Sabtu, 12 Mei 2012

SEMANGAT BERWIRAUSAHA

David McClelland menyatakan bahwa suatu bangsa bisa mencapai kemakmuran finansial apabila jumlah entrepreneur atau pengusaha yang dimilikinya adalah paling sedikit 2 persen dari total jumlah penduduknya. Berdasarkan data dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), jumlah pengusaha di Indonesia saat ini adalah 0,24 persen dari total penduduk, atau sekitar 568.800 orang dengan asumsi jumlah penduduk total Indonesia sebanyak 237 juta jiwa. Angka tersebut dinilai terlalu sedikit dibandingkan dengan rasio populasi pengusaha muda di negara-negara ASEAN lainnya.

Sebagai gambaran, di Singapura, persentase jumlah pengusahanya mencapai 7,20 persen dari total jumlah penduduknya. Sementara di India yang merupakan negara yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, memiliki jumlah pengusaha sekitar 11 persen dari total jumlah penduduknya yang berjumlah 1,2 miliar jiwa.

Jumlah ideal pengusaha Indonesia semestinya 4.740.000. Artinya, dari kondisi ideal tersebut maka Indonesia masih kekurangan sekitar 4.171.200 orang wirausahawan. Peluang yang sangat besar dan masih terbuka lebar.

Dari jumlah pengusaha di Indonesia yang sebanyak 568.800 orang, 75 persen diantaranya adalah pengusaha muda atau 0,18 persen dari total jumlah penduduk. Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki jumlah pengusaha muda sebanyak 16 persen dari total jumlah penduduk. Artinya Indonesia masih tertinggal sangat jauh. Jumlah pengusaha muda tersebut memberikan gambaran kondisi perekonomian suatu negara di masa mendatang. Kumpulan pengusaha muda inilah, yang nantinya akan melahirkan pengusaha-pengusaha utama dalam perekonomian.

Secara global, menurut Marshall Silver dalam bukunya Passion, Profit & Power, disebutkan ternyata hanya 1% penduduk dunia yang menguasai 50% uang yang sedang beredar. Tung Desem Waringin dalam bukunya Financial Revolution, menyebutkan pengalamannya bekerja di kantor cabang sebuah bank swasta dimana dia menyebutkan terdapat hanya 1% orang yang menguasasi 75% dana bank yang ada. Atau 5% orang menguasai 90% uang yang beredar. Ini sungguh menyedihkan karena 95% orang harus berebutan menguasai hanya 10% uang yang beredar.

Apabila semua uang yang ada di dunia dikumpulkan dan kemudian dibagi sama rata kepada semua penduduk dunia, maka masing-masing orang akan mendapatkan uang sebesar USD 2.400.000, atau sekitar 24 milyar rupiah (asumsi 1 USD = Rp 10.000). Marshal menyebutkan dari hasil studinya, bahwa sekalipun semua orang telah mendapatkan pembagian uang sama rata ini, maka dalam lima tahun ke depan, komposisi penguasaan uang akan kembali ke kondisi awal, yaitu 1% penduduk dunia yang menguasai 50% uang yang sedang beredar. Hal ini disebabkan 1% orang tahu cara untuk meningkatkan jumlah uang mereka.

Statistik dari Leveraging Time to Create Wealth karya KC See menunjukkan informasi yang menarik. Dimana dari 100 orang kaya diketahui profesi mereka adalah:
  • 74% berasal dari businessman
  • 10% dari profesional
  • 10% dari karyawan (Top CEO)
  • 6% dari lain-lain

Lalu mengapa jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat sedikit dan tertinggal jauh dari negara tetangga. Padahal hasil bumi sangat berlimpah dan menunggu untuk dimanfaatkan secara maksimal. Secara geo ekonomi politik, posisi Indonesia yang mengandung kekayaan alam yang begitu melimpah seperti: mineral pertambangan, kekayaan hutan, kekayaan laut, minyak, gas, keindahan alam dan lain-lain tentunya sangat menggoda negara-negara lain untuk melirik dan mengincarnya. Lalu kemana saja selama ini hasil pengolahannya?

