Saling Berbagi Pengetahuan, Pemikiran dan Cerita Terkait Agama, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kesehatan, Lingkungan, Energi, Bisnis, Manajemen, Sosial, Budaya, Sejarah, Dll
Minggu, 24 Juni 2012
KISAH LUKMANUL HAKIM DAN ANAKNYA
Suatu hari Lukamnul Hakim yang sudah tua melakukan perjalanan beserta anaknya yang masih bocah, serta seekor keledai kurus yang menjadi tunggangan mereka secara bergantian. Mereka hendak menuju suatu tempat yang sangat jauh dari kampung halaman, dan harus melalui beberapa kota besar.
Suatu ketika rombongan tiga mahluk ini sampailah pada sebuah pasar yang sangat ramai. Pada Saat itu, Lukman sedang menunggangi keledai, sedangkan si Anak menuntun keledai itu menyusuri keramaian pasar. Sayup-sayup terdengarlah komentar-komentar dari orang-orang pasar mengenai rombongan ini.
“Pak Tua itu tega sekali, anaknya yang masih kecil disuruh jalan, sedangkan dia sendiri menunggangi keledai yang sudah kurus itu”.
“Masak anak kecil disuruh jalan, sementara orang tuanya berleha-leha di atas keledai?!”
Komentar-komentar tidak bertanggung jawab ini sambung menyambung ala komunitas pasar. Lama-lama semakin tidak mengenakkan juga di telinga Lukman beserta anaknya itu. Belum lagi dengan sejumlah orag pasar yang memandangi mereka dengan sinis. Tidak tahan dengan omongan orang-orang pasar, Lukman berkata kepada anaknya, “Nak, Ayah turun ya, biar kamu saja yang menunggangi keledai!”
Si anak yang masih bocah, manggut-manggut dengan polos, menuruti perintah ayahanda yang sangat dicintainya. Maka seketika itu, berubahlah formasi rombongan. Si Anak menunggangi keledai, sedangkan Lukman menuntun keledai itu, melanjutkan perjalanan menyusuri keramaian pasar.
Tidak lama berselang, komentar-komentar dari orang-orang pasar kembali muncul.
“Wah, Anak kecil itu sungguh tidak berbakti, masak bapak setua itu disuruh jalan”
“Mau jadi apa kalo besar nanti anak itu?”
“Anak kecil itu apa tidak kasihan pada orang tuanya yang sudah lanjut usia?”
“Bapak tua itu kok terlalu memanjakan anaknya”
Semakin bermacam-macam komentar-komentar orang pasar. Ada yang terdengar sayup-sayup, ada juga yang tanpa sopan santun menghardik. Semakin banyak pula orang-orang sekitar yang termakan dengan komentar orang pasar dan akhirnya menyerang rombongan tak berdosa itu dengan pandangan yang sangat sinis.
"Baiklah nak, barangkali sebaiknya ayah juga naik keledainya, ya"
Lukman pun naik ke pundak keledai, berbagi dengan anaknya. si Keledai meringkik, hendak berteriak karena beban berat yang diembannya. Namun apa mau dikata, diapun tidak bisa protes. Maka berlanjutlah perjalanan si keledai malang itu dengan dua penunggang di pundaknya.
Melihat hal ini, orang-orang pasar kembali berkomentar,
"Wah, kasihan sekali keledainya ya, sudah kurus masih saja ditunggangi"
"Raja tega!"
"Duh, bagaimana sih Pak Tua dan bocah ini? kejam sekali sama keledai yang sudah kurus kerempeng itu"
Mendangar komentar masyarakat yang masih saja sinis, Lukman dan anaknya yang tidak berdosa semakin tidak tahu harus berbuat apa lagi. Beruntung si keledai karena tidak mengerti bahasa manusia. Telinga Lukman semakin panas. Matanya juga tambah panas karena diserang secara kejam dengan pandangan-pandangan tajam yang menusuk sampai ke dada.
