dan ijtihad.

Kedua, tidak mencela ormas, ulama, atau masyarakat yang berbeda dalam penetapan hari raya.

Ketiga, mengikuti keputusan yang diyakini paling kuat atau mengikuti otoritas resmi sesuai pertimbangan masing-masing.

Keempat, menjaga persaudaraan Islam meskipun berbeda hari merayakan Idul Fitri.

Kelima, tetap mengutamakan akhlak, adab, dan ukhuwah.

Perbedaan Idul Fitri memang dapat menimbulkan kebingungan, tetapi tidak seharusnya menimbulkan permusuhan.

Perlu Dialog Ilmiah yang Berkelanjutan

Agar perbedaan dapat semakin dikurangi, diperlukan dialog ilmiah yang berkelanjutan antara pemerintah, ormas Islam, ahli falak, astronom, dan para ulama.

Dialog ini perlu dilakukan dengan semangat mencari titik temu, bukan saling mengalahkan. Semua pihak perlu mendiskusikan kriteria hilal, validitas laporan rukyat, akurasi hisab, batas wilayah hukum, serta maslahat persatuan umat.

Jika kriteria bersama dapat disepakati, maka peluang perbedaan dapat diperkecil. Masyarakat juga akan lebih mudah memahami keputusan yang diambil.

Namun, sekalipun suatu saat masih ada perbedaan, umat Islam tetap harus menjaga adab. Persatuan tidak selalu berarti semua pendapat harus sama, tetapi bisa juga berarti mampu berbeda tanpa saling merusak.

Kesimpulan

Perbedaan penentuan Hari Idul Fitri biasanya terjadi karena perbedaan metode dan kriteria dalam menentukan awal bulan Syawal. Ada yang menggunakan hisab, ada yang menggunakan rukyatul hilal, dan ada yang memadukan keduanya.

Metode hisab menggunakan perhitungan astronomis untuk mengetahui posisi bulan. Metode rukyatul hilal menggunakan pengamatan langsung terhadap hilal. Keduanya memiliki peran dan dapat saling mendukung.

Dalam praktik Rasulullah ﷺ dan para sahabat, rukyatul hilal menjadi dasar penetapan awal dan akhir Ramadan. Namun, perkembangan ilmu falak membuat sebagian ulama dan ormas menggunakan hisab dengan kriteria tertentu.

Perbedaan ini termasuk wilayah ijtihad. Karena itu, masyarakat sebaiknya menyikapinya dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati.

Yang paling penting, Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah Ramadan. Jangan sampai hari yang seharusnya menjadi momen syukur, silaturahmi, dan mempererat ukhuwah justru berubah menjadi perdebatan yang merusak persaudaraan.

Semoga umat Islam di Indonesia semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan semoga para ulama, ahli falak, ormas, serta pemerintah dapat terus berdialog untuk mencari titik temu terbaik.

Wallahu a‘lam.