Apabila kita telaah, bisa dikatakan faktor lingkungan dan pendidikan sangat mempengaruhi kondisi tersebut. Menyitir pernyataan Ir Ciputra, bahwa akar dari kemiskinan Indonesia bukan semata karena minimnya akses pendidikan, melainkan karena sistem pendidikan di negara ini tidak mengajarkan dan menumbuhkan jiwa entrepreneur dengan baik. Pendidikan tinggi Indonesia lebih banyak menciptakan sarana pencari kerja dibanding pencipta lapangan kerja. Sistem pendidikan Indonesia yang banyak mengandalkan sistem belajar pasif (guru menerangkan dan murid mendengarkan) memberikan dampak yang cukup signifikan untuk membuat masyarakat Indonesia menjadi tidak kreatif dan produktif, dan hanya terbiasa mengandalkan makan gaji. Negara ini banyak mencetak begitu banyak sarjana yang handal dengan kemampuan akademisnya, namun tidak handal menjadikan mereka lulusan yang kreatif yang dapat menciptakan lapangan kerja. Akibatnya, pengangguran terdidik di Indonesia semakin besar setiap tahunnya.

Sedangkan menurut Robert Kiyosaki dalam bukunya yang sangat terkenal “Rich Dad Poor Dad”, sangat jelas sekali memberikan gambaran tentang kondisi yang cukup memprihatinkan bahwa orang lebih memilih "bekerja untuk uang" daripada membuat "uang yang bekerja untuk orang". Coba simak saja penjelasan berikut, bahwa ada 4 tipe orang dalam cashflow quadrant, yaitu Employee, Self-Employed, Business owner dan Investor. Kuadran 1 atau orang yang bekerja untuk uang diisi oleh Employee dan Self-Employed. Sedangkan Kuadran 2 atau uang yang bekerja untuk orang diisi oleh Business owner dan Investor. Dari kedua kuadran tersebut, secara jelas Kiyosaki mengatakan bahwa orang-orang yang berada di kuadran kedua-lah yang bisa menjadi orang yang kaya. Jadi, kalau bukan menjadi Business Owner berarti harus menjadi Investor.

Ayo maju terus pengusaha muda Indonesia!

SENI BERDAKWAH

Setiap dari kita memiliki tugas untuk berdakwah. Sampaikanlah walaupun satu ayat. Begitulah kira-kira pesan Rasulullah dalam hadis riwayat dari Bukhari.
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Karena tugas yang kita emban ini, kita harus mengetahui bagaimana cara mendakwahkan agama ini dengan cara yang sebaik-baiknya, yang sesuai dengan tuntunan syariah. Selain sesuai syariah, kita juga harus melakukan dakwah dengan lemah lembut demi tetap terjaganya ukhuwah (persatuan).

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS. Ali Imron : 159)

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang MahaTahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS an-Nahl [16]: 125).


Dalam berdakwah, kita harus mencegah sebisa mungkin timbulnya kebencian, terjadinya perpecahan, permusuhan, apalagi peperangan dan pembunuhan. Karena islam adalah rahmatan lil 'alamin, yakni rahmat bagi semesta alam. Dengan demikian, marilah kita semua menghindarkan diri kita dari cara-cara dakwah yang kurang benar, yang menyulut permusuhan dan kebencian diantara kita. Inilah yang bisa kita sebut sebagai seni berdakwah.

Salah satu contoh bagaimana dakwah Rasulullah bisa dilihat ketika seorang pemuda datang dan berkata pada Beliau, "Ya Rasulullah, izinkan saya berzina."

Rasulullah memandangi pemuda tersebut dengan penuh kasih sayang dan mengajaknya berdialog.
"Sukakah kamu bila itu terjadi pada ibumu?", tanya Rasulullah.
"Tidak, demi Allah," jawab anak muda itu.
"Sukakah kamu bila itu terjadi pada saudara perempuanmu?" tanya Rasulullah.
"Tidak, demi Allah." "Sukakah kamu bila itu terjadi pada anak perempuanmu?"
"Tidak, demi Allah."
"Sukakah kamu bila itu terjadi pada istrimu?"
Anak muda itu menjawab, "Tidak, Demi Allah."

Rasulullah lalu berkata, "Demikianlah halnya dengan semua perempuan, mereka itu berkedudukan sebagai ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuan."

Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya di dada pemuda itu, lalu mendoakannya.