“Sudah Nak, kita bersabar aja ya" lanjut dia, "nah sekarang Anak turun dulu dari keledai, ya!”
Ketika si Anak sudah turun dari keledai, maka Lukman pun mengangkat si keledai seperti mengangkat sebuah hewan buruan. Dia menggendong keledai itu. Keledai kurus yang sudah sangat jinak itu pun seperti pasrah saja pada tuannya. Tangan kanan Lukman mendekap keledai agar tidak berubah posisi di bahunya.
Setelah posisi keledai itu pakem, lalu Lukman menggandeng tangan si anak dengan tangan kirinya, menyusuri kembali keramaian pasar yang seolah-olah tidak ada ujungnya itu. Kali ini Lukman bersikap cuek-cuek aja dan berjalan dengan percaya diri. Maka formasi rombongan yang aneh inipun menjadi bahan tertawaan orang-orang pasar.
“Wah..wah..wah…Bapak dan Anak ini sepertinya sudah gila, masak keledai digendong?!”
“Rombongan yang aneh”
Ya begitulah kalo menuruti kemauan orang-orang kebanyakan yang tidak berilmu. Bisanya mereka hanya berkomentar ngalor-ngidul, tidak karuan, sekehendak hatinya. Dijamin, di mata mereka, kita tidak akan pernah tampak benar, salah terus.
Berbeda halnya dengan Lukmanul Hakim yang merupakan hamba Allah yang sholeh dan berilmu serta diabadikan sebagai nama surat dalam Al Quran, Surat Lukman. Dalam surat Lukman, terdapat beberapa catatan mengenai pesan Lukman kepada anaknya(QS. Luqman: 13-19)"
“13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Wasiat-wasiat Luqman lainnya:
Selain dalam ayat al-Qur’an, Luqman juga mempunyai banyak wasiat. Wahab bin Munabbih pernah menuturkan: “Saya membaca hikmah Luqman yang jumlahnya lebih dari 10 ribu bab”.
Dalam bukunya Min Washaya al-Qur’an al-Karim (1/31-33), Muhammad al-Anwar Ahmad Baltagi, mengutip sebuah riwayat dari Malik bin Anas bahwasannya Luqman pernah menasehati putranya di bawah ini:
01 - Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya adalah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah.
02 - Orang - orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah. Orang yang insaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa menerima kemulian dari Allah juga.
03 - Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka dia tawadduk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepadaNya.
04 - Hai anakku; seandainya ibubapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam tanaman.
05 - Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.
06 - Dan Berharaplah selalu kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakaiNya. Takutlah kepada Allah dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah.
07 - Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak melamun hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih
mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.
08 - Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi dari semua itu, yaitu manakala engkau mempunyai tetangga (jiran) yang jahat.
09 - Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.
10 - Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.
11 - Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau menghadiri majlis perkawinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab hal itu akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkawinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.
12 - Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baik apabila diberikan kepada binatang sekalipun.
13 - Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.
14 - Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta nasihat dari
mereka.
15 - Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih
ingin terus menambahkannya.
16 - Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu
dia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.
17 - Selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.
18 - Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.
19 - Jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya~ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.
20 - Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia kerana engkau diciptakan Allah bukanlah untuk
dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.
21 - Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.
22 - Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah
engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.
23 - Barang sesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandung racun, dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.
24 - Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya karena sesungguhnya hati akan tentram mendengarkan nasihatnya, sehingga hati ini akan hidup dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya sebagaimana tanah subur yang disirami air hujan.
25 - Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang yang bermuka dua, karena kelak akan membinasakan dirimu.
Wawwahu a'lam bis showab
Diambil dari berbagai referensi:
Salah satunya tulisan ust Aep Saipullah, dalam http://umisulaiman.blogspot.com/2009/04/makam-lukmanul-hakim.html
Jumat, 18 Mei 2012
Pembatalan Konser Lady Gaga: Antara Kebebasan Ekspresi, Budaya, dan Tanggung Jawab Publik
Pembatalan konser Lady Gaga pernah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Ada kelompok yang mendukung konser tersebut karena melihatnya sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan hiburan. Ada pula kelompok yang menolak karena menilai sebagian konsep panggung, busana, dan gaya pertunjukannya tidak sesuai dengan nilai budaya dan moral masyarakat Indonesia.
