Senin, 14 November 2011

Sunnatullah: Memahami Ketetapan Allah dalam Alam, Ilmu, dan Kehidupan


Manusia hidup di dalam alam semesta yang berjalan dengan keteraturan. Matahari terbit dan terbenam. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Benda jatuh karena gravitasi. Api membakar. Tanaman tumbuh ketika mendapatkan air, cahaya, dan unsur hara. Kehidupan manusia juga memiliki pola: siapa yang bersungguh-sungguh biasanya lebih dekat kepada hasil, siapa yang zalim akan menuai akibat, dan siapa yang sabar akan lebih kuat menghadapi ujian.

Dalam Islam, keteraturan dan ketetapan yang berlaku dalam alam serta kehidupan sering disebut sebagai sunnatullah. Secara sederhana, sunnatullah dapat dipahami sebagai ketetapan Allah yang berlaku atas ciptaan-Nya.

Sunnatullah tidak hanya dapat dilihat pada fenomena alam, tetapi juga pada perjalanan manusia, masyarakat, sejarah, rezeki, ujian, kemenangan, kehancuran, dan akibat dari amal perbuatan.

Apa Itu Sunnatullah?

Sunnatullah adalah ketentuan, hukum, atau pola yang Allah tetapkan dalam ciptaan-Nya. Ketetapan ini berjalan dengan izin Allah dan tidak lepas dari ilmu serta kekuasaan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mengenal sebagian sunnatullah melalui pengalaman, penelitian, dan ilmu pengetahuan. Misalnya, manusia mengetahui bahwa api bersifat panas, air dapat mengalir, tanaman membutuhkan cahaya, dan tubuh membutuhkan makanan.

Dalam bidang sosial, manusia juga melihat bahwa kezaliman dapat merusak masyarakat, kebodohan dapat melemahkan suatu bangsa, sedekah dapat menumbuhkan kepedulian, dan persatuan dapat menguatkan umat.

Namun, seorang Muslim meyakini bahwa semua keteraturan itu tidak berdiri sendiri. Di balik hukum-hukum alam dan pola kehidupan, ada kehendak Allah yang menciptakan, mengatur, dan mengetahui segala sesuatu.

Ilmu Pengetahuan dan Hukum Alam

Para ilmuwan melakukan pengamatan, penelitian, eksperimen, dan kajian untuk memahami gejala alam maupun sosial. Dari proses itu lahirlah teori, rumus, dan hukum ilmiah.

Dalam fisika, kita mengenal rumus sederhana seperti:

F = m × a

Rumus ini menjelaskan bahwa gaya berhubungan dengan massa dan percepatan.

Kita juga mengenal hukum kekekalan energi atau Hukum I Termodinamika, yang secara umum menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan oleh manusia, tetapi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain.

Dalam bentuk sederhana, hukum tersebut sering ditulis:

ΔU = Q − W

Rumus ini menggambarkan perubahan energi dalam suatu sistem, dengan mempertimbangkan kalor dan usaha.

Rumus-rumus seperti ini membantu manusia memahami sebagian keteraturan alam. Namun, bagi orang beriman, hukum alam bukan sesuatu yang berdiri terpisah dari Allah. Hukum alam adalah bagian dari ketetapan Allah pada ciptaan-Nya.

Teori Sosial dan Keteraturan Kehidupan

Selain dalam ilmu alam, manusia juga berusaha memahami pola kehidupan sosial dan ekonomi.

Dalam ekonomi, misalnya, terdapat berbagai pemikiran tentang bagaimana pasar bekerja. Adam Smith dikenal dengan gagasan bahwa pasar dapat bergerak melalui mekanisme yang seolah-olah mengatur dirinya sendiri. Gagasan ini sering disebut sebagai invisible hand.

Di sisi lain, John Maynard Keynes menekankan bahwa dalam kondisi tertentu, negara perlu hadir untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama ketika permintaan melemah dan pasar tidak mampu memulihkan dirinya sendiri.

Perbedaan pandangan seperti ini menunjukkan bahwa ilmu manusia berkembang melalui pengamatan, perdebatan, dan koreksi. Dalam memahami gejala sosial, manusia sering menghadapi kenyataan yang lebih kompleks karena melibatkan perilaku, kepentingan, emosi, budaya, dan keputusan banyak orang.

