Rabu, 24 Agustus 2011

Doa Khatam Al-Qur’an: Bacaan, Makna, dan Adab Mengamalkannya


Mengkhatamkan Al-Qur’an adalah salah satu nikmat besar yang patut disyukuri. Tidak semua orang diberi kemudahan untuk membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Karena itu, ketika seseorang selesai mengkhatamkan Al-Qur’an, sangat baik baginya untuk memperbanyak doa, memohon rahmat Allah, dan berharap agar Al-Qur’an menjadi petunjuk dalam hidupnya.

Doa khatam Al-Qur’an berisi permohonan yang sangat indah. Di dalamnya terdapat permintaan agar Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk, rahmat, hujjah, dan sebab kebaikan dunia serta akhirat.

Namun, perlu dipahami bahwa doa setelah khatam Al-Qur’an tidak harus selalu menggunakan satu redaksi tertentu. Seorang Muslim boleh berdoa dengan lafaz yang baik, selama maknanya benar dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Artikel ini menyajikan teks doa khatam Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia, disertai penjelasan singkat tentang makna dan adab mengamalkannya.

Makna Khatam Al-Qur’an

Khatam Al-Qur’an berarti menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dari Surah Al-Fatihah sampai Surah An-Nas. Khatam Al-Qur’an dapat dilakukan sendiri, bersama keluarga, dalam majelis taklim, di bulan Ramadan, atau dalam kegiatan membaca Al-Qur’an harian.

Namun, tujuan utama membaca Al-Qur’an bukan hanya menyelesaikan jumlah bacaan. Yang lebih penting adalah bagaimana Al-Qur’an membimbing hati, memperbaiki akhlak, dan mengarahkan hidup kita kepada keridaan Allah.

Membaca Al-Qur’an seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, semakin berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan, serta semakin semangat melakukan kebaikan.

Doa Khatam Al-Qur’an

Berikut doa khatam Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang dapat dibaca setelah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.

Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur’an. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku.

Ya Allah, ingatkanlah aku terhadap ayat-ayat yang aku lupa. Ajarkanlah kepadaku apa yang belum aku ketahui darinya. Berilah aku rezeki berupa kemampuan untuk membacanya pada waktu malam dan siang. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai hujjah bagiku, wahai Tuhan seluruh alam.

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi pegangan urusanku. Perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai kesempatan untuk menambah segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai akhir dari segala keburukan.

Ya Allah, jadikanlah akhir umurku sebagai bagian terbaik dari hidupku. Jadikanlah amal terbaikku berada di penghujung hidupku. Jadikanlah hari terbaikku adalah hari ketika aku bertemu dengan-Mu.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kehidupan yang baik, kematian yang baik, dan tempat kembali yang tidak hina dan tidak buruk.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu perkara yang baik, permintaan yang baik, keberhasilan yang baik, ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, pahala yang baik, kehidupan yang baik, dan kematian yang baik.

Ya Allah, teguhkanlah aku, beratkanlah timbangan kebaikanku, kuatkanlah imanku, angkatlah derajatku, terimalah salatku, ampunilah kesalahanku, dan berikanlah kepadaku tempat yang tinggi di surga.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rahmat-Mu, ampunan-Mu, keselamatan dari setiap dosa, keberkahan dalam rezeki yang halal, kemenangan dengan surga, dan keselamatan dari api neraka.

Ya Allah, baikkanlah akhir dari segala urusan kami. Lindungilah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat.

Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu. Berikanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu. Berikanlah kepada kami keyakinan yang membuat ringan bagi kami menghadapi musibah dunia.

Ya Allah, berikanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami selama Engkau masih menghidupkan kami. Jadikanlah semua itu tetap bermanfaat bagi kami hingga akhir hayat.