Dalam sebuah negara yang masyarakatnya beragam, perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya wajar. Setiap orang dapat memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap seni, hiburan, moralitas, dan batasan ekspresi publik.
Namun, yang perlu dijaga adalah cara menyampaikan pendapat. Menolak suatu konser tidak berarti harus menghina pribadi artisnya. Mendukung konser juga tidak berarti boleh meremehkan kekhawatiran masyarakat yang ingin menjaga nilai keluarga dan budaya.
Perdebatan seperti ini sebaiknya ditempatkan dalam ruang diskusi yang sehat.
Mengapa Konser Ini Menimbulkan Perdebatan?
Lady Gaga dikenal sebagai salah satu penyanyi internasional dengan gaya panggung yang kuat, teatrikal, dan sering memancing perhatian publik. Bagi sebagian orang, gaya tersebut dianggap sebagai bagian dari seni pertunjukan modern. Namun, bagi sebagian masyarakat lain, gaya seperti itu dinilai terlalu provokatif dan tidak sesuai dengan norma yang ingin dijaga.
Di sinilah muncul benturan nilai.
Sebagian orang melihat konser sebagai hiburan dan ekspresi seni. Sebagian lainnya melihat bahwa hiburan publik tetap perlu mempertimbangkan nilai kepantasan, usia penonton, dampak sosial, dan budaya lokal.
Indonesia bukan negara yang hampa nilai. Masyarakat Indonesia memiliki keberagaman agama, adat, dan norma sosial. Karena itu, pertunjukan publik, terutama yang berskala besar, perlu mempertimbangkan konteks masyarakat tempat acara itu diselenggarakan.
Kebebasan Ekspresi Tetap Memiliki Batas
Kebebasan berekspresi adalah hal penting dalam kehidupan modern. Seni, musik, dan budaya populer dapat menjadi ruang kreativitas. Banyak karya hiburan yang memberi inspirasi, semangat, dan bahkan kritik sosial.
Namun, kebebasan ekspresi bukan berarti tanpa batas. Dalam ruang publik, setiap bentuk ekspresi tetap perlu mempertimbangkan hukum, norma, keselamatan, usia penonton, dan dampak terhadap masyarakat luas.
Hal ini berlaku bukan hanya untuk artis luar negeri, tetapi juga artis dalam negeri.
Jika sebuah pertunjukan dianggap tidak pantas karena menampilkan unsur yang terlalu provokatif, maka seharusnya penilaian itu tidak hanya berlaku kepada satu artis asing saja. Standar yang sama juga perlu diterapkan pada hiburan lokal.
Inilah poin penting yang sering terlupakan.
Jangan Hanya Kritis kepada Artis Luar Negeri
Jika masyarakat menolak konser Lady Gaga karena alasan moral dan budaya, maka sikap tersebut sebaiknya dilakukan secara konsisten.
Jangan sampai konser artis luar negeri ditolak karena dianggap tidak sesuai norma, tetapi pertunjukan lokal yang menampilkan hal serupa justru dibiarkan. Jika standar moral hanya diterapkan kepada pihak tertentu, maka kritik tersebut akan terlihat tidak adil.
Konsistensi sangat penting.
Apabila yang dipersoalkan adalah penampilan panggung yang terlalu provokatif, eksploitasi tubuh, atau konten yang tidak sesuai untuk anak dan remaja, maka evaluasi harus berlaku umum. Tidak peduli apakah artisnya berasal dari luar negeri atau dalam negeri.
Dengan demikian, pembahasan ini tidak berhenti pada satu nama artis, tetapi menjadi refleksi lebih luas tentang arah industri hiburan.
