Selasa, 10 Desember 2019

Bunga Kehidupan Dunia: Jangan Tertipu Keindahan yang Sementara


Dunia sering tampak indah di mata manusia. Harta, jabatan, popularitas, rumah yang nyaman, kendaraan yang bagus, bisnis yang sukses, tubuh yang sehat, keluarga yang terlihat sempurna, dan berbagai kesenangan lainnya bisa membuat hati mudah terpikat.

Namun, Allah mengingatkan bahwa keindahan dunia hanyalah sementara. Dalam Al-Qur’an, keindahan itu digambarkan sebagai “bunga kehidupan dunia”. Seperti bunga, ia bisa tampak indah ketika mekar. Warnanya menarik, bentuknya menawan, dan aromanya menyenangkan. Tetapi bunga tidak mekar selamanya.

Ada waktunya bunga tumbuh.

Ada waktunya mekar.

Ada waktunya layu.

Ada waktunya gugur.

Begitulah dunia. Apa yang hari ini terlihat indah, suatu saat bisa berubah. Apa yang hari ini dibanggakan, suatu saat bisa hilang. Apa yang hari ini dikejar mati-matian, suatu saat harus ditinggalkan.

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati agar tidak silau oleh dunia.

Dunia adalah Ujian

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Thaha: 131)

Ayat ini mengajarkan bahwa keindahan dunia bukan semata-mata tanda kemuliaan. Bisa jadi ia adalah ujian. Harta adalah ujian. Jabatan adalah ujian. Popularitas adalah ujian. Kesehatan adalah ujian. Kelapangan hidup juga ujian.

Sebagian manusia diuji dengan kekurangan. Sebagian lain diuji dengan kelapangan. Keduanya sama-sama membutuhkan iman.

Orang yang diuji dengan kekurangan perlu bersabar.

Orang yang diuji dengan kelapangan perlu bersyukur.

Yang berbahaya adalah ketika kelapangan dunia membuat seseorang lupa kepada Allah. Ia merasa aman, bangga, dan mengira bahwa semua yang dimiliki adalah hasil usahanya sendiri. Padahal, semua nikmat adalah pemberian Allah dan akan dipertanggungjawabkan.

Jangan Silau Melihat Nikmat Orang Lain

Salah satu penyakit hati yang sering muncul adalah silau melihat nikmat orang lain. Ketika melihat orang lain lebih kaya, lebih sukses, lebih terkenal, lebih mudah hidupnya, atau lebih banyak fasilitasnya, hati mulai membandingkan.

Mengapa dia punya, saya belum?

Mengapa hidupnya terlihat mudah, saya sulit?

Mengapa rezekinya lapang, saya sempit?

Pertanyaan seperti ini bisa membuka pintu iri, tidak puas, dan lupa bersyukur.

Padahal, kita tidak tahu ujian apa yang sedang Allah berikan kepada orang tersebut. Bisa jadi harta yang banyak adalah ujian berat baginya. Bisa jadi popularitas yang besar justru menjadi beban. Bisa jadi jabatan tinggi membawa tanggung jawab yang tidak ringan.

Tidak semua yang tampak indah dari luar benar-benar menenangkan di dalam. Karena itu, jangan terlalu menatap bunga dunia yang Allah berikan kepada orang lain hingga lupa pada karunia yang Allah berikan kepada diri sendiri.

Keindahan Dunia Tidak Kekal

Dunia memiliki sifat berubah. Orang yang hari ini kaya bisa mengalami kerugian. Orang yang hari ini sehat bisa sakit. Orang yang hari ini terkenal bisa dilupakan. Orang yang hari ini kuat bisa menjadi lemah. Orang yang hari ini berkuasa bisa kehilangan jabatan.

Tidak ada yang benar-benar menetap di dunia.

Inilah sebabnya menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada dunia akan membuat hati mudah kecewa. Ketika dunia datang, seseorang senang berlebihan. Ketika dunia pergi, ia hancur berlebihan.

Seorang Muslim perlu menikmati nikmat dunia dengan syukur, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir. Dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menguasai hati.

Harta di tangan bisa bermanfaat.

Harta di hati bisa membelenggu.

Hadis tentang Dibukakannya Bunga Dunia

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ duduk di mimbar sementara para sahabat duduk di sekeliling beliau. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku ialah dibukakannya bunga dunia dan perhiasannya untuk kalian.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Pesan hadis ini sangat dalam. Rasulullah ﷺ mengkhawatirkan umatnya ketika dunia dibukakan. Bukan hanya ketika umat dalam keadaan miskin dan sulit, tetapi juga ketika umat mendapatkan kelapangan, harta, dan kemewahan.

Mengapa?

Karena dunia yang terbuka lebar bisa membuat manusia lalai. Ketika hidup serba mudah, manusia bisa merasa tidak membutuhkan Allah. Ketika harta melimpah, manusia bisa lupa akhirat. Ketika kesenangan tersedia, manusia bisa sulit menahan diri.

Maka, kelapangan dunia perlu disikapi dengan hati-hati.

Dunia Bukan Musuh, tetapi Jangan Dijadikan Tujuan Utama

Islam tidak mengajarkan umatnya membenci dunia secara mutlak. Dunia adalah tempat beramal. Di dunia kita shalat, bersedekah, menuntut ilmu, bekerja, mendidik anak, membantu orang lain, dan mencari rezeki halal.

Dunia bisa menjadi ladang akhirat jika digunakan dengan benar.

Harta bisa menjadi sedekah.

Ilmu bisa menjadi amal jariyah.

Jabatan bisa menjadi jalan menegakkan keadilan.

Kesehatan bisa menjadi sarana memperbanyak ibadah.

Keluarga bisa menjadi tempat menanamkan iman dan akhlak.

Yang dilarang adalah menjadikan dunia sebagai tujuan utama hingga melupakan Allah. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi untuk diarahkan sebagai bekal menuju akhirat.

Bunga yang Mekar Selamanya

Bunga dunia akan layu. Namun, karunia Allah di akhirat lebih baik dan lebih kekal. Itulah “bunga” yang tidak akan layu. Kenikmatan akhirat tidak akan rusak, tidak akan hilang, dan tidak akan berakhir.

Karena itu, fokus hidup seorang Muslim seharusnya bukan sekadar mengejar keindahan dunia yang sementara, tetapi mengejar ridha Allah dan kehidupan akhirat yang kekal.

Jika dunia datang, gunakan untuk kebaikan.

Jika dunia pergi, jangan hancur.

Jika diberi nikmat, syukuri.

Jika diuji kekurangan, sabari.

Jika melihat orang lain diberi lebih, jangan iri.

Jika memiliki kesempatan beramal, jangan tunda.

Akhirat adalah tujuan. Dunia adalah perjalanan.

Tanda Seseorang Mulai Tertipu Dunia

Ada beberapa tanda ketika seseorang mulai tertipu oleh bunga kehidupan dunia.

Pertama, ia lebih sering memikirkan harta daripada shalat.

Kedua, ia lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan iman.

Ketiga, ia merasa rendah diri hanya karena belum memiliki pencapaian dunia tertentu.

Keempat, ia mudah iri melihat rezeki orang lain.

Kelima, ia menilai kemuliaan seseorang hanya dari jabatan, uang, atau penampilan.

Keenam, ia sulit bersedekah karena terlalu takut kekurangan.

Ketujuh, ia menghalalkan segala cara demi meraih dunia.

Kedelapan, ia tidak punya waktu untuk Al-Qur’an, ilmu agama, dan amal saleh.

Jika tanda-tanda ini mulai terasa, saatnya hati kembali diarahkan kepada Allah.

Cara Agar Tidak Silau oleh Dunia

Ada beberapa cara yang dapat membantu seorang Muslim agar tidak tertipu oleh keindahan dunia.

1. Perbanyak mengingat Allah

Hati yang sering mengingat Allah akan lebih kuat menghadapi godaan dunia. Zikir membuat manusia sadar bahwa semua nikmat berasal dari Allah.