Ya Allah, berikanlah balasan yang adil kepada orang yang menzalimi kami. Tolonglah kami menghadapi orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Jangan pula Engkau jadikan ilmu kami hanya terbatas pada urusan dunia. Janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan satu dosa pun pada diri kami kecuali Engkau mengampuninya. Janganlah Engkau biarkan satu kesusahan pun kecuali Engkau melapangkannya. Janganlah Engkau biarkan satu utang pun kecuali Engkau membantu kami melunasinya. Janganlah Engkau biarkan satu kebutuhan pun dari kebutuhan dunia dan akhirat kecuali Engkau memenuhinya dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari azab neraka.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.

Aamiin.

Isi Pokok Doa Khatam Al-Qur’an

Doa khatam Al-Qur’an di atas memuat beberapa permohonan penting.

Pertama, permohonan agar Al-Qur’an menjadi rahmat, cahaya, petunjuk, dan hujjah bagi pembacanya. Ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman hidup.

Kedua, permohonan agar Allah mengajarkan kembali apa yang terlupa dan memberi pemahaman terhadap apa yang belum diketahui. Ini penting karena membaca Al-Qur’an sebaiknya diiringi usaha memahami maknanya.

Ketiga, permohonan kebaikan agama, dunia, dan akhirat. Seorang Muslim membutuhkan kebaikan dalam semua urusan, tetapi agama tetap menjadi pegangan utama.

Keempat, permohonan husnul khatimah, yaitu akhir hidup yang baik. Doa ini mengingatkan bahwa yang paling penting bukan hanya bagaimana seseorang memulai hidupnya, tetapi bagaimana ia mengakhirinya.

Kelima, permohonan ampunan, kekuatan iman, diterimanya amal, dan keselamatan dari neraka.

Adab Membaca Doa Khatam Al-Qur’an

Agar doa yang dibaca lebih bermakna, ada beberapa adab yang dapat diperhatikan.

1. Membaca dengan hati yang hadir

Jangan membaca doa hanya sebagai formalitas. Hadirkan hati dan pahami maknanya.

2. Merendahkan diri kepada Allah

Doa adalah bentuk pengakuan bahwa manusia lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Allah.

3. Tidak terburu-buru

Bacalah doa dengan tenang. Jika membaca bersama keluarga atau jamaah, usahakan agar maknanya tetap dapat dirasakan.

4. Memohon ampunan

Setelah khatam Al-Qur’an, jangan merasa sudah sempurna. Justru perbanyak istighfar karena bisa jadi selama membaca masih banyak kelalaian.

5. Berusaha mengamalkan Al-Qur’an

Doa khatam seharusnya diikuti tekad untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup sehari-hari.

Apakah Doa Khatam Al-Qur’an Wajib?

Doa setelah khatam Al-Qur’an bukanlah kewajiban dengan lafaz tertentu. Seorang Muslim boleh membaca doa yang baik setelah khatam Al-Qur’an, baik dengan redaksi yang umum dibaca maupun dengan doa dalam bahasa sendiri.

Yang penting, doa tersebut berisi permohonan yang baik, tidak bertentangan dengan syariat, dan dibaca dengan penuh adab.

Karena itu, jika seseorang tidak hafal doa panjang, ia tetap boleh berdoa dengan kalimat yang lebih sederhana. Misalnya memohon agar Allah menerima bacaan Al-Qur’an, mengampuni dosa, memberi petunjuk, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidupnya.

Jangan Berhenti Setelah Khatam

Khatam Al-Qur’an bukan akhir dari hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an. Setelah selesai satu kali, sebaiknya mulai lagi membaca dari awal.

Al-Qur’an adalah teman hidup. Ia perlu dibaca, dipahami, direnungkan, dan diamalkan terus-menerus.

Seseorang yang telah khatam Al-Qur’an hendaknya tidak hanya bangga karena selesai membaca, tetapi juga bertanya kepada dirinya sendiri:

  • Apakah akhlakku semakin baik?
  • Apakah salatku semakin terjaga?
  • Apakah lisanku semakin berhati-hati?
  • Apakah hatiku semakin dekat kepada Allah?
  • Apakah aku semakin mudah meninggalkan dosa?
  • Apakah aku semakin peduli kepada sesama?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar khatam Al-Qur’an tidak hanya menjadi pencapaian bacaan, tetapi juga menjadi langkah perbaikan diri.