Pengaruh Public Figure terhadap Masyarakat
Public figure memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat, terutama anak muda. Cara berpakaian, cara bicara, gaya hidup, dan pilihan nilai yang ditampilkan figur publik sering kali ditiru oleh penggemarnya.
Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele.
Ketika seorang artis menjadi idola, sebagian penggemar bisa merasa sangat terikat secara emosional. Mereka rela mengeluarkan uang, datang dari jauh, berdesakan, bahkan merasa sangat kecewa ketika acara dibatalkan.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya populer.
Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam mengidolakan seseorang. Mengagumi karya seni boleh saja, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan menilai mana yang baik dan mana yang perlu disaring.
Tidak semua yang populer layak ditiru.
Perlindungan Anak dan Remaja
Salah satu alasan penting dalam membahas hiburan publik adalah perlindungan anak dan remaja. Mereka berada pada fase pembentukan karakter, identitas, dan cara pandang terhadap dunia.
Konten hiburan yang terlalu dewasa, provokatif, atau tidak sesuai usia dapat memengaruhi cara mereka memahami tubuh, hubungan, gaya hidup, dan nilai moral.
Karena itu, penyelenggara acara, pemerintah, orang tua, dan masyarakat perlu memperhatikan batas usia, klasifikasi konten, serta informasi yang jelas tentang jenis pertunjukan.
Jika sebuah konser atau pertunjukan memang ditujukan untuk penonton dewasa, maka perlu ada pengaturan yang jelas. Jika acara dapat diakses publik luas, maka tanggung jawab sosialnya tentu lebih besar.
Orang tua juga tidak boleh menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada media dan hiburan. Anak perlu didampingi dalam memilih tontonan, musik, dan figur yang mereka kagumi.
Seni, Bisnis, dan Tanggung Jawab Moral
Industri hiburan adalah bagian dari bisnis. Konser, album, merchandise, promosi, dan popularitas semuanya memiliki nilai ekonomi. Namun, karena hiburan menyentuh ruang budaya dan emosi masyarakat, bisnis hiburan juga memiliki tanggung jawab moral.
Sebuah pertunjukan tidak hanya menjual tiket. Ia juga membawa pesan, simbol, gaya hidup, dan nilai tertentu.
Karena itu, penyelenggara acara perlu bijak membaca konteks sosial. Tidak semua konsep yang berhasil di satu negara dapat diterima begitu saja di negara lain. Setiap masyarakat memiliki batas penerimaan yang berbeda.
Di sisi lain, kelompok masyarakat yang menolak juga perlu menyampaikan keberatan dengan cara yang beradab. Kritik yang baik tidak perlu memakai hinaan. Penolakan yang kuat tetap dapat disampaikan dengan bahasa yang santun dan argumentasi yang jelas.
Menolak Bukan Berarti Membenci
Dalam kasus seperti ini, penting untuk membedakan antara menolak konsep pertunjukan dan membenci pribadi seseorang.
Seorang Muslim, misalnya, boleh tidak setuju terhadap suatu bentuk hiburan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai agama. Namun, ketidaksetujuan itu tidak boleh berubah menjadi caci maki, penghinaan, atau kebencian kepada pribadi.
Akan lebih baik jika kritik disampaikan dengan adab.
Misalnya, tokoh masyarakat atau pihak yang menolak dapat menyampaikan bahwa keberatan mereka bukan karena kebencian terhadap artis tertentu, melainkan karena pertimbangan budaya, perlindungan generasi muda, dan nilai yang ingin dijaga.
Bahkan, jika memungkinkan, penolakan dapat disampaikan dalam bentuk surat terbuka yang sopan, berisi alasan yang jelas, serta harapan agar pihak terkait memahami sensitivitas masyarakat Indonesia.
Cara seperti ini lebih elegan daripada sekadar saling menyerang.