2. Jaga shalat

Shalat mengingatkan bahwa manusia adalah hamba. Sesibuk apa pun mengejar dunia, shalat tidak boleh ditinggalkan.

3. Lihat orang yang berada di bawah dalam urusan dunia

Melihat orang yang lebih sulit kehidupannya dapat membantu kita bersyukur. Jangan hanya melihat orang yang lebih kaya atau lebih sukses.

4. Perbanyak sedekah

Sedekah melatih hati agar tidak terlalu terikat pada harta. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah justru menjadi bekal akhirat.

5. Ingat kematian

Kematian memutus seluruh kenikmatan dunia. Mengingat kematian membantu manusia menata prioritas hidup.

6. Gunakan dunia untuk akhirat

Bekerja, belajar, berdagang, dan membangun kehidupan dunia tetap baik jika diniatkan untuk ibadah dan dilakukan dengan cara yang halal.

7. Jangan membandingkan hidup secara berlebihan

Membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan dapat melemahkan syukur. Fokuslah pada amanah yang Allah berikan kepada kita.

Syukur Saat Diberi, Sabar Saat Diuji

Hidup seorang Muslim berputar antara syukur dan sabar. Ketika Allah memberi nikmat, ia bersyukur. Ketika Allah menguji dengan kekurangan, ia bersabar.

Keduanya sama-sama baik jika dijalani dengan iman.

Orang yang bersyukur tidak sombong ketika diberi dunia. Ia sadar bahwa semua hanya titipan. Orang yang sabar tidak putus asa ketika diuji. Ia yakin bahwa Allah mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

Dengan syukur dan sabar, hati menjadi lebih tenang. Tidak terlalu mabuk saat dunia datang, dan tidak terlalu hancur saat dunia pergi.

Penutup

Bunga kehidupan dunia memang tampak indah. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kesenangan dapat membuat manusia terpikat. Namun, seperti bunga, semua itu tidak mekar selamanya.

Allah mengingatkan bahwa bunga dunia adalah ujian. Karunia Allah di sisi-Nya jauh lebih baik dan lebih kekal. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh silau melihat dunia yang dibukakan kepada dirinya atau orang lain.

Gunakan dunia sebagai bekal akhirat. Syukuri nikmat yang ada. Jaga hati dari iri. Jangan mengorbankan iman demi mengejar sesuatu yang sementara.

Semoga Allah menjaga hati kita dari fitnah dunia, menjadikan dunia berada di tangan kita bukan di hati kita, dan membimbing kita menuju kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal.

Wallahu a‘lam.

Rujukan

  • Al-Qur’an Surah Thaha ayat 131.
  • Hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kekhawatiran Rasulullah ﷺ terhadap dibukakannya bunga dunia, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

PERUT SIX PACK DAN UPAYA MENELADANI KEBUGARAN RASULULLAH

Rasulullah ﷺ adalah suri teladan terbaik bagi umat Islam. Keteladanan beliau tidak hanya dalam ibadah, akhlak, dakwah, kepemimpinan, dan keluarga, tetapi juga dalam cara menjalani hidup yang sederhana, aktif, bersih, dan seimbang.

Dalam berbagai riwayat, Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai pribadi yang kuat, bugar, tidak berlebih-lebihan dalam makan, aktif bergerak, serta memiliki kebiasaan hidup yang baik. Karena itu, seorang Muslim dapat mengambil pelajaran bahwa menjaga kesehatan tubuh adalah bagian dari ikhtiar agar lebih kuat dalam beribadah dan beramal saleh.

Namun, penting untuk dipahami bahwa meneladani kebugaran Rasulullah ﷺ bukan berarti harus terobsesi pada bentuk tubuh tertentu. Tujuan utama menjaga tubuh bukan untuk pamer fisik, mengejar penampilan semata, atau merasa lebih baik daripada orang lain. Tujuan yang benar adalah agar tubuh menjadi lebih sehat, kuat, dan mampu digunakan untuk ketaatan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ sebagai Teladan Hidup Seimbang

Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga ibadah, akhlak, keluarga, pekerjaan, dan kesehatan. Tubuh adalah amanah dari Allah, sehingga tidak boleh diabaikan.

Rasulullah ﷺ memberi contoh hidup yang tidak berlebihan. Beliau makan secukupnya, menjaga kebersihan, berjalan kaki, bekerja, berperang ketika diwajibkan, membantu keluarga, dan melakukan berbagai aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan beliau menunjukkan bahwa kesehatan bukan hanya diperoleh dari olahraga formal, tetapi juga dari gaya hidup yang aktif, sederhana, dan teratur.

Di zaman sekarang, banyak orang kurang bergerak karena terlalu lama duduk, bekerja di depan layar, berkendara ke mana-mana, dan kurang memperhatikan pola makan. Maka, meneladani pola hidup Rasulullah ﷺ dapat menjadi pengingat agar kita kembali menjaga tubuh dengan lebih baik.

Apakah Rasulullah ﷺ Memiliki Tubuh yang Kuat?

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah ﷺ digambarkan memiliki tubuh yang baik, kuat, dan proporsional. Ada riwayat yang menyebutkan gambaran bagian tubuh beliau dengan bahasa kiasan yang menunjukkan kekuatan dan keindahan ciptaan Allah pada diri beliau.

Hadits dari Ummu Hani, dia menuturkan, "Saya tidak melihat bentuk perut Rasulullah kecuali saya ingat lipatan kertas-kertas yang digulung antara satu dengan yang lainnya". (HR. Ath-Thabarani).

Dalam riwayat lain, "Perutnya (Rasulullah) bagai batu-batu yang tersusun".

Sebagian orang kemudian mengaitkan gambaran itu dengan istilah modern seperti “six pack”. Namun, sebaiknya kita berhati-hati dalam menggunakan istilah tersebut. Istilah “six pack” adalah istilah populer masa kini untuk menggambarkan otot perut yang terlihat jelas. Sementara riwayat hadis memiliki redaksi, konteks, dan penjelasan ulama yang perlu diperiksa dengan cermat.

Yang lebih aman dan lebih bermanfaat adalah mengambil hikmah umumnya: Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam hidup sehat, kuat, bentuk tubuh ideal, sederhana, dan tidak berlebih-lebihan.

Dengan begitu, pesan artikel tidak berubah menjadi sensasi fisik, tetapi tetap menjadi motivasi untuk menjaga kesehatan sebagai bagian dari ibadah.

Menjaga Tubuh adalah Bagian dari Mensyukuri Nikmat

Kesehatan adalah nikmat besar dari Allah. Banyak orang baru menyadari mahalnya kesehatan ketika sakit. Ketika tubuh sehat, seseorang bisa shalat dengan lebih mudah, bekerja mencari nafkah, menuntut ilmu, membantu keluarga, bersedekah, dan melakukan banyak kebaikan.

Karena itu, menjaga tubuh adalah bagian dari rasa syukur.

Seorang Muslim tidak seharusnya sengaja merusak tubuhnya dengan pola makan yang buruk, malas bergerak, kurang tidur, atau kebiasaan yang membahayakan kesehatan. Tubuh yang kuat dapat menjadi sarana untuk beribadah lebih baik.

Namun, menjaga tubuh juga tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Tubuh yang sehat adalah amanah, bukan alasan untuk merendahkan orang lain.

Makan Secukupnya dan Tidak Berlebihan

Salah satu prinsip penting dalam hidup sehat adalah tidak berlebih-lebihan dalam makan. Banyak masalah kesehatan modern berkaitan dengan pola makan berlebihan, terlalu banyak makanan tinggi gula, lemak, garam, serta kurangnya aktivitas fisik.

Islam mengajarkan adab makan yang baik: makan yang halal dan baik, tidak berlebihan, serta menjaga tubuh agar tetap kuat.

Makan secukupnya membantu tubuh terasa lebih ringan, ibadah lebih nyaman, dan aktivitas harian lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, makan berlebihan sering membuat tubuh malas, mudah mengantuk, dan kurang produktif.