Tips Agar Istiqamah Membaca Al-Qur’an

Agar dapat terus dekat dengan Al-Qur’an, beberapa tips sederhana berikut dapat dilakukan.

1. Tetapkan target harian

Tidak harus banyak. Yang penting konsisten. Misalnya satu halaman, dua halaman, atau satu juz sesuai kemampuan.

2. Pilih waktu terbaik

Sebagian orang lebih mudah membaca setelah Subuh. Sebagian lain lebih nyaman setelah Magrib atau sebelum tidur. Pilih waktu yang paling mudah dijaga.

3. Baca terjemah atau tafsir ringkas

Membaca arti ayat dapat membantu kita memahami pesan Al-Qur’an dan menghubungkannya dengan kehidupan.

4. Jangan menunggu sempurna

Jika belum lancar membaca, tetaplah belajar. Jangan malu memperbaiki bacaan.

5. Jadikan Al-Qur’an bagian dari rutinitas keluarga

Membaca Al-Qur’an bersama keluarga dapat membangun suasana rumah yang lebih dekat dengan kebaikan.

Penutup

Doa khatam Al-Qur’an adalah doa yang berisi permohonan agar Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai rahmat, cahaya, petunjuk, dan hujjah bagi pembacanya. Di dalamnya juga terdapat permohonan ampunan, kebaikan dunia akhirat, husnul khatimah, dan keselamatan dari api neraka.

Namun, yang lebih penting dari sekadar membaca doa adalah berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Khatam Al-Qur’an seharusnya menjadi awal untuk semakin dekat kepada Allah, bukan akhir dari interaksi kita dengan kitab-Nya.

Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hati kita, penuntun langkah kita, dan pemberi syafaat bagi kita di akhirat kelak.

Wallahu a‘lam.

Kamis, 18 Agustus 2011

Jual Beli dengan Allah: Ketika Amal Menjadi Perniagaan yang Tidak Merugi


Kehidupan dunia dapat diibaratkan seperti pasar. Di dalamnya, manusia terus melakukan transaksi. Ada yang menukar waktunya untuk kebaikan, ada yang menghabiskan usianya untuk kelalaian. Ada yang menggunakan hartanya untuk amal saleh, ada pula yang menggunakannya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

Dalam perumpamaan iman, manusia adalah pihak yang sangat membutuhkan keuntungan. Sementara Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.

Namun, karena kasih sayang-Nya, Allah membuka peluang “perniagaan” yang sangat menguntungkan bagi hamba-Nya. Perniagaan itu bukan dalam arti Allah membutuhkan amal manusia, tetapi sebagai perumpamaan bahwa Allah memberi balasan yang sangat besar atas iman, amal, harta, dan pengorbanan seorang hamba.

Makna Jual Beli dengan Allah

Jual beli dengan Allah adalah perumpamaan tentang hubungan antara amal manusia dan balasan dari Allah. Manusia mempersembahkan iman, amal saleh, harta, waktu, tenaga, dan kehidupannya di jalan yang diridai Allah. Sebagai balasannya, Allah menjanjikan ampunan, rahmat, pahala, dan surga.

Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 111 bahwa Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Ini adalah janji yang benar dari Allah.

Ayat ini menggambarkan betapa besar kemuliaan yang Allah berikan kepada orang beriman. Sesuatu yang sebenarnya milik Allah, yaitu diri dan harta manusia, tetap Allah balas dengan surga apabila digunakan untuk ketaatan.

Manusia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun secara mutlak. Jiwa, tubuh, harta, keluarga, waktu, dan kemampuan semuanya adalah titipan Allah. Namun, ketika titipan itu digunakan di jalan kebaikan, Allah membalasnya dengan balasan yang jauh lebih besar.