Perlu Standar Hiburan yang Lebih Jelas
Daripada setiap kasus hiburan publik selalu menjadi polemik, akan lebih baik jika ada standar yang lebih jelas dalam penyelenggaraan acara.
Standar tersebut dapat mencakup:
- klasifikasi usia penonton;
- transparansi konsep pertunjukan;
- kepatuhan terhadap hukum dan perizinan;
- pertimbangan nilai budaya lokal;
- keamanan acara;
- tanggung jawab promotor;
- dan perlindungan anak serta remaja.
Dengan adanya standar yang jelas, perdebatan tidak selalu menjadi emosional. Masyarakat dapat menilai berdasarkan aturan yang berlaku, bukan sekadar tekanan opini sesaat.
Standar ini juga harus berlaku adil untuk artis luar negeri dan artis dalam negeri.
Sikap Bijak bagi Masyarakat
Sebagai masyarakat, kita juga perlu bersikap lebih dewasa dalam menyikapi budaya populer.
Pertama, jangan mudah ikut arus hanya karena sesuatu sedang populer. Popularitas tidak selalu sama dengan kualitas.
Kedua, jangan mengidolakan manusia secara berlebihan. Setiap public figure tetap manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah.
Ketiga, pilih hiburan yang membawa manfaat atau setidaknya tidak merusak nilai diri dan keluarga.
Keempat, jika tidak setuju terhadap suatu pertunjukan, sampaikan dengan cara yang baik.
Kelima, jika mendukung kebebasan berekspresi, tetap hargai kekhawatiran masyarakat yang memiliki nilai berbeda.
Dengan sikap seperti ini, perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan.
Pelajaran dari Pembatalan Konser Lady Gaga
Kasus pembatalan konser Lady Gaga dapat menjadi pelajaran bahwa hiburan bukan hanya urusan musik dan panggung. Hiburan juga berkaitan dengan budaya, moral publik, kebebasan berekspresi, tanggung jawab bisnis, perlindungan anak, dan sensitivitas masyarakat.
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil.
Pertama, industri hiburan perlu memahami konteks budaya tempat acara diselenggarakan.
Kedua, masyarakat perlu memiliki standar yang konsisten dalam menilai hiburan, baik dari luar negeri maupun dalam negeri.
Ketiga, kritik terhadap hiburan sebaiknya disampaikan dengan adab dan argumentasi, bukan hinaan.
Keempat, orang tua perlu lebih aktif mendampingi anak dalam memilih tontonan dan idola.
Kelima, kebebasan ekspresi dan tanggung jawab sosial perlu berjalan berdampingan.
Penutup
Pembatalan konser Lady Gaga bukan hanya soal satu artis atau satu konser. Peristiwa ini dapat menjadi bahan renungan tentang bagaimana masyarakat menyikapi budaya populer, kebebasan ekspresi, dan batasan moral dalam ruang publik.
Menolak suatu pertunjukan yang dianggap tidak sesuai nilai budaya adalah hak masyarakat. Namun, penolakan itu harus dilakukan secara beradab, tidak menyerang pribadi, dan tidak bersifat pilih kasih.
Jika yang diperjuangkan adalah moral publik, maka standar tersebut harus berlaku konsisten. Bukan hanya untuk artis luar negeri, tetapi juga untuk hiburan lokal.
Pada akhirnya, kita perlu membangun budaya hiburan yang sehat: kreatif, menghibur, menghargai seni, tetapi tetap memperhatikan nilai keluarga, norma masyarakat, dan perlindungan generasi muda.
Semoga masyarakat kita semakin bijak dalam memilih hiburan, mengidolakan public figure, dan menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang Terasing: Makna Istiqamah di Tengah Zaman Modern
Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.
Hadis ini sering menjadi bahan renungan bagi umat Islam. Apa sebenarnya makna “asing” dalam hadis tersebut? Apakah menjadi asing berarti menjauh dari masyarakat? Apakah berarti merasa paling benar sendiri? Ataukah yang dimaksud adalah tetap berpegang pada kebenaran ketika nilai-nilai agama mulai dianggap aneh oleh banyak orang?