Demikianlah salah satu contoh cara Rasulullah berdakwah. Alangkah indahnya teladan Rasulullah SAW dalam mendakwahkan kebaikan. Coba dibayangkan apabila si pemuda datang pada orang-orang yang kurang ilmunya, tentu si pemuda langsung dikata-katai, "kurang ajar!", "tidak tahu malu!", "kafir!", "murtad!", "neraka!". Atau mungkin langsung didamprat dan ditempeleng. Namun tingginya ilmu Rasulullah, membuat Beliau melakukannya dengan cara yang begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Nasihatnya tak menyakitkan si pendengarnya, bahkan si penerima dakwah menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Inilah yang menjadi tantangan dan tugas pada da'i untuk mengajak umat menuju kebaikan, serta menghindarkan mereka dari perbuatan dosa. Rasulullah SAW telah mengajarkan dan mencontohkan cara berdakwah yang baik dan penuh hikmah.
Wa Allahu a'lam bis showab.

Kisah Taubat Nasuha: Pelajaran dari Wanita yang Bertaubat pada Zaman Rasulullah



Setiap manusia pernah berbuat salah. Ada kesalahan kecil, ada pula dosa besar yang meninggalkan penyesalan mendalam. Namun, sebesar apa pun dosa seorang hamba, pintu taubat Allah tetap terbuka selama ia benar-benar kembali kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.

Dalam sejarah Islam, terdapat kisah yang sangat menyentuh tentang seorang wanita pada zaman Rasulullah ﷺ yang datang mengakui dosa besar yang pernah ia lakukan. Kisah ini sering disebut dalam pembahasan tentang taubat nasuha, kejujuran di hadapan Allah, dan luasnya rahmat-Nya.

Artikel ini tidak ditulis untuk membahas hukuman secara teknis atau menampilkan detail yang keras. Tujuannya adalah mengambil pelajaran akhlak dan spiritual: bahwa dosa tidak boleh diremehkan, tetapi orang yang bertaubat dengan tulus tidak boleh diputuskan dari rahmat Allah.

Dosa Besar Tidak Boleh Diremehkan

Zina adalah dosa besar dalam Islam. Al-Qur’an melarang manusia mendekati zina karena zina merupakan perbuatan keji dan jalan yang buruk. Larangan ini menunjukkan bahwa Islam menjaga kehormatan, keluarga, nasab, dan ketertiban moral masyarakat.

Namun, membahas dosa besar tidak boleh membuat kita mudah menghakimi orang lain. Seorang Muslim diperintahkan menjaga diri, menjaga keluarga, menutup aib, dan tidak menyebarkan keburukan. Jika seseorang pernah jatuh dalam dosa, jalan terbaik adalah segera bertaubat kepada Allah, meninggalkan dosa tersebut, menyesalinya, dan memperbaiki diri.

Taubat bukan sekadar ucapan. Taubat adalah perubahan arah hidup.

Kisah Seorang Wanita yang Bertaubat

Dalam riwayat yang dikenal dalam hadis, terdapat seorang wanita dari Ghamidiyah yang datang kepada Rasulullah ﷺ. Ia mengakui perbuatan dosa yang telah dilakukannya dan memohon agar dirinya disucikan melalui ketentuan hukum syariat Islam. Hukuman untuk seorang pezina yang sudah pernah menikah adalah rajam sampai mati.

Saat itu, wanita tersebut sedang mengandung. Rasulullah ﷺ tidak tergesa-gesa menjatuhkan keputusan. Beliau memperhatikan keadaan bayi yang ada dalam kandungannya. Wanita itu diminta kembali hingga melahirkan.

Setelah melahirkan, ia kembali datang kepada Rasulullah ﷺ. Namun, Rasulullah ﷺ kembali menundanya karena bayi tersebut masih membutuhkan susuan dan pengasuhan. Wanita itu diminta menyusui anaknya hingga cukup waktunya.

Setelah masa itu berlalu dan anaknya sudah lebih siap untuk diasuh oleh keluarga yang bersedia menanggungnya, wanita tersebut kembali menghadap Rasulullah ﷺ. Ia tetap menunjukkan kesungguhan taubatnya.