Karena itu, teori manusia dapat berubah. Namun, perubahan teori tidak berarti ilmu tidak berguna. Justru, ilmu berkembang karena manusia terus belajar dari kenyataan.

Ilmu Manusia Bersifat Terbatas

Dalam Islam, ilmu adalah karunia Allah. Manusia dapat mengetahui sesuatu karena Allah memberi kemampuan untuk berpikir, mengamati, mengukur, dan mengambil pelajaran.

Allah berfirman dalam Ayat Kursi bahwa manusia tidak mengetahui apa pun dari ilmu Allah kecuali apa yang Allah kehendaki.

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Sepintar apa pun manusia, ilmunya tetap terbatas. Setinggi apa pun teknologi, tetap ada hal yang tidak manusia ketahui. Banyak teori yang dahulu dianggap kuat kemudian diperbaiki oleh teori baru. Banyak jawaban ilmiah yang justru membuka pertanyaan baru.

Karena itu, ilmu seharusnya tidak membuat manusia sombong. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin sadar bahwa alam semesta ini berjalan dalam keteraturan yang luar biasa, dan keteraturan itu merupakan tanda kekuasaan Allah.

Sunnatullah dalam Penciptaan Langit dan Bumi

Al-Qur’an banyak mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, hujan, tumbuhan, hewan, pergantian malam dan siang, serta perjalanan sejarah umat manusia.

Allah menciptakan langit dan bumi dengan ukuran, ketetapan, dan keteraturan. Tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Dalam Surah At-Thalaq ayat 12, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan tujuh langit dan bumi, serta perintah-Nya berlaku padanya, agar manusia mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Dalam Surah Al-An’am ayat 59, Allah menyebutkan bahwa kunci-kunci yang gaib ada di sisi-Nya, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya.

Ayat-ayat seperti ini mengajarkan bahwa alam tidak berjalan tanpa pengawasan. Semua berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Sunnatullah dalam Kehidupan Manusia

Sunnatullah juga berlaku dalam kehidupan manusia. Ada pola-pola yang dapat dilihat dalam sejarah, masyarakat, dan kehidupan pribadi.

Misalnya, kezaliman tidak akan membawa keberkahan. Kesombongan akan mendatangkan kehancuran. Persatuan akan menguatkan. Ilmu akan mengangkat derajat. Kemalasan akan melemahkan. Sabar dan takwa akan menjadi jalan pertolongan Allah.

Namun, sunnatullah tidak selalu berjalan sesuai waktu yang manusia inginkan. Kadang seseorang berdoa, tetapi jawabannya tidak langsung tampak. Kadang orang zalim terlihat kuat dalam waktu lama. Kadang orang baik diuji bertubi-tubi. Kadang usaha yang benar belum segera menghasilkan buah.

Di sinilah iman diperlukan. Seorang Muslim meyakini bahwa ketetapan Allah pasti berlaku, meskipun waktunya tidak selalu sesuai dengan harapan manusia.

Sunnatullah dalam Sejarah

Al-Qur’an memuat banyak kisah umat terdahulu. Kisah-kisah itu bukan hanya cerita masa lalu, tetapi pelajaran tentang hukum kehidupan.

Ada kaum yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman. Ada nabi dan rasul yang diuji dengan penentangan kaumnya. Ada kaum beriman yang ditolong setelah sabar. Ada penguasa zalim yang akhirnya runtuh. Ada masyarakat yang selamat karena mau menerima peringatan.

Salah satu contoh yang disebut dalam Al-Qur’an adalah berita tentang bangsa Romawi yang akan menang setelah sebelumnya dikalahkan. Dalam Surah Ar-Rum ayat 2–4, Allah mengabarkan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan, tetapi setelah kekalahan itu mereka akan menang dalam beberapa tahun.

Ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa sejarah pun berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Sabar dan Takwa sebagai Sunnatullah Kemenangan

Al-Qur’an sering mengaitkan pertolongan Allah dengan sabar dan takwa.

Dalam Surah Ali Imran ayat 120, Allah menjelaskan bahwa jika orang beriman bersabar dan bertakwa, maka tipu daya musuh tidak akan membahayakan mereka sedikit pun kecuali dengan izin Allah.

Sabar bukan berarti pasif. Sabar berarti bertahan dalam kebenaran, tidak mudah menyerah, tidak terbawa emosi, dan tetap taat kepada Allah dalam kondisi sulit.