Untuk memahami maknanya, kita perlu melihat kembali sejarah awal dakwah Islam dan bagaimana ajaran Islam hadir di tengah masyarakat Mekkah.
Masyarakat Mekkah Sebelum Islam
Sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rasul, masyarakat Mekkah sebenarnya mengenal Allah. Mereka juga mengetahui Nabi Ibrahim dan menganggap diri mereka sebagai pewaris ajaran beliau.
Namun, dalam perjalanan waktu, ajaran tauhid yang murni telah tercampur dengan kemusyrikan. Berhala-berhala diletakkan di sekitar Ka’bah. Tradisi jahiliyah berkembang dalam kehidupan sosial. Sebagian kebiasaan yang jauh dari nilai tauhid dianggap sebagai warisan nenek moyang yang harus dipertahankan.
Mereka tidak merasa sedang melakukan kesalahan. Justru, mereka menganggap apa yang mereka lakukan sebagai kebenaran yang diwariskan turun-temurun.
Di sinilah dakwah Nabi Muhammad ﷺ hadir.
Dakwah Tauhid yang Dianggap Asing
Ketika Rasulullah ﷺ menyerukan kalimat tauhid, “La ilaha illallah,” beliau mengajak masyarakat Mekkah untuk kembali menyembah Allah saja dan meninggalkan kemusyrikan.
Seruan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Tauhid bukan hanya mengubah cara beribadah, tetapi juga mengguncang kebiasaan sosial, ekonomi, status, dan kekuasaan yang sudah mapan.
Sebagian besar pemuka Quraisy menolak dakwah Nabi ﷺ bukan karena mereka tidak pernah mendengar nama Allah, tetapi karena ajaran tauhid menuntut perubahan besar. Mereka harus meninggalkan berhala, meninggalkan kebanggaan jahiliyah, dan tunduk kepada aturan Allah.
Karena itu, para pengikut awal Nabi ﷺ dianggap asing. Mereka dicela, ditekan, bahkan disiksa. Namun, mereka tetap bertahan karena meyakini kebenaran Islam.
Dari Keterasingan Menuju Kemenangan
Pada masa awal dakwah, kaum Muslimin adalah kelompok kecil yang lemah secara sosial dan politik. Namun, mereka memiliki kekuatan iman, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah.
Perjalanan dakwah tidak mudah. Ada penolakan, tekanan, pemboikotan, hijrah ke Habasyah, hingga hijrah ke Madinah. Namun, dengan pertolongan Allah, Islam terus berkembang.
Akhirnya, terjadilah Fathul Mekkah. Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Mekkah dalam keadaan kuat. Berhala-berhala dihancurkan, tauhid ditegakkan, dan Ka’bah dikembalikan sebagai pusat ibadah kepada Allah semata.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ajaran yang awalnya dianggap asing dapat menjadi cahaya yang membebaskan manusia dari kemusyrikan dan kezaliman.
Islam Kembali Terasa Asing di Zaman Modern
Seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia berubah. Teknologi berkembang pesat. Ada pesawat, internet, komputer, smartphone, media sosial, kecerdasan buatan, sistem keuangan modern, dan berbagai bentuk kehidupan baru yang tidak ada pada masa Nabi ﷺ.
Perubahan ini membuat sebagian orang merasa bahwa ajaran Islam perlu disesuaikan sepenuhnya dengan zaman. Bahkan, ada yang menganggap sebagian syariat sudah tidak relevan karena dunia telah berubah.
Memang benar, zaman Nabi ﷺ dan zaman sekarang berbeda dalam hal teknologi, sistem sosial, dan kompleksitas kehidupan. Namun, perbedaan zaman tidak berarti nilai dasar Islam menjadi usang.