Meneladani Rasulullah ﷺ dalam hal makan berarti belajar sederhana, tidak rakus, dan tidak menjadikan perut sebagai pusat kehidupan.

Aktif Bergerak dalam Kehidupan Sehari-hari

Rasulullah ﷺ hidup dalam kondisi masyarakat yang aktif secara fisik. Beliau berjalan, bekerja, bepergian, berperang ketika diwajibkan, dan menjalani kehidupan yang menuntut kekuatan tubuh.

Di zaman sekarang, banyak orang tidak lagi banyak bergerak. Duduk terlalu lama, kurang jalan kaki, jarang olahraga, dan terlalu banyak waktu di depan layar dapat membuat tubuh melemah.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan aktivitas fisik sesuai kemampuan. Tidak harus langsung berat. Bisa dimulai dari berjalan kaki, peregangan, olahraga ringan, latihan kekuatan sederhana, atau aktivitas rumah tangga.

Yang penting adalah konsisten dan tidak berlebihan.

Kebugaran Bukan untuk Pamer

Menjaga tubuh tetap bugar adalah hal baik. Namun, niatnya perlu dijaga. Jangan sampai olahraga hanya untuk pamer bentuk tubuh, mencari pujian, atau merasa lebih unggul dari orang lain.

Bagi seorang Muslim, kebugaran seharusnya diniatkan untuk kebaikan.

Agar lebih kuat shalat.

Agar lebih mampu bekerja halal.

Agar lebih siap membantu keluarga.

Agar lebih tahan dalam menuntut ilmu.

Agar lebih bermanfaat bagi umat.

Agar tubuh tidak mudah lemah karena kelalaian sendiri.

Jika niatnya benar, insya Allah aktivitas menjaga kesehatan dapat bernilai ibadah.

Jangan Mengejek Orang yang Belum Ideal

Dalam artikel bertema kesehatan, sebaiknya kita menghindari ejekan terhadap orang yang gemuk, kurus, atau belum memiliki bentuk tubuh ideal. Setiap orang memiliki kondisi tubuh, kesehatan, usia, riwayat penyakit, aktivitas, dan tantangan hidup yang berbeda.

Nasihat tentang kebugaran sebaiknya disampaikan sebagai ajakan, bukan hinaan.

Tujuannya bukan mempermalukan orang yang perutnya buncit atau tubuhnya belum ideal. Tujuannya adalah mengingatkan bahwa tubuh perlu dijaga sebagai amanah.

Dakwah yang baik adalah dakwah yang membangkitkan semangat, bukan membuat orang merasa rendah diri.

Hidup Sehat Perlu Ilmu

Menjaga tubuh juga membutuhkan ilmu. Tidak semua tren diet cocok untuk semua orang. Tidak semua olahraga aman untuk setiap kondisi tubuh. Tidak semua tips kesehatan di media sosial dapat dipercaya.

Karena itu, seseorang perlu bijak. Pilih pola makan yang seimbang. Lakukan olahraga sesuai kemampuan. Jika memiliki penyakit tertentu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Jangan memaksakan latihan berat jika tubuh belum siap.

Islam mengajarkan keseimbangan. Jangan malas menjaga kesehatan, tetapi jangan pula merusak tubuh dengan olahraga atau diet ekstrem.

Langkah Praktis Meneladani Pola Hidup Sehat

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk menjaga kebugaran.

Pertama, luruskan niat. Jaga tubuh agar lebih kuat beribadah dan beramal saleh.

Kedua, makan secukupnya. Hindari kebiasaan makan berlebihan.

Ketiga, pilih makanan halal dan baik. Perhatikan kualitas makanan yang masuk ke tubuh.

Keempat, biasakan bergerak. Jalan kaki, olahraga ringan, atau latihan fisik sesuai kemampuan.

Kelima, cukup istirahat. Tubuh juga memiliki hak untuk beristirahat.

Keenam, jaga kebersihan. Kebersihan adalah bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Ketujuh, hindari kebiasaan yang merusak tubuh.

Kedelapan, jangan membandingkan tubuh dengan orang lain secara berlebihan.

Kesembilan, lakukan bertahap. Perubahan kecil yang konsisten lebih baik daripada semangat besar yang cepat berhenti.

Kesepuluh, berdoa agar Allah memberi kesehatan dan afiyah.

Six Pack Bukan Tujuan Utama

Memiliki tubuh yang kuat dan proporsional adalah hal baik. Namun, “six pack” bukan tujuan utama seorang Muslim. Tidak semua orang harus memiliki bentuk otot perut tertentu untuk disebut sehat. Kesehatan lebih luas daripada penampilan.

Seseorang bisa terlihat ideal tetapi kurang sehat karena pola hidupnya buruk. Sebaliknya, seseorang mungkin tidak memiliki bentuk tubuh seperti atlet, tetapi tetap sehat, kuat, dan mampu beraktivitas dengan baik.

Karena itu, jangan jadikan bentuk tubuh sebagai ukuran utama. Jadikan kesehatan, kekuatan ibadah, dan kebaikan amal sebagai tujuan.

Jika olahraga membuat tubuh lebih sehat, syukuri.

Jika berat badan membaik, syukuri.

Jika stamina meningkat, gunakan untuk ketaatan.

Jangan sampai tubuh sehat tetapi hati menjadi sombong.

Penutup

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam kesederhanaan, kebersihan, kekuatan, dan keseimbangan hidup. Dari keteladanan beliau, seorang Muslim dapat mengambil pelajaran penting untuk menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah.

Meneladani kebugaran Rasulullah ﷺ bukan berarti terobsesi pada istilah modern seperti “six pack”, tetapi berusaha hidup sehat, tidak berlebihan dalam makan, aktif bergerak, menjaga kebersihan, dan menggunakan tubuh untuk ibadah.

Semoga Allah memberi kita kesehatan, kekuatan, dan afiyah. Semoga tubuh yang sehat tidak membuat kita sombong, tetapi menjadi sarana untuk memperbanyak amal saleh dan semakin mencintai sunnah Rasulullah ﷺ.

Wallahu a‘lam.





Senin, 09 Desember 2019

Resep Bubur Sayur Talbinah yang Sederhana dan Mengenyangkan


Talbinah merupakan makanan tradisional berbahan dasar tepung jelai atau barley. Dalam tradisi Islam, talbinah dikenal sebagai salah satu makanan yang pernah dianjurkan dalam hadis. Karena itu, sebagian masyarakat muslim mengenal talbinah sebagai makanan yang memiliki nilai historis dan spiritual.

Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang talbinah yang dapat menyegarkan hati orang yang sakit dan membantu meringankan sebagian kesedihan. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Kali ini saya mencoba membuat bubur sayur talbinah versi sederhana. Agar lebih menarik dan bergizi, talbinah dipadukan dengan wortel, brokoli, daun bawang, seledri, garam, gula merah, dan madu sesuai selera.

Resep ini cocok bagi Anda yang ingin mencoba menu bubur hangat, lembut, dan mudah dibuat di rumah.

Mengenal Talbinah

Talbinah biasanya dibuat dari tepung jelai atau barley yang dimasak dengan air atau susu hingga menjadi bubur. Di Indonesia, tepung talbinah bisa ditemukan di toko-toko yang menjual kurma, madu, minyak zaitun, habbatussauda, atau bahan pangan khas Timur Tengah.

Rasanya cenderung ringan dan teksturnya lembut. Karena itu, talbinah bisa dikreasikan menjadi bubur manis maupun gurih. Pada resep ini, talbinah dibuat dengan tambahan sayuran agar lebih cocok sebagai menu rumahan yang mengenyangkan.

