Pendahuluan
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal memiliki kedalaman ilmu. Beliau masih berusia muda ketika hidup bersama Rasulullah ﷺ, tetapi kemudian menjadi salah satu rujukan penting dalam tafsir Al-Qur’an dan ilmu agama.
Salah satu hadis yang sangat terkenal adalah nasihat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Abbas ketika beliau masih kecil. Hadis ini berisi pesan besar tentang tauhid, penjagaan Allah, doa, tawakal, dan keyakinan terhadap takdir.
Meskipun disampaikan kepada seorang anak muda, kandungan nasihat ini sangat mendalam dan relevan untuk setiap muslim sepanjang zaman.
Hadis Wasiat Rasulullah kepada Ibnu Abbas
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
“Aku pernah berada di belakang Nabi ﷺ pada suatu hari. Beliau bersabda, ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad, serta dikenal luas sebagai salah satu hadis penting dalam pembahasan akidah dan tawakal.
1. Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu
Kalimat pertama dalam wasiat ini adalah: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”
Maksud menjaga Allah bukan berarti Allah membutuhkan penjagaan manusia. Allah Maha Kuat dan tidak membutuhkan siapa pun. Yang dimaksud adalah menjaga hak-hak Allah, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Seorang muslim menjaga Allah dengan menjaga shalat, menjaga tauhid, menjaga kejujuran, menjaga lisan, menjaga amanah, menjaga adab, serta menjauhi maksiat.
Apabila seorang hamba berusaha menjaga hak-hak Allah, maka Allah akan menjaganya. Bentuk penjagaan Allah dapat berupa penjagaan terhadap iman, agama, hati, akhlak, keluarga, kesehatan, keselamatan, dan urusan dunia yang membawa kebaikan.
Penjagaan terbesar dari Allah adalah penjagaan terhadap iman. Sebab, keselamatan akhirat jauh lebih penting daripada keselamatan dunia semata.
2. Jagalah Allah, Niscaya Engkau Mendapati-Nya di Hadapanmu
Nasihat berikutnya adalah: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Artinya, siapa yang menjaga ketaatan kepada Allah, maka Allah akan membimbingnya kepada jalan kebaikan. Allah akan menolongnya, mengarahkannya, dan memberi kemudahan dalam menghadapi berbagai urusan hidup.
Seorang hamba yang dekat dengan Allah tidak berarti bebas dari ujian. Namun, ia akan mendapatkan petunjuk dan kekuatan untuk melewati ujian tersebut.
Ketika seseorang menjaga hubungannya dengan Allah, maka hatinya akan lebih kuat. Ia tidak mudah putus asa, tidak mudah panik, dan tidak mudah bergantung sepenuhnya kepada manusia.
3. Jika Meminta, Mintalah kepada Allah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah.”
Kalimat ini mengajarkan tauhid yang sangat penting. Seorang muslim harus menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa penuh untuk mengabulkan doa dan memberikan segala kebaikan.
Manusia boleh meminta bantuan kepada sesama dalam perkara yang mampu dilakukan manusia, seperti meminta nasihat, bantuan pekerjaan, pertolongan fisik, atau dukungan dalam urusan dunia. Namun, hati seorang muslim tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Allah adalah pemberi rezeki, pemberi keselamatan, pemberi petunjuk, dan pemberi jalan keluar. Karena itu, doa harus menjadi kebiasaan seorang muslim dalam setiap keadaan.
Jangan hanya berdoa ketika sedang susah. Seorang muslim juga perlu berdoa ketika lapang, sehat, bahagia, dan memiliki banyak kemudahan.
4. Jika Memohon Pertolongan, Mohonlah kepada Allah
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Nasihat ini mengajarkan bahwa pertolongan sejati datang dari Allah. Manusia dapat menjadi perantara, tetapi Allah-lah yang menggerakkan sebab dan membuka jalan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin membutuhkan pertolongan dokter saat sakit, bantuan guru saat belajar, bantuan teman saat kesulitan, atau dukungan keluarga saat menghadapi masalah. Semua itu diperbolehkan selama tidak melanggar syariat.
Namun, seorang muslim harus meyakini bahwa semua sebab tersebut berada di bawah kehendak Allah. Karena itu, ikhtiar harus berjalan bersama doa dan tawakal.
Seorang muslim tidak boleh sombong dengan usahanya sendiri, dan tidak boleh putus asa ketika bantuan manusia tidak datang. Selama Allah menjadi sandaran utama, selalu ada harapan dan jalan keluar.
5. Semua Manfaat Terjadi dengan Ketetapan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepada seseorang, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan.
Pesan ini menanamkan keyakinan bahwa semua kebaikan berada di tangan Allah. Rezeki, kesehatan, keselamatan, ilmu, kedudukan, keluarga, dan berbagai nikmat hidup tidak akan datang kecuali dengan izin Allah.