Kejujuran tetap penting. Tauhid tetap menjadi dasar. Keadilan tetap wajib ditegakkan. Riba tetap perlu dihindari. Zina tetap haram. Amanah tetap harus dijaga. Akhlak tetap menjadi ukuran kemuliaan. Halal dan haram tetap bukan sekadar selera zaman.
Yang berubah adalah sarana dan konteksnya. Prinsipnya tetap.
Syariat dan Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi pada dasarnya adalah alat. Ia dapat digunakan untuk kebaikan atau keburukan.
Internet bisa digunakan untuk dakwah, pendidikan, bisnis halal, dan silaturahmi. Namun, internet juga bisa menjadi jalan maksiat, penipuan, fitnah, dan pemborosan waktu.
Kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan, riset, pelayanan publik, dan pendidikan. Namun, ia juga bisa disalahgunakan untuk manipulasi, penyebaran informasi palsu, atau pelanggaran etika.
Sistem keuangan modern dapat memudahkan transaksi. Namun, ia juga perlu ditimbang dengan prinsip halal, keadilan, dan bebas dari praktik yang merugikan.
Karena itu, bukan syariat yang harus tunduk kepada teknologi. Teknologilah yang perlu diarahkan agar tidak keluar dari nilai-nilai kebenaran.
Islam tidak menolak kemajuan. Islam menuntun kemajuan agar tetap manusiawi, adil, dan tidak merusak.
Menjadi Asing Bukan Berarti Menjauh dari Masyarakat
Ada hal penting yang perlu dipahami. Menjadi “asing” dalam hadis bukan berarti seorang Muslim harus memusuhi masyarakat, menutup diri, atau merasa paling suci.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau berdakwah dengan hikmah, sabar, kasih sayang, dan keteguhan. Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap kasar hanya karena berbeda dengan orang lain.
Maka, orang yang terasing dalam makna yang baik adalah orang yang tetap menjaga iman dan akhlak ketika banyak orang mulai lalai. Ia tidak ikut arus kemaksiatan, tetapi tetap berinteraksi dengan manusia secara baik.
Ia berbeda, tetapi bukan karena ingin terlihat berbeda. Ia istiqamah, tetapi tidak sombong. Ia memegang prinsip, tetapi tetap lembut. Ia menolak keburukan, tetapi tidak kehilangan adab.
Ciri Orang yang Terasing dalam Kebaikan
Orang yang terasing dalam makna positif bukan orang yang sekadar berbeda penampilan atau banyak mengkritik zaman. Ia adalah orang yang berusaha menjaga nilai Islam dalam dirinya.
Beberapa cirinya antara lain:
1. Tetap menjaga tauhid
Ia meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Ia tidak menggantungkan hati kepada selain Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
2. Menjaga ibadah
Ia berusaha menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
3. Menjaga halal dan haram
Ia tidak menghalalkan sesuatu hanya karena banyak orang melakukannya. Ia tetap berhati-hati dalam makanan, rezeki, pergaulan, pekerjaan, dan transaksi.
4. Berakhlak baik
Ia tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk bersikap kasar. Ia berusaha jujur, amanah, rendah hati, santun, dan adil.
5. Tidak mudah ikut arus
Ia mampu berkata tidak kepada keburukan, meskipun keburukan itu sedang populer.
6. Menasihati dengan hikmah
Ia tidak hanya mengeluh tentang zaman, tetapi berusaha memperbaiki keadaan dengan cara yang bijak.
7. Sabar menghadapi pandangan orang
Ia mungkin dianggap kaku, aneh, terlalu berhati-hati, atau tidak mengikuti zaman. Namun, ia tetap bersabar dan tidak membalas dengan keburukan.
Tantangan Muslim di Zaman Modern
Hidup sebagai Muslim di zaman modern memiliki tantangan tersendiri. Informasi sangat cepat menyebar. Batas antara benar dan salah sering dibuat kabur. Gaya hidup konsumtif dipromosikan. Hiburan mudah diakses. Standar moral sering berubah mengikuti tren.
Dalam kondisi seperti ini, seorang Muslim perlu memiliki pegangan yang kuat.