Walaupun talbinah dikenal dalam tradisi Islam, konsumsinya tetap sebaiknya dilakukan secara wajar sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Bahan-Bahan

  1. Tepung talbinah 4 sendok makan

  2. Wortel 1 buah, iris kecil halus

  3. Daun bawang 2 batang, iris kecil

  4. Brokoli secukupnya, iris kecil

  5. Seledri secukupnya, iris kecil

  6. Gula merah secukupnya

  7. Garam secukupnya

  8. Air sekitar 350 ml, atau sesuai kekentalan yang diinginkan

  9. Madu secukupnya, opsional

Cara Membuat Bubur Sayur Talbinah

  1. Cuci bersih wortel, brokoli, daun bawang, dan seledri.

  2. Iris wortel, brokoli, daun bawang, dan seledri menjadi potongan kecil.

  3. Rebus wortel, brokoli, dan daun bawang selama sekitar 2 menit sampai setengah matang.

  4. Angkat sayuran, lalu sisihkan sementara.

  5. Tuang tepung talbinah ke dalam panci.

  6. Tambahkan air sekitar 350 ml.

  7. Aduk hingga tepung talbinah larut dan tidak menggumpal.

  8. Panaskan panci dengan api kecil hingga sedang sambil terus diaduk.

  9. Masukkan wortel, brokoli, dan daun bawang yang sudah direbus setengah matang.

  10. Aduk kembali hingga semua bahan tercampur rata.

  11. Tambahkan garam dan gula merah secukupnya.

  12. Masukkan seledri, lalu aduk perlahan.

  13. Masak sekitar 3 menit atau sampai tekstur bubur mengental.

  14. Koreksi rasa sesuai selera.

  15. Setelah matang, angkat dan tuang ke dalam mangkuk.

  16. Tambahkan madu jika ingin rasa yang lebih manis.

Tips agar Bubur Talbinah Tidak Menggumpal

Agar bubur talbinah tidak menggumpal, larutkan tepung talbinah dengan air terlebih dahulu sebelum dipanaskan. Aduk sampai benar-benar rata, baru kemudian nyalakan kompor.

Gunakan api kecil hingga sedang agar bubur matang perlahan dan teksturnya lebih lembut. Selama proses memasak, aduk terus agar bagian bawah tidak mudah gosong.

Jika ingin bubur lebih encer, tambahkan sedikit air. Jika ingin lebih kental, masak sedikit lebih lama sambil terus diaduk.

Sayuran sebaiknya dipotong kecil agar cepat matang dan mudah tercampur dengan bubur talbinah.

Saran Penyajian

Bubur sayur talbinah paling nikmat disajikan selagi hangat. Menu ini bisa dinikmati sebagai sarapan ringan, makan malam sederhana, atau makanan hangat saat ingin menyantap bubur yang lembut.

Jika ingin rasa gurih, gunakan garam secukupnya dan tambahkan seledri serta daun bawang. Jika ingin rasa manis ringan, tambahkan gula merah dan madu sesuai selera.

Anda juga bisa menambahkan bahan lain seperti jagung manis, kentang, ayam suwir, atau telur sesuai ketersediaan bahan di rumah.

Kesimpulan

Bubur sayur talbinah adalah menu sederhana yang dibuat dari tepung talbinah, wortel, brokoli, daun bawang, seledri, garam, gula merah, dan madu. Teksturnya lembut, rasanya ringan, dan cocok dinikmati dalam keadaan hangat.

Selain dikenal dalam tradisi Islam, talbinah juga bisa dikreasikan menjadi menu rumahan yang praktis. Dengan tambahan sayuran, bubur talbinah menjadi lebih menarik dan mengenyangkan.

Selamat mencoba.

Minggu, 08 Desember 2019

Resep Telur Ceplok Kecap Pedas Manis yang Praktis


Telur ceplok adalah salah satu lauk rumahan yang paling mudah dibuat. Selain praktis, bahan utamanya juga sederhana dan cocok untuk menu harian. Agar tidak terasa terlalu biasa, telur ceplok bisa diolah kembali dengan bumbu kecap pedas manis.

Kali ini saya mencoba membuat telur ceplok kecap dengan racikan sederhana menggunakan bawang merah, bawang putih, bawang bombai, cabai rawit, cabai merah, kecap manis, dan seledri. Rasanya gurih, manis, sedikit pedas, dan cocok disantap bersama nasi hangat.

Resep ini bisa menjadi pilihan ketika ingin memasak cepat, hemat, tetapi tetap enak.

Bahan-Bahan

  1. Telur ayam 3 butir

  2. Bawang putih 1 siung, cincang halus

  3. Bawang merah 2 siung, cincang halus

  4. Bawang bombai 1/2 buah, cincang halus

  5. Cabai rawit 8 buah, iris tipis

  6. Cabai merah 1 buah, iris tipis

  7. Kecap manis secukupnya

  8. Garam secukupnya

  9. Seledri secukupnya, iris kecil

  10. Minyak beras, minyak bekatul, atau rice bran oil secukupnya untuk menggoreng dan menumis

  11. Air secukupnya

Cara Membuat Telur Ceplok Kecap

  1. Panaskan minyak secukupnya di dalam wajan.

  2. Gunakan api kecil hingga sedang agar telur matang merata.

  3. Ceplok telur satu per satu atau sekaligus, sesuai selera.

  4. Taburkan sedikit garam pada bagian putih telur.

  5. Setelah telur cukup matang, angkat dan sisihkan sementara.

  6. Panaskan kembali sedikit sisa minyak di wajan.

  7. Masukkan bawang putih, bawang merah, dan bawang bombai yang sudah dicincang.

  8. Tumis sampai harum dan bawang mulai layu.

  9. Masukkan irisan cabai rawit dan cabai merah.

  10. Aduk sampai cabai layu dan aromanya keluar.

  11. Tambahkan kecap manis secukupnya.

  12. Tuang sedikit air, lalu aduk hingga bumbu tercampur rata.

  13. Masak sampai bumbu mendidih dan kuah mulai sedikit mengental.

  14. Masukkan telur ceplok ke dalam wajan.

  15. Balik telur perlahan agar bumbu kecap meresap ke kedua sisi.

  16. Tambahkan irisan seledri.

  17. Masak sebentar sampai bumbu meresap sesuai selera.

  18. Matikan kompor, lalu angkat dan sajikan.

Tips agar Telur Ceplok Kecap Lebih Enak

Agar telur ceplok tidak mudah hancur saat dimasak bersama bumbu, goreng telur terlebih dahulu sampai bagian pinggirnya cukup kokoh. Jika suka tekstur renyah, telur bisa digoreng sedikit lebih kering.

Gunakan kecap manis secukupnya agar rasa tidak terlalu manis. Jika ingin rasa lebih pedas, jumlah cabai rawit bisa ditambah sesuai selera.

Tambahkan air sedikit saja agar bumbu kecap tidak terlalu encer. Masak sampai kuah agak mengental agar bumbu lebih mudah menempel pada telur.

Seledri sebaiknya dimasukkan menjelang akhir proses memasak agar aromanya tetap segar dan tidak terlalu layu.

Saran Penyajian

Telur ceplok kecap pedas manis paling nikmat disajikan bersama nasi putih hangat. Menu ini juga cocok dipadukan dengan sayur bening, tumis kangkung, capcay, lalapan, atau kerupuk.

Jika ingin lebih lengkap, Anda bisa menambahkan taburan bawang goreng atau irisan daun bawang sebelum disajikan.

Kesimpulan

Telur ceplok kecap pedas manis adalah lauk rumahan yang praktis, sederhana, dan mudah dibuat. Dengan bahan seperti telur, bawang, cabai, kecap manis, garam, seledri, dan sedikit air, telur ceplok biasa bisa menjadi hidangan yang lebih gurih dan menggugah selera.

Kunci membuat telur ceplok kecap yang enak adalah menumis bumbu sampai harum, memasak kecap hingga sedikit mengental, dan membiarkan telur menyerap bumbu sebelum disajikan.

Selamat mencoba.

Resep Telur Dadar Sayur Jamur yang Praktis dan Mengenyangkan


Telur dadar adalah menu rumahan yang mudah dibuat, cepat matang, dan bisa dikreasikan dengan berbagai bahan. Jika ada sisa sayuran atau bahan makanan di kulkas, telur dadar bisa menjadi salah satu cara praktis untuk mengolahnya.