Allah Tidak Membutuhkan Amal Manusia

Dalam perniagaan dunia, penjual dan pembeli sama-sama memiliki kebutuhan. Penjual membutuhkan pembayaran, sedangkan pembeli membutuhkan barang.

Namun, “jual beli” dengan Allah berbeda. Allah tidak membutuhkan amal manusia. Allah tidak bertambah mulia karena ketaatan manusia dan tidak berkurang kemuliaan-Nya karena kemaksiatan manusia.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Muslim, Allah menjelaskan bahwa manusia tidak akan mampu memberi mudarat kepada Allah dan tidak pula mampu memberi manfaat kepada-Nya.

Artinya, semua amal manusia pada akhirnya kembali kepada manusia itu sendiri. Jika seseorang beramal saleh, manfaatnya akan kembali kepadanya. Jika seseorang berbuat buruk, akibatnya juga akan kembali kepadanya.

Allah membuka pintu amal bukan karena Allah membutuhkan manusia, tetapi karena manusia membutuhkan rahmat Allah.

Dunia sebagai Pasar Amal

Setiap hari, manusia sedang “berdagang” dengan waktunya. Setiap detik yang berlalu tidak akan kembali. Waktu dapat dipakai untuk kebaikan, dapat pula hilang dalam kelalaian.

Seseorang yang menggunakan waktunya untuk salat, mencari rezeki halal, menuntut ilmu, membantu keluarga, menjaga amanah, dan menolong sesama sedang mengisi hidupnya dengan perdagangan yang baik.

Sebaliknya, seseorang yang menggunakan hidupnya untuk maksiat, kezaliman, kesombongan, penipuan, atau kelalaian sedang merugikan dirinya sendiri.

Dalam dunia bisnis, orang cerdas akan memilih transaksi yang menguntungkan. Dalam kehidupan spiritual, orang beriman seharusnya memilih amal yang membawa keselamatan dunia dan akhirat.

Perniagaan yang Menyelamatkan

Allah berfirman dalam Surah Ash-Shaff ayat 10–13 tentang perniagaan yang menyelamatkan manusia dari azab yang pedih. Perniagaan itu adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

Ayat ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya pengakuan lisan. Iman harus dibuktikan dengan ketaatan, pengorbanan, dan kesungguhan.

Berjuang di jalan Allah tidak selalu dipahami dalam makna peperangan. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim juga berjuang dengan menahan hawa nafsu, menjaga kejujuran, mencari rezeki halal, mendidik keluarga, menolong orang lain, menyebarkan ilmu, dan memperbaiki diri.

Setiap kebaikan yang dilakukan karena Allah dapat menjadi bagian dari perniagaan yang tidak merugi.

Modal Utama Manusia

Dalam jual beli dengan Allah, manusia memiliki beberapa modal utama.

1. Waktu

Waktu adalah modal yang paling cepat habis. Setiap hari, usia manusia berkurang. Karena itu, waktu perlu digunakan untuk hal yang bermanfaat.

2. Harta

Harta dapat menjadi alat kebaikan apabila diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk hal yang diridai Allah. Sedekah, zakat, membantu keluarga, mendukung pendidikan, dan menolong orang miskin adalah contoh penggunaan harta yang bernilai amal.

3. Ilmu

Ilmu yang benar dapat membimbing manusia menuju amal yang benar. Ilmu juga dapat menjadi amal jariyah apabila diajarkan dan dimanfaatkan oleh orang lain.

4. Tenaga

Tidak semua orang memiliki harta banyak. Namun, setiap orang dapat beramal dengan tenaga, bantuan, perhatian, dan pelayanan kepada sesama.

5. Lisan

Lisan dapat menjadi modal kebaikan melalui zikir, doa, nasihat, dakwah, ucapan yang menenangkan, dan menjaga orang lain dari kata-kata yang menyakitkan.

6. Hati

Hati adalah pusat niat. Amal yang terlihat kecil dapat menjadi besar karena niat yang ikhlas. Sebaliknya, amal yang terlihat besar dapat rusak karena riya dan ujub.