Takwa berarti menjaga diri dari hal yang dilarang Allah dan berusaha menjalankan perintah-Nya.

Jika sabar dan takwa menyatu, seseorang menjadi lebih kuat. Ia tidak mudah hancur oleh tekanan, tidak mudah tertipu oleh dunia, dan tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan.

Sunnatullah bagi Orang Zalim

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa kezaliman memiliki akibat. Orang atau kaum yang berbuat zalim mungkin diberi waktu, tetapi bukan berarti mereka lepas dari ketetapan Allah.

Dalam Surah An-Nahl ayat 61, Allah menjelaskan bahwa jika Allah langsung menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan tersisa makhluk melata di bumi. Namun, Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan.

Ayat ini mengajarkan bahwa penundaan hukuman bukan berarti kezaliman dibenarkan. Bisa jadi penundaan itu adalah kesempatan untuk bertaubat. Bisa juga merupakan bagian dari ujian bagi manusia.

Karena itu, jangan tertipu ketika kezaliman tampak menang sementara. Sejarah menunjukkan bahwa kezaliman tidak bertahan selamanya.

Sunnatullah dalam Sedekah

Al-Qur’an juga menjelaskan pola kebaikan dalam sedekah. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan hilang sia-sia. Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah membuat perumpamaan nafkah di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.

Ayat ini mengajarkan bahwa sedekah bukan kehilangan, tetapi investasi kebaikan. Balasannya tidak selalu dalam bentuk uang yang langsung kembali. Bisa berupa keberkahan, ketenangan hati, perlindungan dari keburukan, kemudahan hidup, atau pahala di akhirat.

Namun, sedekah harus dilakukan dengan ikhlas dan tidak diiringi sikap menyakiti orang yang menerima.

Sunnatullah dan Ikhtiar Manusia

Meyakini sunnatullah bukan berarti manusia boleh pasif. Justru, karena Allah menetapkan sebab dan akibat, manusia harus berikhtiar.

Jika ingin panen, manusia harus menanam. Jika ingin sehat, manusia harus menjaga tubuh. Jika ingin berilmu, manusia harus belajar. Jika ingin rezeki halal, manusia harus bekerja dengan cara yang baik. Jika ingin masyarakat kuat, manusia harus membangun persatuan, keadilan, dan pendidikan.

Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah menyandarkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang benar.

Sunnatullah mengajarkan bahwa hidup memiliki hukum sebab-akibat. Namun, sebab-akibat itu tetap berjalan di bawah kehendak Allah.

Ketika Sunnatullah Tidak Segera Tampak

Ada kalanya manusia merasa telah berusaha, tetapi hasil belum terlihat. Seseorang sudah berdoa, tetapi belum mendapat jawaban sesuai harapan. Seseorang sudah bersabar, tetapi ujian masih berlanjut. Seseorang sudah berbuat baik, tetapi tetap menghadapi kesulitan.

Dalam keadaan seperti ini, manusia perlu memahami bahwa ketetapan Allah tidak selalu terbaca dari satu kejadian pendek. Kadang hikmah baru terlihat setelah waktu yang panjang. Kadang Allah menunda sesuatu karena ada kebaikan yang belum kita pahami. Kadang Allah mengganti permintaan kita dengan sesuatu yang lebih baik.

Karena itu, orang beriman tidak boleh putus asa. Tugas manusia adalah menjaga niat, berusaha, berdoa, bersabar, dan tetap istiqamah.

Rela terhadap Ketetapan Allah

Menerima ketetapan Allah bukan berarti tidak boleh sedih atau kecewa. Manusia tetap manusia. Ia bisa menangis, lelah, dan merasa berat.

Namun, ridha berarti tidak menuduh Allah berbuat tidak adil. Ridha berarti tetap percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui seluruh hikmah di balik kejadian.

Ali bin Abi Thalib pernah dinukilkan berkata bahwa siapa yang ridha terhadap ketetapan Allah, maka ketetapan itu tetap berlaku dan ia mendapat pahala. Siapa yang tidak ridha, ketetapan itu tetap berlaku, tetapi ia kehilangan pahala kesabaran.

Makna ini mengajarkan bahwa menolak ketetapan Allah tidak akan mengubah kenyataan. Yang dapat diubah adalah sikap hati kita terhadap kenyataan tersebut.