Kali ini saya mencoba membuat telur dadar dengan campuran jamur kancing, sawi, tomat, bawang bombai, bawang putih, cabai, daun bawang, dan seledri. Karena bahan yang digunakan cukup beragam, saya menyebutnya sebagai “Telur Dadar Gila” ala rumahan.

Meski namanya terdengar santai, resep ini cukup mengenyangkan dan cocok untuk lauk makan sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan lebih segar karena menggunakan tambahan sayuran.

Bahan-Bahan

  1. Telur ayam 3 butir

  2. Jamur kancing 5 butir, iris tipis

  3. Bawang putih 3 siung, iris tipis kecil

  4. Tomat 1 buah, iris kecil

  5. Cabai merah 1 buah, iris tipis kecil

  6. Bawang bombai 1 buah, iris tipis

  7. Daun bawang 1 batang, iris kecil

  8. Sawi 3 batang, iris atau gunting kecil

  9. Seledri 3 tangkai atau secukupnya, iris kecil

  10. Garam secukupnya

  11. Gula merah secukupnya

  12. Minyak beras, minyak bekatul, atau rice bran oil secukupnya untuk menggoreng

Cara Membuat Telur Dadar Sayur Jamur

  1. Pecahkan telur ke dalam wadah yang cukup besar.

  2. Kocok telur hingga lepas.

  3. Masukkan irisan jamur kancing, bawang putih, tomat, cabai merah, bawang bombai, daun bawang, sawi, dan seledri ke dalam kocokan telur.

  4. Tambahkan garam dan sedikit gula merah secukupnya.

  5. Aduk semua bahan hingga tercampur rata.

  6. Panaskan minyak di dalam wajan.

  7. Setelah minyak cukup panas, tuang adonan telur ke dalam wajan.

  8. Ratakan adonan agar bahan menyebar merata.

  9. Goreng dengan api kecil hingga sedang agar bagian dalam telur matang sempurna.

  10. Setelah bagian bawah telur berwarna kuning kecokelatan, balik telur dengan hati-hati.

  11. Goreng sisi lainnya hingga matang.

  12. Angkat, tiriskan, lalu sajikan selagi hangat.

Tips agar Telur Dadar Tidak Mudah Hancur

Karena menggunakan banyak bahan tambahan, adonan telur bisa menjadi lebih berat dan mudah patah saat dibalik. Agar lebih aman, gunakan wajan anti lengket dan api sedang.

Jika ingin telur lebih mudah dibalik, buat adonan tidak terlalu tebal. Anda juga bisa membagi adonan menjadi dua kali penggorengan agar ukuran telur dadar tidak terlalu besar.

Jamur dan sawi mengandung air, sehingga sebaiknya gunakan secukupnya agar telur tidak terlalu basah. Jika ingin hasil lebih padat, bahan sayuran bisa ditumis sebentar terlebih dahulu sebelum dicampurkan ke dalam telur.

Gunakan garam secukupnya dan tambahkan gula merah sedikit saja untuk menyeimbangkan rasa.

Saran Penyajian

Telur dadar sayur jamur ini cocok disajikan bersama nasi putih hangat, nasi merah, atau sebagai lauk pendamping sayur bening. Agar lebih nikmat, bisa ditambahkan saus sambal, sambal terasi, atau kecap sesuai selera.

Jika ingin memakai saus sambal buatan sendiri, Anda bisa menyajikannya bersama saus sambal alami ala rumahan.

Kesimpulan

Telur dadar sayur jamur adalah menu sederhana yang cocok untuk memanfaatkan stok bahan di kulkas. Dengan campuran telur, jamur kancing, sawi, tomat, bawang bombai, bawang putih, cabai, daun bawang, dan seledri, telur dadar biasa bisa menjadi lauk yang lebih lengkap dan mengenyangkan.

Kunci membuat telur dadar ini adalah mencampur bahan secara merata, menggunakan api sedang, dan membalik telur dengan hati-hati agar tidak mudah hancur.

Selamat mencoba.

Sabtu, 07 Desember 2019

Cara Sukses Dunia bagi Muslim: Ikhtiar, Iman, dan Keberkahan



Setiap manusia tentu ingin sukses dalam hidupnya. Ada yang mengartikan sukses sebagai memiliki pekerjaan baik, penghasilan cukup, bisnis berkembang, pendidikan tinggi, keluarga harmonis, atau kedudukan yang terhormat di tengah masyarakat.

Dalam Islam, sukses dunia tidak dilarang. Seorang Muslim boleh bekerja keras, berdagang, belajar setinggi mungkin, berinovasi, membangun usaha, mengembangkan karier, dan memberi manfaat luas kepada masyarakat.

Namun, cara seorang Muslim memandang kesuksesan seharusnya berbeda. Bagi seorang Muslim, sukses dunia bukan sekadar banyak harta, tinggi jabatan, atau luas pengaruh. Sukses dunia harus terhubung dengan iman, halal-haram, ibadah, akhlak, keberkahan, dan tujuan akhirat.

Dunia boleh dikejar, tetapi tidak boleh menjadi tujuan utama. Dunia harus menjadi bekal menuju ridha Allah.

Sukses Dunia Bukan Hal yang Tercela

Sebagian orang mengira bahwa menjadi Muslim yang baik berarti tidak boleh mengejar kemajuan dunia. Padahal, Islam tidak mengajarkan kemalasan. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja, mencari rezeki halal, menuntut ilmu, menjaga amanah, dan memberi manfaat.

Rasulullah ﷺ berdagang. Para sahabat juga banyak yang bekerja, berdagang, bertani, dan membangun kehidupan ekonomi. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sahabat yang kaya dan dermawan. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu juga dikenal sebagai pedagang sukses yang banyak berinfak.

Mereka tidak meninggalkan dunia sepenuhnya. Namun, dunia tidak menguasai hati mereka.

Inilah pelajaran pentingnya. Seorang Muslim boleh sukses secara duniawi, tetapi kesuksesan itu harus tetap tunduk kepada Allah.

Perbedaan Orientasi Sukses

Yang membedakan cara sukses seorang Muslim bukan terletak pada apakah ia bekerja keras atau tidak. Seorang Muslim tetap perlu bekerja keras. Ia tetap perlu belajar, meneliti, berinovasi, mengelola waktu, membangun jaringan, meningkatkan keterampilan, dan berusaha profesional.

Perbedaannya ada pada orientasi dan batasan.

Seseorang yang hanya mengejar dunia bisa saja menghalalkan segala cara. Ia mungkin mengorbankan ibadah, keluarga, kesehatan, kejujuran, dan halal-haram demi target dunia. Ukuran suksesnya hanya angka, jabatan, popularitas, dan pencapaian lahiriah.

Sementara itu, seorang Muslim seharusnya menjadikan dunia sebagai sarana. Ia bekerja keras, tetapi tidak meninggalkan shalat. Ia mengejar ilmu, tetapi tidak sombong. Ia membangun bisnis, tetapi tidak menipu. Ia mencari keuntungan, tetapi tetap membayar zakat dan bersedekah. Ia ingin maju, tetapi tidak melupakan akhirat.

Jadi, Islam tidak menolak kerja keras. Islam menolak kerja keras yang membuat manusia lupa kepada Allah.

Ikhtiar adalah Bagian dari Ibadah

Dalam Islam, ikhtiar adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal. Bekerja untuk menafkahi keluarga adalah ibadah. Belajar untuk meningkatkan kualitas diri adalah ibadah. Berdagang dengan jujur adalah ibadah. Mengelola perusahaan dengan amanah adalah ibadah. Menjadi profesional yang memberi manfaat juga bisa bernilai ibadah.