Aturan dalam Jual Beli dengan Allah

Setiap transaksi memiliki aturan. Jual beli dengan Allah juga memiliki tuntunan. Aturannya terdapat dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw.

Agar amal diterima, setidaknya ada dua hal penting yang perlu dijaga.

Pertama, amal harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Amal yang dilakukan hanya untuk pujian manusia dapat kehilangan nilai spiritualnya.

Kedua, amal harus sesuai dengan tuntunan yang benar. Niat baik saja tidak cukup jika caranya bertentangan dengan syariat.

Karena itu, seorang Muslim perlu terus belajar. Ia perlu memahami mana yang halal dan haram, mana yang wajib dan sunah, mana yang boleh dan dilarang, serta bagaimana menempatkan amal sesuai prioritasnya.

Amal yang Tidak Merugi

Dalam Surah Fathir ayat 29, Allah menyebut orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki secara sembunyi maupun terang-terangan sebagai orang yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.

Ayat ini memberikan gambaran tentang tiga amal besar.

Pertama, membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kedua, mendirikan salat sebagai hubungan utama dengan Allah.

Ketiga, menginfakkan rezeki sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.

Tiga amal ini menunjukkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah, hubungan dengan kitab-Nya, dan hubungan dengan manusia.

Batas Waktu Perdagangan

Setiap manusia memiliki batas waktu. Kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya. Ketika kematian datang, kesempatan untuk beramal telah selesai.

Dalam Surah Ibrahim ayat 31, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mendirikan salat dan menginfakkan sebagian rezeki sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli dan persahabatan.

Ayat ini mengingatkan bahwa kesempatan beramal hanya ada di dunia. Di akhirat, manusia tinggal menerima hasil dari apa yang telah ia kerjakan.

Karena itu, jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertaubat. Jangan menunggu lapang untuk salat dengan baik. Jangan menunggu sempurna untuk mulai memperbaiki diri.

Investasi yang Terus Mengalir

Ada amal tertentu yang pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Rasulullah saw. bersabda bahwa ketika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim perlu memikirkan amal jangka panjang.

Sedekah jariyah dapat berupa membangun fasilitas umum, membantu masjid, mendukung pendidikan, menyediakan air, wakaf, atau bentuk kebaikan lain yang manfaatnya berlanjut.

Ilmu yang bermanfaat dapat berupa mengajar, menulis, membimbing, membuat karya yang baik, atau menyebarkan pengetahuan yang membantu orang lain.

Anak saleh yang mendoakan orang tuanya adalah hasil dari pendidikan, kasih sayang, dan keteladanan yang ditanamkan dalam keluarga.

Inilah investasi akhirat yang tidak berhenti ketika usia manusia selesai.

Jangan Salah Memilih Keuntungan

Banyak orang bekerja keras mengejar keuntungan dunia. Itu tidak salah selama dilakukan dengan cara halal dan tidak melalaikan akhirat.

Namun, masalah muncul ketika dunia menjadi tujuan utama. Manusia bisa mengorbankan kejujuran demi keuntungan, mengabaikan salat demi pekerjaan, memutus silaturahmi demi harta, atau menghalalkan segala cara demi kedudukan.

Keuntungan dunia bersifat sementara. Harta bisa hilang, jabatan bisa lepas, tubuh bisa lemah, dan popularitas bisa dilupakan. Sedangkan amal saleh yang diterima Allah akan menjadi bekal yang abadi.

Orang beriman bukan berarti meninggalkan dunia. Ia tetap bekerja, berdagang, belajar, dan membangun kehidupan. Namun, semua itu diarahkan agar menjadi jalan menuju keridaan Allah.

Cara Memperbaiki “Dagangan” Amal

Agar amal kita lebih bernilai di sisi Allah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Perbaiki niat

Pastikan amal dilakukan karena Allah, bukan semata-mata karena ingin dipuji, dihormati, atau terlihat baik.