Ia perlu belajar agama dengan benar, bukan hanya mengikuti potongan informasi dari media sosial. Ia perlu memilih lingkungan yang baik. Ia perlu membiasakan tabayyun. Ia perlu menjaga hati dari kesombongan. Ia juga perlu memahami realitas zaman agar dapat berkontribusi dengan bijak.
Muslim yang baik bukan hanya menjaga diri, tetapi juga memberi manfaat.
Antara Prinsip dan Keluwesan
Berpegang pada Islam tidak berarti menolak semua hal baru. Islam memiliki prinsip yang tetap dan ruang ijtihad dalam hal-hal yang berubah.
Misalnya, alat transportasi berubah. Cara berdagang berubah. Media dakwah berubah. Sistem administrasi berubah. Teknologi komunikasi berubah. Semua itu boleh dimanfaatkan selama tidak melanggar prinsip syariat.
Yang tidak boleh berubah adalah nilai dasarnya: tauhid, kejujuran, keadilan, amanah, kesucian diri, larangan zalim, larangan menipu, dan kewajiban beribadah kepada Allah.
Dengan memahami perbedaan antara prinsip dan sarana, seorang Muslim dapat hidup relevan di zaman modern tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Jangan Takut Menjadi Baik Meski Dianggap Aneh
Ada kalanya seseorang ingin berhijrah, tetapi takut dianggap sok alim. Ingin menjaga salat, tetapi takut dicemooh. Ingin meninggalkan pergaulan buruk, tetapi takut kehilangan teman. Ingin mencari rezeki halal, tetapi khawatir tertinggal dari orang lain.
Di sinilah hadis tentang orang yang terasing menjadi penguat.
Jika suatu kebaikan terasa asing di lingkungan tertentu, bukan berarti kebaikan itu salah. Bisa jadi lingkungannya yang sudah terbiasa dengan kelalaian.
Namun, dalam menjalani kebaikan, tetaplah rendah hati. Jangan merasa lebih suci dari orang lain. Jangan mudah mencela. Jangan lupa bahwa kita semua masih membutuhkan hidayah Allah.
Istiqamah harus berjalan bersama tawadhu.
Tugas Muslim: Menjaga Diri dan Memberi Manfaat
Seorang Muslim tidak cukup hanya berkata, “Saya berbeda dari masyarakat.” Yang lebih penting adalah bertanya: “Apa manfaat yang bisa saya berikan?”
Jika kita ingin menegakkan nilai Islam, tunjukkan dengan akhlak yang baik. Jadilah pekerja yang amanah, tetangga yang peduli, anak yang berbakti, orang tua yang penyayang, pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, dan teman yang dapat dipercaya.
Dengan cara itu, orang akan melihat bahwa Islam bukan hanya aturan, tetapi juga rahmat.
Menjadi asing dalam kebaikan bukan berarti hidup menyendiri. Justru, orang baik diperlukan di tengah masyarakat agar nilai kebenaran tetap hidup.
Penutup
Islam datang pada masa awal dalam keadaan asing. Rasulullah ﷺ menyerukan tauhid di tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan kemusyrikan dan tradisi jahiliyah. Para pengikut awal beliau menghadapi penolakan, tetapi mereka tetap sabar dan istiqamah.
Di zaman modern, sebagian ajaran Islam mungkin kembali terasa asing bagi sebagian orang. Namun, perubahan teknologi dan budaya tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan prinsip.
Menjadi orang yang terasing bukan berarti merasa paling benar, memusuhi masyarakat, atau menolak kemajuan. Menjadi orang yang terasing dalam makna yang baik adalah tetap berpegang pada tauhid, menjaga ibadah, memilih yang halal, berakhlak mulia, dan istiqamah di tengah arus zaman.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tetap teguh di atas kebenaran, lembut dalam dakwah, baik dalam akhlak, dan bermanfaat bagi sesama.
Wallahu a‘lam.