Karena itu, seorang Muslim tidak boleh malas dengan alasan tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti berusaha dengan cara yang benar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Seorang Muslim yang bertawakal tetap menyusun rencana, bekerja dengan disiplin, meningkatkan kompetensi, dan memperbaiki kualitas. Ia tidak pasif. Ia aktif, tetapi hatinya bergantung kepada Allah.

Ibadah Tidak Menghambat Kesuksesan

Sebagian orang mungkin menganggap kewajiban agama sebagai beban yang mengurangi waktu produktif. Ada shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, sedekah, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu agama, dan berbagai amal lainnya.

Namun, bagi orang beriman, ibadah bukan penghambat kesuksesan. Justru ibadah adalah sumber keberkahan dan penata hidup.

Shalat melatih disiplin.

Puasa melatih pengendalian diri.

Zakat membersihkan harta.

Sedekah melembutkan hati.

Zikir menenangkan jiwa.

Ilmu agama menjaga arah.

Tawakal mengurangi kegelisahan.

Dengan ibadah, seorang Muslim tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga menjaga dirinya agar tetap berada di jalan yang benar.

Kesuksesan Muslim Harus Halal dan Berkah

Dalam Islam, keberkahan lebih penting daripada sekadar banyak. Harta yang banyak tetapi haram akan menjadi beban. Jabatan tinggi yang diperoleh dengan zalim akan menjadi sumber pertanggungjawaban. Bisnis besar yang dibangun dengan penipuan tidak akan membawa ketenangan.

Sukses yang baik adalah sukses yang halal dan berkah.

Halal berarti cara mendapatkannya sesuai syariat.

Berkah berarti membawa kebaikan, ketenangan, manfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati dalam mencari rezeki. Jangan sampai demi mengejar dunia, ia mengabaikan riba, penipuan, manipulasi, suap, pengkhianatan amanah, atau kezaliman kepada orang lain.

Lebih baik rezeki sederhana tetapi halal dan berkah daripada harta banyak yang menggelisahkan hati.

Belajar Tinggi dan Berinovasi Tetap Penting

Ada kesan seolah-olah jika seseorang memilih jalan Islam, maka ia tidak perlu serius dalam pendidikan, riset, teknologi, bisnis, atau inovasi. Ini pemahaman yang keliru.

Seorang Muslim justru perlu menjadi pribadi yang berilmu dan kompeten. Umat Islam membutuhkan dokter, insinyur, guru, peneliti, ekonom, pengusaha, teknisi, ahli hukum, penulis, pemimpin, dan pekerja profesional yang amanah.

Ilmu dunia dapat menjadi sarana besar untuk kebaikan jika diarahkan oleh iman.

Teknologi dapat membantu dakwah.

Bisnis dapat membuka lapangan kerja.

Pendidikan dapat mengangkat kualitas umat.

Riset dapat menyelesaikan masalah masyarakat.

Kepemimpinan dapat menegakkan keadilan.

Maka, belajar tinggi dan berinovasi bukan bertentangan dengan Islam. Yang perlu dijaga adalah niat, cara, dan tujuan akhirnya.

Meneladani Para Sahabat dalam Dunia dan Akhirat

Generasi sahabat Nabi ﷺ memberi teladan tentang keseimbangan antara dunia dan akhirat. Mereka tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga kuat dalam perjuangan, perdagangan, kepemimpinan, dan pembangunan masyarakat.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah contoh sahabat kaya yang hartanya banyak digunakan untuk Islam. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah pedagang sukses yang tetap dikenal karena kedermawanannya. Para sahabat tidak menjadikan harta sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk kebaikan.

Dari mereka kita belajar bahwa kekayaan tidak tercela jika berada di tangan orang yang beriman dan bertakwa. Yang tercela adalah ketika harta membuat manusia lalai, sombong, dan zalim.

Sukses Dunia Tidak Selalu Berarti Hidup Mewah

Dalam pandangan Islam, sukses dunia tidak harus selalu identik dengan kemewahan. Seseorang bisa dikatakan sukses jika hidupnya bermanfaat, rezekinya halal, keluarganya terjaga, ibadahnya kuat, akhlaknya baik, dan hatinya tenang.

Ada orang yang hartanya banyak tetapi hidupnya gelisah. Ada orang yang jabatannya tinggi tetapi hatinya kosong. Ada orang yang terkenal tetapi keluarganya berantakan. Sebaliknya, ada orang yang hidupnya sederhana tetapi penuh keberkahan.

Karena itu, ukuran sukses seorang Muslim harus lebih luas daripada standar materi.

Sukses adalah ketika dunia yang dimiliki membantu mendekat kepada Allah.

Sukses adalah ketika pekerjaan tidak membuat lupa shalat.

Sukses adalah ketika harta menjadi sedekah.

Sukses adalah ketika ilmu menjadi manfaat.

Sukses adalah ketika jabatan menjadi amanah.

Sukses adalah ketika keluarga tumbuh dalam iman.

Mengatur Waktu antara Ibadah dan Ikhtiar

Seorang Muslim perlu pandai mengatur waktu. Ibadah tidak boleh diabaikan, tetapi pekerjaan juga harus dilakukan dengan profesional. Jangan sampai alasan ibadah digunakan untuk bermalas-malasan dalam amanah kerja. Sebaliknya, jangan sampai alasan kerja digunakan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Keseimbangan ini penting.

Tidur cukup agar tubuh kuat.

Bangun lebih awal untuk shalat dan memulai hari dengan baik.

Bekerja dengan fokus dan amanah.

Menjaga waktu shalat.

Menyisihkan waktu untuk keluarga.

Meluangkan waktu untuk ilmu agama.

Mengurangi hal yang tidak bermanfaat.

Dengan manajemen waktu yang baik, seorang Muslim bisa tetap produktif tanpa kehilangan arah akhirat.

Shalat Malam dan Kekuatan Jiwa

Dalam tradisi Islam, shalat malam memiliki kedudukan yang agung. Banyak orang saleh menjadikan waktu malam sebagai saat untuk mendekat kepada Allah, bermunajat, beristighfar, dan memperkuat jiwa.

Namun, shalat malam tidak boleh dipahami sebagai pengganti ikhtiar dunia. Ia adalah penguat hati agar siang harinya seseorang lebih jujur, lebih kuat, lebih tenang, dan lebih berkah dalam bekerja.

Orang beriman boleh tidur lebih sedikit karena ibadah, tetapi tetap perlu menjaga kesehatan dan tanggung jawab. Islam mengajarkan keseimbangan, bukan merusak tubuh dengan alasan semangat.

Jangan Meniru Dunia Tanpa Saringan Iman

Banyak metode sukses dunia yang baik untuk dipelajari: disiplin, riset, inovasi, manajemen, kepemimpinan, literasi keuangan, teknologi, dan produktivitas. Seorang Muslim boleh mengambil manfaat dari semua itu selama tidak bertentangan dengan syariat.

Namun, tidak semua konsep sukses dunia boleh ditelan mentah-mentah. Ada konsep yang terlalu memuja ambisi pribadi, menghalalkan segala cara, menormalkan riba, mengorbankan keluarga, meremehkan ibadah, atau menjadikan manusia seolah-olah hanya mesin produktivitas.

Di sinilah iman menjadi penyaring.

Ambil ilmu yang baik.

Tinggalkan cara yang haram.

Gunakan strategi yang bermanfaat.

Jaga hati dari kesombongan.

Jadikan Allah sebagai tujuan akhir.

Prinsip Sukses Dunia bagi Muslim

Ada beberapa prinsip yang dapat menjadi pegangan.

Pertama, niatkan usaha untuk ibadah.

Kedua, cari rezeki dengan cara halal.

Ketiga, jaga shalat dan kewajiban agama.

Keempat, tingkatkan ilmu dan keterampilan.

Kelima, bekerja dengan amanah dan profesional.

Keenam, hindari riba, penipuan, suap, dan kezaliman.

Ketujuh, perbanyak sedekah dan zakat.

Kedelapan, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama.

Kesembilan, bertawakal setelah berikhtiar.