2. Pilih yang halal

Rezeki yang halal lebih berkah daripada harta banyak yang diperoleh dengan cara haram.

3. Jaga salat

Salat adalah amal utama yang harus dijaga. Jika salat rusak, kehidupan spiritual seseorang juga akan melemah.

4. Perbanyak sedekah

Sedekah tidak harus menunggu kaya. Sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan.

5. Manfaatkan ilmu

Ilmu yang dimiliki sebaiknya tidak berhenti pada diri sendiri. Ajarkan, tuliskan, dan gunakan untuk membantu orang lain.

6. Jaga akhlak

Akhlak adalah bagian penting dari amal. Jangan sampai ibadah ritual rajin, tetapi lisan menyakiti dan perilaku merugikan orang lain.

7. Segera bertaubat

Jika pernah salah, jangan putus asa. Selama masih hidup, pintu taubat masih terbuka.

Penutup

Kehidupan dunia dapat diibaratkan seperti pasar. Manusia datang membawa modal berupa waktu, harta, tenaga, ilmu, lisan, dan hati. Semua itu akan diperdagangkan dalam bentuk amal.

Allah tidak membutuhkan amal manusia. Namun, karena rahmat-Nya, Allah menjanjikan balasan yang sangat besar bagi hamba yang beriman dan beramal saleh.

Jual beli dengan Allah adalah perniagaan yang tidak akan merugi apabila dilakukan dengan iman, ikhlas, dan sesuai tuntunan. Balasannya bukan sekadar keuntungan dunia, tetapi ampunan, rahmat, dan surga.

Selama masih hidup, kesempatan memperbaiki amal masih terbuka. Maka jangan menunda kebaikan. Perbaikilah niat, jagalah salat, gunakan harta di jalan yang halal, sebarkan ilmu yang bermanfaat, dan jadikan hidup sebagai modal untuk meraih keridaan Allah.

Semoga Allah menerima amal kita, mengampuni kekurangan kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang beruntung dalam perniagaan dengan-Nya.

Wallahu a‘lam.

Sabtu, 18 Juni 2011

WASPADAI FITNAH




Kata fitnah berasal dari kata ‘Fatana’, yang berarti api yang digunakan untuk menguji keaslian emas. Dengan demikian, fitnah di sini bisa diartikan sebagai proses untuk mengetahui mana yang asli dan mana yang palsu. Inilah hikmah dari fitnah yaitu untuk menguji keimanan manusia. Seperti dapat dilihat pada QS Al ’Ankabut ayat 2:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:” Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”.

Semakin mendekati akhir zaman, fitnah yang terjadi di dunia akan semakin banyak, sesuai dengan sabda Rasulullah berikut:

Sesungguhnya sebelum terjadinya hari kiamat akan timbul berbagai fitnah bagaikan sepotong malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih beriman, tetapi pada pagi harinya telah menjadi kafir. Pada saat itu orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada berlari. Karena itu pecahkanlah kekerasanmu, potonglah tali busurmu, dan pukulkanlah pedangmu ke batu (yakni jangan kamu gunakan untuk memukul atau membunuh manusia - Penj.). Jika salah seorang di antara kamu terlibat dalam urusan (fitnah) itu, maka hendaklah ia bersikap seperti sikap terbaik dari dua orang putra Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil).” (Musnad Ahmad 4:408; Aunul Ma’bad Syarah Sunan Abu Daud 11: 337; Sunan Ibnu Majah 2:1310; dan Mustadrak Al-Hakim 4:440. Dan hadits ini juga dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir 2:193, hadits nomor 2045).

Fitnah ini terdiri dari dua macam. Ibnu Qayim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan:
"Fitnah itu dua macam: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat lebih besar bahayanya dari yang kedua. Maka fitnah syubhat ini terjadi disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu."