Pelajaran dari Sunnatullah

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari pembahasan sunnatullah.

Pertama, alam semesta berjalan dengan keteraturan karena Allah menciptakan dan mengaturnya.

Kedua, ilmu pengetahuan adalah cara manusia membaca sebagian kecil dari keteraturan tersebut.

Ketiga, ilmu manusia terbatas sehingga harus disertai kerendahan hati.

Keempat, kehidupan manusia juga memiliki pola: sabar, takwa, kejujuran, ilmu, dan sedekah membawa kebaikan; sedangkan kezaliman, kesombongan, kebohongan, dan kemaksiatan membawa kerusakan.

Kelima, ketetapan Allah pasti berlaku, meskipun waktunya tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia.

Keenam, iman kepada sunnatullah harus melahirkan ikhtiar, bukan kepasrahan yang pasif.

Kesimpulan

Sunnatullah adalah ketetapan Allah yang berlaku dalam alam dan kehidupan. Dalam alam, manusia mengenal sebagian keteraturan itu melalui ilmu pengetahuan, seperti hukum fisika, biologi, dan fenomena alam lainnya. Dalam kehidupan manusia, sunnatullah tampak dalam pola sejarah, masyarakat, akhlak, perjuangan, sabar, takwa, sedekah, dan akibat dari kezaliman.

Seorang Muslim perlu memahami bahwa ilmu manusia hanyalah sedikit dari ilmu Allah. Karena itu, setiap pengetahuan seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin sombong.

Meyakini sunnatullah bukan berarti berhenti berusaha. Justru, manusia harus berikhtiar sesuai sebab yang Allah tetapkan, lalu bertawakal kepada-Nya.

Jika hasil belum tampak, tetaplah bersabar. Jika ujian terasa berat, tetaplah bertakwa. Jika kebaikan belum berbuah, jangan berhenti menanam. Ketetapan Allah pasti berlaku pada waktu yang Dia kehendaki.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang memahami tanda-tanda kebesaran-Nya, bersabar dalam ujian, bersyukur atas nikmat, dan ridha terhadap ketetapan-Nya.

Wallahu a‘lam.

Jumat, 04 November 2011

COMPRESSED NATURAL GAS (CNG)

Indonesia adalah Negara yang kaya akan gas alam. Gas alam merupakan salah satu sumber energi yang menawarkan emisi yang rendah. Prospek bisnis gas sangat cerah di masa yang akan datang. Salah satunya adalah bidang gas alam terkompresi (CNG).

Pada dasarnya, CNG merupakan salah satu bentuk teknologi dalam upaya tranportasi gas alam ke konsumen. Teknologi transportasi gas alam lainnya yang dikenal adalah dengan jalur perpipaan (pipeline) dan gas alam cair (LNG). Perlu diketahui juga bahwa masih banyak gas alam yang masih berstatus stranded (belum terjamah). Kelayakan bisnis CNG dapat dilihat dari sisi volume gas alam yang tersedia dan jarak ke konsumen. Secara sederhana, CNG dibuat dengan mengkompresi gas alam pada tekanan 120-275 bar (122-278 kg/cm2) dan pada temperatur sekitar -30 hingga 45oC. Gas yang terkompresi ini disimpan dalam suatu tabung baja penampung dengan perlakuan khusus. Dari kegiatan kompresi ini volume gas alam dapat direduksi menjadi 140 hingga 250 kali lebih kecil, sehingga memudahkan mobilisasi. Perlu diketahui juga, untuk gas alam cair (LNG), volume gas dapat direduksi hingga 160 kali. Namun demikian, kembali lagi pada faktor volume ketersediaan gas alam dan jarak pasar yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan teknologi transportasi gas alam.

Berdasarkan penelitian dari British Petroleum, lebih dari 50% gas alam yang ada di dunia berada dalam kondisi stranded (terdampar jauh dari pasar). Karenanya bisnis CNG cukup menjanjiikan. Indonesia merupakan salah satu area yang cukup menjanjikan dalam penerapan CNG.
Setelah gas alam dikompresi dan disimpan di dalam tabung, terdapat pilihan sarana tranportasi sesuai dengan medan pengiriman CNG. Bisa digunakan tranportasi laut (marine), dan juga bisa dengan tranportasi darat.
Dalam dunia CNG marine, terdapat sejumlah korporasi yang telah memiliki teknologi pengangkutan CNG melalui wilayah perairan. Beberapa diantaranya yaitu Enersea, Williams Power Company, Trans Ocean Gas, dan Knutsen OAS Shipping. Fasilitas pendukung dalam CNG marine adalah adanya alat angkut yang dapat berupa kapal atau perahu seret (barge), adanya fasilitas untuk muatan (loading), adanya terminal yang dapat berupa dermaga atau sarana lepas pantai, dan terakhir adanya lokasi penyimpanan yang bisa berupa sarana onshore (di pantai) atau offshore (lepas pantai).