Kesepuluh, ukur kesuksesan dengan keberkahan, bukan hanya jumlah harta.

Jika prinsip-prinsip ini dijaga, insya Allah kesuksesan dunia tidak akan menjadi penghalang menuju akhirat.

Penutup

Cara sukses dunia bagi seorang Muslim bukan berarti meninggalkan kerja keras, pendidikan, riset, inovasi, atau profesionalisme. Semua itu tetap penting. Namun, semua usaha dunia harus dipandu oleh iman, takwa, halal-haram, ibadah, akhlak, tawakal, dan tujuan akhirat.

Seorang Muslim bekerja keras, tetapi tidak meninggalkan shalat. Ia belajar tinggi, tetapi tetap rendah hati. Ia membangun bisnis, tetapi menjauhi yang haram. Ia mencari harta, tetapi menggunakan hartanya untuk kebaikan. Ia ingin maju, tetapi tidak lupa bahwa dunia hanya sementara.

Sukses sejati adalah ketika dunia menjadi bekal akhirat, bukan penghalang menuju Allah.

Cara kaum muslimin mencapai kesuksesan dunia ini secara konsep berbeda dengan cara orang-orang di luar Islam. 

Kalau orang di luar Islam, mereka akan memaksimalkan upaya-upaya dunia mereka, melalui kerja keras banting tulang. Kerja, kerja, kerja, kerja tanpa henti. Selain itu juga melalui jalur pendidikan dunia yang setinggi-tingginya. Mendayagunakan secara maksimal akal dan rasio, melakukan riset-riset dan berinovasi tiada henti. Menggalakkan entrepreneurship, memaksimalkan potensi diri tanpa batas. Hingga waktu tidurnya sedikit. Fokus pada segala daya dan upaya yang sepenuhnya berorientasi dunia. 

Berbeda dengan kaum muslimin yang beriman yang seolah kesehariannya sudah terbebani banyak kewajiban dan sunnah syariat. Ada syariat sholat 5 waktu, sholat-sholat sunnah, bayar zakat, infaq, sedekah, puasa ramadhan dan puasa-puasa sunnah, naik haji, dan kewajiban serta sunnah lainnya. Seolah waktu tersisa untuk mencari dunia bagi kaum muslimin beriman hanya sedikit saja.

Bahkan waktu tidur orang beriman juga banyak berkurang. Bukan karena bekerja tapi karena ibadah. Justru kalau kaidah dalan syariat Islam, tidurlah di awal waktu (setelah Isya), bangun di 1/3 malam terakhir untuk melaksanakan sholat tahajjud, di pagi hari bertebaranlah di muka bumi mencari rejeki yang halal barokah sekedarnya dengan iman dan takwa dan banyak berdzikir. Dari kaidah ini bisa diketahui bahwa sedikitnya waktu tidur kaum muslimin beriman bukan karena bekerja banting tulang tetapi karena melaksanakan sholat malam. 

Namun demikian, walau waktu tersisa bagi kaum muslimim untuk mencari dunia seolah singkat, jika Allah berkehendak, maka dunia dan segala isinya akan diberikan kepada kaum muslimin sesuai dengan yang dikehendaki Allah. 

Alhasil kaidah dan keistiqomahan kaum muslimin beriman ini telah terbukti pernah melahirkan pengusaha-pengusaha hebat nan dermawan seperti Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dll. Dan bahkan di era para Sahabat Nabi itu pun dua negeri adidaya saat itu, Romawi dan Persia, berhasil ditaklukkan. 

Jadi bagi kaum muslimin, terdapat perbedaan cara menggapai kesuksesan dunianya. Kaum muslimin tidak akan meniru cara-caranya orang di luar Islam yang benar-benar full dan fokus hanya pada dunia, tetapi akan selalu istiqomah berupaya melalui cara-cara Islam seperti pernah dicontohkan generasi salafus shaleh. Namun demikian, seorang muslim tetap harus kerja keras, mengenyam pendidikan setingi-tingginya, melakukan riset, inovasi, dan kegiatan profesionalisme lainnya sesuai kemampuan. Namun demikian di sisi lain juga tetap selalu giat beribadah baik yang wajib dan sunnah.

Semoga Allah memudahkan kita meraih rezeki yang halal dan berkah, menjadikan kita pribadi yang produktif dan amanah, serta menjaga hati kita agar tidak diperbudak oleh dunia.

Wallahu a‘lam.



Senin, 02 Desember 2019

ISTIQOMAH ITU BERAT, KALAU RINGAN NAMANYA ISTIRAHAT


Istiqamah itu berat. Jika terasa ringan terus-menerus, mungkin itu bukan perjuangan, tetapi istirahat.

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Menjadi seorang Muslim yang berusaha taat kepada Allah tidak berarti hidup akan selalu mudah, tenang, dan bebas dari masalah. Justru, dalam banyak keadaan, semakin seseorang ingin memperbaiki diri, semakin terasa pula ujian yang datang.

Ada ujian dari diri sendiri, seperti rasa malas, hawa nafsu, kebiasaan lama, dan lemahnya semangat.

Ada ujian dari lingkungan, seperti komentar orang, godaan pergaulan, tekanan pekerjaan, atau budaya yang menjauhkan dari agama.

Ada pula ujian berupa harta, kesehatan, keluarga, kehilangan, kesedihan, dan berbagai keadaan yang menguji kesabaran.

Namun, semua itu bukan alasan untuk berhenti. Dunia memang tempat ujian. Sedangkan tempat istirahat yang sesungguhnya bagi orang beriman adalah surga.

Apa Itu Istiqamah?

Istiqamah berarti tetap teguh berada di jalan yang benar. Bukan hanya semangat sesaat, bukan hanya berubah ketika suasana mendukung, dan bukan hanya taat ketika sedang mudah.

Istiqamah adalah terus berusaha taat kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit, saat dipuji maupun dicela, saat hati sedang semangat maupun sedang lemah.

Orang yang istiqamah bukan berarti tidak pernah jatuh. Ia tetap manusia yang bisa salah, lelah, dan lalai. Namun, ketika jatuh, ia kembali bangkit. Ketika berdosa, ia bertaubat. Ketika melemah, ia mencari pertolongan Allah. Ketika diuji, ia belajar bersabar.

Istiqamah adalah perjalanan panjang sampai akhir hayat.

Jangan Mengira Iman Membuat Hidup Bebas Ujian

Sebagian orang mengira bahwa setelah berhijrah, meninggalkan maksiat, memperbaiki ibadah, dan berusaha menjalankan Al-Qur’an serta Sunnah, maka hidup akan langsung tenang tanpa masalah.

Padahal, Allah telah mengabarkan bahwa orang beriman akan diuji.

Allah berfirman:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)

Ayat ini mengingatkan bahwa pengakuan iman akan diuji. Ujian bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Ujian bisa menjadi cara Allah membersihkan, menguatkan, dan membedakan siapa yang sungguh-sungguh dalam keimanannya.

Iman bukan janji bahwa hidup akan selalu mudah. Iman adalah bekal agar seseorang tetap kuat ketika hidup terasa sulit.

Dunia adalah Tempat Menanam Amal

Dunia bukan tempat istirahat yang sempurna. Dunia adalah tempat bekerja, beramal, belajar, berjuang, dan menghadapi ujian. Di sinilah manusia menanam bekal untuk kehidupan akhirat.

Jika dunia dijadikan tujuan akhir, seseorang akan mudah kecewa. Sebab, dunia memang tidak pernah sempurna. Ada sehat dan sakit. Ada senang dan sedih. Ada lapang dan sempit. Ada pertemuan dan perpisahan. Ada keberhasilan dan kegagalan.

Namun, jika dunia dipahami sebagai ladang amal, maka setiap keadaan dapat menjadi jalan menuju kebaikan.

Ketika sehat, seseorang bisa bersyukur dan memperbanyak ibadah.

Ketika sakit, ia bisa bersabar dan berharap penghapus dosa.

Ketika diberi harta, ia bisa bersedekah.