Lalu tubuh wanita itu ditimbun, sehingga yg tersisa hanya kepalanya yg mencuat keluar dari gundukan tanah. Lalu setiap orang melemparinya dengan batu. Siapa pun boleh melemparinya. Itulah hukuman bagi seorang pezina yang statusnya sudah menikah. Rajam sampai mati. Diantara yg melempari batu, yang paling bersemangat adalah Khalid bin Walid. Dia melemparkan sebuah batu sebesar genggaman tangan orang dewasa. Batu itu dia lemparkan dari jarak yang sangat dekat dengan kepala wanita itu. Darah pun bermuncratan ke pakaian Khalid bin Walid.

Lalu Rasulullah mendekati Khalid bin Walid dan berkata, “Hai Khalid bin Walid, lemparlah dia sepantasnya, jangan perlakukan wanita ahli surga seperti itu.”

Kisah ini sangat menyentuh karena menunjukkan keseriusan taubat seorang hamba. Dalam waktu yang panjang, ia sebenarnya bisa saja menjauh atau menyembunyikan diri. Namun, rasa takut kepada Allah dan keinginan untuk kembali dengan bersih membuatnya tetap datang.

Kelembutan Rasulullah ﷺ dalam Menangani Kasus Ini

Salah satu pelajaran penting dari kisah ini adalah kelembutan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak memperlakukan wanita tersebut dengan kasar. Beliau tidak mengabaikan kondisi anak yang tidak berdosa. Beliau juga tidak menjadikan hukuman sebagai sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa.

Rasulullah ﷺ memperhatikan kehidupan bayi, hak pengasuhan, dan kesiapan keluarga yang akan merawat anak tersebut.

Sekiranya wanita tersebut lebih memilih menutupi dosanya mungkin ia tidak akan dijatuhi hukuman rajam. Atau setelah menghadap Rasulullah ia tidak kembali lagi, dan lebih memilih melarikan diri, keluar kota Madinah, mengasingkan diri sejauh-jauhnya, maka niscaya dia tidak akan menghadapi hukuman mati akibat perbuatannya. Namun kesungguhannya untuk berataubat, mendorongnya lebih memilih menerima hukuman sesuai syariat, apalagi hakimnya langsung Rasulullah. Dia yakin dibalik hukuman sesuai syariat tersebut terdapat ampunan Allah. Hal ini langsung mendapat justifikasi oleh Rasululah sendiri bahwa wanita pezina yang bartaubat tersebut masuk ke dalam golongan ahli surga.

Ini menunjukkan bahwa syariat Islam tidak boleh dipahami hanya dari sisi hukuman. Syariat juga mengandung rahmat, kehati-hatian, keadilan, perlindungan terhadap pihak yang lemah, dan perhatian terhadap akibat sosial.

Dalam konteks hari ini, pembahasan seperti ini harus dilakukan dengan ilmu, adab, dan rujukan kepada ulama yang kompeten. Hukum pidana dalam Islam bukan perkara yang boleh diterapkan oleh individu atau kelompok secara sembarangan. Ia berkaitan dengan otoritas, pembuktian, prosedur, keadilan, dan syarat-syarat yang sangat ketat.

Taubat yang Sangat Dalam

Dalam riwayat, Rasulullah ﷺ menyebut bahwa wanita tersebut telah bertaubat dengan taubat yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa Allah menerima taubat hamba-Nya yang benar-benar kembali dengan jujur.

Taubat nasuha memiliki beberapa unsur penting:

  1. mengakui kesalahan di hadapan Allah;
  2. menyesali dosa yang dilakukan;
  3. berhenti dari dosa tersebut;
  4. bertekad tidak mengulanginya;
  5. memperbaiki diri dengan amal saleh;
  6. jika berkaitan dengan hak manusia, mengembalikan hak atau meminta maaf sesuai kemampuan dan adab.

Taubat yang benar tidak hanya membuat seseorang menangis, tetapi juga mengubah perilaku.

Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Salah satu pelajaran terbesar dari kisah ini adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah. Setan sering menggoda manusia melalui dua jalan. Sebelum berdosa, setan membuat dosa tampak ringan. Setelah berdosa, setan membuat seseorang merasa tidak mungkin diampuni.

Padahal, Allah Maha Pengampun bagi hamba yang kembali.