Dalam transportasi darat CNG bisa diangkut dengan menggunakan truk atau kereta api. Gas alam yang disalurkan melalui pipa, sesampainya di stasiun induk (mother station), diberi perlakukan awalan lalu dikompresi dengan menggunakan kompresor. Setelah proses kompresi gas alam, CNG bisa dialirkan langsung ke gas dispenser untuk dikonsumsi oleh sarana transportasi berbahan bakar gas. Tetapi ada juga yang diangkut oleh truk trailer untuk disalurkan ke stasiun cabang (daughter station), atau ke pihak industri yang menjadi konsumen gas. Di daughter station, gas alam bisa dikonsumsi oleh sarana transportasi umum berbahan bakar gas.

Ternyata sampai sejauh ini telah terdapat sejumlah pemain bisnis CNG di Indonesia. Mereka mulai menggeliat dan terus mencari peluang-peluang dalam pengembangan bisnis CNG ini. Salah satu stasiun induk CNG terdapat di Jawa Barat. Konsumen bisnis ini sementara, sebagain besar, masih dari kalangan industri.
Peluang bisnis CNG ini masih terbuka lebar baik di bidang perindustrian maupun di bidang transportasi umum. Keterbatasan bahan bakar minyak semakin membuka peluang bagi bahan bakar gas untuk semakin populer.

Beberapa waktu yang lalu kita juga sudah pernah melihat aplikasi CNG dalam sarana tranportasi umum. Salah satunya adalah yang dilakukan di Surabaya. Uji coba penggunaan gas sebagai bahan bakar pada angkot pernah dilakukan dan disaksikan secara langsung oleh walikota Surabaya saat itu, Bambang DH. Taxi Bluebird di Surabaya juga melakukan uji coba pemanfaatan bahan bakar gas pada sejumlah armadanya. Tidak mau kalah, di Palembang, sebanyak 350 angkot berbahan bensin dikonversi menjadi berbahan bakar gas. Namun sayang, gaung pemanfatan bahan bakar gas ini hanya sebatas wacana, selanjutnya hilang di telan bumi.

Selasa, 01 November 2011

Muhammad II Al Fatih

Pada era Rasulullah salah seorang sahabat pernah bertanya mengenai penaklukan kota Konstatinopel.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]


“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Sekitar delapan abad kemudian, salah satu bisyaroh nubuwah tersebut mampu diwujudkan oleh seorang hamba Allah yang bernama Muhammad Al Fatih atau Mehmed II, yang merupakan seorang Sultan ke-7 dari Kesultanan Turki Ustmani beserta sekitar 250.000 orang tenteranya. Keberhasilannya menaklukkan Konstatinopel membuatnya diberi gelar Al-Fatih. Berasal dari kata: fataha – yaftahu. Artinya membuka atau membebaskan. Sultan Muhammad Al Fatih menaiki takhta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 – 1481)

Kota konstatinopel atau disebut juga Byzantium (kini disebut Istanbul) adalah kota yang memiliki pesona yang kuat pada masa itu. Letaknya sangat strategis, yaitu di batas antara Eropa dan Asia. Bagian daratnya merupakan salah satu bagian dari Jalur Sutera, sedangkan di bagian lautnya, daerah ini berada di antara Laut Tengah dengan Laut Hitam. Pesonanya ini membuat banyak bangsa pada masa itu mengincarnya. Banyak ekspedisi-ekspedisi yang telah dilakukan, namun benteng Konstatinopel tetap tidak tertembus.

Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Di samping itu, dari daratan juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah sampai Tanduk Emas. Memiliki benteng setinggi 60 kaki, sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian 25 kaki. Selain itu juga terdapat tower-tower pemantau yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas. Dari segi kekuatan militer, kota ini dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar pengaman, benteng-benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Dengan demikian, maka sangat sulit untuk bisa diserang atau ditaklukkan. Kedudukan Konstantinopel yang strategis diillustrasikan oleh Napoleon Bonaparte; ".....kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!".

Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Konstantinopel. Di zaman Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu 'Anhu pernah dilakukan ekspedisi namun gagal. Di masa shahabat, memang pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu, bahkan salah seorang shahabat yang menjadi anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahuanhu. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya.

Abu Ayyub Al-Anshari berkata,"Aku mendengar baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki shalih akan dikuburkan di bawah tembok tersebut, Dan aku juga ingin mendengar derap tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja, yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda".

Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah, pemerintahan Abbasiyyah, dan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk.

Awal kurun ke-8 hijriyah, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi napas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sulthan Yildirim Bayazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinopel secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.

Selepas Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali. Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) meneruskan usaha penaklukan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi belum membuahkan hasil. Sultan Murad II mewariskan perjuangan penaklukan Konstatinopel kepada anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II).

Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.

Sebelum menaklukkan Konstantinopel, ada khutbah yang disampaikan al Fatih untuk seluruh pasukannya :

“Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran”

Benteng kota Konstatinopel memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang cemerlang muncul. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Alhasil, hanya dalam semalam, 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.

29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari.

Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.

Ketika Konstantinopel telah jatuh ke tangan pasukan Islam, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan salat wajib sejak baligh dan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan salat tahajjud sejak baligh. Hanya Sultan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan salat wajib, tahajud dan rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.

Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu.

“Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?”

Tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri. lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri.

Kemudian beliau bertanya, “Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”

Tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari itu, tak pernah satu kali pun meninggalkan shalat fardhu.

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya, “Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!”.

Sebagian pasukan kemudian duduk, artinya, pasukan islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat-shalat rowatib. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam pimpinan Al Fatih.

Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”

Semua yang tadinya berdiri segera duduk. Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia? dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tidak pernah kosong atau absen semalampun.

Sebagai sebuah wasiat untuk anaknya yang akan meneruskan kepemimpinan, maka Al Fatih menyampaikan wasiat kepada anaknya:

“Aku sudah diambang kematian. Tapi aku berharap aku tidak kawatir, karena aku meninggalkan seseorang sepertimu. Jadilah seorang pemimpin yang adil, shalih dan penyayang. Rentangkan pengayomamu untuk rakyatmu, tanpa kecuali, bekerjalah untuk menyebarkan islam. Karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi. Dahuluklan urusan agama atas apapun urusan lainnya. Dan janganlah kamu jemu dan bosan untuk terus menjalaninya. Janganlah engkau angkat jadi pegawaimu mereka yang tidak peduli dengan agama, yang tidak menjauhi dosa besar, dan yang tenggelam dalam dosa. Jauhilah olehmu bid’ah yang merusak. Jagalah setap jengkal tanah islam dengan jihad. Lindungi harta di baitul maal jangan sampai binasa. Janganlah sekali-kali tanganmu mengambil harta rakyatmu kecuali dengan cara yang benar sesuai ketentuan islam. Pastikan mereka yang lemah mendapatkan jaminan kekuatan darimu. Berikanlah penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.”

“Ketahuilah, sesungguhnya para ulama adalah poros kekuatan di tengah tubuh negara, maka muliakanlah mereka. Semangati mereka. Bila ada dari mereka yang tinggal di negeri lain, hadirkanlah dan hormatilah mereka. Cukupilah keperluan mereka.”


“Berhati-hatilah, waspadalah, jangan sampai engkau tertipu oleh harta maupun tentara. Jangan sampai engkau jauhkan ahli syari’at dari pintumu. Jangan sampai engkau cenderung kepada pekerjaan yang bertentangan dengan ajaran islam. Karena sesungguhnya agama itulah tujuan kita, hidayah itulah jalan kita. Dan oleh sebab itu kita dimenangkan.”

“Ambilah dariku pelajaran ini. Aku hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut kecil. Lalu allah memberi nikmat yang besar ini. Maka tetaplah di jalan yang telah aku lalui. Bekerjalah untuk memuliakan agama islam ini, menghormati umatnya. Janganlah engkau hamburkan uang negara, berfoya-foya, dan menggunakannya melampaui batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah sebab-sebab terbesar datangnya kehancuran.”