Ketika diuji kekurangan, ia bisa belajar tawakal.

Ketika dipuji, ia menjaga hati dari sombong.

Ketika dicela, ia belajar sabar dan memperbaiki diri.

Begitulah cara orang beriman memandang dunia.

Surga adalah Tempat Istirahat yang Sebenarnya

Di dunia, orang beriman berjuang menjaga ketaatan. Ia menahan diri dari yang haram, menjaga shalat, menundukkan pandangan, menahan lisan, mencari rezeki halal, bersabar atas ujian, dan terus memperbaiki diri.

Semua itu tidak selalu mudah. Namun, Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

Tempat istirahat yang sempurna bukan di dunia, tetapi di surga. Di sanalah tidak ada lelah, tidak ada sakit, tidak ada kesedihan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada perpisahan. Di sanalah seorang hamba memanen rahmat Allah atas amal saleh yang dikerjakannya di dunia.

Karena itu, jangan berharap dunia menjadi surga. Dunia adalah perjalanan. Surga adalah tujuan.

Ujian Datang Sesuai Kadar Keimanan

Dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang siapa manusia yang paling berat ujiannya. Beliau menjawab bahwa yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya semakin berat. Jika agamanya lemah, maka ia diuji sesuai kadar agamanya.

Hadis ini memberi pelajaran penting. Ujian tidak selalu berarti kehinaan. Bisa jadi ujian adalah tanda bahwa Allah sedang mengangkat derajat seorang hamba, membersihkan dosanya, dan menguatkan imannya.

Namun, bukan berarti seseorang boleh mencari-cari ujian. Seorang Muslim tetap dianjurkan memohon keselamatan dan afiyah kepada Allah. Jika ujian datang, barulah ia bersabar dan menghadapinya dengan iman.

Ujian Bisa Menghapus Dosa

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa ujian akan terus menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa membawa dosa. Maknanya, musibah dan ujian yang dihadapi dengan sabar dapat menjadi sebab dihapusnya kesalahan seorang Muslim.

Ini adalah kabar yang menenangkan. Rasa sakit, kesedihan, kehilangan, kesempitan, dan berbagai ujian hidup tidak selalu sia-sia. Jika dihadapi dengan iman, sabar, dan ridha kepada ketetapan Allah, semua itu bisa menjadi kebaikan.

Namun, sabar bukan berarti tidak boleh sedih. Sabar bukan berarti tidak boleh menangis. Sabar bukan berarti pura-pura kuat. Sabar adalah menjaga hati, lisan, dan tindakan agar tetap berada dalam batas yang diridhai Allah.

Istiqamah Membutuhkan Kesabaran

Tidak ada istiqamah tanpa sabar. Sebab, menjaga ketaatan membutuhkan perjuangan.

Butuh sabar untuk menjaga shalat tepat waktu.

Butuh sabar untuk meninggalkan maksiat.

Butuh sabar untuk menjauhi lingkungan buruk.

Butuh sabar untuk menahan lisan.

Butuh sabar untuk mencari rezeki halal.

Butuh sabar untuk belajar agama.

Butuh sabar untuk menghadapi komentar orang.

Butuh sabar untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Karena itu, orang yang ingin istiqamah harus sering memohon pertolongan kepada Allah. Manusia lemah. Tanpa pertolongan Allah, hati mudah berubah dan semangat mudah turun.

Jangan Menyerah Ketika Semangat Turun

Dalam perjalanan hijrah dan perbaikan diri, semangat tidak selalu stabil. Ada hari ketika ibadah terasa ringan. Ada hari ketika hati terasa dekat dengan Allah. Namun, ada juga hari ketika rasa malas datang, hati terasa kering, dan amal terasa berat.

Jangan langsung menyerah ketika semangat turun.

Yang penting adalah jangan meninggalkan kewajiban. Jika belum mampu memperbanyak amal sunnah, tetap jaga yang wajib. Jika belum bisa membaca Al-Qur’an banyak, baca sedikit tetapi rutin. Jika belum mampu sedekah besar, sedekah semampunya. Jika terjatuh dalam dosa, segera bertaubat.

Istiqamah bukan berarti selalu berlari cepat. Kadang istiqamah berarti tetap berjalan meskipun pelan.

Cara Menjaga Istiqamah

Ada beberapa langkah praktis agar seorang Muslim lebih mudah menjaga istiqamah.

Pertama, jaga shalat wajib. Shalat adalah tiang agama dan penguat hubungan dengan Allah.

Kedua, perbanyak doa agar diberi keteguhan hati. Hati manusia mudah berubah, maka mintalah kepada Allah agar diteguhkan.

Ketiga, pilih lingkungan yang baik. Teman dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keistiqamahan.

Keempat, mulai dari amal kecil yang konsisten. Amal yang sedikit tetapi rutin lebih mudah dijaga daripada amal besar yang hanya sesaat.

Kelima, terus belajar ilmu agama. Ilmu membantu seseorang memahami arah hidup dan cara beribadah dengan benar.

Keenam, hindari pintu maksiat. Jangan hanya menjauhi dosa, tetapi juga jauhi jalan yang mengarah kepada dosa.

Ketujuh, ingat kematian dan akhirat. Mengingat akhirat membantu hati tidak terlalu larut dalam dunia.

Kedelapan, jangan terlalu keras pada diri hingga putus asa. Perbaikan diri membutuhkan proses.

Kesembilan, banyak beristighfar. Istighfar membersihkan hati dan mengingatkan bahwa kita selalu butuh ampunan Allah.

Kesepuluh, jangan mencari ridha manusia. Jadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Jangan Merasa Sudah Aman

Seseorang tidak boleh merasa pasti selamat hanya karena sudah mulai berhijrah atau sudah memperbaiki diri. Hidayah adalah nikmat yang harus dijaga. Iman bisa naik dan turun. Hati bisa kuat dan bisa lemah.

Karena itu, orang beriman perlu tetap rendah hati. Jangan merendahkan orang lain yang belum berada pada tahap yang sama. Jangan merasa lebih suci. Jangan merasa amal sudah cukup.

Teruslah berdoa agar diberi husnul khatimah. Sebab, yang paling penting bukan hanya memulai kebaikan, tetapi bertahan di atas kebaikan sampai akhir hidup.

Penutup

Istiqamah memang berat. Jika ringan, namanya istirahat. Dunia adalah tempat berjuang, bukan tempat menikmati ketenangan tanpa ujian. Orang beriman akan diuji agar tampak kesungguhan imannya, agar dosanya dihapus, dan agar derajatnya diangkat.

Namun, Allah tidak membebani hamba di luar kesanggupannya. Setiap ujian yang datang selalu berada dalam ilmu dan hikmah Allah. Tugas kita adalah terus memperbaiki diri, menjaga kewajiban, memperbanyak amal saleh, bersabar, dan memohon pertolongan Allah.

Jangan berhenti hanya karena lelah. Jangan kembali kepada maksiat hanya karena diuji. Jangan putus asa hanya karena belum sempurna.

Teruslah berjalan menuju Allah. Jika mampu berlari, berlarilah. Jika hanya mampu berjalan pelan, tetaplah berjalan. Jika terjatuh, bangkitlah kembali.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah, sabar dalam ujian, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Wallahu a‘lam.

Rujukan

  • Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 31.
  • Al-Qur’an Surah Al-‘Ankabut ayat 2.
  • Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 186.
  • Hadis tentang ujian yang menghapus dosa, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
  • Hadis tentang manusia yang paling berat ujiannya, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
  • Allâh Azza wa Jalla berfirman: Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31]
  • Allâh Azza wa Jalla berfirman: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]
  • Allâh Azza wa Jalla berfirman: Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]
  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allâh membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa [HR. at-Tirmidzi no.2398 , an-Nasâ’i di as-Sunan al-Kubrâ no. 7482 dan Ibnu Mâjah no. 4523 (Hadits shahîh. Ash-Shahîhah no. 143)]
  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu : “Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)]