Seorang Muslim tidak boleh meremehkan dosa, tetapi juga tidak boleh merasa dosanya lebih besar daripada rahmat Allah. Yang harus dilakukan adalah segera bertaubat, memperbaiki diri, dan menjauh dari jalan yang mengantarkan kepada dosa tersebut.

Jangan Mudah Menghakimi Orang yang Bertaubat

Kisah ini juga mengajarkan agar kita tidak merendahkan orang yang telah bertaubat. Bisa jadi seseorang pernah melakukan dosa besar, tetapi kemudian ia bertaubat dengan sungguh-sungguh dan kedudukannya menjadi mulia di sisi Allah.

Sebaliknya, bisa jadi seseorang merasa dirinya lebih baik karena tidak melakukan dosa yang sama, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan, ujub, dan penghinaan terhadap orang lain.

Tugas kita bukan membuka aib manusia. Tugas kita adalah menjaga diri, menasihati dengan baik, dan mendoakan agar Allah memberi hidayah kepada kita semua.

Jika seseorang datang membawa penyesalan, jangan hancurkan harapannya. Bantulah ia kembali kepada Allah dengan cara yang baik.

Menutup Aib dan Mencari Jalan Perbaikan

Dalam Islam, menutup aib diri sendiri dan orang lain merupakan perkara yang penting. Tidak semua dosa harus diumumkan. Jika seseorang pernah melakukan maksiat secara pribadi, hendaknya ia menutupinya, bertaubat kepada Allah, memperbaiki diri, dan tidak mengulanginya.

Mengumumkan dosa dapat membuat keburukan tersebar dan membuat hati menjadi lebih ringan terhadap maksiat. Karena itu, jalan taubat yang paling aman bagi banyak orang adalah memperbanyak istighfar, meninggalkan dosa, mencari lingkungan yang baik, dan memperbaiki amal.

Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, maka hak itu harus diselesaikan dengan cara yang benar dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Hikmah Syariat dalam Menjaga Kehormatan

Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Larangan zina bukan sekadar larangan moral individual, tetapi juga perlindungan terhadap keluarga, keturunan, dan stabilitas sosial.

Karena itu, Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang hal-hal yang dapat mengantarkan kepadanya. Misalnya menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga batasan dengan lawan jenis, dan menjauhi lingkungan yang mendorong maksiat.

Namun, jika seseorang telah terjatuh dalam dosa, Islam juga membuka pintu kembali. Inilah keseimbangan ajaran Islam: tegas terhadap dosa, tetapi penuh harapan bagi pelaku dosa yang bertaubat.

Pelajaran dari Kisah Ini

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil.

Pertama, dosa besar tidak boleh diremehkan.

Kedua, pintu taubat selalu terbuka bagi siapa pun yang sungguh-sungguh kembali kepada Allah.

Ketiga, Rasulullah ﷺ menunjukkan kelembutan, kehati-hatian, dan perhatian terhadap pihak yang tidak bersalah.

Keempat, syariat tidak boleh dipahami secara serampangan tanpa ilmu dan otoritas yang benar.

Kelima, orang yang bertaubat tidak boleh dihina, karena bisa jadi taubatnya lebih tulus daripada amal orang yang merasa dirinya suci.

Keenam, seorang Muslim harus menjaga diri dari jalan-jalan yang mengantarkan kepada maksiat.

Ketujuh, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.

Penutup

Kisah wanita yang bertaubat pada zaman Rasulullah ﷺ adalah kisah tentang penyesalan, kejujuran, rahmat, dan kesungguhan kembali kepada Allah. Kisah ini mengajarkan bahwa dosa besar harus dijauhi, tetapi orang yang telah jatuh dalam dosa masih memiliki jalan pulang melalui taubat nasuha.

Jangan meremehkan dosa, tetapi jangan pula berputus asa dari ampunan Allah. Jangan mudah menghakimi orang lain, tetapi sibukkan diri dengan memperbaiki hati dan amal sendiri.

Semoga Allah menjaga kita dari perbuatan dosa, menutup aib kita, membimbing kita kepada taubat yang tulus, dan menjadikan akhir hidup kita dalam keadaan husnul khatimah.

Wallahu a‘lam.