Karena itu, seorang muslim tidak perlu terlalu menggantungkan hati kepada manusia. Ia tetap boleh berterima kasih kepada orang yang membantunya, tetapi hatinya memahami bahwa Allah-lah sumber segala kebaikan.
Keyakinan ini membuat seseorang lebih tenang. Ia tidak mudah kecewa ketika harapannya kepada manusia tidak terpenuhi, karena ia tahu bahwa apa yang menjadi takdirnya tidak akan luput darinya.
6. Tidak Ada Bahaya kecuali dengan Izin Allah
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa seandainya seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakan seseorang, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan.
Pesan ini memberikan kekuatan besar bagi seorang muslim. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat mendatangkan bahaya tanpa izin Allah.
Namun, keyakinan ini bukan berarti seseorang boleh ceroboh atau sengaja membahayakan diri. Islam tetap mengajarkan ikhtiar, kehati-hatian, menjaga keselamatan, dan menghindari sebab-sebab keburukan.
Seorang muslim tetap harus berusaha menjaga diri, tetapi hatinya tidak dikuasai rasa takut berlebihan kepada makhluk. Ia yakin bahwa Allah Maha Menjaga dan segala sesuatu terjadi sesuai ketetapan-Nya.
7. Pena Telah Diangkat dan Lembaran Telah Kering
Kalimat terakhir dalam hadis ini adalah: “Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
Maksudnya, takdir Allah telah ditetapkan. Apa yang Allah tetapkan pasti terjadi, dan apa yang tidak Allah tetapkan tidak akan terjadi.
Keyakinan terhadap takdir adalah bagian penting dari iman. Dengan memahami takdir, seorang muslim belajar untuk tidak sombong saat berhasil dan tidak hancur saat gagal.
Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur karena tahu bahwa semua itu berasal dari Allah. Ketika menghadapi musibah, ia bersabar karena yakin bahwa semua terjadi dengan hikmah Allah.
Namun, iman kepada takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk malas. Seorang muslim tetap wajib berusaha, bekerja, belajar, berobat, berdagang, menjaga diri, dan melakukan sebab-sebab kebaikan.
Tawakal yang benar adalah menggabungkan ikhtiar maksimal dengan hati yang bersandar kepada Allah.
Pelajaran Penting dari Hadis Ini
Hadis wasiat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Abbas mengandung banyak pelajaran penting.
Pertama, pentingnya menjaga ketaatan kepada Allah dalam setiap keadaan.
Kedua, Allah akan menjaga hamba yang menjaga hak-hak-Nya.
Ketiga, doa harus ditujukan kepada Allah sebagai sumber segala kebaikan.
Keempat, pertolongan sejati hanya datang dari Allah.
Kelima, manfaat dan bahaya tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah.
Keenam, iman kepada takdir membuat hati lebih tenang, kuat, dan tidak mudah putus asa.
Ketujuh, tawakal tidak berarti meninggalkan usaha, tetapi menyandarkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang benar.
Relevansi Hadis Ini dalam Kehidupan Modern
Nasihat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Abbas sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Banyak orang hidup dalam tekanan, kecemasan, persaingan, dan ketidakpastian. Ada yang khawatir tentang rezeki, pekerjaan, kesehatan, masa depan, keluarga, dan berbagai urusan dunia.
Hadis ini mengajarkan bahwa hati seorang muslim harus kembali kepada Allah. Manusia boleh berusaha, merencanakan masa depan, bekerja keras, dan meminta bantuan kepada orang lain. Namun, sandaran utama tetap harus Allah.
Jika hati bergantung sepenuhnya kepada manusia, seseorang akan mudah kecewa. Jika hati hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri, seseorang akan mudah sombong atau putus asa. Namun, jika hati bergantung kepada Allah, ia akan lebih tenang dalam menghadapi hidup.
Penutup
Wasiat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Abbas adalah nasihat yang singkat, tetapi sangat mendalam. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang tauhid, doa, tawakal, penjagaan Allah, dan keyakinan terhadap takdir.
Seorang muslim perlu menjaga hak-hak Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika ia menjaga Allah, maka Allah akan menjaganya dengan penjagaan yang terbaik.
Dalam meminta dan memohon pertolongan, seorang muslim hendaknya selalu mengutamakan Allah sebagai tempat bergantung. Manusia dapat menjadi sebab, tetapi Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Dengan memahami hadis ini, seorang muslim akan lebih kuat menghadapi kehidupan. Ia tetap berusaha, tetapi tidak bergantung sepenuhnya kepada usaha. Ia tetap berhati-hati, tetapi tidak dikuasai rasa takut. Ia tetap berharap, tetapi hanya kepada Allah harapan tertingginya disandarkan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga hak-Nya, mendapatkan penjagaan-Nya, dan selalu bertawakal kepada-Nya dalam setiap keadaan.