FITNAH SYUBHAT
Fitnah syubhat bisa diartikan menjadi samarnya antara yang benar dan yang salah. Yang halal dan yang haram, yang sunnah dan yang bid'ah, yang haq dan yang bathil, tidak bisa dibedakan. Hal ini dikarenakan manusia tidak lagi berpegang teguh pada Al Quran dan Al Hadis. Manusia lebih mengutamakan menggunakan akalnya atau lebih mengutamakan menggunakan perasaan dan hawa nafsunya dalam menilai sesuatu. Bisa juga fitnah ini muncul karena adanya orang-orang yang memalingkan arti dari Al-Qur'an, atau karena adanya sejumlah orang mengaku menggunakan dalil hadis padahal hadis tersebut palsu.

Produk dari fitnah syubhat ini adalah kekufuran, kesesatan, kemunafikan, dan pengagungan terhadap bid'ah-bid'ah.

FITNAH SYAHWAT
Fitnah syahwat adalah bencana atau kerusakan yang terjadi karena manusia mengikuti apa-apa yang disenangi oleh hawa nafsu yang keluar dari batasan syari’at. Semua pernak-pernik dan kesenangan dunia, apabila tidak kita kelola dengan baik dalam kerangka syariat, sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah, maka semua itu akan dapat menimbulkan fitnah syahwat. Bisa berupa harta benda, tahta, wanita, anak-anak, popularitas, gengsi, kemuliaan, dan lain sebagainya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran :14]

Fitnah syahwat yang paling berbahaya adalah fitnah wanita.
Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita”(HR Muslim).

Banyak sekali bentuk fitnah wanita, jika wanita itu istri maka banyak para istri dapat memalingkan suaminya dari ibadah, dakwah dan amal shalih yang prioritas lainnya. Jika wanita itu wanita selain istrinya, maka fitnah dapat berbentuk perselingkuhan dan perzinahan. Fitnah yang berupa wanita, demikian berpotensinya untuk menyebabkan fitnah yang besar. Rasulullah pun berpesan:
” Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita” (HR Bukhari dan Muslim)

Anggota keluarga kita, apabila tidak kita berikan kepada mereka didikan yang baik, maka bisa saja beberapa diantara mereka akan menjadi fitnah bagi kita.
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghaabun: 14-15]

Harta dan tahta juga bisa merupakan sumber fitnah yang dapat membinasakan aqidah.
"Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kamu. Tetapi aku khawatir atas kamu jika dunia dihamparkan atas kamu sebagaimana telah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu, kemudian kamu akan saling berlomba (meraih dunia) sebagaimana mereka saling berlomba (meraih dunia), kemudian dunia itu akan membinasakan kamu, sebagaimana telah membinasakan mereka."
[HR. Bukhari, Muslim]

Tidaklah dua srigala lapar yang dilepas pada seekor kambing lebih merusakkannya daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan (yang merusakkan) agamanya. [HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dari Ka’b bin Malik Al-Anshari.]

CARA MENANGKAL FITNAH
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Asal seluruh fitnah (kesesatan) hanyalah dari sebab: mendahulukan fikiran terhadap syara’ (agama) dan mendahulukan hawa nafsu terhadap akal. Mendahulukan fikiran terhadap syara’ adalah asal fitnah syubhat, mendahulukan hawa nafsu terhadap akal adalah asal fitnah syahwat. Fitnah syubhat ditolak dengan keyakinan, adapun fitnah syahwat ditolak dengan kesabaran."

Mengenai hal ini Allah berfirman dalam surat Al 'Ashr:
Demi Masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al h'AsHr:1-3]

Agar kita tidak termasuk orang yang merugi karena terjebak dan terjerumus dalam fitnah, maka dari itu salinglah menasehati, dan salinglah ber-amar makruf nahi munkar. Saling menasehati dalam kebenaran harus dilakukan agar setiap orang bisa mengetahui bahwa kebenaran yang paling benar adalah yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadis. Selain itu, kita juga harus senantiasa menasehati saudara-saudara kita yang sedang tertimpa fitnah agar mereka selalu senantiasa sabar dan istiqomah.